Jesus, Our Confidence and Hope

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Eksposisi Surat Ibrani [3]
Tema: Jesus, Our Confidence and Hope
Nats: Ibrani 3:6-19

Surat Ibrani adalah sebuah surat yang penuh dengan peringatan. Awalnya di pasal 2 peringatan itu masih tidak terlalu keras. “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus” (Ibrani 2:1). Peringatan ini dia tujukan kepada orang-orang yang datang beribadah tetapi ada hal-hal yang di bawah permukaan yang tidak kelihatan. Orang itu datang beribadah ke gereja tetapi sesungguhnya kuasa dari ibadah itu tidak merubah hati mereka. Mereka tidak sungguh-sungguh memperhatikan firman Tuhan, mereka acuh tak acuh dan tidak teliti memperhatikan apa yang mereka dengar. Mereka menyia-nyiakan, neglected kepada keselamatan yang Tuhan Yesus telah berikan (Ibrani 2:3). Sehingga pasal 3 ke belakang nada peringatannya menjadi semakin keras. Bermula dari sikap mengabaikan, hidup yang tidak sungguh, sampai kepada akhirnya tidak bisa disimpan dan ditutupi, hati yang memang memberontak itu yang awalnya subtle, yang diam-diam, akhirnya menjadi pengerasan hati. Di pasal 3 dan 4 berulang kali penulis Ibrani mengatakan: “Pada hari ini jika kamu mendengar suaraNya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.” Ada sikap menolak dan mengeraskan hati pada waktu benih firman itu ditaburkan di dalam hidup mereka. Ini adalah satu peringatan yang sangat serius, tetapi berangkat dari hati seorang gembala yang memberikan dorongan pastoral untuk menarik mereka melihat kepada Yesus Kristus. Ia mengajak jemaat untuk introspeksi kenapa sampai firman Tuhan tidak merubah hidupnya, kenapa ibadah mereka tidak membawa hati mereka kepada kekaguman, hormat, respek dan takluk kepada kebesaran kemuliaan Yesus Kristus? Problem utamanya ada di dalam sikap penyembahan mereka. Yesus Kristus adalah Anak Allah yang ada dari kekekalan sampai kekekalan; Ia jauh lebih tinggi, lebih agung, lebih mulia daripada malaikat. Semua mahluk memuji dan memuliakan Dia. Sembahlah Dia.

Apa yang sedang terjadi kepada jemaat penerima surat Ibrani ini? Mereka adalah sekelompok kecil orang yang percaya, beriman, dan terima Tuhan Yesus Kristus, yang karena imannya mengalami kesusahan dan penganiayaan di dalam hidup mereka. Mereka menghadapi oposisi dan tekanan yang sangat besar, bukan saja dari pihak pemerintah Romawi tetapi terutama dari pihak Yudaisme, satu struktur keagamaan yang menekan dan opresif kepada mereka. Yudaisme pada waktu itu telah bersanding dengan kekuasaan politik sehingga mempunyai kekuatan kekerasan dan power untuk menekan orang Kristen dan memberikan aniaya dan penderitaan kepada mereka. Akibatnya banyak dari mereka yang karena mendapatkan benefit tertentu, mendapatkan bantuan ekonomi, dan karena kebutuhan hidupnya dipenuhi menyebabkan mereka meninggalkan iman dan tidak lagi menjadi orang Kristen.

Di awal pasal 3 ini penulis Ibrani memberikan satu dorongan kepada jemaat, “Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan surgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus Kristus” (Ibrani 3:1). Penulis Ibrani mengingatkan jemaat, ayo fokuskan perhatianmu kepada Yesus, arahkan matamu, konsentrasi, jangan abaikan peringatan yang diberikan oleh firman Tuhan. Dan kemudian dia membawa jemaat kilas balik kepada peristiwa pengalaman orang Israel keluar dari perbudakan Mesir berjalan di padang gurun 40 tahun lamanya menjadi peringatan dia. Apa yang terjadi di dalam perjalanan bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir dan mengembara selama 40 tahun mirip situasi dan kondisinya dengan pencobaan dan kesulitan yang dialami oleh jemaat yang menerima surat ini, pun sekaligus kita sedikit banyak juga boleh melihat kehidupan kita sebagai orang-orang yang ikut Tuhan juga mengalami perjalanan yang mirip sama seperti mereka.

