Engkau Lebih Berharga dari Burung Pipit

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Enrol in Jesus’ School [4]
Tema: Engkau Lebih Berharga dari Burung Pipit
Nats: Matius 10:23-31

Jaman sekarang, dibandingkan dengan pada waktu saya masih kecil, permainan video games sudah jauh berbeda kemajuannya. Dulu kita cuma kenal game boy warna hitam putih. Sekarang permainannya menjadi begitu real, dengan grafik yang begitu luar biasa. Namun tetap yang namanya main video games mempunyai rule aturan permainan yang sama. Setidak-tidaknya, kalau sdr berhasil menang dalam satu level, jelas sdr pasti naik ke level yang lebih tinggi. Dan setiap kali sdr menang dan naik ke level yang lebih tinggi, jelas tantangannya menjadi lebih berat, bukan? Dari level Beginner naik terus sampai level Master, dan yang tertinggi level Grand Master. Sudah tentu hanya segelintir orang yang bisa sampai kepada level itu, karena makin naik levelnya, makin sulit tantangannya, makin sedikit yang bisa mengalahkannya. Tetapi herannya, semakin berat tingkat kesulitan itu justru orang makin senang, makin fokus, makin bangga dan makin ngotot punya determinasi untuk bisa menang dan mengalahkannya. Yang lebih parahnya, orang sampai rela bergadang tidak tidur karena penasaran demi untuk mendapatkan kemenangan. Makin tinggi levelnya, makin senang, makin fokus kita dalam dunia games. Tetapi sayangnya tidak demikian sikap orang di dalam dunia kehidupan yang nyata. Ketika tantangan dan kesulitan makin berat, gelombang demi gelombang silih-berganti datang, banyak orang tidak menganggap itu sesuatu yang dia harus lewati dan hadapi. Semakin banyak tantangan, orang itu menjadi semakin tidak fokus dan tidak ada determinasi ngotot untuk mengalahkannya. Semakin banyak kesulitan di depan, justru orang itu bisa kehilangan fokus, menjadi down, menjadi lemah, takut, kuatir, putus asa atau bahkan bertanya-tanya: apa yang salah di dalam kehidupan saya? Kenapa Tuhan membiarkan saya mengalami semua ini? Kapan situasi ini akan berakhir?

Matius 10 menjadi satu bagian yang begitu relevan bagi situasi kita saat ini sebagai anak-anak Tuhan yang ingin sungguh-sungguh menjadi murid Yesus yang serius, masuk ke dalam sekolah pendidikanNya. Di sini Yesus mempersiapkan murid-murid, semakin tinggi level komitmen semakin berat tantangan kesulitan yang akan dia alami. Dan tantangan kesulitan itu tidak akan semakin menurun tetapi semakin bereskalasi. Sekolah Tuhan Yesus bicara mengenai pembentukan hati yang luar biasa seperti ini. Bukan bicara soal kehebatan teknik berkhotbahnya, bukan bicara soal persiapan strategi seperti apa, siapa yang lebih unggul di dalam pelayanan, siapa yang bisa mengumpulkan pengikut lebih banyak, siapa yang lebih menarik di dalam berorasi dan sebagainya. Yesus tidak membicarakan hal-hal itu. Karena masing-masing orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, Petrus, Andreas, Yohanes, Yakobus yang bekerja sebagai nelayan; Matius pemungkut cukai, dan murid-murid yang lain semua berbeda-beda. Yesus mengumpulkan orang-orang yang biasa-biasa, orang-orang yang tidak terpandang dan tidak berpendidikan. Mereka bukan dari keturunan imam ataupun orang dari status sosial yang tinggi dan bukan orang kaya. Mereka bukan orang-orang yang layak menjadi guru dan pengajar di rumah ibadah. Satu pun tidak ada lulusan dari sekolah imam atau pun lulus dari sekolah sinagoge, tidak ada. Semua yang menjadi murid Tuhan Yesus, mereka yang dipanggil dari pemungut cukai, nelayan yang hidupnya keras dan tidak tahu kapan, bagaimana mencukupkan nafkah sehari-hari, orang-orang yang dari latar belakang bukan dari kaum yang terpandang.

