Apa Artinya Sabat Terakhir?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Eksposisi Surat Ibrani [4]
Tema: Apa Artinya Sabat Terakhir?
Nats: Ibrani 4:1-13

Ketika membaca surat Ibrani ini, kita bisa mendapat kesan bahwa ini adalah kumpulan khotbah dari penulis Ibrani dan di beberapa tempat dia memakai ayat-ayat dan bagian-bagian dari Perjanjian Lama menjadi firman Tuhan yang tetap berbicara dan menjadi firman Tuhan yang memberikan kekuatan, dorongan, bahkan peringatan yang luar biasa penting kepada kita. Dari pasal 3:7 sampai kepada pasal 4:13 penulis Ibrani membahas satu mazmur, yaitu Mazmur 95 dan membagi dua topik pembahasan. Topik yang pertama “Pada hari ini jika kami mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” Ibrani 3:7-19 khusus membahas peristiwa yang terjadi setelah keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir berangkat dari Mazmur 95. Menarik sekali, sekalipun peristiwa ini sudah terjadi beberapa ratus tahun sebelum mazmur ini ditulis, tetapi dipakai oleh pemazmur untuk berbicara kepada umat Allah pada era raja Daud “hari ini” dan penulis Ibrani memakai peristiwa ini sebagai peringatan kepada jemaat yang menerima surat Ibrani “hari ini” dan Allah tetap berbicara kepada kita melalui firman Tuhan yang sudah dicatat sebelum-sebelumnya “hari ini.” Ini merupakan satu prinsip yang sangat penting sekali. Setiap kali kita memberitakan firman Tuhan, kita tidak berbicara soal mendapatkan wahyu yang baru. Wahyu Tuhan sudah lengkap dan selesai ditulis kepada kita. Alkitab bukan saja menjadi kitab yang berbicara kepada umat Tuhan di masa-masa yang lalu dan Alkitab bukan sekedar catatan sejarah bicara mengenai apa yang sudah lewat; Alkitab adalah firman Tuhan yang terus berbicara kepada umat Tuhan sepanjang jaman. Sehingga pada waktu kita datang mendengarkan khotbah setiap minggu, itu bukan saja soal apa yang Tuhan sudah katakan dan lakukan di masa-masa lalu; firman itu juga menjadi firman yang hari ini memberikan kekuatan, memberikan dorongan, dan memberikan peringatan yang relevan kepada kita.

Ibrani pasal 3 diakhiri dengan kalimat, “Demikianlah kita lihat bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidak-percayaan mereka” (ayat 19) dan Ibrani 4 dimulai dengan kalimat, “Sebab itu baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku” (ayat 1). Ini adalah satu peringatan yang keras luar biasa kepada orang-orang yang datang ke gereja, yang mengaku sebagai orang Kristen. Secara fenomena penampakan luar orang ini sama-sama datang berbakti, mereka sama-sama duduk dan mendengarkan firman Tuhan. Tetapi bagaimana kita bisa membedakan ada orang Kristen yang mempunyai iman yang sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus tetapi di dalam pertumbuhan imannya sedang mengalami sakit, immature, tidak dewasa, dibedakan dengan orang yang sebenarnya hanya mengaku di mulut saja percaya Yesus dan seolah begitu aktif ada di dalam lingkungan Kekristenan tetapi sesungguhnya mereka tidak pernah punya iman yang sejati? Secara fenomena mungkin dua jenis orang ini tidak bisa dibedakan tetapi nanti sampai pasal 6 ketika akhirnya orang itu murtad dan menodai nama Yesus Kristus, menghina nama Yesus di depan umum, kita tahu orang itu adalah orang yang memang tidak pernah memiliki iman sejati kepada Tuhan Yesus Kristus.

