Jesus, No Other Name

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Eksposisi Surat Ibrani [1]
Tema: Jesus, No Other Name
Nats: Ibrani 1:1-14

Hari ini kita akan memulai Eksposisi Surat Ibrani, dan tema pertama adalah “Jesus: No Other Name,” dari Ibrani 1:1-14. Surat Ibrani memiliki dimensi yang unik dibandingkan dengan surat-surat Paulus dan surat-surat pastoral lain yang ada di Perjanjian Baru. Beberapa penafsir mengatakan surat ini sebagai surat peringatan, a warning letter, a strong warning letter. Salah satu sebab, di pasal 6 kita menemukan ada sebuah peringatan yang sangat penting dan sangat keras berbicara mengenai apostasy, kemurtadan. “Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia surgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghinaNya di muka umum” (Ibrani 6:4-6). Jika orang itu pernah mengaku Yesus tetapi menyangkal dan menghina nama Yesus di muka umum maka orang itu tidak mendapatkan kesempatan apa pun lagi di hadapan Tuhan. Ini adalah sebuah peringatan yang amat keras adanya. Peringatan ini jelas lahir dari relasi Allah dengan kita karena ini adalah relasi yang personal, relasi yang dalam, relasi yang penting; seperti relasi seorang ibu atau seorang ayah kepada anaknya sendiri. Pada waktu seorang ibu atau seorang ayah memberikan peringatan yang keras ketika melihat anaknya mulai memberontak, menyimpang, tidak mau mendengarkan nasehat dan terus berjalan seperti menuju kepada jurang yang berbahaya dan bisa menghancurkan hidupnya, peringatan itu diberikan bukan oleh karena kemarahan dan kebencian tetapi justru lahir dari cinta yang dalam kepada dia. Peringatan yang keras tidak akan dikeluarkan dari seseorang kepada anak orang lain. Peringatan yang keras tidak akan dikeluarkan dari seorang boss kepada pegawainya, karena relasi itu tidaklah intim dan dekat.

Maka pada waktu kita membaca surat Ibrani, kita menemukan beberapa peringatan yang mengingatkan kepada umat Tuhan yang pada waktu itu berada di dalam kondisi dimana hati mereka mulai goyah dan iman mereka kepada Kristus mulai menyimpang, bukan saja karena mereka menghadapi tantangan dan kesulitan dari luar tetapi karena mereka tergoda dan tertarik kepada pengajaran-pengajaran yang menyesatkan mereka dari iman yang murni dan benar. Mereka salah fokus. Kekaguman mereka kepada Tuhan Yesus mulai pudar. Mereka lebih terpesona kepada figur malaikat yang bagi mereka itu adalah mahluk supranatural dan punya kuasa yang dahsyat. Mereka tidak menjadi kagum, hormat, menyembah dan memuliakan Yesus Kristus sebagai Allah dan Tuhan di tahtaNya. Maka di dua pasal pertama, penulis Ibrani membawa mereka melihat Yesus Kristus jauh lebih agung, lebih tinggi dan lebih mulia daripada malaikat-malaikat. Sekalipun malaikat itu agung, suci dan mulia tetapi mereka hanyalah ciptaan Allah. Mereka mahluk yang terbatas adanya. Kemuliaan mereka bukan keluar dari diri sendiri melainkan kemuliaan yang diberikan oleh Allah. Betapa kontras dibandingkan dengan Yesus Kristus, AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Ibrani 1:2-6 berkata, “Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi daripada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepadaNya jauh lebih indah daripada nama mereka. Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi BapaNya dan Ia akan menjadi AnakKu?” Dan ketika Ia membawa pula AnakNya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.” Malaikat diciptakan untuk melayani dan menyembah Anak Allah, Yesus Kristus itu.

Penulis Ibrani memperlihatkan apa yang salah di dalam kehidupan anak-anak Tuhan yang pada waktu itu sehingga iman mereka telah menjadi goyah. Yang pertama, mereka mulai lemah di dalam hidup ibadah mereka. Siapa yang menjadi pusat dan sentral penyembahan mereka? Siapa yang patut menerima adorasi dan dedikasi yang total itu? Dialah Yesus Kristus, Anak Allah yang agung dan mulia. Yesus Kristus telah menang, Yesus Kristus telah menyelesaikan penyucian dosa dan sekarang Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Ialah yang disembah oleh malaikat-malaikat yang ada di surga. Jangan lupa akan hal ini; jangan kehilangan fokus melihat siapa yang menjadi obyek penyembahanmu. Dialah Yesus, Nama di atas segala nama, Tuhan di atas segala tuan, Raja di atas segala raja.

