Apa Berkat yang Kau Peroleh?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Enrol in Jesus’ School [5]
Tema: Apa Berkat yang Kau Peroleh?
Nats: Matius 10:34-42

John Wycliffe dan William Tyndale hidup di jaman yang berbeda selang waktu 200 tahun, tetapi sepanjang 200 tahun itu kita menyaksikan betapa besar dan berat perjuangan mereka. Mereka adalah dua orang anak Tuhan yang menyadari dan melihat Alkitab sebagai kebenaran firman Tuhan itu harus dibaca dan harus dimengerti di dalam bahasa dimana mereka berada. Ironisnya, gereja waktu itu tidak senang akan apa yang mereka lakukan dan berusaha menghancurkan usaha mereka. Bahkan sekalipun Wycliffe telah 30 tahun meninggal dan dikubur, gereja menyatakan dia sebagai bidat, penyesat dan harus menjalani penghukuman. Maka orang menggali kuburnya dan menayangkan mayatnya di muka umum, lalu menyatakan dia sebagai orang yang bersalah dan kemudian dibakar sampai hancur, kemudian tulang-tulangnya dibuang ke sungai karena dianggap tidak layak untuk mendapatkan peristirahatan terakhir di dalam kuburnya. William Tyndale, 200 tahun kemudian, juga melakukan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris dan dianggap sebagai seorang yang berbahaya bagi gereja pada waktu itu. Dia ditangkap, disiksa dan mati dicekik, kemudian mayatnya dibakar sebagai tontonan di muka umum. Demikianlah kematian John Wycliffe dan William Tyndale, kematian mereka bukan dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya Tuhan, tetapi dilakukan oleh organisasi dan struktur gereja pada waktu itu, menjadi sejarah gelap yang mencatat betapa berat dan sulitnya perjuangan anak-anak Tuhan yang melakukan sesuatu bagi Tuhan.

Dalam Matius 10 ini Yesus mempersiapkan murid-murid dan membukakan apa yang akan mereka hadapi menjadi murid Tuhan, bagaimana musuh dan oposisi berusaha menghadang dan menghancurkan mereka. Membaca hal seperti ini, hati kita mungkin bisa terguncang, bingung dan bertanya-tanya: mengapa Tuhan membiarkan kita menghadapi hal yang begitu berat dan sulit seperti ini? Tidakkah Ia berkuasa melindungi kita? Tidakkah Tuhan bisa menyertai dan memberikan sukses dan buah bagi pelayanan kita? Saya percaya kita bisa bereaksi menjadi sedih, kecewa dan confused. Apalagi kalau kita melihat orang-orang seperti Wycliffe dan Tyndale, yang karena kerinduannya mau menerjemahkan Alkitab, atau seperti Jim Elliott yang masuk ke ladang misi dan berakhir dengan tragis akhirnya sampai kehilangan nyawanya karena Kristus. Di mana suksesnya? Di mana buahnya? Semua yang Yesus katakan sangat berbeda dengan konsep yang dunia berikan. Yesus tidak mengatakan soal kesuksesan dalam pelayanan menjadi target dan tanda bukti penyertaanNya. Yesus tidak bicara mengenai apa yang akan mereka raih dan dapat. Tetapi Yesus mempersiapkan mereka melewati semua tantangan, kesulitan dan hambatan yang semakin lama semakin bereskalasi.

Yesus berkata, “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya; dan musuh orang adalah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya daripadanya” (Matius 10:34-42).

Membaca kata-kata Yesus seperti ini, jangan sampai kita salah mengerti bahwa kita diminta Tuhan untuk tidak mencintai keluarga kita atau sesudah menjadi orang Kristen akhirnya kita tidak cinta dan hormat kepada orang tua. Itu konsep yang sama sekali keliru. Yang Yesus maksudkan dalam hal ini ketika menghadapi perlawanan dan oposisi yang datang dari orang luar, kita mungkin masih sanggup menanggung dan menerimanya. Tetapi tidak gampang dan tidak mudah ketika perlawanan dan oposisi itu datang dari keluarga kita, penolakan, perlawanan dan benturan ketidak-sukaan itu diberikan oleh orang yang kita cintai, mungkin itu dari papa mama kita, mungkin itu dari kekasih kita, atau dari anak-anak kita. Yesus tidak menutup kemungkinan kita akan mengalami perpecahan dan bentrokan dalam relationship yang begitu dekat dengan orang-orang yang kita kasihi sebagai keluarga itu menjadi konsekuensi di dalam hidup menjadi murid Tuhan. Kita harus bersiap hati dengan kemungkinan seperti itu.