Kepada orang yang memiliki iman yang sungguh, tetapi begitu lambat pertumbuhannya, begitu lemah, tidak pernah dewasa, ignorance, immature, hidup tidak serius ikut Tuhan. Orang itu abai kepada firman Tuhan, tidak fokus, tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh, acuh tak acuh kepada apa yang dia dengar. Daya tarik dari dunia ini terlalu kuat. Kesulitan dan pergumulan hidupnya lebih menjadi perhatian utamanya, sehingga firman Yesus Kristus, janji yang Tuhan sampaikan tidak lagi mereka dengar, tidak membuat mereka makin kuat dan makin teguh beriman kepada Tuhan. Dari luar tidak kelihatan mereka menolak firman Tuhan, tetapi hati mereka tidak lagi digairahkan, dengar firman Tuhan hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Firman Tuhan itu hanya seperti embun yang datang hanya sebentar saja memberikan kesegaran, tidak lama kemudian, sudah menguap hilang tak berbekas. Di permukaan kelihatan sebentar tetapi karena tidak meresap sampai ke bawah ke akarnya, maka tidak tumbuh dengan kuat dan sehat. Maka penulis Ibrani mengingatkan: Waspada! kepada orang-orang Kristen yang seperti ini.

Penulis Ibrani memakai ilustrasi apa yang terjadi dengan bangsa Israel, yaitu sudah tinggal selangkah lagi di depan tanah perjanjian, di Kadesy, yaitu tempat dimana Musa mengutus 12 pengintai masuk ke tanah Kanaan. Setelah 40 hari lamanya, mereka kembali sambil membawa buah-buahan dan hasil dari tanah itu. Tetapi 10 pengintai memberikan laporan yang mengecilkan hati mereka. “Kami sudah masuk ke negeri ke mana kau suruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar. Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu karena mereka lebih kuat daripada kita. Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang” (Bilangan 13:27, 31-33). Mendengar hal-hal seperti itu, segenap umat itu mengeluarkan suara yang nyaring menangis dan bersungut-sungut: Kenapa TUHAN membawa kita ke sini kalau akhirnya kita mati juga, dan anak istri kita menjadi tawanan mereka? Yosua dan Kaleb mengatakan, “Negeri itu luar biasa baik. Jika TUHAN berkenan maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita.” Tetapi bukannya hati mereka menjadi kuat dan teguh, mereka justru mengambil batu ingin merajam Yosua dan Kaleb sehingga Allah datang intervensi di tengah-tengah mereka (Bilangan 14:1-38).

Betapa tragis, hanya tinggal sedikit lagi, selangkah lagi, mereka gagal mencapainya. Dengan memakai kisah itu, penulis Ibrani menjadikan pengalaman bangsa Israel di padang gurun itu juga boleh menjadi model dan pola perjalanan kehidupan Kristen kita yang hidup hari ini. Perjalanan di padang gurun itu adalah perjalanan Allah mencobai dan menguji apakah mereka bisa bertumbuh dalam iman dan kedewasaan di situ. Itulah perjalanan dimana Tuhan sementara tidak memberikan sesuatu, menahan sesuatu, Tuhan tidak mencukupkan sesuatu di situ. Waktu mereka jalan ada hambatan dan tantangan dari bangsa lain yang tidak mengijinkan bangsa Israel berjalan melalui negeri mereka, maka Tuhan menjadikan rute perjalanan mereka berputar sedikit. Sama seperti engkau dan saya saat ini, ada masanya di dalam perjalanan hidup kita seperti di padang gurun, ada hal yang kita inginkan, ada rencana yang mau kita lakukan, dan kita sudah planning dengan baik, namun harus mengalami penundaan karena ada hambatan, ada kesulitan ekonomi, ada sakit yang terjadi, kita diminta oleh Tuhan untuk berputar sebentar di dalam perjalanan itu sedikit lebih panjang. Adakalanya mungkin kita menikmati “manna” setiap hari, tidak berlebih tetapi tidak juga berkekurangan dalam hidup kita, supaya kita belajar bahwa Allah itu setia kepada kita dan kita belajar mendoakan dan menjalani “Doa Bapa Kami,” give us this day our daily bread, Lord, berikanlah kepada kami makanan kami yang secukupnya. Jika bangsa Israel memulai perjalanan menuju tanah perjanjian dengan sukacita pada waktu awal mulai seperti itu, tetapi hanya tinggal selangkah lagi, mereka kemudian marah, benci, berbalik arah melawan Tuhan. Penulis Ibrani mengatakan, firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya. Satu warning yang sangat penting yang kita bisa pelajari pada hari ini, dan pada saat yang sama warning itu juga memberikan dorongan kepada kita biarlah kita menjadi orang Kristen yang memiliki iman, bertumbuh bersama-sama oleh iman itu seturut dengan apa yang firman Tuhan yang kita dengar di dalam hidup kita.

