Bahaya Ragi Farisi

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Life Lessons from Jesus [4]
Tema: Bahaya Ragi Farisi
Nats: Lukas 11:37-54, 12:1-5

Yesus mengawali pengajaranNya dalam Matius 5-7 dengan kalimat ini: “Aku berkata kepadamu: jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Matius 5:20). R.C. Sproul, seorang teolog, pernah mengatakan ini adalah kalimat peringatan Yesus yang paling diabaikan dan yang dipandang enteng oleh orang Kristen dewasa ini, terutama karena kita menganggap kita dibenarkan hanya oleh beriman kepada Kristus maka dengan sendirinya kita mempunyai kebenaran yang jelas berbeda dengan orang Farisi. Orang Farisi adalah orang-orang yang mencari kebenaran dengan perbuatan, dengan menunjukkan moralitas yang baik, melakukan seluruh syariat-syariat agama yang dituntut oleh Perjanjian Lama dan mempertontonkan kepada orang lain bahwa mereka adalah orang-orang yang suci. Itu adalah mencari kebenaran dengan perbuatan baik. Sebagai orang Kristen, bukankah kita telah dibenarkan bukan dengan perbuatan diri sendiri tetapi karena kebenaran Kristus telah menjadi milik kita. Itu sebab kita katakan kebenaran kita berbeda dengan kebenaran orang Farisi. Dengan pandangan seperti ini akhirnya kita mengabaikan peringatan Yesus yang luar biasa dari ayat ini.
Mari kita pikirkan: bagaimana kita dibenarkan? Kita dibenarkan bukan dengan kebenaran kita sendiri melainkan dengan kebenaran Yesus Kristus. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana saya tahu bahwa saya memiliki kebenaran Kristus yang menyelamatkan itu? Apakah pengakuan seseorang percaya Yesus itu sudah menjadi jaminan bahwa dia memiliki iman yang menyelamatkan? Apakah bisa jadi orang itu sebenarnya menipu dirinya sendiri, dia mengaku memiliki iman yang sejati padahal sebenarnya tidak? Ini adalah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Satu bukti bahwa pengakuan imanku kepada Yesus Kristus adalah pengakuan iman yang otentik akan nyata oleh perbuatanku. Seperti Yesus berkata: setiap pohon dikenal pada buahnya. Lukas 6:43-45, “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Di situ Yesus memperlihatkan kepada kita, pengakuan bahwa kita adalah pengikut Kristus tidak berhenti sampai di mulut saja tetapi dibuktikan dengan hidup yang berbuah.

Ketika Yesus berkata: waspadalah dengan bahaya ragi Farisi, kita mesti dengar peringatan itu baik-baik. Orang Kristen dan gereja peka sekali melihat serangan-serangan yang datang dari luar kepada iman Kristen, bukan? Ketika ada legislasi daripada pemerintah untuk melegalkan aborsi atau pernikahan sesama jenis, misalnya, atau melarang pembangunan gedung ibadah, atau membatasi beberapa aturan-aturan terhadap aktifitas gereja, kita peka dan sadar akan hal itu. Ketika ada propaganda-propaganda seperti itu kita segera bereaksi sadar dan waspada lalu kita mulai memikirkan bagaimana melindungi anak-anak kita. Itu hal yang penting sekali. Kita harus waspada, kita harus hati-hati. Tetapi kita tidak boleh hanya berhati-hati terhadap serangan dari luar. Ketika Yesus bicara mengenai ragi Farisi di situ Ia memanggil kita untuk harus berhati-hati terhadap ketidak-murnian dan kemunafikan yang ada dalam kehidupan kerohanian dan dalam Kekristenan.

Dalam Alkitab “ragi” adalah simbol dari hal yang tidak murni atau dosa, atau hal yang bisa menciptakan hal-hal yang tidak baik. Secara penampakan luar, ragi mirip dengan tepung sehingga sulit dibedakan. Namun ketika tepung tercampur ragi sedikit saja, maka tepung itu akan mengembang berlipat-ganda. Yang ke dua, ragi itu sekalipun sedikit, bisa merusakkan satu adonan yang begitu baik.

Pada waktu Yesus mengatakan “jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga,” mari kita berpikir orang Farisi dan ahli Taurat adalah kelompok orang yang secara eksternal kelas menunjukkan hidup kerohanian mereka lebih tinggi daripada orang biasa. Dilihat dari sudut pandang seperti itu, dapatkah tingkat kerohanian kita lebih tinggi daripada mereka?