Hari ini kita bicara mengenai menjadi murid Kristus, bagaimana kita mengerti pemeliharaan Allah di dalam hidup kita pergi dan melayani. Yesus berkata, “Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila orang itu tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu” (Matius 10:11-14). Hal yang pertama yang dihadapi oleh murid-murid adalah kemungkinan besar mereka tidak disambut dengan welcome, orang menolak dan tutup pintu. Itulah realita tantangan yang akan mereka alami dalam pelayanan. Engkau akan ditolak, engkau akan ditertawakan, engkau akan dihina. Tetapi Yesus tidak berhenti sampai di situ. Lalu kemudian ada level penolakan yang lebih berat, mereka akan ditangkap dan diadili, perkataan mereka akan diputar-balikkan untuk menjatuhkan mereka. Di sini mulai masuk kepada unsur yang lebih berat dan lebih personal, bukan? Mereka akan difitnah, mereka akan diseret dan dipukuli. Sampai di bagian ini mungkin anak-anak Tuhan akan bingung, kecewa dan bertanya-tanya: Tuhan, mengapa aku mengalami hal-hal seperti itu? Bukankah semua ini aku lakukan bagi Tuhan? Mengapa Engkau tidak membela aku? Mengapa Engkau tidak peduli ketika aku mengalami hal-hal seperti ini? Maka Yesus perlu mengingatkan, “Jangan takut kepada mereka yang bisa membunuh tubuhmu tetapi tidak berkuasa atas jiwamu. Takutlah kepada Dia yang sanggup membunuh tubuh dan nyawa di dalam neraka.”

Di dalam hidup, kita tidak boleh gegabah, lengah dan kendor. Tantangan dan kesulitan hari-hari ini seharusnya mengingatkan kepada kita, kita mempunyai peperangan rohani yang lebih dalam daripada ini. Kita tahu ada musuh yang tidak kelihatan yaitu si Jahat yang mengerti dan mengetahui segala teknik yang bisa dia pakai untuk datang mengganggu, mencobai dan membuat kita jatuh ke dalam dosa. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan jemaat di Efesus, “Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:12). Kita tidak akan pernah menang di dalam peperangan rohani jikalau kita menjadi lengah dan kendor. Ketika gelombang demi gelombang tiba, jangan kita menjadi jenuh, putus asa, lalu akhirnya masa bodoh dan tidak peduli. Tuhan memanggil kita untuk mawas diri, waspada, berjaga-jaga, dan tidak lengah di dalamnya. Itulah sebabnya bagian ini menjadi mutiara yang penting dan indah bagi saya, dan saya harap juga menjadi berkat bagi sdr. Kita tidak boleh menjadi jenuh, kita tidak boleh putus asa, kita tidak boleh marah, atau menjadi masa bodoh.

