Sikap Hati Seorang Murid: Extending God’s Grace

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Enrol in Jesus’ School [2]
Tema: Sikap Hati Seorang Murid: Extending God’s Grace
Nats: Matius 10:5-15

Saya percaya setiap kita pasti akan langsung mencium ada hal yang tidak beres jika melihat iklan yang menawarkan untuk masuk sebuah sekolah hanya dengan membayar biaya kuliah, tidak perlu datang ke kampus, bahan akan dikirim, kuliah secara online hanya melihat rekaman video, tidak ada tugas assignments yang harus dikumpulkan, tidak ada ujian yang harus diselesaikan. Dalam 6 bulan anda sudah bisa diwisuda dan mendapat gelar yang sdr mau: Bachelor, Master, atau bahkan Doctor. Kita tahu itu pasti sekolah abal-abal, sekolah bohong-bohongan. Saya juga percaya setiap kita juga bisa mencium ada hal yang tidak beres jikalau ditawarkan satu investasi yang memberikan keuntungan berlipat-ganda dalam waktu singkat hanya dengan memasukkan uang sejumlah tertentu. Mungkin ada orang tertarik sebab pada waktu dia memasukkan uang investasi $1,000 hanya dalam waktu tiga bulan uangnya menjadi $8,000 bukankah itu satu inventasi yang luar biasa? Lain kali ketika dia memasukkan uang lebih banyak, uang itu tidak akan pernah kembali karena itu adalah investasi abal-abalan.

Kalau di dalam dunia seperti itu, sdr bisa mengetahui “if it seems too good to be true, it probably is” dan tidak masuk ke dalam perangkapnya; saya harap kita juga menjadi orang cerdas, peka dan mengetahui bahwa pada waktu kita mendengar tawaran masuk ke dalam sekolah Yesus dengan janji Yesus akan membuat hidupmu lebih nyaman, lebih bahagia, bisa memiliki segala sesuatu dengan tanpa ada konsekuensi, tanpa perlu responsibility, tanpa ada tugas dan pengorbanan apapun dari pihak kita, maka kita tahu itu bukan sekolah Yesus yang benar adanya. Tetapi sayangnya mengapa ada begitu banyak orang tidak cepat bisa menangkap hal yang tidak benar pada waktu mendengarkan khotbah dan pengajaran yang seperti itu? Apakah kita tidak melihat bahwa tawaran investasi rohani secara abal-abal melalui khotbah seperti itu bukan hal yang diajarkan oleh Alkitab?

Lihatlah murid-murid Yesus yang dipanggil, yang dicatat dalam Matius 10:1-4. Saya percaya ketika panggilan Tuhan datang kepada mereka, bukan hal yang gampang buat mereka menjawab panggilan itu. Petrus, misalnya, sudah punya keluarga dan tanggungan. Matius, pemungut cukai, mempunyai pekerjaan yang harus dia tinggalkan sewaktu ikut Yesus. Mari kita membayangkan semua aspek itu. Pada waktu mereka dipanggil menjadi murid, mereka punya beban, mereka punya kesusahan dan kesulitan, dan belum tentu pada waktu mereka ikut Yesus dan menjadi muridNya, kesusahan dan kesulitan hidup keluarga mereka itu menjadi hilang dan lenyap. Mereka akan menghadapi pergumulan itu. Tetapi mereka tetap ikut Yesus. Matius 10 adalah pesan dan pengajaran Yesus Kristus bagi murid-muridNya dan pengajaran ini lebih merupakan the suffering in the mission, mempersiapkan hati murid-murid untuk menerima dan menjalani penderitaan, kesusahan dan kesulitan menjadi murid Yesus. Apa artinya menjadi murid Yesus? Siapkah engkau menjalani sebuah sekolah pendidikan yang Yesus berikan? Saya rindu apa yang kita pelajari, apa yang kita dengar pada hari ini mempersiapkan hati kita menerima panggilan menjadi murid Yesus Kristus. Kita bukan nge-fans Yesus, kita bukan pengikutNya yang hanya “like and dislike,” dan kita tidak ikut Dia berdasarkan feeling atau apa keuntungan yang akan kita dapat mengikut Dia.

