The Second Touch of Jesus

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Life Lessons from Jesus [8]
Tema: The Second Touch of Jesus
Nats: Markus 8:22-26, 14-21, 27-33

Markus 8:22-26 mencatat satu peristiwa mujizat yang sangat unik dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada seorang buta di satu kampung nelayan kecil di Betsaida, tempat asal Petrus, Andreas dan Filipus. Sangat unik karena Yesus tidak mengerjakan dan melakukan kesembuhan yang segera kepada orang itu tetapi melewati dua tahap. Jelas Yesus berkuasa dan sanggup melakukan mujizatNya seketika itu juga, segera dan langsung orang itu sembuh. Jadi kenapa Yesus perlu melakukan dua tahap penyembuhan bagi orang buta ini? Karena Yesus ingin mengajarkan makna yang lebih dalam daripada sekedar kesembuhan fisik mata orang buta bisa melihat tetapi Yesus ingin membereskan kebutaan mata rohani di tengah murid-muridNya; satu kondisi kerohanian dimana mereka melihat namun tidak melihat dengan jelas; mereka mendengar tetapi tidak menyimak dengan sungguh-sungguh. Ini adalah sebuah kondisi kebutaan rohani dimana kita dikatakan sebagai orang yang mengikuti Yesus, orang yang percaya Tuhan, namun tidak benar-benar mengenal dan tidak sungguh-sungguh menjadi muridNya. Itulah sebabnya hari ini kita mau belajar dari bagian ini tentang “The Second Touch of Jesus,” karena ini adalah hal yang sangat kita butuhkan sepanjang perjalanan kita ikut Tuhan, bahkan tidak berhenti kepada sentuhan yang ke dua, kita perlu sentuhan yang ke tiga, ke empat supaya kita boleh melihat dengan jelas, memahami dengan nyata bagaimana hidup sebagai murid Tuhan Yesus yang otentik.

Markus menceritakan pada waktu Yesus dan murid-muridNya tiba di sebuah kampung di Betsaida, ada seorang buta yang dibawa orang kepada Yesus dan mereka memohon kepada Yesus untuk menjamah dan menyembuhkan dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Yesus tidak melakukan penyembuhan itu di tengah-tengah keramaian orang banyak. Kenapa? Karena Yesus tidak mau memakai penyembuhan itu untuk menjadi daya tarik dan sensasi yang membuat orang banyak mengikuti Dia hanya karena melihat mujizat terjadi. Yesus menuntun orang buta ini keluar dari kampung. Ini adalah satu hal yang sangat menyentuh hati ketika saya membayangkan kalau saya menjadi orang buta yang dituntun oleh Tuhan Yesus pada waktu itu. Dalam perjalanan keluar dari kampung itu, di tengah perjalanan itu Yesus tidak diam membisu. Yesus bercakap-cakap dengan orang buta itu. Dan sepanjang perjalanan itu penuh keluar kebenaran firman Tuhan dari mulutNya. Sekalipun dalam kebutaannya dia tidak terlalu kenal Yesus, tetapi dia ikut terus. Sambil berjalan, dia penuh dengan pengharapan untuk disembuhkan.

Sampai di satu tempat, Yesus kemudian meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya. Ini adalah hal yang unik luar biasa. Jelas Yesus sanggup menyembuhkan orang buta ini hanya dengan perkataanNya, “Celiklah matamu. Melihatlah engkau!” Tetapi Yesus mendekati wajah orang itu dan meludahi matanya. Jelas Yesus meludah bukan melakukan penghinaan kepada orang ini. Tetapi sekalipun ludah mungkin hal yang hina menurut kita, ludah yang keluar dari mulut Yesus justru adalah hal yang agung dan mulia yang sanggup menyembuhkan. Itu mendatangkan perasaan rendah kita di hadapan Tuhan.

Tahap pertama ini adalah satu tahap yang penting, tahap yang merubah orang yang buta menjadi melihat. Itu adalah satu perpindahan yang tidak mungkin bisa kita kerjakan oleh diri kita sendiri, dari keadaan yang tidak berdaya menjadi seseorang yang mengalami satu transformasi dan itu hanya bisa terjadi ketika Roh Allah datang menyentuh hidup kita. Itu yang kita katakan sebagai satu kelahiran baru, satu pertobatan dan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Di situ kita telah mengalami the first touch, sentuhan pertama dari Yesus Kristus di dalam hidup kita, yang merubah kita dari orang yang sebelumnya tidak percaya menjadi orang yang percaya.

