Tahun 2020: Tahun yang Terhilang, Benarkah?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Tahun 2020: Tahun yang Terhilang, Benarkah?
Nats: Yakobus 5:7-11

Ini adalah ibadah kita yang terakhir di tahun 2020 yang secara khusus kita boleh memikirkan topik ini: “Tahun 2020, Tahun yang Terhilang, Benarkah?” Saya merefleksikan perjalanan hidup di tahun ini dan ini menjadi topik perenungan kita pada hari ini. Pada waktu awal Maret corona virus mulai masuk dan melanda di tengah-tengah kita, itu adalah saat dimana kita menutup pintu gereja dan melakukan ibadah live-streaming dan dimana-mana pandemi ini bukannya berkurang tetapi malah terus bertambah parah. Dan kita akan mengakhiri tahun ini pun juga tidak mengerti dan mengetahui kapankah pandemi covid-19 ini akan segera pergi dan berlalu; nampaknya mungkin situasi ini akan terus ada sampai beberapa waktu mendatang, kita tidak tahu. Pada waktu pandemi ini mulai merebak, saya bertanya-tanya, apakah ini menjadi sebuah “tahun Yobel” Tuhan bagi kita? Ketika kita menyaksikan dunia semakin mempunyai jurang yang besar antara yang kaya dan yang miskin; orang yang miskin menjadi begitu miskin dan melarat, orang yang kaya malah menjadi semakin kaya, di tengah hal seperti itu saya kemudian teringat kepada apa yang ada di dalam Perjanjian Lama, Tuhan Allah kita adalah Allah yang pengasih dan penyayang kepada orang asing, kepada anak-anak yatim dan janda. Ia senantiasa penuh dengan rahmat dan kasih. Kepada orang Israel sebelum mereka tiba dan masuk ke tanah yang dijanjikanNya, Allah selalu ingatkan mereka, mereka adalah orang yang pernah menjadi budak di Mesir, mereka dulunya adalah orang asing; oleh sebab itu Allah memanggil mereka untuk menyayangi dan memperhatikan orang asing, anak-anak yatim dan janda-janda yang ada di tengah-tengah mereka. Dalam Imamat 25 Tuhan memberikan perintah secara spesifik kepada orang Israel melalui Musa di gunung Sinai mengenai “tahun Sabat” dimana setiap tahun ke tujuh, mereka harus berhenti mengolah tanah dan ladang mereka dan hidup mencukupkan diri dengan apa yang ada pada mereka. Itulah tahun dimana mereka belajar bersandar hanya kepada Tuhan yang memelihara dan mencukupkan mereka. Selanjutnya setelah tujuh kali tujuh tahun Sabat, mereka harus menguduskan tahun yang kelima puluh menjadi “tahun Yobel” bagi mereka (Imamat 25:1-13). Tuhan “menginginkan” semua orang melihat ada orang-orang lain yang hidupnya lebih miskin, lebih susah dan sulit daripada mereka. Tahun Yobel harus menjadi tahun kesempatan ulang bagi mereka yang menjadi budak, kesempatan untuk mulai membangun hidup yang baru lagi di dalam perjalanan hidup mereka. Luar biasa Tuhan memberikan satu hal yang indah sekali seperti itu.

Di tengah dunia kita yang sudah begitu timpang seperti ini, kita dengan sedih harus mengakui justru di tengah pandemi ini orang yang miskin menjadi semakin miskin adanya, dan orang yang kaya malah menjadi semakin kaya raya, kekayaan mereka semakin berlipat-ganda adanya. Yang middle class mengalami struggle yang tidak ada habis-habisnya juga; yang bukannya naik justru malah turun. Ketidak-adilan, ketimpangan sosial dan ekonomi, tekanan politik kepada negara-negara yang miskin dan lemah tetap melanda. Pada waktu vaksin mulai diproduksi, pemimpin-pemimpin dunia dan pemimpin-pemimpin agama meminta perusahaan-perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin itu bukan hanya mencari keuntungan tetapi biarlah negara-negara yang lebih miskin dan tidak mampu itu boleh mendapatkan vaksin secara gratis adanya. Itu adalah hal yang penting dan panggilan yang mulia yang perlu kita kerjakan dan lakukan; kita berjuang sebagai anak-anak Tuhan karena kita tahu inilah misi Tuhan di dalam kerajaanNya. Kita tidak hanya mengerti keselamatan kita itu hanya bersifat pribadi saja, tetapi untuk menciptakan shalom di atas muka bumi ini. kita tidak boleh pasif dan diam saja di situ tetapi kita dipanggil untuk berbagian dengan apa yang ada pada kita. Kelak pada waktu Yesus datang pada kali yang ke dua, shalom itu menjadi sempurna bagi langit dan bumi yang baru, dimana Allah akan tinggal di tengah-tengah kita. Ia akan menghapus segala duka dan air mata, perkabungan dan ratap tangis, dukacita dan sengsara dan kematian tidak ada lagi (Wahyu 21:3-4). Itu yang menjadi kerinduan kita sama-sama.

