Jesus, He is Able to Help

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Suanto STh.
Seri: Eksposisi Surat Ibrani [2]
Tema: Jesus, He is Able to Help
Nats: Ibrani 2:1-18

Ada permainan masa kecil yang kita mainkan, yaitu permainan Ular Tangga. Bermain Ular Tangga awalnya menyenangkan, apalagi kalau kita terus dapat kesempatan naik tangga, naik, naik terus. Tetapi pada waktu langkah kita tersandung ular, kita mulai merosot turun. Mulanya kita masih bisa tertawa, tetapi kalau terus berulang, apalagi kalau kita terantuk dengan ular yang panjang, kita turun dan turunnya sampai kita harus mulai lagi dari awal, kita tidak senang, kita mulai frustrasi. Kapan kita bisa sampai ke titik akhir kalau harus mulai dari bawah lagi? Permainan ini sesungguhnya mengajar kepada kita bagaimana menghadapi hidup ini. Dalam permainan ini tentu yang paling menyenangkan adalah ketika kita terus maju, apalagi kalau dapat tangga yang paling tinggi, dan terus naik, tanpa tersandung oleh ular penghambat jalan kita. Tetapi sedih sekali kalau sudah berada di posisi paling tinggi, lalu terantuk dengan ular yang paling panjang, membuat kita merosot turun ke titik paling bawah. Kalau terantuk ular yang pendek, turun sedikit, kita masih toleran. Kalau ada tangga yang pendek, bisa naik sedikit, kita juga senang. Dalam situasi pandemi yang kita alami hari-hari ini, kita menghadapi hal yang sama. Mungkin ada dari kita menghadapi tantangan seperti ular yang pendek di dalam pekerjaan kita, di dalam usaha dan bisnis kita, kita turun sedikit dan dalam waktu yang singkat berjalan maju lagi. Tetapi mungkin ada di antara sdr yang berada di dalam persoalan yang begitu besar dan berat, seperti jatuh dari ular yang paling panjang terhempas ke tempat yang paling bawah dan sdr merasa kesulitan dan tantangan terus beruntun tidak habis-habisnya. Bagaimana perasaan hati kita menghadapi semua ini?

Penulis Ibrani melihat seperti itulah kondisi jemaat penerima surat ini, sehingga dia menegur: Mengapa engkau lalai? Mengapa telingamu berat untuk mendengar? Mengapa jiwamu begitu tertekan sampai engkau tidak mau dengar lagi apa yang Tuhan firmankan kepadamu? Apa yang salah sampai mereka tidak lagi bisa mendengar firman Tuhan, sampai mereka tidak lagi melihat indahnya Injil yang datang kepada mereka pada waktu itu. Pada waktu kita tidak lagi mempunyai kekuatan untuk mendengarkan firman Tuhan, pada waktu hati kita dipenuhi dengan kekuatiran, kita meragukan apa yang kita dengar dari firman Tuhan, problemnya adalah di dalam penyembahan kita, kita tidak melihat betapa besarnya Kristus yang kita sembah itu, yang agung dan mulia. Ia adalah Anak Allah yang mulia dan yang bertahta di surga. Sujudlah menyembah dan dengarkan suara firmanNya karena Allah kita adalah Allah yang berfirman. Sampai hari ini Ia terus berfirman dan pada waktu kita datang menyembah Dia, kita percaya Dia juga berkata-kata dan berfirman kepada engkau dan saya. FirmanNya akan kita dengar dengan teliti karena kita tahu siapa Dia. Oleh karena itu di pasal 2 penulis Ibrani buka dengan satu dorongan, “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus” (Ibrani 2:1).

