Pencobaan Yesus: Kunci KemenanganNya

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Focus on Jesus [1]
Tema: Pencobaan Yesus: Kunci KemenanganNya
Nats: Matius 4:1-11

Mulai minggu ini dan minggu-minggu selanjutnya saya akan memulai seri khotbah “Focus on Jesus,” fokuslah, berpusatlah kepada Yesus Kristus dan tema hari ini: Pencobaan Yesus: Kunci Rahasia KemenanganNya.

Injil Matius mencatat di awal sebelum Yesus masuk ke dalam pelayanan, Ia mengalami pencobaan di padang gurun. Peristiwa pencobaan Yesus ini membawa kita membandingkan secara kontras antara kegagalan Adam yang pertama sebagai wakil seluruh umat manusia yang mengalami pencobaan di taman Eden dan kemenangan Yesus Kristus “Adam yang ke dua.” Kontras pertama, Adam gagal; Yesus menang. Kontras ke dua, Allah membawa Adam ke taman yang berlimpah makanan; Allah membawa Yesus ke padang gurun. Kontras ke tiga, dalam pencobaan Iblis kepada Adam dan Hawa dan juga pencobaan Iblis kepada Yesus dimulai dengan hal yang sama yaitu mengenai makanan. Di taman Eden Allah membawa Adam dan Hawa untuk melihat keindahan kebaikan Allah di dalam penciptaan; segala sesuatu yang ada di dalam taman itu, semua buah yang ada, dengan bebas dia boleh nikmati, kecuali satu: Allah melarang Adam makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Itu adalah ujian yang Allah berikan di taman Eden. Sebenarnya berada di dalam pencobaan di padang gurun jauh lebih memungkinkan untuk jatuh dan gagal, dibandingkan pada waktu kita ada di taman Eden tetapi tragis luar biasa justru di dalam kelimpahanlah Adam jatuh. Sebaliknya di padang gurun, di dalam kekurangan dan tidak ada makanan, di situ Yesus justru mengalami kemenangan. Yesus mengalami kelaparan yang sangat. Jelas sekali makanan itu adalah kebutuhan yang paling essential yang Ia butuhkan saat itu.

Pencobaan kepada Adam dan pencobaan kepada Yesus itu berangkat dari makanan, tetapi di baliknya Iblis melakukan hal yang lebih serius adanya. Kegagalan Adam bukan soal karena makan buah. Skema yang diberikan oleh Iblis kepada Adam sangat licik memperdaya Adam sampai dia jatuh dan gagal di situ. Kejadian 3:1-6 mencatat langkah-langkah yang dilakukan Iblis kepada Hawa. Pertama Iblis berkata, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Di sini Iblis memutar-balikkan apa yang Tuhan katakan. Pemutar-balikan akan apa yang Tuhan katakan itu mendatangkan kebingungan kepada Hawa. Lalu reaksi daripada Hawa adalah: ‘Tidak. Semua buah dalam taman ini boleh kami makan; hanya satu yang tidak boleh yaitu buah dari pohon yang ada di tengah taman, sebab Allah bilang jangan makan atau raba buah itu, nanti kami mati.’ Tetapi pemutar-balikan Iblis dari kalimat Tuhan itu telah membuat Hawa bertanya-tanya di dalam hatinya: kenapa ya, saya dilarang makan buah ini? Dia tidak perlu mengeluarkan kalimat ini tetapi jelas itulah tujuan dan maksud daripada Iblis sehingga Iblis kemudian melanjutkan serangannya.

Kedua, Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Kali ini Iblis bukan membingungkan Hawa dengan memutar-balikkan firman Tuhan, Iblis kemudian menyerang karakter Tuhan dengan kalimat yang terselubung. Dengan kalimat “sekali-kali kamu tidak akan mati,” di situ Iblis deklarasi: Tuhan bohong. FirmanNya bohong.

