On the Cross – Free at Last

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Khotbah Jumat Agung
Tema: On the Cross – Free at Last
Nats: Efesus 2:1-5

Firman Tuhan yang akan menjadi perenungan kita dalam Ibadah Jumat Agung ini terambil dari Efesus 2:1-5. “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan.”
Dalam bagian ini Paulus menyebut tiga kata yang penting luar biasa di dalam inti pengajaran iman Kristen: keadilan, belas kasihan dan anugerah [justice, mercy, grace]. Tiga kata ini menjadi keunikan dari iman Kristen dan menyatakan inilah esensi iman kita. Di atas kayu salib Allah memperlihatkan keadilanNya, belas kasihanNya dan anugerahNya yang luar biasa. Di ayat 3 Paulus menyatakan selayaknya kita menerima murka Allah; “pada dasarnya kita harus dimurkai sama seperti mereka yang lain.” Itulah inti pengertian mengenai keadilan Allah: engkau menerima apa yang sepatutnya engkau terima, yaitu murka Allah. Kalau Allah mengingat-ingat kesalahan dan dosa-dosa kita, siapa yang bisa tahan berdiri di hadapanNya? Itu adalah satu pengakuan jujur dari pemazmur, “Dahsyat Engkau! Siapakah yang tahan berdiri di hadapanMu pada saat Engkau murka?” (Mazmur 76:8).
Justice is getting what we deserve. Keadilan Allah adalah kita menerima apa yang sepatutnya kita terima. Namun di ayat 4 kita menemukan perubahan terjadi, dan kata yang ke dua muncul di situ: “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita,” yaitu kata rahmat, belas kasihan, mercy. Paulus memberikan tekanan makna yang lebih dalam: Allah kita kaya dengan rahmat, rich in mercy. Jikalau keadilan berarti sesuatu yang patut kita dapatkan, sebaliknya rahmat atau belas kasihan berarti kita tidak menerima apa yang sepatutnya kita terima. Mercy is not getting what we deserve. Itulah belas kasihan Allah yang kontras terbalik dengan keadilan Allah. Lalu di ayat 5 kata yang ke tiga muncul: “oleh kasih karunia kamu diselamatkan” kasih karunia, anugerah, grace. Anugerah berarti kita menerima apa yang tidak sepatutnya kita terima. Grace is getting what we do not deserve. Puji Tuhan! Itulah yang kita terima di atas salib Yesus Kristus. Kita tidak perlu malu membicarakan dan memproklamirkan berita salib Yesus Kristus. Saya percaya di atas muka bumi ini satu-satunya kematian yang terus-menerus dirayakan oleh orang Kristen dengan penuh kebanggaan dan dignitas adalah Jumat Agung, dimana orang Kristen memperingati hari kematian Yesus Kristus di atas kayu salib menjadi perayaan yang makin besar bergema dikumandangkan.
Di dunia ini ada banyak orang-orang yang besar dan agung, para pahlawan yang meninggal yang pada waktu penguburannya dirayakan dengan sangat megah dan besar. Tetapi setelah itu di tahun-tahun selanjutnya jarang orang merayakan dan mengingat-ingat tentang kematian orang itu, bukan? Tetapi kematian Yesus di atas kayu salib adalah satu kematian yang terus diperingati, dirayakan dan diingat, satu kematian yang terus diberitakan sekalipun peristiwa itu sudah terjadi dua ribu tahun yang lalu Yesus mati dengan terhina dan tersendiri di atas kayu salib itu. Hari ini kita duduk datang merayakan dan menjadikan Jumat Agung sebagai hari yang khusus, hari yang spesial dan penting bagi kita. Dan sudah tentu, di tahun-tahun ke depan, kita akan terus merayakan bahkan memberitakan kematian Yesus itu lebih besar lagi kepada dunia ini.
