Damai bagi Jiwa yang Galau

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: LIFE LESSONS FROM JESUS [1]
Tema: Damai bagi Jiwa yang Galau
Nats: Matius 11:28-30, Filipi 4:7, Yohanes 14:27

Apa yang orang di luar gereja lihat menjadi karakteristik seorang Kristen? Apa ciri yang mereka lihat dari orang Kristen? Mungkin mereka lihat orang Kristen itu orang yang baik, orang yang sangat rajin, jujur, orang yang memperlakukan orang miskin dan papa dengan penuh kasih, dsb. Itu semua merupakan hal-hal yang sangat indah dan baik, menjadi sukacita pada waktu orang mengenal kita sebagai orang Kristen seperti itu adanya. Sangat sedih sekali jikalau orang di luar mendapatkan persepsi yang keliru bahwa orang Kristen adalah orang yang picik, orang yang penuh suka menghakimi, orang yang tidak mau bergaul dengan orang bukan Kristen dan menganggap hina orang-orang yang mungkin dianggap tidak sesuci mereka. Kita tidak ingin hal-hal itu menjadi label yang dikenakan kepada hidup kita sebagai orang Kristen. Kita rindu pada waktu orang melihat sikap orang Kristen di dalam menghadapi setiap situasi dan setiap tantangan dan kesulitan, di situ Allah sungguh dimuliakan dan diagungkan. Di tengah badai kesulitan dan tantangan hidup, kita tidak mencetuskan kemarahan, kesedihan dan kepahitan. Sebaliknya orang boleh melihat damai sejahtera Allah dan keteduhan hati yang melampaui akal pikiran manusia itu beserta dengan kita. Sangat sedih jikalau orang ingin mendapatkan damai sejahtera ‘inner peace’ itu mencarinya dengan melakukan yoga atau melakukan transendental meditasi atau puasa yang diberikan oleh agama Timur dan sama sekali tidak pernah berpikir bahwa konsep peace damai sejahtera itu seharusnya menjadi karakteristik daripada hidup orang Kristen. Apakah kita menjadi anak-anak Tuhan yang dipimpin oleh damai sejahtera Allah di tengah hal-hal yang tidak terduga terjadi dalam hidup kita? Adakah kita mengalami damai bagi jiwa yang galau dan di tengah gejolak yang kita alami? Calmness dan peace itu datang bukan di tengah situasi yang tidak ada persoalan; bukan di tempat yang pemandangan indah, udara yang begitu bersih, sejuk, yang membuat kita relax dan lupa dengan masalah hidup kita.

Hari ini, kita mengawali tahun ini dengan topik yang besar “Focus on Jesus” mari kita fokus kepada Yesus Kristus. Tidak ada pribadi terindah selain daripada pribadi Yesus Kristus yang kita patut lihat di tengah ombak dan badai hidup, di tengah ketidak-mengertian kita, hal-hal yang tidak pasti yang terjadi di tengah hidup kita di tahun yang lalu dan yang sedang mengintai kita di tahun ini, biar mata kita tidak melihat itu semua tetapi kita lihat kepada Yesus. Hidup kita tidak lepas dari kesulitan dan tantangan, ada banyak hal-hal di depan yang kita tidak tahu. Ini adalah masa yang saya percaya berat dan sulit luar biasa bagi begitu banyak orang. Kita masih beruntung, kita masih bersyukur kita masih bisa datang berbakti sama-sama. Di tempat-tempat lain termasuk di Indonesia, kita mendengar kabar dan berita betapa mereka masih penuh dengan kekuatiran dan ketakutan di tengah-tengah pelayanan gerejawi yang ada. Sampai kapan situasi ini berlangsung? Sanggupkah pelayanan ini survive jikalau hampir lebih daripada satu tahun tidak ada apa-apa di dalam pelayanan gerejawi kecuali online service yang mereka tawarkan dan berikan. Selebih daripada itu mereka tidak punya kesempatan untuk ibadah face to face dan tidak ada hal-hal yang bisa dilakukan, bukan? Sejak pandemi tahun lalu, anxiety, kekuatiran, kecemasan dialami begitu banyak pemimpin-pemimpin gereja, majelis-majelis gereja, karena tidak tahu apa yang harus kita kerjakan dan lakukan di dalam masa pandemi ini. Jiwa kita menjadi gelisah dan galau, kita mulai menjadi takut dan kuatir, terlebih lagi ketika di puncak daripada satu performance kita merasa kita sudah melakukan hal-hal yang terbaik lalu kemudian tiba-tiba semuanya crumbling down oleh pandemi. Ketika kita merasa semua itu adalah pelayananku, itu gerejaku, itu mata pencaharianku, itu kehidupanku, itu identitasku, itu kebanggaanku, dsb, kita akan kehilangan damai sejahtera itu. Kalau yang mendorong kita hidup dan melayani bukan Tuhan, maka segala sesuatu kegiatan kita, semangat kita, pengorbanan kita, kerajinan kita sebentar saja semua itu justru akan menjadi sumber kita bisa cekcok dan ribut dengan orang lain. Di dalam pelayanan mungkin juga kita mengalami hal-hal seperti itu. Ada hamba Tuhan atau ada majelis yang menginginkan sesuatu program, visi dan keinginan yang tidak sama, kita mungkin kita menjadi geregetan dan marah. Banyak gereja-gereja di Indonesia mungkin bertikai mengenai persoalan yang disebabkan oleh pandemi. Ada persoalan keuangan di dalamnya, ada persoalan ketakutan kehilangan members-nya. Kita tidak tahu program apa yang bisa kita tawarkan kepada jemaat, dsb. Lalu jemaat berpikir karena kita tidak bikin program, dsb jadi buat apa kita memberikan persembahan kepada gereja?