Ke tiga, dengan kalimat, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” di situ Iblis menuduh Allah melarang Adam dan Hawa makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat karena Allah mempunyai motif yang tersembunyi di balik larangan itu yaitu Dia tidak senang, Dia jealous, Dia mau menyembunyikan sesuatu; Allah tidak mau mereka sama seperti Dia tahu tentang hal yang baik dan jahat. Di balik dari semua firman yang Dia berikan, Allah punya maksud yang tidak baik. Dia justru mempunyai tujuan untuk melindungi diriNya sendiri. Iblis menyerang karakter Allah. Dari meragukan kebaikan Allah, selanjutnya menyerang karakter Allah, lalu memfitnah Allah punya maksud buruk.

Pencobaan yang serupa juga diberikan kepada Yesus di padang gurun. Pencobaan ini bukan soal makan dan minum, bukan soal kebutuhan fisik tetapi di baliknya Iblis menyerang kebaikan Allah. Pencobaan Iblis kepada Yesus sangat berbeda sekali konteksnya dengan pencobaan Adam di taman Eden. Di padang gurun selama 40 hari 40 malam Yesus lapar, haus, Dia perlu sekali makanan. Saya percaya pencobaan daripada Setan itu tidak datang hanya di akhir dari hari ke 40 saja tetapi sejak awal dia terus menekan dan memojokkan Yesus. Di hari-hari akhir itu pencobaan itu bereskalasi semakin berat. Kira-kira dialog yang terjadi mungkin seperti ini: koq tega sekali Allah BapaMu, sudah berhari-hari Engkau tidak mendapat makanan? Kenapa Engkau masih terus mau percaya bahwa Dia akan melindungi Engkau dan akan mencukupkan apa yang Engkau butuhkan? Why do You still trust Him? Padahal toh Engkau punya kemampuan untuk mengubah batu-batu ini menjadi roti dalam sekejap mata; Engkau ‘kan Anak Allah. Pakai kemampuanMu, gunakan kekuatan diriMu, Engkau bukan orang yang tidak berdaya; You have that power. Itu yang Iblis katakan di balik kalimat, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”

Dalam hidup kita, Iblis juga seringkali mencobai kita seperti ini. Dia membuat kita meragukan kebaikan Tuhan di dalam hidup kita. Persoalan kekurangan, kesulitan, sakit-penyakit, masalah makan dan minum, itu hanyalah menjadi persoalan yang men-trigger di permukaan, tetapi yang menjadi persoalan di baliknya adalah di dalam semua itu kita mulai meragukan kebaikan Allah. Kalau Allah memang baik, kenapa Dia membuat hidupmu susah? Kalau Allah memang maha kuasa, Dia ‘kan bisa menghindarkan aku dari kesusahan dan penderitaan ini? Maka pilihannya Allah itu tidak baik; atau Allah itu tidak maha kuasa? Ketika kita mulai meragukan kebaikan Allah, kita mulai meragukan semua firmanNya. Sehingga kita datang ke gereja, kita datang dengan hati terpaksa oleh karena sudah tradisi setiap minggu harus ke gereja, atau juga karena sudah kebiasaan buka Alkitab dsb, padahal mendengarkan firman Tuhan dengan setengah hati, masuk telinga kiri keluar telinga kanan, dan tidak pernah mendatangkan efek apa-apa.

Dalam kitab Wahyu 2-3 sangat penting sekali kepada gereja-gereja berulang kali Yesus mengingatkan di awal dan di akhir suratNya, “Barangsiapa bertelinga, hendaklah dia mendengar!” Masing-masing gereja itu mempunyai persoalannya sendiri. Ada yang sedang mengalami kemiskinan, kesusahan dan kesulitan; ada yang sedang menghadapi ajaran sesat yang terus merongrong mereka; ada yang ditangkap dan dianiaya, dsb. Yesus membukakan apa yang menjadi persoalan mereka tetapi sekaligus Yesus juga mengingatkan persoalannya bukan kepada persoalan itu sendiri; persoalannya adalah di dalam pendengaran mereka. Pendengaran mereka terganggu. Jelas sekali Iblis tahu pada waktu engkau sudah mulai meragukan kebaikan Tuhan di dalam hidupmu, sekalipun itu adalah firman yang baik, engkau menganggap semua itu hanya menjadi omong-kosong dan engkau tidak lagi mencintai dan menghargai kebenaran firman Tuhan itu.