Itulah sebabnya mari kita fokuskan hati kita melihat apa arti daripada salib Yesus Kristus itu. Kita mungkin mengenakan kalung salib sebagai tanda kita menghargai dan menunjukkan kita kagum dan bangga dengan salib Yesus Kristus karena itu adalah bukti kasih dari Allah Bapa kepada dunia ini. Dalam Yohanes 3:16 Yesus berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Salib adalah bukti dari kasih Allah yang memberikan AnakNya yang tunggal dan satu-satunya itu untuk mati supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa adanya. Salib sebenarnya adalah tanda kutukan; salib itu adalah satu tanda penolakan dan penghinaan. Di atas kayu salib pada waktu Yesus mati, di situ ada sesuatu yang Ia kerjakan, yaitu Dia membayar hutang dosa kita, itulah karyaNya yang menyelesaikan keadilan Allah.
Kalau mau jujur, problem kita yang terbesar di atas muka bumi ini bukan problem kesejahteraan, bukan problem kemiskinan dan kesehatan. Problem utama manusia di atas muka bumi ini adalah soal ketidak-adilan. Itulah sebabnya bicara mengenai keadilan Allah adalah berita yang sangat penting sekali bagi manusia yang sedang mengalami ketidak-adilan dalam hidupnya di atas muka bumi ini. Dan saat yang sama, berita tentang keadilan Allah juga menjadi peringatan yang penting bagi orang-orang yang melakukan ketidak-adilan di atas muka bumi ini. Karena akan ada satu titik, satu momen dimana Otoritas yang tertinggi itu akan menyatakan keadilanNya. Timbangan keadilan manusia seringkali tidak pernah rata dan fair. Apa yang kita pikir adil bagi kita belum tentu adil bagi orang lain, karena timbangan keadilan kita subyektif sifatnya. Demikian juga kita merasa apa yang dilakukan orang kepada kita selalu kita rasa tidak adil. Kalau sudah begitu, kemana kita pergi mencari keadilan itu? Bagaimana kita menyelesaikan keadilan itu?
Setiap orang yang telah berbuat salah harus menyelesaikan perbuatannya sesuai dengan tuntutan hukum yang berlaku dan menerima hukuman yang sepatutnya atas perbuatannya. Ketika bicara mengenai kasus perbuatan kejahatan dalam dunia, kita tahu setiap pelanggaran tidak sama rata, demikian juga hukuman yang dijatuhkan tidak sama rata. Untuk pelanggaran perdata, orang itu harus mengembalikan ganti rugi dan denda sekian sebagai penalti bagi pelanggarannya. Tetapi untuk tindakan kriminal, pemerkosaan dan pembunuhan, orang itu harus diproses sesuai dengan jalur hukumnya. Di situ kita bisa melihat persoalan perbuatan dosa bukan soal kuantitasnya tetapi bicara mengenai kualitasnya. Maka pada waktu kita bicara mengenai keadilan dan kita menuntut dan mencari keadilan itu di atas muka bumi ini, sejujurnya, kalau orang itu tidak percaya ada Allah yang maha adil yang akan menyelesaikan segala ketidak-adilan di dalam dunia ini, dia adalah orang yang paling malang adanya. Struktur pemerintahan yang ada di atas muka bumi ini sesungguhnya dibuat dan diberikan oleh Allah. Engkau mencari keadilan kepada pemerintah ketika ada persoalan ketidak-adilan yang engkau alami. Namun bagaimana jadinya jikalau justru pemerintah yang berotoritas itu ternyata adalah sumber ketidak-adilan, yang melakukan tindakan kekerasan dan ketidak-adilan itu sendiri? Makanya kemudian ada usaha yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mencoba melakukan intervensi jikalau ada pemerintah suatu bangsa yang jahat dan korup, namun seringkali ini tidak bisa dilakukan karena pemerintah itu akan mengatakan ini adalah urusan dalam negeri yang PBB tidak boleh ikut campur, dsb. Apa yang bisa dilakukan kalau sudah demikian? Bagaimana kalau sampai akhir hayatnya orang yang melakukan ketidak-adilan itu tetap hidup nyaman, tidak bisa dijangkau oleh hukum, hidup dalam kemakmuran dan kekayaan di atas penderitaan rakyatnya? Itu sebab kita begitu merindukan dan mengharapkan dengan sungguh satu kali kelak keadilan itu betul-betul dinyatakan dan penghukuman dijatuhkan kepada orang-orang seperti itu.
