Mengapa Terus Jadi Bayi Rohani?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Eksposisi Surat Ibrani [6]
Tema: Mengapa Terus Jadi Bayi Rohani?
Nats: Ibrani 5:12 – 6:2

Pada waktu kita pergi ke dokter untuk rutin cek kesehatan dan ketika hasil test darah diperlihatkan oleh dokter, dokter mengatakan ada yang tidak beres dalam tubuh kita, ada sel-sel kanker dan penyakit di dalam tubuh kita. Dokter menegur cara hidup kita yang tidak sehat, cara makan kita yang tidak benar, bagaimana reaksi kita saat mendengar diagnosa dan teguran itu? Mungkin kita bereaksi marah, terkejut, kaget, tidak senang dan tidak terima diagnosa itu. Lalu, kita mengatakan dokter ini kurang jago dan buru-buru cari second opinion. Ataukah reaksi kita adalah menerima diagnosa itu, menerima bahwa ada yang tidak beres di dalam tubuh kita. Ada yang salah, ada yang sakit dari hidup kita, yang perlu segera diobati, bahkan dioperasi dan ditangani dengan segera supaya kita sembuh. Apa reaksi kita?

Sebagai seorang yang mungkin sudah lama sekali menjadi orang Kristen, bagaimana reaksi kita ketika ada diagnosa diberikan kepada hidup rohani kita, ketika ada teguran yang menyatakan hal-hal yang tidak beres di dalam kondisi spiritual kita, apakah kita menolak teguran itu, kita menjadi marah dan tidak senang kepada hamba Tuhan yang menegur, atau lebih jauh lagi kita menjadi marah dan tidak senang kepada Tuhan, dan kemudian tidak mau ke gereja lagi?

Pada waktu murid-murid Yesus menegur imam-imam dan ahli agama, dicatat dalam Kisah Rasul 5:30-33, bukankah sebagai orang yang mengerti hukum Taurat dalam Perjanjian Lama, engkau sesungguhnya tahu bahwa Yesus itu adalah Mesias, Anak Allah? Tetapi engkau justru memberontak kepada firman Tuhan dan malah menyalibkan Dia. Mendengar teguran itu, yang notabene datang dari orang-orang yang mereka anggap tidak terpelajar dan tidak tahu apa-apa tentang Alkitab, imam-imam dan ahli agama itu menjadi marah luar biasa dan berusaha membunuh rasul-rasul itu. Itulah reaksi pertama yang lazim terjadi ketika seseorang merasa sudah senior, merasa sudah tahu lebih banyak, sudah jadi orang Kristen puluhan tahun, mungkin reaksi kita juga seperti itu. Atau reaksi kita mendengar teguran itu kita menjadi menyesal dan malu. Kita mengakui bahwa teguran itu mengingatkan untuk kesembuhan kita, untuk kesehatan rohani kita, untuk pertumbuhan spiritual kita.

“Mengapa Terus jadi Bayi Rohani?” ini adalah tema yang saya ambil dari bagian firman Tuhan yang
akan kita baca dari Ibrani 5:11 – 6:2. Mengapa engkau tidak sehat secara rohani? Mengapa pertumbuhanmu begitu lambat, mengapa tidak ada buah-buah spiritual terjadi dalam hidupmu? Di bagian ini ada tiga peringatan dan teguran yang penulis Ibrani berikan dalam bentuk metafora. Teguran pertama: “Sebab sekalipun kamu ditinjau dari sudut waktu sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras” (Ibrani 5:12).

Teguran ke dua: “Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil” (Ibrani 5:13).

