Banyak Derita, Banyak Dosa?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Life Lessons from Jesus [9]
Tema: Banyak Derita, Banyak Dosa?
Nats: Lukas 13:1-9, Yohanes 9:1-3

Dalam seri Life Lessons from Jesus hari ini kita khusus belajar satu hal dari perbincangan yang begitu hangat dan viral di antara orang-orang pada waktu itu bicara mengenai penderitaan dan tragedi yang terjadi di sekitar kehidupan murid-murid. Lukas 13:1-9 mencatat dua peristiwa yang diangkat di sini, mewakili dua penderitaan dan tragedi yang terjadi dalam hidup manusia yang datang dari dua sumber. Sumber yang pertama adalah tindakan kejahatan dan hal-hal yang tidak baik yang orang jahat lakukan kepada kita. Itulah yang dilakukan oleh Pilatus kepada sekelompok orang datang dari Galilea ke Bait Allah di Yerusalem untuk mempersembahkan korban. Pilatus melakukan tindakan yang brutal dan sadis dengan membunuh dan mencampurkan darah orang-orang itu dengan darah binatang yang sedang mereka korbankan. Kita tidak tahu jelas kapan peristiwa itu terjadi dan hari raya apa yang sedang mereka rayakan, dan kita juga tidak tahu kenapa Pilatus melakukan hal itu. Kita hanya bisa mengira-ngira kemungkinan Pilatus merasa penting sekali untuk melakukan eksekusi di depan publik kepada orang-orang ini dengan cara yang begitu ekstrim supaya orang yang melihat kengerian itu tidak berani mencoba-coba lagi. Tidak heran ini menjadi peristiwa yang menggemparkan dan menjadi topik perdebatan hangat di antara mereka: kenapa orang-orang Galilea ini mati dengan cara yang mengerikan ini, apakah karena dosa mereka lebih besar daripada dosa orang lain sehingga itu hukuman dari Allah kepada mereka? Yesus berkata, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak!” Yesus tidak mengkaitkan penyebab peristiwa yang terjadi pada orang-orang Galilea itu oleh karena ada dosa dan kesalahan pada diri mereka atau karena dosa mereka lebih besar daripada dosa orang lain. Sudah jelas, tindakan Pilatus di sini mewakili evil person yang melakukan kejahatan secara aktif dan destruktif kepada orang lain. Sebaik-baiknya kita menjalani hidup, setelitinya kita berjalan, setulusnya kita bekerja, tetap ada orang-orang yang iri dan dengki, yang tidak senang dan tidak baik dan bisa saja mendatangkan penderitaan kepada kita. Itu adalah contoh yang pertama.
Lalu Yesus mengambil contoh yang ke dua, yang mungkin bisa membuat kita lebih bertanya-tanya lagi, mengenai peristiwa kecelakaan yang terjadi begitu saja, bicara mengenai bencana yang menimpa orang. Peristiwanya ada delapan belas orang yang sedang berdiri di bawah menara dekat Siloam lalu tiba-tiba menara itu rubuh menimpa mereka sehingga tewas seketika. Kita bisa kategorikan itu seperti bencana alam, gempa, banjir, kebakaran, penyakit yang datang dengan tiba-tiba, atau ada orang yang menyetir mobil tanpa sengaja menabrak orang sampai mati,dsb. Yesus berkata, “Sangkamu ke delapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak!”
