Solving Everyday Conflict

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Solving Everyday Conflict
Nats: Matius 5:9, 1 Petrus 4:8

Hidup kita tidak akan pernah lepas dari konflik. Konflik terjadi bukan pada waktu ratusan orang berkumpul; dua orang saja sudah cukup untuk memicu konflik. Tidak perlu waktu yang panjang, konflik bisa terjadi hanya dalam satu dua menit percakapan. Konflik terjadi sebab apa yang saya pikirkan, apa yang saya mau, cara saya, jelas sama sekali berbeda dengan cara berpikir orang lain, berbeda dengan kemauan orang lain, berbeda juga dengan cara orang lain melakukan segala sesuatu. Terlebih lagi dua orang di dalam satu pernikahan, sebagai pria dan wanita lawan jenis yang sama sekali berbeda dan bertolak-belakang, tidak ada hal yang tidak memicu konflik karena secara natur kita memang sama sekali berbeda. Salah satu perbedaan antara pria dan wanita sederhana saja: otak wanita tidak pernah berhenti berproses, jalan terus. Itu sebab mungkin wanita lebih banyak kuatir, lebih over-thinking dibandingkan pria. Setiap kita berbeda, pola pikir kita berbeda, cara kita menyelesaikan persoalan juga berbeda, kemauan kita berbeda; semua itu bisa menjadi sumber daripada konflik. Setiap kali konflik muncul, dia seperti percikan api dan percikan ini bisa selesai jika sdr segera menyelesaikannya untuk tidak menjadi lebih besar. Namun percikan itu bisa menjadi api yang besar, dibesarkan oleh karena egoisme, selfishness, sikap mau menang sendiri, dan menuntut keinginan dan kemauan diri yang terlebih dahulu dilakukan, dikerjakan dan dikedepankan.

Saya sendiri harus mengaku, pada waktu kita menghadapi konflik, ketika kita berbeda pandangan dengan orang lain, sikap yang sering saya ambil adalah kalau bisa saya menghindar, kalau bisa kita escape sebentar, kita tidak mau konflik, kita lari daripadanya. Mudah kalau itu adalah relasi yang longgar, misalnya dengan kolega di kantor atau dengan orang yang tidak kita kenal berpapasan di jalan, kita bisa menghindar dan pergi. Tetapi kalau itu adalah relasi yang dekat di tengah-tengah keluarga, kita tidak bisa memakai cara seperti itu untuk menghindari konflik. Kita tidak bisa lari dari pasangan kita, kita tidak bisa lari dari anak kita, kita tidak bisa lari dari papa-mama kita. Itu adalah relationship yang menjadikan kita ada satu ikatan bonding seperti itu. Waktu kita sudah mulai terpojok dan terus diserang seperti itu, biasanya sikap kita dari escape menghindar mundur kemudian kita menjadi ganas dan garang. Lalu giliran kita menyerang dan bisa jadi kita bersikap lebih keras, lebih ganas dan lebih marah daripada dia. Itulah sikap yang seringkali kita lakukan. Hari ini ijinkan saya melalui ayat-ayat firman Tuhan ini kembali mengingatkan, biarlah kasih Tuhan itu sungguh-sungguh ada di dalam hidupmu dan melalui kasih itu kita bisa menutupi begitu banyak hal yang tidak baik yang terjadi; dosa, kesalahan, pelanggaran, kelemahan dan hal-hal yang melukai kita satu sama lain. Selama pandemi corona ini karena stay home di rumah saja, kita menemukan begitu banyak keributan dan pertengkaran antara suami isteri menjadi lebih besar. Sdr menjadi stress bagaimana mendidik anak home schooling di rumah; hidup diisi dengan kekuatiran dan ketakutan dan akhirnya juga penuh dengan amarah dan kekesalan karena tekanan dan kesulitan yang tidak habis-habis kita hadapi. Maka mari kita tanya pertanyaan ini kepada diri kita masing-masing: apakah dengan lockdown dan stay home seperti ini menjadikan diri kita lebih paranoid? Apakah anda menjadi orang yang lebih gampang marah, mudah frustrasi dan mencetuskan emosi di tengah krisis seperti ini? Atau justru di tengah-tengah situasi yang bergejolak dan tidak menentu ini kita belajar menjadi orang Kristen yang lebih kuat, lebih sabar, lebih indah di dalam hidup ini. Firman Tuhan berkata, “Tetapi yang terutama: kasihilah dengan sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8). Love each other deeply, because love covers over a multitude of sins.