Dalam relasi kita kepada Tuhan, Ia adalah Pencipta dan kita adalah ciptaanNya. Kita bertanggung jawab kepadaNya pada waktu kita melanggar perintah dan peraturanNya. Di hadapan Allah, itu adalah hal yang serius karena kita telah melanggar kesucian dan kebenaran Allah. Itu bukan sekedar kita katakan ‘Oh, Tuhan, maaf saya berbuat kesalahan, saya lemah, saya khilaf.’ Efesus 2:1-3 menunjukkan inilah problem yang paling hakiki kita sebagai manusia yang dicipta oleh Allah. Ini bukan bicara soal kelemahan atau kekhilafan orang. Akibat dosa, akibat melanggar perintah Allah, kita dicengkeram oleh kematian, kita dicengkeram oleh kuasa kegelapan dan kita tidak bisa lepas dari hidup yang ingin berjalan sendiri mengikuti jalan dunia ini. Itulah kondisi kita.
Pada waktu melihat salib, kita bukan saja melihat bukti kasih Allah, tetapi kita juga melihat di situ Allah menyatakan keadilanNya. Penjahat yang disalibkan di sebelah Yesus melihat itu dan dia berkata kepada temannya yang di sebelah satunya: “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:41-43). Anak Allah turun dari surga untuk membayar lunas keadilan Allah itu dengan mati menggantikan kita. Anak Allah turun menjadi manusia. Itulah sebabnya kematian Yesus Kristus di atas kayu salib adalah kematian Anak Allah yang kekal itu sehingga melalui penebusanNya di atas kayu salib itu adalah penebusan berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa (Ibrani 7:16). Yesus Kristus memiliki satu hidup yang tidak dapat binasa yaitu hidup yang bisa menampung dan menanggung seberapapun banyaknya orang yang percaya yang ada di atas muka bumi ini. Itulah kematian Yesus yang telah mati menebus dosa kita; Ia mati karena pemberontakan dosa kita. Sehingga melalui kematianNya di atas kayu salib itu kita boleh berkata kita telah dibenarkan di hadapan Tuhan, kita boleh berkata dosa-dosa kita telah diampuni. Di atas kayu salib, Yesus berseru: Tetelestai, sudah selesai! sebelum Ia menyerahkan nyawaNya kepada Bapa. Di situ Yesus Kristus telah menggenapkan dan menyelesaikan apa yang Ia kerjakan bagi penebusan kita dan Ia telah menanggung segala murka Allah terhadap dosa-dosa kita di atas kayu salib. Sudah selesai. It is finished. Di situ Allah telah menyelesaikan pemberontakan dosa kita dengan keadilanNya dibayar Yesus Kristus di atas kayu salib. Kita juga percaya satu kali kelak semua yang tidak adil yang dialami manusia selama di dunia ini akan diangkat dan dibongkar olehNya.
Memahami keadilan Allah itu berarti kita senantiasa mawas diri supaya kita tidak melakukan ketidak-adilan kepada orang lain. Memahami keadilan Allah itu juga menjadi satu penghiburan bagi kita. Kita berteriak dan berseru kepada Allah untuk ketidak-adilan yang kita alami sebab hanya di dalam diri Allah segala sesuatu akan diselesaikan secara adil. Rasa keadilan orang Kristen seharusnya lebih daripada orang lain, karena salib itu menyadarkan kepada kita pelanggaran dan dosa manusia begitu serius. Di ayat 5 Paulus berkata, “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan.” Kita dihidupkan bersama-sama dengan Kristus sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan pelanggaran dan dosa-dosa kita. Pada waktu kita melihat kepada salib, kita mengakui seharusnya kita yang mati di situ, tetapi Yesus Kristus mati menggantikan engkau dan saya. Karena Ia kaya dengan rahmat, keadilanNya tidak timpa kepada engkau dan saya. Belas kasihan berarti kita tidak menerima apa yang sepatutnya kita terima. Kita sepatutnya menerima penghukuman kekal, kita patut menerima murka Allah, tetapi Yesus Kristus telah menanggung dosa-dosa kita di atas tubuhNya. Di atas kayu salib Yesus menerima keadilan Allah; kita yang menerima belas kasihan Allah.