Setan hanya bisa menabur benih-benih keraguan dan tuduhan kebohongan atas kebaikan Allah tetapi dia tidak bisa mendesak, atau mendorong engkau untuk mengambil keputusan dan memaksamu melakukan keinginannya. Dia hanya bisa menabur benih keraguan itu dalam hatimu. Itu adalah keputusanmu, apakah engkau mau lari menjauh dari Allah, tidak mau dengar firmanNya lagi karena engkau meragukan kebaikanNya atau justru engkau datang mendekat kepadaNya, duduk di kakiNya dan pegang firmanNya erat-erat. Setiap keputusan yang engkau ambil dalam hidupmu adalah pilihanmu sendiri. Adam dan Hawa akhirnya ambil keputusan dan makan buah bukan didorong dan dipaksa Iblis atau oleh karena mereka lapar tetapi itu berangkat dari meragukan kebaikan Allah. Sehingga mereka sudah tidak mau mendengar dan mengingat lagi apa yang Allah katakan kepada mereka.

Maka apa jawaban Yesus melawan pencobaan Iblis ini? Yesus berkata kepada Iblis, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Jangan berpikir makanan dan kebutuhan fisik adalah segala-galanya bagi hidupmu. Makanan hanya berfungsi memberikan energi supaya organ-organ tubuhmu berfungsi. Tetapi makanan bukanlah sumber hidup. Ada kebutuhan lain lagi selain kebutuhan fisik yang jauh lebih penting dan lebih esential, yaitu kebutuhan akan firman Allah, itulah sesungguhnya yang men-sustain hidup kita. Apa gunanya mulut kita penuh berlimpah dengan makan dan minum tetapi jiwa kita haus dan kering, kita kehilangan Tuhan di dalam hidup kita? Adalah lebih baik jikalau perut kita lapar dan kita tidak punya makanan bahkan sampai akhir hidup kita dalam kelaparan seperti itu namun jiwa kita penuh dengan kekenyangan oleh karena kita tidak akan pernah melupakan dan meragukan kebaikan Tuhan di situ. Memang pada waktu kita berada di tengah kesulitan dan kekurangan secara fisik, sangat gampang dan sangat mudah kita itu menyerah adanya. Daging kita begitu lemah, mudah sekali jatuh. Di taman Getsemani Yesus meminta murid-muridNya untuk menemani dan berjaga-jaga dengan Dia, tetapi mereka jatuh tertidur. Yesus berkata, “Petrus, tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam saja dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:40-41). Mata Petrus dan murid-murid sudah begitu berat maka kebutuhan yang penting dan perlu buat dia adalah tidur. Di padang gurun, perut Yesus lapar dan jelas yang paling Dia butuhkan adalah segera makan tetapi Yesus tidak melakukan itu. Pada waktu Ia berkata “I trust His Word,” pertanyaan saya: apakah Yesus segera mendapatkan makanan saat itu juga? Jawabannya tidak, bukan? Tetapi di tengah Ia lapar, Ia justru mendekat kepada Allah. Sebaliknya, isteri Ayub berkata kepada Ayub, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya” (Ayub 2:9-10). Bagi isteri Ayub, buat apa masih percaya Allah? Tinggalkan Dia! Kutukilah Dia! Dengan kalimat, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah,” Yesus me-reverse balik; tidak peduli bagaimana keadaanKu, sekalipun hari ini Aku lapar dan tetap akan lapar, sekalipun Aku berdoa, roti itu tidak datang, Allah tidak datang melindungi dan memberikan penghiburan, firmanNya tetap memimpin hatiKu melewatinya. Jadi bukan saya dapat dulu baru saya mau percaya kepadaNya. Di sini kita bisa belajar dari kunci kemenangan Yesus terhadap pencobaan yang Ia alami. Dalam keadaan yang begitu berat dan sulit, dalam keadaan lapar dan dahaga, Ia memperlihatkan apa yang terpenting dan terutama di atas semua kebutuhan fisik ini, mencintai dan menjadikan firman Allah yang terutama dan utama bagi hidupNya. Firman Allah itu adalah suci, benar, adil, dan patut kita pegang erat-erat.

