Pencobaan Yesus, Crossway or Broadway?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Focus on Jesus [2]
Tema: Pencobaan Yesus, Crossway or Broadway?
Nats: Matius 4:1-11

Ini adalah pencobaan Iblis kepada Yesus yang ke dua dari Matius 4:1-11. “Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”
Pencobaan Iblis yang ke dua ini adalah pencobaan yang luar biasa, pencobaan yang menyuruh Yesus untuk membuktikan jikalau Yesus sepenuhnya percaya kepada firman Allah, buktikan kebenarannya.

Jangan langsung terima apa yang Allah firmankan. Buktikan dulu apa yang Dia katakan benar atau tidak. Bagaimana membuktikannya? Iblis memberikan tantangan kepada Yesus naik ke atas bubungan atap Bait Allah lalu menjatuhkan diri dari sana. “Jatuhkanlah diriMu, buktikan bahwa malaikat Allah akan menatang Engkau.” Pencobaan seperti itu risky sekali. Kalau Yesus kemudian menjatuhkan diri dari bubungan atap Bait Allah dan ternyata mati di bawah sana, apa yang ingin Yesus buktikan di situ? Itu satu perjudian dengan maut terhadap meragukan firman Allah yang beresiko sangat besar luar biasa sebenarnya. Tetapi pencobaan yang diberikan oleh Iblis kepada Yesus di sini adalah pencobaan yang juga senantiasa menggoda kita untuk ikut Tuhan itu “not walk by faith, but always walk by sight.” Kita minta bukti apa yang Allah katakan itu benar.

Dalam 2 Korintus 5:6-10 Paulus berkata, “Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, – sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat – tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Paulus memberitahukan kepada kita itulah satu pergumulan di dalam realita perjalanan hidup kita, kita kadang-kadang tidak melihat apa yang Ia katakan dan sampaikan itu terjadi sehingga kita tergoda untuk meminta Tuhan, apa yang Ia katakan itu Ia buktikan sekarang juga supaya kita bisa percaya kepadaNya. Kita terbatas oleh dimensi ruang dan waktu. Tidak ada salahnya janji firman Tuhan, tetapi Allah itu kekal dan tidak terbatas oleh proses waktu. Apa yang Ia katakan mungkin tidak terjadi kepada kita saat ini dan baru setelah 10-15 tahun kemudian mungkin baru tergenapi. Kadang-kadang keterbatasan waktu itulah yang membuat kita tidak sabar dan tidak tabah untuk beriman kepadaNya.

Yang ke dua, yang lebih dalam daripada pencobaan Iblis kepada Yesus untuk membuktikan kebenaran daripada firman Tuhan, dia membawa Yesus naik ke atas bubungan puncak yang paling tinggi dari Bait Allah dan di tempat yang tinggi itu dia menantang Yesus untuk melompat ke bawah; menyuruh Dia untuk membuktikan malaikat-malaikat akan melindungiNya. Melalui pencobaan ini Iblis menyuruh Yesus melakukan sesuatu yang spektakular, untuk show off demi mendapatkan ketenaran dan popularitas, karena semua orang yang sedang beribadah di Bait Allah akan melihat. Pencobaan ini adalah sebuah pencobaan yang berusaha mengalihkan Yesus naik puncak bubungan Bait Allah untuk mendapatkan ketenaran, dan bukan naik ke atas bukit yang lain, sebuah bukit yang hina, dimana Ia akan tersendiri, ditertawakan dan disingkirkan dan di situ Allah meninggalkan Dia. Itu adalah bukit Golgota.