Puji Tuhan, bagian ini tidak hanya bicara mengenai apa yang akan kita hadapi sebagai murid-murid Kristus yang hidup otentik mengasihi dan melayani Dia. Yesus menutup bagian ini dengan janji: engkau akan menerima upah yang besar atas pelayananmu. Allah tidak melupakan segala hal yang kita lakukan bagiNya. Ada reward yang luar biasa dari Tuhan kepada hidup kita. Saya harap pengertian ini boleh menjadi dorongan bagi kita untuk memacu kita hidup makin hari makin serupa dengan Kristus, berani berkorban, berani untuk memikul salib, melakukan segala tuntutan hidup menjadi seorang murid Tuhan yang melayani sekalipun mungkin balasan yang kita dapat dari orang yang kita layani itu menyedihkan, mengecewakan, dan membuat kita meneteskan air mata, tetapi reward itu sanggup menghapus itu semuanya. Dalam Roma 8:18 Paulus berkata, “Sebab aku yakin bahwa penderitaan yang sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Dengan konsep reward ini membuat Paulus melihat segala penderitaan apapun yang dia alami itu sebagai sesuatu yang memberatkan, menjatuhkan dia, dan mengecewakan hatinya karena semua itu tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dia terima nantinya.

Tidak sedikit orang Kristen yang karena imannya mengalami kehilangan yang besar dan akhirnya menjadi lemah dan kecewa dan akhirnya tidak lagi mau ikut Tuhan. Namun Yesus pernah mengatakan, “Berbahagialah mereka yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Matius 11:6). Blessed is the one who is not offended by Me [ESV]. Mari kita lihat prinsip yang penting dalam bagian ini. Hidup pelayanan dengan melalui jalan salib memang harus sejalan dengan berita tentang salib yang kita sampaikan. Jikalau kita memberitakan bahwa ikut Tuhan engkau akan diberkati, engkau akan bahagia, usahamu akan sukses dan lancar, saya percaya tidak ada orang yang offended dengan berita seperti itu. Tetapi kita dipanggil untuk menyampaikan bahwa Injil Yesus Kristus dengan kematianNya di atas kayu salib menawarkan kepada kita keselamatan dan pemulihan hubungan dengan Allah itu, dan memikul salib mengikut Dia menjadi berita yang utama. Kita tidak bisa men-discount berita Injil semata-mata untuk membuat nyaman telinga orang mendengarnya.

Yang ke dua, murid-murid bisa salah mengerti konsep tentang reward itu mereka dapatkan sekarang dan mereka merasa reward itu harus sebanding dengan apa yang sudah mereka kerjakan dan lakukan. Kita bisa melihat ini pada waktu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau, jadi apakah yang akan kami peroleh sebagai balasannya?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di tahta kemuliaanNya, kamu yang telah mengikut Aku akan duduk juga di atas dua belas tahta untuk menghakimi ke dua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena namaKu meninggalkan segala sesuatu, dia akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Matius 19:27-29). Dalam kesempatan yang lain, Yohanes dan Yakobus datang dan berkata: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu” (Markus 10:35-40). Mereka meminta seperti itu karena saya percaya mereka merasa mereka berhak untuk mendapatkan kedudukan yang layak dan sepatutnya karena apa yang mereka kerjakan dan lakukan bagi Tuhan. Waktu tujuh puluh murid yang lain diutus oleh Yesus pergi juga ke setiap kota dan tempat, ketika mereka kembali, mereka dengan gembira berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi namaMu.” Yesus berkata kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga” (Lukas 10:20). Artinya sukacita kita bukan kepada buah-buah yang terjadi di dalam pelayanan kita, tetapi karena yang terutama kita tahu Allah berkenan kepada pelayanan itu dan kita menerima dengan yakin janji Allah bahwa nama kita benar-benar ada terdaftar di surga. Itu adalah penghiburan, kekuatan dari Tuhan yang memberikan kepada kita dorongan yang tidak ada habis-habisnya mengikut dan melayani Dia.