Pada hari ini, ijinkan saya mengajak engkau juga kembali melihat akan hal itu. Pandemi covid-19 telah menyebabkan anak-anak Tuhan tidak lagi bisa berbakti di gereja dan hanya bisa berbakti di rumah melalui live-streaming. Mungkin situasi itu membuat kita tidak bisa merasakan suasana khidmat seperti pada waktu kita berbakti di dalam ruangan ibadah. Namun apakah karena itu kita akhirnya kehilangan kekaguman akan Kristus dan tidak menjadikan Ia pusat penyembahan di dalam ibadah kita? Apakah suasana ibadah dengan keterbatasan seperti ini membuat kita tidak menikmati kekayaan dan kedalaman ibadah kepada Allah? Apakah semua situasi ini membuat hati kita goyah, cinta kasih kita mulai padam, dan semangat kita tidak lagi berkobar-kobar untuk melayani Dia?

Jemaat penerima surat Ibrani sedang berada di dalam situasi yang tidak gampang dan tidak mudah, mereka mengalami tekanan penganiayaan yang terus bereskalasi menjadi penganiayaan yang lebih besar. Di pasal-pasal belakang, khususnya di pasal 12-13, kita menemukan indikasi bahwa mereka kehilangan harta benda oleh karena mereka beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5) dan “Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan” (Ibrani 12:16). Ada indikasi mereka malu mengaku sebagai pengikut Yesus dan mereka mungkin sulit mendapat pekerjaan, mereka terkucil karena nama Yesus Kristus. Di tengah-tengah situasi seperti itu, tidak heran, ada sebagian orang menjadi goyah, dan akhirnya menyangkal nama Yesus dan meninggalkan imannya karena demi hal-hal yang ada dalam hidup mereka.

Dalam berita dari ChristianPost.com mencatat keadaan yang sungguh tidak gampang dan tidak mudah dimana di tengah situasi pandemi seperti ini anak-anak Tuhan di berbagai belahan dunia, khususnya mereka yang hidup sebagai kelompok minoritas dan mereka tidak mempunyai uang, tidak mempunyai makanan dan bantuan sosial yang diberi kepada mereka oleh Pemerintah. Yang sangat menyedihkan, mereka tidak akan mendapatkan bantuan itu sebelum mereka bersedia untuk menyangkal nama Yesus dan meninggalkan iman, dan terutama mereka yang tadinya dari agama lain dan menjadi orang percaya, mereka diminta untuk kembali lagi supaya mereka bisa mendapatkan bantuan itu. Itu situasi yang real yang orang Kristen hadapi hari ini. Situasi itu sedikit banyak juga terjadi pada waktu jemaat penerima surat Ibrani dalam kehidupan mereka.

Maka penulis Ibrani mengajak mereka kembali melihat keindahan dan keagungan dari Yesus Kristus. Mengapa engkau membuang nama itu? Mengapa engkau membuang Dia sebagai Tuhanmu lalu engkau gantikan dengan sesuatu yang sementara, yang hari ini mungkin bisa memuaskan kehidupanmu, atau boleh menjadi jawaban yang sesaat belaka melalui mendapatkan pekerjaan, kenyamanan, keamanan, dan kecukupan dengan melepaskan harta yang kekal itu? “Dan pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu. Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan” (Ibrani 1:10-12) dan di bagian belakang surat ini kita akan menemukan kembali pernyataan senada, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8). Betapa bodohnya, betapa naifnya, ketika di dunia ini engkau memegang dan menggenggam hal-hal yang sementara dan akhirnya membuat engkau kemudian menghina nama Yesus di depan umum. Memegang Dia, menerima Dia, mungkin tidak membuat perut seseorang menjadi kenyang, tetapi menggantikan yang kekal dengan yang sementara itu satu pertukaran yang tidak seimbang. Itu adalah tindakan naif dan kebodohan di dalam iman kepada Tuhan. Jikalau Kristus di tengah masa pandemi seperti ini tidak lagi menjadi obyek penyembahan kita, tidak lagi menjadi pusat kekaguman kita, kita tidak lagi mempunyai hati yang hormat, kagum, tergetar kepada kemuliaanNya, kita bisa menjadi lemah dan goyah. Hari ini mungkin kita kehilangan suasana khidmat karena kita tidak bisa datang ke gedung gereja, tidak ada musik yang mengangkat hati kita untuk menyembah, tetapi apakah itu semua yang membuat engkau baru bisa menyembah Tuhan? Bukan itu! Kita tidak bisa pergi ke gereja, kita tidak bisa menyanyi memuji Tuhan dengan musik yang penuh, itu membuat penyembahan kita belum afdol? Bukan itu! Pada waktu penganiayaan terjadi dalam skala yang besar, Gereja Mula-mula jauh lebih susah berbakti dibandingkan dengan kita sekarang. Karena dianiaya dan dikejar-kejar, mereka hanya bisa berbakti di dalam katakombe, ruang-ruang di bawah tanah bekas pekuburan yang gelap, pengap dan lembab itu. Sudah tentu mereka tidak bisa menyanyi, mereka diam-diam berkumpul, berdoa, mendengar firman Tuhan dibacakan, mereka saling menguatkan. Sekalipun demikian, itu tidak menjadikan ibadah mereka kehilangan kekaguman, hormat, pujian kepada Kristus. Ibadah mereka mempunyai kuasa dan kekuatan yang membuat mereka sungguh berkobar, semangat mereka tidak padam, hati mereka dibakar dengan kasih kepada Kristus, Tuhan dan pusat penyembahan mereka. Situasi apapun yang terjadi di dalam hidup kita sekarang, kalau setiap kita meninggikan, mengagungkan, menjadikan Kristus lebih mulia daripada segala-galanya, Ia yang patut mendapatkan our absolute trusts, our faith, our sacrifices, our dedications, gereja Tuhan akan terus menjadi berkat yang besar bagi dunia ini. Mari sekali lagi kita bereskan sentralitas penyembahan kita kepada Tuhan. Mari kita tinggikan Dia. Sekalipun langit dan bumi akan berlalu, semua yang fana ini akan hilang lenyap, Ia tidak akan berlalu selama-lamanya. Agungkan Dia, walaupun dengan lagu yang sederhana, sekalipun dalam ibadah keluarga yang sederhana, tetapi hati kita tidak kehilangan kekaguman dan hormat kepadaNya.

