Belajar Besar dari Anak Kecil

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Life Lessons from Jesus [7]
Tema: Belajar Besar dari Anak Kecil
Nats: Lukas 9:46-48, 18:15-17

Lukas 9:46-48 mencatat satu bagian yang luar biasa indah dimana Yesus menjadikan anak-anak kecil sebagai model dalam pengajaranNya, saya percaya tindakan Yesus itu pasti akan membekas begitu dalam di dalam benak dan hati murid-murid ketimbang hanya mendengarkan kalimat dan kata-kata yang diucapkan oleh Yesus Kristus. Sebab pelajaran apa yang bisa membekas di dalam hati orang-orang ini ketika mereka sedang ribut berdebat dan berantem soal siapa yang terbesar dan Yesus membawa seorang anak kecil di hadapan mereka? Saya percaya itu adalah kontras yang membuat pikiran kita langsung terbuka jelas mengerti apa yang ingin Yesus katakan kepada kita. Pada waktu Yesus mengajar murid-muridNya, kita bisa melihat pola pelayanan dan pola pemuridan Yesus Kristus itu bersifat modelling memberi contoh konkrit.

Kita perlu ingat, jaman dulu tidak banyak orang yang mengecap pendidikan; jaman dulu tidak banyak orang yang punya gelar; jaman dulu tidak banyak sekolah formal dan universitas; tetapi saya percaya jaman dulu berlimpah orang yang pandai dan bijaksana. Jaman dulu banyak orang tua yang tidak bisa baca tulis, tetapi saya percaya banyak di antara mereka menjadi pendidik yang agung luar biasa. Namun sayangnya, kita selalu punya asumsi bahwa pendidikan itu soal duduk di ruang kelas, pendidikan itu soal mendapatkan gelar yang tinggi, masuk ke sekolah yang elite dan yang terbaik; kita lupa bahwa bahwa pendidikan adalah melalui contoh dan teladan hidup, sebagai satu representasi yang real hidup kita itu menjadi pembelajaran kepada orang lain. Ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi mengajar dengan membuka kelas-kelas dan orang datang ke sinagoge, ke tempat dimana mereka mengajar, tetapi Yesus pergi ke luar, berjalan bersama murid-muridNya, mengajar orang banyak yang mengikuti Dia dengan memakai hidupNya menjadi pendidikan bagi mereka. Yesus berkata, “Ikutlah Aku.” Paulus juga berkata kepada jemaat, “Ikutlah aku, sama seperti aku mengikut Kristus”(1 Korintus 11:1). Kenapa Paulus berani mengatakan supaya orang mengikuti dia, padahal dia hanya seorang manusia biasa? Sebab dia sudah menjadikan Yesus Kristus sebagai model di dalam hidupnya. Maka dari prinsip ini kita melihat poin pertama: model sebagai pola pemuridan Yesus Kristus, modelling as the pattern of discipleship of Jesus Christ.

Lukas 9:46-48 konteksnya adalah murid-murid Yesus berdebat dan bertengkar di antara mereka mengenai siapa yang terbesar. Sebenarnya, apa yang mereka ributkan soal “yang terbesar” di situ? Bagaimana kita mendefinisikan apa itu “agung,” apa itu “besar,” apa itu “sukses”? Bagaimana kita mendefinisikan dengan konkrit kepada anak-anak kita apa itu sebuah pencapaian [achievement]? Bagaimana sdr mendefinisikan dengan konkrit kepada anak-anakmu apa itu hidup yang berguna? Ini adalah satu hal yang praktis dan penting luar biasa. Pada waktu berdialog dengan anak-anakmu bicara mengenai pendidikan, karir dan pekerjaan, soa sukses, berhasil, dsb, siapa yang sdr pakai untuk mewakili kata “sukses, achievement, useful, great”? Mungkin orang-orang kita pilih dan pakai untuk mewakili kata itu adalah Jack Ma, Bill Gates, Steve Jobs, Elon Musk, dsb. Jarang sekali mungkin kita memakai contoh hidup hamba-hamba Tuhan yang setia sampai akhir hidupnya, atau para misionari yang berkorban bahkan mati di dalam pelayanan mereka karena Tuhan, atau memakai contoh seorang janda yang sederhana yang berkorban atau seorang ibu yang sederhana yang bisa membesarkan anaknya sekalipun di tengah kesulitannya. Kenapa kita tidak memakai orang-orang seperti itu sebagai contoh, example dan model dari sebuah hidup yang agung, sementara Yesus bicara mengenai great yang bukan diukur oleh ukuran dunia ini, bukan soal status, kesuksesan, achievenment dan kekayaan secara materi, bukan soal ketenaran, kemenangan dan power seseorang.

