Perjumpaan yang Membakar Hati

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Post-Easter Events [1]
Tema: Perjumpaan yang Membakar Hati
Nats: Lukas 24:13-35

Lukas 24:13-35 mencatat peristiwa perjumpaan Yesus kepada dua orang dari murid-muridNya dalam perjalanan dari Yerusalem ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem. Salah satu dari murid itu disebutkan namanya Kleopas, dan kita bisa menduga murid yang satu lagi adalah isterinya, Maria, kakak dari Maria ibu Yesus. Dalam Yohanes 19:25 kita bisa menemukan catatan mengenai dia: “Dan dekat salib Yesus berdiri ibunya, dan saudara ibuNya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.” Kapankah terakhir kali Kleopas dan Maria, isterinya itu, melihat Yesus secara fisik? Jelas berdasarkan catatan Yohanes ini terakhir kali Kleopas dan Maria melihat Yesus pada waktu Ia mati di atas kayu salib. Mereka adalah orang-orang yang paling dekat di situ menyertai Maria, ibu Yesus. Mereka yang melihat Yesus menghembuskan nafas terakhir kali di kayu salib. Merekalah yang mendengar penghinaan yang diteriakkan di sekitar salib; mereka yang melihat bagaimana orang-orang itu mengejek Yesus Kristus dan mereka yang dengan sedih melihat darah yang mengalir dari tangan dan kakiNya yang dipaku dan lambungNya yang berdarah. Dan ketika malam sebentar lagi akan datang, matahari sudah hampir terbenam dan hari Sabat akan segera mulai, mereka juga menjadi kelompok yang terakhir yang tersisa karena semua murid-murid yang lain masing-masing sudah lari menyelamatkan diri dan bersembunyi. Sebelumnya mereka berpikir Ia adalah Mesias dan Juruselamat yang akan menyelamatkan umatNya, namun hari itu pengharapan mereka menjadi sirna dan hancur berkeping-keping bersama dengan seruan dan tangisan mereka. Sisa tenaga yang ada pada malam itu di tengah kedukaan atas kematian Orang yang mereka kasihi itu adalah momen-momen yang paling berat sebelum mereka kemudian mengubur mayat Yesus Kristus. Saya percaya di tengah kedukaan atas kematian Yesus yang mereka, di tengah momen-momen yang paling berat itu, mereka menyeka mayatNya, membersihkan darah dari luka-luka di tubuhNya dan kemudian membungkus mayat Yesus dengan kain kafan, dan memasukkan ke dalam kubur (Yohanes 19:40-42).
Setelah tiga hari lewat, berita yang tersebar kemudian: kubur itu kosong! Yesus sudah bangkit! Wanita-wanita yang datang ke kuburNya menyaksikan batu kubur sudah terguling dan mereka bertemu dengan murid-murid dan bahkan Petrus sendiri juga berkata bahwa dia telah bertemu dengan Yesus. Bukankah berita kubur itu kosong seharusnya menjadi berita yang menyenangkan karena itu berarti Yesus telah bangkit, tetapi bagi murid-murid yang lain kabar bahwa kubur itu kosong membuat mereka menjadi bingung, panik, dan takut memenuhi hati mereka. Jelas sekali narasi yang disampaikan oleh Imam Besar dan para pemimpin agama adalah: kubur itu kosong karena murid-murid mencuri mayat Yesus. Sebaliknya, murid-murid sendiri bingung, kenapa bisa mayat Yesus tidak ada di kuburanNya? Bukankah ada tentara-tentara Romawi yang menjaga kuburNya? Maka bagi murid-murid jelas sekali dalam hal ini mereka tidak berdaya dan tidak punya kuasa untuk membela diri, sedangkan Imam Besar punya uang untuk menyuap saksi-saksi dusta dan memutar-balikkan berita sehingga itu yang beredar di Yerusalem (baca: Matius 28:11-15). Itulah kondisi hati Kleopas dan Maria pada waktu mereka berjalan pulang ke Emaus, dalam sepanjang perjalanan itu mereka berdua memperbincangkan hal itu dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa putus asa, kecewa, duka menguasai hati mereka, terlihat dari wajah mereka yang muram, mata mereka yang suram, hilanglah mata yang memancarkan pengharapan.
