Resilience, Tidak Mundur jadi Murid

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Enrol in Jesus School [3]
Tema: Resilience, Tidak Mundur jadi Murid
Nats: Matius 10:16-22

Kita sudah sampai kepada topik ke tiga dari seri khotbah “Enrol in Jesus’ School” masuk bersama-sama menjadi murid di dalam sekolah pendidikan Yesus bagi setiap kita. Yesus memanggil murid-murid, Yesus mengajar mereka, Yesus memberikan contoh dan teladan melalui hidupNya. Dan dalam Matius 10 Ia mempersiapkan murid-murid sebelum mereka keluar menjadi saksi perpanjangan tangan dari pekerjaan dan pelayanan Tuhan kita Yesus Kristus. Saya percaya Matius 10 ini tidak berhenti menjadi pengutusan dan pembentukan Yesus hanya kepada murid-murid pada waktu itu tetapi juga menjadi pembentukan dan pengutusan Tuhan kepada engkau dan saya sebagai murid Tuhan yang ada di sepanjang jaman. Sekalipun jaman kita berbeda, tantangan yang kita hadapi berbeda dengan 2000 tahun yang lalu, berbeda dengan 1000 tahun yang lalu, bahkan berbeda dengan tahun lalu, di dalam konteks kehidupan kita yang berbeda-beda, tetapi kita semua dipanggil untuk menjadi muridNya. Masuk ke dalam sekolah pemuridan Yesus tidak bicara soal berapa pentingnya kita, berapa hebatnya kita, berapa tingginya pengetahuan kita, apakah kita lulus seminari dengan nilai yang terbaik. Kita dipanggil oleh Tuhan memiliki hati seperti Yesus Kristus. Hati yang penuh dengan belas kasihan, hati yang compassion. Itu kita bahas dalam topik pertama.

Dalam topik ke dua, Yesus bicara mengenai murid-murid adalah orang-orang yang seperti apa? Mereka yang sudah mengetahui, menerima, merasakan, dan menikmati betapa luar biasa kasih karunia Allah. Kita semua adalah orang-orang yang layak untuk dihukum; kita semua telah memberontak kepada Tuhan; kita semua hidup di dalam kegelapan. Tetapi Tuhan datang memanggil dan memulihkan kita, itulah artinya anugerah dan keselamatan. Dan setiap orang yang mengalami anugerah keselamatan di dalam Yesus Kristus seperti ini, mengerti betapa luar biasanya kasih karunia Allah, saya percaya hati kita akan berkobar-kobar dan kita rindu juga mau menyatakan dan menyampaikan Injil keselamatan kepada orang lain. Kepada murid-murid, Yesus memberikan pengutusan dengan fondasi yang penting ini: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Matius 10:8). Kita pergi mengabarkan Injil, kita menjadi murid yang bersaksi, kita menyatakan siapa Yesus karena kasih karunia Allah yang telah ada di dalam hati kita. Yesus berkata: Pergi dan beritakanlah kepada mereka Kerajaan Allah sudah dekat. Berikanlah dengan cuma-cuma karena engkau telah menerimanya dengan cuma-cuma. Bersaksilah dengan graceful kepada mereka. Itu kita bahas dalam topik ke dua.