Teguran ke tiga: “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai panca indera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat” (Ibrani 5:14).
Sebelum menjelaskan lebih dalam dan melihat lebih teliti apa yang ingin dia sampaikan, saya ajak kita melihat Ibrani 6:1-2 terlebih dahulu. “Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah, yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal” (Ibrani 6:1-2). Di sini ada enam hal disebutkan saling berpasangan. Yang pertama, “dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia dan dasar kepercayaan kepada Allah” ini adalah satu paket bicara mengenai works and believe, obedience kepada perbuatan yang mati, yang bukan membawa kepada hidup. Dan pasangan hal ke dua yang muncul di sini: “ajaran tentang pelbagai pembaptisan, atau terjemahan yang lebih akurat di sini bukan pembaptisan melainkan pembasuhan [washing], dan tentang penumpangan tangan, itu satu paket. Penulis Ibrani mengatakan: kenapa engkau terpesona dengan ajaran tentang segala macam pembasuhan dan penumpangan tangan? Lalu yang ke tiga di sini adalah kenapa kamu terus saja ribut debat di dalam persoalan mengenai soal kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal?

Mari kita lihat baik-baik bagian ini. Yang pertama, pada waktu penulis Ibrani mengatakan “marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh” di sini bukan berarti kita tidak perlu mendapatkan pengajaran-pengajaran dasar, ajaran doktrin yang penting tentang siapa Yesus Kristus; bukan ini maksudnya. Saya perlu jelaskan lebih dulu di sini apa problem yang sedang terjadi di dalam jemaat yang menerima surat ini. Ada dua hal yang perlu kita lihat konteksnya. Yang pertama, kita harus ingat jemaat waktu itu belum memiliki Alkitab lengkap seperti kita; yang mereka pegang adalah Alkitab Perjanjian Lama. Kitab Injil dan tulisan-tulisan para rasul seperti Paulus, Petrus, Yohanes, pada waktu itu masih belum menjadi satu buku seperti yang kita terima sekarang, sehingga yang mereka baca jelas adalah Alkitab Perjanjian Lama.

Yang ke dua, kita bisa lihat berkali-kali penulis Ibrani menyatakan superioritas Yesus, membandingkan Yesus lebih tinggi daripada Musa, Yesus lebih agung daripada malaikat-malaikat di surga, Yesus setara dengan Imam Melkisedek, keimaman Yesus lebih tinggi daripada keimaman Harun dan orang Lewi. Yesus yang kita percaya begitu indah, begitu agung. Dialah puncak kesempurnaan; apa yang dicatat dalam Perjanjian Lama itu hanya bayang-bayang, itu bukan realitanya. Mengapa penulis Ibrani perlu untuk menekankan superioritas Yesus Kristus? Dengan memberikan perbandingan seperti itu kita dapat menduga sebagian jemaat penerima surat ini dulunya adalah orang-orang Yahudi yang jelas mengerti pengajaran Yudaisme lalu kemudian mereka menjadi orang Kristen. Sebagian lagi adalah orang-orang non-Yahudi yang takut akan Tuhan, artinya mereka mencoba ingin mengenal Allah orang Yahudi lalu mereka belajar mengenai ajaran Yahudi. Lalu ketika Injil diberitakan, nama Yesus dikabarkan, sebagian besar daripada kelompok ini kemudian percaya kepada Yesus. Berarti orang-orang ini dipanggil untuk meninggalkan asas-asas pengajaran Yudaisme yang hanya bertolak dari konsep Perjanjian Lama yang belum lengkap, itu konteksnya.

Dengan demikian, apa yang dimaksudkan penulis Ibrani dengan kalimat: “marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh” di sini berarti dia mengajak jemaat untuk tidak lagi pegang asas mengenai pertobatan dan mengenai iman yang berdasarkan kepada tindakan dan perbuatan yang mati. Repentance from dead works and faith toward God, itu yang pertama. Yang ke dua adalah dia mengajak jemaat meninggalkan ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan [instruction about washings and the laying on of hands]. Seperti yang saya katakan tadi kata “pembaptisan” lebih akurat diterjemahkan “pembasuhan.” Jadi penulis Ibrani bukan bicara soal baptisan orang menjadi percaya, tetapi lebih kepada ritual penyucian barang-barang atau penyucian yang terjadi di Bait Allah yang membuat mereka kemudian lebih tertarik kepada cara-cara seperti itu. Kemudian kata “penumpangan tangan” di situ mengacu kepada ritual pengampunan dosa di Perjanjian Lama yang orang Yahudi lakukan dengan menaruh tangan di atas binatang yang akan dikorbankan sambil mengaku dosa. Yang ke tiga, “kebangkitan orang mati dan hidup yang kekal” bicara mengenai apa yang kita ajarkan bahwa Yesus telah bangkit, satu kali kelak orang-orang yang mati dalam Tuhan akan dibangkitkan, dan Kristus akan datang dengan penghakimanNya dan di situ Ia memerintah sebagai Raja.