Hari-hari ini pandemi juga melanda kepada kehidupan gereja di seluruh dunia. Mungkin gereja-gereja besar yang memiliki banyak resources yang besar dan keuangan yang kuat dan dana yang tidak terbatas tidak terlalu merasakan impact. Tetapi kita tahu gereja-gereja kecil, yayasan dan badan-badan misi yang kecil dan yang terbatas resourcesnya, yang hanya ditopang oleh doa dan sumbangan sukarela dari pribadi-pribadi yang tidak seberapa, di tengah situasi seperti ini pelayanan mereka mengalami hempasan yang besar, kesusahan dan kesulitan yang luar biasa.
Dari sisi seperti ini waktu kita bertanya: “Tahun 2020: Tahun yang Terhilang, Benarkah?” Jawabannya adalah “ya.” “Ya,” oleh sebab kalau kita melihat angka, statistik, data yang ada di atas permukaan, mayoritas sektor kehidupan mengalami kehilangan. Orang yang berdagang kehilangan pelanggan; kehilangan pemasukan, angka dan jumlah; kehilangan pekerjaan, dst. Kehilangan demi kehilangan juga tidak terlepas dari kehidupan orang percaya. Tahun 2020 adalah tahun yang susah dan sulit bagi setiap kita. Kita harus melangkah, kita juga berusaha sekuat tenaga dan pada saat yang sama berjalan dengan hati-hati di dalam pengeluaran dan keuangan kita untuk boleh survive melewati pandemi ini. Tabungan kita, keuangan kita, cadangan kita harus kita pakai di masa sulit ini. Tahun 2020 ini adalah tahun yang terhilang bagi kita yang kehilangan anggota keluarga yang meninggal dengan begitu cepat dan mendadak dan kita berduka dengan kehilangan itu.

Namun jikalau kita melihat dengan lebih dalam di balik semua ini, mencari apa yang Tuhan ingin dan mau nyatakan dan berbicara kepada setiap kita, kita tahu ini bukan tahun yang terhilang, karena Tuhan juga berbicara dengan jelas dan indah di tengah penderitaan dan kesedihan, Ia memberikan anugerah dan berkatNya kepada kita. C.S. Lewis berkata dalam bukunya “The Problem of Pain,” “God whispers to us in our pleasures, speaks in our consciences, but shouts in our pains. It is His megaphone to rouse the deaf world.” Di tengah kesukaan dan kelancaran, suara Tuhan mungkin hanya samar-samar kita dengar. Tetapi di tengah pandemi kesusahan suara Tuhan seperti megafon yang bisa membuat telinga kita menjadi clear dan kita bisa mendengarkan suara firman Tuhan dan itu membawa hati kita menjadi semakin percaya dan bersandar kepadaNya. Maka saya percaya tahun 2020 bukanlah tahun yang terhilang bagi kita tetapi menjadi tahun kembalinya kita “anak-anak yang terhilang” kepada Tuhan.

Ada tiga bagian firman Tuhan yang saya harap bisa memimpin hati kita sama-sama. Bagian pertama dari Yakobus 5:7-11, “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.”

