Kingdom Calling

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Post-Easter Events [3]
Tema: Kingdom Calling
Nats: Matius 28:11-30

Kebangkitan Kristus adalah momen dan titik pergerakan dari gelombang demi gelombang yang tidak akan berhenti dan akan terus berjalan menggerakkan anak-anak Tuhan di sepanjang jaman untuk melakukan pekerjaan penginjilan dan pemuridan ke segala tempat dan pelosok dunia. Kebangkitan Kristus senantiasa mendorong dan menggairahkan gereja Tuhan untuk mengasihi dan melayani Tuhan sampai Yesus Kristus datang kembali untuk ke dua kalinya. Puji Tuhan!
Hari ini kita akan melihat catatan Matius dari peristiwa yang terjadi sesudah kebangkitan Kristus, apa yang dia lihat menjadi hal yang sangat penting yang dia ingin sampaikan pada waktu Yesus bertemu dengan murid-murid; di situ Dia berbicara bukan saja sebagai sahabat mereka, bukan saja sebagai guru mereka, bahkan bukan saja sebagai Juruselamat yang telah menang atas dosa dan kematian, tetapi Dia berbicara sebagai seorang Raja. Dia bukan raja dari dunia ini, Dia bukan raja secara lokasi dan hanya untuk satu kerajaan, tetapi Dia adalah Raja di atas segala raja. Dan sang Raja memberikan satu perintah, satu panggilan, satu legacy. Sang Raja sedang bertitah. The King has spoken. Mari kita mendengar dan melakukan apa yang Ia perintahkan.
Dalam perikop peristiwa yang dicatat oleh Matius, ada dua aspek negatif yang kita perlu perhatikan baik-baik. Yang pertama, kita senantiasa harus ingat bahwa movement kita, pemberitaan kita mengenai kebangkitan Kristus pasti akan mengalami perlawanan yang tidak ada habis-habisnya dari Iblis yang akan selalu mencari cara dan jalan untuk menghambat dan menghancurkan pekerjaan Tuhan. Kita tahu di atas kayu salib kepala si Ular itu sudah diremukkan; dia sudah terluka dan dikalahkan, tetapi dia masih mau melakukan peperangan itu sampai akhir.
Matius mencatat counter yang pertama adalah berita hoaks mengenai mayat Yesus dicuri oleh murid-muridNya yang disebarkan oleh serdadu-serdadu Romawi yang menjaga kubur Yesus. Sudah kira-kira lebih dari 30 tahun dari sejak peristiwa kebangkitan Yesus, berita hoaks mayat Yesus dicuri itu masih saja beredar di antara orang-orang Yahudi pada waktu itu. Imam-imam kepala itu, orang-orang yang notabene “takut akan Tuhan” itu menyogok dan menyuap serdadu Romawi yang tidak percaya Tuhan untuk menyebarkan berita bohong. Satu ironi luar biasa.
Kalau kita tarik pelajaran bagi kita yang hidup di jaman ini, hal itu juga menjadi relevan mengingatkan adakah tindakan dan hidup kita sebagai anak Tuhan, sebagai gereja dan hamba Tuhan bisa seperti itu juga. Sedih melihat orang-orang dalam gereja yang bersiasat dan berpolitik demi kepentingan diri sendiri lalu memakai suap [bribery] dan mengabarkan dan menyebarkan hal yang bohong satu dengan yang lain, akhirnya hal itu menjadi counterproductive bagi pemberitaan dan pengabaran Injil. Iblis tahu akan hal ini dan dia akan terus giat bekerja mendatangkan percekcokan di antara pemimpin-pemimpin gereja, dia akan menjatuhkan pemimpin-pemimpin agama yang memiliki pengaruh yang besar bagi Kekristenan sehingga mendatangkan tawa dan cemooh dari orang yang tidak percaya. Itulah sebabnya mengapa kita tidak boleh mengabaikan poin penting ini. We need to see this matter seriously. Tetapi pada saat yang sama, Yesus mengingatkan murid-murid jangan takut kepada rintangan dan hambatan seperti itu karena semua itu akan selalu ada. Dan kita tidak boleh menunggu semua teduh, tunggu semua baik, tunggu sampai tidak ada lagi tantangan dan hambatan baru kita bisa mengerjakan dan melakukan pekerjaan Tuhan. Kita tahu pihak oposisi akan bergerak semakin keras untuk menghambat pengabaran Injil dan kita perlu keberanian, kekuatan dan kesungguhan untuk menghadapi hal-hal itu.
