Overcome Evil with Good

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Overcome Evil with Good
Nats: Roma 12:14-21

Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:21).

Roma 12:14-21adalah satu bagian yang indah dari rasul Paulus yang menjadi satu perintah Tuhan kepada kita sebagai orang yang sudah ditebus oleh Tuhan, kita memiliki hati yang indah dan agung melebihi orang yang baik kepada kita karena tangan kita bisa menjangkau orang-orang yang tidak baik kepada kita. Hari ini kita membahas tentang “Overcome Evil with Good,” kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.

Ada begitu banyak hal yang kita alami di dalam hidup ini, kesusahan dan kesulitan, kejahatan, hal-hal yang tidak kita duga dan kita tidak inginkan terjadi. Bahkan mungkin ada orang-orang yang mengambil keuntungan di tengah kesusahan kita, menginjak dan memeras kehidupan kita. Kadang-kadang sampai tidak ada lagi yang tertinggal kecuali air mata kepedihan dan kesedihan. Tetapi apakah kita dikalahkan oleh kesusahan, kesulitan dan kejahatan itu? Alkitab mengatakan: tidak. Kalahkanlah itu dengan kebaikan. Biar setiap kata-kata firman Tuhan ini boleh menyerap di dalam hati kita, menembusi hati kita. Mungkin kita sedih, hati kita keras, kita kesal, kita mungkin tidak melihat kuasa Tuhan itu bekerja. Biar hari ini firman Tuhan ini sungguh masuk ke dalam hati kita. “Berkatilah orang yang menganiaya kamu. Berkatilah dan jangan mengutuk. Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik bagi semua orang. Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung kepadamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang. Jika seterumu lapar, berilah ia makan; jika ia haus, berilah ia minum. Dengan berbuat demikian, engkau menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

Baru-baru ini Presiden RI bapak Joko Widodo mengatakan: Biarlah kita hidup berdamai dengan virus corona. Apa artinya hidup berdamai dengan virus corona? Jelas yang beliau maksudkan bukan berarti kita kalah dan menyerah di dalam malapetaka ini. Jelas kalimat itu bukan berarti kita diminta untuk bersikap masa bodoh, hidup gegabah dan menjadi tidak peduli dengan ancaman virus ini. Tentu kita perlu bijaksana untuk menghindar, bahkan kita harus berusaha dengan sekuat tenaga menghindar dari segala sakit-penyakit, kejahatan dan bencana yang terjadi. Sebagai anak-anak Tuhan kita memohon kepada Tuhan ketika ada kesusahan dan kesulitan, ada sakit-penyakit yang tiba kepada kita, kita berdoa kepada Tuhan biarlah hal ini lalu dan pergi daripada kita.

Kalimat hidup berdamai di sini berarti kita tahu kita sekarang masuk ke dalam satu situasi pandemi yang tidak berlalu dalam waktu yang pendek dan singkat. Mungkin kita tidak mengalaminya secara langsung tetapi tidak berarti itu tidak ada. Kita menerima kenyataan dan realita bahwa kesulitan dan penderitaan itu akan tetap ada dan berada di dalam kehidupan kita. Dan sebetulnya kita bukan saja menyadari dan menerima akan hal itu, bukan? Di sekitar hidup kita ada banyak hal-hal yang tidak baik bisa terjadi; ada kejahatan yang orang bisa lakukan kepada kita; ada kecelakaan yang bisa menimpa. Dan bukan saja virus corona, juga banyak virus dan penyakit-penyakit yang lain bisa menyerang tubuh kita. Kita mungkin bisa terhindar dari satu penyakit, tetapi kita mungkin tidak bisa menghindar dari penyakit yang lain. Hari ini kita sehat, tetapi tidak selama-lamanya kita sehat. Itu adalah fakta realita yang harus kita terima dalam hidup ini.

