Belajar Takut yang Benar

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Life Lessons from Jesus [6]
Tema: Belajar Takut yang Benar
Nats: Markus 4:35-41

Yesus mengajar murid-muridNya tidak hanya pengajaran di dalam “ruang kelas.” Yesus tidak memberikan pengajaran-pengajaran yang hanya menjadi teori yang didengar oleh telinga mereka tetapi kita boleh menyaksikan bagaimana Yesus memberikan life lessons kepada murid-muridNya melalui pengalaman yang sungguh-sungguh real di dalam hidup mereka menjadi pengajaran yang demikian indah adanya. Markus 4:35-41 mencatat satu peristiwa yang singkat dan pendek dimana Yesus mengajarkan murid-murid satu pelajaran hidup: Belajar Takut yang Benar.

Di dalam setiap tahap perjalanan hidup mulai dari kecil sampai besar kita mengalami perasaan kuatir dan takut itu. Kita bisa melihat ini pada waktu mengantar anak kita masuk TK, ada ketakutan dan kekuatiran saat berpisah dan dia mulai menangis, bukan? Saya percaya orang tua yang mengantar anaknya sekolah di luar negeri juga mengalami hal seperti itu. Mereka juga takut dan kuatir dengan environment yang baru, jauh dari orang tua. Sdr yang masuk ladang pekerjaan untuk pertama kali juga ada perasaan takut; rasa takut gagal, dsb. Demikian juga pasangan yang hendak memasuki pernikahan, ada ketakutan dan kekuatiran. Itu semua adalah ketakutan-ketakutan yang normal. Tetapi terkadang ada ketakutan-ketakutan yang di luar dari normal, yang terkadang tidak logis dan tidak masuk akal. Bahkan semakin dibilang jangan takut, orang itu tambah takut. Dan ketakutan itu menyebabkan dia beku dan kaku, tidak bisa melakukan apa-apa; satu ketakutan yang seolah bisa menelan orang itu hidup-hidup.

Markus 4:35-41 menceritakan satu peristiwa pada waktu murid-murid bersama Yesus berada di tengah danau yang gelap malam hari itu. Mari kita bayangkan waktu itu tidak ada penerangan yang cukup dan mereka hanya punya pelita minyak yang hanya bisa sedikit saja menerangi perahu mereka. Dan malam itu luar biasa gelap pekat tidak ada sinar bulan dan bintang karena tertutup oleh awan tebal, dan tiba-tiba badai dan topan yang sangat dahsyat datang dan tiba-tiba terjadi. Ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Takutlah murid-murid di tengah air mulai masuk memenuhi perahu mereka. Ketakutan ini adalah ketakutan yang dialami oleh orang-orang yang notabene adalah ahli mengendalikan perahu, yang sudah terbiasa bekerja di atas perahu, yang nafkah dan mata pencahariannya mencari ikan di danau itu. Mereka begitu familiar dengan situasi dan suasana danau, sudah hafal tempat-tempat mana yang dalam dan berapa besar ombaknya. Mereka adalah nelayan yang tahu secara topografi danau Galilea dikelilingi oleh gunung-gunung dan bukit yang tinggi, sehingga sudah biasa angin bisa datang dengan tiba-tiba dan dari berbagai arah. Itulah sebabnya badai dan topan seringkali datang dan tidak bisa diprediksi. Jadi kita tidak tahu, mengapa mereka malam itu menjadi sangat ketakutan seperti itu. Ini adalah satu ketakutan yang sangat dahsyat, satu ketakutan yang kita alami pada waktu kita tahu tinggal beberapa saat dan waktu ajal kita datang. Kita tidak bisa kontrol, kita tidak bisa merencanakan, kita tidak bisa berpikir apa lagi yang harus kita lakukan kecuali kita melihat di depan mata; itu adalah ketakutan akan kematian. Itu bisa terjadi ketika kita tiba-tiba mengalami sakit yang mendadak datang di tengah tubuh kita yang sehat. Mungkin bisa disamakan dengan perasaan takut yang kita alami pada waktu pertama kali naik pesawat terbang, ketika tiba-tiba terjadi turbulent dan kapal kita terhempas turun dengan tiba-tiba. Demikian orang-orang yang mengalami kecelakaan di laut memiliki ketakutan yang seperti itu. Perasaan dan pengalaman yang menakutkan, bukan? Karena itu titik pintu kematian ada di depan mata. Kalau sampai murid-murid membangunkan Tuhan Yesus, kita tahu itu adalah situasi yang sangat menakutkan luar biasa. Dan, sebetulnya, buat apa membangunkan “tukang kayu”? Apa yang bisa tukang kayu lakukan untuk menolong mereka di tengah situasi itu? Di tengah topan dan badai, yang mereka perlukan sebenarnya adalah nakhoda yang cakap dan mahir yang bisa mengatasi situasi itu. Apa kontribusi yang Yesus bisa berikan pada waktu itu?

