Salah Mengerti tentang Jangan Menghakimi

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Salah Mengerti tentang Jangan Menghakimi
Nats: Matius 7:1-5

Dalam hidup ini tugas yang berat, pekerjaan yang sukar, dan hal yang seolah tidak mungkin, kita mungkin bisa kerjakan. Tetapi ada satu hal yang paling susah kita kerjakan dan lakukan, yaitu mengakui kesalahan dan meminta maaf. Sebaliknya kita sangat gampang dan cepat mencari dan menemukan kesalahan dan kekurangan orang lain. Tetapi waktu giliran kita, ketika kesalahan kita sendiri mulai dikoreksi oleh orang lain, kita mengelak dan cepat-cepat mencari banyak sekali alasan untuk menutupi kesalahan kita. Bahkan kalau bisa, sebelum orang mengoreksi lebih dalam kesalahan kita, kita lebih duluan menyatakan kesalahan dan kelemahan dia. Namun jika kita semakin dipojokkan oleh orang, maka senjata terakhir yang kita keluarkan dari mulut kita adalah: Jangan menghakimi supaya kamu tidak dihakimi. Ini adalah frase yang sangat terkenal dari Tuhan Yesus yang seringkali banyak dipakai oleh banyak orang, bukan? Bukan saja orang Kristen, orang-orang yang tidak percaya Tuhan pun sering mengutip ucapan Tuhan Yesus ini, terutama ketika kita mulai berbicara secara aspek etika dan moral dan prinsip sebagai orang Kristen. Pada waktu bicara soal sepak bola, soal politik, bicara soal politisi, film, berita, acara televisi, bahkan bicara pandemi covid-19, orang bisa saling menimpali dan berkomentar tanpa merasa terganggu dan gampang bisa akur membicarakan kekurangan dan kelemahan siapa saja tanpa dianggap offended dan menghakimi. Namun ketika pembicaraan dengan orang yang non Kristen itu berlanjut soal pernikahan sesama jenis, soal moralitas, soal ajaran agama lain, soal Ateisme, dan sdr sebagai orang Kristen menyatakan pendapatmu, saya jamin sdr akan langsung mendapatkan respon yang sangat keras dari dia, sebagai orang yang sok suci, kaku, berpandangan sempit dst.

Bahkan di antara sesama orang Kristen satu dengan yang lain dalam percakapan sehari-hari pada waktu bicara banyak hal, sering kita tidak sadar perkataan kita sudah judgmental menghakimi orang lain dan kita anggap itu sebagai hal yang biasa. Dan pada waktu orang Kristen mulai membicarakan pandangan pendeta tertentu atau penafsiran teologis yang berbeda, percakapan bisa berubah menjadi perdebatan yang panas. Sesama orang Kristen bisa dengan garang dan membabi-buta menghakimi dan mengatakan pandangan orang itu sesat. Apalagi di medsos orang bisa saling tegur dengan keras: Memangnya kamu yang punya pandangan paling benar?! Jangan menghakimi supaya kamu tidak dihakimi. Sampai di situ, frase ‘jangan menghakimi’ sudah menutup semua perdebatan dan diskusi seperti itu.

Melihat berita televisi hari-hari ini kita bisa menyaksikan emosi kemarahan dan pengrusakan yang besar luar biasa. Kita hidup dalam environment dan situasi dimana tensi dan emosi orang berada dalam titik didih yang tertinggi, dan sebaliknya kesabaran dan keteduhan hati berada pada titik terendah. Ketika melihat karena warna kulitnya, karena status sosialnya, lalu berpikir orang ini adalah orang jahat, pencuri, pemalas, dsb, mudah sekali kita mempertegas kubu seperti itu. Ketika pertikaian inter-racial terjadi, persoalan prejudice soal warna kulit diangkat, mudah sekali orang terbangkit emosi kemarahannya sehingga menjadi sentimen yang menciptakan pengrusakan dan penghancuran kepada sistem dan tatanan masyarakat. Demikian juga pada waktu gereja mulai melayani begitu banyak orang dengan ras yang berbeda dan kubu-kubu ras mulai terbentuk, orang gampang sekali mempertegas kubu masing-masing. Apalagi ditambah dengan kondisi yang tidak menentu dari pandemi global virus corona, hanya satu gesekan yang kecil dalam komunitas keluarga maupun dalam gereja, gampang sekali bisa menciptakan konflik dan pertengkaran yang menghasilkan luka dan kemarahan terjadi. Saya harap melalui perenungan kita di dalam beberapa minggu hidup dalam krisis ini boleh memimpin hati kita di tengah environment dan tensi yang ada, orang Kristen harus step up berdiri menjadi satu umat yang menawarkan dan memberikan suara dan solusi yang terbaik di tengah kebingungan, kekacauan dan kemarahan yang ada di dalam dunia ini.

