Belajar Seni Melupakan Diri

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Belajar Seni Melupakan Diri
Nats: 1 Korintus 3:21- 4:7

Tema hari ini adalah “Belajar Seni Melupakan Diri” dari 1 Korintus 3:21- 4:7 kiranya membawa hati kita memasuki tahun yang baru dengan melangkah mengikuti Tuhan, menjadikan Tuhan pusat dan sentral bagi hidup kita. Mari kita awali tahun ini dengan mengatakan bukan aku yang paling penting tetapi Tuhan semata-mata yang paling penting adanya.

Paulus menulis surat ini kepada jemaat Korintus; satu jemaat yang sepatutnya bersyukur karena terlalu banyak berkat yang mereka dapatkan. Segala sesuatu berkat diperoleh mereka, status kehidupan sosial, keuangan yang mereka miliki, segala karunia, bakat, dan resources yang mereka punyai menunjukkan jemaat Korintus adalah jemaat yang sungguh diberkati Tuhan. Sepatutnya mereka itu bersyukur adanya. Bukan itu saja; jemaat Korintus adalah jemaat yang digembalakan oleh sekian banyak hamba Tuhan yang agung dan besar; Petrus, Paulus, Apolos. Seharusnya semua itu membuat mereka senang. Tetapi sebaliknya yang terjadi, semua berkat ini malah menjadi sumber perpecahan dan tidak membuat kesukaan dan kesenangan di tengah-tengah mereka. Suasana yang ada tidaklah menyenangkan. Bingung kita. Banyak berkat saja sudah mendatangkan keributan di tengah mereka, bagaimana terlebih lagi jikalau kondisi kurang dan tidak ada di dalam hidup mereka, apa yang terjadi? Di bagian ini dua kali Paulus menyebutkan problem yang ada di situ adalah sebab mereka menyombongkan diri mereka; mereka memegahkan diri dan membanggakan diri. Paulus menegur mereka, “Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya” (1 Korintus 3:21-22). Mereka membandingkan diri dengan orang lain. Mereka membanggakan diri bukan saja oleh karena mereka mendapatkan sesuatu, tetapi mereka ingin dapat lebih dan lebih lagi di dalam hidup mereka. Mereka itu lupa diri, mereka mabuk diri; merasa diri mereka yang paling penting dan menjadi utama. Itulah yang terjadi ketika kita lupa segala sesuatu datang dan berkat diberikan kepada kita itu adalah anugerah yang tidak layak kita terima. Semakin limpah berkat itu terus datang, semakin kita menjadi lupa diri dan kita berpikir kitalah pusat dan sentral di dalam segala-galanya.

Sebaliknya, di tahun yang lalu engkau mungkin kehilangan banyak hal dan itu membuatmu merasa tidak berarti; engkau menjadi marah dan kecewa, akhirnya mengurangi banyak aspek bahkan termasuk mungkin engkau tidak lagi mengambil waktu teduh, berdoa, tidak lagi datang berbakti dan bergereja karena kita menganggap waktu yang kita pakai berbakti itu bisa dipakai untuk mencari uang. Akhirnya engkau tidak ada lagi waktu untuk melihat perspektif hidupmu dari terang firman Tuhan. Apakah karena kekurangan pemasukan di tahun lalu oleh sebab masalah pandemi telah mendatangkan kekacauan, kegalauan dalam hati kita dan hanya di dalam waktu yang pendek dan sementara itu akhirnya kita tidak lagi melihat rangkaian anugerah Tuhan yang begitu besar memelihara hidup kita, akhirnya perasaan hati yang penuh dengan kepahitan dan kekecewaan. Jangan menjadikan kebutuhan fisik, kesuksesan, keinginan, menjadi pusat dan sentral dari segala-galanya.