Hari ini kita masuk kepada bagian yang selanjutnya bicara mengenai sikap hati kita; Resilience: Tidak Mundur jadi Murid. Berada di dalam ladang misi ini kita membutuhkan hati yang tabah dan berani dan tidak gampang mengundurkan diri, menjadi murid Kristus selama-lamanya sekalipun mengetahui apa dan bagaimana ladang misi itu, Tuhan mengutus kita kepada siapa dan dimana kita pergi. Matius 10:16-20 memberikan gambaran realita yang luar biasa menegangkan. “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Inilah ladang misi dan ladang pelayanan kita, yang Yesus gambarkan Ia mengutus kita seperti domba ke tengah-tengah serigala. Berada di dalam ladang misi seperti ini kita membutuhkan hati yang tabah dan berani dan tidak gampang mengundurkan diri, menjadi murid Kristus selama-lamanya.
Mungkinkah kita bisa menang? Mungkinkah kita bisa survive di situ sebagai domba di tengah-tengah serigala? Apakah kita sanggup? Apakah kita rela pergi dan melihat bahwa panggilan Tuhan kepada kita sebagai murid-muridNya adalah satu panggilan memasuki kondisi dan keadaan yang tidak gampang dan tidak mudah seperti ini? Ada salib yang harus kita pikul, ada kesulitan dan tantangan yang akan kita alami di tengah-tengah kita menjadi murid Yesus Kristus. Tetapi jangan lupa, bukankah kita dahulu adalah serigala-serigala yang juga menentang Tuhan? Kita dahulu juga tidak suka kepada apa yang Tuhan kerjakan. Mata kita buta. Kita adalah orang-orang yang hidup di dalam kegelapan dan ketika terang itu menghampiri kita akhirnya mata kita dicelikkan oleh Tuhan. Kita boleh mendapatkan kasih karunia daripadaNya. Kita dihargai, kita yang hilang ditemukan, kita yang hancur dipulihkan, kita yang memberontak dijadikan sahabat oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Bukankah itu adalah anugerah yang tidak layak kita terima? Maka pada waktu kita diutus ke tengah ladang misi seperti ini, kita tidak menganggap itu sebagai satu privilege lalu kita menjadi judgmental kepada orang bahwa mereka adalah orang-orang yang layak untuk dihukum oleh Tuhan. Tidak. Kita dipanggil oleh Tuhan untuk bagaimana bisa menjangkau mereka. Dan pada waktu ada penolakan, ada hal yang tidak baik terjadi kepada kita, kita boleh menyadari bukankah kita dulu juga melakukan hal yang sama kepada Tuhan seperti mereka?
Yesus memakai ilustrasi hewan yang namanya serigala, sebagai simbol tantangan dan serangan yang tidak akan ada habis-habisnya bagaikan gerombolan yang siap untuk menerkam. Lengah sedikit, serigala itu akan memakan kita. Kita bisa mengatakan mungkin itu adalah persekusi, penganiayaan yang bisa datang terjadi ketika seseorang itu dikenal sebagai seorang percaya Tuhan. Tetapi pada saat yang sama menggambarkan hati dan sifat yang penuh dengan perlawanan seperti seekor serigala. Kita hidup di tengah-tengah dunia yang pola pikir, cara pandang, dan nilai-nilai yang sama sekali berbeda dengan kita. Kita bukan saja bersiap hati menghadapi persekusi tetapi kita bersiap hati menghadapi orang-orang yang seperti ini.

Hidup di negara Post-Modernisme memiliki tantangan yang berbeda. Di sini kita berhadapan dengan berbagai macam isu. Kita berhadapan dengan isu LGBT, isu mengenai seksualitas, aborsi, dan berbagai isu yang lain. Kita terus-menerus ada dalam tekanan dan pressure yang tidak habis-habisnya. Kita dianggap sebagai orang yang tidak toleran dan narrow-minded; orang Kristen itu munafik, dan orang Kristen itu homophobic. Dulu di era Modern, yang namanya toleransi adalah: anda dan saya bisa berbeda pandangan, namun masing-masing kita bisa saling respek dan hidup berdampingan. Itu sikap toleransi jaman dulu. Jaman sekarang standar toleransinya adalah: engkau harus menerima semua pandangan yang lain yang ada. Dan pada waktu engkau berbeda pandangan dengan mereka, maka engkau dianggap tidak toleran. Dan anehnya, orang yang memaksakan itu, ketika sdr bilang apakah kamu juga mau terima pandangan saya? dia tidak mau terima. Tetapi begitu sdr mengatakan ini pandanganku yang berbeda denganmu, dia bilang: tidak, engkau harus terima pandanganku. Itu tekanan yang kita alami saat ini, bukan?