Hari ini saya membagi Lukas 24:13-35 dalam tiga tahap. Tahap yang pertama, Lukas 24:13-24 perjalanan dari Yerusalem ke Emaus adalah perjalanan kedukaan, perjalanan sakit, perjalanan putus asa.
Pada waktu Yesus bertanya: Apakah yang kalian percakapkan? Apa yang kalian perbincangkan? saya bisa mengira-ngira ada nada yang sinis dari Kleopas: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Yesus balik bertanya: “Apakah itu?” Kenapa Yesus bertanya lagi? Jelas tujuan Yesus bertanya untuk membuat mereka menjernihkan pikiran: what is the real problem in their heart? Ini adalah pertanyaan yang penting setiap kali kita dalam keadaan kalut, di tengah begitu banyak berita yang simpang siur kita dengar, yang membuat kita tidak bisa memilah dan membedakan manakah persoalan yang sesungguhnya dan manakah berita-berita yang negatif yang seharusnya tidak perlu dan tidak patut mengganggu dan mempengaruhi pikiran dan hati kita. “Apakah itu?” adalah sebuah pertanyaan supaya engkau melihat problem dengan jernih, dengan hati yang teduh, memilah-milah dengan objektif mana fakta dan mana berita yang tidak berdasar, dan apa persoalan yang patut dipikirkan jalan keluarnya. Apa problemmu? Apa masalahmu? Seringkali kita sibuk debat, makin bicara makin membuat pikiran kita penuh dengan hal-hal yang negatif. Hari ini mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Ketika engkau menghadapi persoalan, ketika engkau sudah kehilangan pengharapan, engkau mengalami depresi, putus asa dan kedukaan, dan kekecewaan memenuhi hidupmu, pertanyaan Yesus ini penting, pertanyaan ini mengajak engkau untuk kembali berpikir baik-baik: apakah engkau sudah membawa semua problem dan persoalanmu dengan jernih dan jelas di dalam doa kepada Tuhan? Pada waktu engkau membawa semua itu kepada Tuhan, engkau akan menaruhnya dengan bahasa yang lebih benar dan lebih jelas. Bawa di dalam doa dan katakan kepada Tuhan ini yang menjadi persoalanmu, ceritakan kepada Tuhan isi hatimu dengan terbuka dan jujur di hadapanNya. Dan pada waktu engkau membawa persoalanmu kepada Tuhan, ingatlah bahwa Ia tahu apa yang menjadi persoalanmu yang sesungguhnya dan tidak ada hal-hal yang terlalu kecil yang Ia sepelekan dan tidak ada persoalan yang terlalu besar yang tidak bisa Ia tangani dalam hidupmu.
Selanjutnya kita masuk tahap ke dua, Lukas 24:25-35, perjalanan dari Yerusalem ke Emaus adalah perjalanan bersama Tuhan; di situ Tuhan memberikan teguran dan di situ Tuhan memberikan penjelasan. Yesus menegur mereka, “betapa bodohnya kamu!” how foolish you are, so slow to believe and to accept what God has already spoken to you! Teguran itu bukan hanya kepada mereka; teguran itu juga perlu datang kepada engkau dan saya karena sepanjang hidup kita, sekalipun begitu sering kita mendengarkan firman Tuhan, apakah firman Tuhan itu menjadi suara yang dominan mempengaruhi hidup kita, ataukah berita dan suara-suara dari orang lain, percakapan orang lain, percakapan hatimu, kepahitan dan hal-hal yang negatif telah membuat hatimu terpuruk dan itu menjadi suara yang lebih dominan engkau dengar? Kenapa kita sudah tidak lagi membawa problem kita di dalam doa bersama dengan Tuhan dan kita tidak mempercayakan Yesus untuk berjalan bersama-sama dengan kita? Kita patut mendengarkan teguran ini. How foolish you are! Betapa bodohnya engkau! Kenapa engkau begitu lamban mendengar dan menyimak firman Tuhan yang telah disampaikan dan diberikan kepadamu? Yang membuat kita begitu lamban menerima firman Tuhan adalah karena kita hanya mau mendengarkan apa yang kita mau dengar, kita cuma mau membaca apa yang kita suka baca. Dan ketika firman itu sudah tidak mengenakkan telingamu, dan tidak engkau rasa menjadi sesuatu yang memimpin hidupmu, engkau tidak mau dengar dan menepisnya.