Di dalam pendidikan kepada anak-anak kita, kita tahu ada fase dimana dia perlu mendapatkan perhatian 100% karena memang dia tidak bisa apa-apa dan bergantung sepenuhnya kepada kita di masa bayi sampai berumur 18 bulan. Itu adalah masa dimana orang tua memberikan segala perhatian, makan minum, karena dia tidak bisa melakukan apa-apa kalau tidak dijaga dan dipelihara oleh orang tuanya. Tetapi tahap ini tidak boleh terus berkelanjutan karena dia perlu belajar apa artinya independent; belajar untuk makan sendiri, belajar untuk sabar menunggu dan ada waktunya dan masanya kita mengajarkan kepada mereka apa itu “No,” apa itu “Yes,” apa itu benar, apa itu salah. Itulah tahap yang penting. Lalu tahap selanjutnya dia masuk sekolah, di situ dia tahu bagaimana berinteraksi dengan orang lain dengan benar, dan dia bukanlah sentral dan pusat daripada segala sesuatu. Tetapi seringkali kita tidak sadar karena terlalu sayang kepada anak bahkan sampai dia remaja apa saja yang dia minta, apa saja yang dia mau, kita berikan dan kita perlakukan mereka sebagai pusat dan sentral. Kita bekerja, kita bangun pagi, kita lakukan segala sesuatu dan kita jadikan anak kita itu menjadi pusat dan apa saja yang mereka minta selalu kita beri. Tanpa sadar semua kasih dan perhatian yang kita beri, segala jerih payah yang kita kerjakan dan lakukan bisa menjadi bumerang di satu waktu. Mereka tidak akan pernah menganggap itu sebagai berkat yang mereka dapat yang seharusnya membuat mereka bersukacita, tetapi justru makin membuat mereka tidak senang dan tidak suka dan tidak akan pernah puas. Dan terlebih lagi jikalau ada satu keadaan dan kondisi dimana kesusahan dan kesulitan terjadi, anak itu tidak pernah belajar apa artinya mandiri dan dewasa. Tidak heran, anak-anak yang tumbuh dalam keadaan dimanja seperti ini akan menjadi orang-orang yang sulit hidup di masyarakat. Mau menang sendiri, tidak memperhatikan orang, tidak menghargai dan mengapresiasi orang. Ketika menghadapi kesulitan, kegagalan dan penolakan, mereka akan melakukan hal-hal yang destruktif.

Dua kali Paulus ingatkan kepada jemaat Korintus akan hal itu. Setiap yang mereka punya, itu adalah berkat, itu adalah blessing. Paulus bilang, “jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1 Korintus 4:7). Hai jemaat Korintus, apa yang tidak engkau punya? Semua engkau punya. Jemaat Korintus memegahkan diri, menyombongkan diri, “human ego.” Ego mereka itu “over-inflated” seperti sebuah balon. Ego manusia, alamiah dan natural sama seperti perut kita, alamiah dan natural, setiap hari kita bangun pada waktu perut itu kosong dan lapar, segera ingin diisi, perlu makan sesuatu supaya perutnya kenyang. Ego manusia juga seperti balon yang ingin diisi. Rev. Timothy Keller mengatakan ego daripada manusia itu memiliki 4 karakteristik. Karakteristik yang pertama: empty [kosong]. Karakteristik yang ke dua: painful, mudah sekali terluka. Karakteristik yang ke tiga: busy, ingin terus diisi dan tidak akan pernah puas. Lalu yang terakhir, itu bisa hurtful di dalam hidup kita. Hati manusia kalau lapar mau terus diisi karena di situlah kita membangun apa yang menjadi identitas diri kita, tetapi apa yang kita isi di dalamnya itu bisa menyehatkan atau sekaligus bisa juga mendatangkan ego yang “bloating” dan tidak sehat. Kita membanggakan diri, menyombongkan diri dan kalau kita isi ego kita dengan sesuatu yang bukan kepuasan dari Tuhan, selama-lamanya kita tidak akan pernah puas.