Di tengah lingkungan pekerjaan, di tengah-tengah kehidupan kita, bisa jadi secara terang-terangan ada orang yang mendatangkan tekanan dan kesulitan yang besar tetapi bisa jadi juga hal yang subtle di dalamnya. Adakalanya kita akan menghadapi orang-orang yang ateis, yang terang-terangan menolak keberadaan Allah atas dunia ini. Mereka mungkin akan menyatakan sikap yang sinis dan menghina kepercayaanmu kepada Tuhan. Engkau mungkin akan bertemu orang yang menertawakan engkau, sementara engkau menyatakan imanmu kepada Tuhan dan menyatakan kerinduanmu untuk memuliakan Tuhan di tengah lingkungan pekerjaanmu dengan etos kerja yang baik, rajin dan bertanggung jawab. Engkau akan menghadapi orang yang serakah dan tamak, yang menggunakan segala cara demi untuk mendapatkan apa yang tidak halal, yang menginginkan dan mau meraih apa saja bahkan dengan cara yang tidak benar. Di situ dia akan melihatmu sebagai penghalang yang harus digeser dan dienyahkan. Kita menghadapi realita keadaan yang keras seperti itu. Cara pandang dan nilai materialistik, egoistik, ada keserakahan orang yang mementingkan diri sendiri yang ingin menjatuhkan engkau. Kita juga akan berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Kita akan berhadapan dengan lingkungan dan situasi yang mengutamakan seksualitas mereka. Di tengah-tengah orang-orang seperti inilah Yesus mengutus engkau ke tengah-tengah mereka. Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak menciptakan sesuatu untuk mendatangkan perlawanan kepada orang lain. “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Roma 12:18), itu panggilan Tuhan kepada kita. Tetapi Yesus mengatakan, “Waspadalah terhadap semua orang, karena akan ada orang-orang yang akan menyeret kamu, bahkan marah kepadamu oleh karena kamu adalah anak Tuhan. Mereka akan membawa engkau ke pengadilan dan engkau akan disesah oleh karena namaKu.” Jangan pikir hidup sebagai anak Tuhan kita tidak mengalami serangan, perlawanan dan peperangan yang berat dan brutal seperti itu. Namun Tuhan panggil engkau menjadi berkat dan menang atasnya, membawa dan merubah hati yang bengis dan benci untuk takluk kepada Tuhan melalui misi engkau dan saya.

Kita tanpa sadar seringkali judgmental, kita tidak mau bergaul dengan orang yang bukan Kristen karena kita berpikir mereka pikirannya berbeda, nilai-nilai hidupnya berbeda, dsb. Tetapi jangan lupa, mari kita coba melihat dari sisi mereka, pada waktu mereka tahu engkau adalah orang Kristen dan engkau pergi ke gereja, kira-kira apa yang ada di dalam pikiran mereka mengenai engkau? Sebagai domba-domba yang lemah dan menjadi kelompok minoritas, kita mungkin cenderung lebih aman dan nyaman berada di tengah-tengah kumpulan domba saja. Ada satu survey yang cukup menyedihkan di tengah-tengah orang yang percaya Tuhan, survey itu menemukan semakin kita menjadi orang yang sungguh-sungguh percaya Tuhan semakin sedikit orang Kristen membangun persahabatan dengan orang-orang yang belum percaya Tuhan. Kita lebih suka membangun relasi yang eksklusif, bergaul dan bersahabat hanya di antara sesama orang Kristen. Bukan menjadi domba, bukan tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular, kita lebih memilih menjadi seperti kura-kura. Pada waktu masuk ke tempat kerja, kita lebih suka orang tidak tahu kalau kita orang Kristen. Kalau bisa saya tidak usah bicara soal iman kepercayaan, karena ini ranah yang sensitif. Lebih baik mereka tidak tahu, karena kita kuatir dan takut. Tetapi Yesus tidak memanggil engkau menjadi kura-kura. Waktu ada kesusahan, kepala langsung masuk bersembunyi di dalam tempurungnya sampai keadaan aman. Namun Tuhan memanggil kita menjadi orang Kristen yang terus-menerus membangun relasi dengan semua orang dan kita boleh hidup tinggal dan menjadi berkat di tengah-tengah orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Jangan mengabaikan persahabatan dengan mereka. Tetapi pada saat yang sama waktu kita bersahabat, jangan juga kita bersahabat karena kita punya mau, kita punya agenda tertentu dan akhirnya kita tidak menjadi seorang teman yang jujur mengasihi dan memperhatikan dia. Bisa jadi persahabatan kita perlu waktu yang panjang sampai dia bisa menjadi orang yang trust bahwa engkau adalah seorang pengikut Kristus yang otentik dan dia juga mau menjadi pengikut Tuhan karena kesaksianmu.