Bagaimana kita memahami konsep reward ini? Yesus berkata: “Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu” (Matius 10:14-15). Di bagian yang lain Yesus juga mengecam beberapa kota, Kapernaum, Khorazim dan Betsaida, “Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung” (Matius 11:21) karena mereka telah mendengar Injil dikabarkan dan begitu banyak mujizat dan kesembuhan terjadi di tengah-tengah mereka namun mereka tetap menolak Yesus. Dengan mengatakan bahwa penghukuman kota Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya, berarti ada degree perbedaan berat ringan penghukuman Tuhan. Kenapa penghukuman kepada Kapernaum, Khorazim dan Betsaida lebih berat daripada penghukuman kepada Sodom dan Gomora? Karena mereka sudah melihat dengan jelas mujizat-mujizat Yesus, mereka sudah mendengar berita Injil yang sudah disampaikan di depan pintu mereka, tetapi mereka menolak itu jelas-jelas. Sedangkan Sodom dan Gomora tidak pernah mendengar nama Yesus, tidak pernah melihat mujizat-mujizat yang Yesus lakukan, tidak pernah mendengar kabar Injil sehingga kita menyaksikan tanggung jawab dan tuntutan Allah lebih berat bagi mereka yang pernah mendapat kesempatan mendengar Injil namun dengan sengaja mengeraskan hati dan menolaknya. Maka pertanyaan selanjutnya, apakah reward dari Tuhan ada memiliki perbedaan derajat juga? Alkitab memberikan kepada kita ada kesan dan nuansa seperti itu, misalnya ketika Paulus berbicara mengenai bagaimana masing-masing orang akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri, entahkah dia menanam atau menyiram (1 Korintus 3:8). Demikian juga pada waktu Paulus berkata, “Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik atau pun jahat” (2 Korintus 5:10).

Namun kita harus menaruh prinsip yang penting: jikalau kita katakan keselamatan kita terjadi oleh karena anugerah keselamatan dari Allah melalui Yesus Kristus, namun kemudian ditambah dengan perbuatan baik apa yang harus kita kerjakan selama di dunia ini baru kita bisa selamat, itu bukan konsep yang benar. Karena dalam Yesaya 64:6 dikatakan segala kesalehan dan perbuatan baik kita sesungguhnya seperti kain kotor di hadapan Allah. Artinya, kita tidak bisa menambahkan apa pun bagi keselamatan yang kita terima oleh karena semua itu adalah sepenuhnya karya Yesus Kristus bagi kita. Dan segala hal yang baik yang keluar dari hidup kita, dedikasi pelayanan dan apa pun yang kita kerjakan semata-mata adalah anugerah dan kebaikan yang Tuhan beri kepada kita, itulah sumbernya.
Kata reward atau upah memang seringkali orang mengerti sebagai hasil dari apa yang sudah dikerjakan oleh orang, sehingga itu adalah haknya, upahnya. Namun berbeda dengan konsep Alkitab yang mengatakan kita mendapatkan reward dari Allah bukan karena kita berhak menerimanya tetapi karena Allah yang memberi reward itu oleh karena kita berada di dalam Kristus dan Allah memberikannya seturut dengan yang patut bagi kita. Kita tidak terlalu jelas bagaimana bentuk reward itu. Mungkin analogi yang diberikan oleh Rev. Jonathan Edward bisa menolong kita memahaminya. Ia memberikan ilustrasi setiap kita nantinya tidak akan iri kepada yang lain karena ada perbedaan itu, seperti kita menimba air dan timba kita masing-masing ukurannya berbeda. Dan pada waktu kita mengambil dan minum air itu, kita masing-masing minum dengan ukuran timba kita masing-masing dengan melimpah. Paulus berkata kepada jemaat Efesus, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga” (Efesus 1:3). Ketika menerima Kristus, kita akan mendapatkan segala hak warisan yang menjadi milik Kristus menjadi milik kita. Reward yang kita dapat itu karena Kristus. Tetapi pada saat yang sama sperti analogi dari Jonathan Edward, setiap orang menikmati dengan penuh dan limpah sesuai dengan takaran masing-masing. Tidak ada yang merasa iri karena masing-masing menikmati bagiannya. Saya mungkin akan memberikan analogi yang sedikit berbeda. Dalam hal mendengar dan menikmati musik, setiap orang menikmati sampai tahap tertentu sesuai dengan kapasitas dan pemahamannya. Ada yang mengerti dengan sederhana tentang musik, dia tetap menikmati dengan penuh saat mendengarnya; ada orang yang memiliki kapasitas dan pemahaman yang besar dan luas, dan dia menikmati musik itu dengan kapasitasnya yang besar itu. Masing-masing menikmati dengan berbeda tetapi dengan kepuasan yang sama. Masing-masing tidak bisa iri sekalipun cara menikmatinya berbeda.

