Bukti dari Hidup yang Puas

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: LIFE LESSONS FROM JESUS [3]
Tema: Bukti dari Hidup yang Puas
Nats: Lukas 6:33-38

Lukas 12:13-15 mencatat satu peristiwa menarik ketika Yesus sedang mengajar, tiba-tiba ada satu orang berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Sebetulnya sangat tidak sopan di tengah-tengah seorang guru sedang berbicara, dia menginterupsi dan menyampaikan persoalan pribadinya di situ. Tetapi kelihatan sekali seluruh pikirannya dipenuhi dengan persoalan pembagian harta warisan yang dia rasa tidak adil karena saudaranya mendapatkan lebih banyak sehingga dia mau memperkarakan dan menuntut keadilan dengan meminta Yesus menjadi mediator bagi pembagian warisan di antara mereka. “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” demikian jawaban Yesus. Lalu selanjutnya Yesus mengeluarkan satu kalimat yang penting: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Yesus berkata, sekalipun engkau punya begitu banyak, hidupmu tidak dipuaskan oleh harta kekayaan. Benarkah? Kalimat ini adalah kalimat yang perlu kita dengar dan renungkan baik-baik, karena kunci jawaban dari hidup yang dipuaskan adalah engkau mengenal dan memiliki kekayaan yang sejati, the true riches itu.

Apakah hidup anda sudah dipuaskan? Saya percaya ini adalah satu pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Banyak orang berkata: Tidak mungkin hidup kami bisa dipuaskan. Masih banyak keinginan-keinginan dan cita-cita yang belum pernah kesampaian; masih banyak tuntutan dan kebutuhan hidup yang tidak ada habis-habisnya mau dikejar dan tidak pernah tercapai. Bagaimana bisa puas? Hidup yang dipuaskan bukan berarti suatu hidup yang sudah tidak punya keinginan apa-apa. Itu adalah satu hal yang tidak mungkin. Begitu seseorang berhenti punya keinginan, itu berarti dia sudah hampir mati. Bahkan kita yang sudah hampir mati pun masih punya keinginan tidak mau mati. Itulah survival instinct kita, kita berjuang untuk tetap hidup. Maka tidak bisa kita bilang kepuasan itu datang ketika kita tidak lagi punya keinginan. Kita tidak melarang orang untuk punya keinginan tetapi Alkitab mengingatkan orang Kristen, kita tidak boleh mempunyai keinginan yang jahat. You should have a pure desire.

Paulus dalam Kisah Rasul 20:35 menyebutkan satu kalimat daripada Tuhan Yesus yang tidak ada di dalam kitab-kitab Injil, “Tuhan Yesus sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Mungkinkah, sanggupkah, benarkah kalimat daripada Tuhan kita Yesus Kristus: adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima? Kita tidak sanggup bisa mengerti kalimat Tuhan Yesus itu sebelum kita membereskan satu dosa yang kadang-kadang tidak pernah kita sadari sebagai satu dosa yang terselubung di dalam hidup kita, yang mungkin tidak kentara dan itu justru terselip di dalam pengorbanan, di dalam pelayanan, di dalam penderitaan. Kita melihat itu terjadi di dalam diri nabi Elia, sehingga dia sampai mencetuskan kekecewaan dan kemarahan kepada Tuhan, “Aku sudah bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, hanya aku seorang diri. Dan sekarang bahkan aku dikejar-kejar hendak dibunuh!” (1 Raja 19:10,14). Perasaan self-pity itu dapat menyelinap di dalam hidup kita yang sudah bersedia berkorban memberi, terus-menerus melayani dan terus-menerus melayani, sehingga betapa beratnya aku memberi daripada menerima. Kita kehilangan aspek bahagia dan sukacita itu. Dalam suratnya rasul Petrus berkata, “Bersukacitalah sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaanNya” (1 Petrus 4:13). Pada waktu kita boleh berbagian dengan penderitaan Kristus, itu adalah sukacita yang tidak terkatakan. Belum lagi pada waktu kita bertemu Tuhan nanti di dalam segala kemuliaanNya, kita akan menikmati sukacita yang tidak ada habis-habisnya. Namun dalam 1 Korintus 13:3 Paulus berkata, “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” Bagaimana bisa? Sekalipun aku melayani dengan berkorban, memberi semua uang dan hartaku bagi pelayanan, menjual habis rumah dan semua property bagi pekerjaan Tuhan, bahkan memberi waktu dan kesehatan semuanya saya persembahkan bagi Tuhan, bagi ministry ini, bagi gereja ini, bagi apapun saya kasih semuanya, bahkan pada waktu orang menangkap, melemparkan aku ke dalam penjara dan akhirnya mengeksekusiku di api pembakaran, tetapi Paulus bilang jika semua itu kita lakukan tanpa kasih, tidak ada gunanya semua itu. Bukankah orang itu melakukan semua karena cintanya kepada Tuhan? Itu yang kita lihat dari luar. Tetapi kalimat rasul Paulus ini mengingatkan kita ada pengorbanan diri yang bukan berdasarkan kasih melainkan untuk kepentingan diri dan motif yang tersembunyi di baliknya, sesuatu yang sebenarnya terselubung untuk mendapat pujian.

