Beban dari Tuhan itu Ringan

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Life Lessons from Jesus [2]
Tema: Beban dari Tuhan itu Ringan
Nats: Matius 11:16-30

Hari ini kita kembali akan belajar “Life Lessons from Jesus” belajar pelajaran hidup daripada Tuhan kita Yesus Kristus. Ia yang pernah ada dan hidup dalam dunia ini, apa yang Ia kerjakan dan lakukan, apa yang menjadi perkataanNya kiranya boleh menjadi contoh teladan di dalam hidup setiap kita.

Yesus berkata, “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan” (Matius 11:28-30). Betapa indahnya kalimat yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ini. Satu kalimat yang menyentuh hati setiap kita sekaligus merupakan satu kalimat yang paradoks daripada Tuhan Yesus. Kalimat paradoks pada waktu diucapkan kita melihat seolah ada pertentangan logika di dalam kalimat itu dan kita bertanya-tanya apakah benar maknanya bertentangan seperti yang kita asumsikan? Itu adalah kalimat paradoks. Untuk mengerti kalimat paradoks dari Tuhan Yesus Kristus kita perlu menelusuri dan memikirkan dalam-dalam maknanya. Apa maksud Yesus di sini? Bukankah kalau makin berat beban itu, bagaimana bisa ringan dan enak bagi kita? Dan yang ke dua harus kita perhatikan, waktu Yesus memberikan kalimat ini, Ia tidak menjanjikan bahwa kita akan bebas dari segala beban; bahwa kita akan stress-free, bebas dari segala tekanan kehidupan. Yesus tidak bicara seperti itu. Ia tidak berkata: Datanglah kepadaKu maka segala beban dan persoalanmu akan hilang lenyap. Lalu, apa arti kalimat perkataan Yesus ini?

Mungkin saya coba memberikan ilustrasi untuk menjelaskan apa yang dimaksud seperti pada waktu kita mulai memasuki masa menjadi ayah dan ibu untuk pertama kali. Sedikit berbeda dengan di Indonesia, ada banyak yang bisa membantu kita dari ibu mertua sampai pembantu dan suster, di sini semua harus dilakukan sendiri, memberikan susu dan mengganti popok, siang dan malam melakukan semua ini. Kadang melewati fase awal-awal bulan pertama di situ mungkin baru kita bisa mengerti apa artinya kita melakukan pelayanan, memberikan segala sesuatu dan mengorbankan banyak hal dan orang yang kita layani itu tidak membalas kembali dan tidak memberikan respon gratitude yang selayaknya, namun tetap itu tidak menjadikan kita kecewa dan marah. Berbeda kalau sdr kerja di perusahaan atau kalau kita berinteraksi dengan orang lain, ada unsur take and give di situ. Kita bisa menjadi kecewa dan cape hati ketika kita merasa kita sudah memberi begitu banyak kepada orang itu, begitu banyak kita berkorban bagi perusahaan, tetapi kita mendapatkan hal yang tidak sebanding dengan apa yang sudah kita berikan. Itulah sebabnya semakin berat beban di situ, semakin lelah hati kita dan semakin tidak enak menjalaninya. Tetapi bagaimana kita memahami di dalam beratnya beban itu, ada rasa senang, puas dan sukacita, kita berubah menjadi seorang yang lebih sabar, lebih tahan, lebih punya pengorbanan diri karena pengalaman punya bayi, tidak bisa diprogram. Dia bisa bangun kapan saja, minta minum teriak harus dapat saat itu juga. Tengah malam harus ganti popoknya, sekalipun begitu mengantuk kita harus bangun. Bayi itu terus menuntut perhatian dan pelayanan dari kita, tidak ada hari istirahatnya 24/7 dan tidak ada kata tunggu. Begitu dia mulai menangis sdr harus mulai menebak apa yang menyebabkan dia menangis: lapar? haus? sakit? perlu ganti popok? kepanasan? kedinginan? cape? mengantuk? kita harus segera temukan jawabannya, sebab kalau tidak dia akan semakin keras menangis. Dia adalah bayi yang tidak berdaya dan menuntut kita merawat dia, bukan satu dua hari tetapi sampai satu dua tahun, sampai dia menjadi besar dan bisa mandiri sendiri. Cape, tidak? Ada masanya sdr ingin bilang, saya mau cuti dari memelihara dia. Tetapi tidak bisa, bukan? Tetapi cape yang penuh dengan tuntutan berat seperti itu akan sirna dan hilang seketika saja ketika sdr melihat selesai dia minum dan kenyang, bayi itu tersenyum kepadamu. Selesai semua kelelahan kita. Maka ibu itu akan bilang, sekalipun cape mengurus anak, tetapi begitu lihat senyuman dan tawanya, langsung semua kesusahan saya menjadi hilang dan terasa ringan adanya. Itulah arti sebuah kalimat paradoks. Jadi sekalipun lelah dan cape, semua itu menjadi ringan kita jalani karena kita mendapatkan sukacita dan kebahagiaan yang lebih daripada pengorbanan kita.