Pada waktu ditanya bagaimana kita menjadi orang Kristen yang baik, yang bertumbuh secara rohani, bagaimana kita mendewasakan hidup rohani kita, pasti jawaban yang sdr dapat adalah: baca Alkitab secara rutin, berkorban di dalam persembahan dan pelayanan, melayani sebagai misionari atau penginjil di satu tempat, pergi memberitakan dan membawa ajaranmu kepada orang lain, menjadi orang Kristen yang rajin berdoa, dsb. Bukankah semua aktifitas-aktifitas rohani ini yang terlihat di dalam diri orang Farisi?

Lukas 11:37-54 mencatat Yesus menegur orang-orang Farisi konteksnya berawal dari peristiwa Yesus diundang makan oleh seorang Farisi dan Yesus tidak mencuci tangan. Lalu di situ Yesus mengatakan kenapa hanya melihat apa yang kelihatan di luar? Pakai bahasa kita sekarang, engkau terus melihat apakah dia cuci tangan atau tidak cuci tangan, apakah dia berdoa tutup mata atau tidak, pakaiannya koq tidak sopan, duduknya koq tidak tegak berarti tidak hormat sama firman Tuhan. Jangan seperti itu. Kita dengar firman Tuhan bukan cara mendengarnya, tetapi yang lebih penting hati itu dirubah atau tidak. Sehingga Yesus mengingatkan apa yang membuat najis bukan yang dari luar masuk ke dalam tetapi apa yang dari dalam keluar, perbendaharaan kata-kata kita keluar dari hati kita. “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang. Karena apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:11,18).

Lukas 11:42 “Tetapi celakalah kamu hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Menjadi orang Kristen apa yang dituntut daripadamu? Mari kita rajin dan setia di dalam memberi. Perhatikan apa yang dilakukan oleh orang Farisi di ayat ini, sampai sedetil itu pemberian mereka. Jelas berarti dari sudut pandang kesetiaan orang Farisi dalam memberi persembahan seperti itu, tingkat kerohanian kita tidak mungkin sampai di situ. Tidak mungkin.

Lukas 11:43 “Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.” Di setiap tikungan dia jalan berhenti sebentar untuk berdoa di situ mempertontonkan attitude spiritualnya. Sebenarnya dia tidak perlu melakukan hal itu, dari jubahnya saja sudah ketahuan dia orang beragama.

Dalam Matius 23:15, Yesus berkata, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.” Mereka begitu giat, mereka rela pergi menyampaikan ajaran mereka ke mana-mana. Mereka akan berusaha sekuat tenaga meyakinkan orang itu sampai dia mengikuti ajaran mereka tetapi setelah itu mereka membuat orang itu menjadi orang yang sama sekali tidak mau percaya Tuhan.

Mari kita melihat peringatan Tuhan Yesus ini juga adalah peringatan bagi kita. Sedih, kita akui, ada terlalu banyak orang-orang Farisi di tengah Kekristenan dan umumnya itu adalah orang-orang yang menduduki jabatan yang penting di dalam gereja. Tidak jarang itu adalah hamba Tuhan yang ternama dan terkenal, yang begitu fasih dan pandai menyampaikan firman Tuhan sehingga banyak orang tersentuh dan akhirnya bisa datang kepada Tuhan karena pelayanan dia, tetapi semua kalimat yang diucapkan dari mulutnya tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Yang ada hanyalah jubah agama saja. Dia mengajarkan orang untuk bagaimana memiliki hubungan suami isteri yang harmonis tetapi di belakang dia adalah predator kepada wanita-wanita yang lemah iman, merusak rumah tangga orang lain, berselingkuh dengan isteri orang, dsb. Itu dilakukan oleh orang-orang Farisi dalam Kekristenan. Kita tidak menunjuk dan menyebut siapa karena semua hal itu bisa terjadi di dalam kehidupan engkau dan saya, dan kita tidak boleh memberi excuses bahwa kita adalah orang-orang berdosa oleh karena kita lalai menjalankan hidup spiritual dengan otentik seperti yang Yesus telah peringatkan. Jangan datang ke gereja hanya untuk mendengarkan perkataan pengkhotbah terkenal atau pembicara selebriti. Jangan datang untuk mengikuti orang. Selalu datang beribadah untuk mencari Tuhan. Sedih kalau melihat begitu banyak orang Kristen yang tersandung karena terlalu mengidolakan seorang pembicara besar, terlalu bersandar kepada kepopuleran seorang pengkhotbah terkenal, dan ketika orang-orang itu jatuh di dalam skandal dan kerusakan moral yang begitu besar karena mereka tidak menjalankan hidup sesuai dengan apa yang mereka katakan, kita bisa melihat betapa dahsyatnya ragi itu merusak kehidupan iman di dalam gereja. Kita menangis pada waktu kita melihat ada hal-hal yang merusak dan mengganggu kesaksian iman Kristen karena orang yang namanya agung dan keren dan menjadi pembicara besar dan hebat, mereka melakukan semua itu hanya untuk kemuliaan mereka sendiri.