Soren Kierkegaard dalam bukunya “Sickness unto Death” mengatakan manusia senantiasa mengisi sesuatu untuk mendapatkan identitas dirinya di luar daripada apa yang perlu Tuhan isi. Apa yang dia katakan tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh John Calvin: hati manusia adalah tempat untuk memproduksi berhala. “Human heart is an idol factory.” Our hearts become factories of idols in which we fashion and refashion God to fit our needs and desires. Kita mungkin tidak punya patung berhala yang kita sembah di rumah kita, tetapi John Calvin ingatkan berhala itu senantiasa ada terus-menerus dalam hati kita untuk menggantikan Allah, tempat dimana kita menaruh identitas kita, tempat dimana kita merasa bangga, tempat dimana kita merasa puas, di situlah kita menaruh pengharapan hidup kita, kita jadikan itu semua sebagai berhala yang kita sembah dan menjadi pusat di dalam hati kita. Tidak perlu ada patung berhala yang kita pajang dan sembah di rumah; John Calvin mengatakan hati kita senantiasa akan menjadi tempat untuk memproduksi berhala itu. Seperti yang Kierkegaard katakan, hati manusia itu lapar, kosong, terus-menerus membangun identitas dirinya dengan sesuatu yang ada di luar dari Tuhan.

Inilah yang Paulus katakan terjadi di dalam jemaat Korintus, problem daripada hidup kerohanian dan hidup gereja ini. Mereka punya segala sesuatu, tetapi mereka tidak pernah menjadi puas dan menganggap itu sebagai sesuatu yang patut mereka syukuri tetapi justru menjadi senjata dan alat mereka saling menyerang satu dengan yang lain, bukan oleh karena apa yang tidak mereka miliki, tetapi apa yang mereka miliki itu menjadi satu kebanggaan untuk kemudian merendahkan orang yang lain dan itu adalah jiwa dan hati yang sombong adanya. Selanjutnya Paulus katakan dalam 1 Korintus 4:3-4 sekaligus menjadi kuncinya bagaimana kita belajar untuk melupakan diri kita, “Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.” Dan di ayat 5 Paulus berkata, “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” Kata “menghakimi” di situ bukan saja kita mengerti sebagai penilaian dan koreksi dari orang, tetapi lebih tepat kata itu berarti adalah manusia senantiasa haus kepada approval dan juga applause dari orang.

Paulus katakan: aku tidak mau menjadikan penilaian dan perlakuan orang menjadi identitas hidupku. Bahkan kalau orang mengatakan engkau hebat, engkau sukses, itu tidak pernah mengganggu hidupku. It doesn’t matter. Itu semua tidak boleh menjadi ukuran bagiku. Ini adalah satu prinsip hidup yang penting sekali. Sebab ketika kritikan, penilaian yang keras dan kejam dari orang datang kepada kita; ketika kita haus akan approval dan applause dari orang, ego kita gampang sekali menjadi terluka dan akhirnya menjadi rusak dan hancur oleh sebab kita meletakkan sukses kita, diri kita, keinginan dan kemauan kita yang menjadi sentral di dalam hidup kita. Satu kali ketika “balon” hidup kita pecah, kita merasa terpuruk, gagal dan habis segala-galanya, lalu saya mau datang kepada Tuhan, saya mau bilang: Tuhan, nyatakan kuasaMu dan buktikan aku akan menjadi lebih baik, lebih hebat, lebih maju lagi supaya aku bisa buktikan kepada orang lain Allahku hebat padahal yang kita mau buktikan sebenarnya diri kita sendiri yang menjadi sentral, kita lebih penting, kita lebih hebat, dan kita hanya memakai nama Tuhan hanya menjadi alat kendaraan bagi kita. Itu tidak merubah hidupmu di hadapan Tuhan.

Paulus memakai ilustrasi yang luar biasa unik membandingkan antara dia dengan Apolos. Apolos mungkin seorang yang punya bakat, kharisma, dengan kefasihan berkhotbah dan banyak karunia sedangkan Paulus mungkin seorang yang tidak terlalu menarik secara penampilan, cara bicarapun tidak cakap [eloquent]. Tetapi dengan kontras seperti ini Paulus ingin mengajak jemaat untuk melihat bukan sosok diri pribadi dua hamba Tuhan ini yang menjadi pusat dan sentralnya. Salib Yesus Kristus haruslah menjadi pusat dan identitas. Di salib Yesus Kristus, di situlah saya di-approved oleh Tuhan sebagai orang yang tidak layak dan tidak pantas menerima anugerah Tuhan, pada waktu aku datang kepada salib dan pada waktu saya mendengar panggilan Injil, di situ saya tahu identitas saya. Sekalipun orang menyebutku tidak berarti, tidak berharga, manusia yang berdosa dan memberontak kepada Tuhan, saya telah mengalami approval dari Allah, itulah my true identity yaitu karena Dia begitu menghargai dan mengasihi aku. Berbahagialah seseorang yang mengerti identitas diri, yang mengutamakan Yesus Kristus di atas segala-galanya, Dialah yang menjadi sentral dan pusat daripada hidup ini.