Hari ini saya tidak akan memberikan tips kepada sdr bagaimana untuk menang mengatasi konflik. Banyak orang ingin mendapatkan kiat-kiat, aturan-aturan dan prinsip-prinsip bagaimana supaya bisa menang mengatasi konflik. Namun sejujurnya, sekalipun kita diberi begitu banyak kiat, aturan, prinsip-prinsip, semua itu tidak akan mungkin membuat kita bisa mengerjakan dan melakukannya. Mari kita ambil contoh sederhana: umat Allah dalam Perjanjian Lama tidaklah kekurangan dengan begitu banyak prinsip, aturan dan hukum yang Tuhan beri, bukan? Sudah ada 10 Hukum, sudah ada begitu banyak perintah dan aturan yang Tuhan beri, bukan saja dalam relasi vertikal dengan Allah tetapi juga dalam relasi horisontal satu dengan yang lain. Tetapi bukankah rasul Paulus berkata dalam surat Roma: hukum Taurat itu tidak membuat mereka menjadi lebih suci dan lebih benar. Justru melalui hukum Taurat mereka tidak bisa melakukan apa yang dituntut oleh hukum Taurat. “Demikianlah aku dapati hukum ini,” kata Paulus, “jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhkuaku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (Roma 7:21-23). Bukan tipsnya, aturannya tidak cukup dan tidak banyak, persoalan kita adalah kita tidak punya kekuatan untuk menjalankan dan mengerjakannya. Banyak orang Kristen seringkali berpikir menjadi orang Kristen berarti saya menjadi orang yang menjalankan perintah dan aturan dari firman Tuhan. Betul, kita harus menjadi orang Kristen seperti itu, tetapi sebetulnya bukan berapa banyak aturan yang kita perlukan tetapi apakah ada kuasa yang merubah hati kita dan memampukan kita untuk menjadi seorang yang memiliki karakter yang indah? Di situlah kita menyaksikan Injil penebusan, Injil pengampunan Yesus Kristus menjadi kuasa yang mentransformasi. Pada waktu engkau dan saya melihat Injil itu sebagai keselamatan Allah, pengampunan Allah yang sesungguhnya tidak layak saya terima; Injil yang merubah hidup saya bukan karena saya lebih baik daripada orang lain tetapi karena saya yang adalah seorang yang penuh dengan dosa namun Tuhan mencintai dan mengasihiku; Yesus telah mati bagi orang yang seperti ini, yang egois, yang hanya mementingkan diri sendiri, yang penuh dengan sinful nature. Di situlah Injil menjadi kuasa yang mentransformasi hidup kita. Tidak salah untuk kita memahami bahwa Injil yang kita terima berarti kita mendapatkan keselamatan dan hidup kekal di dalam Tuhan, tetapi tidak berarti Injil itu sekedar menjadi tiket untuk masuk surga seolah-olah sesudah mendapat tiket ini kita sudah aman dan tidak memperhatikan bagaimana kita hidup. Pada waktu hidup kita lancar, usaha kita hebat, bisnis kita sukses, penuh dengan banyak hal dalam hidup kita, mungkin yang memerintah dan menguasai hati kita adalah kebanggaan dan kesombongan, selfishness, prioritas, kebutuhan, segala yang aku mau, itu menjadi yang terutama di dalam hidup kita.