Lalu Yesus bertanya: “Sudahkah kaulihat sesuatu?” Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: “Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” Kondisi orang ini tidak lagi buta; dia sudah bisa melihat, tetapi ada sesuatu yang agak sedikit kurang jelas, dia melihat dengan samar-samar. Ini adalah sebuah kondisi yang perlu kita perhatikan baik-baik. Yesus ingin mengajarkan satu hal: mau dibilang dia masih buta, sudah tentu tidak; dia sudah melihat. Tetapi apakah dia sudah sungguh-sungguh melihat? Dia mengakui dengan jujur: Belum. Tidak buta, tetapi tidak bisa melihat jelas, masih samar-samar. Maka Tuhan Yesus sekali lagi menyentuh mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Hari itu dia mau ikut Tuhan tetapi Yesus bilang, pulanglah ke rumahmu tetapi jangan masuk ke kampung. Jangan sampai berita kesembuhanmu menjadi satu berita yang sensasional bagi orang. Yang paling penting dari mujizat kesembuhan ini Yesus mau orang ini mengalami mujizat rohani dari Tuhan, bukan mujizat secara fisik saja.

Tidak buta, tetapi tidak melihat dengan jelas. Itu adalah sebuah kondisi yang terjadi pada diri murid-murid Yesus pada waktu itu, sesuatu kondisi dimana mereka telah berpindah dari gelap kepada terang; Allah telah menjadikan mereka sebagai orang yang percaya kepadaNya. Tetapi pada saat yang sama, sekalipun mereka telah menjadi murid Yesus namun mereka tidak menunjukkan murid seperti apa yang seharusnya walaupun mereka sudah berjalan bersama dengan Yesus; ada sesuatu yang hilang di situ. Kenapa saya mengatakan demikian? Ada dua hal yang saya ingin perlihatkan dari bagian ini, ada peristiwa yang terjadi sebelumnya dan ada peristiwa yang terjadi sesudah penyembuhan orang buta ini ditulis oleh Markus.

Yang pertama dalam Markus 8:14-21 ada satu peristiwa dimana murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.” Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.” “Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul.” Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?” (Markus 8:14-21). Murid-murid lupa membawa roti dan hanya ada satu roti di perahu itu. Akhirnya sepanjang perjalanan di atas perahu itu mereka ribut dan saling menyalahkan satu sama lain. Di atas perahu itu penuh dengan gerutu, penuh dengan kekesalan dan kemarahan, suasana yang tidak enak dan tidak menyenangkan di situ. Pada waktu Yesus bilang, “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes” mereka merasa tidak senang. Mungkin mereka merasa Yesus menyindir dan menegur mereka dengan kalimat itu padahal Yesus mengajak mereka melihat bukan soal tidak ada roti tetapi ada soal yang lebih dalam lagi adalah sesuatu yang tidak kelihatan: ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Yesus sedang berbicara mengenai hal rohani, sesuatu yang lebih penting, Dia sedang mengingatkan murid-murid, menjadi pengikut Kristus engkau akan menghadapi dua serangan yang tidak ada habis-habisnya. Ada serangan dari Herodes, serangan dari orang membenci Kekristenan dan yang menggunakan kuasa politik untuk menghancurkan dan melakukan penganiayaan, yang tidak akan henti-henti melakukan segala cara merusak pekerjaan Tuhan. Itu adalah tantangan yang setiap murid Tuhan harus waspada dan perhatikan. Yang ke dua, ada tantangan dari dalam, ragi orang Farisi, satu kehidupan yang penuh dengan kemunafikan dalam kerohanian yang sanggup bisa merongrong kehidupan gereja dan juga menghalangi kesaksian iman kita sebagai murid-murid Tuhan. Persoalannya murid-murid tidak melihat itu. Yang mereka ributkan adalah persoalan roti, soal makanan, soal kebutuhan fisik. Mereka hanya berputar kepada persoalan mereka, kepada kebutuhan fisik mereka. Yesus mengajak mereka berputar kepada persoalan rohani yang lebih penting,persoalan daripada kerajaan Allah, persoalan mengenai pekerjaan Tuhan. Itulah sebabnya Yesus menegur murid-murid dengan sangat keras, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?” Yesus tidak membuat satu roti yang ada di perahu itu menjadi banyak dan cukup bagi kebutuhan mereka. Tidak apa kekurangan makan sementara. Lapar sedikit tidak apa. Yesus tidak langsung merubah situasi itu tetapi Yesus memberikan teguran kepada mereka: Telah degilkah hatimu? Tidakkah engkau ingat? Tidakkah engkau mengerti dan memahaminya?