Umum orang berpikir bahwa orang yang hidupnya lancar, sukses, kaya, makmur, sehat, umur panjang, apa saja yang dia kerjakan berhasil, maka hidupnya diberkati Tuhan. Kalau kita membaca Perjanjian Lama, khususnya dalam kitab Amsal, kita menemukan konsep berkat seperti itu. Sebaliknya, kalau hidup orang itu terus menderita, kalau usahanya bangkrut, kalau anaknya sakit-sakitan, bahkan kalau cara matinya tidak wajar, atau usianya pendek, malapetaka dan bencana terjadi bertubi-tubi dalam keluarganya, orang langsung berpikir pasti dia mengalami semua itu sebagai kutukan atau hukuman Tuhan atas dosanya. Sebagai orang percaya, kita tidak boleh berpikir dan mengaitkan cara kematian seseorang sebagai kutukan dan hukuman Tuhan atau ada kesalahan yang dia tanggung karena perbuatan jahat yang dilakukan dalam hidupnya. Menarik sekali apa yang Yesus katakan selanjutnya: “Tetapi jikalau engkau tidak bertobat dari segala dosa dan kejahatanmu; jikalau kamu tidak datang kepada Tuhan untuk mendapatkan pengampunan, engkau akan mati.” Artinya setelah mendengar atau menyaksikan penderitaan dan bencana yang terjadi di sekitarmu, Yesus tarik itu kepada bukan kaitannya kepada orang yang mengalaminya itu tetapi apa yang menjadi reaksimu ketika melihat bencana dan penderitaan orang, bagaimana kita melihat itu dalam relasi kita dengan Tuhan, itu yang Yesus sedang bicarakan di sini. Dalam konteks Lukas 12-13 Yesus sedang berbicara mengenai beberapa hal yang sangat penting kepada murid-muridNya yaitu bicara mengenai akhir jaman dan penghakiman yang akan terjadi. Satu kali kelak kita semua akan berdiri di hadapan Allah dan penghakimanNya. Kita semua adalah manusia yang telah diciptakan oleh Allah dan harus bertanggung jawab karena kita adalah orang-orang yang berdosa di hadapan Tuhan. Sebenarnya hal yang sama bisa terjadi kepada engkau dan saya. Kematian itu adalah satu bagian yang tidak dapat dihindari oleh siapapun juga. Kematian itu adalah sesuatu yang pasti akan datang kepada setiap kita. Cara kematian yang terjadi kepada seseorang, penderitaan dan malapetaka yang dialami oleh seseorang, masing-masing berbeda-beda. Tidak berarti kalau engkau dan saya meninggal dengan normal karena usia tua, atau cara meninggalnya dengan mudah tanpa mengalami sakit dan penderitaan yang panjang, tidak berarti engkau dan saya lebih suci dan lebih tidak berdosa daripada orang lain. Tidak berarti kalau seseorang hidupnya terus lancar tanpa mengalami kesulitan dan hambatan berarti dia diberkati Tuhan atau karena dia lebih baik daripada orang lain. Cara kematian seseorang bisa berbeda-beda. Bentuk penderitaan yang terjadi tidaklah semua sama. Tetapi bagaimana reaksi kita melihat hal itu? Ketika kematian belum datang dan tiba kepada kita, apa yang menjadi hal yang perlu menjadi respon kita di sini? Yesus katakan, ambil keputusan sekarang, bertobat, berbalik dari hidup dosamu, membereskan relasimu dengan Tuhan. Berbalik. Bertobat. Jangan pikirkan mengenai dosa orang itu lebih besar atau tidak; pikirkan soal bagaimana soal dosamu dan relasimu di hadapan Tuhan, sudah dibereskan atau belum? Tragedi, penderitaan dan kematian yang terjadi kepada orang lain dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menjadi suara peringatan bagi engkau dan saya akan Tuhan. C.S. Lewis berkata, “God whispers to us in our pleasures, speaks in our consciences, but shouts in our pains. It is His megaphone to rouse a deaf world.” Allah berbisik kepada kita di dalam kenikmatan dan kelancaran, berbicara di dalam hati nurani, tetapi berteriak di dalam penderitaan kita. Seperti pengeras suara kepada dunia yang tuli ini, Ia berseru, “Hei, perhatikan baik-baik!” Pay attention! Ketika teman atau orang yang kita kenal mengalami penderitaan, kita langsung pay attention. Tapi apa yang menjadi respon kita lebih berkaitan dengan hidup kita yang di sini? Jangan hanya sampai kepada resolusi bagi hal-hal jasmani saja. Kalau yang kita sadar adalah ‘kalau begitu aku mesti hidup sehat, tidak lagi makan lemak dan goreng-gorengan, harus diet, rutin olah raga.’ Dan umumnya perubahan ini hanya tahan satu bulan, setelah itu kembali lagi kepada kebiasaan lama. Kita perlu resolusi bagi hal-hal rohani, urusan spiritual kita, resolusi dalam relasi dengan Allah, itu yang jauh lebih penting adanya.