Ada beberapa hal praktis yang saya berikan dalam hidup kita hari ini.
Pertama, apa pun yang terjadi dalam hidup kita, kita tidak boleh kehilangan fokus itu. Jangan biarkan situasi dalam hidup mengalahkan kita, membuat api dan semangat ibadah kita menjadi suam dan padam.

Yang ke dua, kuatkan penyembahan kita di rumah kita masing-masing. Momen seperti ini menyadarkan kita, kita tidak boleh bergantung kepada orang, kita tidak boleh bergantung kepada struktur program daripada gereja. Kita tidak boleh menjadikan gereja sebagai tempat dimana kita hanya menjadi customer, menunggu apa yang gereja bisa kerjakan dan lakukan untuk melayanimu dengan lebih baik tetapi kita melalaikan penyembahan kita, penggembalaan kita, membawa anak-anak kita kepada Tuhan. Kita harus bisa membawa hati anak kita, keluarga kita, di dalam situasi ini bawa pujian penyembahan kepada Kristus, membaca Alkitab secara sederhana sekalipun kita tidak ahli, sekalipun kita tidak cakap berbicara, tetapi lakukan dengan satu keyakinan dan kepercayaan dan bukan sebagai satu kerutinan saja. Kembalikan penyembahan yang sungguh dalam di dalam kehidupan kita bergereja. Inilah momen kita mengoreksi diri, jikalau sebelumnya kita merasa hubungan kita dalam dengan Tuhan, kita suka melakukan penyembahan, kita menikmati hadirat Tuhan, tetapi setelah situasi ini semangat kita menjadi hilang dan melempem, berarti selama ini kita mengandalkan penyembahan kita kepada instrumen dan suasana. Kita harus mengoreksi diri, menyadari bukan hal-hal itu yang menentukan kesungguhan kita. Hal-hal itu hanyalah sarana. Pada waktu semua sarana itu hilang, kita tahu satu kali kelak hanya Nama itu yang tetap tinggal kekal selama-lamanya.

Yang ke tiga, bagi setiap hamba Tuhan dan pelayan-pelayan Tuhan, pada waktu kita melayani ibadah dan berkhotbah, apalagi di tengah situasi seperti ini mungkin kita ingin perform dengan baik supaya orang bisa tahu kita punya produk good and better, akhirnya kita jatuh kepada menjatuhkan fokus kepada diri kita sendiri, kita jatuh kepada self-idolatry di dalam pelayanan kita. Bukan Yesus yang menjadi obyek pelayanan kita; bukan Yesus yang menjadi subyek pelayanan kita. Kita harus mawas diri terhadap aspek ini. Tidak salah, kita persiapkan pelayanan dengan baik, kita melayani dengan baik dan sungguh. Tetapi fokusnya bukan meninggikan diri kita sendiri, tetapi meninggikan Yesus Kristus yang menjadi sentral pelayanan kita.