Minggu lalu kita sudah melihat kesimpulan yang diberikan oleh Matius kepada pribadi Yesus Kristus, pengajaran Yesus Kristus, dan pelayananNya yang berkeliling ke semua kota dan desa. Ia mengasihi, menyembuhkan dan memberitakan Injil dengan motivasi dan hati yang compassion, penuh dengan belas kasihan. Misi, pekerjaan dan pelayanan daripada gereja Tuhan menghadapi tantangan kesulitan apapun tidak membuat kita ciut dan mundur dan hanya memperhatikan diri kita sendiri. Kepada musuh, kepada orang-orang yang tidak menghargai setiap pekerjaan Tuhan, kasih Tuhan tidak pernah berubah, itulah sebabnya Ia datang ke dalam dunia ini. Gereja-gereja Tuhan, anak-anak Tuhan, kita dipanggil oleh Tuhan di dalam misi memberitakan Injil kepada dunia ini, mari kita memiliki hati yang penuh belas kasihan seperti Yesus Kristus.

Victor Kuligin, seorang teolog dan hamba Tuhan misionari di Namibia, menulis sebuah buku berjudul “Ten Things I wish Jesus never Said” dengan keprihatinan karena dia melihat bagaimana Prosperity Theology masuk dan mewabah di negara-negara yang notabene begitu miskin di Afrika. Begitu banyak gereja-gereja terpesona dan jatuh ke dalam perangkap pengajaran yang diimpor dari Amerika ini. Victor Kuligin mengatakan dengan mewabahnya khotbah tentang kemakmuran, kita telah dibuat terbiasa dengan ide kenyamanan di dalam Kekristenan. Gambaran Yesus yang diberikan adalah Yesus versi “ringan” enak, tidak banyak tuntutan. Yesus hanya tertarik kepada kesenangan anda, Yesus mau anda hidup nyaman secara keuangan, secara emosi dan secara mental, yang berbahagia dan stabil.

Kesusahan, pencobaan dan kerasnya kehidupan yang terjadi kepadamu itu pasti disebabkan karena ada kurang iman percaya bahwa Yesus mau engkau bahagia. Tidak heran orang lebih suka khotbah Yesus versi Prosperity Theology seperti ini ketimbang apa yang Alkitab berikan. Dan dari 10 kalimat yang Yesus ucapkan itu ada kalimat-kalimat yang disebutkan di dalam Matius 10 ini. “Aku mengutus engkau seperti domba di tengah serigala. Barangsiapa yang tidak memikul salib, menyangkal diri dan mengikut Aku, ia tidak layak menjadi muridKu. Aku datang bukan membawa damai tetapi pedang. Keluarga, orang tua, anak, karena engkau menjadi murid Kristus, mereka akan membenci engkau.”

Pada waktu Yesus mengutus murid-murid di dalam sekolah pemuridanNya, beberapa kalimat yang Yesus berikan adalah kalimat-kalimat yang begitu berat. Bukan karena Yesus ingin mempersulit hidup kita menjadi muridNya, bukan dengan susahnya sekolah di sekolah Yesus berarti engkau akan menjadi kelompok elit, menjadi orang Kristen yang hebat dan spesial, menjadi semacam pasukan khusus yang lebih hebat daripada orang-orang Kristen yang lain. Saya percaya sekolah Yesus tidak seperti itu. Yesus bukan menjadikan hidup orang menjadi susah dan berat supaya orang itu menjadi hebat dan eksklusif. Yang ke dua, Yesus mengajar murid-murid supaya melalui sekolah ini bukan membuat mereka menjadi orang yang lebih baik. Tujuan Kristus adalah supaya kita menjadi semakin serupa dengan Dia melalui satu proses pendidikanNya dimana kita belajar makin mengenal siapa Dia di dalam realita hidup kita sehari-hari. Kita tahu Tuhan kita itu baik; kita tahu Tuhan kita itu memelihara; kita tahu Tuhan kita itu penuh kasih; kita tahu Tuhan kita itu adil dan suci adanya. Tetapi Yesus mau melalui sekolahNya kita mengalami siapa Tuhan yang kita percaya seperti itu.