Berapa sering di tengah kesusahan dan kesulitan yang kita alami, kita mungkin mencoba berdoa kepada Allah tetapi pergumulan dan persoalan itu tidak pernah hilang dalam hidup kita. Akhirnya kita kecewa, hati kita makin susah, kita tidak lagi datang ke gereja, kita tidak mau lagi dengar firman Tuhan, ataupun kalau kita dengar, kita tidak lagi percaya kepada firman itu. Kita abaikan saat teduh dan kita tidak lagi membaca Alkitab; kita bilang semua itu tidak ada gunanya, karena apa yang kita baca dan kita dengar itu tidak memberikan solusi, tidak memberikan jawaban dan tidak menyelesaikan persoalan. Benar, saya setuju, dalam arti kata Alkitab tidak serta-merta menjawab persoalan dan kesulitan kita. Tetapi ini yang saya alami secara pribadi, pada waktu saya mengalami begitu banyak hal kesusahan kesulitan, hati yang gundah gulana, ada pergumulan persoalan, hati yang berat luar biasa mempersiapkan khotbah, kadang-kadang pikiran merasa susah dan berat karena ada persoalan di tengah-tengah jemaat, situasi yang kita hadapi di gereja dan juga memikirkan persoalan kalian. Kadang ada hal-hal interpersonal relationship yang mungkin juga mengganggu relasi kita. Semua itu terus terakumulasi, dan kalau terus kita pikirkan, yang muncul adalah pikiran yang lebih mumet, menghasilkan kekuatiran dan kecurigaan yang lebih besar. Dan akhirnya persoalan itu makin menjadi lebih berat karena kita tidak bisa kontrol dia terus memenuhi pikiran kita. Namun pada waktu engkau datang kepada Tuhan, engkau duduk dan teduh, berdoa dan membaca firman Tuhan, merenungkannya, firman yang datang memberikan penghiburan kekuatan kepada kita, itu akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Ya, benar firman yang saya renungkan itu mungkin tidak menyelesaikan persoalanku tetapi dia menenangkan hatiku, mendatangkan iman dan keyakinan bahwa Allah in control; firman itu memberikan penghiburan kepada kita; mengingatkan kita Allah peduli dan mengasihi kita. Hari ini renungkan baik-baik firman Tuhan ini. Ambil komitmen untuk membaca firman Tuhan, bukan sebagai sesuatu yang didorong oleh rasa bersalah, juga bukan sekedar tradisi dan kebiasaan. Membaca dan merenungkan firman Tuhan akan membuatmu selalu awas akan kehadiran Allah. Hidup rohanimu akan menjadi lebih sehat dan indah ketika hidupmu bertaut dengan firmanNya, engkau membaca dan mengalami kekuatan yang berlimpah-limpah daripadanya. Percaya dan pegang firman Allah karena itu adalah kebenaran yang akan membebaskanmu dan tidak ada kebohongan di dalamnya. Biar hati kita percaya dan diteguhkan bahwa Allah kita adalah sumber kebaikan dan tidak ada bayangan kegelapan padaNya. Senantiasa ingat serangan Iblis kepada Adam dan kepada Yesus bukan soal makan dan minum tetapi dia menyerang esensi kebaikan Allah, membuat engkau meragukan kebaikan Tuhanmu. Akibatnya engkau akan meragukan karakterNya, dan ujung-ujungnya adalah engkau akan percaya kata Setan bahwa Allah adalah pembohong sehingga engkau tidak mau lagi mendengar firmanNya. Remedy-nya, sepenuhnya pilihanmu: engkau mau lari menghindar, tidak mau lagi mendengar firman, engkau kecewa, engkau kabur dari gereja, tidak mau lagi ketemu orang, ketika firman Tuhan disampaikan, engkau menanggapinya dengan sinis, atau engkau mendekat kepada Allah. Sekalipun engkau belum mengerti, sekalipun engkau belum punya jawaban, engkau duduk diam di kaki Tuhan mendengar setiap firman yang keluar dari mulut Allah karena itu adalah kebenaran. Dan firman itulah yang membuang semua serangan Setan yang mengatakan hal yang salah tentang Allah. Ia bukan Allah seperti itu. Semakin dekat kita dengan Allah, semakin kita membaca firmanNya, semakin kita mengenal siapa Allah kita.