Jangan membaca firman Tuhan sama seperti orang Farisi membaca secara selektif. Yesus pernah menegur orang Farisi dengan keras, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yohanes 5:39-40). Kamu rajin baca Alkitab, dan sangkamu engkau mendapatkan hidup kekal daripadanya. Tetapi pada waktu Alkitabmu menyaksikan tentang Aku, mengapa kamu menolak untuk percaya? Orang Farisi hanya membaca firman Tuhan secara selektif dan untuk mencari pembenaran bagi diri mereka, apa yang mereka mau, apa yang mereka suka, apa yang mereka mau dengar untuk menyenangkan telinga mereka.
Itulah sikap Kleopas dan Maria yang Yesus tegur. Kenapa engkau hanya mau mendengarkan bahwa Mesias itu datang sebagai Raja dan Ia akan mendatangkan kerajaan yang adil dan makmur, bahwa Ia adalah keturunan Daud yang akan datang dengan segala kebesaran dan kemuliaanNya, Ia akan datang memerintah dan membawa shalom damai sejahtera, Ia akan memulihkan bangsa Israel sehingga menjadi umat Allah yang diberkati untuk menjadi berkat dan terang bagi bangsa-bangsa. Tetapi engkau tidak mau mendengar firman Tuhan yang lain dan yang tidak sesuai dengan keinginanmu? Kenapa engkau menolak firman yang berkata bahwa Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya? Yesus lalu menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Yesus berbicara tentang Mesias yang akan datang sudah disebutkan dalam kitab Musa (Ulangan 18:15). Yesus bicara mengenai ular tembaga yang diangkat oleh Musa dalam peristiwa yang dicatat dalam Bilangan 21:4-9. Ular tembaga itu melambangkan salib Kristus. Dan pada waktu Musa memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, pada malam hari ketika tulah ke sepuluh yaitu kematian anak sulung, Allah memerintahkan Musa untuk menyuruh semua keluarga orang Israel menyembelih seekor anak domba dan mengoleskan darahnya di atas tiang pintu rumah sehingga semua anak sulung mereka terluput dari kematian. Masih ingatkah kalian bahwa tidak satu pun tulang dari anak domba itu yang boleh mereka patahkan, seperti yang terjadi pada diri Yesus di atas kayu salib, tidak ada satu pun tulangNya dipatahkan? [Keluaran 12:46, lihat Bilangan 9:12, Mazmur 34:20, Yohanes 19:36]. Kleopas dan Maria tahu jelas karena mereka melihat dua penjahat di sebelah kanan dan kiri Yesus tangan dan kakinya dipatahkan, tetapi Yesus sama sekali tidak.