Hari ini kita akan memikirkan sama-sama, apakah dengan mengatakan “jangan menghakimi,” Yesus melarang kita untuk memberikan penilaian? Apakah sebagai orang Kristen, kita tidak boleh mengeluarkan pandangan yang berbeda, perspektif yang berbeda, atau mengoreksi kesalahan orang lain? Yesus tidak melarang kita untuk menyatakan penilaian dan koreksi dan penghakiman. Yesus bicara bagaimana kita melakukannya dengan benar. Maka kalimat Tuhan Yesus ini menjadi prinsip yang penting dan relevan luar biasa. “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau lihat? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu” (Matius 7:3-4). Yesus bicara dengan satu kontras yang sangat unik dan sangat lucu sebetulnya, selumbar di mata orang kamu lihat, tetapi balok di matamu engkau tidak lihat. Selumbar atau serpihan kayu yang sangat kecil dan halus yang bisa membuat mata kelilipan dikontraskan dengan balok yang begitu besar yang tidak disadari ada di depan mata. Koreksi dulu, angkat dulu, keluarkan dulu balok itu dari matamu maka barulah kita bisa melihat dengan jelas serpihan yang ada di mata saudaramu itu. Kalimat dari Tuhan Yesus ini meminta kita untuk bisa melakukan penilaian, penghakiman dengan benar. Diperlukan mutual respect, hormat satu dengan yang lain di dalam kita mengoreksi. Koreksi yang kita lakukan dengan lemah lembut, penuh dengan kesabaran dan bukan dengan spirit self-righteous, seperti seorang yang munafik, yang arogan, yang berada di dalam posisi ‘saya yang selalu benar, anda selalu salah.’ Yesus mengatakan, jangan engkau menghakimi jikalau engkau tidak mau ukuran yang engkau pakai itu diukurkan kepadamu. Yesus dengan keras menegur bahwa saya adalah orang yang munafik jikalau saya menjadi orang yang menaruh ukuran kepada orang sedangkan diri sendiri tidak mau diukur dengan ukuran itu.

Jadi prinsip yang pertama, jangan melihat serpihan kayu di mata orang lain dulu, tetapi mari kita lihat kepada diri kita masing-masing, apakah ada balok di mata saya? Mengakui kesalahan saya, mengakui saya arogan, saya merasa diri benar dan selalu mempersalahkan orang lain, itu adalah langkah pertama saya. Jadi Yesus tidak bicara soal tidak boleh memberikan penilaian, penghakiman dan koreksi. Justru itu penting dan perlu. Yesus bicara soal bagaimana menaruh first thing first, lihat balok di mata saya dulu dan bukan cepat-cepat melihat kepada kesalahan orang lain. Yesus memanggil dan meminta kita ambil tanggung jawab bagian kita di dalam setiap persoalan dan konflik yang terjadi. Bukan menaruh semua tanggung jawab kesalahan dalam konflik itu kepada diri orang lain. Mengakui saya berbagian dan bertanggung jawab sekalipun belum tentu sepenuhnya kesalahan kita. Tetapi kesalahan kita bisa juga karena kita bertindak salah, dari hati kita yang berdosa kita melakukan kesalahan. Dan penting sekali kita mengerti, kata “balok di dalam matamu” bukan berarti engkau punya kesalahan lebih besar dan kesalahan dia cuma “serpihan kayu.” Bukan begitu maksudnya. Bisa jadi kesalahan kita itu bukan kesalahan tetapi berangkat daripada kesalahan cara kita berpikir dan perasaan kita, yaitu kita mungkin over-sensitive. Kita mudah tersinggung dan gampang terbawa perasaan. Kita cepat sekali menangkap kalimat orang lain, cara dia berkata, cara dia bercanda, cara dia bersikap, lalu kita jadi tersinggung dan marah. Padahal bisa jadi itu cuma persoalan latar belakang kultur dan budaya. Ada orang yang cara bicaranya lebih cepat, suaranya lebih lantang, perkataannya buka-bukaan dan tidak sensitif. Itu adalah soal kultur dan belum tentu menyatakan orang itu jahat secara moral. Ada orang yang cepat menyatakan pendapat, cepat meremehkan dan mengejek kelemahan seseorang, gampang menertawakan hal-hal yang tidak perlu. Itu adalah soal kelemahan dan menunjukkan orang itu tidak terampil dalam hal sosial. Ada orang yang dalam perkataannya terlalu ringan dan cepat membuat janji-janji, tidak punya prinsip yang teguh, gampang goyah dan tidak bisa dipegang perkataannya. Itu hanya menyatakan dia adalah seorang yang berkepribadian lemah dan kita perlu berhati-hati untuk tidak segera dan serta-merta mempercayai semua yang dia katakan. Tetapi kita perlu membedakan dengan orang yang benar-benar mempunyai motivasi hati yang tidak benar, orang yang mau mencelakakan dan menghancurkan kita. Di situ kita perlu kepekaan dan bijaksana untuk membedakannya.