Tiga kali setelah pencobaan dari Iblis di sini Yesus kembali mengalami pencobaan yang sama. Ketika Yesus sudah begitu terkenal dan begitu banyak orang mengikuti Dia, ada satu moment dimana Yesus perlu tiga kali mengingatkan murid-muridNya Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit pada hari ke tiga, Petrus langsung menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Matius 16:21-23). Yesus menghardik Petrus dengan kalimat yang sama: “Enyahlah Iblis!” karena di balik perkataan Petrus mungkin maksudnya baik yaitu supaya Yesus terhindar dari malapetaka dalam kehidupannya. tetapi Yesus menghardik dia karena pikiran seperti itu bukanlah pikiran dari Allah. Petrus tidak mengetahui dan tidak mau taat kepada jalan dan rencana Allah, yaitu Yesus harus menjalani jalan salib itu. Jalan salib adalah jalan penebusan yang harus digenapkan. Bayangkan jika Yesus tidak mau menjalani jalan salib, berarti terjadi satu kontra perlawanan dari dua Pribadi, Bapa dan Anak sedang clashed, kita tidak bisa bayangkan bukan? Di situ akan terjadi perpecahan dari kesatuan Anak dan Bapa sebagai Pribadi yang utuh satu dengan yang lain. Itulah sebabnya Yesus taat menjalankan apa yang Bapa kehendaki, walaupun itu adalah jalan salib, karena hanya melalui jalan itu jalan yang Bapa rencanakan sejak kekekalan, kita diselamatkan. Iblis jelas tahu itu adalah jalan yang untuk mengalahkan dan menghancurkan dia, sehingga dia berusaha membuat Yesus tidak mengambil jalan itu supaya terjadi satu pertikaian yang besar antara Bapa dan Anak karena di situ Anak tidak menaklukkan kehendakNya kepada Bapa. Maka kita sekarang mengerti pencobaan itu adalah pencobaan yang luar biasa besar sekali karena Yesus dicobai dalam keadaan sebagai seorang manusia dengan segala keterbatasan yang ada seperti ini. Di taman Getsemani bukankah Yesus dengan peluh yang bercucuran seperti tetesan darah berkata, “Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripadaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39). Saya percaya malam itu adalah malam dimana Yesus mengalami pergumulan yang luar biasa berat dan malam itu Dia begitu tersendiri; malam itu Dia begitu lemah dan malam itu adalah malam yang paling gelap dan Iblis melakukan serangannya kembali. Dan malam itu Yesus akhirnya menaklukkan diri sepenuhnya, “Ya BapaKu jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu” (Matius 26:42). Let Your will be done on Me. Yang ke tiga, ketika Yesus naik ke atas salib itu orang yang lewat mengolok-olok Dia karena melihat tulisan “Inilah Raja orang Yahudi.” Mereka berkata: “Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu; selamatkanlah diriMu!” Demikian juga imam-imam kepala bersana ahli-ahli Taurat mengolok-olok Yesus dan berkata, “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah” (Matius 27:39-43). Dalam pergumulan yang begitu besar, dalam keadaan sakit seperti itu bukankah itu adalah pencobaan yang begitu besar yang dialami oleh Yesus? Di padang gurun Yesus lapar dan fisikNya begitu lemah, di atas kayu salib Ia menahan kepedihan dan kesakitan yang sangat. Di titik termana dalam hidupNya yang terendah itu justru serangan yang terbesar terjadi kepadaNya. Betapa gampang dan mudahnya kita jatuh dan menyerah kalah kalau itu terjadi kepada hidup engkau dan saya.

Unik pencobaan ini bagi Yesus, sebab ini adalah jalan salib, jalan yang Ia harus tempuh karena pemberontakan dosamu dan dosaku. Upah dosa adalah maut. Kita hanya bisa membayarnya dengan kematian kita dan itu adalah kebinasaan yang kekal selama-lamanya. Kematian Yesus di atas kayu salib bukan saja menanggung penderitaan dan maut bagi kita tetapi keterpisahan dengan Bapa yang selama ini tidak pernah terjadi dan itu adalah penderitaan yang paling berat yang Ia alami bagi engkau dan saya. Jalan salib itu unik bagi Yesus karena jalan salib itulah jalan dan rancangan cara Allah bagaimana memberikan pengharapan keselamatan bagi engkau dan saya.

Jalan salib yang engkau dan saya tempuh jelas berbeda dengan jalan salib Yesus Kristus. Jalan salib yang engkau dan saya tempuh adalah untuk membuktikan bahwa kita adalah murid Yesus yang sungguh. Jalan salib seperti itu tidaklah berakhir dengan kita mati di kayu salib dibunuh seperti Yesus untuk menebus dosa orang lain. Jalan salib itu bisa merupakan satu agony kesulitan yang lain, tetapi apakah pencobaan untuk lari daripada jalan salib bagi engkau dan saya juga adalah pencobaan yang akan kita tempuh dan alami? Ya. Pada waktu Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus dan meminta untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus di dalam kemuliaan, Yesus berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?” Kata mereka kepadaNya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “CawanKu memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kananKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa BapaKu telah menyediakannya” (Matius 20:22-23). Di sini Yesus bicara bahwa murid-murid juga akan melewati jalan salib yang sama, mengalami kesulitan dan penderitaan. Dan Yesus tidak bicara hal itu sebagai hal yang optional. Ia juga menyampaikan hal yang penting bagi engkau dan saya pada hari ini: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Matius 16:24). “Kristus telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu supaya kamu mengikuti jejakNya” demikian kata rasul Petrus dalam 1 Petrus 2:21. Yesus bukan saja menjadi Juruselamat dan Tuhan bagi keselamatan kita; Ia juga menjadi contoh bagi engkau dan saya hidup berjalan ikut Dia. “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Matius 7:13-14). Tuhan memanggil kita berjalan bukan di jalan yang “lebar” tetapi di jalan yang “sempit,” satu jalan dimana kita tahu ada resiko yang harus kita hadapi menjadi murid Tuhan. Di situ berarti kita siap, rela, bersedia oleh karena nama Tuhan kita mungkin juga mengalami kesusahan, aniaya, bahkan mati bagi Tuhan sebagai orang Kristen di atas muka bumi ini. Kita tahu ada ejekan, ada hinaan, ada tekanan dan intimidasi, ini adalah tantangan dan resiko yang dialami oleh orang yang percaya seperti ini.