Yang ke dua, bagian ini juga memperlihatkan ada aspek internal yang juga bisa menahan kemajuan pelayanan dan pengabaran Injil yang datang dari diri murid-murid Tuhan sendiri. Matius 28:16-17 mencatat, “Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.” Ke sebelas murid Yesus sudah melihat dan sudah bertemu dengan Yesus yang bangkit, tetapi mengapa sebagian dari mereka masih ragu dan tidak mau menyembah Dia? Sampai kapan mereka
perlu diyakinkan? Bukti apa lagi yang masih mereka perlukan? Dorongan apa lagi yang masih kurang? Mengapa sebagian murid ini masih ragu-ragu dan reluctant? Tetapi Tuhan begitu sayang dan begitu baik. Saya percaya salah satu aspek mengapa perlu waktu 40 hari sebelum Dia naik ke surga, Tuhan berkali-kali menampakkan diri untuk meyakinkan mereka. Paulus mengatakan, “Yesus telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul” (1 Korintus 15:5-7).
Hal ini mengingatkan kita, kita pun seringkali up and down, kadang-kadang kita punya komitmen 100% penuh buat Tuhan, tetapi terlebih sering kita “low battery” semangat itu menjadi lemah dan kendor. Kita akan selalu kehilangan kesempatan kalau terus seperti itu dan kita akan sulit berjalan maju jikalau tidak full-hearted di dalam ikut Tuhan. Mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri: Apa sih yang belum Allah kerjakan dalam hidupmu, yang belum Dia nyatakan kasihNya yang begitu besar kepadamu? Kita perlu full-hearted, full comitment dalam hidup kita mengikut Tuhan. Kadang-kadang hanya berapa gelintir orang yang bergerak dari situ dan menghasilkan murid-murid Kristus berlipat ganda sampai hari ini. Puji Tuhan!
Kita tahu semua itu bukan datang dari kekuatan dan kemampuan manusia, tetapi ada kekuatan dan janji yang indah bagi setiap orang yang taat melakukan perintahNya. Yesus Kristus berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:16-20). Ini kalimat yang penting dan seharusnya memberikan keindahan dan kekuatan kepada kita. Tidak ada lagi yang patut membuat kita gelisah, takut dan gentar di dalam hidup kita oleh karena kalimat ini keluar dari Raja di atas segala raja, penguasa surga dan bumi. Jikalau kalimat ini dikatakan oleh seorang raja di dunia ini, atau dikatakan oleh suatu pemerintah, tetap kita tidak bisa pegang dan bisa terima dengan pasti karena kuasanya terbatas. Apalagi kuasa dalam dunia politik dan dunia bisnis, bukan? Engkau harus bersandar kepada siapa? Engkau harus berlindung kepada yang mana? Kuasa dan kekuatan manusia dan organisasi manusia bisa amblas dan tidak ada yang permanen. Sejarah sudah mencatat ini, Alkitab pun sudah memperlihatkan dari sejak dulu. Kerajaan Mesir pernah jaya, kerajaan Asyur, Babel, Persia, Yunani, Romawi, semua akhirnya berlalu dan lenyap. Nabi-nabi Tuhan dalam Perjanjian Lama, telah mengingatkan raja-raja, jangan bersandar kepada Aram (2 Tawarikh 16:7), jangan bersandar kepada Mesir (Yeremia 42:19) karena memang tidak bisa disandari. Tetapi mereka tetap seperti itu, karena itulah kecenderungan kita. Di dalam bisnis, di dalam usaha dan pekerjaan, kita bersandar kepada siapa? Akhirnya itu membuat orang kadang-kadang tidak full committed karena supaya mencegah dia tidak ikutan jatuh dan terlalu percaya kepada sesuatu sehingga harus menaruh kesetiaan di berbagai tempat. Tidak demikian dengan hidup kita seharusnya sebagai anak Tuhan dan juga sebagai gereja Tuhan senantiasa tahu kita bersandar kepada Tuhan yang tidak berubah dahulu, sekarang dan selamanya.