Dalam Lukas 12:54-56 Yesus berkata kepada orang banyak: “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” Secara topografi daerah Israel, angin dari sebelah barat berarti datang dari laut Tengah Mediteranian, angin yang membawa hujan. Angin dari selatan dari padang gurun berarti udara kering dan panas. Yesus berkata: hai orang-orang munafik, perkiraan cuaca dan pasar saham engkau tahu menilainya, tetapi mengapakah kamu tidak dapat menilai jaman ini? Pertanyaan Tuhan Yesus ini adalah pertanyaan yang penting: sekalipun megaphone Allah sudah berbunyi begitu keras, mengapa engkau masih tuli secara rohani? Artinya ketika engkau melihat semua itu terjadi, engkau tidak perlu kaget dan shock. Ketika orang-orang Galilea itu tewas dibantai, ketika delapan belas orang itu meninggal tertimpa menara Siloam, sedih dan mengejutkan tragedi seperti itu terjadi, tetapi kita tidak perlu kaget. Seharusnya itu menjadi suara Allah yang besar menarikmu kembali kepadaNya. Kematian adalah suatu hal yang pasti akan terjadi kepada siapa saja manusia di atas muka bumi ini, sure and certain. Yesus tidak bicara soal kapan kita mati, bagaimana cara kita mati, Yesus bicara soal kita akan mengalami kebinasaan kekal ataukah hidup kekal bersama Tuhan?
Setelah bicara hal ini Yesus kemudian memberikan mereka sebuah perumpamaan, “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”
Apa maksud dari perumpamaan ini? Apa kaitannya dengan bagian ini? Setelah Yesus bangkit, barulah murid-murid menyadari makna dari perumpamaan ini. Kebun anggur itu adalah umat Israel, Pemilik kebun anggur adalah Allah Bapa, pengurus kebun anggur, the caretaker adalah Yesus Kristus Perumpamaan ini menunjukkan waktu penghakiman Allah itu akan datang segera dengan pemilik kebun anggur menyuruh menebang pohon ara ini karena tidak ada buahnya. Namun pengurus kebun anggur itu meminta perpanjangan waktu setahun lagi. Ia akan mencangkul tanahnya dan memberinya pupuk. Ini menyatakan persoalannya ada di mana? Persoalannya adalah karena akarnya, bukan tanahnya yang tidak subur. Kenapa pohon ara ini tidak berbuah? Karena ada persoalan dengan pengisapan nutrisi dari akarnya. Artinya, umat Allah mendengar, mendengar, mendengar ratusan khotbah, begitu banyak nabi-nabi datang membawa suara firman Allah yang begitu banyak kepada mereka tetapi itu semua tidak pernah merubah hati mereka dan membawa mereka kepada pertobatan yang sungguh.
Kedatangan Yesus adalah suatu masa anugerah, tahun rahmat Tuhan, Ia menunda penghakiman kepada umat Allah, pohon ara yang tidak berbuah ini. Ia memberikan satu extended grace, berilah satu tahun lagi. Ayat ini bicara jikalau kita tidak mengalami dan penghakiman Allah belum tiba kepada kita, itu berarti Allah masih memberi perpanjangan anugerah dan belas kasihanNya kepada kita. Pada waktu kita menyaksikan derita dan bencana yang tiba dan silih berganti terjadi, firman Tuhan mengajar kita bagaimana menyikapinya dengan benar. Sebagai anak-anak Tuhan, kiranya engkau boleh menyadari bahwa tahun pandemi ini menjadi megaphone Allah yang berbicara lebih keras bagi kita. Waktu itu begitu pendek. Jikalau pandemi ini telah membuatmu malah menjadi lemah dan kehilangan fokus, engkau tidak mempunyai keinginan dan gairah lagi menjadi anak Tuhan untuk datang berbakti dan melakukan pelayanan bagi Tuhan, kiranya hari ini firman Tuhan memanggil engkau sekali lagi; apakah engkau masih perlu satu tahun lagi perpanjangan anugerah dari Tuhan? Saya harap ayat-ayat ini mengingatkan dan menegur kita.