Tahun 2020 bukan tahun yang terhilang pada waktu kita sadar dan senantiasa tahu apa yang terjadi dalam hidup kita itu ada masanya, ada musimnya. Itulah yang dikatakan oleh Pengkhotbah 3 dan itu juga yang Yakobus katakan di sini. Waktu kedatangan Tuhan semakin dekat adanya; kita mengalami masa dan musim di tengah penantian ini dan firman Tuhan memanggil kita untuk bersabar melewatinya. Dalam Yakobus 5 disebutkan ada “hujan musim gugur,” dan “hujan musim semi.” Ini adalah dua jenis hujan yang berbeda. Kita yang tinggal di daerah empat musim tahu akan hal ini. Kalau kita sedang di musim semi menuju musim panas, hujan turun untuk kita mulai mengolah tanah dan siap menanam. Tetapi hujan musim gugur menuju musim dingin adalah hujan yang bukan untuk menanam, tetapi hujan untuk menyuburkan dan membersihkan. Di musim gugur daun berjatuhan perlu hujan untuk membuat daun itu busuk decomposed dan menjadi pupuk yang menyuburkan tanah. Itu menjadi siklus bagi pertumbuhan yang akan datang. Yakobus memakai ilustrasi itu untuk mengingatkan ada masa kita mengusahakan dan menanam, ada masa kita berdiam dan masa kita membersihkan hal-hal yang kotor, yang tidak penting dan perlu di dalam hidup kita. Segala sesuatu ada musimnya, mengingatkan kita bukan kita yang mengontrol dan mengatur hidup ini. Pada waktu kita tahu itu adalah bagian daripada cara Tuhan bekerja dalam hidup kita, kita lihat itu bukanlah suatu kehilangan dalam hidup ini. Kemajuan teknologi dengan kecepatan dari internet, dsb. telah menyebabkan daya konsentrasi dan kesabaran kita semakin pendek. Kita terbiasa dengan pace yang cepat, dan kita menjadi tidak sabar ketika pandemi ini membuat kita harus memperlambat langkah kita. Ketika ada persoalan, kita cepat-cepat lari dan pergi. Ketika ada kesusahan, kita tidak tahan dan tidak sabar melewatinya. Kita ingin cepat-cepat keluar dari situasi seperti itu. Tidak heran seringkali di dalam situasi yang harus memproses hidup kita untuk sabar, tahan melewati berat dan susah dalam proses itu kita tidak pernah belajar di dalamnya. Dunia berjalan begitu cepat, tetapi sekaligus juga melahirkan orang-orang yang tidak sabar dan tahan terhadap tekanan dan kesulitan adanya. Namun ini adalah momen dan masa Tuhan panggil kita untuk belajar bersabar. Yakobus mengatakan yang luar biasa indah dari bagian ini bukan saja kita mendapatkan apa yang kita nantikan dengan sabar itu, tetapi ini membuat kita makin mengenal siapakah Tuhan kita. Ia adalah Allah yang penyayang dan penuh dengan belas kasihan. Dalam Filipi 4:19 Paulus berkata, “And this same God who takes care of me will supply all your needs from His glorious riches, which have been given to us in Christ Jesus.” Kita mengenal Allah bukan hanya sampai di dalam pengenalan secara teori belaka. Kalau engkau mengalami Allah yang setia memeliharamu sampai hari ini, engkau tidak akan pernah kuatir akan anak dan cucumu, selama mereka menyembah Allah yang sama di dalam hidup mereka. Paulus berani berjanji seperti ini, karena dia sudah mengalami sendiri bagaimana Allah memelihara dan mencukupkan dia; Allah yang sama akan memelihara dan mencukupkan hidupmu juga.

