Yesus, Kuasa Air Mata PelayananNya

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Eksposisi Surat Ibrani [5]
Tema: Yesus, Kuasa Air Mata PelayananNya
Nats: Ibrani 4:14 – 5:10

Kita telah tiba kepada Ibrani 4:14 – 5:10 dan tema hari ini “Yesus: Kuasa Air Mata PelayananNya.” Di bagian ini penulis Ibrani memperlihatkan Yesus adalah Imam Besar kita yang agung dan mulia. Sebagai Imam Besar itu, bukan saja Ia melakukan tugas sebagai imam menjadi pengantara mediator membawa kita untuk datang ke hadapan tahta Allah yang kudus itu; Ia sekaligus menjadi Gembala yang menuntun kita dengan pelayananNya yang penuh dengan air mata. “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibrani 4:14-16).

Surat Ibrani penuh dengan teguran dan peringatan, satu panggilan supaya umat Allah fokus berjalan, waspada, karena jika tidak orang itu pelan-pelan tanpa dia sadari bisa makin drifted away dari imannya, karena pendengarannya kepada firman sudah mulai abai. Teguran dan peringatan itu dia berikan sebagai seorang gembala yang dengan tongkatnya memukul dan menarik kembali domba yang lari dan tersesat. Sekalipun tongkat itu keras dan menyakitkan tetapi sebenarnya tongkat itu adalah tarikan yang penuh dengan cinta dan sayang. Maka di ayat 16 dia berkata, “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Let us then with confidence draw near to the throne of grace, that we may receive mercy and find grace to help in time of need. “Let us then with confidence” kenapa? Berarti ada di antara jemaat yang tidak confident, tidak berani datang kembali kepada Allah. Mungkin orang-orang ini sudah terlalu malu karena dia telah gagal; sudah lama dia berhenti berdoa, berhenti membaca Alkitab. Dan jkalau Ibrani 10:25 mengatakan: “jangan engkau menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah seperti yang dibiasakan orang,” berarti tidak sedikit dari mereka yang sudah lama tidak lagi datang ke gereja. Mendengar teguran Tuhan membuat mereka begitu malu; atau mungkin berdiri jauh-jauh di luar, tidak berani datang kepada Tuhan.

Yesus pernah menyebutkan orang seperti ini dalam Lukas 18:9-14, dimana ada dua orang datang ke Bait Allah. Orang yang satu, seorang yang merasa super suci, berdiri di depan supaya dilihat oleh orang dan berdoa, “Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dia kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi kontras dengan orang yang satu lagi, yang menyadari begitu banyak dosanya. Ia berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Lukas 18:13). Dia ada di belakang sana, jauh, menghindar dari pandangan orang. Dia hanya bisa berkata, “God, have mercy on me. I don’t deserve to come to the holy throne. I’m a sinner. Saya sangat membutuhkan Tuhan pada saat ini, karena saya tidak merasakan kehadiran surgawi dalam hidupku. Saya berada di dala padang gurun. Mungkin ada di antara jemaat yang hadir waktu surat Ibrani dibacakan. ada yang begitu malu sebab hidupnya memang sudah gagal. Bukan saja dia tidak lagi pernah berdoa, bukan saja dia malas mendengarkan firman Tuhan. Bisa jadi dia seperti anak yang hilang dan yang telah membuang segala sesuatu. Menjadi orang yang melakukan begitu banyak kesalahan dan terpuruk di dalam lumpur dosa yang begitu dalam. Tetapi dia tidak pernah menjadi orang yang terhilang sebab sampai kepada titik itu dia menyadari persoalannya cuma satu: saya mau kembali, tetapi apakah Tuhan masih mau menerimaku lagi? Maka ayat ini menjadi satu ajakan dan dorongan yang dia perlukan. Let us then with confidence draw near to the throne of grace, that we may receive mercy and find grace to help in time of need. Betapa indah luar biasa berita ini, bukan?