Maka di bagian ini Yesus bicara dengan lugas dan indah sekali memberikan pengertian yang dalam sebagai murid-murid Tuhan kita belajar apa artinya pemeliharaan Allah. Pemeliharaan Allah bukan sekedar kita mengerti bahwa Allah itu memelihara dan mencukupkan kebutuhan kita; providensi Allah bukan sekedar kita mengerti bahwa Allah itu melindungi kita, memberi proteksi kepada kita dari hal-hal yang tidak baik agar tidak terjadi kepada kita. Providensi Allah lebih dalam kita mengerti bahwa Allah memegang kontrol, sehingga Ia sanggup, bahkan mengijinkan, membiarkan dan mengarahkan segala sesuatu, baik yang baik maupun yang tidak baik terjadi di dalam kontrol bijaksana Allah, seturut dengan kehendakNya, dengan tujuan di akhirnya semua mulut akan memuliakan kebijaksanaan dan kuasa Allah yang luar biasa itu dan ada keindahan kebaikan Allah terjadi kepadamu. Itulah arti daripada providensi Allah. Saya belajar, saya pegang, saya terima, saya yakin akan providensi Allah seperti itu dan saya harap demikian juga kepadamu. Pertanyaan yang paling penting adakah kepercayaan kita akan providensi Allah itu terjadi kepada hidup kita sehari-hari? Kita mungkin mengalami hal yang sama seperti yang dialami orang-orang lain. Situasi dan kondisi yang terjadi saat-saat ini menjadi sesuatu yang sebenarnya baik, karena di situlah kita lihat semua orang mengalaminya sehingga tidak ada orang yang bisa merasa dianak-tirikan. Ketika semua orang mengalami, ketika semua orang ditimpa efek dari pandemi ini walaupun dengan derajat yang berbeda-beda, justru di dalam keadaan dan kondisi seperti ini, pertanyaan yang paling penting apakah setiap firman Tuhan yang berkata kepada kita “jangan kuatir akan hidupmu,” itu engkau dengar dan engkau pegang baik-baik, apakah kepercayaan mengenai Allah memeliharamu itu membawa perbedaan yang besar sebagai anak Tuhan? Apakah justru kita mengambil sikap yang gampang terjadi seperti orang-orang yang lain, kita gampang kecewa, kita gampang putus asa, kita menjadi lengah dan kendor. Kita tidak lagi fokus, kita menjadi down, kita patah semangat dan bahkan kita tidak peduli lagi kepada banyak hal karena kita hanya berpikir bagaimana survive berjuang hidup hanya itu yang paling penting dan paling terutama bagi hidup kita.

Ada empat poin yang kita akan lihat dari bagian ini Yesus bicara kepada murid-murid. Yang pertama, Yesus berkata, “Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang” (Matius 10:23). Kata “larilah” ini menggelitik hati saya. Di tengah situasi dan keadaan yang mendatangkan kesusahan dan kesulitan, murid-murid dipanggil Yesus untuk mengambil sikap bijaksana. Kita tidak mencari-cari kesulitan dan bahaya, kita bukan orang yang mengejar-ngejar kesulitan. Ketika kesulitan dan bahaya ada di depan mata, Yesus bilang: larilah ke tempat yang aman. Berarti kita dipanggil memiliki bijaksana bagaimana menghindar dari kesusahan dan kesulitan. Kita dipanggil oleh Tuhan belajar untuk juga mengantisipasi hal-hal yang susah dan sulit tidak terjadi dan kita mempersiapkan diri dalam menghadapi hal-hal itu. Kata “lari” bukan sekedar persoalan fisik kita menghindar tidak mencari-cari kesusahan dan kesulitan. Lari juga tidak berarti menyerah kepada keadaan. Lari bukan sikap pengecut dan lemah. Yesus menyuruh kita lari sebagai satu sikap surrender Tuhan mengontrol hidup kita sepenuhnya. Lari adalah satu sikap rendah hati karena kita tahu banyak hal kita tidak bisa kontrol dan pegang.

Dalam ayat ini sekaligus Yesus mengingatkan kepada murid-murid, “Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.” Apa maksudnya? Apakah dengan mengatakan “Anak Manusia sudah datang” itu dalam pengertian itu hari kiamat? Bagi saya di bagian ini Yesus hanya ingin memberitahukan ada time frame, ada limitasi waktu. Kesukaran, kesulitan dan aniaya penderitaan yang kita alami sebagai murid Tuhan itu tidak terjadi seterusnya dan selama-lamanya. Sehingga sesukar-sukarnya dan sesulit-sulitnya situasi dan keadaan, di tengah kita tidak berdaya dan tidak mampu, kita hanya bisa pegang tangan Tuhan dan kita percaya satu saat hal itu akan lewat dan selesai waktu Yesus datang kembali.