Yang ke dua di sini Yakobus mengingatkan, “Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu” (Yakobus 5:9). Belajarlah untuk tidak cepat-cepat menghasilkan reaksi negatif ini: sungut-sungut dan saling mempersalahkan.
Kematian dan kepergian orang yang kita kasihi secara mendadak adalah tragedi yang sangat menyedihkan dan menimbulkan griefing yang sangat dalam. Namun dalam proses griefing yang terjadi, kita bisa terus bertengkar dan saling mempersalahkan satu dengan yang lain. Blaming menghasilkan kepahitan yang luar biasa merusak hubungan satu dengan yang lain di tengah-tengah kehidupan keluarga, bahkan tidak jarang akhirnya mendatangkan perceraian. Ada masa panceklik, ada penderitaan, kesusahan, kesulitan, kehilangan pekerjaan, hal-hal yang berat, sakit yang terjadi dalam hidup kita, ada faktor kelalaian siapa yang bertanggung jawab, apa yang perlu dipertanggung-jawabkan di situ. Tetapi pada saat yang sama, kita kadang-kadang tidak bisa mendapatkan keindahan pekerjaan Tuhan di dalamnya karena kita terlalu cepat bersungut-sungut dan merasa tidak sepatutnya mengalami semua kesulitan itu, merasa itu semua adalah kehilangan yang tidak ada habis-habisnya menjadi petaka dalam hidup kita. Pada hari ini kiranya firman Tuhan ini berbicara kepada setiap kita. Tahun 2020 ada yang kehilangan besar, ada yang kehilangan sedikit. Ada yang mengalami kehilangan beruntun tidak habis-habisnya; ada anggota keluarga yang meninggal dunia, pada saat yang sama engkau juga kehilangan pekerjaan, dsb. Tetapi kita tidak boleh terhanyut oleh keterhilangan itu. Percayalah Tuhan adalah Allah yang murah hati dan penyayang, penuh dengan belas kasihan. Ia adalah Allah yang merciful dalam hidup kita, yang melalui kehilangan itu kita mengalami Allah sungguh nyata. Tuhan hanya memanggil engkau tekun bersabar di situ. Teduhkan hatimu; sekalipun situasi kelihatan impossible tetapi engkau mempunyai Allah yang melampaui situasimu.

Bagian yang ke dua, dari Yohanes 15:1-8 mengingatkan inilah masa “pruning.” Secara kasat mata, pruning berarti membuang sesuatu supaya cabang-cabang itu bertumbuh menuju kepada kedewasaan, ada satu proses yang dikerjakan secara ahli oleh Pemilik kebun anggur yang ahli itu melakukan pruning, memotong carang-carang itu. Allah kita adalah Allah yang indah melakukan pruning dengan tepat; Dia tidak akan memotong terlalu dalam sehingga mematikan carang itu; Dia juga tidak memotong terlalu jauh sehingga pemangkasan itu tidak berguna, tetapi betul-betul pas sehingga carang itu bisa mengeluarkan tunas-tunas yang baru daripada hasil pruning itu. Sinclair Ferguson dalam bukunya yang berjudul “Maturity” secara khusus membahas bagian ini. Dia mengatakan kalau kita bicara mengenai pruning dari pohon anggur, ada dua periode di situ. Periode yang pertama itu terjadi selalu di awal dan tujuan dari pruning di tahap awal adalah bukan untuk menghasilkan buah tetapi bertujuan untuk menciptakan pohon yang kuat dan stabil. Tahap ke dua dari pruning itu adalah tahap dimana tujuannya adalah untuk menghasilkan kepada kedewasaan rohani dalam hidup kita, sehingga bertumbuh dan berbuah, berdedikasi dan mencintai Tuhan mengerjakan dan melakukan dengan segenap kekuatan untuk memuliakan dan menghormati Tuhan. Maka pada waktu Allah melakukan pruning dalam situasi hidup kita, ada dua hal yang harus kita ingat baik-baik. Yang pertama, tidak ada yang namanya hal yang kebetulan di dalam pruning itu. Yang ke dua tidak ada yang “waste” sia-sia. Apakah tahun 2020 adalah a “waste” year bagimu? Absolutely not! Mari kita lihat tahun 2020 menjadi tahun pruning Allah di dalam hidup kita, supaya kita boleh menjadi orang Kristen yang stabil dan kuat dan mungkin melalui itu kehidupan Kristen kita yang tadinya “on/off” ikut Tuhan, Tuhan membuat kita makin serius dan sungguh-sungguh di dalam mengikut Dia. Kita yang tadinya bangga, kita arrogant, kita sombong, kita anggap semua buah yang indah dan sukses di dalamnya, Tuhan perlu pruning dan potong karena buah itu akan berubah menjadi racun yang akan meracuni hidupmu; yang membuat engkau menjadi semakin sombong dan arrogant, lebih percaya diri, dan tidak melihat tangan Tuhan bekerja di situ. Tuhan perlu pruning bagian itu supaya kita belajar melihat Dialah Allah yang indah dan baik dalam hidup kita.