Sebelum masuk kepada bagian respon kita terhadap kejahatan dan orang-orang yang berbuat jahat kepada kita, kita perlu mengerti dan memahami secara komprehensif tentang kesulitan dan penderitaan dan dimana Tuhan di dalam kesulitan dan penderitaan yang kita alami. Sebagai seorang hamba Tuhan, saya harus mengakui tidak gampang dan tidak mudah saya memberikan pelayanan secara pastoral akan hal ini. Ada orang-orang yang sudah berdoa sekian lama kepada Tuhan, menangis dan berseru kepada Tuhan supaya Ia menyembuhkan penyakit dan mengangkat kesusahan dan kesulitan hidupnya. Mereka bertanya, mengapa Tuhan berdiam dan tidak menjawab doaku? Kita tentu tahu jawaban teologis bahwa Allah mempunyai rancangan yang indah, Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Dia. Itulah jawaban teologis dan Biblikal yang bisa kita berikan. Tetapi betapa tidak mudah memberikan jawaban secara pastoral kepada mereka yang mengalami hal-hal seperti ini. Kita mungkin hanya bisa berdiam dan tidak boleh terlalu cepat untuk memberikan jawaban yang mungkin ditangkap oleh orang itu seperti “koyo” yang hanya soothing sebentar tetapi tidak sungguh-sungguh menyembuhkan dia. Pada waktu saya merenungkan pertanyaan ini dengan air mata dan kesedihan, di tengah kesusahan dan kesulitan yang kita alami kita berdoa kepada Tuhan, tetapi mengapa Tuhan seolah diam dan tidak menjawab?

Ada satu bagian dalam Alkitab yang sangat indah menuntun kita, dicatat dalam Yohanes 11:1-44 pengalaman yang terjadi kepada Lazarus sedang sakit keras. Sakit yang begitu serius, sehingga Marta dan Maria perlu mengirim pesan kepada Yesus, bahwa “Lazarus, yang Engkau kasihi, sakit.” Marta dan Maria tahu Yesus sanggup menyembuhkan Lazarus, itu sebabnya mereka mencari pertolongan kepadaNya. Namun ketika Yesus mendengar hal ini, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat dimana Ia berada (Yohanes 11:6). Kita tidak mengerti kenapa Yesus melakukan seperti ini. Bukankah Ia adalah Tuhan yang penuh dengan belas kasihan, waktu orang-orang sakit di pinggir jalan berseru kepadaNya, Ia menyembuhkan mereka? Bahkan bukan saja dalam jarak dekat, Yesus juga menyembuhkan anak seorang perwira yang sakit keras tanpa perlu datang ke dalam rumahnya menjamah anak yang sakit itu. Maka kita percaya Yesus juga bisa menyembuhkan Lazarus tanpa perlu segera datang ke Betania menjumpai dia. Lazarus adalah teman baikNya, orang yang Ia kenal dan kasihi. Teman baik itu sedang sakit dan teman baik itu sedang berseru minta tolong kepadaNya. Namun Yesus tidak segera datang. Yesus menunggu dua hari di situ. Sangat mencengangkan fakta peristiwa seperti itu. Namun kita tahu akhir cerita kisah pengalaman Lazarus sakit keras dan kemudian meninggal dunia dan setelah empat hari dikubur, Yesus datang dan membangkitkan dia sehingga Lazarus hidup kembali. Kita tahu akhir ceritanya seperti itu. Sehingga dari kisah itu kita mengetahui bahwa kita yang terbatas ini pasti akan tahu dan melihat di masa depan itu segala sesuatu terjadi Tuhan pasti punya maksud dan rencana yang baik dan kita percaya rancangan Tuhan itu indah pada waktunya.