Karl Marx seorang ateis pernah berkata “Agama adalah candu bagi masyarakat.” Dia menganggap semua orang yang beragama datang mencari Tuhan untuk bebas dari persoalan atau lari dari realita. Agama cuma menjadi tempat penghiburan yang semu seperti opium. Kita menolak pernyataan ini karena ada bedanya antara penghiburan dan kelegaan yang Yesus berikan kepada kita dengan orang yang memakai opium, candu atau obat terlarang narkotik untuk lari dari realita, untuk memiliki satu ilusi hidup untuk seketika waktu bebas dari problem, kesulitan dan beban hidup. Yesus tidak memanggil kita tidak punya beban hidup atau tidak peduli dengan persoalan hidup. Tetapi kita dipanggil untuk melihat beban dan persoalan hidup itu dengan satu perspektif yang berbeda, di situlah baru kita melihat beban itu menjadi ringan. Kita dipanggil melihat semua itu menjadi beban yang diberikan Tuhan kepadaku, itu adalah beban milik Kristus yang ada di dalam hidupku. Dengan merubah perspektif seperti itu, ada dua hal yang penting. Yang pertama, tidak berarti kita lepas tanggung jawab dan lari dari problem hidup, itu jelas tidak. Tetapi yang ke dua di situ kita lihat beban itu tidak akan pernah menjadi beban yang sia-sia. Jikalau itu adalah bebannya Tuhan dalam hidup kita, kita akan bawa terus sampai kita bertemu dengan Tuhan dan di situ Tuhan ambil beban itu darimu karena beban itu miliknya Tuhan dan itu akan menjadi hal yang kekal adanya.

Kita perlu membaca seluruh pasal 11 untuk memahami bagian ini lebih dalam lagi. Pusat pelayanan Yesus bukan di Nazaret tetapi di Kapernaum. Pelayanannya dicatat luar biasa, sukses, berhasil. Tetapi begitu masuk di pasal 11 ini kita menemukan nuansa yang berbeda. Di sini muncul keraguan dari seorang yang bernama Yohanes Pembaptis. Ia berada di dalam penjara lalu mengutus murid-muridnya datang bertemu Yesus dan bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Murid-murid Yohanes Pembaptis datang menyampaikan keraguannya atas apa yang Yesus kerjakan dan lakukan. Hal ini menjadi hal yang seringkali terjadi. Apa yang seringkali menjadikan hati kita berbeban berat? Apa yang membuat hati kita menjadi gelisah, kuatir, takut dan kecewa? Salah satunya adalah karena kita mempunyai keraguan di dalam hati kita. Yohanesi Pembaptis bertanya: apa betul Engkau adalah Mesias yang dijanjikan itu? Kenapa Yohanes Pembaptis bertanya demikian? Bisa jadi selama ini dia membaca di dalam Perjanjian Lama telah membentuk konsepnya bahwa mesias itu adalah seorang yang gagah perkasa yang datang untuk melepaskan bangsa Israel dari penjajahan. Tetapi pelayanan Yesus yang dia lihat telah mendatangkan keraguan dalam diri Yohanes Pembaptis sehingga dia bertanya-tanya, apa betul begini caranya, apa betul Yesus adalah Mesias yang akan datang itu ataukah kita harus menanti orang yang lain? Yesus kemudian menyatakan kegalauanNya, “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalanMu di hadapanMu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan- jika kamu mau menerimanya – ialah Elia yang akan datang itu.” Yohanes Pembaptis adalah hamba Tuhan membawa berita mengenai Kerajaan Allah. Ia adalah nabi, yang bisa jadi di dalam kelemahannya ada up and down, dan di dalam penjara itu dia sedang down, ragu dan galau.