Yohanes 14 adalah bagian pengajaran terakhir Tuhan Yesus berikan kepada murid-murid pada waktu Ia sebentar lagi akan meninggal dunia, di tengah murid-murid mulai gelisah apa yang akan terjadi dengan mereka jikalau Yesus tidak ada lagi? Mulai dari pasal 13 Yesus membasuh kaki murid-murid, makan bersama, lalu panjang lebar Kristus mempersiapkan mereka, sampai doa yang terakhir di pasal 17 Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa agar Ia memelihara mereka di dalam dunia ini. “Mereka memang bukan dari dunia ini tetapi mereka masih tinggal di dalam dunia ini. Bapa, peliharalah mereka di dalam kebenaranMu”. Dan inilah kalimat yang kemudian Yesus sampaikan kepada murid-murid: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yohanes 14:27). Di tengah gejolak hidupmu yang engkau akan alami, kesusahan pelayanan yang engkau akan hadapi, damai yang Kuberikan kepadamu adalah damai yang tidak akan bisa diberikan oleh dunia ini. Dunia tidak sanggup bisa memberikan damai sejahtera seperti ini. Jangan takut, jangan kuatir, jangan gelisah hatimu. Mari kita bayangkan kalimat indah ini keluar dari mulut Yesus, seorang yang baru berumur 33 tahun. Betapa indah pribadi Yesus ini. Ia tidak memperlambat, Ia tidak mempercepat waktunya Bapa di dalam hidupNya. Yesus tanggung jawab kepada keluargaNya, Yesus bekerja dengan baik sebagai tukang kayu, Ia baru keluar mengerjakan pekerjaan BapaNya yang di surga di umur 30 tahun. Tiga puluh tahun Dia tinggal hidup bersama ayah ibu dan saudara-saudaraNya yang secara fisik manusia itu, pekerjaan BapaNya yang di surga Ia kerjakan hanya 3 tahun. Yesus berkata: hari esok punya kesusahannya sendiri; kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Matius 6:34). Hari ini adalah hari ini. Kalau kita tahu pada usia 33 tahun kita akan meninggal dunia, kita mungkin berpikir bagaimana bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya mungkin dengan pikiran supaya anak-anak kita bisa survive hidupnya. Kita mungkin berpikir apa yang harus kita kerjakan secepat-cepatnya supaya bisa menabung untuk masa depan. Yesus tidak pernah takut, Yesus tidak meninggalkan uang yang banyak kepada murid-muridNya. Yesus tidak merasa kuatir apakah cukup waktu tiga tahun training yang Dia berikan bagi murid-murid. Ada gereja yang pendeta juniornya sudah jenggotan tetap tidak diberi kepercayaan dan tanggung jawab. Kita terus bilang dia masih kecil, belum cukup pengalaman, belum siap; sampai kapan? Hal-hal seperti itu akhirnya menghambat banyak hal karena kita di-driven oleh banyak hal kita takutkan, kita tidak berani mempercayakan anak-anak muda. Kita terus suruh ikut training ini-itu dan masih kurang cukup, dst. Sampai kapan engkau bisa trust kepada generasi muda ini? Kita kadang-kadang tidak sadar kita di-driven oleh hal-hal seperti itu.

