Berapa Besar Ukuran Kasihmu?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Post-Easter Events [2]
Tema: Berapa Besar Ukuran Kasihmu?
Nats: Yohanes 21:1-23

Dalam seri khotbah Post-Easter Events ke dua ini kita melihat peristiwa yang ditulis oleh Yohanes dalam Injilnya, kisah yang sangat unik dan hanya dicatat oleh Yohanes. Kita tahu ketika Yohanes mencatat Injilnya, dia tidak menuliskan banyak peristiwa secara mendetail seperti Injil Sinoptik Matius, Markus dan Lukas. Itu adalah pengakuan Yohanes sendiri, ada banyak yang Yesus kerjakan tetapi dia tidak catat semua. “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yohanes 21:25). Yohanes hanya mengambil beberapa peristiwa dengan tujuan seperti yang dia tulis di sini: these are written that you may believe that Jesus is the Messiah, the Son of God, and that by believing you may have life in His name. “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yohanes 20:30-31).
Dari bagian Yohanes 21 ini ada beberapa hal yang begitu personal dan begitu indah mengungkapkan bagaimana Yesus mengasihi, merawat dan menyembuhkan hati murid-murid yang sudah down, yang lemah dan tercerai-berai seperti domba-domba yang tidak bergembala. Ada kegagalan, ketakutan, frustrasi, depresi, tidak tahu apa lagi yang harus mereka kerjakan di depan. Sekalipun mereka mendengar berita kebangkitan Yesus dan melihat penampakanNya saat mereka sedang bersembunyi di Yerusalem, semua itu belum merubah hati mereka sepenuhnya. Di ayat 2 kita bisa melihat hanya beberapa murid saja yang kumpul sama-sama waktu itu. Yohanes menyebutkan ada Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain, hanya tujuh dari sebelas orang, dan kita bisa merasakan ada sense of loss, ada perasaan kekosongan dan kebingungan ‘what should we do next?’ Sama kira-kira kondisi dan keadaan gereja hari ini yang dilanda oleh pandemi Covid-19, anak-anak Tuhan tercerai-berai, tidak bisa beribadah dan berkumpul lagi seperti sebelumnya. Ada ketakutan dan juga depresi yang besar di antara hamba-hamba Tuhan dalam pelayanan. Ada perasaan fatigue dan lelah. We need connections, we need to regain our fellowship, perkumpulan kita, supaya kita boleh menjadi sebuah gereja dan komunitas anak-anak Tuhan yang melayani dunia ini. Namun untuk memanggil orang kembali, untuk coba mengumpulkan, itu merupakan hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Maka hari ini saya rindu firman Tuhan ini juga boleh menjadi berita yang relevan yang mendorong dan menguatkan hati kita kembali.
Di dalam Yohanes 21:3-13 ada beberapa pelajaran yang penting dalam pelayanan bagi Tuhan. Pertama, bagian ini sedang bicara mengenai Yesus Kristus yang begitu baik, yang memelihara dan memberkati serta mencukupkan kebutuhan. Di sini kita bisa melihat apa yang Yesus lakukan bukan sekedar mencukupkan kebutuhan personal dan individual murid-murid, tetapi ini adalah para rasul yang kita harus lihat mereka adalah yang menjadi fondasi daripada gereja. Dan peristiwa ini adalah satu peristiwa yang mencerminkan pemeliharaan Allah kepada pekerjaan dan pelayanan gereja Tuhan. Sekalipun murid-murid yang cuma berapa gelintir seperti biji sesawi yang begitu kecil, kerajaan Allah itu semakin membesar dan meluas (Lukas 13:18-19).] Bagaimana bisa orang-orang yang terhilang, orang-orang yang tidak percaya, mereka yang menjadi musuh Allah, mereka yang tidak mengenal Yesus Kristus dan berbalik hatinya dan bisa percaya Yesus? Ini adalah tugas yang luar biasa besar yang hampir mustahil dilakukan.