Tuhan Yesus mengingatkan, “Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Lukas 6:33-38). Ini adalah kalimat-kalimat yang luar biasa daripada Tuhan Yesus. Kalau engkau memberi hanya untuk mengharapkan kembali; kalau engkau hanya mengasihi orang yang bisa balik mengasihimu; kalau engkau memberi bantuan kepada orang dengan harapan satu kali kelak dia akan memberi bantuan di saat engkau membutuhkan, lalu apa bedanya engkau dengan orang yang tidak percaya Tuhan? Mereka pun melakukan hal yang sama. Bagi saya ini adalah hal yang sangat penting sekali sebab inilah yang membedakan pemberian kita. Di situlah menjadikan beban kita bagi Tuhan, penderitaan, pengorbanan dan pelayanan kita menjadi sesuatu kekayaan keindahan kita bagi pekerjaan Tuhan. Adakah kita berbahagia memberi daripada menerima? Sudahkah di dalam kita memberi, kita berkorban, kita melayani, kita hidup bagi Tuhan, sukacita itu mengalir dari hidupmu? Pertanyaan itu penting dan perlu karena di situ kita akan senantiasa menjaga hati motivasi kita untuk selalu murni di hadapan Tuhan. Sebagai hamba Tuhan, saya melayani Tuhan bersama-sama engkau, hal itu juga selalu bisa menjadi satu godaan. Kita sudah memberi begitu banyak bagi pekerjaan Tuhan , kita melakukan pelayanan dan pengorbanan begitu banyak, kita sudah memberikan waktu, pikiran dan hati kita sepenuhnya, lalu ketika kita tidak mendapatkan sesuatu yang setimpal dan sepatutnya menjadi respon orang yang kita layani, itu bisa membuat kita menjadi kecewa. Ada orang burnout karena terlalu banyak yang dia kerjakan; ada orang yang burnout sebab sebenarnya berdasarkan satu keinginan untuk mendapatkan secercah penghargaan dan pujian di situ, bukan lahir daripada the joy of giving, lahir daripada mengerti apa artinya memberi daripada menerima. Pada waktu itu sampai kepada kita, kita bisa bersyukur karena kita boleh ambil bagian sedikit sharing in the suffering of Jesus Christ for the sake of the Gospel. Penderitaanku tidak pernah boleh menjadi aktualisasi diri dan self-pity. Ini menjadi peringatan yang sangat penting bagi setiap kita yang ambil bagian dalam pelayanan.