Hari ini kita akan memikirkan satu hal yang penting kita tanyakan: apakah tahun yang baru ini kita masuki dengan damai dan teduh bersama Tuhan? Damai bukan dalam arti diam merenung, tidak berbuat apa-apa, tidak peduli dengan sekitar. Ada 4 hal yang saya pikir yang terjadi dalam hidup saya dan yang saya percaya juga terjadi dalam hidup sdr ketika tidak ada damai sejahtera di dalam hidup kita. Bukan soal kita melakukan hal yang salah di situ, kita sudah mendapat pekerjaan yang baik, kita sudah memiliki hal-hal yang baik dalam kehidupanmu, sdr sudah mendapatkan apa yang engkau inginkan. Tetapi kenapa peace itu tidak ada? Yang pertama, kita bisa kehilangan damai sejahtera ketika kita kehilangan relasi yang benar dengan Tuhan. Itu adalah inti yang paling dasar seseorang kehilangan damai sejahtera.

Mungkin ada di antara sdr yang selama ini tidak punya right relationship dengan Tuhan. Hidup sdr tidak benar dan tidak beres, sdr terus bergumul akan hal itu, sdr ingin menjadi orang yang berguna dalam hidup ini. Engkau merasa hidupmu selama ini tidak ada tujuan dan makna, engkau ingin mencapai begitu banyak hal yang hampa dan sdr ingin mendapatkan apa yang ditawarkan oleh dunia ini tetapi cari di situ, sdr tidak mendapatkan damai dan kelegaan di dalamnya tetapi sdr mendapatkan cengeraman daripadanya karena itu bukan right relationship dengan Tuhan; itu adalah wrong relationship dengan dosa dan nafsu dunia ini. Ketika kita masih menaruh beban, kesalahan, dosa dalam hidup kita, ijinkan saya pada hari ini berkata kepadamu: kembali kepada Tuhan dan bertobat dari semua itu. Tidak ada damai, kecuali kita berdamai dengan Tuhan. Kembali mempunyai hubungan yang benar dengan Tuhan, bertobat dan tinggalkan dosa yang telah mencengkeram hidupmu. Pada waktu engkau berada di ambang kehancuran, jangan melarikan diri daripadaNya. Satu-satunya tempat naungan bagi jiwamu adalah kembali mempunyai hubungan yang benar dengan Tuhan dan Ia akan memberikan damai sejahtera bagimu. Tidak ada damai yang bisa datang kepada hidup kita selain datang berlutut di hadapan Tuhan, tanggalkan segala kesombongan dan kebanggaan, mengakui kesalahan dan kembali kepada Tuhan.

Yang ke dua, mungkin engkau sudah memperoleh right relationship dengan Tuhan, namun ketika ada relasi yang rusak dengan orang lain, itulah yang mengambil damai itu dari hati kita. Kenapa kita tidak punya damai sejahtera? Karena kita punya relasi yang rusak dengan orang lain; dengan isteri, dengan suami, dengan anak, dengan keluarga dan teman-teman kolega kita. Bagi saya tidak menjadi persoalan, persoalan itu salahnya dimana. Selama relasi itu semakin dekat, sebenarnya relasi itu tidak mempunyai ujung siapa yang salah. Jikalau itu adalah persoalan di antara suami dan isteri, kita tidak bisa mencari siapa yang memulai dalam persoalan itu, dan ribut cekcok saling menuduh dan mempersalahkan siapa yang mulai tidak akan pernah membereskan persoalan itu sendiri. Senantiasa ingat: you are part of the problem, but you also are part of the solving problem. Mungkin di dalam relasi dengan karyawan atau di tempat yang lain, masih bisa ditelusuri ujung awalnya siapa yang mulai. Mungkin engkau 100% di pihak yang benar dan orang itu berada dalam posisi 100% dia yang salah. Ada relasi jarak dan ada aturan yang dilanggar di situ. Cuma bedanya, kalau yang salah itu adalah boss, kamu tidak bisa menuntut dia minta maaf kepadamu. Mau tidak mau kamulah yang akhirnya minta maaf kepada dia karena dia posisinya lebih tinggi daripada kamu. Itu persoalan kita di tempat kerja dan di tempat yang lain. Tetapi sebuah relasi yang rusak akan menghilangkan damai sejahtera kita. Tidak ada cara yang lain untuk membereskan relasi itu selain engkau yang mulai merendahkan diri dengan humble datang kepada orang itu dan mengakui kita sudah salah dan minta maaf. Hal-hal seperti itu akan memberikan kelegaan dan damai sejahtera.