Injil Yesus Kristus, pengampunan Tuhan Yesus Kristus haruslah menjadi kuasa yang membawa transformasi di dalam hidup kita, merubah hidup kita, menjadi kuasa yang membuat kita menang terhadap segala dorongan egois dan sinful nature kita. Dengan kekuatan sendiri kita tidak mampu mengasihi dan mengampuni orang yang sudah bersalah kepada kita. Dengan kekuatan kita sendiri kita tidak mampu mengasihi dan mencintai musuh kita, orang yang membenci kita. Dengan kekuatan kita sendiri, dengan egoisme dan sinful nature ini, kita tidak mungkin bisa mendahului kepentingan orang lain, keinginan orang lain, pikiran orang lain di dalam hidup kita. Itu sebabnya konflik banyak terjadi dalam hidup kita, pada waktu yang saya pikirkan, cara saya, kemauan saya, harus menjadi yang lebih utama. Sekalipun relasi suami dengan isteri dan anak itu adalah relasi yang begitu intim dan dekat, konflik terjadi, kemarahan muncul di situ. Terlebih lagi dengan orang-orang yang mempunyai relasi yang cukup renggang dan jauh dengan sdr, dengan karyawan, dengan boss, dengan orang-orang di gereja sdr. Ketika sdr merasa dilukai, ketika ide, pikiran dan pendapatmu tidak didengar dan dihargai, ketika kemauan sdr tidak dituruti dan dipenuhi, engkau dengan gampang dan mudah menyatakan ketidak-sukaan dan ketidak-senangan. Dan bahkan kita berani dan sanggup bisa menjadi orang yang mendatangkan ketidak-damaian kepada orang lain.

Itulah sebabnya kita sangat membutuhkan Injil pengampunan dan penebusan yang diberikan oleh Tuhan Yesus itu mentransformasi hidup kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Kita perlu berseru kepada Tuhan dan mengaku kita perlu kuasa dan kekuatan dari Tuhan. Kita perlu kuasa dari Injil, kita perlu kuasa pengampunan Allah membuat saya bisa mengasihi orang-orang yang bersalah kepada saya. Mengasihi kekurangan dan kelemahan dari suami, isteri, anak-anak, dan orang-orang di sekitar kita. Kita minta Tuhan memberi kita kerendahan hati untuk belajar mengakui kesalahan diri dan memberi kita kekuatan pada waktu menghadapi kesulitan dan pergumulan hidup di masa pandemi ini untuk melihat itu sebagai satu kesempatan bersaksi bagi nama Tuhan. Sekalipun kita sudah sekian lama menjadi orang Kristen, sekalipun kita sudah sering mendengar dan sudah sangat mengerti Injil Yesus Kristus, kita perlu terus-menerus minta kepada Tuhan untuk kuasa Injil itu merubah hati kita.

Hari ini saya mengajak kita semua, mari kita introspeksi diri dan hati kita. Jikalau kita cenderung untuk membalas kepada orang lebih besar daripada apa yang orang telah lakukan kepada kita; jikalau kita lebih cenderung mengutamakan kemauan dan kepentingan diri kita sendiri, kiranya Tuhan menolong kita masing-masing untuk tidak terus seperti itu. Konflik itu seperti percikan api, yang akhirnya menjadikan dia besar adalah karena egoisme diri kita, kemauan diri kita, itu yang dituruti lebih dulu. Bukan soal ada atau tidak ada konflik, bukan soal kapan konflik itu mulai. Yang paling penting adalah soal bagaimana kita mengakhirinya. Mari kita bawa diri kita masing-masing di hadapan Tuhan dengan hati yang penuh syukur. Kita tahu Ia sudah menerima diri kita apa adanya, Ia sudah mengampuni saya orang yang penuh dengan dosa dan kesalahan seperti ini. Biar kiranya Injil keselamatan itu sekali lagi mentransformasi hidup kita hari lepas hari, menjadikan kita semakin serupa dengan Yesus Kristus. Kita tidak bisa melakukan itu dengan kekuatan sendiri. Itu bukan bicara soal terapi pernapasan, itu bukan bicara soal anger-management, itu bukan bicara soal mengikuti self-help dengan tips-tips mujarab bagaimana resolving problem dan konflik dalam pekerjaan di perusahaan, dsb. Bukan berarti semua itu tidak penting dan tidak perlu, tetapi adakah kekuatan dan kuasa itu lahir dari hati kita yang telah dirubah oleh Injil Yesus Kristus. Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Dunia akan mengetahui dan melihat bahwa engkau adalah anak Allah karena engkau menjadi seorang peacemaker, seorang yang membawa damai di dalam hidupmu. Kita perlu belajar bagaimana menerapkan prinsip Injil sebagai proses pendamaian di dalam hidup kita.