Point yang terakhir dari bagian ini Yesus berkata: “Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya daripadanya.” Kenapa Yesus kemudian menjadikan tindakan sederhana memberi secangkir air kepada seorang murid Kristus tidak akan dilupakan oleh Bapa yang di surga? Di sini memberitahukan kepada kita, kita akan mendapatkan reward bukan hanya ketika kita melakukan hal-hal yang besar belaka tetapi Allah menghargai segala sesuatu yang kita lakukan bagiNya sekalipun itu tidak kelihatan di mata manusia. Kita bisa tergoda, kita pikir standar yang kelihatan di dunia ini juga akan menjadi standar yang dipakai oleh Allah. Namun dengan menggunakan ilustrasi segelas air putih, Yesus menyatakan Ia memiliki standar ukuran yang berbeda dengan standar ukuran kita. Mungkin selama ini kita memakai standar besar dan hebatnya kita, dedikasi kita, kesungguhan kita, semua pengorbanan yang kita rasa begitu besar kita beri bagi Tuhan berdasarkan ukuran yang kita pakai di dunia ini, apa yang kelihatan menjadi ukuran yang juga sama di dalam standar Allah memberi reward itu. Kita nanti akan tercengang dan terheran karena dengan menggunakan ilustrasi segelas air putih, Yesus hanya ingin memberitahukan kepada kita sekalipun itu adalah hal yang paling sederhana dan tidak diingat banyak orang, Allah memperhatikan dan mengingat perbuatan itu.

Markus 12:41-44 menceritakan pada waktu Yesus berada di Bait Allah dengan murid-murid dan mereka memperhatikan bagaimana orang-orang kaya memberi dalam jumlah yang besar ke dalam peti persembahan. Kemudian datang seorang janda miskin yang memberi satu peser yaitu jumlah uang yang paling kecil pada waktu itu. Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang lain yang memasukkan uangnya ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya yaitu seluruh nafkahnya.” Siapa di dunia ini yang ingat persembahan seorang janda miskin? Begitu kecil jumlahnya, begitu insignificant. Apa yang bisa dibuat bagi pekerjaan Tuhan hanya dengan uang segitu? Namun persembahan yang paling terkecil sekalipun menjadi sesuatu yang luar biasa indah dan besar di hadapan Allah. Puji Tuhan! Tuhan mempunyai standar dan ukuran yang berbeda dengan kita. Maka jangan kita kaget, kelak pada waktu Allah mengumpulkan kita semua di hadapan tahtaNya, akan terjadi the great reversal di situ nanti. Ada orang mungkin merasa dia sudah melakukan begitu banyak bagi Tuhan supaya dipuji oleh orang. Pujian itu selesai di dunia dan tidak berlanjut di dalam kekekalan. Ada orang mungkin datang memberi dalam jumlah besar sekedar untuk menyuap Allah, Allah tidak akan melihatnya. Ada orang mungkin melakukan sesuatu yang besar bagi Tuhan dengan tujuan untuk menutupi kesalahan dan dosanya. Di dunia ini kita gampang terkagum dengan hal-hal yang besar dan kita lupa dan meremehkan segelas air putih atau satu peser uang yang dipersembahkan seorang janda miskin; kita melupakan apa yang dikerjakan oleh orang di belakang layar, yang tidak kelihatan. Kita hanya terpesona dengan hal-hal yang spektakuler, yang besar, yang megah. Namun Tuhan bicara soal hati orang kepadaNya. Satu hal yang terindah, Tuhan menghargai dan akan memberikan reward itu baginya. Biar janji itu sekali lagi boleh memberikan kita kekuatan dan dorongan bagi setiap kita. Ingatlah baik-baik bahwa apa yang kita terhilang sekarang oleh karena pelayanan kita dan cinta kita kepada Tuhan, itu tidak akan pernah terhilang di hadapan Tuhan. Itu sebab Yesus mengatakan kepada murid-muridNya jikalau engkau sampai kehilangan nyawamu karena Aku, engkau akan memperolehnya kembali. Tidak ada pelayanan yang terlalu kecil yang tidak diingat oleh Allah. Biar setiap kita melakukan segala sesuatu dengan hati yang berkorban, hati yang penuh dengan cinta, menjadi muridNya yang melayani Dia seperti itu, Tuhan akan membalas engkau dengan luar biasa. Biarlah segala kesusahan, kesulitan dan penderitaan yang aku alami, sakit-penyakit yang terjadi, betapa berat dan susahnya perjalanan hidupmu ikut Tuhan dan melayani Tuhan, tidak membuatmu kecewa dan putus asa karena semua itu tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan engkau terima dari Tuhan kelak.(kz)