Yang ke tiga, Yesus pernah memberikan perumpamaan penabur, ada benih yang jatuh ke tanah yang penuh dengan semak dan onak duri dan pada waktu benih itu tumbuh, semak dan onak duri itu menghimpitnya. Yesus mengatakan itu adalah seperti firman yang tumbuh di dalam hati yang penuh dengan kekuatiran dunia ini. Apa yang sebetulnya menggelisahkan dan menggentarkan hati kita? Apa yang mencabut damai itu dari hati kita? Ketakutan dan kekuatiran dunia ini, itulah yang mencekik jiwa kita. Ada hal yang real, ada hal yang just phobia dan ketakutan yang tidak beralasan. Itu sebab mengapa disebut phobia, bukan? Padahal tidak real, tetapi begitu sdr melihat seekor laba-laba, engkau menjadi panik dan tidak bisa bernafas saking takutnya. Laba-laba itu tidak mencekikmu, tetapi phobia rasa takut itu yang mencekikmu. Banyak hal dalam hidup ini sebenarnya seperti laba-laba yang kecil. Yang membuat kita tercekik dan hilang damai sejahtera adalah kekuatiran dari dunia ini. Kita kehilangan damai sejahtera karena iri hati, didorong oleh rasa bersalah, atau didorong oleh karena komparasi membandingkan hidup dengan orang lain. Kita mau punya barang seperti mereka, kita mau kesuksesan seperti mereka, bahkan lebih daripada mereka. Apakah itu yang membuatmu kehilangan damai itu? Rasul Paulus berkata: damai sejahtera Allah melampaui akal pikiran kita, apa artinya? Damai sejahtera Allah tidaklah berlawanan dengan akal pikiran kita, tetapi melampaui akal pikiran dan pemahaman kita. Damai sejahtera Allah, damai sejahtera Kristus yang ada di dalam dirimu seperti apakah damai itu? Damai itu melampaui pengertianku.

Banyak orang datang ke gereja membawa hati yang galau, jiwa yang galau ingin diisi dan ingin dihibur dengan khotbah yang baik, mungkin dengan banyak cerita ilustrasi dan lelucon yang lucu-lucu supaya menghilangkan kegalauanmu. Tetapi sesudah itu kenapa kita masih tidak mendapatkan damai sejahtera? Karena bukan seperti itu kita mendapatkan damai sejahtera dari kegalauan hati kita. Apa gunanya saya menyampaikan khotbah yang baik sermon, tetapi itu tidak menghadirkan kehadiran Allah dengan real di dalam hidup sdr? Apa gunanya engkau datang ke gereja duduk mendengarkan khotbah yang baik tetapi khotbah itu tidak membawa engkau menghadap hadirat Yesus Kristus itu nyata dalam hidupmu? Jikalau engkau pikir hati sedang galau, hati lagi tidak enak, lagi tidak tenang, lalu engkau datang ke gereja yang menghibur dengan lagu-lagu yang enak, khotbah yang enak, dsb. atau engkau putar lagu-lagu rohani supaya bisa menenangkan hati, bukan itu solusinya. Tidak ada gunanya semua itu ketika kita tidak melihat Allah yang nyata yang berfirman, Allah yang berkata-kata melalui syair lagu dan khotbah yang disampaikan untuk memberimu damai yang sejati itu. Kenapa kita hilang damai sejahtera? Oleh karena kita mau mendapatkan semua jawabannya dari Tuhan atas persoalan yang sedang kita hadapi. Ada orang sedang galau, lalu seharian itu dengar 10 khotbah. Makin dengar, makin kacau hatinya. Kenapa? Karena dia mau mencari jawaban; mau mencari understanding. Bukan berarti khotbah itu harus tidak masuk akal. Sama sekali tidak. Tetapi kalau tidak ada jawabannya, kita makin menjadi kecewa, galau, anxiety. Firman Tuhan mengatakan damai sejahtera itu melampaui pemahaman dan pengertian. Kadang kita pikir situasi kita tidak ada harapan. Tetapi kita bukan Tuhan. Karena kita sudah berpikir 100 langkah ke depan, lalu kita pikir kita sudah tahu semua, kita tidak memikirkan ada faktor-faktor di luar yang bisa menghasilkan hal yang berbeda daripada prediksi kita. Kita tidak bisa tahu segala-galanya. Justru karena kita tidak tahu, karena kita tidak punya jawaban atas semua hal, maka kita berjalan dengan tahu Tuhan yang menopang dan memimpin di depan. Apa artinya Tuhan memelihara hidupmu? Apa artinya rancangan Tuhan dan jalan Tuhan itu melampaui jalan kita? Apa artinya semua kalimat-kalimat itu bagi engkau dan saya? Artinya adalah kita tidak punya jawaban, artinya adalah kita tidak tahu segala sesuatu. Kita begitu terbatas. Kita hanya punya persoalan seperti ini, tetapi Tuhan itu di mejaNya ada setumpuk persoalan dunia. Kalau kita suruh bereskan mana mungkin bisa? Tuhan bukan hanya bisa membereskan, Tuhan menjalin semua dengan sempurna. Mari kita serahkan semua kepadaNya dan kiranya damai sejahtera Tuhan bertahta memimpin pikiran dan hati kita. Ketika sdr ada persoalan lalu datang kepada pendeta, dan pendeta bilang aku juga tidak mengerti, sdr jadi marah. Apa yang bisa saya katakan kepada seorang ibu yang datang kepada saya bertanya: apa yang terjadi sampai anak saya lahir cacat dan meninggal juga akhirnya? Saya tidak punya jawaban bagi dia. Pak, tolong kasih saya jawaban yang memuaskan, kenapa sih saya sudah kerja baik-baik, tetapi boss tidak pernah lihat saya dan malah gaji saya diturunkan 30%? Saya tidak punya jawaban baginya, karena saya terbatas. Dan sdr juga tidak punya jawaban, apakah membuatmu kecewa, marah, gelisah, dan kehilangan damai sejahtera?