Hari ini setelah kita diubah oleh Injil Tuhan, bagaimana kita membawa Injil itu menjadi bagian di dalam proses peacemaking kita? Pertama, mari kita tanya kepada diri kita masing-masing apakah kita membawa Tuhan di dalam setiap situasi konflik kita? Itu adalah perspektif yang penting sekali. Bukankah rasul Paulus berkata: dalam segala hal yang engkau lakukan dan kerjakan, lakukanlah itu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31). Apakah kita memuliakan Allah dalam segala hal, termasuk di dalam situasi konflik sdr? Sebagai orang Kristen kita punya tendensi mengabaikan Tuhan di dalam segala situasi hidup kita. Kita lebih cepat memajukan kepentingan kita, kesombongan kita, harga diri dan kemauan kita terlebih dahulu. Kepada dua orang wanita yang berselisih di gereja Filipi, Euodia dan Sintikhe, Paulus menasehati mereka untuk sehati sepikir dalam Tuhan (Filipi 4:2).

Ada seorang pengacara memberikan kesaksian ini: saya orang yang tidak mudah dikalahkan dalam berdebat. Arogansi saya jelas memerintah dalam hidupku. Saya bisa berargumen sampai bisa membalikkan situasi membuat orang itu terlihat berada dalam posisi bersalah. Itulah skill saya sebagai seorang pengacara dan saya terlatih dengan keahlian itu dalam berargumen dan berdebat menemukan kesalahan dan kelemahan orang. Celakanya keahlian itu tidak saja saya pakai di pengadilan dan di kantor, tetapi juga terjadi di rumah saya. Maka orang yang paling menderita karena keahlian saya sebagai seorang pengacara adalah isteri saya. Setiap kali ada konflik dengan isteri, saya gampang sekali memberikan ‘jab-jab’ argumen untuk memojokkan isteri saya. Dan jelas isteri saya tidak akan pernah menang dalam perdebatan itu. Yang dia lakukan adalah dia hanya bisa masuk ke kamar mandi, dia tenangkan diri di situ dan berdoa di situ. Setiap kali dia masuk ke kamar mandi, saya bahkan terdorong sekali untuk mendobrak pintu dan melanjutkan berargumentasi dengan dia. Satu kali pada waktu saya menghampiri kamar mandi, ada suara yang menembus pikiran saya, dan suara itu berkata demikian: Di tengah konflik ini, bagaimana engkau membawa Allah di dalamnya? Bagaimana engkau bisa memuliakan Allah dalam situasi seperti ini? Kalimat itu menghentak saya. Bagaimana engkau membawa Allah dalam situasi ini? Saya akui saya tidak memuliakan Allah di situ. Saya menyadari saya begitu self-righteous, saya selalu mau menang sendiri dan tidak pernah memikirkan perasaan dan kepentingan orang lain selain diriku sendiri.