Bagaimana kita menjalani hidup dengan menjadikan Kristus sebagai pusat dari hidup kita? Jikalau Yesus Kristus menjadi Tuhan dan pusat hidup kita, kita akan menjadi orang yang stabil. Pada waktu segala kasih karunia dan berkat Tuhan datang ke dalam hidup kita, kita tetap humble dan rendah hati, penuh syukur kepadaNya. Ayub yang tidak menganggap apa yang ada dalam hidupnya, harta yang begitu banyak, bahkan anak-anaknya, menjadi pusat hidupnya. Ketika semua itu tidak ada lagi, dia bilang: dengan telanjang aku datang ke dunia, dengan telanjang juga aku pergi. Allah yang memberi, Allah yang mengambil, terpujilah Allah! Segala sesuatu datang dari Tuhan dan jikalau itu semua tidak ada lagi, dia tidak pernah melihat semua itu sebagai kehilangan dalam hidup dia.

Biar hari ini kita mengatakan: hidupku ada oleh karena kasih karunia, Yesus telah mati bagiku; hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristuslah yang hidup dalamku, itulah identitas kita. Identitas itu tidak boleh dipengaruhi oleh segala embel-embel apa yang ada di sekitar kita. Kita berkelebihan, kita berkekurangan, kita tidak perlu membandingkan dengan orang lain. Pada waktu kita melihat semua itu sebagai berkat dan anugerah Tuhan, kita akan menjalani hidup kita dengan hati lega dan penuh syukur. Sebagai orang yang telah ditebus oleh Tuhan, hendaklah ini yang menjadi identitas kita dan kita ingin orang melihat kita seperti itu.

Secara praktis, ada 3 poin yang saya ingin ajak sdr lihat. Pertama, dapatkah kita berkata: siapapun kita di tahun ini ataupun di tahun yang akan datang tidaklah penting; yang penting adalah kita milik Kristus. Apapun yang kita kerjakan dan lakukan, bagaimanapun situasi pekerjaan kita, sekalipun menjalani semua dengan susah dan berat, itu bukanlah hal yang terpenting. Yang terpenting kita adalah milik Kristus, pelayan-pelayan Kristus. Jangan jadikan status kita, harta kita, karir kita, pekerjaan dan posisi kita di kantor sebagai identitas kita, menjadikan kita bangga dan sombong. Sehingga pada waktu semua itu hilang lenyap, itu tidak menghancurkan identitas kita dan tidak menjadikan kita merasa hidup ini tidak ada arti lagi. Dan jangan juga kita menjadi pahit dan kemudian ingin membuktikan kepada dunia lalu paksa diri sehingga akhirnya kita tidak akan pernah menjadi orang yang bertumbuh di dalam Tuhan. Satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah apapun yang saya kerjakan dan lakukan sekarang dalam hidupku di mana saja biar nama Tuhan yang saya muliakan selama-lamanya. Lakukan segala sesuatu bukan demi hebatnya kita tetapi kita mau memuliakan Tuhan semata-mata.

Yang ke dua jangan melihat bagaimana applause dan approval orang, tetapi kepada Allah yang memberikan penilaian dan penghakiman itu. Tidak berarti sdr dan saya orang yang tidak mau menerima evaluasi, masukan dan penilaian dari orang lain. Yang kita bicara di sini adalah jangan biarkan semua itu mengganggu hati kita. Pada waktu dia mengganggu hati kita, di situ berarti kita masih menjadikan diri kita sebagai sentral. Yang ke dua kita juga jangan jadi over-inflated oleh karena tepuk tangan dan applause orang kepada kita karena setiap penilaian orang dan setiap tepuk tangan orang kepada kita itu cuma aspek yang di luar saja. Kita menantikan pujian dari Allah karena Allah menilai hati kita.