Ada beberapa aspek yang menarik dari teks Markus 4 ini. Pertama, bukankah Tuhan Yesus yang perintahkan kepada murid-murid untuk naik ke perahu dan menyeberang danau malam itu? Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.” Berarti itu inisiatif Yesus, itu keinginan Yesus. Kalau kita terjemahkan secara aplikatif dalam hidup kita, mungkin kita juga berkata: Tuhan, bukankah Engkau yang pimpin saya jalan ini? Saya sudah bawa dalam doa baik-baik dan saya taat menjalankan apa yang Tuhan perintahkan. Kenapa justru di tengah-tengah itu ombak dan badai terjadi? Pada waktu ketakutan menguasai hati kita, kita bisa makin menjadi lebih bereaksi keras pada waktu kita merasa sudah taat kepada Tuhan, kenapa kita mengalami hal ini?

Alkitab mencatat di atas perahu itu Yesus tertidur. Ia telah letih di dalam pelayanan pada hari itu. Wajar Ia jatuh tertidur. Tetapi kita menemukan ada aspek yang lain daripada bagian ini. Di tengah badai dan topan yang menakutkan bagi murid-murid, kita bisa belajar sesuatu dari Kristus, Dia bisa at peace, rest, dan tidur di situ. Murid-murid berseru, “Guru, tidakkah Engkau peduli?” Ini adalah suatu tuduhan yang begitu keras kepada Yesus: Don’t You care? Bukanlah kalimat ini, even though bukan berada dalam situasi yang menakutkan, ketika kita tidak punya jalan keluar, ketika kita mengalami berbagai macam problem dalam hidup kita, bukankah begitu sering kata-kata ini keluar dari mulut kita: Tuhan, tidakkah Engkau peduli? Kalimat yang berkata ‘Tuhan itu jahat, Tuhan itu tidak peduli kepadaku, Tuhan tidak mengasihiku, Tuhan tidak mendengar doaku. Sudah sekian lama kami berseru dan berteriak minta tolong, tetapi Dia diam saja.’ Kita menjadi marah dan mempersalahkan Tuhan; kita menjadi marah, kita mempersalahkan orang lain, kita mempersalahkan situasi, kita mempersalahkan diri, dsb. Dan kita terus bertanya “what if” dan “why me?”

Dalam buku “Maturity” Sinclair Ferguson, ketika bicara mengenai suffering dia mengatakan ketika kita menghadapi penderitaan, [ada dua] pertanyaan yang keluar dari diri kita. Yang pertama kita bertanya “why me?” dan “it is unfair.” Yang ke dua, sekalipun aku tidak tahu mengapa, tetapi tolonglah saya untuk boleh melewatinya. Saya serahkan hidupku kepadamu.

