Jesus is Greater

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Ibadah Paskah
Tema: Jesus is Greater
Nats: 2 Korintus 5:21, Ibrani 7:25, Roma 8:33-34

Dalam perayaan Ibadah Paskah hari ini secara khusus kita melihat ada tiga hal pada diri Yesus, siapa Dia bagi kita; Yesus adalah Juruselamat, Pendoa Syafaat dan Pembela kita. Yang pertama, dalam 2 Korintus 5:21 dikatakan, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Kalimat rasul Paulus ini adalah juga kalimat yang menggemakan perkataan Yesus, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28). Yesus adalah Juruselamat kita, Yesus adalah Penebus dosa-dosa kita.Yang ke dua, Ibrani 7:25, “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.” Ayat ini menyatakan Yesus menjadi Pendoa syafaat bagi kita. Yang ke tiga, dalam Roma 8:33-34 Paulus berkata, “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” Yesus adalah Pembela kita.
Jesus is Greater! Itulah tema Paskah kita hari ini. Yesus Kristus adalah satu-satunya Pribadi, satu-satunya Orang yang ada di atas muka bumi ini yang tetap menjadi relevan selama-lamanya dan tidak ditelan oleh jaman. Ia agung dan besar, melebihi setiap orang yang pernah ada di dunia ini. Ada begitu banyak orang-orang yang menyandang titel “the great” baik mereka yang dari kaum aristokrat, raja-raja dan jenderal yang dicatat oleh sejarah. Salah satunya adalah Alexander the Great. Pada usia yang relatif sangat muda, 20 tahun, dia menjadi raja di Makedonia dan hanya dalam waktu 13 tahun dia sudah menaklukkan dan menguasai hampir semua daerah dari Yunani sampai India. Alexander the Great meninggal pada usia 33 tahun. Pada waktu kita mendefinisikan apa itu “great,” apa itu agung, apa itu sukses, kita lebih gampang dan lebih mudah melihat contoh dari orang-orang seperti ini, orang-orang yang mungkin dari sejak muda sudah berjuang begitu keras dan bisa berhasil melewati tantangan dan kesulitan dan meraih kesuksesan lebih daripada orang yang lain. Kita mengukur dari kekayaannya, kita mengukur dari kualitas kepemimpinannya, pengaruh kuasanya, dan berapa banyak follower-nya. Sekarang ukuran kebesaran dan keagungan orang sudah begitu banyak aspeknya, tidak seperti jaman dulu ukurannya dari banyaknya uang mereka. Namun kita harus mendefinisikan ulang bagaimana kita memahami apa artinya “great” kebesaran keagungan itu bukan dari ukuran dunia ini.
Lagu-lagu pujian dari orang Kristen dari Gereja Mula-mula mereka buat sentralitasnya adalah kepada Yesus Kristus dan kita bisa temukan salah satunya dalam Filipi 2:5-11 yang Paulus tulis pada waktu dia sedang menyelesaikan persoalan yang ada di tengah-tengah jemaat pada waktu itu. Ada perselisihan dan pertikaian, ada arogansi dan mementingkan diri dan rasa benar sendiri, tidak mau bersatu dan satu dengan yang lain saling iri hati dan ada keterlukaan di dalam jemaat ini. Paulus memakai nyanyian Kristus yang agung itu menjadi satu pujian yang memberikan jawaban. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Yesus yang agung, yang memiliki kesetaraan dengan Allah Bapa, yang mempunyai segala kekayaan di surga, tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang Dia patut pertahankan. Ia mengosongkan diri, turun ke dalam dunia menjadi manusia, dan tidak berhenti sampai di situ, Ia mengambil status manusia yang paling hina yaitu menjadi budak, taat dan mati di atas kayu salib. Keagungan dan kebesaran Yesus Kristus itu diberikan oleh Allah Bapa.