Maka Yesus berkata kepada murid-murid untuk pergi memberitakan Injil dan melayani dengan graceful karena kita memahami apa arti kasih karunia itu, apa arti Tuhan memberkati hidup kita.
Murid-murid diutus pergi memberitakan Injil ke segala tempat, mereka belajar bersandar kepada pemeliharaan Allah, dan mereka berespon dengan panggilan Tuhan seperti ini. Inilah sekolah pemuridan Yesus yang otentik. Melalui pengutusan ini bukan membuat murid-murid menjadi lebih baik, lebih hebat berkhotbah, lebih jago berdebat, lebih eksklusif. Tidak. Kita semua sama lemahnya. Tetapi sekolah pendidikan itu untuk membuat engkau dan saya di dalam menghadapi dunia dan realita pelayanan lebih mengenal siapa Tuhan yang kita sembah dan percaya itu. Pendidikan Yesus mengajar murid-murid bukan sekedar memberikan satu filsafat yang enak dan nikmat, pengajaran yang menyenangkan telinga dan permainan kata-kata yang manis. Tidak. Kita belajar mengenal Tuhan di dalam sekolah pendidikan dan bagaimana kita keluar menjadi murid Tuhan Yesus Kristus yang otentik. Yesus mengutus kita ke dalam dunia yang real dan nyata, keluar dan pergi ke dalamnya. Pendidikan Tuhan bukanlah sekolah di sekolah “Dufan” [Dunia Fantasi]. Dufan itu Amusement Park, tempat dimana kita dibawa kepada permainan yang menegangkan sekaligus menyenangkan. Kadang saya tidak habis pikir, kenapa orang mau bayar mahal dan antri berjam-jam untuk teriak-teriak main roller-coaster. Apakah permainan itu real? Kita rasa real, bukan? Tubuh kita diangkat, lalu diputar-putar, kemudian terhempas ke bawah. Kita teriak-teriak karena kita ditarik dan didorong dalam kecepatan yang tinggi dan hanya beberapa sentimeter di atas permukaan tanah, kita ditarik lagi ke atas sehingga tidak terhempas jatuh. Dunia Fantasi penuh dengan thriller, menakutkan, menegangkan, terasa berbahaya, tetapi menyenangkan. Kenapa? Karena kita tahu itu jatuh yang tidak sungguh-sungguh dan tidak mematikan. Kita hanya menikmati sensasinya saja. Lain dengan kalau kita naik pesawat dan pesawat itu kemudian jatuh, kita akan teriak sungguh-sungguh karena itu real! Sekolah pendidikan Yesus ingin bagaimana kita mengalami Tuhan, bagaimana kita makin rindu mengenal Tuhan lebih dalam, bukan hanya waktu menyanyi saja, tidak boleh berhenti hanya sampai di khotbah saja, tidak berhenti sampai di pembacaan Alkitab kita. Tuhan mengutus kita ke dalam dunia yang real, Tuhan mau kita mengenal dan makin mengalami Tuhan di dalam kehidupan kita pribadi lepas pribadi.

Dalam Matius 10:5-15 dicatat, “Ke dua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Allah sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati, tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas, atau perak, atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk ke rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya pada hari penghakiman, tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.”