Sesaat kita bisa menghindar dari rasa takut itu adalah ketika kita boleh menaruh objek lain atau orang lain sebagai objek kemarahan kita. Itu adalah reaksi yang wajar dan lumrah terjadi dalam hidup kita tetapi mari kita belajar tidak boleh meletakkan itu secara tidak benar; kita tidak boleh mempersalahkan orang. Ketika ada kecelakaan terjadi, atau ketika ada sakit terjadi di dalam keluarga, hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi, kita bisa tergoda untuk segera mempersalahkan orang lain padahal ada banyak faktor X tetapi akhirnya suami isteri bisa saling mempersalahkan dan akhirnya menciptakan hubungan yang tidak harmonis. Kita bisa menyimpan kesedihan dan kemarahan bahkan mempersalahkan Tuhan. Namun jikalau kita percaya bahwa Tuhan kita in control dalam segala sesuatu maka kita tidak boleh jatuh kepada pertanyaan: what if, karena kita tahu Ia in control.

“Guru, tidakkah Engkau peduli bahwa kami binasa?” Boleh kita lihat, di tengah tuduhan daripada murid-murid merasa Guru tidak peduli, tetap Tuhan itu adalah Tuhan yang baik dan memberikan jawaban yang indah kepada murid-muridNya. Tuhan tidak menunda untuk bertindak. Tuhan tidak membiarkan, menunggu sampai airnya lebih banyak, biar megap-megap. Tidak. Tuhan kita bukan Tuhan yang seperti ini. Yesus bangun dan berdiri, lalu berseru kepada badai dan danau itu, “Diam, tenanglah!” Dan seketika angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

Persoalan mereka selesai. Bukankah seharusnya mereka menjadi lega, bersyukur, tenang dan teduh, mengalami peace dan damai sejahtera, bukan? Tetapi di bagian ini tiba-tiba muncul satu ketakutan yang lain. Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” (Markus 4:41). Takut akan kematian, Yesus selesaikan. Bukankah seharusnya ketakutanmu berhenti selesai di saat berhentinya ombak dan badai itu? Tetapi kenapa justru ketakutan itu semakin menjadi-jadi? Tetapi kali ini, ini adalah satu ketakutan yang benar. Ini adalah satu ketakutan yang seharusnya selalu ada di dalam hati kita. Justru ketakutan inilah yang pasti akan melenyapkan semua ketakutan kita yang lain. Betul, kita takut akan masa depan kita yang tidak pasti dan hari-hari ke depan yang tidak bisa kita genggam. Kita takut untuk ambil keputusan-keputusan dan resiko-resiko yang mungkin bisa terjadi. Takut bagaimana dengan pekerjaan, dengan keluarga dan anak-anak, apa yang akan terjadi dengan anak kita pada waktu mereka berada dalam sakit, dsb. Ada banyak aspek-aspek yang kita pikirkan, bagaimana dengan masa depan mereka, dsb. Belum lagi, saat kita merasa kuat dan sehat, tiba-tiba kemudian kita jatuh sakit dan merasa ada takut ketika kematian itu mulai mendekat kepada hidup kita. Ketika ada ancaman, ketika ada penganiayaan datang, kita bisa takut akan hal-hal itu.

Tetapi ada satu ketakutan yang berbeda yang muncul saat murid-murid melihat Yesus. Alkitab mencatat, sangat takutlah mereka. Ada satu kengerian dan ketakutan yang lain terjadi dan itu adalah sebuah ketakutan berjumpa dengan Allah yang kudus adanya. Sebelumnya mereka tahu selama ini bahwa Yesus bukan orang biasa. Dia bisa menyembuhkan orang sakit, Dia bisa mengusir roh-roh jahat, mungkin Dia seorang nabi yang dipakai oleh Allah. Cara Dia mengajar begitu menarik, begitu berkuasa, Dia memperlakukan orang dengan baik. Tetapi sampai di situ saja. Karena murid-murid tahu, Dia adalah anak tukang kayu, dari bajuNya Dia seorang rabi yang sederhana. Mereka ikut Dia karena orang ini baik, orang ini betul-betul truthful di dalam kalimatNya dan kuasa Allah ada di dalam diri Dia sehingga Dia diberkati di dalam pelayananNya. Banyak orang sembuh, banyak orang percaya, setan pun diusir oleh Dia. Tetapi kali ini mereka tahu, mereka bukan sedang berjumpa dengan orang biasa. Itulah sebabnya mereka berkata satu dengan yang lain: Siapa gerangan orang ini? Orang macam apakah Dia? Bukankah itu sebuah berkat yang tersembunyi, a blessing in disguise, di saat hati kita dipenuhi dengan ketakutan akan kematian namun kematian itu tidak terjadi dan justru melalui pengalaman “brush with death” kita mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat yang agung dan mulia itu. Puji Tuhan! Kadang-kadang kita tidak mengerti ada orang-orang tertentu dengan segala kebanggaan dan kesombongannya, di dalam kejayaan dan kesuksesannya, tiba-tiba mengalami ketakutan akan kematian dan di situ justru Tuhan pakai itu sebagai momen dia berjumpa dengan Tuhan yang sejati.