Topik yang ke dua mulai pasal 4:1-13 ini penulis Ibrani membahas kata ke dua, “tempat perhentian,” a resting place. Tempat perhentian yang dimaksud di sini bukan lagi seperti tanah, lokasi dan tempat, tetapi itu adalah “tanah perjanjian” yang lebih baik yaitu tanah perjanjian spiritual. Dan bukan Yosua yang akan membawa kita masuk ke sana, tetapi Yesua, yaitu Yesus Kristus, sang Mediator dan Pengantara yang akan memimpin kita masuk ke tanah perjanjian ini. Ingatkan, apa yang terjadi dan apa yang Allah telah kerjakan di masa yang lalu kepada bangsa Israel itu adalah bayang-bayang dari apa yang akan terjadi dan digenapkan di dalam Yesus Kristus. “Sebab kita yang beriman akan masuk ke tempat perhentian” (Ibrani 4:3).

Di ayat 4, “sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan. Sebab tentang hari ke tujuh pernah dikatakan di dalam satu nas: Dan Allah berhenti pada hari ke tujuh dari segala pekerjaan-Nya.” Sangat menarik, di sini penulis Ibrani memakai konsep “tempat perhentian” itu sekarang dia kaitkan dengan “hari ke tujuh” mengacu kepada catatan mengenai penciptaan dunia di Kitab Kejadian. Kalau kita membaca kisah penciptaan, kita akan menemukan hal yang unik: setiap satu hari berlalu setelah Allah menciptakan sesuatu maka akan disebutkan “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama, ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima dan ke enam (Kejadian 1:5,8,12,19, 23, 31). Tetapi setelah Allah sudah selesai bekerja dalam penciptaan itu dikatakan, “Ketika Allah pada hari ke tujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuatNya itu, berhentilah Ia pada hari ke tujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuatNya itu. Lalu Allah memberkati hari ke tujuh itu dan menguduskannya” (Kejadian 2:2-3). Maka hari ke tujuh adalah hari dimana Allah beristirahat dari segala pekerjaanNya lalu memberkati hari itu. Tetapi tidak kita temukan frase “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ke tujuh.” Kenapa? Itu berarti hari ke tujuh belum ditutup dan masih berlanjut. Hari ke tujuh, hari Sabat itu akan sampai kepada perhentian, itulah hari Sabat terakhir. Di pasal 4 ini penulis Ibrani memakai kata “Sabatismos.” Semua orang umumnya berkata satu kali hidup kita semua akan berhenti, finish, selesai dari segala pekerjaan, kita akan mati. Tetapi penulis ingin mengatakan hidup kita tidak selesai, berhenti dan beristirahat dari segala pekerjaanmu, tetapi hari itu justru kita pahami sebagai Sabatismos, hari dimana kita bertemu dengan Tuhan, enjoying His goodness sepenuhnya. Maka dia memakai konsep setelah Allah selesai menciptakan segala sesuatu maka Allah enjoy the goodness of His good creation. Itu adalah hari dimana relationship antara Allah dengan Adam dan Hawa di dalam persekutuan yang indah. Pattern pola enam hari kita bekerja dan satu hari kita beristirahat, itu adalah pola hari kita jalani hidup dalam dunia ini mengikuti model apa yang Alkitab sudah berikan kepada kita tetapi sekaligus sebenarnya apa yang kita kerjakan dan lakukan ini senantiasa harus mengantisipasi kita kepada hari Sabat yang terakhir, hari dimana kita akan bertemu dengan Tuhan, hari dimana kita boleh menikmati sukacita bersama-sama dengan Tuhan. Maka pada Sabat yang terakhir, bukan saja kita selesai dan kita mati; Sabat yang terakhir dimana Yesus, sebagai Yosua kita, akan membawa kita masuk ke dalam tempat peristirahatan yang terakhir. Lebih daripada Yosua, Yesus Kristus akan memberikan kepada kita satu Sabat yang lebih baik yaitu kebangkitan Kristus menjadi bukti kita bukan saja berhenti dari segala pekerjaan kita tetapi Tuhan akan memperbaharui hidup kita. Adakah kebangkitan Kristus, kemenanganNya atas kematian merubah perspektif kita mengenai hidup kita, membuat kita tidak takut lagi dengan apa yang sedang kita alami, dan menghadapi kematian dengan perspektif yang baru kematian bukan our resting place, tetapi awal kita menikmati Sabat yang terakhir bersama dengan Tuhan? Dalam dunia ini kita lahir dengan tubuh yang sehat, kita akan akhiri dengan tubuh yang sakit-sakitan dan kita akan menjadi tua, keriput dsb. Kita tidak mengakhiri hidup kita seperti itu. Sabat yang terakhir akan memulihkannya menjadi kebangkitan dan hidup yang baru di hadapan Tuhan. Sabat yang terakhir akan membuat kita menantinya dengan penuh sukacita dan kemenangan. Hari Sabat kita setiap minggu menjadi hari Sabat kita foretaste mencicipi sedikit sukacita beribadah bersama, menikmati relationship dengan Tuhan dan menikmati segala kebaikan the goodness of God di dalam hidup kita, itu harus lebih daripada kita berhenti daripada segala pekerjaan dan rest semata-mata. Itu harus menjadi satu kerinduan dan antisipasi kita kepada Sabat yang terakhir yang akan kita nikmati bersama Kristus Tuhan kita.