Sinclair Ferguson di dalam bukunya yang berjudul “Maturity” mengatakan, “As Christians we need constantly to remind ourselves that God’s word teaches us to see through our ears, by what we hear in God’s word – not through our eyes and what we see.” Seringkali kita sebagai orang Kristen kita cenderung melihat situasi dan fenomena apa yang kelihatan, lalu kemudian kita berpikir kalau kita sakit, berarti kita tidak diberkati Tuhan. Dan sebaliknya kalau kita lancar sukses, berarti Tuhan dan memelihara kita. Ketika kita berada dalam kesusahan dan kesulitan dan kondisi yang berat, apakah kita menerima firmanNya dan menyimak apa yang kita dengar dengan telinga kita?

Selanjutnya di ayat 1-4 dia memberikan perbandingan serius antara umat Allah di Perjanjian Lama yang menerima firman Allah melalui Musa, dan melalui para nabi, namun mereka tidak mau mendengarkannya, kita menyaksikan bagaimana Allah dengan adil menyatakan penghakiman dan penghukumanNya kepada mereka. Terlebih lagi setiap kali pada waktu engkau dan saya mendengarkan firmanNya, firman itu datang dari Dia yang lebih agung dan lebih mulia, Tuhan Yesus Kristus yang adalah Firman Allah sendiri, maka penulis Ibrani memperingatkan bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang besar itu, yang diberikan oleh Anak Allah sendiri? Yesus Kristus datang memberikan firmanNya, yang diteguhkan oleh Allah Bapa melalui begitu banyak tanda ajaib dan mujizat yang dilakukan oleh Yesus dan yang dilakukan oleh para rasul. Tidak ada era di dalam sejarah dimana Allah melakukan begitu banyak mujizat selain daripada waktu kedatangan Yesus, di situlah paling banyak dan berlimpah mujizat dan tanda-tanda ajaib terjadi. Orang-orang sakit, yang lumpuh, yang buta, yang kusta, disembuhkan olehNya. Bahkan lebih daripada itu orang yang sudah mati pun Ia bangkitkan. Semua itu memberitahukan kepada kita betapa indah, betapa kuasa, dan betapa kita harus dengarkan firman yang keluar dari mulut Yesus Kristus itu. Ia bukan Allah yang ada di atas sana, duduk di tahtaNya yang penuh dengan kemuliaan tetapi Ia mengerjakan dan melakukan hal-hal yang begitu agung bagi kita. Tidak ada lagi hal yang terlalu besar dan terlalu berat yang tidak pernah Yesus jalani; tidak ada hal yang terlalu sukar di dalam perjalanan hidup kita yang tidak Ia tempuh.

Ada tiga hal yang kemudian muncul di Ibrani 2:5-8. Yang pertama adalah penulis Ibrani mengutip Mazmur 8 yang menyatakan satu pertanyaan yang begitu takjub, “Apakah manusia sehingga Engkau mengingatNya, apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?” (Ibrani 2:6). Siapakah kita manusia ini sehingga Allah mengingat kita? Siapakah kita manusia sehingga Tuhan itu mengindahkan kita? Melihat besarnya alam semesta dibandingkan dengan bola dunia kita, bumi ini tidak ada artinya, kecil luar biasa. Dan dibandingkan dengan kita manusia yang ada di bumi ini, yang begitu kecil tidak berarti namun Allah mengingat kita, itu adalah hal yang luar biasa. Tetapi yang terlebih lagi kita manusia yang berdosa, yang memberontak kepadaNya, siapakah kita sampai kemudian Anak Allah itu datang dan mau peduli kepada kita? Kita tidak layak diperhatikan oleh Tuhan seperti demikian. “Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kakiNya. Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepadaNya, tidak ada suatu pun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepadaNya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepadaNya. Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia” (Ibrani 2:7-9). Engkau lihat Dia di atas kayu salib sebagai orang yang dipaku, dihina; tetapi dengan kematianNya Ia telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kakiNya. Di ayat 8, inilah problem yang muncul, “Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepadaNya.” Yesus yang bertahta di surga, Yesus yang agung dan mulia itu, Ia yang sudah menjadi Tuhan dan Juruselamat kita, Ia menjadi Raja di atas segala raja, segala sesuatu telah diletakkan di bawah kakiNya. Problemnya adalah kita yang percaya kepadaNya, yang sekarang masih hidup di dalam dunia ini, masih belum melihat akan hal itu.