Dalam dua bukunya, “None Like Him” dan “In His Image,” Jen Wilkins menulis dua puluh sifat dan karakter Tuhan. Sepuluh karakterNya yang incommunicable, yang unik hanya menjadi milik Allah: infinite, incomprehensible, self-existent, self-sufficient, eternal, immutable, omnipresent, omniscient, omnipotent, dan sovereign. Sedangkan sepuluh sifat Allah yang lain adalah sifat-siffat yang communicable, yang Ia mau kita yang dicipta sebagai gambarNya rindu untuk memiliki sifat-sifat itu: holy, loving, good, just, merciful, gracious, faithful, patient, truthful, wise. Kita dipanggil untuk memiliki sifat-sifat yang communicable itu. Tetapi yang terjadi adalah kita manusia yang berdosa selalu tergoda justru ingin memiliki sifat-sifat Allah yang incommunicable. Kita mau menjadi seperti Allah. Kita mau in control dalam segala sesuatu. Kita perlu mawas diri dan bertobat di hadapan Allah dengan hati yang takut. Paulus berkata: ikutilah teladanku, sama seperti aku mengikuti teladan Kristus. Yesus berkata: Hendaklah engkau saling mengasihi, sama seperti Bapamu adalah kasih. Berarti kita dipanggil untuk mengimitasi sifat-sifat Allah yang kasih, kita dipanggil untuk mengimitasi sifat-sifat Allah yang suci dan kudus. Berarti sebenarnya Allah mau engkau sama seperti Allah.