Kata ke dua, “God’s mercy and grace,” itu berarti pemberian dari yang Ilahi yang diberikan kepada kita bukan karena ada sesuatu dalam diri kita yang menyebabkan kita berhak dan layak untuk mendapatkannya. Kita sebetulnya tidak punya hak untuk mendapatkan anugerah dan belas kasihan Allah. Pada waktu anak yang hilang itu kembali dia mengatakan, “Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Jadikanlah aku sebagai seorang upahan bapa” (Lukas 15:18-19). Dia tahu dia tidak pantas disebut anak, dia hanya pantas menjadi pembantu saja.

Kata ke tiga dari ayat ini: “in time of need” menjadi kalimat yang sangat menyentuh hati saya. Itu hanya satu kata dalam bahasa Yunaninya “eukairon” yang berarti a very perfect time, a very good time. Itu waktunya yang paling tepat, itu waktu yang sangat baik dan indah adanya. Tuhan tidak pernah mendahului waktunya dan Tuhan tidak pernah berlambat di dalam waktunya. Waktu Tuhan tidak pernah mendahului waktunya Dia bagi engkau; dan waktunya Tuhan tidak pernah berlambat di dalam waktunya bagi engkau. Dan waktunya itu selalu “eukairos” berarti waktunya selalu baik dan indah bagi setiap orang yang mengasihi Dia. Dalam Alkitab kita membaca kesaksian dari orang-orang yang meminta pertolongan kepada Tuhan. Dan Allah bekerja di dalam waktunya yang tepat dan jawaban yang tepat. Di saat Elia membutuhkan, bukankah Allah menjaga dan merawat nabi Elia dengan mengutus burung gagak untuk memberikan makanan kepadanya? (2 Raja 17:1-5). Pada waktu Petrus membutuhkan pertolongan di tengah belenggu di dalam penjara dan bahaya menantinya, Tuhan tidak mengutus burung gagak melainkan Tuhan mengutus malaikat untuk membebaskan dia (Kisah Rasul 5:17-20). Dari sini kita diingatkan, bukan saja Allah memelihara dan menuntun hidup kita, Allah juga mengutus malaikatNya menjaga, melindungi dan berada di dalam kehidupan setiap kita. Itu yang tidak pernah kita sadari. Ia mengatakan Yesus lebih tinggi daripada malaikat, sebab malaikat dicipta olehNya justru untuk menjadi pelayan-pelayan bagi orang-orang yang ditebus olehNya. Pada waktu Paulus tersendiri di penjara, Tuhan mengutus sahabat-sahabatnya datang mengunjungi dia.

Pada waktu kita sudah gagal, merasa malu karena kita melakukan banyak kesalahan dan dosa, penulis Ibrani bilang: jangan lupa, kita punya seorang Pengantara yang namanya Yesus Kristus. Ketika kita tidak berani masuk menghampiri hadirat Allah, Yesus Kristus datang menghampiri kita. Betapa indah Tuhan kita! Allah tidak pernah menolak dan Allah tidak pernah mengecewakan orang yang datang di dalam segala kelemahan, kekurangan, keberdosaan apa pun, perasaan bahwa dia telah mengecewakan dan gagal hidupnya kepada Tuhan. Allah kita adalah Allah yang senantiasa mendamaikan hidup engkau dan saya. Ibrani 4:14 berkata, “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Jangan kehilangan the sense of God’s presence, bagaimana Tuhan tuntun dan pimpin hidup kita. Mungkin ada banyak anak-anak Tuhan yang mendengarkan firman Tuhan yang juga kehilangan sense itu. Penulis Ibrani mengatakan, ayo, rentangkan tanganmu, inilah yang engkau perlukan jika engkau ingin bertemu Allah, ingin masuk ke dalam hadirat surgawi. Ia telah memberikan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus menjadi Imam Besar bagi kita. Imam Besar yang telah mati bagi engkau dan saya; Imam Besar yang mengerti semua yang kita alami. TeguranNya adalah teguran yang penuh kasih. PeringatanNya adalah peringatan yang membawa kita kembali diperdamaikan dengan Allah. Dan pada waktu Ia melayani, Ia akan melayani kita yang penuh dengan kekurangan, kegagalan dan dosa ini penuh dengan kelemah-lembutan. “He is able to deal gently with ignorant and wayward people,” itu adalah terjemahan NLT di Ibrani 5:2. Sekalipun Ia sebagai manusia sepenuhnya mempunyai kelemahan dan keterbatasan, itu bukan dosa. Justru karena itu Yesus mengerti semua apa yang dialami oleh jemaat. Kita semua juga mengalami kelemahan dan keterbatasan dan jatuh bangun di dalam proses kehidupan Kristen kita, kita bersyukur Yesus Kristus menjadi Imam Besar kita dan Dia melakukan satu pelayanan yang luar biasa bagi kita.

