Mengapa Anda Sulit Memaafkan?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Life Lessons from Jesus [5]
Tema: Mengapa Anda Sulit Memaafkan?
Nats: Lukas 17:3-6, Yakobus 3:2, Pengkhotbah 7:20-22

Dalam Lukas 17:3-6, Yesus berkata: “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

Bicara soal pengampunan, harus kita akui ini adalah problem sehari-hari yang kita alami, problem yang paling kompleks di dalam interpersonal relationship ketika kita berhubungan dengan siapa saja. Semakin banyak kita bertemu orang, semakin dekat orang itu dengan kita, kita tidak akan mungkin terhindar dari gesekan dan bentrokan, ada ketersinggungan, saling melukai, sakit hati, kemarahan dan hal-hal yang seperti ini. Maka hari ini kita belajar life lesson yang Yesus ajarkan kepada murid-muridNya soal maaf dan pengampunan.

Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel mempunyai satu hari yang namanya “The Day of Atonement,” Yom Kippur, Hari Pendamaian, Hari Pengampunan Dosa, hari dimana terjadi rekonsiliasi, restorasi dan pengampunan dari Allah kepada umatNya (Imamat 16). Itu adalah satu hari yang penting, satu hari yang dirayakan secara khusus, satu pembersihan yang penting dan perlu, satu hari dalam setahun kesalahan, kekurangan, dosa, hubungan yang tidak beres itu dibersihkan di hadapan Tuhan. Di situ juga terjadi restorasi sosial, pemulihan relasi dan hubungan antara umat Allah dengan sesamanya. Orang Islam merayakan satu hari yang namanya Idul Fitri, hari dimana mereka bersilaturahmi, hari dimana mereka mengucapkan “Minal Aidin wal Faidzin” maaf lahir batin. Kita tidak mempunya hari raya seperti ini, tetapi pada waktu kita merayakan Jumat Agung dan Paskah, mungkin kita bisa merayakan hari-hari itu menjadi “The Day of Atonement” bagi kita orang Kristen, hari dimana kita menerima pengampunan dari penebusan Yesus Kristus dan hari dimana kita saling bermaaf-maafan satu dengan yang lain.

Kita tahu sebagai orang Kristen, sebagai murid Yesus Kristus, kita harus mengampuni orang, tetapi kita terganjal luar biasa dengan berbagai macam hal dan perasaan. Hati yang keras dan penuh dengan harga diri, kesombongan dan keegoisan, rasa telah diperlakukan dengan tidak adil, ada amarah dan kepahitan; semua itu membuat kita sulit memaafkan dan mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita.

Itulah sebabnya ketika Yesus secara khusus mengajar hal pengampunan ini, murid-muridNya berkata, “Guru, tambahkanlah iman kami.” Apa maksudnya kalimat ini? Kita tidak tahu bagaimana intonasi murid-murid pada waktu mengatakannya, sehingga ada dua tafsiran. Yang pertama, ini adalah sebuah permohonan minta Tuhan menolong karena mereka punya kemauan tetapi rasa mustahil untuk memaafkan. Tafsiran yang ke dua adalah mendengar Yesus mengatakan itu, murid-murid rasa mustahil untuk bisa melakukan hal ini dan yang bisa melakukan ini hanya orang yang imannya “super” sehingga kalimat tambahkanlah iman kami itu hanya sebuah bercandaan. Tafsiran ke dua ini lebih mungkin, sebab Yesus kemudian menjawab, “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu” (Lukas 17:6). Itu berarti Yesus menegur murid-murid yang mencibir persoalan pengampunan ini impossible, mustahil, tidak mungkin. Yesus bicara apa di situ? Yesus bicara soal bahwa kalau memang hati kita keras dan kita memang tidak mau berubah, kesalahan orang sekecil apapun sulit untuk kita maafkan. Tetapi begitu kita bicara mengenai hati kita yang dirubah oleh Tuhan, sebesar apapun salah orang kepadamu, sekalipun seolah mustahil, engkau bisa mengampuninya. So, it is about the attitude of the heart. Hal mengampuni adalah satu pengajaran yang penting karena ketika kita berelasi satu dengan yang lain, gampang dan mudah terjadi gesekan dan singgungan bukan dengan tindakan dan perbuatan kita, tetapi banyak sekali terjadi oleh karena perkataan kita. Dalam komunitas gereja, penyebab orang berhenti dalam pelayanan, penyebab majelis gereja mundur dan berhenti, para pengurus pelayanan mundur, guru sekolah minggu tidak mau lagi melayani, pendeta berhenti dari sebuah pelayanan, bahkan ada yang sampai akhirnya tidak mau melayani dan tidak berbakti lagi disebabkan karena perkataan dan kritikan. Engkau sudah mempersiapkan pelayanan sebaik mungkin, tetapi engkau kaget karena feedback yang engkau terima justru kritikan mereka. Boleh dikatakan, hamba-hamba Tuhan di sekolah teologi dipersiapkan bagaimana menggali firman Tuhan, bagaimana mempersiapkan khotbah dengan baik, bagaimana menjadikan firman Tuhan disampaikan dengan indah tetapi mereka tidak pernah dipersiapkan untuk menghadapi kritikan dan kata-kata yang tidak indah. Sehingga ketika ada kata-kata kritik yang datang, mereka menjadi down dan discouraged.