Ada yang tidak beres dengan kondisi rohani kita jikalau kita menjadikan Tuhan dan Juruselamat kita sekedar menjadi Tuhan yang melulu mengurusi problem dan isu-isu hidup kita. Dan kita menjadi gelisah, kesal, menggerutu dan kehilangan syukur dan sukacita ketika hanya ada “satu potong roti” saja dalam perahu hidup kita, padahal tidak melulu keadaan kita terus seperti itu. Kita lupa fase hidup kita berlimpah sampai berbakul-bakul roti tersisa, tetapi kenapa hanya karena satu roti itu saja telah menghilangkan sukacita dan syukur kita menjadi murid Tuhan? Kiranya setiap kita yang sudah ikut Tuhan, setiap orang yang mengaku diri sebagai orang Kristen sekian lama, mari kita sama-sama melihat apakah kita berada di dalam kondisi seperti itu? Dan mari kita minta kepada Tuhan mencelikkan mata kita sekali lagi supaya bisa melihat dengan jelas. Dalam perjalanan kita ikut Tuhan bukankah telah berkali-kali kita mengalami Allah itu adalah Allah yang penuh kasih dan begitu sabar kepada kita, menuntun kita berjalan. Tetapi Allah mau kita tidak berhenti setengah jalan hanya sampai di dalam level kita percaya, kita terima Dia. Mari kita berjuang untuk mengalami Tuhan dengan penuh dalam hidup ini. Jikalau hidup kita senantiasa berputar dipicu oleh hal-hal yang kecil kemudian itu membuat kita kehilangan sukacita dan damai sejahtera, rasa syukur, puas dan bahagia. Kita mau Tuhan itu senantiasa berputar di sekitar kebutuhan dan persoalan hidup kita tidak ada habis-habisnya. Kita tidak mau melihat hal yang lebih jelas dari Tuhan.

Yang ke dua, setelah peristiwa penyembuhan orang buta ini, Markus mencatat peristiwa dimana Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Kata orang, siapakah Aku ini?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.” Ia bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias!” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia. Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Markus 8:27-33).

Perjalanan kita ikut Tuhan adalah perjalanan iman, we walk by faith, not by sight, demikian kata Paulus dalam 2 Korintus 5:7. Kita belum dengan jelas bisa melihat dengan sempurna 100% akan keindahan siapa Tuhan, melihat dengan jelas karyaNya, melihat dengan jelas penyertaan dan pimpinanNya. Kita baru bisa melihat dengan jelas semua itu pada waktu nanti kita bertemu dengan Tuhan. Dalam 1 Korintus 13:12 Paulus berkata, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” Itu adalah perjalanan pengudusan kita sampai akhir. Dan Paulus berkata selama kita hidup di dalam dunia ini kita melihat samar-samar seperti pada cermin; kita harus ingat jaman dulu kualitas kaca cermin tidak seperti sekarang. Di situ berarti melihat Allah dalam kekekalan jelas berbeda dengan sekarang ini. Tetapi Yesus memberikan kepada kita satu desire, satu pengharapan hanya orang yang hatinya bersih yang bisa melihat Allah (Matius 5:8). Tanpa kekudusan, seorangpun tidak bisa melihat Tuhan (Ibrani 12:14). Kita perlu hati yang suci dan murni di dalam proses perjalanan kita; kita perlu terus minta Tuhan pulihkan dan restorasi kita.

Yang ke dua, kita harus mengakui kita senantiasa mengalami pergumulan ada jurang [gap] dari apa yang kita akui dan kita katakan dengan mulut, dengan apa yang kita nyatakan dengan kelakuan dan pengalaman kita. Gampang dan mudah bagi Petrus berkata kepada Yesus: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Ketika kita ditanya tentang siapa Allah yang kita percaya, kita akan berkata: Ia adalah Allah yang mahakuasa, Allah yang penuh dengan kasih. Kita percaya akan Yesus Kristus; Ia adalah Tuhan dan Juruselamatku. Ia telah mengampuni dosa-dosaku. Ia telah menjadi sauh bagi imanku. Tidak ada yang kuingini di bumi ini selain Tuhan sendiri. Itu adalah pengakuan iman kita. Ketika Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Iman Nicea kita kumandangkan, kita bisa hafal itu semua di luar kepala, bukan? Kita tahu Ia adalah Allah yang memelihara kita tetapi kenapa dalam satu masa saja dalam perjalanan hidup kita, tinggal satu potong roti di atas perahu kita, itu sudah membuat kita kehilangan sukacita dan syukur kepada Tuhan; membuat kita saling mempersalahkan satu sama lain dan semua hal yang indah yang Yesus telah kerjakan dalam hidup kita itu hilang lenyap dari memori kita?