Hari ini secara khusus kita melihat beberapa bagian dari Matius 10:5-15 ini untuk kita melihat bagaimana sebetulnya bukan hati murid-murid berespon yang menjadi aspek terpenting, tetapi memahami bahwa respon itu terjadi oleh karena mereka makin mengenal siapa Tuhan. Sebelumnya, kita harus mengerti bahwa ada banyak bagian dari khotbah ini tidak bisa kita aplikasikan secara langsung kepada kita karena ini adalah khotbah Yesus dalam pengutusan 12 murid-murid sebagai rasul pada waktu itu. Sehingga waktu Yesus berkata: ‘Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel,’ di situ tidak berarti Yesus hanya mau kita tidak memberitakan Injil kepada segala bangsa tetapi ini berkaitan dengan konteks waktu itu. Lalu kemudian ada otoritas yang hanya diberikan kepada 12 rasul ini saja: Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati, tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan. Itu adalah otoritas kerasulan yang hanya Yesus berikan kepada 12 murid ini dalam status, jabatan sebagai orang-orang yang dipanggil Tuhan menerima wahyu dan menjadi fondasi dari dibangunnya Gereja. Maka di situ ada perbedaan dengan panggilan kita. Jadi bagian ini harus kita lihat tidak dilepaskan dari konteksnya pada waktu itu, yang tidak boleh kemudian secara hurufiah kita pakai bagi kita hari ini. Walaupun kita bisa melihat ada orang yang mengambil bagian ini lalu mengaplikasikannya dengan iman lalu mendirikan sesuatu pelayanan atau pergi ke satu tempat tanpa membawa apa-apa dan belajar hidup bersandar kepada Tuhan sepenuhnya.

Mari kita lihat beberapa hal yang paling penting dalam prinsipnya di sini adalah pada waktu Yesus mengatakan semua hal ini, kenapa mereka kerjakan dan lakukan hal ini? Yang pertama, murid-murid belajar melihat pelayanan dimulai karena memahami anugerah Allah. “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Kita melayani karena kita mengetahui dan mengalami Allah adalah Allah yang penuh dengan kasih karunia. Kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus, sudah mengalami apa artinya kasih karunia. Maka pergilah, bagikanlah kasih karunia Allah itu kepada orang-orang lain juga. Kita yang sebetulnya tidak layak, kita yang penuh dengan kekurangan dan dosa, kita diterima oleh Tuhan dengan cuma-cuma, itulah kasih karunia. Mengenal Allah yang penuh kasih, mengerti apa artinya kasih karunia di dalam pelayanan, inilah yang kita belajar di dalam sekolah pemuridan Yesus.

Yang ke dua, pelayanan anugerah terjadi karena mereka melihat di dalam diri Yesus sendiri. Ia adalah pribadi Anak Allah yang turun dari surga, yang datang mencari manusia yang terhilang. Bagaimana kita bisa memahami kegerakan Allah pergi mencari orang yang terhilang? Yesus memakai ilustrasi Anak yang Hilang, Bapa yang menunggu anak itu kembali dan pada waktu melihat dia dari kejauhan, Bapa itu berlari menghampiri dan memeluknya (Lukas 15:11-24). Yesus juga memakai gambaran bagaimana seorang gembala pergi meninggalkan 99 domba yang ada dan mencari 1 domba yang terhilang dan tersesat sampai dia menemukannya (Lukas 15:1-3). Yesus ingin menggambarkan apa artinya kegerakan Allah menyatakan anugerahNya seperti itu. Tetapi tidak ada gambaran yang lebih agung daripada Ia yang turun dari tahtaNya yang mulia di surga dan turun ke kandang yang hina. Bukan itu saja, murid-murid melihat Yesus pergi berkeliling ke segala tempat mencari orang-orang yang marginal, domba-domba yang terhilang dan tersesat, yang tidak digembalakan itu, yang sakit, yang terbuang. Yesus pulihkan, Yesus sembuhkan, Yesus selamatkan orang-orang seperti itu. Anak Allah itu turun inkarnasi menjadi manusia, menjadikan kita tahu apa artinya kita menerima keselamatan itu dengan Allah yang mencari kita, murid-murid belajar dan melihat dalam diri dan dari hidup pelayanan Yesus Kristus. Yang ke tiga, murid-murid mengalami sendiri kasih karunia Allah secara pribadi. Masing-masing kita juga mempunyai kisah kita masing-masing bertemu dengan Yesus Kristus dengan berbeda. Tetapi apa pun perbedaan dari kisah kita bertemu dengan Tuhan, kita tahu kita diikat oleh satu kisah yang sama, bahwa kita adalah orang yang terhilang, yang terbuang, yang terpuruk, yang berada di dalam hopelesness dan helplesness kita Tuhan menyatakan kasih karuniaNya kepada kita. Anugerah itu adalah anugerah yang cuma-cuma yang tiba kepada kita yang tidak layak kita terima tetapi kita tahu kita tidak akan anggap itu sebagai barang yang murahan dalam hidup kita. Murid-murid akan belajar apa artinya grace itu yaitu mereka belajar pergi dengan tidak membawa apa-apa dan mereka juga belajar tidak menerima apa-apa. Mereka belajar menerima anugerah dari Tuhan dan dari orang lain. Itu sebab Yesus mengutus dengan cara seperti itu. Mereka belajar bagaimana anugerah Allah yang begitu mahal itu diabaikan dan disampahkan oleh penolakan manusia. Anugerah itu begitu indah, begitu mahal, tetapi mereka melihat orang-orang menutup pintu dan menolak tawaran daripada anugerah Allah yang disampaikan oleh mereka. “Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk ke rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya pada hari penghakiman, tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.”