Dalam 1 Korintus 1:18 Paulus berkata, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” Dan, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan” (1 Korintus 1:22-23). Bagi kita yang diselamatkan Injil itu adalah kekuatan Allah, tetapi bagi orang lain itu adalah sebuah kebodohan. Coba beritakanlah Injil kepada orang-orang Yunani, kepada orang-orang bukan Yahudi, yang menjadikan courage, intellectual, success, sebagai hal yang mereka agung-agungkan, yang dikejar dan dicari oleh mereka; beritakanlah mengenai Seseorang yang mati dipaku di kayu salib, berita itu adalah sebuah berita kebodohan adanya. Lihatlah dewa-dewa yang mereka sembah, bukankah di situ ada Hercules, anak dewa Zeus yang kuat perkasa, jauh lebih hebat daripada Yesus, bukan? Coba beritakanlah Kristus yang tersalib itu kepada orang-orang Yahudi. Bagi mereka berita salib adalah suatu batu sandungan karena di dalam Perjanjian Lama dikatakan orang yang mati di kayu salib adalah orang yang dikutuk oleh Allah. Bagaimana mungkin orang yang dikutuk oleh Allah bisa sekaligus menjadi mesias bagi mereka? Bawalah berita mengenai Yesus Kristus ini kepada orang-orang di sekitarmu, mungkin mereka akan tertawa. Namun bagi engkau dan saya, pada waktu Yesus berada di atas kayu salib melewati dan mengalami semua kehinaan dan penderitaan itu, sebenarnya bukan Ia yang patut ditertawakan dan dihina dan menjadi kebodohan; waktu aku melihat salib, di situ aku melihat sepatutnyalah aku yang ada di situ. Yesus Kristus, Anak Allah yang mulia, Ia tidak layak mengalami semua itu. Ia lakukan itu untuk menjadi pengganti bagi engkau dan saya.

Yang ke dua, bukan saja Yesus mengindahkan dan memperhatikan kita, Yesus tidak malu menyebut kita saudara-saudaranya. “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara, kataNya: Aku akan memberitakan namaMu kepada saudara-saudaraKu, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat” (Ibrani 2:11-12). Kristus yang menguduskan dan kita yang dikuduskan, kita semua disatukan di dalam Dia. Ini adalah satu kesatuan mistis yang terjadi ketika kita menjadi milik Kristus. Relasi dan kedekatan Kristus dengan kita bukan saja antara Allah dengan umatNya, Tuhan dengan pengikutNya, tetapi di sini Ia menyebut kita saudara dan saudariNya. Satu kedekatan relasi yang begitu erat dan intim. Ia tidak malu menyebut kita saudara-saudaraNya. Bukan kepada malaikat Ia berkata, engkau saudara dan saudariKu, tetapi kepada kita manusia yang telah jatuh dalam dosa yang ditebus olehNya. Bukan saja Ia menjadi Juruselamat kita, tetapi Ia melewati apa yang kita alami. Apa yang kita lewati sama-sama di dalam dosa dan di dalam kehancuran hidup kita, Ia datang dan Ia menjalani itu semuanya. Itulah sebabnya Ia memanggil engkau dan saya sebagai saudara-saudaraNya. Mengapa Ia harus menjalani semua itu? Yaitu supaya Ia bisa membawa banyak orang mendapatkan kemuliaan bersama-sama dengan Dia, yang memimpin mereka kepada keselamatan dan menguduskannya. Mengapa Ia melakukan semua ini? Karena Ia mau menjadi satu dengan engkau dan saya. Ia yang turun di dalam kehinaan, menjadi saudara bersama dengan kita. Itulah yang Ia kerjakan dan lakukan. Puji Tuhan untuk anugerahNya yang tak terkatakan itu!