Dan ketika Mesias itu menyatakan kehendak dan rencanaNya yang berbeda dengan konsep Petrus mengenai Mesias, dengan berani dia menegur Yesus Kristus dengan keras. Seolah-olah Petrus ingin mengatakan definisi dia mengenai Mesias itu yang harus Yesus jalankan. Maka itu adalah benturan yang luar biasa sehingga Yesus menegur Petrus dengan lebih keras lagi. “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Markus 8:33). Teguran yang keras, teguran yang mendatangkan pertobatan yang penting dan perlu dalam diri Petrus supaya dia mengerti dengan jelas ketika dia mengaku Yesus adalah Mesias, di situ dia juga harus menaklukkan diri dengan cara Allah bekerja di dalam hidupnya. Tuhan Yesus mau memakai perjalanan salib sebagai cara menderita dengan segala kehinaan supaya Allah dimuliakan, itu adalah cara Tuhan yang sekalipun Petrus tidak mengerti, dia menaklukkan diri.

Kalau kita aplikasikan dalam hidup kita sekarang kita harus mengakui kita mempunyai jurang antara apa yang kita percayai dengan apa yang kita kerjakan dan lakukan dalam hidup ini. Gampang sekali kita terombang-ambing, gelisah hati kita, ketika kita katakan kita percaya Ia Allah yang maha baik, penuh dengan kasih dan rahmat dalam hidupku, tetapi pada waktu kita menjalani hidup kita, kita abai dan lupa sifat Allah seperti itu. Kita mengatakan percaya Allah itu kudus, Allah hadir dimana-mana, Ia tuntun hidup kita, namun yang kita kerjakan dan lakukan adalah kita berjalan menurut tindakan dan konsep pikiran kita dan malah kita memaksa Tuhan untuk mengikuti kita punya agenda. Saya tidak meragukan sdr percaya Allah itu baik dan pelihara hidup kita, Ia tidak pernah meninggalkan kita, apapun yang Ia kerjakan dan lakukan dalam hidupmu itu tepat, baik, dan Ia tidak pernah bersalah di situ. Yang ada dalam hidup kita adalah kita terbatas, kita tidak mengerti, kita belum memahaminya. Kita masih berjalan di dalam prosesnya, kita belajar untuk jangan cepat-cepat ambil kesimpulan. Kita takluk kepada Dia. Dari waktu ke waktu Tuhan perlu buka mata kita, merubah, memperbaharui iman kita, pengikutan kita kepada Dia.

Ijinkan saya pada hari ini mengajak sdr melihat pelajaran yang paling indah yang Yesus mau ajarkan kepada murid-muridNya melalui mujizat ini yaitu kita memerlukan Tuhan untuk terus membukakan dengan jelas siapa Dia di dalam hidup engkau dan saya. Mari kita selidiki baik-baik diri kita masing-masing adakah dua kondisi ini, apakah engkau seperti murid-murid yang sudah mengalami dan melihat begitu banyak hal tetapi terlalu gampang dan mudah sukacita kita hilang dan yang ada sungut-sungut dan gerutu, hanya oleh karena hal-hal yang sepele dan kecil terjadi dalam hidupmu? Yang ke dua, apakah kita pernah berpikir dan menganalisa dengan jelas sungguhkah saya sudah menghidupi dan mengalami apa yang saya percayai? Dan kita kagum, kita mengenal Allah yang berkuasa itu bukan menjadi pelajaran di dalam kelas katekisasi dan kelas pembinaan, jawaban kepada pertanyaan yang diberikan di dalam kelas pelajaran agama, tetapi menjadi sesuatu yang kita imani dan jalani dalam hidup ini. Dan ketika Tuhan mengerjakan sesuatu yang di luar rencana dan agenda kita, ketika Tuhan mengerjakan begitu banyak rencana dan jalannya, yang Tuhan mau itu terjadi dan mungkin sekali berbeda dengan apa yang kita mau dan harapkan, mari kita katakan kepada Tuhan: Tuhan, aku menyerahkan diri dan takluk kepadaMu. Dan saya percaya di situ kita bisa mengalami kepuasan dan the fullness menjadi murid Tuhan. Orang sungguh-sungguh melihat bahwa kita adalah anak Tuhan dan pengikut Tuhan yang betul-betul menjadi wakil Allah di dalam hidup kita. Mungkin hari ini engkau memerlukan sentuhan Yesus yang ke dua itu membuat hidup kita menjadi lebih sungguh, menjadi murid Kristus yang sejati. Minta sama Tuhan pada hari ini dengan rendah hati untuk Dia mencelikkan mata kita, sehingga kita berjalan dengan benar, melihat dengan jernih dan terang ikut Tuhan dalam perjalanan hidupku. Apapun yang aku alami biar kiranya aku bisa mengalami Tuhan dengan sungguh.(kz)