Dalam relasi dengan pasangan hidupmu suami isteri, orang tua dan anak, kolega dan rekan kerja, boss dan karyawan, saudara seiman di gereja, dan orang-orang yang ada di sekitar hidup kita, kita tidak bisa terhindar dari gesekan dan singgungan dan kata-kata yang melukai hati. Dalam scope tempat kerja, mungkin engkau sudah hati-hati dengan tindakan dan perbuatan kepada orang, atau sdr berusaha dengan profesional berjalan di jalurnya, tetapi yang seringkali mendatangkan situasi yang bikin stress luar biasa bukan pekerjaan itu sendiri tetapi kata-kata dan percakapan yang berseliweran di luar.

Mungkin itu tanpa sengaja dan dalam konteks bercanda kita keluarkan, tetapi diterima dan ditanggapi dengan salah sehingga orang itu tersinggung dan marah, akhirnya jadi ribut besar. Stress luar biasa.
Yakobus pernah mengingatkan, “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya” (Yakobus 3:2). We all stumble in what we say. We often offend people with what we say. Pengkhotbah 7:20-22, “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa! Juga janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang, supaya engkau tidak mendengar pelayanmu mengutuki engkau. Karena hatimu tahu bahwa engkau juga telah kerapkali mengutuki orang-orang lain.” Di sini kita menemukan prinsip-prinsip yang baik.

Pertama, Pengkhotbah berkata, “Not a single person on earth is always good and never sins,” sins di sini dalam konteks bicara atau berkata. Kita harus selalu ingat, kita adalah orang berdosa yang sedang berelasi dengan orang berdosa. Sekalipun Tuhan sudah membenarkan kita, sifat dan kelemahan itu masih ada pada kita. Tidak ada di antara kita yang tidak pernah bersalah di dalam kata-kata. Kadang ada arogansi, slip in tongue, tidak pikir baik-baik kalimat yang keluar, pemilihan kata yang tidak tepat, intonasi yang salah, dsb akhirnya membuat orang tersinggung dan terluka. Itulah yang terjadi. Belum lagi, mungkin ada aspek sebenarnya tidak ada kaitannya dengan moralitas tetapi berkaitan dengan our upbringing atau berkaitan dengan kultur kita. Sdr yang dari kota Solo yang bicara begitu halus ketemu dengan orang dari Indonesia bagian Barat yang berbicara dengan volume suara yang keras dan intonasi yang berbeda, itu saja bisa membuat sdr tersinggung, padahal tidak ada intention apa-apa di situ, bukan?

Ke dua, Pengkhotbah ingatkan, “Don’t eavesdrop on others – you may hear your servant curse at you. For you know how often you yourself have cursed others.” Ada kalanya tidak semua kata-kata yang kita dengar itu kita dengar dan pegang semuanya masuk di hati. Maka Pengkhotbah bilang, kalau kamu dengar pembantumu mengutuki kamu, kamu bisa marah, bukan? Jadi prinsipnya, tidak perlu dengar semua dan masukkan ke dalam hati. Semakin banyak dengar, semakin bikin tersinggung dan terluka. Tidak usah baca komentar-komentar negatif di twitter dan medsos tentang engkau. Tetapi kalau dengar pun, tidak semua kalimat itu harus dimasukkan ke dalam hati. Yang ke dua, Pengkhotbah mengatakan selama relasimu satu dengan yang lain itu baik, kamu ngomong sesuatu pun dengan orang itu akan ditangkap baik. Kita juga sering ngomong menyinggung orang. Selama orang itu tidak punya hati yang negatif, selama relasi di antara kalian baik, itu tidak jadi masalah dan tidak menciptakan hal yang tidak enak. Tetapi kalau relasi yang tidak baik dengan orang itu, kata yang sama bisa membuatmu marah besar. Yang ke tiga, Pengkhotbah bilang, engkau juga sering melakukan hal yang sama. Seringkali kita juga mengeluarkan kata-kata seperti itu kepada orang lain, sdr tidak punya maksud apa-apa dan sdr waktu ngomong seperti itu juga tidak punya keinginan orang yang bersangkutan dengar. Just say something yang ada di benakmu. Tetapi tidak berarti itu menjadi excuses alasan kita untuk membenarkan diri. Namun bagaimana kita bisa menahankan orang tidak mengkritik kita atau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan kita atau tidak tersinggung dengan kata-kata bercanda kita? Yang paling simple adalah: jangan ngomong apa-apa, jangan lakukan apa-apa sama sekali. Diam saja. Ya kan? Kalau sdr tidak mau dikritik dalam pelayanan, jangan pelayanan. Diam saja. Datang, duduk, dengar, pulang. Selesai. Say nothing, do nothing. Sama seperti waktu Yesus berjalan di atas air, buat apa Petrus minta ikut berjalan di atas air? Akhirnya pendeta di mimbar bilang Petrus kurang iman. “Sdr sekalian, jangan seperti Petrus, ikut Tuhan itu bimbang dan ragu. Disuruh berjalan di atas air, Petrus malah tenggelam. Itu tandanya dia bimbang dan ragu, imannya lemah, orang yang plin-plan.” Yang paling enak yang 11 orang itu lho, diam saja. Say nothing, do nothing. Yang Yesus marahi siapa? Petrus. Yang orang sering kritik siapa? Petrus.