Yang ke dua, Yesus berkata, “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya” (Matius 10:24-25). Apa yang dialami oleh murid tidak akan melampaui gurunya, atau setidak-tidaknya sama dengan gurunya. Di sini Yesus memberikan kepada murid-murid satu perspektif yang penting apa yang membedakan kita percaya akan pemeliharaan Allah dalam hidup kita. Sedalam-dalamnya penderitaan, kesusahan dan kesulitan yang dialami oleh anak-anak Tuhan, Yesus pernah mengalaminya bahkan lebih berat daripada itu. Di atas kayu salib Yesus mengalami penderitaan yang paling menderita, paling menyakitkan, paling menakutkan. Yesus ditelanjangi, dihina dan dipermalukan. Yesus ditinggalkan dan dikhianati oleh sahabat-sahabatNya. Adakah hal yang lebih berat daripada itu semua yang belum pernah dialami oleh Guru kita yang agung itu? Kita bersyukur sebab kalimat daripada Tuhan Yesus ini menempatkan kepada kita satu perspektif bahwa sekalipun berat dan sulit kita menanggung penderitaan sebagai murid Tuhan, tetapi Yesus, Guru Agung kita pernah mengalami hal itu dan Ia mengalami lebih daripada itu. Mungkin kita bisa kecewa dan marah karena kita merasa penderitaan kita lebih berat daripada penderitaan orang lain. Tetapi pada waktu kita membandingkannya dengan penderitaan Anak Allah sendiri, biarlah kalimatNya mengajar kepada kita bagaimana kita mengerti Allah memelihara, Allah menuntun, Allah membawa kita di dalam gelombang demi gelombang yang kita alami dalam dunia ini, Yesus menjadi contoh dan teladan kita. Dan pada saat yang sama kalimat ini menjadi penghiburan dan kekuatan kepada kita bukan saja karena apa yang kita alami tidak akan melebihi daripada apa yang sudah Yesus Kristus alami, tetapi juga apa yang kita alami bisa menjadi kesaksian dan example yang baik. Penderitaan karena Kristus bukanlah nasib buruk, bukan kutukan, bukan karma, dan bukan sesuatu yang terjadi sebagai hukuman Tuhan kepada kita. Tetapi Yesus katakan sebagaimana Gurumu mengalaminya, mari kita jadikan semua itu sebagai kesaksian yang indah.

Yang ke tiga, Yesus berkata, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh dalam neraka” (Matius 10:28). Memahami providensi Allah, Allah memelihara, Allah mengontrol dan mengatur; Ia mengijinkan, Ia memakai dan Ia mengarahkan segala hal dalam bijaksana kehendakNya demi untuk hormat kemuliaanNya dan mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihiNya, itu berarti kita, anak-anak Tuhan, mengerti dan memahami providensi itu dengan melihat persoalan hidup kita di dunia ini dari perspektif kekekalan. Melihat perspektif kekekalan bukan sekedar melihat apa yang akan terjadi setelah kita mati. Banyak ajaran-ajaran yang lain atau agama-agama yang lain juga mengajarkan ajaran seperti itu. Tetapi yang membedakan kita sebagai orang yang percaya Tuhan, konsep kekekalan kita adalah karena aku tahu Yesus Kristus sudah menang dan sudah mengalahkan kematian. Banyak orang dan juga agama lain berkata setelah mati di sini, masih ada kehidupan di sana. Tetapi kehidupan yang seperti apa di sana, mereka samar-samar, tidak jelas dan tidak mengerti, mungkin hanya berharap moga-moga kehidupan di sana lebih baik daripada di sini. Tetapi kita percaya Yesus Kristus telah menang dan mengalahkan kematian, sehingga konsep ini memberikan kepada kita kekuatan dan keyakinan bahwa kematian tidak akan pernah bisa menang atas kita. Perspektif kekekalan kita melihat seperti itu. Ialah yang akan memegang, mengontrol dan mengatur alam semesta ini, itu adalah kepercayaan yang kita pegang. Sehingga providensi Allah harus melahirkan keberanian rohani [spiritual courageous] di dalam diri setiap anak-anak Tuhan. Di tengah situasi seperti ini bagaimana keberanian spiritual kita di dalam relasi kita dengan Tuhan? Apakah hal-hal seperti ini akan mematikan pekerjaan Tuhan dan melumpuhkan pelayanan bagi Injil Tuhan, melemahkan kesaksian iman kita kepada Tuhan, mengendorkan semangat kita berkorban, lalu kemudian kita menjadi orang Kristen yang tinggal diam dan sama sekali membisu? Pergi ke gereja, bersaksi, menolong orang, itu hanya sebagian daripada ekspresi iman orang percaya. Tetapi hal yang terpenting apakah Allah lebih agung, lebih utama, daripada apa yang sedang kita alami dalam hidup ini? Yesus membawa murid-murid melihat perspektif itu. “Janganlah kamu takut kepada yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh dalam neraka.” Yesus tidak menjanjikan kita akan lepas dari kesulitan, penderitaan dan bahkan kematian; Yesus tidak berjanji bahwa tidak ada orang yang akan membunuhmu karena imanmu kepada Dia, tidak! Orang hanya bisa menyiksa dan membunuhmu, tetapi setelah itu dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jangan takut kepada dia. Tetapi takutlah kepada Allah, yang selesai manusia mati di dunia ini, dia masih harus berurusan dengan Allah atas jiwanya. Yesus mengajak kita melihat dan memberikan spiritual courageous yang berdasarkan perspektif kekekalan itu.