Ada beberapa hal yang kita lihat di sini. Yang pertama, dia berkata, “Sebab itu seperti yang dikatakan Roh Kudus: Pada hari ini jika kamu mendengar suaraNya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, dimana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatanKu empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati dan mereka tidak mengenal jalanKu, sehingga Aku bersumpah dalam murkaKu, mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu” (Ibrani 3:7-11). Bangsa Israel telah melihat kekuatan dan kuasa Allah selama 40 tahun tetapi sepanjang perjalanan selama 40 tahun itu bukan semakin hormat dan respek kepada Tuhan, justru mereka semakin mengeraskan hati. Sehingga bagian ini memberitahukan kepada kita Allah menyatakan keadilan dan murkaNya menghukum keberdosaan itu bukan tanpa alasan. FirmanNya adil dan benar. Setiap kali orang melanggar kekudusan dan kebenaran Allah, ada konsekuensi penghukuman dari Allah yang adil itu. Tetapi pada saat yang sama kita melihat penghakiman dan penghukuman Allah tidak datang serta-merta sebagai seorang yang marah murka seketika. Kita juga menyaksikan kemurahan dan pengampunan Allah muncul sepanjang 40 tahun perjalanan mereka di padang gurun itu. Jikalau semua kemurahan, kebaikan dan anugerah Allah yang mereka terima itu tidak pernah merubah hatinya, lalu apa lagi yang sanggup bisa memberikan pertolongan dan kekuatan kepada mereka?

Berkali-kali Allah telah membuktikan pemeliharaanNya, tetapi mereka terus bereaksi yang sama. Mereka terus complain, mereka tidak pernah puas, tidak pernah bersyukur, tidak pernah berterima kasih dan menghargai semua itu. Mereka bersungut-sungut dan menggerutu, mereka menghina Allah dan merendahkan Musa, hamba Allah itu. Dalam peristiwa di Mara, tempat perhentian pertama hanya beberapa hari setelah mereka menyeberang dari laut Teberau, bangsa ini bersungut-sungut karena mereka tidak dapat meminum air yang di Mara karena pahit rasanya (Keluaran 15:22-25). Kemudian mereka bersungut-sungut lagi di Masa dan Meriba karena tidak ada air untuk diminum (Keluaran 17:1-7). Berkali-kali Allah telah membuktikan pemeliharaanNya dengan memberi air kepada mereka tetapi mereka terus bereaksi yang sama. Tidak berapa lama berjalan di padang gurun, kembali mereka bersungut-sungut dan berkata, “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan” (Keluaran 16:2-3), maka di situ TUHAN berkata, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu” (Keluaran 16:4). Jikalau dahulu Allah sudah menolong engkau, masakah sekarang Allah tidak sanggup untuk menolongmu? Apa yang terjadi itu untuk menguji ketekunanmu dan ketaatanmu berjalan dalam iman melihat Allah itu adalah Allah yang tidak berubah sekalipun engkau mengalami situasi ini. Allah sudah berjanji, Allah pasti akan menggenapi. Allah sudah berjanji, Allah pasti akan menolong kita. Allah sudah berjanji, Allah pasti akan beserta dengan kita. Apa pun tantangan kesulitan yang ada di depan, kita tahu dan kita pegang janji Tuhan itu sekalipun kita belum melihat di depan, tetapi apa yang telah kita alami di belakang sudah menjadi kekuatan iman yang membuktikan Ia adalah Allah yang setia di dalam hidup kita. Perjalanan bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir berjalan di padang gurun menuju ke tanah perjanjian boleh menjadi contoh itulah perjalanan hidup Kristen kita. Bangsa Israel sesungguhnya tidak melakukan apa-apa untuk keluar dari perbudakan Mesir. Mereka tidak berdaya, tidak ada kekuatan politik, tidak ada kekuatan ekonomi, dan tidak ada dukungan dari pihak bangsa-bangsa lain untuk melawan Firaun. Yang membuat mereka bisa keluar dari perbudakan Mesir adalah semata- mata datang dari tangan Allah yang kuat yang mencabut mereka keluar. Awal dari perjalanan hidup Kristen kita juga seperti itu. Mungkin engkau terpuruk di dalam lumpur dosa, di dalam kegagalan, rasa bersalah, engkau bukan orang yang baik, engkau mungkin bukan seorang ayah yang bertanggung jawab, engkau mungkin seorang ibu yang merasa gagal, engkau mungkin adalah usahawan yang lebih rakus dan memperalat orang untuk keuntungan diri, engkau mungkin adalah karyawan yang sebenarnya penuh dengan muslihat dan rela menjerumuskan orang lain demi untuk mendapatkan sesuatu posisi, engkau mungkin adalah mahasiswa yang free-thinker, yang hidup dalam kebobrokan amoralitas, dengan free-sex dan lifestyle yang destruktif, itulah mungkin hidupmu sebelum bertemu Tuhan. Engkau mungkin arrogant, merasa Allah itu tidak perlu ada di dalam hidupmu sampai segala sesuatu yang engkau bangun dalam hidupmu hancur, engkau terpuruk dan tidak berdaya, di situlah keselamatan Allah terjadi. Itulah awal kita menjadi anak-anak Tuhan. Perjalanan di padang gurun adalah seperti perjalanan kehidupan kita ikut Tuhan. Ada naik dan turun, ada ujian dari Allah. Dalam perjalanan itu kita belajar mengerti dan menerima janji firman Tuhan sehingga saat kita melewati perjalanan ini kita sungguh-sungguh melihat penyertaan Allah dari apa yang tidak kelihatan.