Yang pertama, pelayanan Yesus adalah sebuah pelayanan yang penuh dengan kelemah-lembutan bagi orang yang ignorance dan wayward, dan gone astray. Mungkin orang itu tidak punya intention, tidak punya maksud membenci Tuhan, bukan punya maksud untuk tidak mau percaya dan taat kepadaNya. Tetapi di dalam kekurangan kelemahan, atau karena persoalan situasi hidupnya membuat dia takut dan dia ragu akan kebaikan Tuhan. Mungkin karena kelemahan kerohaniannya yang tidak berjaga-jaga sehingga dia jatuh dalam pencobaan. Tetapi Allah kita adalah Allah yang melayani dan karena Yesus juga menjadi manusia adanya, Ia mengerti, Ia mengetahui betapa mudah sekali kita bisa jatuh di dalam segala kelemahan kita kalau kita tidak berjaga-jaga.

Yang kedua, pelayanan Yesus Kristus adalah satu pelayanan yang penuh dengan air mata. “Dalam hidupNya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya dari maut, dan karena kesalehanNya, Ia telah didengarkan” (Ibrani 5:7). While Jesus here on earth He offered prayers and pleadings with a loud cry and tears to the One who could rescue Him from death. And God heard His prayers because of His deep reverence for God. Saya begitu tersentuh dengan kalimat ini, sebab kalau kita membaca Injil, tidak banyak dicatat Yesus itu menangis dan meratap mengeluh. Tetapi di sini penulis Ibrani justru memberitahukan kepada kita sepanjang pelayanan Yesus itu adalah sebuah pelayanan dengan tangisan dan dengan air mata. Dalam Injil hanya beberapa kali dicatat mengenai apa yang terjadi di dalam hati Yesus. Dalam Yohanes 11:33 dan 38 dalam terjemahan Indonesia dikatakan “maka masygullah hati Yesus,” Yesus menangis di depan kuburan Lazarus (Yohanes 11:35). Dalam Matius 9:36, 14:14, 15:32, 20:34 dikatakan “melihat orang banyak seperti domba yang tidak bergembala, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan” dengan kata “esplagksniste” seolah-olah isi dalam perut Yesus tumpah keluar. Itu seperti satu goncangan emosi yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Matius 23:37 mencatat pada waktu Yesus berjalan menuju kota Yerusalem, Ia mengeluh, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Yesus mengeluh karena Ia melihat mereka tidak mau percaya; Yesus menangis karena Ia begitu rindu mereka bisa mengerti anugerah Allah namun mereka menolak dan tidak mempercayai Dia. Yesus menangis dan berseru dengan agony pada waktu berdoa di taman Getsemani (Lukas 22:44). Tangisan itu bukan karena Ia takut kepada kematian di kayu salib yang segera akan Ia terima, tetapi tangisan karena Ia tahu apa artinya terpisah dari Allah selama-lamanya di dalam dosa. The fear of death itu dialami oleh Yesus, itu sebab Ia menangis.