Bukankah Daud dalam Mazmur 22 berseru “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” itulah seruan yang sama yang dikatakan oleh Yesus di atas kayu salib, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Tujuh ratus tahun yang lalu raja Daud menulis mazmur ini walaupun itu menjadi pergumulan dia di tengah dia merasa ditinggalkan Allah, dia menaikkan doa seperti itu, dan di atas kayu salib kalian mendengarkan teriakan yang sama dari Yesus, bukan? Saya percaya Yesus kemudian membuka Yesaya 53 yang menulis tentang Mesias, Hamba TUHAN yang menderita. Setiap kata dari Yesaya 53 ini digenapi di atas kayu salib Yesus Kristus. Kira-kira tiga jam lamanya sambil berjalan mereka mendengar, men-digest, mengunyah, merenungkan, menaruh di dalam pikiran mereka dalam-dalam firman Allah yang telah ribuan tahun disampaikan melalui para nabi kepada mereka. Firman itu tidak pernah berubah, firman itu ‘ya’ dan ‘amin’ dan Allah yang telah berjanji dan yang telah menyampaikan firman adalah Allah yang akan menggenapinya. Pada waktu Yesus menjelaskan satu demi satu, saya percaya, mata mereka terbuka dan mereka semakin melihat kebenaran itu. Yesus ajak mereka mendengar firman Tuhan, percaya apa yang dikatakan firman Tuhan, satu persatu semuanya itu Yesus jelaskan. Kenapa itu penting? Kalau kita hubungkan ada satu perumpamaan yang pernah Yesus berikan “Orang Kaya yang Bodoh,” di dalam penderitaannya di Hades, orang kaya itu berkata kepada Abraham untuk menyuruh Lazarus ke rumahnya memperingatkan saudara-saudaranya agar mereka jangan menderita seperti dia. Jika mereka tidak percaya kepada kesaksian Musa dan para nabi, sekalipun ada seorang yang bangkit dari antara orang mati, mereka tidak juga akan mau diyakinkan. Kalau kita memang sudah tidak mau percaya kepada firmanNya, sekalipun Yesus yang sudah mati hidup lagi datang kepadamu, tetap itu tidak membuat kita mau percaya.
Sampai di Emaus, mereka mengundang Yesus makan dan bermalam di rumah mereka. Lukas 24:29-31 mencatat: “Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.” Pertanyaan saya: bagaimana mereka tahu itu adalah Yesus? Pada waktu Yesus memecahkan rotiNya, mereka dengan jelas melihat lubang bekas luka yang ada di tanganNya. Inilah Yesus yang telah bangkit. Kepada Tomas yang ragu, Yesus berkata, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yohanes 20:24-29).
Cacat pada tubuh kita, luka-luka yang ada, kulit yang sudah renta dan keriput, dan segala hal yang terjadi, kelumpuhan, sakit-penyakit, semua yang kita alami pada tubuh fisik ini adalah akibat jatuhnya dunia ini di dalam dosa. Sehingga pada waktu kita berada di dalam langit dan bumi yang baru, pada waktu kita bangkit, kita akan menerima satu tubuh yang mulia dan sempurna. Tidak akan ada lagi cacat dan rusak, lumpuh dan buta, semua tidak ada lagi. Tetapi mengapa cacat dan luka di tangan kaki dan lumbung Yesus yang berlubang itu tetap permanen sampai kepada kekekalan? Inilah satu aspek yang indah dalam inkarnasi Anak Allah menjadi manusia. Aspek kemanusiaan itu tetap menjadi bagian dari diri Yesus di dalam kekekalan, dan termasuk lubang bekas luka itu tetap ada pada tangan dan lambungNya sebab penebusanNya itu bersifat kekal kepada engkau dan saya.
Lukas 24:32-35 adalah tahap ke tiga, mereka balik kembali ke Yerusalem. Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Luar biasa! Hari sudah malam, matahari sudah lama tenggelam, perjalanan yang tidak gampang karena gelap luar biasa dan bahaya serangan binatang liar dan begal yang bisa muncul merampok, mereka tidak peduli. Perjalanan dari Yerusalem ke Emaus adalah perjalanan putus asa, perjalanan kekecewaan dan penuh duka. Tetapi dalam perjalanan dari Emaus kembali ke Yerusalem hati mereka berkobar-kobar, penuh dengan sukacita, semangat dan pengharapan. Setelah Yesus selesai menerangkan firman Tuhan kepada mereka, dan setelah Yesus lenyap dari pandangan mereka, hilang semua rasa duka, galau, kesedihan dan keputus-asaan diganti dengan hati yang berkobar-kobar. Itu adalah pengharapan yang telah dipulihkan oleh Tuhan. Sinar mata mereka berubah. Tadi sebelumnya wajah mereka muram, tetapi sekarang mata yang penuh dengan pengharapan. Mereka bangkit dan balik kembali ke Yerusalem malam itu juga. Berita kebangkitan Yesus Kristus tidak boleh tertahan satu hari lagi. Sekalipun tubuh fisik mereka lelah, sekalipun belum sempat tidur dan istirahat, mereka tidak tunggu-tunggu lagi. Memang, berita tetap sama, malam ini, besok pagi, berita itu tetap sama. Tetapi bedanya adalah dalam diri mereka. Malam itu hati mereka tidak dapat tahan lagi, mereka harus sampaikan kepada rekan-rekan dan murid-murid yang lain: Yesus telah bangkit.