Maka Yesus berkata, “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu maka engkau bisa melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Matius 7:5). Ada balok yang harus kita keluarkan dari mata kita. Itu berarti sebelum mengoreksi orang lain, saya perlu meneliti balok apa yang ada di mataku, menemukannya dan mengaku kesalahan dan perbuatan saya. Itu tanggung jawab kita masing-masing sebagai murid Tuhan. Sekalipun dalam persoalan dan konflik yang terjadi dengan orang, sdr mungkin cuma bersalah 5% dan 95% salah orang itu. Kalimat Tuhan itu berarti: kepada 5% kesalahanmu, engkau harus 100% terima itu sebagai kesalahanmu. Itu tanggung jawab di pihak sdr. Itulah balok yang harus kita kerjakan terlebih dahulu untuk diangkat.

Yang ke dua, tindakan kita membuang balok adalah kita berdoa kepada Tuhan, minta Tuhan mengoreksi hati kita, motivasi kita. Seperti pemazmur, kita perlu berdoa, “Selidiki hatiku, ya Allah, dan kenallah hatiku. Ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku. Lihatlah apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal” (Mazmur 139:23-24). Kita tidak akan mungkin bisa berkata-kata dengan indah, memberikan dorongan spiritual kepada orang lain kalau kita sendiri tidak dikoreksi dan dipenuhi oleh firman Tuhan terlebih dahulu. Ibrani 14:2 berkata, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun. Ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Kalimat itu memberitahukan kepada kita betapa kuat dan hebatnya firman Tuhan yang bisa menembus hati kita, melihat kepada diri lalu kemudian firman itu mengoreksi dan menuntun hati kita. Berpikir sendiri terhadap konflik persoalan yang engkau alami, bisa jadi membuat semakin keruh. Yang kita perlukan adalah berkata kepada Tuhan di dalam doa, lalu buka hati kepada firman Tuhan dan biar firman Tuhan itu berkata-kata kepada persoalan yang ada dalam hidupmu. Itu langkah yang ke dua dalam tindakan membuang balok dari mata kita.

Lalu langkah ke tiga, kita perlu menerima masukan dari saudara-saudara seiman yang baik, teman-teman yang mencintai engkau. Jangan marah kepada mereka yang berani maju dan memberikan koreksi dan bilang: mungkin ada salah pada waktu engkau berkata atau bertindak seperti ini. Berani menerima koreksi, melihat hal itu sebagai kesalahan kita dari koreksi orang lain itu indah luar biasa. Menutup mata dan tidak mau mengoreksi kesalahan dan kelemahan temanmu adalah tindakan yang kejam, tetapi adalah cinta dan kasih yang luar biasa jikalau seseorang mungkin bahkan mempertaruhkan persahabatan dengan orang yang dia kasihi dengan mengoreksi demi kebaikannya dan dia salah tangkap, tersinggung dan marah, bahkan mungkin akhirnya dia tidak mau lagi menjadi temanmu, tetapi itu adalah resiko dan harga dari tindakan cinta kita. Bisa jadi setelah sekian lama barulah dia mengetahui engkau sudah berbuat baik bagi dia. Tidak apa-apa.