Di tengah murid-murid sedang bertengkar membicarakan siapa yang paling hebat daripada yang lain, Yesus memakai seorang anak kecil sebagai model. Yesus berkata, “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Lukas 9:48). Yesus mau mereka melihat dan sungguh-sungguh mengamati dengan teliti apa yang ada dalam hidup mereka dan belajar dengan menjadikan anak sebagai model. Inilah prinsip pemuridan yang Yesus berikan kepada kita sebagai murid-murid Tuhan yang saya rindu sebagai prinsip yang sangat praktis bagi kita menjadi orang tua, menjadikan hidup kita sebagai model bagi anak-anak kita. Perhatikan kehidupanmu sehari-hari, perhatikan bagaimana engkau hidup mengikut Yesus akan menjadi satu dampak yang besar bagi pembentukan iman dan kerohanian anak-anakmu. Anda tidak bisa memalsukan sebuah hidup rohani di depan anak-anak anda; jika demikian, anda pasti akan mewariskan satu kehidupan rohani yang palsu juga kepada mereka. “Ayo ke gereja, ayo ikut Tuhan,” percuma kita teriak-teriak kepada mereka jikalau kita sendiri yang pertama-tama tidak kasih lihat apa artinya hidup ikut Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kita senang kalau anak kita ke gereja, kita senang kalau mereka bisa terlibat aktif dalam pelayanan, tetapi kalau kita sendiri tidak pernah melayani dan tidak pernah menjadi model, bagaimana mereka belajar apa artinya berbakti dan apa artinya melayani? Jangan mempersalahkan youth leaders mereka, jangan mempersalahkan pendeta, jangan mempersalahkan gereja; jikalau kita sendiri tidak menjadi model kepada anak-anak kita. Sedih dan prihatin, jikalau seorang hamba Tuhan melayani Tuhan dengan baik, dengan begitu giat, siang dan malam banting tulang bagi pekerjaan Tuhan, tetapi justru membuat anak-anaknya semakin jauh dan lari dari Tuhan atau bahkan membenci pelayanan. Ada yang salah di dalam cara kita melayani Tuhan. Sedih dan prihatin jikalau seorang ibu yang saking giatnya melayani di gereja akhirnya diceraikan oleh suaminya karena dia mengabaikan dan menelantarkan keluarganya. Jikalau anda giat dalam pelayanan tetapi akhirnya merusak relasi dengan pasanganmu dan dengan anak-anakmu, ada yang salah dengan pelayanan itu.