Yang ke dua dia berkata, “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup” (Ibrani 3:12). Ini adalah kalimat peringatan yang sangat penting sekali karena kalimat ini mengingatkan kepada kita bahwa tidak semua orang yang berada di tengah kumpulan orang percaya adalah orang yang sungguh-sungguh percaya Tuhan. Kita tidak perlu terkejut dengan peringatan ini, karena Alkitab juga mencatat ada banyak orang yang tidak percaya Tuhan, kelompok-kelompok opportunist yang disebut orang-orang durjana ikut serta di dalam perjalanan bangsa Israel di padang gurun itu. Orang-orang durjana itu menjadi kelompok yang justru akhirnya mempengaruhi kehidupan komunitas bangsa Israel menjauh dari Tuhan, memberontak dan melawan Tuhan. Di dalam kumpulan murid-murid Yesus, ada satu orang ini yang tidak mau dirubah oleh firman Allah yang berkuasa itu, sekalipun dia sudah mendapatkan Guru yang terbaik, Gembala yang terhebat, Seseorang yang telah melakukan begitu banyak hal yang luar biasa di dalam pelayanan, namun Yudas Iskariot tidak mau melihat dan tidak mau diubah oleh Yesus. Sangat menyedihkan. Dalam hidup kita sebagai orang-orang percaya, biarlah firman Tuhan yang kita dengar itu mempertumbuhkan hidup rohani kita, dan sekaligus firman yang kita dengar harus menjadi firman yang terus menjaga gereja Tuhan dan mengawal kehidupan berjemaat, karena tidak semua orang adalah orang Kristen yang sejati dan yang berjalan di dalam kebenaran. Waspadalah kepada hal-hal seperti itu. Dan pada waktu kita melihat ada orang-orang tertentu yang memang menyatakan sikap yang tidak godly, yang tidak melihat bagaimana keindahan pelayanan gereja dan yang selalu ingin menghancurkan pekerjaan Tuhan, kita harus bertanya kepada mereka: apakah betul kamu adalah seorang Kristen sejati? Apakah kamu adalah sungguh-sungguh umat Allah? Apakah kamu adalah orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus? Tidak gampang menjadi gereja. Kadang-kadang kita melihat di dalam perkumpulan Kekristenan, ada orang luar bisa melihat dan tersandung dengan cara hidup orang-orang tertentu yang setiap minggu ke gereja, bahkan aktif dalam pelayanan tetapi hidupnya munafik. Bagaimana sikap kita pada waktu ada orang luar berkata seperti itu? Akuilah dengan terus terang dan katakan memang benar tidak semua orang yang berada di dalam gereja Tuhan adalah pengikut Tuhan yang sesungguhnya. Kita sedih menyaksikan hal-hal seperti itu terjadi.