Gampang dan mudah, kita terbiasa cepat dalam berkata-kata mengeluarkan kalimat dengan segera melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan kita sendiri. Tetapi mengangkat dan menyingkirkan balok dari mata kita, itu langkah yang paling susah dan sulit. Saya datang mengakui kesalahan saya di hadapan Tuhan, dan kemudian saya melangkah dan mengakui kesalahan saya kepada orang tsb. Dan pada waktu sdr menyatakan salah kepada orang, kita harus berhati-hati karena ada yang namanya “toxic confession” yang seperti ini: “Iya sih, tadi saya baru bicara sama pendeta dan dikasih nasehat buat minta maaf. Ya sudah, saya minta maaf deh, jika memang saya berbuat salah.” Atau, “Yaaaa, saya minta maaf deh, jika kamu sudah tersinggung dengan perkataan saya.” Itulah yang saya maksud dengan toxic confession. Jadi sekalipun meminta maaf, tetapi sebenarnya di situ dia tidak merasa bersalah tetapi apa boleh buat, karena disuruh, ya sudahlah, minta maaf. Yang ke dua, waktu orang itu bilang, “Yah, saya minta maaf kalau kamu tersinggung,” artinya adalah: sebenarnya saya tidak salah, salahnya lebih banyak di pihak kamu. Kamu yang terlalu sensitif dan terbawa perasaan. Itu adalah toxic confession. Pengakuan yang tidak dengan tulus dan jujur tidak menyembuhkan relasi dan justru lebih mempertebal rasa pembenaran diri seseorang dan menambahkan tuduhan dan tudingan kepada orang lain; tidak mau ambil bagian dalam situasi konflik ini, tetapi mempersalahkan pihak lain. Kalimat Tuhan Yesus ini adalah kalimat yang mengingatkan setiap kita akan ada koreksi, resolving konflik yang konstruktif, yang indah dan mutual respect lahir dari sebuah sikap yang tidak menganggap diri selalu paling benar, sikap yang menaklukkan diri, sikap yang mau dikoreksi, sikap yang mengatakan saya berbagian di dalam konflik dan kesalahan itu.

Baru selanjutnya kata Yesus, “maka engkau bisa melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” Kalimat Tuhan Yesus ini luar biasa: setelah mengeluarkan balok itu dari matamu, baru engkau bisa dengan jelas melihat selumbar di mata orang. Berarti kita boleh menegur, kita boleh mengoreksi orang. Dan saat yang sama, sebagai murid Tuhan, kita dipanggil untuk mengingatkan saudara kita. Kalau kita lihat orang itu berjalan bisa merugikan dan mencelakakan orang lain, atau bisa merugikan dan mencelakakan diri sendiri, bertindak dan berlaku di dalam hal yang akhirnya tidak memuliakan Tuhan, sebagai anak-anak Tuhan kita dipanggil untuk mengoreksi dan menegur dia. Ada satu hal yang memang susah dan sulit kita kerjakan selain untuk bisa mengaku akan kelemahan dan kesalahan kita, mungkin juga kita agak takut dan enggan untuk bisa terlibat mengoreksi dan memberikan teguran kepada orang. Kita mungkin takut persahabatan atau pertemanan dan hubungan kita menjadi renggang karena hal itu. Dalam hal ini bukan kita tidak boleh mengoreksi kesalahan orang, tetapi dengan cara bagaimana kita melakukannya. Yesus bilang, “keluarkanlah dahulu balok dari matamu maka engkau bisa melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Setiap kita pernah mengalami mata kita kelilipan, bukan? Kadang ada debu, bahkan serpihan kayu masuk ke mata kita dan itu mengganggu dan menyakitkan mata kita. Apa yang kita bisa kita pakai untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata kita? Menarik, Yesus bilang: engkau baru bisa dengan jelas mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu. Betapa indah firman Tuhan ini mengajar kita dengan lemah lembut dan dengan sabar mengoreksi dan mengingatkan orang itu. Kalau mata orang kelilipan, jangan kita congkel matanya. Kalau orang itu adalah anak kita yang berbuat salah sedikit, tegur dia dalam kesabaran. Paulus mengingatkan, “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu supaya jangan tawar hatinya” (Kolose 3:21). Maka bagian ini bagi saya indah luar biasa, karena yang kita lakukan seringkali terbalik: kepada kesalahan kita sendiri, kita terlalu gampang dan mudah untuk mencari excuses; tetapi kepada kesalahan orang lain yang kecil, kita gampang membombardirnya dengan bom untuk menghancurkan dan menghilangkannya. Yesus mengatakan berikan koreksi, teguran, kasih kepadanya dengan segala kelemah-lembutan.