Jika engkau mau menjadi model yang positif bagi mereka, ceritakan sukacita dalam pelayanan, ceritakan kenapa sdr aktif dalam pelayanan, dsb. Dengan demikian anak-anak sdr akan bisa melihat betapa indahnya kita mencintai dan melayani Tuhan. Sedapat mungkin kita tidak membicarakan kesulitan dan kepahitan dalam pelayanan, apalagi membicarakan ketidak-baikan orang lain di depan anak-anak kita. Biar mereka bisa melihat engkau sungguh-sungguh mencintai firman Tuhan; keindahan ikut Tuhan, mereka bisa melihat semua itu ada dengan real dan honest terpancar dari hidup kita. Di situ kita menjadi satu model seorang murid Kristus yang otentik dan indah yang anak-anak kita lihat dari hidup kita. Anak-anakmu tidak perlu orang tua yang sempurna; anak-anakmu perlu melihat orang tua yang tidak sempurna itu mengasihi mencintai Bapa yang di surga yang sempurna. Sehingga pada waktu engkau berbuat kesalahan atau kehilafan, engkau mengatakan maaf dan penyesalan; pada waktu engkau mengalami struggle dan kesulitan dalam hidupmu, di situ mereka melihat bagaimana engkau melewati dan mengatasinya bersama Tuhan. Itu menjadi model yang indah bagi mereka, sehingga mereka belajar apa artinya beriman kepada Tuhan. Hari ini saya memanggil setiap kita, mari kita jalankan hidup kita sebagai keluarga, mari kita melihat dengan baik-baik bahwa anak-anak di dalam gereja melihat kepada orang dewasa, melihat pattern dan sikap kita dalam melayani Tuhan itu akan menjadi sesuatu yang berimpak besar bagi mereka. Itu tidak datang dengan seketika begitu saja. Kalau sdr mau menjadi model, ada dua hal yang penting. Yang pertama, anda harus menjadi orang yang dapat dipercaya. Hidup berintegritas, benar, dan hidup yang penuh dengan pertobatan setiap hari. Sekalipun kita bisa gagal, sekalipun kita bisa berbuat salah, minta maaf kepada anak kita. Di situ mereka melihat integritas, ketulusan dan kerendahan hati kita sebagai orang tua. Pergumulan kita sebagai orang tua tidak kita sembunyikan dari anak-anak kita. Kadang-kadang mungkin kita simpan sendiri karena kita tidak mau anak-anak kita ikut susah, tetapi sebetulnya kita tidak menjadikan mereka belajar banyak hal tentang kehidupan nyata di dalamnya. Di situ dia tahu dia punya orang tua yang bisa dia andalkan. Yang ke dua, anda perlu membangun relasi yang dekat dengan anak sehingga anak itu mau mendekat kepadamu. Dekat itu bukan berarti kita kumpul di dalam satu ruangan dengan anak, tetapi di situ ada keakraban, keintiman, sincerity dan affection di antara kita. Mungkin ada di antara sdr yang berkata saya tidak terbiasa seperti itu; saya mewarisi kultur dari orang tua dan kakek-nenek saya yang masih kolot dan kaku. Orang tua kami tidak terbiasa menunjukkan ekspresi emosi kepada kami. Buat mereka keakraban, keintiman, sincerity dan affection itu tanda vulnerable dan weakness. Kita tidak biasa seperti itu. Kita tidak biasa menunjukkan satu kondisi dan keadaan yang imperfect dari papa mama atau kakek-nenek kita. Tetapi tidak berarti kita harus mengulang lagi pola kesalahan modeling of parenting jaman dulu, bukan? Kita katakan kita mau menjadi satu keluarga Kristen yang menjadikan Kristus sebagai Tuhan, pusat dan sentral dalam hidup dan keluarga kita. Sekalipun dulu engkau berasal dari broken family, ada hal-hal yang menyedihkan, jangan jadikan itu menjadi warisan yang sdr bawa dan itu membuat engkau tidak bisa memiliki keluarga yang indah dan bahagia. Demikian juga sebagai komunitas gereja, mari kita belajar keindahan Kristus memakai satu model bagi engkau dan saya. Itu yang saya mau dan rindukan terjadi di gereja ini, ada mentoring dari orang yang lebih dewasa rohani kepada yang masih muda rohani. Mari kita lakukan itu dengan intentional melalui percakapan kita, melalui interaksi kita satu sama lain. Kita tidak boleh melihat great itu bicara mengenai size, bicara mengenai aktifitas yang begitu banyak yang gereja kerjakan, atau sesuatu yang luar biasa dari seseorang. Mari kita ubah konsep dan pola kita hidup berkomunitas.