Yesus agung dan besar karena Ia telah menjadi Tuhan dan Juruselamat bagi kita. Point yang pertama kita akan membahasnya secara singkat saja karena kita sudah membahasnya dalam ibadah Jumat Agung, Yesus menanggung dosa-dosa kita, menjadi tebusan bagi kita. Ia mengambil posisi menggantikan kita. Kita yang seharusnya mati tetapi Ia mati bagi kita sehingga melalui kematianNya kita boleh mendapatkan hidup di dalam Yesus Kristus. Itulah artinya Tuhan menjadi Juruselamat dan Penebus kita. Bagaimana Ia bisa sanggup menebus dan menyelamatkan begitu banyak orang? Alkitab memberitahukan kepada kita penebusanNya di atas kayu salib itu adalah penebusan berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa (Ibrani 7:16). Yesus Kristus memiliki satu hidup yang tidak dapat binasa yaitu hidup yang bisa menampung dan menanggung seberapapun banyaknya orang yang percaya yang ada di atas muka bumi ini. Itulah kematian Yesus yang telah mati menebus dosa kita. Sehingga melalui kematianNya di atas kayu salib itu kita dibenarkan dan dosa-dosa kita telah diampuni, kita sudah dimerdekakan dari dosa.
Ibrani 7:25 berkata, “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.” Kita sudah ditebus oleh Kristus dan sekarang kita adalah orang yang sudah dibenarkan. Dan pada waktu kita berjalan terus ikut Dia, kita berjuang menjadi orang Kristen yang melawan dosa, melawan pencobaan; tetapi pada saat yang sama kita tahu ada Tuhan kita Yesus Kristus yang tidak berhenti selama-lamanya menjadi intercessor bagi kita. Ia menjadi Pengantara, Ia menjadi Pendoa Syafaat, ini menjadi satu lukisan dan gambaran yang diberikan di sini. Ketika kita menyampaikan doa-doa dalam nama Yesus, doa-doa kita disempurnakan oleh Yesus Kristus kepada Allah. Harus kita jujur akui, doa-doa kita adalah doa-doa yang penuh dengan egositas; doa-doa yang penuh dengan segala cacat dan kelemahan. Dan pada waktu doa itu sampai kepada Bapa kita di surga, doa itu menjadi doa yang disempurnakan oleh Yesus Kristus menjadi doa yang tanpa cacat cela, doa yang perfect, yang terbaik dan yang sempurna.
Yang ke dua, Yesus perlu menjadi Incercessor, menjadi Mediator kita karena kita tidak mungkin bisa sustain dengan kekuatan diri kita sendiri untuk tekun sampai akhir. Ketika dalam keadaan lancar, kita mungkin bisa confident mengatakan kita bisa setia sampai akhir; tetapi pada waktu tekanan dan kesulitan begitu berat, pada waktu nyawa menjadi ancaman untuk mempertahankan iman, betapa tidak mudah kita bertahan sampai akhir, bukan? Pada malam hari sebelum Yesus ditangkap, Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea. ” Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Kata Petrus kepada-Nya: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Semua murid yang lainpun berkata demikian juga (Matius 26:30-35).
Dalam Lukas 22:31-34 Yesus berkata kepada Petrus: “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” Tetapi Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”
Yesus sudah mengingatkan Petrus, sebelum ayam berkokok, Petrus sudah menyangkal Dia tiga kali. Lukas 22:55-62 mencatat: Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka. Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya lalu berkata: “Juga orang ini bersama-sama dengan Dia.” Tetapi Petrus menyangkal, katanya: “Bukan, aku tidak kenal Dia!” Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: “Engkau juga seorang dari mereka!” Tetapi Petrus berkata: “Bukan, aku tidak!” Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: “Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea.” Tetapi Petrus berkata: “Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.” Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.