Hari ini juga secara praktis, mari kita waspada akan pencobaan dan godaan dari Iblis kepada kita. Mungkin godaan itu bisa datang kepadamu yaitu ketika engkau harus melawan kebohongan yang ditimpakan kepadamu. Jikalau kita disingkirkan dengan tidak fair dari company; atau gajimu diturunkan dan engkau disikut di sana-sini; ada fitnah yang disebarkan dengan tidak benar tentang engkau. Bagaimana responmu? Jelas sdr bisa marah besar, sdr bisa kecewa dan mau lari meninggalkan itu semua, bukan? Itu adalah temptation yang datang kepadamu. Falsehood yang engkau harus tanggung dan terima. Bisa jadi di situ juga sdr tidak mau lagi dengar firman Tuhan karena engkau terluka apalagi kalau itu terjadi di tengah komunitas gereja dan dalam pelayanan. Institusi gereja dan pelayan-pelayan di gereja rentan akan hal ini. Itulah sebabnya kadang-kadang hamba Tuhan harus bersiap hati dalam pelayanan, yang engkau lakukan kepada orang sudah baik-baik engkau lakukan belasan bahkan puluhan tahun, lalu tiba-tiba ketika ada hal yang tidak baik terjadi kepada orang itu, sekalipun mungkin tidak sengaja dan tidak ada intention apa-apa, semua kebaikan yang engkau lakukan bagi dia hilang seketika, karena orang itu marah kepada gereja dan kecewa kepada pendeta, dsb. Dia merasa sudah berkorban begitu banyak, merasa sukarela sudah memberikan begitu banyak, dengan cinta kasih pelayanan dan melakukan banyak hal di situ. Sejujurnya, long term ministry adalah pelayanan dimana sdr harus sustain menghadapi hal-hal seperti itu, hatred dan anger kepadamu. Dan yang terakhir, bisa jadi temptation itu adalah sdr juga digoda menjadi agent yang menebarkan kebohongan itu. Dalam hal seperti ini, buang dan cegahlah godaan itu. Jangan menjadi orang yang terlalu gampang dan terlalu cepat mengeluarkan kata-kata yang tidak punya dasar. Kita harus ingat betapa besar dan beratnya akibat destruktif yang dihasilkan dari kebohongan itu. Kebohongan yang ditawarkan Setan menyebabkan Adam dan Hawa meragukan kebaikan Tuhan. Pikirkan baik-baik. Di dalam ministry seringkali rumor, gosip dan hoaks disampaikan di gereja bisa merusak iman orang, apalagi mereka yang masih sangat baru dan muda di dalam iman mereka. Kita harus waspada akan hal ini, tolak dan hindari semua godaan seperti itu. Setiap kali berbicara, taburkanlah firman Tuhan. Hamba-hamba Tuhan di mimbar beritakan firman Tuhan dengan setia, bukan menyampaikan hal-hal yang tidak baik dan tidak benar. Jangan memakai mimbar untuk menyampaikan kesedihan, kemarahan dan kekecewaanmu, jangan memakai mimbar untuk abusive power, tetapi setiap kali berdiri sampaikan firman Tuhan dengan setia, berikan encouragement dari firman Allah kepada orang lain. Setiap jemaat juga demikian, jadikan setiap percakapan yang terjadi di gereja menjadi percakapan yang sehat, saling membangun dan menguatkan satu sama lain. Taburkanlah firman Allah yang menghibur dan menguatkan orang. Jangan menaburkan hal-hal yang tidak baik dan tidak benar kepada orang lain. Kiranya Tuhan pimpin dan berkati setiap kita pada hari ini sama-sama.(kz)