Lalu Yesus berkata, “Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” Orang Farisi dengan mengejek bilang Yesus itu sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka itulah teman-teman dan sahabat Yesus, kelompok orang yang dihina dan dibuang masyarakat waktu itu.

Satu hal yang menyedihkan, orang-orang Yahudi yang mengikut Dia yang seolah-olah mendengarkan dengan kagum akan pengajaranNya, Yesus menyampaikan Injil Kerajaan Allah telah datang, berbalik dan bertobatlah, ikut jalan Tuhan. Yesus menggambarkan mereka seperti anak-anak yang bermain kawin-kawinan di pasar. Apa lagi yang bisa dikerjakan dan dilakukan? Tidak mau menari, tidak mau menangis, lalu maunya apa? Jikalau mereka mendengarkan berita penghiburan, hati mereka tidak disentuh oleh berita itu. Mereka ingin mendapatkan berita teguran tetapi teguran itu tidak mendatangkan perubahan kepada hidup mereka. Mereka ingin mendengar berita sukacita, mereka tidak mengalami sukacita itu memenuhi hati mereka. Dan pada waktu Allah menghukum, hati mereka juga tidak berbalik dan menangis, bertobat dan mencari Tuhan. Mereka tidak peduli kepada berita yang disampaikan; yang mereka persalahkan adalah para pembawa beritanya. Di sini kita belajar satu prinsip penting: ikut Yesus bukan sekedar dengar dan lihat. Sudah banyak nabi-nabi yang berseru, sudah banyak mujizat yang dilakukan di depan mereka. Yang Yesus inginkan dan bicara di sini ikut Dia, itu berarti ikutilah jalan hidupNya, jalani lifestyle yang Yesus berikan kepada kita. Sampai titik ini kita perlu mengoreksi hati kita masing-masing. Biar pada waktu firman Tuhan tiba ke dalam hati dan hidup kita, masuk di pikiran dan pendengaran kita, kita bukan hanya duduk mendengar, melihat dan menyaksikan, tetapi sungguh menjalani dan mengikuti Yesus, mengalami setiap janji firmanNya bagi kita.