Ada beberapa hal yang menarik dari kalimat Yesus ini. Dia mengatakan, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Saya percaya, murid-murid waktu itu langsung teringat apa yang dilihat dan dicatat oleh Daniel di pembuangan di Babel. Daniel berkata, “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Daniel 7:13-14). Kira-kira lima ratus lima puluh tahun sebelum Yesus datang, Allah memperlihatkan apa yang ada di surga dan inilah yang dilihat oleh Daniel dalam usia tuanya dan visi itu digenapkan dalam diri Yesus Kristus. Seorang hamba Tuhan mengatakan kalimat daripada Daniel dan juga kalimat Yesus di sini adalah “the highest Christology,” Kristologi yang tertinggi. Di situlah Yesus membukakan kepada murid-muridNya Dia bukan seorang anak tukang kayu saja, Dia bukan seorang nabi saja, Dia bukan seorang yang melakukan mujizat saja, Dia adalah Raja yang berdaulat, Tuhan yang in control dan penuh kuasa. Kalau kita mengakui Allah kita in control dalam segala sesuatu, tidak ada hal yang terjadi dengan random sebetulnya. Molekul yang engkau lihat beterbangan ke sana ke mari, yang kita pikir sedang beterbangan secara acak; kalau kita melihat meteor yang terbang atau jatuh dari angkasa, kita pikir semua itu bergerak secara acak, itu karena observasi kita terbatas. Tetapi pada waktu kita melihat lebih luas, kita mungkin tahu bahwa sebenarnya segala sesuatu bergerak secara teratur dan dalam kontrol Tuhan kita. Kita saja yang lihat random, karena penglihatan kita terbatas, apa yang terjadi dalam hidup kita, kita hanya bisa lihat sedikit saja.
C.S. Lewis pernah mengatakan, “Sekalipun dalam umurku yang hanya 70 tahun ini aku tidak menyaksikan kebaikan Tuhan terjadi dalam hidupku ini, aku tidak bisa memakai pengalaman hidupku yang singkat ini untuk mendefinisikan kebaikan Tuhan yang kekal. Sekalipun dari sejak lahir sampai saya mati saya berada dalam kemalangan yang tidak ada habis-habisnya, sekalipun tidak ada hari yang nampaknya baik, tetap tidak bisa menjadi alasan untuk mengatakan Allah tidak baik kepadaku.” Hidup kita yang terbatas ini tidak bisa mendefinisikan Allah yang tidak terbatas itu. Allah kita berdaulat dan in control.