Poin yang ke dua, kita dipanggil Yesus belajar konsep “besar” [greatness] dari anak kecil. Ini adalah satu hal yang mungkin tidak pernah terlintas dalam benak murid-murid pada waktu itu. Kita tahu, pada jaman dulu anak-anak adalah kelompok yang tidak dianggap penting. Lukas 18:15-17 mencatat, pada waktu orang-orang datang membawa anak-anaknya untuk berjumpa dengan Yesus supaya Yesus memberkati anak-anak ini, mereka mendapatkan murid-murid mengusir dan memarahi orang-orang itu. Bisa kita bayangkan, anak-anak yang masih kecil itu menangis ketakutan terhadap perlakuan kasar dari murid-murid. Yesus menegur murid-murid dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” Belajar dari anak kecil. Apa yang bisa kita perhatikan dari anak kecil?

Yesus mengatakan, “Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” Konteksnya adalah murid-murid sedang ribut di antara mereka mengangkat satu pertanyaan: siapa yang paling besar dan paling penting? Masing-masing berkata: Aku yang paling besar, aku yang paling penting. Petrus, Yakobus, Yohanes pasti mengatakan kami yang paling besar, karena kami yang paling dekat, satu life grup dengan Yesus. Yudas Iskariot akan bilang dia yang paling besar karena Yesus mempercayakan dia menjadi bendahara keuangan pelayanan. Mungkin ada yang lain bilang mereka yang paling besar karena hasil pelayanan mereka.

Mendapat seorang Guru yang rendah hati, mendapat Guru yang menjadi model yang luar biasa seperti Yesus Kristus dan hidupNya sudah begitu indah menjadi contoh teladan, belum tentu menjamin bisa merubah hati murid yang ikut Dia karena kita masih di dalam dosa, kita masih bergumul dengan kesombongan, arogansi, siapa yang lebih penting, siapa yang lebih hebat, siapa yang lebih sukses, siapa yang lebih jagoan. Sangat ironis dan malu sebenarnya, orang-orang yang sudah besar, yang sudah dewasa ini ribut dan bertengkar soal siapa yang paling besar di antara mereka, dan di situ Yesus membawa seorang anak kecil di tengah-tengah mereka. Artinya di situ Yesus secara halus “menempeleng” dan menegur mereka. Orang-orang yang sudah dewasa ini ribut siapa yang paling besar di antara mereka, itu tandanya orang-orang ini sedang berprilaku kekanak-kanakan. Kita harus membedakan antara memiliki iman seperti seorang anak kecil [childlike faith] dengan sifat kekanak-kanakan [childish behaviour]. Apa yang ditunjukkan oleh dua belas murid yang sedang ribut dan berkelahi ini mereka sedang mempertontonkan sikap kekanak-kanakan yang memalukan sebenarnya.
Paulus bilang, “Janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!” (1 Korintus 14:20). Be infants in evil, but in your thinking be mature. Di sini Paulus mengingatkan kita seperti kanak-kanak yang dalam berbuat dosa, tidak mahir dan tidak pengalaman dalam berbuat jahat. Dari sisi negatif, sikap dan prilaku kekanak-kanakan terlihat dari teriakan anak kecil, “I want it and I want it now!” Orang yang kekanak-kanakan hanya memikirkan diri sendiri, yang berfokus hanya kepada kepentingannya dan kesukaannya sendiri. Di luar itu dia tidak mau tahu. Orang yang kekanak-kanakan tidak bisa mengontrol emosinya, tidak sabar dan tidak bisa tahan terhadap tekanan dan kesulitan sedikit saja. Pada waktu Yesus berkata, “Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar,” Yesus sedang mengkontraskan humble dan humility dengan kuasa dan power. Yesus berkata, “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu, barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Markus 10:42-44).

Kita tahu begitu bicara mengenai organisasi, itu berarti bicara mengenai kuasa. Di antara dua belas murid berorganisasi dengan sendirinya akan ada nomor urut siapa yang di urutan nomor satu, siapa yang di urutan nomor dua belas. Pada malam perjamuan terakhir sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan, kita bisa bayangkan dua belas orang ini berlomba-lomba lari ke atas loteng untuk siapa yang duduk di mana. Dan kelihatannya yang paling cepat tiba dan duduk di tempat paling utama adalah Yohanes dan Yudas Iskariot, kita bisa tahu karena dikatakan “murid yang paling dikasihi itu berada di samping Yesus” dan orang yang Yesus suapi roti adalah Yudas Iskariot yang ada di sisi sebelah satunya. Kita juga bisa mengira-ngira Petrus yang paling akhir tiba. Dan biasanya jika tidak ada budak, orang yang paling terakhir harus melakukan pelayanan mencuci kaki, Petrus tidak bisa terima itu. Maka Yesus memakai model diriNya, Yesus mengambil baskom air dan mencuci kaki murid-murid satu persatu. Bayangkan saat itu hati murid-murid bagaimana.