Selanjutnya Ibrani 2:14-18, “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut. Dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. Itulah sebabnya maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” Ia telah mengalahkan musuh yang terbesar yaitu Iblis yang berkuasa atas kematian yang mencengkeram hidup manusia yang berdosa. Ialah yang telah melepaskan kita dari ketakutan kepada kematian. Ada orang yang berkata kematian adalah hal yang normal, itu adalah bagian dari kehidupan kita. Semua kita akan mati, cepat atau lambat. Tidak ada orang yang akan lepas dari hal itu. Tetapi penulis Ibrani membicarakan ada hal yang tidak kelihatan, ada satu respon dan reaksi manusia yang tidak bisa ditutupi, yaitu adanya ketakutan akan kematian itu. Ketakutan akan kematian inilah yang menjadi realita dari nestapa hidup manusia yang berada di dalam dosa. The sense of fear itu ada dimana saja, perasaan takut akan kematian membuat kita memperlakukan kematian sebagai satu konsep yang misterius, sesuatu hal yang kita tidak tahu apa yang ada di situ. Ketakutan itu adalah ketakutan di dalam diri orang-orang yang berada di dalam dosa dan yang tidak memiliki Kristus. Puji Tuhan, karena Kristus telah datang menyelesaikan satu persoalan yang paling besar yang mencengkeram hidup kita manusia yang berada di dalam dunia ini, kita dicengkeram oleh Setan yang mempunyai kuasa atas kematian. Yesus tidak menjelaskan bagaimana caranya kita bisa luput dari kematian; Yesus sendiri mengalami kematian supaya melalui kematianNya kita bisa terlepas dari kematian dan ketakutan akan kematian itu. Suatu hari engkau dan saya, kita semua akan meninggal dunia. Tetapi kemenangan Kristus atas kematian menjadi pengharapan kita melampaui apa yang kelihatan dalam hidup kita sekarang dan itu seharusnya menjadikan anak-anak Tuhan dengan keyakinan dan dengan kepastian kemenangan daripada Yesus Kristus ini membuat kita bisa teduh dan tenang menghadapi kematian yang ada di depan bukan sebagai akhir tetapi karena Kristus telah menang dan mengalahkannya. Ia telah berjalan terlebih dahulu di depan sehingga Ia sanggup bisa menuntun kita kepada jalan itu. Bukan itu saja, Ia telah turun ke dalam dunia kematian supaya Ia boleh memberikan kebangkitan dan hidup yang penuh pengharapan kepada kita. Di saat-saat seperti ini mungkin terbersit dalam hati kita, ketika ada kesusahan dan bencana yang menghantui di depan pintu rumah kita dan semua itu menyebabkan kita penuh dengan ketakutan akan kematian, mari pada hari ini saya mengajak engkau lebih dalam berakar kepada janji dan kemenangan daripada Tuhan kita Yesus Kristus. Sakit-penyakit yang bermacam-macam bisa datang dan pergi dalam hidup dan kita tidak berdaya menghadapinya. Tetapi semua itu tidak boleh membuat hati kita dihinggapi dengan ketakutan yang berlebihan karena Kristus Tuhan kita sudah menang. Karena Yesus tidak hanya berkata-kata, Yesus tidak hanya mengajar, Ia jalani apa yang engkau dan saya harus jalani di depan. Itu sebab Ia bisa menolong, He is Able to Help, itu yang penulis Ibrani katakan di ayat 18, “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” Karena Yesus sudah menjalani dan mengalami semua itu, sehingga ketika kita menghadapi pencobaan, Yesus sanggup menolong kita menang menghadapinya. Pada waktu kita sedang mengalami kesusahan, kesulitan dan penderitaan, mari kita berkata kepada Tuhan, Tuhan mampukan saya untuk menghadapi dan menang atasnya.