Peristiwa yang ditulis di sini sangat mirip dengan peristiwa pada waktu Yesus pertama kali memanggil mereka untuk ikut Dia. Lukas 5:1-11 menceritakan Simon Petrus sudah sepanjang malam mencari ikan, tidak ada satu ekorpun dia dapat. Kemudian Yesus menyuruh dia menebarkan jala dan jala itu penuh dengan ikan, sampai jala itu koyak. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Kata Yesus kepadanya: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah Simon dan teman-temannya meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Yohanes 21:1-14 pun mencatat semalam-malaman murid-murid pergi menjala ikan dan mereka tidak mendapatkan satu ekor ikan pun. Yesus menyuruh mereka menebarkanlah jala dan begitu banyak ikan yang mereka dapat.
Semalam-malaman menebar jala mewakilkan bagaimana panggilan Tuhan kepada gereja dan pelayanan untuk melakukan penginjilan, membawa orang yang ada di luar, mereka yang belum mengenal Kristus. Itu adalah satu pekerjaan yang dilakukan dengan keras; itu adalah satu pekerjaan yang melewati badai dan topan dan sesuatu hal yang kita tidak tahu apakah ada hasil daripadanya. Sebagai gereja Tuhan kita harus menyadari dan ingat bahwa kita dipanggil Tuhan bukan untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan kita saja tetapi kita dipanggil oleh Tuhan kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Benar, ini adalah pekerjaan yang berat, sesuatu yang begitu besar dan begitu berat dan susah. Apakah ada hasil yang langsung bisa kelihatan? Kadang-kadang tidak. Ada misionari, ada orang yang menginjili perlu waktu yang panjang dan lama dan kadang-kadang tidak ada hasil, bagaimana kita berespon dan bersikap di situ? Saya percaya kita ingin dan rindu mengerjakan dan melakukan itu. Kita berdoa, kita melakukan penginjilan pribadi kepada beberapa orang yang belum percaya, memperkenalkan Yesus Kristus. Sudah beberapa waktu, belum terlihat hasilnya; masih belum tentu dia mau terima dan percaya. Lalu kemudian apakah engkau akan menyerah? Pelayanan kita bukan pelayanan yang membuat orang menjadi lebih banyak memenuhi kursi-kursi gereja dan menjadikan itu sebagai standar sebuah pelayanan yang berhasil.
Kita sering jatuh kepada hal ini, bukan? Kita gelisah ketika tidak ada hasil? Apakah strateginya salah?
Lalu coba ganti strategi; programnya mungkin kurang menarik, lalu kemudian kita kutak-katik di situ. Kita harus ingat, Simon dan teman-temannya bukan tidak mahir soal menjala ikan. Jelas sekali mereka ini adalah orang-orang yang paling tahu bagaimana caranya. Mereka adalah orang-orang yang profesional, mata pencarian mereka menangkap ikan. Namun semalam-malaman mereka bekerja tidak ada hasil; tidak ada seekor ikan pun mereka dapat. Kegagalan demi kegagalan jelas dialami oleh Petrus dan murid-murid yang lain. Tetapi saat itu menjadi saat yang penting untuk mereka bisa melihat bagaimana melalui pertolongan dan kekuatan Tuhan, di situ Tuhan cukupkan, Tuhan provide kepada mereka. Hal ke dua yang kita bisa lihat di situ betapa indah Tuhan kita Yesus Kristus menyediakan roti dan ikan buat mereka lalu makan sama-sama di situ sebagai satu fellowship indah dimana Tuhan menunjukkan kasihNya dan memberikan kekuatan kepada mereka. Mereka sudah menyangkal Yesus, mereka begitu malu, mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan. Dan hari itu Tuhan memberikan pelajaran yang penting. Di dalam pekerjaan Tuhan menjala manusia, sekalipun pekerjaan itu berat dan susah, dan bisa jadi tidak ada hasilnya, itu tidak membuat mereka putus asa dan kecewa. Kita bersyukur kita punya Tuhan yang baik dan murah hati, yang menyediakan dan memberikan kepada kita seturut dengan kelimpahan anugerahNya.