Yang ke dua di sini Yesus berkata, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Because our heavenly Father is a generous God, be generous. Lukas 6:38, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu.” Yesus bukan saja bicara soal takaran kita, tetapi Ia sedang bicara mengenai generosity Tuhan kepada kita. Takaran yang generous, yang dipadatkan, digoncang sampai tumpah keluar, semuanya dituang ke haribaanmu. Betapa generous Tuhan kita itu! Yesus juga bicara takaran yang engkau berikan kepada orang lain berdasarkan karena Allah sudah memberi berlimpah tumpah goncang di pangkuanmu. Ia berbicara mengenai sifat generosity itu. Kita melakukan pemberian, pelayanan, pekerjaan, pengorbanan itu semua karena kita mengimitasi sifat Tuhan dalam hidup kita. Sehingga di situlah saya melakukan perbuatan baik berkorban tidak pernah menjadi jasaku, sebagai sedekahku, karena di situlah kadang-kadang bisa menyelinap self-pity ketika kita tidak dihargai orang. Tetapi pada waktu kita katakan, aku lakukan semua ini karena aku mengimitasi kemurahan hati Bapa di surga. Allah seperti apa yang engkau sembah dan percaya, sifatNya yang seperti apa yang engkau mengerti, itulah Allah yang engkau harus imitasi dalam hidupmu. Itulah yang membedakan segala perbuatan baik, pelayanan, pekerjaan dan pengorbanan orang percaya dibandingkan dengan orang lain. Sedekah mungkin mempunyai konsep karena ada sesuatu iming-iming imbalan yang lebih daripada apa yang saya berikan ini. Sedekah juga punya konsep memberi sebagai satu attitude perbuatan dari kita supaya melalui perbuatan itu orang yang melihat bisa memberikan sesuatu pujian dan kesan baik tentang diri kita. Melalui sedekah itu juga supaya orang lain bisa tahu kita adalah orang baik, satu kali kelak orang juga bisa membalas kebaikan kita. Sama-sama memberi, bahkan mungkin orang yang tidak percaya Tuhan memberi lebih banyak, tetapi sifatnya berbeda. Aku memberi karena aku percaya Allah seperti apa yang aku sembah. Tambahkanlah dan naikkanlah kualitas pelayanan dan pemberianmu kepada Tuhan dari hari ke hari dengan sebuah kesadaran, dengan satu pengertian yang benar. Di situ kita tidak mengarahkan keinginanku menjadi evil desire, menginginkan sesuatu bagi diri tetapi kita mempunyai sesuatu pure desire. Saya menyimpan, saya menabung, saya memiliki harta yang benar, yang sejati di dalam hidupku bagi Tuhan.

Apakah kita tidak boleh mengumpulkan banyak? Apakah anak Tuhan tidak boleh ingin kaya? Allah tidak pernah melarang engkau mau menjadi orang kaya. Yesus tidak pernah melarang orang mau menjadi kaya. Yang perlu menjadi pertanyaan kita adalah: kamu mau kaya dalam hal apa? Tuhan Yesus membukakan apa kekayaan yang sejati itu dalam Lukas 12:33, “Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.” Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, itulah harta yang sejati di surga yang tidak akan bisa habis dan rusak selamanya. Cari dan kumpulkanlah itu. Ada orang berani melakukan investasi membeli bitcoin, sdr tidak pernah lihat actual barangnya, sdr cuma diberi selembar kertas saja, dan engkau rasa engkau sudah kaya. Hari-hari ini orang bisa gila-gilaan investasi bitcoin, bahkan ada orang yang menyesal habis-habisan kenapa tidak dari dulu beli bitcoin. Kenapa kita tidak punya attitude yang sama, walaupun kita tidak lihat, kita sedang melakukan investasi di dunia kekekalan itu, the true riches yang akan kita dapatkan pada waktu kita bertemu Tuhan? Kenapa untuk investasi dunia kita berani, padahal sama-sama kita tidak lihat sekarang selain kertas di tangan? Kita bisa trust itu, kenapa kita tidak trust firman Tuhan? Ini pertanyaan yang penting sekali. Ini bukan ajaran orang yang belum pernah ke surga. Ini adalah pengajaran yang diberikan dari Dia yang sudah pernah ada dan sudah turun dari surga.