Bagian yang terakhir, tahun 2020 tidak akan menjadi tahun yang terhilang bagi kita. Orang yang selalu merasa terhilang adalah orang yang memang senantiasa pikir diri senantiasa dapat, simpan dan tumpuk, itulah orang yang selalu akan merasa kehilangan. Tetapi orang yang terus-menerus memberi tidak akan merasa terhilang dan loss dalam hidup ini sebab dari hidupnya selalu memberi. Tetapi jikalau engkau menjadi orang yang senantiasa tumpuk dan simpan, tidak bertumbuh saja engkau rasa kurang; itulah sebabnya engkau harus selalu tumpuk dan tumpuk adanya. Tahun ini kita mungkin banyak hal berkurang; kita harus mengeluarkan dana cadangan di dalam kehidupan kita untuk pekerjaan kita dan kehidupan kita. Tetapi itu bukan berarti kita kurang, karena kita belajar menjadi orang yang seperti apa. Lihatlah kontras bedanya dua orang ini: Naomi dan Ayub. Dalam Rut 1:20-21 ketika Naomi kembali ke kampung halamannya dicatat demikian, “Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka dan perempuan-perempuan berkata: Naomikah itu? Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi, sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku. Mengpakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena Tuhan telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.” Kontras dengan Ayub, ketika kehilangan semua hal dalam hidupnya, Ayub berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku dan dengan telanjang pula aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (Ayub 1:21). Hatinya tidak menjadi pahit karena dia tahu datang tidak membawa apa-apa, kelak dia meninggal juga tidak membawa apa-apa. Seperti dalam 1 Timotius 6:7, Paulus berkata, “Sebab aku tidak membawa sesuatu apapun ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.” Orang yang seperti ini tidak akan melihat hidupnya kehilangan. Biar kita belajar dari firman Tuhan ini menjadi kekuatan bagi kita. Tahun ini tidak akan membuat kita merasa terhilang jikalau kita memang mempunyai sikap hati dan perspektif seperti ini, yaitu orang yang selalu terus-menerus memberi tidak akan pernah merasa terhilang. Orang yang senantiasa berpikir simpan dan tumpuk hanya bagi diri, orang inilah yang akan merasa terhilang. Mari kita belajar jangan tunggu dan tunda, dalam pelayanan, dalam pemberian kita. Jangan tunggu bagaimana situasi dan kondisi hidup kita. Kita belajar dengan bijaksana bagaimana di dalam situasi seperti ini senantiasa karena kita adalah manager yang Tuhan percayakan sementara, itu bukan milik kita. Sehingga kita tidak menjadi panik pada waktu kita melihat bagaimana keuangan kita berkurang. Kalau sikap kita terus mau dapat, simpan dan tumpuk, kita tidak akan pernah menjadi orang yang merasa berkelebihan. Tetapi kalau kita belajar memberi, daripada kita akan terus mengalir air yang tidak habis-habisnya. Kita jangan tunggu anak-anak kita besar lalu kita akan memberi warisan yang banyak kepada mereka supaya mereka bisa hidup cukup dan baik. Data memberitahukan kepada kita banyak pernikahan akhirnya penuh dengan ketegangan ketika dikatakan ini adalah hartanya keluarga suami, ini adalah harta keluarga isteri. Tetapi jikalau kita mulai dari awal [just keep dia bisa survive, setelah memberikan anakmu kail pancing dan bukan ikan, blessing dia. Percayalah Allah akan memelihara hidup dia. Semua yang Allah kasih kepadamu, someday akan engkau tinggalkan waktu engkau pergi dari dunia ini. Bukan tunggu nanti, from now on, itu akan membuat setiap tahun kita melewati tahun ini kita bukan menjadi orang yang berkehilangan; kita akan menjadi orang yang penuh dengan syukur kepada Tuhan. May God bless you!(kz)