Gereja adalah satu komunitas yang organis, it is about people. Namun ketika orang berkumpul, dengan sendirinya akan ada organisasi, ada struktur, ada pelayanan, ada aktifitas, ada urutan dsb. Padahal yang nomor “satu” tidak mungkin bekerja jikalau nomor “dua” tidak bekerja dengan baik. Yang nomor “dua belas” itu mungkin “mur” yang paling kecil, tetapi jikalau itu tidak ada, semua mesin yang ada tidak bisa berputar dengan baik. Itu yang namanya organis. Itu sebab kita yang melayani sebagai pendeta, sebagai majelis, mari kita menjadi model Yesus di dalam ministry kita sehingga kita bisa menjadikan pola ini turun ke generasi selanjutnya, melayani dari hati yang berkorban, hati yang cinta kepada pelayanan dan hati yang memperhatikan kebutuhan orang lain; bukan karena jabatan, status dan ketenaran. Di situ kita akan menjadi contoh yang indah dari seorang yang melayani Tuhan.

Yesus berkata, “Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Lukas 18:17). Jikalau engkau tidak punya hidup seperti seorang anak kecil ini, engkau tidak mungkin berbagian di dalam kerajaan Allah. Jikalau engkau ingin besar di dalam kerajaan Allah, biarlah engkau menjadi seperti anak kecil yang paling kecil ini di dalam kehidupanmu. Di sini Yesus bicara mengenai satu aspek yang paling penting dari anak-anak yaitu kemurnian hati, hati yang percaya; pure and trust.

Kita terlalu banyak mempunyai ketakutan di dalam berelasi, kita menyimpan banyak keraguan untuk trust kepada orang. Dari tatapan matanya saja sudah bisa ketahuan apakah orang itu fully trust kepadamu atau tidak. Ketika bertatapan, orang dewasa tidak bisa bertatapan lama-lama. Hanya berapa detik saja, matanya langsung pindah ke tempat lain. Jika kita mencoba bertatapan sedikit lebih lama, orang itu akan bertanya: ada apa? Kenapa engkau melihatku seperti itu? Apalagi kalau engkau pria bertatapan dengan seorang wanita, akan lain lagi ceritanya. Begitu melihat seorang wanita sedikit lebih lama, pasti wanita itu akan gelisah dan tidak senang. Begitu kita melihat tatapan mata orang itu, mungkin kita bisa melihat ada kesan menghina, atau mengancam, atau mempunyai maksud tertentu, karena mata kita mentransfer komunikasi dan mata kita tidak polos lagi. Beda dengan anak kecil, mata mereka begitu murni, mereka trust dan tidak mencurigai kita, penuh dengan kasih sekalipun dia tidak mengerti terlalu banyak.

Maka dari kalimat, “Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya,” berarti kita tidak mungkin bisa mendapatkan keselamatan dari Tuhan sebelum kita takluk dan merendahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan; kita mengatakan “Tuhan, aku tidak bisa kontrol hidupku, aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri, aku merendahkan diriku di hadapanMu.” Tidak ada lagi yang tersisa dan yang bisa kita sandari dalam hidup kita. Dan pada waktu kita berada di dalam situasi yang susah, sulit dan berat itu, di situ kita mempunyai iman seperti seorang anak kecil yang hanya bergantung kepada kekuatan Tuhan semata-mata. Memiliki relasi yang indah dan penuh kasih dengan Bapa yang ada di surga, percaya bahwa Ia tidak pernah mencelakakan kita, Ia menjaga dan melindungi kita.(kz)