Kita harus senantiasa ingat Christianity is Christ. Dialah yang kita tinggikan, Dialah yang kita beritakan, karena Dia menjalankan hidup yang sempurna, yang tidak ada cacat cela. Kita semua adalah pengikut daripada Yesus Kristus Tuhan kita. Setiap kali kita belajar “Life Lessons from Jesus Christ” itu harus menembus ke dalam hati dan merubah kita dari dalam ke luar.

Hal lain yang terlihat dari orang Farisi adalah self-righteousness mereka. Semakin belajar kitab suci, mereka menganggap diri yang paling benar, yang paling suci, berada di posis yang tinggi dan menjadi orang yang berhak mengatur dan mempersalahkan orang lain tetapi diri sendiri tidak boleh dikritik, apalagi dipersalahkan. Inilah sikap yang dinyatakan mereka pada waktu mendengar teguran dari Tuhan Yesus. Lukas 11:45 mencatat seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Dia tidak terima teguran itu. Dia menjadi marah.

Ketika firman yang benar, yang suci, sekalipun itu dengan keras menegur kita, bagaimana respon kita? Ketika ada teguran datang dari orang untuk menunjukkan kesalahan kita, respon pertobatan akan senantiasa membuat kita menjadi malu dan menyesal. Kita tidak bisa excuse di situ sekalipun kita berkata-kata tanpa pikir panjang dan tidak bermaksud seperti itu, kita tidak dalam-dalam memikirkan efek dari kata-kata dan perbuatan kita. Kita mengaku kita sudah bersalah di situ. Itu adalah respon yang sepatutnya. Ketika Daud jatuh di dalam dosa dan nabi Natan datang menegurnya, Daud berkata “aku sudah berdosa kepada TUHAN (2 Samuel 12:1-13). Dan Daud menyatakan penyesalan dan kesedihan atas dosanya di Mazmur 51. Itu adalah respon yang penting. Tetapi ketika raja Saul ditegur oleh nabi Samuel, Saul berkata, “Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN, Allahmu” (1 Samuel 15:30). Dia marah dan tidak mau dipermalukan ditegur di depan orang.

Di bagian ke dua, setelah Yesus berkata kepada murid-murid, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah” (Lukas 12:1-3). Dan Ia memberikan satu assurance kepada mereka tidak perlu kuatir dan takut kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang mempunyai jabatan dan posisi yang mungkin bisa menekan mereka bahkan mungkin bisa sampai membunuh mereka. Manusia hanya bisa membunuh tubuhmu, sehabis itu dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya Tuhan yang bisa membunuh dan melemparkan orang ke dalam neraka (Lukas 12:4-5).

Dari point ini kita belajar mengoreksi hidup kerohanian kita masing-masing, waspada akan segala bentuk kemunafikan. Engkau munafik oleh sebab engkau mempertontonkan apa yang di luar saja supaya dipuji orang, apa gunanya? Engkau beri uang dalam jumlah besar mendukung pelayanan Tuhan supaya orang melihat, apa gunanya? Saya menjadi seorang pengkhotbah menunjukkan kehebatan saya berkata-kata, apa gunanya? Saya pergi berdoa dengan satu motivasi supaya saya dikasih uang, apa gunanya? Apa gunanya hidup kita hanya mau menunjukkan bahwa kita itu adalah orang-orang Kristen yang rohani seperti ini padahal itu hanya kepalsuan dan kita lupa bahwa satu kali kelak kita akan berdiri di hadapan Allah dan di situ semuanya akan terbuka dan ter-exposed.