Yang ke tiga, kita lihat dari kehidupan umat Israel ada orang-orang yang memang hidup terus berkanjang dalam dosa dan membangkitkan amarah Tuhan. “Siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suaraNya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa? Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun? Dan siapakah yang telah Ia sumpahi bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentianNya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidak-percayaan mereka” (Ibrani 3:16-19). Mengapa mereka mengeraskan hati? Mengapa selama 40 tahun perjalanan di padang gurun mereka mendengar Allah berfirman, itu tidak membuat hati mereka berubah setia kepadaNya? Sebab mereka hanya mau menerima apa yang mereka suka dan mereka hanya mau Tuhan memenuhi keinginan mereka. Mereka tidak mau hal-hal yang berat dan sulit berjalan di padang gurun. Mereka terus dragging emosi dengan kemarahan, sungut-sungut dan complain kepada Tuhan. Setiap kali complain, selalu ingin kembali ke Mesir. Mari kita coba pikirkan dan bandingkan, kembali ke Mesir itu berarti kembali kepada kondisi diperbudak; tidak mungkin bisa hidup bebas dan merdeka. Tetapi kenapa sampai kehidupan perbudakan Mesir dirasa lebih enak daripada hidup merdeka di padang gurun walaupun susah? Hanya karena mereka tidak mau hidup susah sedikit di padang gurun, tidak mau bersabar dan bertekun jalan dalam ketaatan kepada Tuhan. Tujuan Allah memberikan semua kesulitan itu adalah menjadi pencobaan dan ujian yang Tuhan berikan kepada mereka supaya mereka boleh kuat dan bertumbuh dan di dalam pengujian itu, membuat mereka bukan lagi bayi dan anak-anak, tetapi menjadikan mereka orang yang dewasa di dalam iman. Dewasa di dalam iman berarti mereka tidak minum susu dan disuapi, diperlihatkan terlebih dahulu lalu kemudian mereka bersukacita. Menjadi dewasa adalah mereka percaya apa yang sudah terjadi di masa lalu, janji Tuhan itu sudah cukup menjadi kekuatan walaupun mereka tidak melihatnya sekarang. Itu artinya dewasa. Pengujian itu sebenarnya mempunyai satu tujuan yaitu membuat mereka waktu mau masuk ke dalam tanah perjanjian, mereka siap mengambil dan merebutnya dengan iman dan dengan percaya kepada janji Tuhan. Bayangkan berapa besar pengaruh negatif dari sungut-sungut itu, mulai dari satu orang, menyebar ke beberapa orang, akhirnya menjadi besar menyebar dan menteror semua orang. Itulah yang terjadi pada perkumpulan itu, merusak spirit begitu banyak orang, membuat mereka kehilangan sukacita, iman, dan akhirnya lupa akan semua hal yang Tuhan telah lakukan dengan kuasaNya yang dahsyat, yang membelah laut Teberau supaya mereka bisa menyeberang. Mereka sudah lupa, siang dan malam Allah menyertai mereka dengan tiang awan dan tiang api. Mereka lupa bahwa selama 40 tahun itu Allah membuat baju dan sepatu mereka tidak pernah rusak dan lapuk. Mereka lupa bahkan sampai hari itu Allah memberi mereka manna roti dari langit untuk mereka makan. Yang keluar dari mulut mereka pada waktu melihat manna, manna lagi?! terus bersungut-sungut minta daging. Maka Tuhan memberikan burung puyuh untuk memuaskan permintaan mereka. Sungut-sungut hanya melihat hal-hal yang kecil dan sepele, lupa melihat kebaikan dan kebesaran Allah yang luar biasa. Itulah yang terjadi dan saya percaya jemaat yang menerima surat Ibrani sedikit banyak juga menghadapi hal seperti itu. Ada orang-orang yang mau kembali lagi kepada Yudaisme. Itu bisa jadi karena Yesus yang diberitakan dan diajarkan kepada mereka adalah Yesus yang disalib, Yesus yang lemah dan tidak berdaya menolong. Apalagi pada waktu itu gereja Tuhan masih merupakan kumpulan orang yang kecil dan tidak punya kekuatan apa-apa dibandingkan dengan Yudaisme yang mempunyai struktur yang begitu besar dan kuat. Mereka mempunyai keuangan yang kuat dan dibandingkan dengan anak-anak Tuhan pengikut Yesus yang adalah minoritas adanya. Mungkin mereka dibujuk dan ditarik untuk berbalik kepada Yudaisme supaya kehidupan mereka lebih terjamin dan mereka ambil tawaran itu dengan ringan saja. Maka penulis Ibrani mengatakan: lihat kepada Yesus yang lebih tinggi daripada Musa. Lihat Dia, Imam Besar yang telah mendamaikan kita. Pegang teguh Yesus, our confidence and hope, yang sampai akhir memegang kehidupan kita selama-lamanya.

