Rahasia Bertekun sampai Akhir

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Rahasia Bertekun sampai Akhir
Nats: Kisah Rasul 20:24-28

Tema ulang tahun gereja kita yang ke 22 mengambil tema: Rahasia Bertekun sampai Akhir dengan merenungkan kalimat rasul Paulus, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kisah Rasul 20:24). Kalimat ini adalah satu kalimat yang sangat personal dan sangat emosional dan pada saat yang sama kita bisa melihat apa yang menjadi yang paling penting yang diungkapkan dalam hati sanubari daripada rasul Paulus dalam hidup dan pelayanannya. Dia menghadapi tantangan secara fisik, dia mengalami penderitaan, sakit-penyakit dan bukan itu saja, dia juga mengalami tekanan secara mental dan emosional yang menyedihkan hatinya. Ada kritik dan konflik secara internal yang dia alami dan ada serangan dan ancaman dari musuh di luar yang berniat untuk membunuh dia. Tetapi luar biasa dia katakan: aku tidak menghiraukan semua itu. Paulus dalam 2 Korintus 4:8-9 berkata: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” We are pressed on every side by troubles, but we are not crushed. We are perplexed, but not driven to despair. We are hunted down, but never abandoned by God. We get knocked down, but we are not destroyed. Bukankah kita harus akui betapa sering hal-hal itu justru yang sangat mengganggu hati kita dalam pelayanan; mengalami ketidak-nyamanan, ucapan orang bisa melukai hati kita dengan dalam dan kesulitan yang ada bisa membuat kita berhenti dan menyerah. Apa yang menjadi kekuatan bagi dia untuk bertekun sampai akhir?
Setiap kita masing-masing punya tugas dan panggilan yang unik dan tidak sama. Setiap kita masing-masing mempunyai narasi dan kesaksian tentang bagaimana Allah menyatakan anugerah dan belas kasihanNya kepada kita sehingga Ia menyelamatkan engkau dan saya oleh Yesus Kristus. Ini penting sekali. Kita adalah orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus dan kita punya Injil yang sama dan itu adalah berita yang ingin kita sampaikan. Namun engkau dan saya memiliki tugas dan panggilan yang berbeda, pelayanan yang Tuhan beri kepada kita masing-masing berbeda, tetapi sekalipun demikian kita perlu saling support satu dengan yang lain di dalam pelayanan dan pekerjaan Tuhan. Itulah sebabnya mari kita melihat dari apa yang Paulus katakan, Paulus fokus kepada ini: mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadanya untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.
Dalam kehidupan dan pelayanan gerejawi, ada begitu banyak hamba-hamba Tuhan selesai studi keluar dari seminari sudah dibekali dengan pelajaran yang begitu luar biasa lalu masuk ke ladang pelayanan dengan berpikir beri jemaat khotbah-khotbah yang baik, ajaran yang solid dan setia dalam pelayanan, maka Tuhan pasti akan menumbuhkan dan memberikan hasil dari pelayanan mereka. Tetapi di tengah perjalanan, seringkali pikiran seperti itu menjadi sesuatu ilusi dalam diri hamba-hamba Tuhan yang berpikir dia sudah melakukan yang sebaik mungkin, dengan setia mengerjakan pelayanan dan pekerjaan ini tetapi kenapa hasil yang didapat tidak seperti yang dia harapkan, akhirnya membuat dia berpikir untuk cari tempat pelayanan lain, atau kemudian menjadi kecewa dan kemudian berhenti dari pelayanan, meninggalkan ladang pelayanannya. Dan tidak lepas dari orang-orang yang ambil bagian dalam pelayanan juga seperti itu, apalagi mungkin dengan pikiran ‘toh, aku cuma volunteer di gereja, aku cuma “membantu” sebuah pelayanan; kalau akhirnya bikin hati sumpek dan pikiran jadi mumet, ditinggalkan saja.’ Pikiran seperti ini harus kita singkirkan dan buang jauh-jauh dari diri kita, karena pada waktu kita ambil bagian dalam pelayanan, kita harus selalu sadar dan bersyukur kalau kita boleh ambil bagian dalam pelayanan, that’s a privilege for me. Kita tidak sedang membantu Tuhan dalam pelayanan. Pelayanan adalah privilege, itu adalah tugas dan panggilan yang agung dan mulia bagi setiap kita. Inilah yang selalu saya katakan kepada diriku dan yang menjaga hatiku selalu ingat Siapa yang aku layani dan mengapa aku terus melayani. Sebagai gembala di gereja ini selama 22 tahun saya bisa melihat merefleksikan pelayanan selama ini dan berdoa kiranya Tuhan pimpin dan sertai saya dan semua kita mengerjakan bukan soal apa yang kita capai dan dapat di dalam perjalanan itu, tetapi kita menyelesaikan pelayanan yang Tuhan beri kepada kita. Pengkhotbah 7:8 mengatakan memulai sesuatu lebih gampang daripada menyelesaikannya. Finishing is better than starting. Gampang untuk memulai sesuatu tetapi untuk sustain terus tahan, terus berjaga, tidak pernah give up, sekalipun yang engkau dan saya kerjakan dan lakukan itu tidak memiliki ekspektasi seturut bayangan dan harapan kita, itu adalah hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Yang paling penting adalah kita harus punya vision ke depan. Sekalipun mungkin saat ini kita belum lihat hasilnya tetapi kita tahu ke depan nantinya seperti apa, itu seharusnya yang menjadi sukacita dan kekuatan kita melayani dan bertekun sampai akhir.