Maka mari kita renungkan baik-baik hal ini: Tuhan tidak melarang engkau menjadi orang kaya. Tuhan sedang bertanya kepadamu: engkau mau kaya dalam hal apa? Pikirkan dengan teduh, dan jawab kepada Tuhan. Miliki kerinduan untuk memiliki kekayaan yang tidak akan pernah habis, harta yang kita simpan di dalam pundi-pundi yang tidak akan hilang oleh waktu dan kematian.

Salah satu hal yang simple dan praktis dari bagian ini pada waktu kita aplikasi bagian firman Tuhan ini, pada waktu kita mau belajar membagi apa yang kita miliki, kita senantiasa ingat itu semua bukan milik kita sendiri tetapi diberikan dan dipercayakan oleh Tuhan untuk kita pakai dan kelola sehingga kita bisa menjadi saluran berkat Tuhan bagi orang lain. Pada waktu itulah sukacita kita mengalir sekalipun orang tidak membalas kebaikan kita, itu tidak menjadi persoalan, karena itu bukan soal antara dia dengan saya tetapi itu soal antara aku dengan Tuhan. Berapa banyak dari kita memikirkan akan hal ini? Berapa banyak dari kita yang memikirkan bagaimana menyimpan the true riches itu di dalam hidup ini? Berapa banyak sebenarnya daripada kita yang memikirkan dalam-dalam hal persembahan kita? Bagaimana kita memikirkan kualitas pelayanan kita? Kita bukan bicara soal kuantitas, tetapi kita menjadi orang yang thoughtful memikirkan kualitas pemberian kita. Apakah kita pikir baik-baik pemberian dan dukungan finansial kita bagi pekerjaan Tuhan? Saya harap sdr tidak salah mengerti setiap kali mendengar hamba Tuhan bicara topik ini di mimbar, ini bukan bicara soal minta uang, ini bukan bicara soal kebutuhan, gereja, hamba Tuhan atau apapun. Ini bukan bicara soal sdr harus memberi kepada gereja ini, atau kepada siapa, kepada pribadi. Tidak. Ini bicara soal bagaimana semua yang sdr miliki mengekspresikan hubunganmu dengan Tuhan. Jikalau engkau adalah murid Kristus yang sungguh dan serius dalam mengikut Dia, mari kita juga serius dalam pemberian kita.

Mari kita lihat cara orang Kristen memberi bagi charity dalam kita memberikan sesuatu pemberian. Australia Biro Statistic [ABS] dalam data statistik tahun 2000 bagi orang Australia yang bergaji kotor $100,000 per tahun, memberi kepada charity rata-rata $344/per tahun. Itu berarti 0.33%. Saya percaya orang Kristen tentu memberi lebih banyak daripada itu. Berdasarkan data statistik di US khususnya mengenai offering orang Kristen kepada gerejanya, rata-rata offeringnya 2% dari penghasilan.

Berapakah 2% itu? Saya ingin mengajak sdr melihat satu perbandingan hal yang konkrit karena kadang-kadang angka itu tidak jelas. Saya coba kasih gambaran seperti ini: seseorang yang mendapatkan gaji $4,000/bulan, 2% berarti dia memberi persembahan $80/bulan, itu berarti setiap minggu dia memberi persembahan $20. Saya ajak kita berpikir, kalau di sakumu ada uang $100 itu berarti sdr memberi persembahan $2. Pernahkah sdr memikirkan uang koin ini keluar dari kantongmu, engkau sangat memikirkannya? Engkau jalan ke kantor, mampir ke cafe beli kopi latte $4, apakah engkau sangat memikirkannya? Tidak, bukan? Naik bus $6, engkau tidak memikirkannya. Kemarin lunch, harga makanannya $15, lalu hari ini mau makan ramen $18, naik expenses $3, apakah sdr pikirkan? Itu berarti sebetulnya $2 coin ini tidak ada harganya. Tetapi statistik itu bilang dari uangmu $100 engkau memberi persembahan buat Tuhan hanya $2. Inilah takaran yang engkau beri, inilah hartamu yang engkau simpan di sana. Seriuskah?