Tetapi pada waktu kita mengatakan kalimat-kalimat seperti ini kepada orang-orang yang sedang ditimpa sakit, penderitaan dan kesusahan, kadang kalimat-kalimat penghiburan seperti ini disambut dengan dingin dan dirasa tidak bermakna bagi hati orang yang sedang ditimpa masalah. Mungkin dia masih bersikap sopan mendengarnya; mungkin dia akan bereaksi marah, atau mungkin dia hanya tersenyum sinis. Kenapa? Karena penderitaan dan kesusahan itu nyata dan yang dia mau adalah tindakan yang segera dari Tuhan mengangkat kesulitan dan penderitaannya. Namun sikap Yesus yang diam menunggu dan tidak segera bertindak merupakan bagian yang sangat penting sekali. Justru peristiwa itu harus menjadi framework teologis bagi kita sekarang bagaimana melihat kesusahan, kesulitan dan penderitaan dalam hidup kita. Karena pada waktu Yesus menunggu itulah fase dimana engkau dan saya hidup sekarang ini dan dalam penantian satu kali kelak Yesus akan datang dan Ia akan menjadikan segala sesuatu baru adanya. Kita percaya pada waktu Yesus datang kembali, Ia akan membangkitkan kita dan memberikan tubuh yang mulia kepada setiap kita dan tidak akan ada lagi sakit penyakit datang kepada kita. Segala hal yang indah dan mulia itu akan menjadi harta milik kita; itu yang menjadi pengharapan kita. Kita sedang berada di dalam framework itu. Itulah sebabnya dari peristiwa Lazarus ini kita belajar hal yang penting, apa yang bisa kita lihat di dalam menganalisa penderitaan kita. Yesus tidak segera datang, Yesus menunggu. Ia diam dan silent. Tetapi dalam dua hari itu ada dua hal yang luar biasa penting terjadi dan itu menjadi berkat penghiburan yang luar biasa bagi engkau dan saya pada hari ini. Hal yang pertama: Yesus menangis (Yohanes 11:35). Itu ayat yang paling pendek dalam Alkitab kita, bukan? “Jesus wept.” Yesus menangis menjadi satu hal yang luar biasa indah. Ia adalah Allah dan Tuhan kita yang menempatkan diriNya, hidupNya di dalam penderitaan dan kesulitan manusia. Itulah sebabnya penulis surat Ibrani mengatakan Yesus tahu apa yang menjadi pergumulan kita. Ia alami segala sesuatu yang manusia alami namun hanya satu yang tidak Ia alami yaitu Ia tidak berdosa dan tidak pernah berbuat dosa (Ibrani 4:15). Yesus tahu setiap kesusahan dan penderitaan yang kita hadapi. Ia peduli dan Ia menangis bersama engkau. Ia berjalan bersama kita di dalam penderitaan kita.

Hal yang ke dua, Marta dan Maria tentu mempunyai kebutuhan yang paling mendesak pada waktu itu adalah Lazarus sembuh, itulah yang mereka perlukan. Tetapi malahan Lazarus meninggal dunia. Dalam konteks budaya pada waktu itu kita tahu pria merupakan ujung tombak dan penopang keluarga. Sekarang pengharapan mereka seolah hampir patah dan putus. Setelah empat hari Lazarus berada di lobang kubur, baru Yesus datang. Marta berkata, “Tuhan, seandainya Engkau ada di sini, tentu Lazarus tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepadaMu segala sesuatu yang Engkau minta kepadaNya” (Yohanes 11:21-22). Yesus menjawab Marta: Lazarus akan bangkit. Marta menanggapi jawaban Yesus: Aku tahu bahwa Lazarus akan bangkit kelak, pada akhir jaman. Di situlah kemudian Yesus mengeluarkan kalimat yang terkenal ini: “Akulah Kebangkitan dan Hidup. Barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yohanes 11:25). Marta berseru, “Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” Perhatikan, di tengah kesulitan dan air mata itu tetap Marta memegang kepercayaan ini, aku tahu, aku percaya kepada Engkau yang memiliki kuasa yang sanggup membangkitkan dia. Itulah sebabnya confession itu muncul. Marta percaya Yesus adalah Kebangkitan dan Hidup. Marta percaya bahwa Lazarus akan dibangkitkan kelak. Kepercayaan itu tidak berubah. Namun yang terjadi adalah melalui peristiwa ini, kepercayaan mereka kepada Yesus Kristus semakin tebal, mereka tahu Ia adalah Allah yang maha kuasa dan maha baik; Ia adalah Allah yang peduli. Itu sebab persoalanku yang kecil-kecil tidak menjadi masalah yang besar lagi. Allah bukan menyelesaikan satu-persatu persoalanku, tetapi karena aku tahu siapa Allah yang sanggup bisa menyelesaikan segala sesuatu dari awal sampai akhir. Puji Tuhan!