Situasi pandemi yang terjadi bagi orang Kristen sesungguhnya adalah saat dan momen yang sangat penting dan sangat critical. Kita tahu dalam keadaan pandemi ini banyak orang Kristen tidak lagi bisa datang berbakti ke gereja Tuhan. Mari kita melihat ini adalah cara Allah yang sangat luar biasa membentuk umatNya menjadi dewasa di dalam iman. Apakah di dalam situasi dan kondisi seperti ini kita masih memiliki kekuatan, sukacita menikmati Tuhan, percaya Tuhan sepenuhnya in control di tengah semua ini? Seorang hamba Tuhan mengingatkan, waspada jangan sampai hatimu menjadi keras dan membuatmu “from being people who can’t go to church to being people who won’t go to church.” Pandemi ini memang memberikan tekanan yang berat, tetapi pada saat yang sama sekaligus menjadi saat-saat pengujian yang penting apakah kita semakin sungguh-sungguh ikut Tuhan, atau justru sama seperti bangsa Israel berjalan di dalam perjalanan di padang gurun tinggal selangkah lagi masuk tanah perjanjian yang indah, tetapi kita menjadi lemah dan undur, tidak mau melangkah di situ. Memang betul, sekarang kita tidak bisa melakukan segala aktifitas di gereja seperti sebelumnya, kita juga mengalami kesusahan dan kesulitan yang sama di dalam pekerjaan kita. Pola dan model pelayanan gerejawi bisa jadi berubah; bisa jadi di situlah Tuhan memaksa kita memakai cara-cara yang lain. Bisa jadi kita hanya bisa melayani orang-orang di rumah kita dan berbakti bersama-sama sebagai gereja rumah. Tetapi tidak bisa kembali seperti yang dulu tidak boleh membuat hati kita kemudian tidak melihat apa yang Tuhan mau kita lakukan dalam pelayanan. Ambil waktu untuk mencari orang, telpon dia, mungkin dia sedang mengalami kesusahan dan kesulitan yang berat, engkau bisa doakan dan lakukan sesuatu menolongnya. Biar iman Kristenmu menjadi iman yang aktif dan juga proaktif seperti ini. Semua tekanan dan kesulitan itu tidak boleh membuat kita tidak melihat ada tanah perjanjian yang indah yang Tuhan akan sediakan bagi kita. Itulah iman. Nanti sampai di pasal 11, penulis Ibrani mengatakan, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Dalam perjalanan seperti ini imanmu berkata sekalipun aku belum lihat tanah perjanjian itu, sekalipun aku baru hanya mencicipi sedikit [foretaste], aku tidak menjadi lemah dan tawar hati.