Maka dalam bagian ini, Yesus bukan saja bicara soal ladang misi seperti apa yang akan kita hadapi, tetapi Yesus juga memberi prinsip bagaimana hidup di tengah-tengah environment seperti itu, yaitu cerdik seperti ular, tulus seperti merpati. Kita hidup di tengah-tengah dunia yang keras dimana dosa dan kejahatan bisa merusak dan merugikan kita, mari kita jadi orang yang peka, sedapat mungkin kita menjauh dan menghindar ketika tahu ada hal-hal seperti ini yang bisa merusak hidup kita. Kita dipanggil menjadi orang Kristen yang otentik, hidup dalam segala kebenaran, kekudusan dan ketulusan. Kita tidak hidup seperti mereka. Kita terbuka memperlihatkan inilah hidup kita dan di situ mereka tahu inilah satu kehidupan daripada anak-anak Tuhan. Ada hal yang luar biasa yang dilihat oleh murid-murid dari hidup Yesus tinggal di tengah-tengah mereka. Yesus dengan terbuka memperlihatkan bagaimana hidupNya; Yesus hadir, Yesus bergaul, Yesus makan bersama pemungut cukai, Yesus memperlakukan orang-orang marginal, yang dihina, dibuang dan dijauhkan dengan martabat dan dignitas. Yesus dengar story kehidupannya dan memberikan pengharapan kepada mereka. Itulah contoh yang Yesus berikan kepada kita bagaimana hidup sebagai domba di tengah-tengah kumpulan serigala, membangun persahabatan dengan mereka.

Sam Chan memberikan ilustrasi penting dimana kita berbaur dengan dunia sekitar, bukan saja kita berusaha mengundang orang yang non-Kristen kepada aktifitas kita, kita juga menjadi orang yang pergi dan hadir bersama-sama dengan mereka, ikut dan berbagian dengan aktifitas mereka. Tetapi pada waktu berbaur seperti itu kita bukan menjadi orang yang kemudian lupa identitas dan licik seperti ular. Mari kita buka hidup kita biar mereka melihat identitas dan otentisitas hidup kita sebagai anak Tuhan. Mereka tidak akan mengatakan kita munafik karena kita sungguh hidup di tengah mereka. Sdr mengundang orang yang berbeda denganmu. Di kantor atau di lingkungan pekerjaan sdr, ada orang-orang yang memiliki orientasi seksual yang berbeda, tetaplah berteman dengan mereka. Jadilah anak Tuhan yang menyatakan kasih, kesungguhan, ketulusan sebagai teman, biar mereka melihat, menghargai dan respek. Tetapi pada saat yang sama mereka juga melihat kita menjadi orang Kristen yang menjangkau dan melayani mereka. Yesus minta kita hadir di situ dan melalui contoh kehidupan kita, kisah hidup kita sebagai pengikut dan murid Tuhan akan menjadi cerita yang lebih besar dan bergema indah lebih daripada mereka mendengarkan ajaran dan khotbah yang sdr sampaikan kepada mereka. Apakah yang kita kerjakan dengan cara hidup seperti ini akan membuat orang kemudian menjadi tertarik kepada Kekristenan? Jawabannya: ya. Apakah mereka akan tertarik kepada Tuhan? Ya. Tetapi jangan lupa, selanjutnya dari bagian ini apakah akan ada orang yang makin marah dan lebih benci kepada Kekristenan? Jawabannya: Ya. Ada berkat yang Tuhan beri melalui hidup pelayananmu, kita bersyukur kepada Tuhan. Tetapi kita hidup sungguh-sungguh sebagai anak Tuhan, akan ada tantangan yang lebih besar? Jawabannya: ya. Kita melihat ada orang yang marah kepada kesaksian anak Tuhan, bahkan penganiayaan sampai membunuh orang-orang percaya terus terjadi sampai hari ini dimana-mana.

Yang ke dua selanjutnya Yesus berkata, “Janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” Maka kalimat Yesus ini di dalam konteks dimana murid-murid bersiap hati akan mengalami aniaya, Ia memberi kekuatan untuk kita jangan menjadi takut dan lemah karena kita bersandar kepada penyertaan dan pemeliharaan bijaksana Allah yang luar biasa.