Banyak orang Kristen merasa malu dan menyembunyikan kesusahan dan kesulitan yang dia alami oleh sebab mereka melihat penderitaan itu seolah mempermalukan iman Kristen. Itulah sebabnya kita tidak mau untuk menyatakan kesulitan dan penderitaan kita kepada orang. Ketika kita sakit, kita tidak bicara. Ketika kita dipecat dari pekerjaan, kita tidak mau orang tahu. Ketika kita mendapat kesulitan kita tidak mau ungkapkan karena kita malu. Jangan sampai kita terperangkap dengan pengajaran yang berkata bahwa jikalau Tuhan mengasihi kita dan kita adalah milik Tuhan maka kita pasti akan dihindarkan dari kesusahan dan penderitaan. Kalimat seperti itu dengan sendirinya gugur dan tidak benar adanya. Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu berbicara mengenai orang-orang yang mengasihi Allah yang penuh dengan kesusahan dan penderitaan yang mereka alami. Jangan kita menjadi malu, jangan kita menyembunyikannya. Sebagai orang Kristen kita hadapi sakit, kesusahan dan penderitaan itu. Justru bagi saya penderitaan, kesusahan dan kejahatan yang engkau alami bisa menjadi suara kesaksian yang paling kuat bagi Kekristenan. Kalau hari ini engkau mengalami kesusahan dan kesulitan, jangan simpan semua itu bagi dirimu sendiri. Jangan biarkan penderitaan, kesusahan, kesulitan itu mengalahkan engkau.

Di bagian ini, kemudian kita melihat bagaimana respon dan sikap kita terhadap kesulitan dan penderitaan? Dan bagaimana jikalau kesusahan dan penderitaan itu bukan disebabkan oleh situasi yang ada di sekitar kita, tetapi sebagai akibat dari tindakan orang berbuat jahat kepada kita? Jikalai kesulitan dan penderitaan itu datang sebagai akibat dari situasi, mungkin kita bisa menerimanya dengan lapang dada sebab orang lain juga mengalami hal-hal yang sama. Tetapi betapa tidak mudah kalau kesusahan, kesulitan dan penderitaan itu adalah evil kejahatan yang dilakukan oleh orang kepada kita. Dalam Roma 12:14-21 ini Paulus memberikan dorongan kepada kita untuk overcome evil with good di dalam kondisi seperti itu. Itu adalah kalimat-kalimat yang agung luar biasa. Di tengah dunia yang hanya mengenal balas dendam dan kekerasan ganti kekerasan lebih besar, kalimat firman Tuhan ini menjadi cahaya ilahi yang sangat kontras. Hanya kasih Allah yang ilahi, yang tidak pernah egois; hanya kasih Allah yang berkorban yang bisa merubah hati orang dan memampukan dia melakukan hal ini. Overcome evil with good, mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, menjadikan ciri anak Tuhan yang berbeda dengan dunia ini. Betapa tidak gampang dan tidak mudah. Hari-hari ini, di tengah situasi yang ada mungkin anak-anak Tuhan sendiri bisa marah karena kesusahan terjadi dalam hidup mereka. Kita sedang menghadapi kondisi dan situasi yang real seperti ini.

“Berkatilah orang yang menganiaya kamu. Berkatilah dan jangan mengutuk. Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik bagi semua orang.” Inilah panggilan Tuhan untuk overcome evil with good, menjadi seorang yang indah bisa mengatasi itu semua. Dengan kekuatan natural, dengan sikap hati kita yang cenderung berdosa ini kita tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk melakukannya. Tetapi justru ketika Tuhan memampukan kita menyatakan sikap seorang anak Tuhan yang sejati, dalam kesusahan, kesulitan, dan kejahatan yang terjadi kepadamu engkau tidak membalas dan sanggup berdoa bagi mereka yang berbuat jahat kepadamu, itu menjadi suara yang paling kuat untuk menyatakan kesaksian Kekristenan. Bukan karena engkau sukses dan tidak pernah mengalami kesusahan, tetapi melewati semua itu engkau justru mengalahkan dan menang atasnya.