Inti daripada pencobaan yang ke dua ini adalah mempertanyakan cara jalan Tuhan di dalam hidupmu. Apakah jalan salib itu adalah sebuah jalan yang wajib, memang ini adalah jalan bagimu? Engkau dan saya akan mengalami pencobaan yang sama seperti yang Yesus alami di dalam beberapa hal, khususnya bicara mengenai bagaimana Tuhan pimpin kita dan bagaimana cara jalan Tuhan bekerja di dalam hidup kita. Yesaya 55:8 berkata, “RancanganKu bukanlah rancanganmu dan jalanKu bukanlah jalanmu, demikianlah firman TUHAN.” Tetapi kalimat itu jangan membuat kita berpikir bahwa rancangan dan jalan Tuhan selalu berbeda dan bertolak-belakang dengan rancangan dan jalan kita. Rancangan dan jalan Tuhan bukan kontradiktif tetapi beyond, melampaui rancangan dan jalan kita. Itu dikatakan di ayat selanjutnya, “Seperti tingginya langit dari bumi demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu.” Seringkali dalam hidup kita, kita mencurigai Tuhan bertentangan dengan kita, Tuhan sedang melawan kita; Tuhan sedang tidak menyetujui apa yang kita mau. Akhirnya kita pikir Tuhan itu seperti orang tua kita yang selalu kontradiksi. Kita rasa Tuhan seperti itu, bukan? Tetapi firman Tuhan mengatakan rancangan dan jalan Tuhan digambarkan seperti ‘tingginya langit daripada bumi.’ Artinya apa? Artinya jelas bukan untuk meng-eliminir rancangan dan jalanmu, tetapi justru meng-elevated, mengangkat, meninggikan, menjadikan lebih indah melampaui atau di luar daripada apa yang kita pikirkan dan rancangkan.

Iblis bisa mencobai kita untuk mengelak, menolak dan melawan jalan dan rancangan Tuhan di dalam hidup kita. Iblis bisa mencobai kita “playing God” di dalam hidup kita, menjadikan diri sebagai tuhan; kita yang mengatur; kitalah yang merancang kehidupan kita sendiri, seperti lagu Frank Sinatra “I’ll do it my way!” Ini hidup saya, saya yang kontrol, saya yang atur, saya mampu, saya bisa plan, saya punya resources, saya punya kepintaran kemampuan, hidup saya yang atur, bukan diatur oleh orang luar, bukan diatur oleh kondisi bahkan di belakang daripada itu kita juga berpikir kita tidak mau hidup kita diatur oleh Tuhan. Saya percaya, normal kita berencana, kita berpikir dan kita pasti berpikir step-stepnya ke depan, bukan? Tetapi kita harus mengetahui walaupun kita pikir dan kita rencanakan step-step ke depan, tetap itu adalah sesuatu perencanaan dan step yang bisa jadi tidak terjadi dan kita tidak bisa kontrol, bukan? Dalam Yakobus 4:13-16 Yakobus mengingatkan kepada kita pada waktu kita berpikir kita mau mengatur, kita yang memimpin, kita mau jalan kita seperti itu, kita memegahkan diri dan kita lupa diri bahwa kita tidak boleh playing God di dalam perjalanan hidup kita. Iblis juga bisa mencobai kita untuk memaksa Tuhan untuk bekerja seturut dengan cara kita. Dalam hal ini kemudian Yesus mengingatkan kepada kita janganlah kita mencobai Tuhan. Kalimat ini Yesus kutip dari satu peristiwa yang terjadi kepada umat Israel di padang gurun, Musa berkata kepada mereka, “Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kami mencobai Dia di Masa” (Ulangan 6:16). Tuhan telah memelihara dan memimpin mereka keluar dari tanah Mesir dengan tanda-tanda ajaib dan ketika Allah sedikit waktu memperlambat menunda sesuatu, bangsa Israel tidak sabar, menggerutu dan menggusarkan Tuhan. Iblis bisa mencobai kita dengan pada waktu kita ingin ikut dan berjalan di dalam pimpinan Tuhan, bisa jadi kita mempersalahkan Tuhan ketika yang terjadi tidak seturut dengan apa yang ada di dalam jalan dan pikiran yang kita mau.