Ke tiga, Pengkhotbah bilang, “I have always tried my best to let wisdom guide my thoughts and actions. I said to myself, ‘I am determined to be wise.’ But it didn’t work.” Sebagai anak-anak Tuhan, sebagai orang yang melayani, sebagai orang Kristen yang baik, sudah tentu kita mau menjadi orang yang bijaksana dalam kata-kata dan perbuatan kita sehari-hari. Tetapi kadang-kadang kita mungkin berkata-kata, kita bertindak, kita berbuat sesuatu tanpa kita pikir dalam-dalam, atau kita kurang hati-hati memilih kata kemudian membuat orang lain tersinggung.

Maka secara praktis, ada beberapa hal menjadi prinsip bagi kita belajar sama-sama. Pertama, tidak semua kata-kata yang engkau dengar harus simpan di hati. Yang ke dua, kita masing-masing juga koreksi diri, jangan mengeluarkan kata-kata yang bisa berpotensi menyinggung orang lain. Kalau bisa bercanda jangan kelewat batas. Yang ke tiga, nasehat Pengkhotbah penting sekali, kita harus jadi orang yang determined to be wise. Pikirkan sebelum berkata-kata, keluarkan kalimat yang membangun spirit semangat orang, biar bijaksana yang memimpin our thought and our actions, kita boleh menjadi orang yang berhati-hati di dalam setiap hal yang kita katakan.

Kembali kepada pengajaran Yesus tentang pengampunan, Yesus berkata: “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” Yesus bicara mengenai relationship; Yesus bicara soal: itu temanmu, saudaramu; Yesus bicara soal hati dan soal relasi. Menarik sekali, dalam pengajaranNya soal relasi, Yesus kerap mengkategorikan tiga kelompok orang. Yang pertama: neighbour [sesama], yang ke dua: enemy [musuh], yang ke tiga: brothers [saudara]. Neighbour adalah orang yang tidak ada relasi yang dekat, yang kita tidak terlalu kenal akrab, yang mungkin hanya selintas saja datang ke dalam hidup kita. Berkaitan dengan neighbour, kalau dia salah kita lalu bilang ‘ya, sudahlah,’ tidak usah jadi masalah karena orang itu cuma lewat dan lalu. Yesus bicara soal charity, hati kita yang mengalah dan rela menanggung dan menerima itu sebagai sesuatu yang tidak perlu cari keadilan. Yesus bilang, jika tetanggamu memintamu berjalan satu mil, berjalanlah dengan dia dua mil. Jika dia menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu. Itu adalah hubungan dengan neighbour. Kalau dalam konteks sekarang, ada orang klakson mobil, atau tetangga yang party suaranya ribut sampai larut malam, atau orang yang melakukan hal yang sedikit merugikan engkau berapa dollar, itu neighbour. Di tengah antrian, ada yang tahu-tahu menyalip di depanmu, ya sudah, hindari dan mengalah saja. Tidak perlu ribut, apalagi sampai berkelahi. Tetapi kategori ke dua, kalau orang itu terus-menerus mengganggu dan membuat hidupmu tidak nyaman, mau merusak dan merugikanmu, maka dia adalah musuhmu. Kita perlu membedakan dalam kategori ini, karena banyak orang Kristen sering salah dan merasa harus selalu mengalah, mengampuni dan memaafkan. Sehingga sekalipun orang itu sudah berbuat sangat jahat dan menghancurkanmu, engkau merasa harus menerapkan prinsip yang diberikan Yesus untuk selalu mengampuni dan berdoa: ‘Bapa, ampunilah dia sebab dia tidak tahu apa yang dia perbuat.’ Tidak. Kita harus kategorikan relationship kita dengan dia apa dulu. Di dalam aspek itu, kita bisa melihat menarik sekali Paulus mengatakan, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang. Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung kepadamu, hiduplah dalam pendamaian dengan semua orang. Janganlah kamu menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah. Tetapi jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum. Janganlah kamu kalau terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:17-21). Jelas Paulus katakan, jikalau musuhmu berbuat jahat kepadamu, jangan balas dengan kejahatan, balas kejahatannya dengan kebaikan. Lalu tunggu dan biarkanlah pembalasan Allah yang adil itu turun atas orang itu.