Ketika kita merenungkan berita salib, ketika kita merenungkan belas kasihan Allah, biarlah belas kasihan Allah itu nyata dalam hidup engkau dan saya. Kadang-kadang harus kita akui, kita tidak terlalu punya hati yang cukup besar dan berbelas kasihan; kita kadang-kadang agak sedikit kejam kepada orang. Dalam Matius 18:23-34 Yesus memberikan perumpamaan: Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Perhatikan di sini Yesus memakai kata “tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan” (ayat 27) dan membebaskan orang yang berhutang sangat besar itu. Hutangnya begitu besar, “sepuluh ribu talenta” tidak bisa disebutkan dengan angka nominal kita. Namun baru saja dia dibebaskan, dia bertemu dengan temannya yang berhutang begitu sedikit “seratus dinar” yang bisa disamakan dengan upah kerja 100 hari, satu angka hutang yang tidak besar sebetulnya, namun dia dengan kejam memaksa dan melemparkan orang itu ke penjara sampai dia membayar hutangnya. Itu adalah satu kontras yang begitu ekstrim dari seorang yang sendiri telah dibebaskan dari hutang yang begitu besar.
Kisah yang ke dua dalam Lukas 18:9-13: Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Have mercy on me, o Lord. Orang Farisi datang kepada Allah dengan membanggakan diri selayaknya dia mendapatkan berkat Allah dan dia tidak ingat untuk meminta belas kasihan dari Allah sedangkan pemungut cukai itu tidak bisa membanggakan diri di hadapan Allah dan hanya memohon belas kasihan Allah kepadanya. Maka Yesus berkata, siapakah di antara dua orang itu yang pulang dibenarkan oleh Allah? Pemungut cukai itu.
Jikalau engkau telah menerima belas kasihan Tuhan dalam hidupmu, yaitu engkau tidak menerima apa yang sepatutnya engkau terima yaitu penghukumanNya, marilah kita menjadi orang yang penuh dengan kemurahan hati kepada orang lain yang bersalah kepadamu. Jangan berhenti di atas kayu salib hanya berpikir engkau telah dibebaskan dari orang berdosa menjadi orang merdeka saja, engkau juga harus dibebaskan dengan menikmati apa artinya belas kasihan Tuhan dengan memberikan belas kasihan juga kepada orang lain. Apakah sdr mempunyai kerelaan untuk melepaskan kerugian dengan tidak menyimpan hati yang pahit dan dendam kepada orang itu? Kita perlu juga belajar untuk mengampuni orang dengan tidak menyimpan kesalahannya. Itu artinya berbelas kasihan.
Terakhir, Paulus berkata, “karena kasih karunia kita diselamatkan.” Kasih karunia, anugerah. Anugerah berarti menerima apa yang tidak sepatutnya engkau terima. Di atas kayu salib bukan saja kita dibebaskan dari hukuman, di atas kayu salib kita mendapatkan belas kasihan Allah, di atas kayu salib kita diberi begitu banyak kasih karunia yang berlimpah-limpah. Bukan saja beban dosa itu diangkat dan dibuang dari bahumu tetapi engkau juga menerima begitu banyak kasih karunia; kita menerima segala kekayaan surgawi dilimpahkan kepada kita. Keselamatan kekal itu adalah anugerah; kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk memperolehnya. Itu adalah sesuatu yang tidak patut kita peroleh tetapi itu diberikan di atas kayu salib bagi engkau dan saya.
Kiranya hari ini kita juga boleh menjadi orang Kristen yang tidak melulu merasa sebagai orang Kristen yang miskin, yang terus datang meminta sesuatu kepada Tuhan; kita lupa kita sudah dilimpahi dengan segala kelimpahan berkat. Jadilah orang Kristen yang bebas dari rasa kuatir, takut dan serakah dalam hidup ini. Hari ini biar kiranya berita salib Yesus Kristus menyentuh hati engkau dan saya sekali lagi. Di atas kayu salib Allah menyatakan keadilanNya; Yesus Kristus mati menggantikan dosa-dosamu. Sekaligus Ia menyatakan belas kasihanNya kepada kita. Anak Allah yang menggantikan kita yang sepatutnya binasa. Dan Ia memberikan anugerah, mengijinkan engkau dan saya masuk ke dalam surgaNya yang mulia. Kita bisa memperoleh persekutuan yang kekal selama-lamanya bersama Dia. Itulah pekerjaan Yesus Kristus di atas kayu salib yang Ia genapi.(kz)