Dunia ini penuh dengan ketidak-adilan. Beberapa minggu terakhir ini kita menyaksikan orang berteriak minta keadilan di mana-mana. Kiranya kita boleh menjadi anak-anak Tuhan yang sungguh diubah oleh Tuhan dalam situasi seperti ini. Mungkin ada banyak hal yang membuat kita juga ingin marah dan berteriak karena terlalu banyak ketidak-adilan dan unfairness yang terjadi dalam hidup kita. Hanya Allah kita adalah Allah yang sangat adil di dalam keadilanNya, dan keadilan Allah tidak pernah tebang pilih. Kita, manusia, selalu mempunyai agenda tertentu dan kita senantiasa menuntut keadilan karena ketidak-adilan terjadi kepada kita; bukan karena kita mencintai keadilan ditegakkan dan kebenaran dilakukan, tetapi apakah keadilan kebenaran itu menguntungkan saya, menguntungkan konsep saya dan pikiran saya. Di dalam konflik kita di rumah tangga juga demikian, bukan? Isteri bilang: saya perlu keadilan dari suami, dan demikian sebaliknya. Dan pada waktu kita telusuri lebih dalam, sebenarnya kita menuntut keadilan yang menguntungkan kita, keadilan yang menyelamatkan kita. Tetapi pada waktu kita menjadikan keadilan yang sama itu menerangi hati kita, kita baru tahu, kita menuding kesalahan orang dengan satu jari, ada tiga jari lain yang menuding kepada kesalahan diri sendiri, bukan? Pada waktu kita katakan, Tuhan, biarlah Engkau yang senantiasa dimuliakan di dalam hidupku, bawalah Tuhan selalu hadir dan kemuliaan Tuhan selalu hadir di dalam seluruh aspek hidup sdr. Itu hanya bisa terjadi ketika hati orang itu sudah ditransformasi oleh Injil; karena hal-hal yang spiritual hanya bisa dihasilkan oleh roh dalam hidup sdr. Yang ada adalah kita tidak membiarkan kuasa Injil itu merubah hidup kita dan kita lebih membiarkan egoisme, selfishness dan sinful nature kita tetap bertahta. Kita perlu menang dan mengalahkannya, bukan dengan kekuatan kita tetapi oleh kuasa Injil Yesus Kristus. Setiap kali kita datang berbakti, setiap kali kita menghampiri meja perjamuan, itu bukan sekedar karena kita rajin ke gereja, bukan karena kita melakukan tradisi dan kesetiaan liturgical ibadah kita, tetapi biarlah kuasa Injil penebusan dan pengampunan dari Tuhan Yesus itu merubah hidup kita. Kita menjadi orang Kristen yang otentik, dan orang melihat setiap aspek hidup kita dan pekerjaan kita betul-betul kita adalah seorang peacemaker. Melalui Injil yang sudah merubah hati kita, kita belajar untuk memikirkan kepentingan orang lain dan memuliakan Tuhan dalam seluruh keputusan hidup kita. Kita juga belajar dengan rendah hati mengatakan, I’m sorry, saya ada salah di situ. Kita juga menjadi orang yang bisa melihat mana yang lebih penting dan tidak terus menuntut, apakah yang bikin saya marah, emosi dan frustrasi adalah hal-hal yang kecil dan sepele. Kita belajar menjadikan itu sebagai sesuatu yang tidak perlu kita lihat sebagai hal-hal yang besar. Kita berdamai dengannya; kita bukan berarti menyerah atau kompromi. Kita berdamai, bukan berarti kita escape lari menghindar dari persoalan, tetapi kita tidak membiarkan hal-hal yang sebetulnya kecil itu tidak menjadi sesuatu yang mengganggu hidup kita. Di dalam relasi rumah tangga, bisa ada hal-hal kecil yang mengganggu dan membuat hati kita penuh dengan egoisme, kekesalan, kebencian dan kemarahan. Siapa yang sanggup bisa mengasihi musuh-musuhnya, yang bisa mengampuni orang yang berbuat salah kepadamu, siapakah yang bisa maju berdiri dan berkata: aku sudah bersalah, I did wrong things to you, forgive me. Apa yang sudah aku rugikan darimu akan kuganti dua kali lipat. Siapa orang-orang yang seperti itu yang bisa menjadi peacemakers, kecuali hanya karena Injil keselamatan dari Tuhan telah merubah hatinya, bukan? Itulah engkau dan saya. Kiranya Tuhan memberkati firmanNya untuk engkau terima, pakai dan lakukan dalam hidupmu dari hari ini, di tengah rumah tanggamu, di tengah lingkungan pekerjaanmu, di tengah relasimu satu dengan yang lain.

Bersyukur hari ini firman Tuhan sekali lagi mengingatkan kita betapa kita butuh akan Injil Yesus Kristus; Injil yang sungguh bisa merubah hati kita karena kita menyadari betapa besar kasih setia, kasih dan pengampunan Tuhan yang sesungguhnya tidak layak kita terima. Betapa besar kasih Tuhan yang meng-cover menutupi segala kesalahan dan dosa kita, dan pada waktu kita datang mengaku dengan rendah hati di hadapanNya, kita ingat janji firman Allah, “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita” (Mazmur 103:8-10). He is a good and gracious God, Allah yang penuh dengan segala kebaikan dan anugerah bagi kita. Siapakah kita, yang terus menuntut dan mendendam kepada orang-orang yang telah berbuat salah kepada kita? Kiranya kasih dan pengampunanNya memulihkan hati kita satu-persatu; memimpin hidup kita supaya kita boleh menjadi anak-anak Tuhan yang bertumbuh dengan indah, penuh dengan kesabaran, kasih dan pengampunan dari Tuhan. Apapun yang terjadi dalam saat ini, kita mungkin sudah bereaksi dengan tidak benar dan tidak suci, kita minta Tuhan mengampuni kesalahan dan dosa kita di hadapanNya. Dan biar kita selalu rindu memuliakan Allah dan menjadi pembawa damai di dalam segala situasi yang kita alami saat ini. Biar Tuhan diagungkan mulia selama-lamanya.(kz)