Yesus mengalami penolakan yang penuh padahal Dia tidak melakukan hal yang tidak baik, bahkan terlalu banyak mujizat besar yang Yesus lakukan. Apa lagi yang kurang? Yesus mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizatNya. Kapernaum menjadi pusat pelayanan Yesus dan justru di Kapernaumlah Yesus paling banyak melakukan mujizat, tetapi di situ Yesus ditolak dan tidak ada orang yang mau percaya dan tidak mau menerima pelayanan dariNya. Namun selanjutnya Ia menaikkan sebuah doa yang luar biasa indah: “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu. Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Matius 11:25-27). Injil adalah hal yang misteri. Allah tidak membukakan pengertian, pengenalan akan Tuhan dan pemahaman Injil ini kepada orang-orang yang hebat dan pintar mempelajari Alkitab, seperti ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu tetapi Allah bukakan itu kepada orang-orang sederhana, para pemungut cukai, orang berdosa, itulah yang berkenan kepada Allah. Itulah yang saya sebut membawa beban kesusahan kesulitan Dia menjadi perspektif ilahi di dalamnya. Melihat itu adalah Allah yang dengan misterius bekerja di situ. Selalu menaruh perspektif surgawi misteri Allah bekerja dalam semua aspek hidupmu, sehingga engkau bisa melihat beban yang paling berat pun datang ke dalam hidupmu yang engkau rasa itu menjadi beban dan road block di dalam hidupmu, yang menjadi beban keraguan orang kepada sdr, yang menjadi beban yang mungkin membuatmu mengalami full rejection dari orang terhadapmu, lihat itu semua sebagai satu keindahan Allah bekerja di dalam hidup kita. Di situ engkau tidak pernah menjadi orang yang dipatahkan dan dikalahkan dengan apa yang terjadi dalam hidupmu, karena kita tahu beban yang paling besar dan yang paling berat itu yang begitu merusak kita, dosa dan kematian telah Ia angkat dan bereskan di atas kayu salib. Itu adalah kelegaan yang lebih daripada segala-galanya. Hal yang paling besar dan paling berat Tuhan sudah ambil, Tuhan telah tebus. Kita tidak akan pernah kecewa dan marah atau bersungut-sungut kepada Tuhan atas hal-hal dan beban yang lain itu terjadi dalam hidup kita. Aplikasikan dengan praktis di dalam hidup pekerjaanmu, ini bukan satu khotbah yang mengawang-awang tinggi. Yesus mengalami itu. Hal yang sama dalam hidup kita yang kita tidak boleh menganggap itu beban yang terlalu berat di dalam hidup kita. Mari kita katakan syukur kita kepadaNya karena Ia membawa kita kepada pengertian bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita tidak pernah terlalu susah dan berat. Kadang-kadang mungkin engkau merasa punya anak, membesarkan anak, membuat karirmu terhambat. Atau ada banyak beban kesulitan terjadi dalam hidup, jangan jadikan itu sebagai sesuatu yang merintangi berkat Allah di dalam hidupmu.

Yang ke dua, fokus kepada Yesus. Ia berkata: Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan” (Matius 11:28-30). Tiga hal menarik dari bagian ini, pertama, Yesus bicara mengenai kuk yang Yesus punya kepada orang yang letih lesu dan berbeban berat. Kadang-kadang pikir, kalau sdr ketemu orang yang sedang cape dan beban berat, apa yang kita beri kepada dia? Kita kasih dia kursi dan suruh istirahat, bukan? Logikanya, orang cape, letih lesu, dua hal ini yang penting buat dia. Bukan dikasih kuk tambahan. Di situ kita bicara mengenai beban itu ringan karena kita fokus melihat Yesus bukan berkata saja, Yesus bukan mengajar saja, tetapi seluruh hidup dia menjadi contoh teladan kita lihat, kita alami bersama-sama. Yang ke tiga, pada waktu Yesus mengatakan: pikullah kuk yang Kupasang, jangan berpikir bahwa kalimat itu ditujukan hanya bagi sekelompok orang-orang tertentu; itu hanya buat mereka yang masuk seminari teologi, mereka yang menjadi hamba Tuhan, mereka yang menjadi misionari, dsb. Itu adalah bagi hidup kita masing-masing. Yang ke empat, di sini kita bisa mengerti dalam konteks latar belakang jaman itu seorang petani ketika baru membeli seekor sapi yang masih muda, yang belum punya pengalaman, ketika dipakai untuk mengirik sawah selalu harus bersama berpasangan dengan sapi yang sudah senior. Jikalau dua-dua adalah sapi yang masih muda dan tidak ada pengalaman, yang terjadi adalah karapan sapi. Dua-dua akan lari kencang ke sana-sini. Pada waktu Yesus mengatakan belajarlah kepadaKu, pikullah kuk Aku, di situ Yesus berjalan bersama di sampingmu. Kita tidak mengerti, kita tidak tahu bagaimana, tiba-tiba ditaruh kuk di leher kita, lalu melihat Yesus di sebelah kita, beban itu menjadi seimbang ditanggung bersama Dia. Berjalan bersama, lalu kemudian menjadi ringan.