Kita lincah dan gampang berkelit dari situasi; banyak orang di tengah pandemi ini justru makin tambah kaya, makin dapat untung dan kangtaw besar. Itu yang Yesus katakan; engkau mahir melihat prakiraan dan prediksi ke depan, engkau bisa membaca usaha dan bisnis yang bisa berkembang di tengah pandemi, engkau bisa memakai kesempatan di tengah kesempitan dan kesulitan, dan engkau tidak pernah salah menafsir semua itu. Tetapi kenapa hati orang begitu degil dan tidak bisa membaca lebih dalam sekalipun mendengar suara Allah melalui begitu banyak hal-hal yang terjadi untuk mengingatkan kepada kita sebetulnya perpanjangan satu tahun itu adalah anugerah yang berharga yang harus kita hargai. Bukan kita yang memperpanjang hidup kita; Tuhanlah yang memberi kesempatan itu kepada kita. Ada orang yang sakit mendadak, lalu Tuhan memberi kesembuhan kepadanya. Itu adalah satu extended grace dan satu sukacita kita boleh melihat Tuhan itu baik dan murah hati dalam hidup engkau dan saya.
Betapa indahnya belas kasihan yang diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus. Ia menanggung seluruh murka Allah dan menerimanya di atas kayu salib. Seperti yang rasul Petrus katakan, jikalau Tuhan masih menunda waktu kedatangannya itu berarti tahun rahmatNya sedang diberikan agar manusia sadar dan berbalik kepadaNya. Ini adalah momen yang indah dan penting dan yang juga kita perlu kembali menghargai sebagai anak-anak Tuhan sebelum kita mengajak dan memanggil orang lain. Mari kembali kepada Tuhan, benahi lagi hidup rohanimu, kita perlu pemulihan dan restorasi dari Tuhan. Kalau banyak peristiwa di dalam hidup gerejawi kita dengan sekitar kita biar itu juga menjadi suara Allah yang memanggil kita untuk menarik kita mencintai dan mengasihi Tuhan lebih dari segala-galanya.
Yohanes 9:1-3 mencatat: Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” Ini adalah pertanyaan yang diangkat oleh murid-murid Yesus melihat orang yang buta sejak lahir ini: dia buta karena dosanya ataukah dosa orang tuanya? Yesus mengatakan: bukan karena dosanya dan bukan juga dosa orang tuanya. Yesus tidak mau terus masuk ke dalam perdebatan soal penderitaan manusia tetapi Yesus ingin mengajarkan melalui penderitaan itu apa yang penting, bukan apa sumbernya. Maka di sini kita tiba kepada respon yang ke tiga, respon itu bicara soal apapun yang sedang terjadi biar di situ Allah yang selalu dipermuliakan. Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita itu sudah menjadi masa lalu yang tidak bisa dirubah. Yang penting adalah apa ke depannya. Yesus berkata biarlah melalui kebutaannya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan dan lihatlah kemuliaan Allah darinya. Waktu kita melihat penderitaan dan kesulitan orang tidak perlu debat kusir bicara perdebatan teologisnya, tetapi hari ini saya mau bicara soal penggunaan bahasa apa yang kita pakai di dalam respon kita terhadap penderitaan dan kesulitan; bahasa apa yang kita pakai ketika kedukaan terjadi; bahasa apa yang kita pakai ketika malapetaka terjadi?