Yang ke empat, menyembah Tuhan dalam situasi seperti ini bukan soal apakah kita punya suara untuk bernyanyi; it is not about your voice. Sehingga sekalipun di dalam katakombe di bawah tanah ibadah secara diam-diam, anak-anak Tuhan tidak bisa bernyanyi dan beribadah dalam kesunyian, keindahan ibadah dan cinta mereka kepada Tuhan tidak berkurang dan tidak terpengaruh oleh hal itu. Bagaimana dengan kita yang sudah lima bulan terakhir ini beribadah seperti ini? Jangan sampai kita kehilangan hati dan arah, cinta kita menjadi pudar dan kehilangan bara, kerinduan kita berdekat dengan Tuhan kemudian meredup oleh situasi ini. Kita yang datang berbakti di gereja hari ini, sekalipun kita tidak bisa bernyanyi, itu tidak membuat kita kehilangan kekaguman dan hormat kita menjadikan Ia agung dan besar kepada Tuhan. Apakah kita punya hati yang penuh dengan pujian syukur, nyanyian keselamatan, kita telah mendapatkan pemulihan dari Tuhan, kita telah alami begitu banyak hal penyertaanNya, semua itu membawa cinta yang lebih dalam kepada Tuhan? Kita bisa berkumpul, saling menguatkan satu dengan yang lain. Ini yang saya rindukan kita alami sama-sama ketika Yesus Kristus menjadi obyek penyembahan di tengah-tengah kita.

Hal yang ke dua, penulis Ibrani mengingatkan Kristus adalah Firman Allah yang lebih superior daripada para nabi. Jikalau pada jaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada jaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya. Nabi adalah manusia yang terbatas dan tidak sempurna. Mereka terbatas oleh waktu dan mereka bisa mati. Demikian juga korban-korban persembahan kambing domba bagi pengampunan dosa harus berulang-kali dilakukan dan tidak bisa sempurna. Itu sebab harus diulang terus-menerus. Yesus adalah Firman yang superior; sekali Ia datang, Firman itu ada untuk selama-lamanya, Ya dan Amin. Tidak perlu ada yang lain untuk melengkapiNya, karena Firman itu sempurna. Itu sebab Ia mati di kayu salib, pengorbananNya satu kali untuk selama-lamanya, tidak perlu lagi tambahan karena sudah perfect and complete. Kenapa dia perlu mengangkat hal ini? Karena jemaat penerima surat ini telah lambat mendengar; mereka mendengar firman Yesus namun mereka bersikap acuh tak acuh terhadap firman itu. Ada yang salah di dalam kondisi spiritual mereka. Maka penulis Ibrani membawa hati mereka kembali melihat kepada Kristus, Firman yang menjelma menjadi daging itu. “Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi daripada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepadaNya jauh lebih indah daripada nama mereka.” Ia adalah Anak Allah yang memiliki the radiance of God, sama seperti kemuliaan Bapa. Ia turun dan datang, Ia sedang menggenapkan penebusan atas dosa, dan sekarang Ia duduk di sebelah kanan Allah, disembah dan dimuliakan. Indah sekali bagian ini karena bagian ini memberitahukan kepada kita ibadah kita di bumi ini adalah ibadah yang bermanfaat. Kita datang berbakti, kita bukan datang untuk mencari pengkhotbah yang bisa menyampaikan khotbah yang baik; kita bukan mau mendengarkan pidato; kita bukan mau menyaksikan performance dari musik atau dari pembicara; kita datang karena kita hendak berjumpa dengan Allah yang sedang berfirman. We worship because God has spoken. Kita datang berkumpul, kita berbakti, karena kita mau menaruh telinga kita untuk mendengarkan suara Ilahi, suara Allah sendiri berbicara kepada kita. Hari-hari ini begitu banyak suara-suara lain berseliweran datang ke telinga kita. Suara-suara yang senantiasa ingin menarik kita jauh dari Allah, itu adalah suara dari si Jahat, suara dari si Setan yang berusaha membuat kita meragukan Allah. Yang ke dua adalah suara yang muncul dari hasil interpretasi pandangan mata kita, perasaan kita, pikiran kita atas situasi hidup. Itulah dua suara yang berseliweran di sekitar kita. Maka perlu kita menjaga hati kita dikontrol dan dipimpin oleh firman Tuhan yang akan meng-counter, menegur, mengoreksi, mengingatkan dan memimpin kita kepada kebenaranNya.

Allah tetap berfirman dan Ia tetap berfirman selama-lamanya. Hamba-hamba Allah yang menyampaikan firmanNya hanya ada di dunia sementara waktu saja; mereka punya kekurangan dan kelemahan; pelayanan mereka selesai ketika mereka mati. Tetapi firman Allah itu ada untuk selama-lamanya. Kita balik kembali, bukan soal tinggi rendahnya intelektualitas orang ketika membaca firman tetapi itu persoalan hati apakah kita mau mendengarkan firman Tuhan, menaatinya dan menjalankannya. Saya rindu hari ini kita kembali lagi diingatkan dan dikuatkan oleh firman Tuhan, ambil keputusan dan aplikasikan kebenaran firman Tuhan ini dalam hati dan hidupmu. Kiranya Tuhan pimpin dan berkati setiap kita. Tinggikan dan muliakan Dia selama-lamanya.(kz)