Pada waktu sdr dan saya menjalani hidup ini, fokuskan pikiran dan mata kita kepada Dia. Kita bukan saja bicara apa yang Yesus katakan dan ajarkan; kita bukan bicara soal apa yang menjadi mujizat yang Yesus lakukan, tetapi kita bisa melihat apa yang terjadi dalam hidup Yesus dan biar kita mengikuti setiap jalanNya dan jejak kakiNya di situ. HidupNya telah menjadi contoh yang nyata dan konkrit. Tidak heran penulis Ibrani mengatakan Yesus bisa mengerti apa yang ada dalam hidup kita sebab Ia sudah mengalaminya semuanya. Komitmen kita untuk menjadi murid Yesus Kristus tidak boleh berhenti sampai kepada mendengar dan melihat saja. Sama seperti kepada orang-orang Yahudi pada masa itu, mereka tidak kekurangan nabi datang menyampaikan firman. Firman yang baik dan benar tidak pernah menjadi firman yang merubah hidup mereka. Berapa banyak mujizat yang mereka lihat dari Tuhan Yesus, yang mereka lihat tidak membuat hati dan hidup mereka datang kepada Tuhan. Pemuridan bicara soal foolow the step, komitmen dengan sungguh, berjalan menjalani apa yang Yesus jalani dalam hidup sdr.

Yang terakhir, ada dua janji yang muncul di sini. Yesus berkata, “Belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Belajar kepada Yesus yang lemah lembut itu dalam kita berjalan mengikuti Tuhan. Seringkali kita tidak sabar dengan langkah anak kita, kita marah-marah dengan kelambatan dia, kita kecewa kepada dia. Kenapa kita tidak menyatakan kesabaran dan kelemah-lembutan kepadanya? Sekarang mari kita balik posisi: ketika kita berjalan dalam perjalanan ikut Yesus, kita mungkin dengan susah payah berjalan selangkah demi selangkah di belakangNya. Langkah kita terlalu lambat, dan kita seringkali gagal dan berhenti di situ. Namun kita bersyukur, Yesus sabar kepada kita, Ia memimpin dengan lemah-lembut.

Apa artinya setiap kali kita mendengarkan doa berkat Paulus: kiranya kasih karunia dan belas kasihan Kristus menyertai kamu? Apa itu kasih karunia, anugerah? Anugerah adalah mendapatkan berkat yang tidak selayaknya kita dapat. Belas kasihan adalah tidak mendapatkan hukuman yang sepatutnya kita dapat. Kita mungkin seperti anak kecil yang berbuat salah, hanya bisa pasrah tunggu sabetan dan pukulan rotan dariNya, tetapi yang kita terima adalah encouragement dan kesempatan ke dua dari Yesus. Puji Tuhan! Ikut Tuhan, kita bertemu dengan grace and mercy dan kelemah-lembutanNya. Jikalau Tuhan Yesus begitu sabar menghadapi kegagalan kita, mari kita juga belajar memiliki kelemah-lembutan ini, belajar untuk mengasihi dan mengampuni diri kita yang kadang-kadang tidak sampai kepada plan dan itu tidak pernah menjadi sesuatu hal yang gagal di mata Tuhan tetapi Tuhan punya rencana yang indah di belakangnya. Marilah kita juga belajar memberikan grace, gentleness, mercy, and kindness kepada orang-orang yang ada di dalam hidup kita.(kz)