Jadi, apa sebenarnya yang penulis Ibrani perintahkan untuk jemaat tinggalkan di sini? Saya melihatnya demikian: orang-orang Kristen ini melihat ritual-ritual yang dilakukan pada waktu itu di Bait Allah di Yerusalem begitu besar dan megah, dimana setiap tahun ribuan kambing domba dipersembahkan dan disembelih di atas mezbah untuk upacara pengampunan dosa. Ada imam-imam yang memakai baju yang megah masuk ke dalam gedung Bait Allah yang begitu megah dan mewah dalam prosesi yang “wah.” Mereka kagum dan terpesona oleh semua itu; lalu sekarang ritual-ritual itu harus mereka tinggalkan. Sebagai orang yang percaya Yesus, mereka hanya berbakti di dalam rumah dengan cara ibadah yang sederhana. Mereka hanya memecahkan roti dan minum anggur sebagai pernyataan mereka telah ditebus dan diampuni oleh Tuhan Yesus Kristus. Penulis Ibrani katakan Yesus adalah penggenapan dari hukum Taurat, Ia sudah menyempurnakan apa yang hukum Taurat itu perintahkan. Engkau setiap tahun harus datang ke Bait Allah untuk mengaku dosamu dan menumpangkan tangan kepada korban binatang sebagai pengganti bagi pengampunan dosamu. Tiap-tiap tahun engkau terus berulang kali melakukan hal ini, itu membuktikan ritual-ritual itu tidak pernah menyelamatkan Engkau. Yesuslah satu-satunya Korban yang sempurna yang menyelamatkan engkau, satu kali untuk selama-lamanya. Percaya kepada Yesus yang telah mati bagimu, itu sudah cukup. Mereka dengar hal ini tetapi hati mereka selalu membandingkan dengan ibadah Yudaisme dimana ribuan binatang dipersembahkan lalu mereka berdoa meletakkan tangan di situ, ritual seperti itu sekarang harus mereka tinggalkan. Saya rasa persoalan itu di sini. Mereka masih enggan untuk meninggalkannya dan masih mau memegang semua itu sebagai hal-hal yang mereka pikir bisa membawa mereka kepada iman yang hidup. Mereka bimbang dan ragu karena mereka merasa ritual dalam kepercayaan dalam Perjanjian Lama itu lebih megah, tradisi-tradisi itu lebih luar biasa. Melakukan hukum Taurat, menaati aturan ini dan itu, lakukan itu semua maka kamu akan selamat, kelihatannya berita seperti itu lebih mantap dan lebih berbobot dibandingkan sekarang setelah percaya kepada Yesus semua itu tidak lagi dilakukan dan tidak menjadi syarat untuk bisa selamat. Bagi mereka secara “peraturan” koq peraturan di dalam Yudaisme lebih ketat, lebih keras, lebih menarik. Mereka berpikir memelihara hari-hari yang baik, melakukan peraturan-peraturan yang ketat dari hukum Taurat mungkin membuktikan lebih rohani. Jadi kita bisa mengira-ngira apa yang terjadi pada jemaat pada waktu itu. Paulus pernah menasehati jemaat di Kolose akan hal yang sama, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (Kolose 2:16-17).