Yang terakhir Paulus bilang, siapalah saya siapalah Apolos, kita hanyalah hamba-hamba Tuhan; kita adalah orang-orang yang dipakai Tuhan sama-sama. Setiap kita saat ini hidup kita sama-sama membangun kerajaan Allah, itu tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orang Kristen di gereja saja. Ini visi kita menjadi orang percaya, apa yang kita bisa berkontribusi di dalamnya; saya mau membangun kerajaan Allah. Pada waktu engkau dan saya membangun usaha, membangun karir dan pekerjaan, itu bukan tujuan akhir. Selalu katakan kepada Tuhan, saya mau jadikan ini sebagai alatMu yang Engkau pakai karena itu hanya alat yang sementara. Satu kali kelak semua akan selesai saat hidup kita selesai di dunia ini, tetapi kita mau membangun ini bagi kerajaan Allah. Ini visi kita; ini yang harus menuntun jalan kita ke depan. Dan saya rindu apa yang kita katakan ini] tidak hanya sampai menjadi visi kata-kata belaka tetapi sungguh-sungguh menjadi sesuatu yang kita alami dan kita hidupi.

John Newton penulis syair lagu “Amazing Grace” menulis sebuah surat sebagai seorang pendeta senior kepada seorang hamba Tuhan junior dimana isterinya sedang sekarat dan tidak ada kemungkinan bisa sembuh lagi. John Newton menulis seperti ini: Kita sering katakan kepada jemaat, kita punya Bapa, Allah yang setia, yang cukup dan yang akan melakukan segala hal yang baik bagi kita. Apa yang kita rencanakan, apa yang terhilang dari kita, Allah bisa melakukan yang terbaik di dalamnya. Kita katakan seperti itu kepada jemaat kita. Kita sering berbicara tentang Tuhan yang akan melindungi dan akan memelihara kita dari setiap penderitaan di dunia dan Ia akan gantikan dengan hal yang lebih indah lagi nanti dengan segala kemuliaan di surga. Namun janganlah terkejut jika kita perlu menjadi contoh teladan yang nyata dari apa yang kita khotbahkan dan membuktikan kepada orang-orang bahwa kita tidak mengajarkan kebenaran yang kita sendiri tidak rasakan. Sehingga kebenaran yang kita terima adalah kebenaran yang sungguh kita alami dalam hidup ini. Apa yang kita khotbahkan bukan ajaran dari buku-buku atau apa kata orang. Sekarang kamu menjadi sebuah podium kehormatan dimana semua mata tertuju kepadamu. Semoga Tuhan mampukan anda untuk memuliakan Tuhan dengan contoh teladan hidupmu yang merendahkan diri, taat kepada kehendakNya. Sungguh benar apa yang John Newton katakan. Sebagai hamba Tuhan, kita sering katakan kepada jemaat, kita punya Bapa, Allah yang setia, yang akan melakukan segala hal yang baik bagi kita. Apa yang kita rencanakan, apa yang terhilang dari kita, Allah bisa melakukan yang terbaik di dalamnya. Namun pada waktu Ia memberi kesempatan kita mengalami apa yang kita khotbahkan dan membuktikan kepada orang-orang bahwa kita tidak hanya mengajarkan kebenaran tetapi kita kita sendiri alami dan rasakan. Kita menjadi sebuah podium kehormatan dimana semua mata tertuju kepada kita, dapatkah di situ mereka melihat kita memuliakan Tuhan, kita jadikan Ia yang paling utama; bukan kepentinganmu, bukan suksesmu, bukan jabatanmu, bukan pemasukanmu, bukan posisimu? Kiranya Tuhan menolong setiap kita menjalani hidup kita di tahun ini bersama Dia.(kz)