“Sedapat mungkin, kalau hal itu bergantung kepadamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Roma 12:18). Kadang- kadang kita berusaha untuk damai, tetapi tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kita perlu justru senjata rohani yang luar biasa ini: sedapat mungkin berdamailah dengan semua orang. Berdamailah dengan situasimu. Kalimat itu berarti kita punya limitasi. Orang itu mungkin tidak sanggup dan tidak mau berbuat baik kepada engkau dan saya, bahkan mungkin dia memikirkan dan merencanakan hal yang jahat kepadamu. Sdr tidak sanggup dan tidak punya kekuatan untuk merubah dia. Tetapi firman Tuhan berkata, dari sisi kamu, berusahalah sedapat mungkin engkau yang berdamai.

Mengapa kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan? Mengapa kita tidak boleh menuntut pembalasan? Firman Tuhan berkata, “Jangan menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab pembalasan adalah hak Tuhan. Allahlah yang akan menuntut pembalasan” (Roma 12:19). Allah tidak akan menutup mata terhadap kejahatan yang dilakukan orang kepadamu. Di dunia ini mungkin ada orang jahat yang luput dari keadilan, tetapi dia tidak akan bisa lari dari keadilan Allah. Allah akan membalaskan kejahatan orang itu bagi kita. Itulah dasar dari perintahNya untuk kita tidak menuntut pembalasan di dunia ini. Sebaliknya, firman Tuhan berkata: Kalau musuhmu lapar, berilah dia makan. Kalau musuhmu haus, berilah dia minum. Berbuat baik bagi orang-orang yang berlaku jahat, berbuat baik bagi orang-orang yang tidak baik dalam hidupmu, itu merupakan satu karakter yang supranatural. Namun firman Tuhan ini tidak mengada-ada; firman Tuhan ini tidak meminimalkan kejahatan yang datang kepadamu. Tetapi ini bicara tentang engkau sendiri, sebagai seorang Kristen. Berkatilah dan jangan mengutuki.

Bagaimana menang terhadap kesusahan, kesulitan, kepahitan yang engkau alami hari ini? Bukan semua itu akan tersingkir dari hidup sdr. Tetapi kita dipanggil untuk menjaga hati dan menjaga mulut kita. Tidak ada di antara kita yang tidak pernah dilukai oleh orang; tidak ada di antara kita yang tidak pernah menjadi korban gosip dan fitnah; kita semua pernah dirugikan oleh orang, bukan? Semua kita pernah mengalami semua itu. Tetapi Paulus berkata: Berkatilah orang itu, dan jangan mengutuk dia. Belajar untuk melihat hal yang baik sekalipun orang itu jahat kepadamu. Katakan kata-kata yang baik kepadanya. Hatimu tidak diracuni oleh kemarahan, kalimat-kalimatmu tidak menjadi lebih jahat dan lebih keras kepada orang. Kiranya Tuhan memberi kekuatan dan pertolongan kepada kita. Dalam situasi dan kondisi ini kita hanya bisa berseru, berdoa dan berharap kepada Tuhan. Hanya kepadaNya kita nyatakan segala kesedihan dan kepahitan kita. Kiranya firman Allah itu sungguh-sungguh menjadi penghiburan yang nyata dan real bagi kita. Kita tidak anggap itu hanya sebagai satu koyo yang menyenangkan dan melegakan tetapi sungguh-sungguh sebagai kekuatan yang merubah dan membentuk hidup kita, sehingga kita boleh mengasihi dan memberkati kepada hal-hal yang tidak baik yang ada dan terjadi dalam hidup kita. Kalau hari ini ada di antara kita yang mengalami kejahatan yang begitu besar dan dahsyat dari orang, bawa itu kepada Tuhan yang akan membereskan dan memberikan keadilanNya pada waktunya. Itulah yang menjadi penghiburan, kekuatan dan kesembuhan yang nyata dari Tuhan boleh ada di dalam hati dan hidup kita. Kiranya Tuhan mengangkat segala kesedihan, kepahitan dan kemarahan dalam hatimu, ganti dengan sukacita, syukur dan berkat di dalam hidup engkau dan saya. Berkatilah setiap orang yang memberkati engkau; berkatilah setiap orang yang mengutuki engkau; dan biarlah melalui setiap hal yang terjadi dalam hidupmu pada hari ini, Tuhan berkarya dan setiap teriakan dan seruan air matamu menjadi kesaksian yang makin indah bagi hormat kemuliaan nama Tuhan.(kz)