Apa yang akan terjadi jika Yesus tidak naik ke atas kayu salib? Apa yang akan terjadi jikalau waktu itu Ia memilih untuk naik ke atas puncak Bait Allah? Waktu Yesus berkata kepada Iblis, “Jangan mencobai Tuhan, Allahmu!” artinya Ia tidak mau memakai cara Iblis dan Ia menolak godaan Iblis untuk meragukan kebaikan Tuhan. Di situ Yesus menyatakan bahwa Ia takluk kepada cara, pekerjaan dan rancangan Tuhan bagiNya.

Jangan mempersalahkan Tuhan untuk setiap hal yang tidak menyenangkan terjadi dalam hidup kita. Kita mempersalahkan karena kita tidak ingat firman Tuhan telah mengatakan rancangan dan jalan Tuhan itu melampaui pemahaman dan pengertian kita. Seringkali kita tidak bisa lagi menangkap dan mendengar itu sebab telinga kita itu dipenuhi dengan berbagai macam suara yang terus bertanya ‘what if’ bagaimana seandainya jika tidak demikian, dst. Kita mempersalahkan banyak hal. Kadang kita datang kepada pendeta dan pendeta itu memberikan nasehat untuk kita ambil keputusan itu, lalu ternyata tidak menghasilkan sesuatu yang kita harapkan, lalu kita mempersalahkan dia, padahal itu tidak ada kaitannya dengan pendeta tsb tetapi karena ada faktor-faktor yang tidak terduga terjadi.

Kiranya firman Allah hari ini menjadi firman yang engkau dengar dan meneduhkan hatimu, yang memberikan kekuatan dan penghiburan karena kita menerima semua kalimat-kalimat sekalipun hari ini kita belum mengerti. Setan mungkin memintamu membuktikan apa yang engkau percaya. Setan mungkin memintamu berjalan menurut jalan dia sebab jalan Allah itu tidak sesuai dengan keinginanmu. Atau engkau bilang mau ikut jalan Tuhan tetapi itu tidak sesuai dengan apa yang engkau pikirkan engkau mungkin bisa mempersalahkan Tuhan dan banyak orang dalam hidupmu. Hal-hal itu sudah menghancurkan begitu banyak hal dalam hidup sdr. Pada hari ini saya minta, jangan biarkan Iblis tertawa karena dia berhasil menggunakan senjata pencobaan dan godaan seperti ini dalam hidupmu. Kembali lihat apa yang terjadi kepada Yesus Kristus. Sadar dan katakan kepada Tuhan, “Tuhan, saya mau berjalan dengan iman, bukan jalan dengan bukti. Rancangan dan jalanMu itu indah dan ajaib. Sekalipun saya belum lihat, sekalipun itu belum terjadi, saya percaya Engkau akan jaga dan pelihara hidupku dengan baik. Dan jikalau selama ini engkau telah begitu lama ditipu oleh Setan dalam situasi dan kondisi hidupmu sehingga engkau kehilangan damai sejahtera, engkau tidak lagi percaya kepada jalan Tuhan dan engkau meragukan Dia dan terlalu banyak yang Engkau persalahkan dalam hidupmu, hari ini saya minta buang itu semua. Ada fakta yang terjadi, hal yang keliru dan salah, hidupku harus melalui hal-hal yang berat. Ada kesulitan, ada tantangan dalam hidup keluargamu, dengan anak, dengan suami, dengan isteri, dalam pekerjaanmu engkau mengalami jatuh yang begitu dalam, dsb. biar engkau lewati itu menjadi pembentukan Tuhan. Jangan salahkan orang lain; jangan salahkan Tuhan. Engkau salahkan semua itu sebab engkau ingin menjadi tuhan dalam hidupmu. Kepada suamimu, kepada isterimu, kepada anak-anakmu, kepada orang tuamu, kepada gerejamu, kepada situasi dan yang lain, yang membuatmu berhenti daripada pelayanan, berhenti ke gereja, meninggalkan persekutuan dan engkau mempersalahkan begitu banyak hal. Itu bukan mengenai apa yang ada di luar, it is about apa yang ada di dalam hatimu. Pada waktu Yesus ingatkan: “Jangan mencobai Tuhan, Allahmu, don’t test your God” mari kita tunduk, kita katakan Tuhan, Engkau Allahku. Kalau ada bencana yang terjadi dalam hidupmu, yang membuatmu marah dan kecewa kenapa semua ini terjadi, datang kembali kepada Allah, minta kesembuhan bagi hatimu hari ini. Sekalipun jalan itu begitu sempit dan begitu berat dan jalan itu turun atau menanjak begitu tinggi, kita tidak akan pernah kecewa sekalipun itu di luar daripada apa yang kita pikirkan dan bayangkan tetapi kita mau taat dan tidak memaksa Tuhan untuk mengikuti apa yang kita mau karena jalan dan rancangan Tuhan adalah yang terindah dan terbaik kepada kita.(kz)