Bagian ke dua yang Yohanes tulis adalah percakapan pribadi Petrus dengan Tuhan Yesus. Di situ Yesus membawa Petrus kembali kepada fokus apa yang paling penting dalam hidupnya, bukan kepada pekerjaannya, bukan kepada pelayanannya yang paling penting, bukan kepada apa yang dia akan alami, tetapi bicara bagaimana relasinya dengan Tuhan. “Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku” (Yohanes 21:15-19).
Percakapan pribadi ini dilakukan waktu selesai makan siang di tepi danau, di hadapan api pembakaran ikan itu, kontras pada malam Yesus ditangkap dan dibawa ke rumah imam besar, Petrus mengikuti dari jauh dan duduk di depan api pembakaran bersama pembantu-pembantu di halaman rumah imam besar itu. Yohanes mencatat seorang pembantu perempuan yang bekerja di rumah itu melihat dan mengenali Petrus. Dia berkata kepada Petrus: “Bukankah engkau juga murid orang itu?” Jawab Petrus: “Bukan.” Lalu ada orang-orang di situ yang juga bertanya kepadanya: “Bukankah engkau juga seorang murid-Nya?” Ia menyangkalnya, katanya: “Bukan.” Kemudian seorang lagi hamba Imam Besar, seorang keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus: “Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Dia?” Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam (Yohanes 18:25-27). Di sekitar perapian yang hangat, malam itu bukan tempat mereka menikmati kasih dan kebaikan Tuhan tetapi itu adalah malam dimana Petrus menyangkal Yesus.
Sebagai seorang murid Yesus yang paling dekat, yang mengikut Yesus selama tiga tahun setengah, tidak kita ragukan pengetahuan dia tentang Yesus. Petrus pernah berkata, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” kepada Yesus. Kita yang sekarang ikut Tuhan, kita pun tidak kekurangan pengetahuan tentang Yesus. Kita tahu siapa Dia, kita mengerti khotbah yang disampaikan tentang Yesus, itu bicara mengenai knowledge. Tetapi berapa banyak yang kita dengar dari firman Tuhan, berapa banyak yang kita tahu, membawa hati kita untuk mencintai Dia? Paulus pernah berkata: Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (1 Korintus 13:1-3). Sekalipun kita memiliki pengetahuan yang begitu banyak, tetapi jika kita tidak mempunyai kasih, semua itu tidak ada gunanya. Itulah sebabnya Yesus tidak berkata: kenallah Tuhan dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budi dan kekuatanmu. Tetapi Ia bicara mengenai: kasihilah Tuhan, Allahmu. Berapa banyak orang yang mempunyai doktrin yang baik, memiliki teologi yang benar, tetapi tidak memiliki kecintaan dan kasih yang dalam kepada Tuhan? Malah justru pengetahuannya yang banyak itu mematikan hatinya dan menciptakan pembenaran diri dan dengan mudah menghakimi ini salah, itu tidak benar, dan menjadi orang yang paling judgmental dan paling banyak kritik di dalam pelayanan dan pekerjaan Tuhan tetapi tidak membuat dia mengasihi Tuhan lebih dalam. “Apakah engkau mengasihi Aku?” ini bukan pertanyaan sentimentil tetapi ini soal bagaimana pengenalan, pengetahuan kita yang benar itu ditaruh di dalam prioritas yang paling penting dan tertinggi dalam hidup kita. “Saya melayani Tuhan, sebab saya mengasihi Tuhan.” Kita bukan melayani Tuhan supaya kita dikasihi Tuhan; kita bukan melayani Tuhan supaya dikenal orang; kita bukan melayani dengan sekuat tenaga supaya kita dihargai dan dihormati orang. Kita melakukan ini semua karena kita mengasihi Tuhan.