Yang ke dua, pada Sabat yang terakhir itu, kebaikan dan keindahan alam semesta yang telah dirusak oleh dosa ini dipulihkan kembali oleh Tuhan. Sakit kita saat ini hanyalah sebuah penundaan dari sehat selama-lamanya bersama dengan Tuhan. Kemiskinan kita saat ini hanyalah sebuah penundaan dari kelimpahan kekayaan yang akan kita nikmati bersama Tuhan. Tekanan oposisi dan penderitaan yang kita alami karena nama Tuhan Yesus Kristus saat ini hanyalah sebuah penundaan dari rangkulan kasih Allah yang satu kali akan berkata, “Engkau adalah hambaKu yang baik dan setia, masuklah ke dalam sukacitaKu. Berbahagialah mereka yang mati di dalam Tuhan, yang dianiaya karena nama Tuhan, karena mereka akan dihiburkan oleh Allah selama-lamanya. Itu hanya sebuah penundaan. Penundaan itu hanyalah satu langkah saja. Tuhan mau engkau bertahan, percaya, sekalipun belum melihat. Sabat adalah hari restorasi dari Tuhan di dalam relasi dan kebaikanNya kepada kita.

Maka tiga nasehat ini penting untuk kita renungkan dalam-dalam. Pertama, “Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidak-taatan itu juga” (Ibrani 5:11). Dengan kalimat “berusaha untuk masuk” kita dipanggil untuk sabar, berjalan maju, persevere. Fokus, supaya di tengah jalan kita jangan gagal dan kita berhenti melangkah maju. Ke dua, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 5:12). Pegang erat-erat firman Allah. Firman Allah sanggup dan bisa menembus sedalam-dalamnya hidup kita. Dengan memakai beberapa metafora ini mengingatkan firman Allah begitu kuat, begitu powerful, bisa begitu dalam menembus hati kita. Firman Allah tidak akan pernah pulang dengan sia-sia. Sehingga bagi mereka yang menerima dan memegang firman Tuhan dengan kuat dan teguh, di situlah firman itu menjadi kekuatan yang mempertumbuhkan hidup kita. Yang ke tiga, sekaligus menjadi peringatan: hari Sabat yang terakhir juga adalah hari dimana Allah menjadikan segala sesuatu itu kepada tempat yang benar, itulah hari penghakiman Allah yang adil. “Dan tidak ada suatu mahluk pun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibrani 4:13). Puji Tuhan! Pada hari Sabat terakhir God will make everything right again. Itulah hari penghakiman Allah yang adil dan benar, dan akan terjadi pembalikan [a great reversal] daripada apa yang terjadi di dunia ini.

Pada hari itu Allah akan memulihkan dan menjadikan segala sesuatu indah luar biasa. Pada saat yang sama ayat ini juga mengingatkan kita tidak ada hal yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. Maka mari kita ambil keputusan setiap hal yang kita kerjakan dan lakukan, jangan pikir bagaimana pandangan orang kepada kita; jangan pikir bagaimana kita melihat self-image kita di hadapan orang, tetapi senantiasa berpikir bagaimana Allah memandang dan melihat semua yang engkau kerjakan dan lakukan di dalam hidupmu, itu yang paling penting. Karena nanti pada Sabat yang terakhir segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. Kiranya firman Tuhan ini menjadi kekuatan yang menolong hidup kita saat ini menjadi berkat bagi gereja, menjadi berkat dan kekuatan bagi kita melewati saat-saat ini.(kz)