Di dalam perjalanan melihat orang buta, murid-murid sibuk mendiskusikan hal itu, bukan? Dosa siapa yang menyebabkan orang ini buta, dosa dia sendiri atau dosa orang tuanya? Mari kita coba kategorikan bahasa apa yang orang pakai ketika mengalami kecelakaan, penderitaan, tragedi, kesulitan, terjadi dalam hidupnya? Umumnya yang pertama, di luaran orang akan swearing, memaki dan menyumpah-nyumpah, semua nama binatang di kebun binatang keluar dari mulutnya. Yang ke dua, marah-marah. Saya rasa reaksi ini tidak terlepas dari kita; kita cepat sekali menjadi marah ketika kena tilang karena salah parkir, karena apa saja, segala macam hal-hal kecil kita bisa menemukan orang sedikit saja, ketinggalan kereta, anak telat keluar kelas, ada orang menipu kita, dsb. Betapa mudah emosi kita terganggu ketika ada sedikit saja hal yang membuat kita unconvenient. Yang ke tiga, saling mempersalahkan. Kita mempersalahkan orang, kita mempersalahkan situasi, bahkan kita mungkin mempersalahkan Tuhan. Yang ke empat, panik, yang terjadi seperti langit runtuh. Kita ditelan oleh ketakutan dan kekuatiran.
Bahasa apa yang engkau ucapkan ketika ada penderitaan, kesulitan, bencana, kerugian terjadi kepadamu? Adakah engkau berkata seperti Yesus Kristus berkata, ‘Be shine on your suffering, God is good and gracious to me’? Allah tidak pernah bersalah. Ia selalu in control. Saya rindu percakapan seperti itu terjadi di gereja ini dan dari rumah setiap kita. Kadang dalam pendidikan di rumah, kita hanya fokus kepada apa yang kita sebut sebagai “godly behaviours” kesalehan. Kita ajarkan anak-anak kita untuk bersikap sopan, baik, dsb. Namun sebagai keluarga orang percaya, kita bukan saja menginginkan anak kita menjadi anak yang sopan dan baik kepada teman-temannya, tetapi kita tuntut dia belajar mengampuni seperti Yesus Kristus; itu adalah God’s character yang sedang kita komunikasikan. Sabar, baik, sopan, itu adalah godly behaviour yang engkau komunikasikan. Tetapi engkau perlu membawa God’s character di dalam percakapanmu sehari-hari. Kalau bahasa itu ada di tengah-tengah gereja, di tengah-tengah komunitas orang-orang percaya, saya percaya itu sangat indah luar biasa. Kita perlu belajar karena itu bukan kebiasaan kita, bukan natur kita. Yang menjadi natur kita dan kebiasaan kita adalah reseh, bergosip, menggerutu, tidak tahu berterimakasih, dsb. Itu natur kita manusia. Jangan gampang marah, jangan swearing, jangan blaming, jangan panik dan takut. Jangan habiskan waktu mendiskusikan hal yang kecil dan sepele.
Bersyukur kita bisa melihat Tuhan besar dan agung di setiap hal yang kita alami. Kita bersyukur doa kita didengar oleh Tuhan. Kita menyaksikan Allah itu baik, in control dan murah hati. Kalau percakapan-percakapan seperti itu yang selalu terjadi di tengah komunitas orang percaya, betapa indah, bukan? Setiap tantangan, kesulitan, ketidak-sempurnaan di rumahmu, pakailah bahasa yang seperti ini. Setiap penderitaan dan kesulitan yang terjadi di tengah-tengah komunitas orang Kristen, pakailah bahasa yang seperti ini. Kita tidak menghakimi orang, kita tidak menuding kesalahan kepada orang, kita tidak membicarakan kesulitan orang, tetapi kita memberikan nasehat, penghiburan, kekuatan, encouragement dalam setiap kondisi apapun di hidupku kiranya Tuhan dimuliakan. Apa artinya dimuliakan? Ia dipuji, Ia dihormati. Dan kita mengalami Tuhan di situ sungguh nyata dan indah berkarya di tengah kesulitan, bencana, air mata dan penderitaan yang kita alami. Kiranya Tuhan pimpin dan berkati kita hari ini. Kalau hari ini engkau belum mengalami semua itu, kiranya firman Tuhan hari ini memimpin hatimu mengerti dan mengetahui bagaimana memuliakan Allah dalam hidupmu.(kz)