Damai sejahtera Allah itu melampaui akal pikiran kita. Kita tidak bisa mengerti, ketika kita masuk rumah sakit kanker, lalu sdr merasa terkesima dan tidak bisa berkata-kata, kenapa? Karena di rumah sakit itu sdr bertemu dengan seorang pasien yang menderita kanker stadium lanjut namun dari wajahnya selalu terpancar damai dan sukacita. Orang tidak bisa mengerti damai itu datang darimana tetapi ketika dia berdoa memuji Tuhan, kita tahu itulah artinya damai yang melampaui segala situasi dan keadaan yang ada. Kita tidak bisa mengerti, duduk bersama orang yang sakit berat di situ mendoakanmu. Kenapa dia bisa begitu damai, teduh, wajahnya bersinar dengan sukacita yang limpah? Saya tidak mengerti. Oleh karena orang itu memiliki Kristus dan damai Kristus real dan nyata di dalam hidupnya. Tetapi sebaliknya, saya bingung bertemu dengan orang Kristen yang punya segala sesuatu dalam hidupnya, tetapi setiap kali bertemu dan bercakap-cakap dengan dia, kuatir melulu. Kalimat yang keluar dari mulutnya adalah tidak cukup ini dan itu, dsb. Saya bingung ketemu orang Kristen seperti itu. Gara-gara dia punya omongan, saya jadi kehilangan damai.

Apa yang membuat damai sejahtera Allah itu hilang dari hidupmu? Pada hari ini mari kita refleksi sama-sama apa yang membuatmu kehilangan damai sejahtera Allah saat ini? Kalau engkau merasa perlu membereskan hubunganmu dengan Allah, datanglah kepadaNya, minta pengampunan dan belas kasihanNya dan bawa di dalam doamu segala pergumulanmu kepadaNya karena Ia adalah maha bijak, maha adil, maha suci, maha kasih, maha pemurah. Kalau hari ini ada relasi yang rusak dengan orang lain, inilah saatnya engkau berdamai dan membereskannya. Mungkin itu adalah pasanganmu atau orang-orang yang dekat denganmu. Jangan terus menyimpan kepahitan dan kemarahan di dalam hatimu. Ingatkan kita tidak lebih benar daripada orang lain. Jikalau kekuatiran dunia ini telah mencekik hidupmu atau engkau selalu ingin in control dan ingin selalu menggenggam erat semua dalam hidup ini sekalipun kita tahu itu tidak akan pernah memuaskan kita. Kiranya damai sejahtera Allah melingkupi rumah tangga kita, gereja dan tempat pekerjaan dan dimanapun kita berada. Damai yang sungguh-sungguh real dan nyata beserta dengan kita sekalipun situasi tidak berubah dan tidak ada jalan keluar karena kita punya Tuhan yang berkuasa dan berdaulat adanya.(kz)