Hari-hari ini kita semua menghadapi situasi yang sama. Di tengah pergumulan yang kita alami, ada hal yang besar telah terjadi, bahkan mungkin hal yang lebih besar akan kita alami, tetapi kita tidak akan pernah kuatir, takut dan undur, tetapi biar kita berdoa kepada Tuhan supaya kita bisa melewatinya dengan pertolongan Tuhan sehingga kita dapat menolong satu dengan yang lain. Saya rindu mari kita sama-sama sebagai gereja Tuhan saling menguatkan dan saling menolong satu dengan yang lain. Tidak ada gereja dan anak Tuhan yang hari ini yang tidak mengalami kesusahan dan kesulitan yang sama. Kiranya kita boleh sama-sama berjalan melewatinya. Pada waktu kita sakit, kita berseru dan meminta pertolongan Tuhan, karena Ia telah pernah mengalami segala sakit lebih dari apa yang sedang kita alami saat ini. Biar kita juga boleh alami bersama-sama dengan jemaat yang lain, dengan orang Kristen yang lain, yang juga mengalami hal ini dan saya boleh menjadi berkat untuk menolong mereka yang perlu ditolong. Biar kita juga boleh menjadi gereja yang menavigasi di tengah situasi dan kondisi pandemi ini. Kita berjuang sama-sama bergandengan tangan melewati kesusahan dan kesulitan ini sama-sama. Jangan menjadi orang Kristen yang hanya memikirkan diri sendiri dan yang hanya ingin sendiri yang tidak ditimpa kesusahan, dan tidak peduli orang lain tertimpa kesusahan; kita tidak boleh menjadi orang Kristen seperti itu. Dan pada waktu kita ditimpa oleh kesusahan, kita tidak tunggu orang lain menolong kita, kita berdoa minta Tuhan memampukan kita untuk bisa menolong orang karena kita juga sudah berjalan dan melewatinya. Saya rindu kita juga boleh menjadi gereja yang memperhatikan gereja yang lebih kecil, kita juga memperhatikan pekerjaan Tuhan yang lebih susah daripada kita, kita juga memperhatikan orang Kristen yang lebih berat dan lebih susah daripada kita. Mari kita bergandengan tangan, kita punya sense of belonging bagi pekerjaan Tuhan dan bagi pelayanan Tuhan harus menjadi hati kita sama-sama. Kiranya Tuhan pimpin hati kita menanggapi firmanNya pada hari ini.

Jesus, He is able to help. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai. Itulah sikap yang kita teladani dari Tuhan kita Yesus Kristus. Kristus telah menjadi contoh teladan yang memberikan satu prinsip hidup bagaimana menjadi pengikut Kristus yang sama. Karena kita telah melewati berbagai-bagai kesusahan dan kesulitan, kita juga bisa menjadi berkat dan menolong mereka yang membutuhkan pertolongan kita. Kiranya firman Tuhan menjadi kekuatan yang menopang hidup kita dan menjadi kekuatan yang menolong kita di tengah segala kesulitan dan kesusahan yang kita alami. Jangan biarkan kekuatiran dan ketakutan terhadap apa yang ada di depan membuat kita akhirnya tidak berani untuk memegang firman Tuhan dan tetap setia kepada Injil Tuhan. Apa yang ada di tangan kita, apa yang sudah kita terima begitu mulia dan berharga, kita tidak akan pernah mau menggantinya dengan apapun juga walaupun kita tahu betapa berat dan susah kita hidup menjadi anak-anak Tuhan. Semua pengalaman hidup iman kami berjalan bersama Tuhan di dalam derita, air mata, kesusahan yang besar dan berat, semua itu boleh dipakai menjadi berkat untuk juga menolong dan berjalan bersama dengan orang-orang yang mengalami hal yang seperti itu. Kiranya damai sejahtera dan sukacita dari Tuhan kita Yesus Kristus boleh memelihara hati setiap kita.(kz)