Ada tiga visi yang menjadi rahasia daripada rasul Paulus yang sustain dia bertekun sampai akhir. Dia katakan ini kepada para pengurus gereja Efesus dalam pertemuan mereka yang terakhir di Miletus karena setelah itu mereka tidak ada kesempatan bertemu dengan Paulus lagi. “Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba, dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri” (Kisah Rasul 20:18-28). Ini secuplik dari kalimat perpisahan dari rasul Paulus kepada para penatua di Efesus. Apa yang mereka lihat dari hidup Paulus kiranya bisa menjadi contoh bagi mereka. Sekaligus dia juga mengatakan dia sudah mengerjakan semaksimal mungkin di dalam pelayanan di sana. Tetapi kalimat yang sangat indah dan penting adalah dia ingatkan baik-baik mereka melayani bukan menjadi boss tetapi mereka sedang memelihara jemaat Allah yang telah dibeli dengan darah Yesus Kristus.
Maka poin yang pertama adalah senantiasa memiliki visi meninggikan dan memuliakan Yesus Kristus. Pelayanan itu bukan melulu bicara mengenai diri kita, apa yang kita kerjakan dan lakukan, apa yang sudah kita raih dan capai, keberhasilan dan kesuksesan pelayanan. Kita harus selalu ingat kita hanya pelayan, kita hanya alat Tuhan dalam pelayanan; dan pelayanan itu bukan bicara mengenai sentralitas kepada diri kita sendiri. Itulah sebabnya Paulus tidak mempedulikan sekalipun secara fisik dan mental pelayanan itu sungguh menyusahkan dan melelahkan dia. Dia juga tidak mempedulikan serangan kritik secara verbal sekalipun itu menyakitkan hati dia. Seperti yang dia tulis di Filipi 1:15-18, “Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur.” Sekalipun kita rasa tidak rela melihat orang memberitakan Injil untuk kepentingan dan ketenaran sendiri, tetapi Paulus sendiri mengatakan tidak mengapa, sebab Kristus diberitakan di situ dia bersyukur dan memuji Tuhan. Visi ini yang Paulus pegang terus-menerus bahwa apa saja yang dia kerjakan dan lakukan adalah bagi hormat, pujian dan kemuliaan nama Yesus Kristus. Visi itu membuat dia memiliki berbagai macam aplikasi praktis yang luar biasa indah. Pada waktu dia melihat pekerjaan dan pelayanan orang lain, dia tidak melihat itu sebagai sesuatu kompetisi atau persaingan, dia bisa melihat dan menghargai keunikan masing-masing orang. Itulah sebabnya dia bisa mengatakan, “Siapakah Apolos? Siapakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya” (1 Korintus 3:5-8). Yang terpenting Kristus yang ditinggikan dan dimuliakan. Yang ke dua, dia bisa melihat keunikan pelayanan masing-masing sesuai dengan seasons yang ada. Ada orang yang Tuhan pakai untuk menabur, ada orang yang Tuhan pakai untuk menyiram, ada orang yang Tuhan pakai untuk menuai. Itu sebab prinsip seperti ini juga tetap harus menjaga hati kita ketika kita menginjili seseorang dan hari itu orang itu bertobat dan menerima Tuhan, kita tidak boleh mengatakan itu adalah buah pelayanan kita. Karena kita tidak tahu sebelumnya ada orang yang pernah mengabarkan Injil kepada dia, dan kita tidak tahu mungkin dia membaca Alkitab, atau mungkin ada orang datang kepada dia bicara mengenai Injil Yesus Kristus, ada orang menyiram benih itu. Semua itu menjadi mata rantai penting yang memimpin orang itu bisa datang kepada Tuhan sehingga kita tidak bisa membanggakan diri bahwa kitalah yang mempertobatkan dia. Paulus tidak melihat dirinya sebagai pusat dan tidak membangun kesuksesan diri. Paulus mengatakan yang paling penting dari semua hal yang kita kerjakan adalah kita senantiasa memuliakan Yesus. Jangan melihat setiap pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita itu hanya menjadi jabatan yang tergantung waktu tugas pelayanan sehingga kalau kita tidak duduk di satu tempat atau tidak melakukan seperti yang kita mau maka kita tidak melayani lagi. Tidak. Kita harus senantiasa melihat pelayanan itu berarti kita memuliakan Tuhan dimana saja kita berada.