Menarik dalam bagian ini ketika Tuhan menanyakan “apakah engkau mengasihi Aku,” Petrus tidak berani menjawab: Yes, I love You, Lord! dengan tegas dan penuh confident seperti sebelum-sebelumnya. Dia hanya mengatakan, “Engkau tahu, Tuhan, bahwa aku mengasihi Engkau.” Seolah di situ Petrus ingin mengingatkan Yesus, ‘Engkau tahu, Engkau lihat, aku sudah meninggalkan segala sesuatu, hidupku, keluargaku, pekerjaanku. Itu semua menjadi buki kasihku.’ Tetapi Yesus bertanya lagi, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Yesus tidak berkata, “Ikutlah Aku, pikul salib, menyangkal diri.” Di situ Yesus menaruh hal yang penting kepada Petrus, apa yang menjadi proritas yang paling penting dan yang tertinggi dalam hidupmu? Simple dan gampang, bukan? Kita bisa tanyakan itu dalam hidup kita sehari-hari, apa yang menjadi prioritas paling utama dalam hidup ini? Adakah kita memiliki satu kesadaran yang penting untuk mengasihi Tuhan sebagai prioritas utamaku?
Dari “shema” orang Israel, firman Tuhan berkata: Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu (Ulangan 6:4-9). Inilah panggilan yang kemudian Yesus gemakan kepada Petrus dan kepada setiap kita. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita tahu Ia menjadi prioritas utama dalam hidup kita. Kita rindu dan mendoakan anak-anakku yang paling terpenting bukan supaya hidup mereka sukses atau supaya mereka bisa masuk sekolah yang terbaik dan dapat pekerjaan dan karir yang baik, dsb. Tetapi kita mau selama mereka masih tinggal bersamaku, mereka mengenal Tuhan dan percaya Yesus. Itulah sebabnya prioritas itu menyebabkan kita bangun pagi, kita mendoakan itu; kita bangun pagi, kita memikirkan itu. Tuhan, aku mau ini prioritas hidupku supaya saya menjadi berkat dan saksi yang indah di tengah keluargaku dan gerejaku.
Setelah dialog ini terjadi, Petrus mengikuti Yesus dan Yesus sendiri mengatakan ini: “Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku” (Yohanes 21:15-19). Kemudian Yohanes 21:20-23 melanjutkan hal yang menarik: Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?” Jawab Yesus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku. ” Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus, bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan: “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.” It’s none of your business.
Yesus memanggil setiap kita sama rata: Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Di situ panggilan kita sama-sama adalah menjadikan Tuhan prioritas utama hidup kita. Sesudah itu, yang ke dua, masing-masing kita, bagaimana relasi kita dengan Tuhan unik dan berbeda. Tuhan panggil kita hanya fokus kepada Dia, hanya lihat kepada Dia. Jangan melihat kepada apa yang ada di sekitarmu dan jangan membandingkan diri dengan orang lain. Yang Tuhan mau bagimu, yang Tuhan kerjakan bagimu adalah indah dan unik bagimu. Pertanyaan Petrus bagaimana rencana Tuhan buat Yohanes, itu adalah komparasi. Orang sering tergoda membanding-bandingkan hidupnya dengan hidup orang lain; apa yang dia dapat, apa yang akan terjadi dengan dia, nanti di tengah jalan dia seperti apa, dsb. Kita jangan merasa kita lebih cinta Tuhan karena kita membandingkan dengan orang lain. Bawa ukuran cintamu kepada Tuhan dengan membandingkan bagaimana cinta Tuhan kepadamu. Karena jika kita membandingkannya dengan orang lain, kita merasa sudah lebih mencintai Tuhan daripada orang lain lalu kita merasa kita punya entitlement [berhak]; atau karena kita membandingkan dengan orang lain, lalu kita menjadi iri kenapa Tuhan melakukan hal yang spesial kepada orang lain dan memberikan perlakuan khusus kepada dia. Tidak. Bandingkan kasihmu dengan kasih yang Tuhan nyatakan kepadamu, Tuhan telah mati dan bangkit untuk menebus engkau dan saya; Ia telah membayar lunas segala dosa-dosa kita, bahkan di tengah kita pernah mengecewakan Dia, Dia masih terus mengasihi kita dan memanggil kita untuk mengikut Dia dan mengasihi Dia lebih daripada semua yang ada padamu. Kiranya Tuhan pimpin setiap kita pada hari ini ada kerinduan untuk terus mengasihi dan mencintai Tuhan sampai akhir hidup kita.(kz)