Kategori yang ke tiga, yang Yesus katakan di sini “jikalau itu saudaramu,” relasi yang berbeda dengan kategori pertama dan ke dua, ini adalah relasi pertemanan dan persaudaraan. Di situ suamimu, isterimu, anakmu, teman gerejamu, orang-orang yang dekat denganmu, mereka ada di kategori ke dua ini. Di dalam relasi pertemanan dan persaudaraan itu engkau menegur, engkau marah, engkau mengkritik, tidak pernah mempunyai tujuan untuk merusak dan menghancurkan orang tetapi selalu untuk membangun dan memulihkan relasi di antaramu. Kepada your neighbour, engkau tidak perlu pedulikan. Just ignore. Kepada musuhmu, kecuali dia bertobat, di situ berarti dia merubah relasi itu dari musuh menjadi saudara.

Maka di sinilah kita bicara bukan soal apa tindakannya, apa kata-katanya, tetapi bicara bagaimana soal hati dan relasimu. Bicara apa tindakannya, apa kata-katanya, seperti Pengkhotbah dan Yakobus katakan, kita semua sudah bersalah dan melakukan yang sama. Sulit mau hitung-hitungan siapa salah lebih banyak. Selama relasi itu begitu dekat, bersinggungan itu lazim. Itu sebab Yesus katakan bukan tujuh kali untuk seumur hidup, tetapi tujuh kali sehari. Jangan biarkan kesusahan dan kesulitan di dalam relasi pernikahan atau relasi keluarga dengan anak, orang tua, saudara seiman di gereja, dsb, membuat kita akhirnya give up. Itu adalah perjalanan yang panjang, journey yang panjang. Kita memerlukan mendayung bersama-sama, we need love and forgiveness di situ. Relasi di dalam pertemanan, di dalam pelayanan kita sama-sama, kita memerlukan kebesaran hati untuk mengerti dan menerima satu dengan yang lain. Kita mengeluh susah kerja sama dengan dia, banyak salahnya, lambat kerjanya, ok. Tetapi bagaimana hatimu dan bagaimana relasimu, itu yang paling penting.

Dalam hal pengampunan[yang paling penting adalah relasi kita dengan Tuhan. Kita sudah menyadari bahwa kita adalah orang berdosa yang diampuni olehNya. Pernahkah Tuhan hitung-hitung berapa banyak pelanggaran dan dosamu? Mazmur 103:10-12 berkata, “Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” Yeremia 31:34 berkata, “Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” Kita seringkali tidak mau melupakan dan selalu ingat akan kesalahan-kesalahan saudara kita. Kita mungkin bilang: Ok, I forgive, but I can’t forget. Tetapi siapa kita jikalau Allah sendiri mengatakan dosa-dosamu tidak Kuingat lagi. Bukan saja Tuhan forgive, Tuhan forget. Itu adalah fondasi yang penting. Sehingga waktu kita berdoa “Doa Bapa Kami,” kita bilang kepada Bapa, ampunilah kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Terkadang kita anggap enteng dan mengabaikan kalimat ini.

Kita harus akui kita adalah manusia berdosa. Semakin dekat relasi orang itu dengan kita, semakin kita berpotensi melukai hati orang itu. Kita tidak bisa menghindar kita bisa melukai orang yang kita kasihi lebih dalam. Untuk memulihkan relasi itu, kita perlu more grace, more forgiveness karena kesalahan dan dosa-dosa kita tidak diperhitungkan Allah; dalam Kristus kita telah menerima pengampunan dari Allah. Pengampunan bukan hal yang gampang dan mudah. Seringkali karena mendengar teguran dari khotbah di mimbar, orang menjadi marah dan kecewa. Tetapi Tuhan mau kita belajar melembutkan hati. Setiap kali engkau menerima teguran, kesalahanmu atau kekuranganmu diberitahu, tujuannya cuma satu yaitu agar engkau menjadi lebih baik. Kiranya kasih Allah yang besar memenuhi hati engkau dan saya. Biar kita menjadi anak-anak Tuhan yang penuh dengan kasih persaudaraan, membina dan membangun keindahan tubuh Kristus dan menjadi berkat bagi banyak orang sehingga dunia akan mengenal dan mengetahui kita adalah keluarga Kristen, anak-anak Tuhan, gereja Tuhan adalah sahabat dan saudara dalam Kristus yang penuh dengan kasih, belas kasihan dan kebenaran.(kz)