Kita harus waspada dan mawas diri karena hal ini juga bisa terjadi dalam hidup kita dan bisa berlaku juga di dalam komunitas kehidupan bergereja, berlaku juga di dalam relasi kita satu dengan yang lain. Mari hari ini kita refleksi dan introspeksi hati kita kepada firman Tuhan. Sebagai anak-anak Tuhan, bukankah seharusnya kita adalah orang-orang yang paling bersyukur dibandingkan dengan siapapun di atas muka bumi ini, karena kita sudah melihat tangan kebaikan Tuhan yang memelihara kita di masa lampau dan yang tetap memelihara kita sampai hari ini, tangan yang sama juga yang akan memegang kita di masa yang akan datang. Kenapa kita bersungut-sungut? Kenapa kita tidak mau terima pengujian dan susah yang datang ke dalam hidup kita? Kenapa kita marah kepada Tuhan ketika Tuhan meminta kita melangkah dengan iman, berjalan. Kita tidak lagi digendong karena kita bukan bayi, kita bukan lagi anak-anak yang didorong dalam kereta dorong. Kita sekarang adalah orang-orang dewasa yang berjalan di dalam kedewasaan. Di dalam situasi seperti ini ketika banyak hal itu dicabut dan diambil dari hidup kita, kita belajar hidup bersandar kepadaNya, dan sekaligus menyadarkan dan mengingatkan kepada kita memang dalam hidup ini kita tidak perlu punya banyak-banyak. Mari kita saling mendorong dan saling menguatkan satu sama lain berjalan di dalam jalan Tuhan. Pelihara hati yang penuh dengan syukur, dengan sukacita, dengan contentment, kita hidup menjadi orang Kristen yang full of grace. Sebagai gereja dan organisasi yang ada, baik besar atau kecil, yang kita perlukan adalah hati yang committed akan pekerjaan Tuhan, kita tahu ini adalah milik Tuhan dan kita punya sense of belonging yang kuat, kita mau sama-sama mengerjakan pekerjaan Tuhan. Itu adalah jiwa yang harus ada di dalam diri setiap kita. Mari kita tidak membuang semua hal yang baik, dedikasi dan cinta yang telah diberikan oleh begitu banyak orang di dalam hidup pelayanan kita bersama hanya karena ada hal-hal yang tidak sempurna terjadi. Mari setiap kita ambil bagian, melihat apa yang kurang yang bisa kita tambahkan. Berkat dari Allah menolong dan menopang hidup kita hari ke sehari dengan tidak kekurangan apapun, mengalami Allah yang memelihara hidup setiap kita. Yesus Kristus telah menjadi Tuhan Juru selamat di dalam hidup setiap kami. He is our confidence and hope.(kz)