Dan yang terakhir, Yesus berkata, “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Matius 10:29-31). Jangan biarkan kesulitan, ketakutan, dan kesusahan kita membuat kita meragukan kasih Allah dan tidak melihat pemeliharaan Allah lebih daripada semua itu. Perkataan Yesus mengingatkan dan menghibur bahwa sesungguhnya kita lebih berharga daripada burung pipit yang kecil dan sederhana adanya. Jikalau burung yang tidak diperhatikan oleh dunia, yang tidak dihargai oleh dunia, sungguh dipelihara, diberi makan, masakah Allah tidak menjaga, memelihara dan mengingat kita? Tuhan panggil kita menjadi orang yang sabar. Bukan sabar kepada situasi kita, tetapi sabar bagaimana Tuhan membentuk kita. Providensi Allah yang kita percaya akan melahirkan kesabaran dan hati yang teduh. Kita tidak segera patah dan kehilangan pengharapan. Kita tahu melalui providensi itu Allah akan berkarya sampai akhirnya semua itu membawa kebaikan, keindahan dan kemuliaan bagi Allah. Sekalipun mungkin kita kadang-kadang tidak melihat sampai pada akhirnya tetapi justru karena kita percaya akan providensiNya, kita belajar bersabar di dalam pembentukan Tuhan kepada kita.
Sinclair Ferguson dalam buku “Maturity” mengatakan Allah kita adalah Allah yang luar biasa bijaksana di dalam membentuk setiap kita untuk menjadi dewasa. Ia bisa menggunakan pisau yang tepat yang diperlukan di dalam pembentukan itu. Adakalanya pisau yang Tuhan pakai adalah pisau bedah untuk mengorek dan membuang kanker dosa, kekurangan dan kelemahan, kesombongan, kepercayaan diri. Ia mau kita sembuh darinya. Pisau itu kadang-kadang menyakitkan tetapi kita sabar kepada Tuhan karena kita tahu Ia lakukan itu untuk kebaikan kita. Adakalanya Allah seperti seorang vinedresser yang ahli, Ia memakai pisau pemangkas untuk mem-pruning daun dan membersihkan ranting yang menghambat kita bertumbuh dan berbuah. Ia tahu carang itu harus dipangkas dan dibersihkan sehingga strukturnya bertumbuh menjadi kuat dan ke depannya berbuah lebih lebat dan lebih berkualitas. Adakalanya pisau yang dipakai adalah pisau pahat, dimana Allah menjadi pemahat yang ahli di dalam membentuk ukiran dan pahatan. Jelas di situ Ia tidak akan memakai pisau bedah atau pisau pruning atau pisau gergaji. Ia akan memakai pisau pahat yang unik karena pahat itu akan membentuk kita menjadi masterpiece buatan tangan Allah. Itulah Allah kita yang luar biasa. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita hari ini. May God bless you!(kz)