Seringkali di dalam program mempersiapkan orang Kristen melakukan penginjilan, gereja kemudian memberikan berbagai seminar untuk mereka bisa menginjili, memberikan kuliah-kuliah apologetik, bagaimana memulai percakapan dan bagaimana memenangkan perdebatan dengan orang yang tidak percaya Tuhan. Lalu setelah mengikuti seminar dan latihan-latihan penginjilan seperti ini, sdr akhirnya merasa guilty ketika mencoba memberitakan Injil kepada orang, betapa susah rasanya untuk memulai percakapan bicara tentang Tuhan Yesus dan menyampaikan Injil kepada mereka. Sdr tidak tahu bagaimana caranya dan mau ngomong apa dan sdr pikir orang itu pasti tidak bisa mengerti dan mau mendengarkannya. Akhirnya kita jatuhnya ke aspek itu. Kita bukan orang yang fasih dan pandai berbicara, kita tidak mempunyai kehidupan yang patut kita banggakan. Kita tahu kita tidak berdaya dan seringkali kuatir dan takut apa yang kita katakan dan lakukan tidak memberikan efek yang besar kepada orang. Namun memang kita tahu bukan kita yang sanggup bisa merubah hati orang; Tuhan yang bekerja dengan cara yang ajaib dan misteri bagi orang itu.

Hari ini saya rindu firman Tuhan ini mengingatkan kepada kita, pelayanan yang Tuhan beri kepada kita masing-masing di masyarakat dan lingkungan pekerjaan dan dimana kita hidup, kita selalu ingat inilah mission field yang Tuhan tempatkan kita. Tuhan utus kita tulus seperti merpati, cerdik seperti ular, di tengah-tengah ladang pelayanan yang penuh dengan adversity seperti ini. Kita tidak membangun permusuhan dengan orang, kita dipanggil oleh Tuhan membawa mereka berdamai dengan Tuhan. Mari kita menjadi anak Tuhan yang saling menguatkan dan mendukung satu dengan yang lain karena ini adalah ladang misi kita sama-sama. Kita datang ke dalam komunitas gereja untuk saling menguatkan satu dengan yang lain dan dari sini kemudian sdr diutus ke dunia dimana sdr berada, pulang dan kembali di tengah pekerjaan kita. Kadang-kadang kita merasa takut, malu, minder, kita merasa tidak sanggup bisa memenangkan itu. Betul, memang bukan di dalam kuasa dan kekuatan diri kita sendiri kita bersandar. Tetapi pada waktu kita melayani orang dan ketika akhirnya melalui pelayanan kita mereka bisa terima dan percaya Tuhan, di situ kita juga tahu Tuhan yang ubah hati mereka.

Yang terakhir dalam bagian ini, Yesus katakan, “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Biarlah kita bertahan sampai akhirnya. Yesus panggil kita untuk setia, kita tekun di dalamnya. Di tengah ladang misi hidup kita mari kita menyatakan satu lifestyle hidup sebagai anak-anak Tuhan yang tidak berubah, sekalipun mungkin bisa membuat orang menjadi makin tidak menyukai Kekristenan, tetapi kita percaya Tuhan akan pakai itu menjadi berkat yang luar biasa. Kiranya Tuhan menolong kita masing-masing dan senantiasa mengingatkan kita bahwa Tuhan mengutus kita di tengah-tengah kehidupan menjadi murid-muridNya. Di tengah-tengah setiap kesulitan, pergumulan bahkan adversity yang engkau alami sebagai anak Tuhan engkau justru belajar mengalami kuasa pemeliharaan dan penyertaan Tuhan di dalam hidupmu. Berkatalah dengan benar, dengan tulus dan jujur, jadilah sebagai orang Kristen pengikut Tuhan yang otentik dalam hidupmu, tidak takut menyatakan apa yang benar, hidup dalam kebenaran, ketulusan dan kesucian. Dan di dalamnya Tuhan dipermuliakan dan engkau tidak akan pernah dirugikan oleh Bapamu yang di surga. Damai sejahteranya menguatkan hatimu sekarang dan selamanya.(kz)