Saya rindu firman Tuhan ini boleh menjadi kekuatan dan berkat bagi setiap kita. Hanya Tuhan yang bisa merubah hati orang mengenali kesalahannya dan mengakui di hadapan Allah. Kita hanya bisa menolong dan membantu dia. Dan kita lakukan dengan sincere, dengan tulus, dengan lemah lembut, di situlah kita boleh menyatakan satu sikap yang indah dan baik. Bisa jadi orang itu tidak memaafkan sdr, bisa jadi dia tidak terima, kadangkala perlu waktu yang panjang, kadangkala dia perlu memikirkan dalam-dalam dan kadangkala mungkin dalam kekerasan hatinya menolak itu sehingga hubunganmu dengan dia mengalami masa yang dingin. Yang penting adalah engkau melihat apa yang menjadi hati dan motivasimu dan engkau sudah lakukan teguran itu dengan segala kelemah-lembutan dan kebaikan.

Di dalam komunitas gereja, di dalam rumah tangga kita masing-masing dengan pasanganmu dan anak-anakmu, kiranya setiap kita boleh mengamini dan menerima prinsip firman Tuhan ini begitu indah terjadi. Saya rindu setiap firman Tuhan ini betul-betul ada di dalam hati kita, karena hanya suara firman Tuhan yang sanggup bisa merubah hidup kita. Dan biar firman Tuhan ini menjaga dan menaklukkan diri kita dan bukan membiarkan self-righteous, harga diri dan egoisme kita yang memerintah, mengontrol dan menguasai hati kita. Kalau hari ini kita perlu membereskan relasi kita dengan orang yang sudah kita lukai hatinya; kalau hari ini kita perlu datang kepada dia menyatakan permintaan maaf, mengakui kesalahan, akui dan katakan dengan spesifik: “Maafkan saya sudah mengeluarkan kata-kata yang kurang bagus dan melukai hatimu. Saya telah bersikap negatif kepadamu. Saya terlalu cepat emosi. Saya tidak bijaksana dalam bicara.” Akui seperti itu. Saya percaya tidak ada yang rugi pada waktu kita datang mengatakan kita mau ambil bagian di dalam kesalahan dan konflik itu dan minta maaf kepadanya. Betapa indahnya Tuhan memulihkan relasi kita penuh kasih dan pengampunan..Kiranya Tuhan memberkati dan melembutkan hati kita masing-masing.

Bersyukur untuk firman Tuhan pada hari ini, yang memberi kita belajar sama-sama bagaimana di tengah-tengah situasi hidup kita saat ini ada banyak hal yang sangat mempengaruhi hati dan emosi kita, yang mungkin menciptakan tensi yang terlalu tinggi karena kekuatiran, kemarahan, kegelisahan, karena sikap negatif atau karena hal-hal yang terjadi dalam hidup kita. Biar kiranya setiap kita boleh belajar dari firman Tuhan supaya kita boleh menjadi anak-anak Tuhan yang bertumbuh dengan indah, penuh dengan kesabaran, kasih dan pengampunan dari Tuhan. Hanya pada Tuhan ada kebaikan, kemurahan, belas kasih, dan pengampunan yang mengalir bagaikan aliran air yang tidak henti-henti mengalir dalam hidup kita. Kiranya hari ini penuhlah kasih Tuhan itu dalam hidup kita sehingga boleh menyembuhkan dan melegakan kita, kasih Tuhan itu memenuhi hati kita dengan limpah keluar dari hati kita menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.(kz)