Air mata yang mengalir dari Yesus bukanlah pertanda Ia lemah; air mata yang mengalir justru menjadi satu tanda betapa kuat dan perkasanya hati Yesus karena air mata yang keluar itu adalah air mata komitmen. Air mata yang keluar itu bukan air mata kekecewaan tetapi itu adalah air mata karena hatiNya dan hidupNya diberikan sepenuhnya bagi dunia ini. Itulah sebabnya Yesus menangis. Ada dua hal yang patut kita renungkan di sini. Yang pertama, Yesus menangis bagi engkau dan saya sebab Dia tahu dosa menyebabkan keterpisahan mati binasa untuk selama-lamanya. Kata “offer prayers” pada waktu Yesus mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan, itu seperti kambing domba yang tidak berdaya berada dibawa ke pembantaian. Itu adalah kata yang dipakai untuk mengacu kepada persembahan domba dan kambing yang disembelih oleh para imam bagi pengampunan dosa dalam ritual di Perjanjian Lama. Setiap tahun menjelang hari Paskah ada ribuan kambing dan domba disembelih oleh para imam di Bait Allah dari sejak pagi sampai sore. Kalau sdr pernah pergi ke tempat pejagalan dimana kambing domba sapi disembelih, kita bisa membayangkan ribuan binatang itu disembelih sekaligus bersama-sama, apa suara yang sdr dengar di situ? Di situ akan ada suara teriakan bleating yang tidak berhenti, silih berganti memenuhi tempat itu. Tetapi betapa tragis, pengorbanan Kambing domba itu mati disembelih tidak bisa menghapuskan dosa kita. Ibrani 10:11 mengatakan, “setiap tahun setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa.” Maka kuasa air mata pelayanan Yesus pertama-tama adalah kuasa yang melepaskan engkau dan saya dari kematian. Yesus tahu apa artinya mati terpisah dari Bapa yang suci itu. Hari ini engkau takut, engkau kuatir, engkau ragu karena keberdosaanmu, datanglah kepada Dia. Ia tahu apa yang menjadi kelemahan dan kekuranganmu dan kasih karuniaNya luar biasa karena Ia telah menangis menyelamatkan engkau dari hukuman dosa.

Yang kedua, tangisan Yesus Kristus adalah tangisan pelayanan karena Dia sungguh-sungguh cares terhadap kita. Ia bukan saja menaruh waktuNya, Ia bukan saja memberikan hidupNya, Ia memberikan energiNya, Ia memberikan totalitas di dalam semuanya, Ia juga memberikan air mataNya karena Ia begitu mengasihi engkau dan saya. Adakalanya di dalam pelayanan kita mau melayani dengan sungguh, namun pada waktu kita tidak mendapatkan hasil yang sama seperti yang kita harapkan, mungkin kita bisa kecewa, mungkin kita bisa marah. Mungkin kita bisa mengkritik habis-habisan karena merasa orang itu tidak melakukan yang sama seperti kita, itu gampang dan mudah. Tetapi menangis bagi pelayanan seperti Tuhan kita Yesus Kristus, saya percaya, itulah yang kita perlukan di dalam pelayanan kita.

Kalau anda tidak mau menangis, tidak usah pergi ke pemakaman. Kalau anda tidak mau menangis, tidak usah melihat dan peduli akan kesusahan orang. Kalau anda tidak mau menangis, tidak usah mendengarkan kesulitan orang lain. Kalau anda tidak mau menangis, tidak usah peduli untuk mendengarkan berita orang lain. Kalau anda tidak mau menangis, tidak usah care terhadap apa-apa. Tetapi pada waktu kita mau care, kita mau pergi, pada waktu kita mau mendengarkan kesulitan orang lain, berarti kita harus siap sedia untuk menangis dan terus menangis di dalam pelayanan kita. Sebuah hati yang sungguh dan menangis bagi pelayanan Tuhan, di situ bicara mengenai pelayanan Yesus seperti itu. He offered prayers and pleadings. Kenapa perlu hati tangisan dan air mata itu? Karena Tuhanku Yesus sudah memberikan contoh seperti ini, aku mau mencontoh dan meneladani Dia.