Mulai dari sekarang, tolong pikir dan ajarlah anak-anakmu bagaimana memberi persembahan sepatutnya di dalam ibadah di Sekolah Minggu mereka, dan dari situ sdr mengajarkan mereka prinsip dan hal-hal lain yang lebih penting. Ajarkan kepada mereka bagaimana mendukung pekerjaan dan pelayanan Tuhan. Pada waktu kita membeli untuk Mission Week Project, kasih tahu anak kita, kita mau beli ini untuk anak yang kurang mampu untuk kebutuhan sekolah mereka. Dengan begitu mereka belajar apa arti memberi dan jadikan itu sebagai project pribadi mereka. Ajarkan itu kepada anak-anak kita dari sejak mereka masih kecil. Jika tidak, hanyalah sebuah pertobatan radikal yang Tuhan kerjakan dalam diri seseorang sanggup bisa merubah orang yang egois menjadi murah hati. Tetapi mulai daripada pendidikan di rumah kita menaruh satu fondasi yang baik di dalam hati mereka sampai mereka besar. Pernahkah sdr berpikir anakmu di sekolah minggu memberi persembahan selama 10 tahun sdr tidak merubah uang koin yang sdr kasih kepada mereka? Sekali lagi, saya bukan bicara soal kuantitas banyak, gereja membutuhkan atau apa tetapi bicara soal bagaimana sdr menata hubunganmu dengan Tuhan. Jikalau isterimu itu cinta Tuhan, dan dengan generus mengasihi Tuhan dan berbagian dalam pelayanan dan pekerjaan Tuhan, itu semua milik dia, tidak bisa share sama suami. Dia akan kaya di surga, engkau miskin di sana, itu milik dia. Itu harta dia yang tidak bisa direbut oleh orang lain. Kita kumpulkan segala macam lalu kita jadikan itu “atas nama” kita, Yesus bilang: No! itu bukan kamu punya, itu dia punya. Ingat, harta itu tidak akan diambil daripadamu, tidak ada orang yang bisa rebut dan ambil. It is about you and God. Dan itu yang Yesus katakan, kumpulkanlah harta bagimu di surga dimana ngengat dan karat tidak bisa merusaknya dan pencuri tidak bisa mencurinya dan itu akan menjadi hartamu yang tidak ada habis-habisnya.

Hari ini pulang dan renungkan beberapa hal ini. Kita bicara soal bagaimana hidup kita puas di dalam Tuhan. Tuhan tidak larang engkau punya keinginan. Tuhan tidak pernah melarang engkau mau menjadi orang kaya di dalam dunia ini. Tuhan tidak larang engkau maju dan maju terus. There is no problem with that desire. Tuhan hanya beri warning kita tidak boleh punya evil desire. Let us have pure desires. Kiranya Tuhan berkati dan pimpin kita semua. Milikilah hidup yang dipuaskan karena kita mengerti apa artinya the true riches di dalam Tuhan. Biarlah hari ini kita berkata kita mau kaya dengan harta Tuhan. Kiranya Tuhan melimpahkan kekayaanNya yang indah kepada setiap kita. Biarlah mengalir segala kekayaan surgawi, bijaksana, kemurahan, damai sejahtera, sukacita, perbuatan yang baik, penuh kasih, pelayanan yang sungguh, dedikasi yang dalam, hormat dan kemuliaan bagi nama Tuhan selama-lamanya. Kita tahu satu kali kelak semua yang kita berikan akan kita dapatkan kembali lipat ganda di dalam kemuliaan dan sukacita bersama Tuhan dalam kekekalan selama-lamanya.(kz)