Hari ini, apa yang menjadi implikasi yang kita dapat dari peristiwa perjalanan Yesus bersama dengan murid-muridNya ke Emaus? Yang pertama, kita boleh melihat bagaimana pekerjaan dan kuasa Allah yang telah bekerja merubah hati, membangkitkan semangat, memancarkan pengharapan di dalam hati daripada Kleopas dan Maria dan yang juga boleh menjadi kobaran api Tuhan di dalam hidup kita satu persatu. Berita Paskah tidak boleh berlalu begitu saja; berita Paskah adalah untuk masa depan. Dari jaman ke jaman berita Paskah itu telah merubah hati begitu banyak orang. Hari ini ijinkan saya bertanya kepadamu: Apakah berita kebangkitan Yesus Kristus juga membangkitkan hidupmu, menggairahkan hidupmu, membuat hatimu berkobar-kobar mencintai Tuhan dan firmanNya? Bagikan berita ini kepada orang-orang di sekitarmu, mungkin dengan cara yang berbeda-beda, mungkin melalui apa yang terjadi dalam hidupmu, bagaimana Allah bekerja dan bagaimana cara Alah merubah hidupmu yang telah membawa engkau keluar dari jurang keputus-asaan, kedukaan dan kekecewaan, dan Allah berkarya dalam hidup sdr. Paskah telah membuat murid-murid bukan lagi orang yang sama. Di tengah tantangan dan kesulitan yang tetap kita alami sebagai orang yang hidup di jaman ini biarlah kita boleh melewati tantangan dan kesulitan itu bersama Tuhan dan hati kita tidak pernah kecewa. Bangkit, kobarkan semangatmu mencintai dan mengasihi Tuhan.
Ke dua, kiranya kita mengubah sikap kita dalam membaca firman Tuhan. Biar firman Tuhan terus-menerus bicara dalam hatimu dan firman itu membuat engkau teguh dan percaya karena semua janji dan firmanNya sudah digenapi. Pegang teguh firman Allah yang sudah diberikan kepada kita dalam kitab suci ini; berjalan dengan iman, bukan dengan menuntut bukti dan melihat. Dan kiranya Tuhan menanamkan firmanNya dalam hati kita menjadi firman yang memberikan kekuatan, pengharapan, sukacita, dan sinar hidup yang tidak pernah habis-habisnya memancar dari hidup kita.
Kita belajar untuk memiliki hati yang diperbaharui; banyak hal yang tidak kita lihat, banyak hal yang tidak bisa kita buktikan, mungkin di dalam perjalanan hidup kita, kita belum dapat apa yang menjadi jalan keluarnya, tetap kita mengerti dan mengetahui bahwa janji Allah dan firmanNya tidak pernah bersalah dalam hidup kita. Kita baca dan kita amini bahwa Ia akan melindungi dan menjaga keluar masuk kita; kita percaya Allah akan menyertai dan memimpin langkah hidup orang-orang benar;
Itulah firman Allah yang kita pegang dan percaya. Biar firman Tuhan terus-menerus bicara dalam hatimu dan firman itu membuat engkau teguh dan percaya karena semua janji dan firmanNya sudah digenapi. Kiranya Tuhan pimpin setiap kita, biar kita boleh mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan hari ini dan perjumpaan itu kita sekali lagi membangkitkan semangat kita dan kita boleh melihat Allah mengobarkan hati, membangkitkan semangat, memancarkan pengharapan dalam hidup kita dan membuat kita lebih cinta Tuhan dan mencintai pekerjaan Tuhan.(kz)