Yang terakhir, pelayanan Tuhan Yesus adalah pelayanan di dalam ketaatan. “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya” (Ibrani 5:8). Kita mungkin tidak bisa membayangkan betapa sulitnya bagi Yesus untuk menjadi taat masuk ke dalam jalan penderitaan itu. Bedanya dengan kita adalah kita lahir dalam dunia dengan kondisi seperti ini, kita menjalani hidup ini kita dipanggil untuk taat di tengah-tengah seperti ini. Tetapi Yesus adalah Anak Allah di dalam kemuliaan. Allah Bapa mengutus AnakNya yang mulia, yang agung, Allah Bapa memberikan jalan salib sebagai jalan penebusan itu. Di dalam ketaatanNya Ia turun ke dunia, menjadi manusia, berada di dalam kelemahan seperti kita dan destinasiNya adalah salib itu.

Maka penulis Ibrani mengatakan Imam Besar yang kita miliki adalah Imam Besar yang mengerti segala kesulitan dan kelemahan kita. Kita bersyukur, Dialah yang membawa kita bertemu dengan Bapa. Karena dari ketaatan Yesus kita mendapatkan kasih karunia demi kasih karunia dari Allah. Kasih karunia itu tidak layak kita terima tetapi penuh dengan kasih dan pengampunan dari Tuhan. Ketaatan Yesus menjadi contoh teladan yang harus kita ikuti. Lihat apa yang telah Ia kerjakan bagi kita dan bagaimana kita menjalani hidup seperti ini. Jangan lagi penderitaan membuat engkau malu bersaksi akan namaNya. Jangan lagi penderitaan membuat engkau lari dari gereja, dari persekutuan dengan Allah. Jangan lagi kesusahan hidup membuat engkau bersungut-sungut dan menggerutu. Jikalau Yesus belajar untuk taat di dalam hal itu, biarlah engkau dan saya memiliki hati seperti itu. Tidak ada hal-hal yang bisa membuat saya menjadi orang Kristen yang tidak taat dan tidak mencintai mengasihi Tuhan. Ketaatan Yesus Kristus menjadi bagian dari hidup kita karena Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepadaNya (Ibrani 5:9).

Kita bersyukur karena kita punya Imam Besar yang agung Tuhan kita Yesus Kristus. Ia tahu
kita manusia yang penuh dengan kelemahan, ignorance, wayward, easily gone astray. Namun Ia tidak pernah membuang kita pada waktu kita datang mengaku kita butuh pengampunan, pertolongan dan kekuatan dari Tuhan.

Kita pegang janji firman Tuhan yang berkata: Datanglah mendekat kepada Tuhan sebab Dia pasti akan memberikan belas kasihan dan kasih karuniaNya dan rahmatNya yang tidak ada habis-habisnya karena Ia tidak akan pernah mengecewakan setiap orang yang berharap dengan sungguh kepadaNya. Dia tidak akan pernah mempermalukan setiap mereka yang dengan air mata datang dan berkata: Tuhan, kasihanilah kami orang yang berdosa ini karena Ia adalah Allah yang kaya dengan rahmat dan dengan air mataNya Yesus Kristus tahu apa yang kita alami dalam perjalanan di atas muka bumi ini, karena Ia juga berjalan, mengalami setiap tantangan pencobaan yang kita alami, bedanya Ia tidak pernah berdosa itu sebab engkau dan saya mempunyai confident Ia sanggup menjadi Juruselamat, Pengampun dosa kekal selamanya.(kz)