Apa arti Intercessor? Berarti Yesus menjadi Pengantara yang berdoa bagi kita. Ini yang Yesus katakan kepada Petrus, “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”
Dalam Keluaran 17:8-13 ada satu hal yang menarik dimana Musa menjadi intercessor. “Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim. Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.” Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit. Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.” Ini satu kisah yang unik sekali yang memberitahukan kepada kita apa artinya menjadi seorang pendoa syafaat. Dalam kisah ini peperangan itu dari pagi sampai malam, dan sementara Yosua berperang, Musa berdoa syafaat kepada Allah dengan tangan yang terangkat. Karena perang itu berjam-jam lamanya, Harun dan Hur mengambil sebuah batu supaya Musa bisa berdoa sambil duduk. Tetapi kemudian tangannya juga lemah dan tidak bisa diangkat lagi, sehingga Harun dan Hur harus menopang tangan Musa sampai perang selesai.
Satu sukacita bagi kita mengetahui dalam kelemahan kita, Yesus Kristus berdoa syafaat bagi kita, menguatkan dan menopang kita. Hanya Dialah yang sanggup dengan tekun menyelesaikan sampai akhir. Kita mudah sekali terombang-ambing dalam mengikut Tuhan. Kita seperti berada di atas kapal tidak kemana-mana. Kita mudah lupa, kita lemah dan tidak konsisten. Sehingga dalam perjalanan kita ikut Tuhan, Yesus menjadi Pendoa Syafaat, namun tidak berarti Alkitab mengabaikan perintah Allah supaya kita hidup kudus, kita melawan dosa, kita meninggalkan dosa, kita berjuang untuk bisa mengalahkan pencobaan dalam hidup kita melalui ketekunan kita sampai akhir. Itulah menjadi bukti bahwa kita itu milik Tuhan selama-lamanya. Tetapi pada saat yang sama di situ kita tahu kekuatan itu bukan datang dari diri kita sendiri namun kita boleh secure, tenang dan aman karena kita memiliki Yesus Kristus yang senantiasa berdoa syafaat bagi kita.
Dalam Yohanes 6:37 Yesus berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, Ia tidak akan Kubuang.” Semua orang yang datang kepada Kristus tidak akan ditolakNya. Ia adalah Tuhan yang setia mengasihi dan memelihara setiap kita yang telah diberikan oleh Bapa kepadaNya. Yesus tahu apa yang menjadi kelemahan dan pergumulan kita. Kita mau tekun ikut Tuhan, kita punya keinginan untuk setia berjalan menjadi anak-anak Tuhan, tetapi di dalam perjalanan itu kita seringkali tersandung dan kita kemudian menjadi sedih dan kecewa. Dan pada waktu kita berada dalam kondisi seperti itu bisa jadi kita mungkin akan mendengarkan suara tuduhan yang paling besar itu muncul dari musuh kita yang paling utama yaitu Setan yang menjadi penuduh kita di hadapan Allah. Di sinilah kita menemukan peran Yesus yang ke tiga, Iamenjadi Pembela yang berada di samping kita dan menjadi Pembela kita sampai pada akhirnya.
Yohanes 13:1 menjadi satu ayat yang selalu menguatkan saya, “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” Jesus knew that the hour had come for Him to leave this world and go to the Father. Having loved His own who were in the world, He loved them to the end. Itu adalah malam terakhir, malam dimana Yesus makan Paskah dengan murid-muridNya. Hanya tinggal beberapa waktu lagi Ia akan menyelesaikan pelayananNya di atas muka bumi ini. Yohanes mencatat satu kalimat yang begitu indah: Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. He loved them to the end. KasihNya tidak selesai hanya pada waktu Dia berada di dunia ini, tetapi kasihNya adalah kasih yang kekal adanya. Ingatkan konteks pada waktu itu adalah malam Yesus tahu salah satu murid yaitu Yudas Iskariot akan menjual dan menyerahkan Yesus kepada pemimpin-pemimpin agama. Maka kita bisa membayangkan betapa besar kesedihan dan sorrow di hatiNya. Malam itu adalah malam yang semua murid akan lari meninggalkan Dia. Malam itu adalah malam dimana Petrus akan menyangkal Dia. Namun malam itu, Yesus mencuci dan menyeka kaki murid-murid dan Ia masih memberikan kesempatan yang terakhir dan kasihNya kepada Yudas Iskariot dan mencuci kakinya juga.