Setiap misi dan pelayanan yang engkau kerjakan saat ini, jadikan itu sebagai satu pelayanan yang kita berikan karena kita mengenal Allah penuh dengan kasih karunia. Tidak ada hal yang lebih besar yang bisa kita katakan itu sebagai pengorbanan yang melampaui anugerah Allah. Dan sekalipu susah, berat dan pahit adanya, itu tidak pernah melebihi kasih karunia Allah yang sudah datang mengasihi dan menyelamatkan kita. Saya rindu pada hari ini kita dibawa kembali oleh Tuhan makin mengenal, makin mengerti, makin mengetahui kasih karunia Allah di dalam hidup engkau dan saya. Kita melayani, kita memberikan, kita berkorban apa pun, semua itu kita lakukan juga dengan cuma-cuma karena kita telah mengalami anugerah Allah di dalam hidup kita. Semakin engkau tinggal dan masuk ke dalam sekolah Yesus Kristus, saya percaya semakin graceful hidup kita, penuh dengan kasih setia dan rahmat. Biar orang lain boleh melihat kasih Allah itu ada di dalam hati dan hidup kita melalui pengorbanan dan pelayanan yang kita lakukan. Dan jangan biarkan ada pikiran untung dan rugi dengan Tuhan. Jangan pernah kita berpikir ingin melakukan sesuatu demi untuk mendapatkan sesuatu keuntungan yang lebih besar dari Tuhan. Ia sudah memberikan lebih dari segala-galanya dan biar kita belajar setiap kali kita ikut Tuhan, dalam setiap pergumulan, tantangan, kesusahan, kesulitan hidup, kita makin mengerti betapa besar kasih karunia Allah dalam hidup kita. Kiranya
setiap tekanan dan kesusahan yang besar dan berat membuat kita makin dibentuk oleh Tuhan dan melaluinya Tuhan menjadikan kita bagaikan emas yang ditempa oleh Tuhan, bersinar dan bercahaya menjadi keindahan yang mulia dan agung adanya. Kiranya hatimu penuh dengan kasih di dalam setiap hal yang engkau kerjakan dan lakukan, dan pelayanan yang engkau berikan kepada Tuhan senantiasa digerakkan oleh kasih karunia yang melimpah. Karena Allah itu kaya dengan segala rahmat, yang tidak pernah menuntut kembali dari setiap yang Ia berikan, karena dengan sukacita dan sukarela mengalirlah kasih karunia dan berkat Allah di dalam hidupmu dari sekarang sampai selama-lamanya.(kz)