Visi yang ke dua yang membuat dia bertekun sampai akhir adalah karena dia sedang membangun tubuh Kristus, membangun gereja Tuhan. Visi pelayanan kita bukan seperti membangun satu perusahaan yang harus lebih besar, mempunyai cabang-cabang dimana-mana, dsb. Pelayanan berarti kita sedang membangun tubuh Kristus,pelayanan adalah bagi kebaikan rohani, bagi spiritual wellbeing dari setiap orang percaya. Pada waktu kita bicara mengenai spiritual wellbeing bagi setiap orang, kita akan menghadapi pelayanan yang begitu banyak dan tidak ada habis-habisnya.
Dalam bekerja di perusahaan, saya percaya ada tiga poin penting yang menyebabkan kita bergerak atau digerakkan. Yang pertama adalah kepuasan pekerjaan. Orang tua sering beri nasehat kepada anaknya: pilihlah subjek atau profesi atau karir yang kamu suka. Akhirnya konsep ini juga masuk dalam ranah pelayanan: lakukanlah pelayanan yang engkau suka dan yang memberimu kepuasan. Sehingga kalau pelayanan itu tidak lagi membuatmu puas dan bahagia, engkau tinggalkan begitu saja. Kita hidup dalam dunia seperti ini. Yang ke dua, yang men-drive orang adalah ada incentive, bonus, ada sesuatu ditambahkan. Engkau ikut seminar ada dapat sertifikat, bukan? Akhirnya seolah-olah sudah ikut begitu banyak seminar dan punya banyak sertifikat, kita jatuh kepada aspek seperti itu. Apakah dengan memiliki banyak sertifikat akan menjamin orang itu setia melayani Tuhan sampai akhir? Tidak, bukan? Yang ke tiga, kita menjadi senang pada waktu menerima applause dan aproval ketika ada hasil yang bisa dilihat dan dinikmati. Tetapi bicara mengenai pelayanan membangun spiritual orang bukan sesuatu yang bisa dilihat hasilnya seperti itu. Kita lebih mudah membangun gedung gereja, kita lebih mudah membuat program gereja, kita lebih mudah mengatur sistem di dalam pelayanan; tetapi yang namanya membangun tubuh Kristus, itu sama sekali berbeda. Kadang di situ kita mengalami konflik, hambatan dan tantangan yang bisa membuat kita give up.
Paulus menyatakan hal yang dia alami dalam pelayanannya. “Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?” (2 Korintus 12:15). Sulit sekali mempertahankan relasi kalau dalam pelayanan sudah seperti ini, bukan? Apakah Paulus sedih? Tidak. Dia bilang, dia senang dan rela memakai apa yang dia punya dan memberi apa yang dia miliki, kendatipun dia tidak mendapatkan balasan yang sepadan dengan pengorbanannya. Itu yang Paulus alami di dalam pelayanannya di gereja Korintus.
Yang ke dua, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu?” (Galatia 4:19). Paulus sangat sedih dan sangat frustrasi di dalam pelayanannya kepada jemaat Galatia dan merasa apa yang dia lakukan seperti sia-sia adanya sebab dia sudah memberitakan Injil yang benar dan melayani baik-baik di sana, mereka telah mendengar Injil kasih karunia; kita diselamatkan bukan karena melakukan hukum Taurat. Tetapi setelah dia pergi meninggalkan mereka, datang guru-guru palsu yang mengajarkan hal yang berbeda sehingga mereka memegang pengajaran Injil ditambah dengan hukum Taurat. Apakah Paulus menyerah? Tidak. Dia bilang, kalau sampai dia mengalami sakit bersalin melahirkan lagi, dia rela lakukan itu sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam diri umat Allah.