Pada waktu engkau tidak setia dan engkau berjalan menyimpang, ingat baik-baik, Setan sudah berdiri di sampingmu, kalau engkau tidak berbalik, dia akan menelan engkau. Engkau bisa mengkhianati dan menyangkal Aku, tetapi Aku tidak akan meninggalkan engkau dan berdoa bagimu. Di situlah kita memahami apa yang dikatakan oleh Yohanes, Yesus mengasihi kita sampai kepada kesudahannya. Betapa indah kita memiliki Kristus sebagai Pembela kita. Nanti pada waktu kita berjumpa dengan Tuhan dan pada waktu kita berdiri di depan tahta pengadilan Allah, Yesus Kristus akan menjadi Pembela kita yang akan mendampingi dan berdiri di sisi kita.
Paulus memberikan beberapa kalimat retorika yang luar biasa dalam Roma 8:33-34, “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” Siapa yang akan menuduh orang-orang yang sudah ditebus oleh Yesus Kristus? Allah Bapa yang sudah membenarkan mereka? Mana mungkin? Yesus Kristus, yang sudah mati dan bangkit dan malah menjadi Pembela kita? Tidak mungkin! Yesus akan pelihara untuk selama-lamanya. Satu-satunya yang menggugat kita dan akan menjadi penuduh kita adalah Setan yang akan membongkar segala dosa dan kesalahan kita. Di situ kita hanya bisa menunduk dan tidak bisa membela diri dari tuduhannya. Kita tidak bisa membenarkan diri dan membangun self-justification, tidak kuat argumentasi kita melawan penuduh kita. Di situ kita hanya menunduk dan berkata, “Lord, I am a sinner. Forgive me” dan menanti Pembela kita akan membela kita. Ketika Allah yang mencari kebenaran itu, Ia melihat kebenaran kita di dalam diri Yesus Kristus. Seolah-olah di situ Ia berdiri di antara Bapa dan kita, dan Ia akan berkata kepada Bapa, “Aku sudah menjadi Pembela dia. Aku telah menebus dan mengangkat semua dosanya. Dia adalah orang berdosa yang telah dibenarkan.”
Mari kita selalu datang kepada Dia dengan hati yang penuh dengan pengakuan dan confession. Kita tidak membela diri di hadapan Allah karena memang tidak ada apapun dalam diri kita yang patut menjadi sumber dasar pembenaran itu. Pembenaran kita satu-satunya adalah kita mendapatkan Kristus Tuhan sebagai Juruselamat kita. Ketika kita menjadi anakNya, dosa kita telah Dia ampuni; sekarang, Ia menjadi Pendoa syafaat bagimu supaya imanmu terpelihara terus sampai akhir; dan kelak pada waktu kita berdiri di hadapan Allah, Ia akan menjadi Pembela yang akan menggenapkan keselamatan itu bagi kita; Ia menjadi Pembela kita dari tuduhan dosa dan kejahatan kita. Itulah Yesus Kristus bagi engkau dan saya. Jikalau engkau datang kepadaNya, dengarkan kalimat yang Ia sendiri katakan: barangsiapa yang datang kepadaKu, Aku tidak akan pernah membuangnya. Itulah arti keselamatan kita. Ditinjau dari kekuatan kita, kita hanya bisa bilang: Tuhan, saya sendiri kadang-kadang ragu apakah saya bisa setia sampai akhir. Tetapi dilihat dari kekuatan Kristus yang tetap memegang dan menopang tangan kita, Ia tidak akan pernah membuang kita. Ia terus-menerus memimpin kita sampai selesai dan bertemu dengan Dia karena keselamatanNya itu aman, teguh dan secure bagaikan sebuah jangkar yang kokoh di dalam hidup kita. Kiranya kita ingin menjalani hidup kita dengan kebebasan, kekuatan, kelegaan dan sukacita bahwa kita milik Tuhan selama-lamanya. Kiranya Tuhan menuntun dan memimpin langkah kita supaya kita setia seturut dengan kesetiaan Kristus kepada kita sampai pada akhirnya kita memuliakan Allah selama-lamanya.(kz)