Takut akan Tuhan adalah awal dari bijaksana hidup, demikian Amsal berkata. Dalam Matius 10:18-28 Yesus pernah berkata: “Tidak usah takut kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, orang atau kuasa apapun; takutlah kepada Tuhan. Jangan takut kepada orang yang bisa mencabut nyawamu. Takutlah kepada Dia, yang bisa membinasakan tubuh dan nyawamu di dalam kekekalan.” Perjumpaan murid-murid dengan Tuhan Yesus mendatangkan ketakutan yang luar biasa. Perjumpaan itu menyebabkan mereka sungguh-sungguh sadar, Yesus adalah Tuhan dan mereka adalah ciptaan yang lemah dan terbatas. Itu adalah perjumpaan yang penting luar biasa. Namun yang lebih unik lagi, malam itu di tengah kegelapan yang begitu pekat, badai dan topan tahu itu suara Penciptanya. Ombak pun tahu yang sedang berbicara itu adalah Penciptanya. Yesus menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Bukankah pemazmur berkata: “Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya” (Mazmur 96:11-13). Alam semesta bersorak ketika mendengarkan suara Penciptanya? Mereka segera mengenal dan taat kepada suara Penciptanya. Namun sayang manusia yang juga dicipta Allah, umat tebusanNya tidak mau mendengarkan suaraNya (Yeremia 32:33). Berkali-kali firman Tuhan berkata demikian. Alkitab mencatat, begitu mendengar suara Yesus, angin dan badai itu langsung taat seketika itu juga. Alam ciptaan hanya mendengar satu kali dan itu sudah cukup. Tetapi kontras dengan kita yang terlalu lambat mendengar, telinga kita begitu berat untuk mendengar kalimat Tuhan yang berkata: jangan takut, tenanglah, teduhlah, Akulah Tuhanmu. Berulang kali Tuhan harus berbicara seperti itu. Kadang kita terlalu lambat dan terlalu takut dan kita masih bertanya: apa benar, Tuhan? Kalau kita bertemu dengan Setan, Setan akan selalu mengatakan “lakukanlah ini maka engkau akan seperti Allah.” Namun kalau kita berjumpa dengan Allah yang sungguh, engkau akan menyadari Ia adalah Allah dan engkau hanya ciptaan yang harus takluk dan taat kepadaNya. Pada waktu kita berjumpa dengan Allah kita tahu Ia adalah Pencipta kita, kita hanyalah manusia biasa yang dicipta olehNya, penuh dengan kekurangan dan kelemahan; kita tahu, kita seperti bunga rumput yang ada hari ini dan besok sudah tidak ada lagi. Kita hanyalah manusia biasa. Kekuatan, kekayaan, kebanggaan yang kita miliki tidaklah bisa menjadi tempat kita bersandar dan bisa kita pegang erat-erat. Pada waktu kita berjumpa dengan Tuhan di situlah kita tahu Ia Tuhan dan kita adalah ciptaanNya. Dan jikalau Dia yang atur, Dia yang pegang, Dia adalah Allah yang in control dalam hidup kita, mari kita boleh tenang, kita boleh teduh dan percaya penuh kepadaNya. Kita merendahkan diri, kita tunduk, kita katakan: I believe in You, Lord, I put my trust in You. Kiranya hari ini engkau boleh berjumpa secara pribadi dengan Dia. Perjumpaan itu akan membuat engkau mengalami satu kesadaran Allah kita begitu agung, mulia dan besar. Allah yang transcendent dan separate dengan kita. Di situ hati kita dimurnikan dan dibersihkan. Kita tidak ingin memperalat Allah dan menjadikan Allah melakukan apa yang kita mau.

Dalam Lukas 5:1-11 dikisahkan pada suatu kali Yesus naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan. ” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”

Dalam Kisah Rasul 8:9-23 kita bertemu dengan seorang yang juga bernama Simon yaitu Simon Magus, si tukang sihir. Dalam pelayanan Filipus di Samaria, Simon menjadi percaya dan dibaptis. Dia mengikuti Filipus pelayanan, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi. Ketika Petrus dan Yohanes ke Samaria, Simon menjadi lebih takjub lagi. Simon menawarkan uang kepada mereka untuk bisa mendapatkan kuasa yang sama. Tetapi Petrus berkata kepadanya: “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.” Simon mau kuasa itu, dan dia berani bayar mahal untuk mendapatkannya. Orang ini mau menjadikan Tuhan sebagai alat yang bisa dia pakai untuk memperkaya diri. Maka Simon Petrus menghardik dia, “Binasalah engkau dengan uangmu!” Ketika kita bertemu dengan Tuhan, kita akan melihat kelemahan dan keberdosaan kita. Kita tidak akan meminta mujizat lebih banyak, kita tidak minta kekayaan lebih banyak. Kita tidak mau memperalat Tuhan dalam hidup kita. Di situ kita takluk dan berkata: Tuhan, Engkau maha kuasa. Aku lemah dan terbatas. Engkau yang in control. Aku tidak. Ketika kita mengalami perjumpaan dengan Allah yang maha kuasa, yang besar dan berkuasa itu, yang kita lakukan adalah kita merendahkan diri, kita takluk, kita percaya kepadaNya sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Pada waktu kita berjumpa dengan Tuhan, kita tahu Ia adalah Allah yang penuh kasih, pemurah, pengasih dan penyayang. Kiranya kita belajar seperti Dia yang kita kenal seperti itu. Kita punya rasa takut yang benar; hormat dan respek kepada Tuhan di dalam hidup kita dan itulah awal daripada semua hidup anak-anak Tuhan yang penuh hormat dan bijaksana di hadapan Tuhan.(kz)