Kalau kita tarik prinsip apa yang bisa kita bawa dalam hidup kita sehari-hari pada saat ini, kita tidak bisa bertumbuh menjadi orang Kristen yang dewasa jikalau kita terus cuma mempermasalahkan ritual-ritual Kekristenan, tata cara ibadah, gedung gereja ketimbang hal yang penting dan yang esensi di dalam kehidupan menjadi orang Kristen yakni transformasi yang Tuhan berikan dari dalam ke luar. Berapa sering kita memperdebatkan cara berpakaian, jam kebaktian, tata cara ibadah, atau alat musik, dsb lebih daripada soal bagaimana hati orang diubah dan bagaimana kesaksian orang Kristen itu di dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal itu penting tetapi itu tidak menjadi point yang paling penting di dalam mendefinisi kita sebagai orang Kristen.

Ibrani 5:12-14, ada tiga teguran dalam bentuk metafora yang diberikan oleh penulis Ibrani kenapa jemat tidak menjadi dewasa dan terus menjadi bayi rohani. Metafora yang pertama bicara soal edukasi, pendidikan, “Sebab sekalipun kamu ditinjau dari sudut waktu sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras” (Ibrani 5:12). Ditinjau dari sudut waktu seharusnya mereka sudah menjadi remaja, sudah menjadi dewasa, sudah bisa menjadi pengajar, tetapi mengapa stage itu mandeg? Sebagai orang yang sudah menjadi Kristen sekian lama, seharusnya engkau siap menjadi orang yang mengajar orang lain; seharusnya engkau siap menjadi orang yang membimbing orang lain. Tetapi mengapa engkau hanya menjadi orang yang terus tunggu, terus diajar, terus disuapi oleh orang lain? Kalimat ini memberikan kita satu indikasi bahwa orang Kristen yang kekanak-kanakan tidak mau bertumbuh dewasa dan tetap menjadi bayi rohani adalah dia self-centered dan menjadikan dirinya sebagai tempat menerima segala sesuatu dan hanya mau dilayani saja dan tidak pernah mau memikirkan bagaimana dia menjadi orang Kristen yang memberikan dan menyalurkan sesuatu dari dirinya. Yang ke dua, kalau sudah menjadi pengajar itu berarti orang itu sudah berangkat dari satu stage di dalam hidupnya melewati berbagai persoalan dalam hidup dia sehingga dia sekarang boleh menjadi orang yang bijaksana memberitahukan kepada orang lain, khususnya kepada orang-orang yang baru ikut Tuhan yang mungkin masih struggle dan menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan dari sekitarnya. Di situ orang Kristen yang sudah dewasa karena sudah pernah mengalami hal yang sama bisa menolong dan membimbing orang yang masih baru itu. Ketika engkau dan saya menjadi anak Tuhan sekian tahun, kita tahu apa artinya ditolak, kita tahu apa artinya mengalami kesusahan kesulitan, kita mengalami itu semua sebagai pendidikan Tuhan yang membuat kita menjadi orang Kristen yang penuh hikmat, sehingga melalui pelajaran yang berarti dan berharga itu kita bisa membimbing orang lain juga berjalan menuju kedewasaan. Saya rindu setiap kita menjadi orang Kristen yang seperti demikian. Mari kita menjadi orang yang dewasa dan mempunyai hati peka melihat sekitar kita ada orang-orang yang ingin bertumbuh, kita step up dan mau membimbing mereka jalan sama-sama bertumbuh dalam anugerah Allah.

Metafora yang ke dua di sini bicara tentang orang yang terhambat di dalam the stage of maturity dan terus menjadi bayi, terus hanya mau susu dan tidak mau makan makanan yang solid. “Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil” (Ibrani 5:13). Dalam dunia yang natural kita tahu bayi itu tidak boleh terus menjadi bayi. Dia harus bertumbuh menjadi anak; dari anak dia bertumbuh menjadi remaja. Setelah dia menjadi remaja dia punya responsibility dan tanggung jawab untuk mengurus dirinya sendiri. Dia tidak perlu lagi disuapi karena dia sudah besar, bisa makan sendiri. Tetapi sebagian orang yang ada di dalam jemaat, problemnya apa di sini? Mereka hanya terus mau minum susu, sesuatu yang simple, sesuatu yang menyenangkan dan enak di telinga saja. Padahal kalau kita mau tumbuh dewasa, kita tahu kita tidak cukup hanya minum susu saja, tetapi kita perlu makanan dan nutrisi yang solid bagi kesehatan tubuh kita. Kita perlu makan makanan yang berbobot, kita juga perlu makan makanan yang pahit. Kita perlu makan variasi makanan, demikian juga saya percaya kita perlu banyak variasi di dalam makanan rohani yang membentuk kita. Kita perlu makan madu dan susu yang indah dan enak, tetapi kita juga perlu makanan rohani yang keras, yang pahit, yang perlu waktu untuk mengunyahnya. Pertama-tama mungkin berat dan susah, bahkan kita mungkin mengeluarkan air mata. Tetapi setelah kita cerna dan kita makan, kita akan tahu makanan itu begitu berguna dan berarti bagi kita.