Ini adalah hal yang tidak gampang, kita membentuk rupa Kristus, kita melayani orang yang notabene “sudah anak Tuhan,” yang sudah ada di dalam gereja, sudah rutin berbakti, tetapi konsep iman dan pengertian mengenai penebusan Kristus yang semata-mata anugerah dan bukan jasa seperti jemaat Galatia; atau kita menghadapi orang yang memiliki konsep pelayanan yang ungodly, yang terus menciptakan problem dan kesulitan di dalam gereja seperti jemaat Korintus, saya percaya kita akan cape dan lelah, bukan? Akhirnya sdr pikir buat apa pikul salib seperti ini rasanya susah-susah amat seperti ini, kadang akhirnya membuatmu give up. Tetapi Paulus ingatkan pelayanan kita adalah untuk membangun tubuh Kristus, tujuan kita adalah supaya rupa Kristus terjadi pada umatNya. Siapa lagi yang Tuhan harus perlu dan panggil untuk mengerjakan itu, selain orang yang sudah pernah mengalami kasih karunia Tuhan, yang mengerti bagaimana membalas cinta kasih Tuhan di dalam hidupnya? Kita sudah menerima dengan cuma-cuma, kita pun memberi dengan cuma-cuma, itu adalah kasih karunia Allah dalam hidup kita. Bisakah kita mempunyai hati seperti Paulus ini, sekalipun dalam sacrifice yang kita lakukan di dalam pelayanan dan pekerjaan Tuhan kita tidak mendapatkan respon dan penghargaan dari orang, itu tidak mengapa. Bahkan kalaupun harus mengalami “sakit bersalin” melahirkan lagi, mulai dari awal lagi. Sebentar sudah hampir jadi mirip Yesus, ternyata belum, kita bentuk lagi, coba lagi, sampai kita bersyukur dan puas melihat orang itu menjadi seperti Kristus. Itulah sukacita kita.
Yang terakhir, Paulus bertekun sampai akhir karena dia tahu bahwa satu hari kelak kita semua akan berdiri di hadapan pengadilan Tuhan, itulah yang membuat kita senantiasa gentar dan senantiasa menjaga hati dan diri kita sendiri. Kita tahu perjalanan kita belum selesai sampai kita ketemu Tuhan. Mungkin di dalam pelayanan kita dipenuhi dengan kesulitan dan air mata, kehidupanmu dalam dunia ini lebih banyak kesulitan seperti itu. Tetapi adalah lebih indah sepanjang hidup dalam dunia ini ada air mata dan pada akhirnya engkau mengalami sukacita dan tawa, daripada sepanjang perjalanan hidupmu penuh dengan tawa dan di saat yang terakhir itu diakhiri dengan tangisan kekecewaan yang besar dan putus asa. Kita tidak boleh short-sighted, pendek cara kita melihat; kita harus melihat jalan masih panjang dan berjalan dengan setia kepada Tuhan.
Rasul Paulus berkata dalam 1 Korintus 4:3-4 “Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu ataukah oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiri pun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.” Apakah hati nurani menegur kita itu tidak penting? Tidak, Paulus tidak berkata seperti itu. Apakah kritikan itu tidak perlu kita dengar? Saya percaya maksud rasul Paulus tidak demikian. Tetapi bagi Paulus semua itu tidak menjadi hal-hal yang mengikat dia dan membuat dia berhenti melangkah. Dia terus berjalan, terus bertekun sampai ketemu Tuhan, yang akan menghakimi dan membenarkan dia.
Saya rindu firman Tuhan ini menjadi berkat bagi kita semua dan saya mau kita boleh ambil bagian di dalam setiap pelayanan Tuhan dalam hidup kita dimana saja kita berada. Kita berkata, “Tuhan, saya mau melayani Engkau supaya nama Yesus ditinggikan. Saya mau melayani Tuhan supaya saya melihat orang dan diriku juga makin menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Saya juga mau nanti pada waktu saya berdiri di hadapanMu, semua yang kukerjakan selama di dunia ini, tidak ada kata yang lebih indah selain Engkau berkata: Baik sekali perbuatanmu, engkau adalah hambaKu yang setia. You are My faithful servant.
Bersyukur kepada Tuhan untuk firmanNya yang kita renungkan pada hari ini yang mengingatkan kita betapa besar kasihNya dan betapa indah anugerah keselamatan yang kita terima di dalam Yesus Kristus. Kita bersyukur untuk pelayanan gereja ini selama 22 tahun, kita mengalami sungguh betapa Tuhan setia dan memelihara umat yang telah Ia beli dengan darahNya yang mulia dan berharga. Kristus telah datang menjadi contoh teladan bagaimana kita boleh melayani dengan setia sampai akhir, demikian juga begitu banyak contoh daripada para rasul di dalam Alkitab yang menjadi berkat dan kekuatan bagi kita menjadi pelayan gereja Tuhan di atas muka bumi ini. Kita melayani supaya kita menjadi semakin serupa Kristus. Kita melayani supaya Injil semakin didengar orang lebih lagi. Kita melayani supaya kerajaan Allah melebar sampai ke ujung dunia. Kiranya setiap kita punya komitmen itu sehingga kita bisa bertekun dan setia sampai akhir karena itulah yang menjadi sukacita kita, pada waktu Kristus menyambut kita sebagai hamba-hambaNya yang baik dan setia dan menikmati kebahagiaan bersama Tuhan kita selamanya.(kz)