Ada dua pengertian teologis yang dikatakan mengenai kedaulatan Allah. Ada yang dinamakan “Kedaulatan Allah yang Aktif” [the active sovereign will of God] yaitu kedaulatan Allah yang bekerja melalui ketaatan kita. Yang ke dua adalah “Kedaulatan Allah yang pasif” [the passive sovereign will of God] yaitu kedaulatan Allah yang terjadi di dalam ketidak-taatan kita. Kita bisa melihat ini terjadi kepada Yusuf yang menjadi korban dari ketidak-baikan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya sehingga dia dijual sebagai budak di Mesir, dipenjara karena fitnah dari isteri Firaun, sampai akhirnya Allah mengangkat dia dan menjadikan dia pemimpin negeri Mesir. Kepada saudara-saudaranya di belakang hari Yusuf berkata, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kejadian 50:20). Di situlah kita menyaksikan Allah yang in control melakukan itu menjadi kebaikan bagi dia dan seluruh bangsanya. Artinya tidak ada yang terjadi di luar dari kontrol Allah. Itulah sebabnya, baik atau tidak baik waktunya kita melayani dan memberitakan Injil dan mengajarkan firman Tuhan.
Dalam sepanjang sejarah kita menyaksikan pandemi demi pandemi datang dan pergi; peperangan demi peperangan juga terjadi; kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, peperangan akan muncul, sakit-penyakit akan datang kepada kita, sejarah memberitahukan kepada kita semua itu tidak akan berhenti dan selesai. Sehingga apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita terus diam bersembunyi dan tidak melakukan apa-apa?
Maka ayat 18-20 ini harus menjadi catalyst yang menggerakkan kita. The kingdom is calling. Panggilan ini bukan hanya bagi murid-murid pada waktu itu atau kepada orang-orang yang berprofesi sebagai hamba Tuhan saja, tetapi bagi setiap kita. Raja kita memberikan panggilan bagi engkau dan saya. “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Ada beberapa hal yang menarik dari perintah Yesus ini. Memang diperdebatkan mana yang menjadi imperative bentuk kata perintahnya: pergi atau jadikan murid? Puji Tuhan sebenarnya, di tahun 1700-an kebanyakan orang membaca kata “pergi” sehingga mereka pergi dan menjadi misionari. Jangan sampai kita belajar teologi lebih hebat daripada mereka dan tahu bahwa kata imperative-nya adalah: jadikan murid. Sedangkan kata “pergi, baptis dan ajar” itu adalah dalam bentuk participle yang menyertai perintah itu, akhirnya kita tidak pergi-pergi. Jadikan murid, itu perintah Yesus. Ia menginginkan kita bukan saja menginjili tetapi sungguh-sungguh menjadikan orang itu murid Yesus yang sungguh. Bicara mengenai “Discipleship” berarti bukan saja memindahkan orang yang dulunya dari agama atau kepercayaan lain kemudian menjadi Kristen. Atau kita lihat orang itu sudah ke gereja, sudah dibaptis, lalu selesai; kita pikir dia sudah menjadi orang Kristen, dan tugas kita sudah beres. Tidak. Kita harus menjadikan dia betul-betul murid Yesus. Apa artinya discipleship, apa artinya menjadikan murid, itu berarti kita dengan intentional dan dengan komitmen terus-menerus menjadikan orang itu bukan saja menjadi pengikut Yesus tetapi dia menjadi seperti Yesus. Sehingga tema khotbah discipleship bisa selesai dan cukup satu jam saja disampaikan dan diajarkan, tetapi proses discipleship itu terjadi seumur hidup.
Yang ke dua, dikatakan, “jadikanlah semua bangsa muridKu.” Ia tidak bicara tentang pelayanan secara lokal di Yerusalem, atau di Galilea, atau di daerah Israel saja. Waktu itu scope pelayanan murid-murid hanya sampai di situ dan konsep mereka tentang “dunia” itu begitu terbatas. Mereka tidak pernah traveling sampai ke luar negeri; dunia mereka hanya selebar daun kelor saja, tetapi dunia Yesus adalah dunia Allah sang Pencipta yang kita tahu ini bicara tentang manusia dari segala bangsa, bahasa dan suku-suku dari segala tempat dan lokasi. Betapa indah Yesus sudah mengatakan hal ini 2000 tahun yang lalu, bukan? Pemahaman mereka mungkin simple sederhana. Buat mereka wilayah yang mereka tahu begitu sempit dan terbatas. Mungkin mereka tahu kota Roma tetapi tidak pernah membayangkan pergi ke sana. Bahkan Paulus pun baru akhirnya bisa sampai ke Roma sebagai seorang tawanan (Kisah Rasul 28:16) dan rencananya untuk pergi ke Spanyol melalui Roma pun tidak kesampaian (Roma 15:28).