Metafora yang ke tiga, “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai panca indera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat” (Ibrani 5:14). Dia sebut “panca indera yang terlatih” bicara mengenai “pelatihan” trained, gegymnasmena, gymnasium, atletik, kita abaikan kita perlu repetisi berolah raga. Gymnastic, pelatihan yang membawa kepada disiplin rohani. Nanti konsep ini di pasal 12 kembali akan dipakai dan dielaborasi lagi. Penulis Ibrani di sini menegur orang-orang Kristen yang tidak mau melakukan disiplin rohani yang menuntut repetisi, konsistensi dan melatih panca indera menjadi kuat. Kita tidak mau menjalankan latihan rohani itu karena tidak mau susah, tidak mau repot, tidak mau cape, tidak mau bayar harga. Kita perlu baca firman Tuhan, kita perlu berdoa, kita perlu meditasi. Itu semua perlu ulang terus setiap hari. Itu tidak boleh membuat kita bosan dan membuat kita tidak melihat dimana benefitnya. Pada waktu kita melatih diri untuk terus di dalam disiplin rohani, itulah yang akan menyehatkan kehidupan spiritual kita. Disiplin itu penting untuk melatih pikiran kita dengan peka untuk bisa membedakan apa yang benar dan yang salah secara natural karena memang kita disiplin dilatih untuk itu.

Kiranya teguran firman Tuhan ini berbicara kepada setiap kita. Waktu kita ditegur kenapa terus jadi bayi rohani, kenapa engkau tidak pernah menjadi dewasa, kenapa engkau cuma mau terus dilayani, disuapi, disusui, dan tidak mau mendisiplin dan melatih diri, mendengar teguran ini, apa reaksimu? Kalau firman Tuhan menegur sudah begitu lama engkau ikut Tuhan, sudah sepatutnya engkau menjadi pengajar, ambil bagian aktif melayani di gereja, tetapi engkau tidak mau berinisiatif untuk itu, actually engkau tidak sehat secara rohani. Teguran ini bukan untuk membuat engkau malu dan sedih, tetapi untuk menjadi dorongan untuk engkau maju. Jangan mengabaikan disiplin rohani yang seharusnya yang engkau kembangkan di dalam hidupmu. Berdoa, bersandar kepada Tuhan, percaya kepada Dia. Miliki hati yang terus mau mengenal Tuhan lebih dalam daripada sebelumnya, alami penyertaan Tuhan yang nyata di dalam perjalanan hidupmu. Jangan hanya puas sampai kepada satu stage dan berhenti untuk maju. Terimalah setiap teguran dan pendidikan Tuhan untuk mendewasakan engkau. Dan jangan hidup rohanimu juga hanya tertawan kepada hal-hal yang luar, yang eksternal, dan tidak pernah melihat ke dalam hati sedalam-dalamnya dan mengalami transformasi secara internal. Kiranya Tuhan pimpin hati setiap kita dengan firmanNya pada hari ini untuk sungguh ingin bertumbuh; memberikan kekuatan dan penghiburan kepada setiap kita supaya kita selalu kuat, teguh, penuh dengan kesabaran dan rendah hati mendengar setiap panggilan dan tarikan tangan Tuhan membawa kita berjalan di dalam setiap kebenaranNya.(kz)