Mari kita tunjukkan dan perlihatkan hidup kerohanian sebagai seorang pengikut Kristus yang sejati, yang betul-betul tulus dan otentik hidup di tengah-tengah masyarakat. Saya percaya ini adalah hal yang penting sekali untuk kita pegang sama-sama sebagai anak-anak Tuhan. Kita tidak menganggap diri paling benar [self-righteous] daripada orang lain. Kiranya semua kegiatan dan aktifitas rohani yang kita lakukan membuat kita semakin rendah hati di hadapan Tuhan dan tidak menjadikan itu sebagai sebuah tontonan kerohanian. Jikalau hati kita tidak menjadi lebih peka, kita tidak menjadi lebih cinta kepada orang, kita tidak menangis bersama dengan orang yang mengalami kesusahan dan kesulitan, kita tidak menjadi orang yang sensitif dengan kejatuhan orang lain tetapi menjadi orang yang terlalu gampang menghakimi dan ketika kita berbuat salah dan kita ditegur oleh firman Tuhan, kita tidak terima teguran itu dan kita menjadi marah, itu adalah tanda-tanda dan warning penting ragi Farisi itu bisa menyelinap dan masuk merusak kerohanian kita.

Yang ke dua, di sini Yesus bicara mengenai “the cost of discipleship” istilah yang dipakai oleh Dietrich Bonhoeffer. “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan” (Lukas 12:8-12).

Dietrich Bonhoeffer menulis satu buku berjudul “The Cost of Discipleship,” Harga sebuah Pemuridan. Bonhoeffer adalah seorang hamba Tuhan di Jerman yang ditangkap dan dibunuh karena dengan terbuka menentang tindakan Nazi Hitler yang menangkap dan membunuh orang-orang Yahudi pada masa Perang Dunia ke 2. Pada saat itu banyak gereja yang justru pasif dan tidak menyatakan suara protes terhadap kejahatan Nazi hanya karena mereka adalah orang Yahudi. Sangat menyedihkan sebenarnya karena sebagai orang Kristen kita harus menyuarakan dan menyatakan sikap kita membela kebenaran dan keadilan ketika siapapun diperlakukan dengan tidak adil. Itu harus menjadi sikap orang Kristen. Bonhoeffer bilang, ketika engkau menjadi murid Kristus, Kristus memanggil engkau bersedia untuk mati. Itulah ongkos sebuah pemuridan. Dallar Willard belakangan hari menulis sebuah buku dengan judul terbalik: The Cost of Undiscipleship. Mana yang lebih mahal ongkosnya: menjadi murid Yesus atau menjadi bukan murid Yesus?

Kitab Injil pernah mencatat ada seorang anak muda yang kaya dan pemimpin agama datang kepada Yesus dan bertanya: apa yang harus dia lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal? Yesus berkata: juallah hartamu, bagikan kepada orang miskin dan ikutlah Aku. Orang itu berbalik dengan sedih meninggalkan Yesus, sebab hartanya begitu banyak (Lukas 18:18-23). Dia kalkulasi, dia merasa ongkos untuk menjadi murid Yesus terlalu besar karena dia tidak bersedia kehilangan segala hartanya untuk ikut Yesus. Sebaliknya dengan Zakheus seorang yang juga sama-sama kaya-raya dan sedang galau hatinya, namun dia mau melihat Yesus. Yesus melihat kepadanya dan berkata: “Zakheus, turunlah, hari ini Aku mau ke rumahmu dan makan bersama engkau.” Betapa sukacita yang tak terkatakan di hati Zakheus. Hari itu Zakheus ambil keputusan, dia berkata: “Tuhan, separuh dari hartaku akan kuberikan kepada orang miskin dan orang yang telah kurugikan akan kuganti empat kali lipat” (Lukas 19:1-8). Bagi Zakheus, ongkos pemuridan lebih sedikit dibandingkan dengan ongkos tidak menjadi murid Yesus.
Jangan kita menjadi orang Kristen yang abal-abal, orang Kristen KTP yang hanya mau mengaku Kristen hanya di luar saja tetapi tidak mau dimuridkan, artinya memang tidak pernah menganggap serius apa yang menjadi panggilan Yesus bagi dia. Ikut Tuhan hanya icip-icip saja, sedikit-sedikit saja, atau hanya untuk showing off, itu adalah jenis orang yang mengaku Kristen tetapi tidak pernah menjadi murid Tuhan Yesus Kristus yang sungguh-sungguh. Inilah ongkos menjadi murid Tuhan. Engkau mau menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh, rela mati tidak pernah menyangkal Dia, bahkan sampai akhir hidupmu dimiskinkan tidak ada apa-apanya, engkau tidak akan pernah menyangkal Tuhan. Saya menderita sampai akhir, saya mengalami semua itu, imanku tidak pernah goyah. Mari kita bersedia dimuridkan, mari kita bersedia bayar harga jadi murid Tuhan, karena itulah yang membuat kita bercahaya bagi dunia. Kiranya Tuhan menolong setiap kita.(kz)