Secara praktisnya bagaimana kita melaksanakan panggilan ini? Kita harus mengerti Amanat Agung, the Great Commission ini bukan satu program, bukan satu tambahan kepada pelayanan gerejawi, tetapi itu adalah hidup gerejawi kita, nafas yang menggerakkan kita. Kita bukan sekedar membuat KKR, melakukan penginjilan massal, kita berkhotbah, kita melakukan panggilan, lalu orang itu maju, kita minta dia isi form lalu setelah dia catat lalu kita suruh dia bicara dengan konselor. Kebanyakan yang gereja lakukan adalah mengundang orang Kristen yang suam-suam kuku, yang baterenya sedang soak sehingga perlu di-KKR, di-“getar” sama Tuhan, akhirnya namanya “langganan pertobatan.” Tiap KKR ada calling, dia maju ke depan. Tiap KKR isi kartu. Itu bukan Amanat Agung. Mission tidak berarti hanya outreach tetapi bisa terjadi di dalam rumah tangga dan keluarga kita. Jikalau seorang anak Tuhan intentionally berdoa bagi teman kerja, bagi kolega atau teman di kampus, lalu membimbing dia untuk mengenal Tuhan sehingga dia menjadi percaya Tuhan, hidupnya berubah dan dia menyembah Kristus, itulah yang namanya mission.
Saya ingin membandingkan mata Yesus dengan mata murid-murid. Ada empat cara melihat yang ironi pada diri para murid. Yang pertama, mata murid-murid yang selalu melihat dengan prasangka buruk dan judgmental. Kelihatan sekali pada waktu mereka melihat Yesus sedang berbicara dengan seorang perempuan di tepi sumur di Samaria (Yohanes 4). Penuh dengan prasangka dan prejudice. Gereja juga seperti itu, bukan? Lihat orang bertato masuk gereja, semua bisik-bisik. Kita pikirkan hal lain menolong orang yang kusta atau menolong orang yang miskin melarat di kolong jembatan, kita penuh dengan judgmental spirit. Yang ke dua, Markus 10:13-16 ketika Yesus melihat anak-anak kecil Ia memeluk dan memberkati mereka; murid-murid melihat mereka sebagai beban, gangguan, ribut, sehingga mereka mengusir dan memarahi orang yang membawa anak-anak itu. Itulah mata kita, bukan? Itu mata yang mengusir orang yang mau datang kepada Tuhan, yang kita anggap itu sebagai orang-orang yang tidak layak dilayani, yang tidak membawa untung, tidak ada benefit dan hanya bikin ongkos besar saja. Kalau orang kaya yang datang, langsung disambut ramah. Banyak mata seperti itu di gereja dan di dalam diri anak Tuhan. Yang ke tiga, mata yang melihat orang banyak ikut Yesus seharian, mereka semua lapar dan harus bagaimana? Markus 6:33-43 mencatat mata murid-murid hanya melihat inconveniency, biaya besar, repot, tidak feasible. Mata yang ke empat, murid-murid saling melihat satu sama lain, siapa yang terbesar di antara mereka, lalu ribut, jealous dan iri kepada orang yang lain, pelayanan yang lain, berprasangka buruk, nuding sana nuding sini. Tidak akan maju gereja kalau kita terus seperti ini. Itulah mata yang selalu menghalangi pekerjaan Tuhan.
Dalam Matius 9:35-38 dikatakan: Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Kiranya Tuhan menolong setiap kita punya mata seperti mata Yesus dan punya hati yang berdoa bagi hal itu.(kz)