Compassion in His Mission

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Enrol in Jesus’ School [1]
Tema: Compassion in His Mission
Nats: Matius 9:35 – 10:4

“Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kataNya kepada murid-muridNya: Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Matius 9:35-38).

“Enrol in Jesus’ School,” mari kita daftarkan diri masuk ke dalam sekolah pemuridan Tuhan Yesus. Ini adalah satu seri khotbah dari Injil Matius 10 dimana Yesus mempersiapkan sekelompok orang menjadi murid-muridNya dan di situ kita melihat apa artinya menjadi murid Tuhan Yesus Kristus yang sejati dan sungguh itu.

Tahun 2020 adalah tahun dimana tidak henti-hentinya dan tidak habis-habisnya persoalan dan problema kehidupan muncul silih berganti. Kita menyaksikan pandemi virus corona dan efek yang dihasilkan begitu dahsyat adanya. Sakit, kematian yang mendadak, banyak perusahaan yang collapse, tingkat pengangguran yang tinggi menghasilkan kesedihan, kepanikan, ketakutan, frustrasi dan kemarahan di tengah kesulitan ekonomi dan pekerjaan. Dan di tengah masalah-masalah yang ada kita menyaksikan konflik di dalam kehidupan keluarga yang sebelumnya mungkin ada di bawah permukaan dan kemudian mulai muncul di atas permukaan. Demikian juga persoalan demi persoalan dan pertentangan yang tidak ada habis-habisnya dan makin bereskalasi. Beberapa waktu terakhir kita juga menyaksikan pertikaian dan persoalan rasial terjadi di Amerika Serikat dan merambat ke Eropa dan kita melihat perusakan, penjarahan dan demonstrasi bukan terjadi di negara yang miskin dan terbelakang, tetapi terjadi di negara-negara super power, yang penduduknya rata-rata berpendidikan tinggi, dengan teknologi yang begitu maju. Apa yang kita lihat saat ini mengingatkan dan memberitahukan kepada kita semua asumsi-asumsi yang selama ini di atas permukaan orang berpikir jikalau tingkat ekonomi semakin makmur, maka situasi akan menjadi semakin lebih indah dan hidup lebih damai dan tenteram, satu dengan yang lain saling menghargai. Jikalau tingkat pendidikan semakin tinggi, orang kemudian akan menjadi lebih toleran, lebih menghargai dan respek satu dengan yang lain; tutur kata dan bahasanya menjadi lebih indah, lebih berpendidikan. Namun apa yang saat ini kita saksikan begitu bertolak-belakang dengan asumsi-asumsi seperti itu.

Beberapa hamba Tuhan dari kelompok African-American yang ada di Amerika bicara mengenai persoalan rasial, mereka berkata: Mari kita melihat persoalan yang kita hadapi bukan kepada yang ada di atas permukaan saat ini tetapi kepada problem yang ada di dalam hati setiap manusia. Ketika kita melihat ketidak-adilan, ketika kita melihat gap antara kaya dan miskin begitu besar karena keserakahan daripada manusia; ketika kita melihat kebencian, persoalan rasial dan diskriminasi di tengah masyarakat, semua ini mengingatkan kepada kita ada problem yang lebih dalam daripada persoalan warna kulit dan persoalan kaya miskin, tetapi persoalan yang lebih dalam adalah problem spiritual, ketika manusia telah meninggalkan Tuhan dan menyingkirkan Allah dari kehidupannya.

Itulah problem dosa yang ada di dalam hati manusia, yang keluar secara eksternal dalam bentuk sikap yang superior terhadap orang lain yang dianggapnya lebih rendah dan inferior kepada orang yang lebih tinggi. Persoalan dosa yang menghasilkan hati yang serakah sehingga yang berpunya semakin kaya dan yang miskin semakin terpuruk dalam kemiskinan. Problem itu ada dalam hati manusia dan problem itu tidak bisa diselesaikan oleh apa yang dilakukan oleh manusia saat ini. Dunia ini memerlukan Yesus Kristus. Inilah saatnya kita memberitahukan kepada dunia ini walaupun engkau dan saya mengalami tantangan dan kesulitan yang sama, sebagai orang Kristen dan sebagai gereja Tuhan mari kita berada di garis terdepan seperti Guru Agung kita untuk memberitakan Injil Kerajaan Surga serta mengobati luka yang terkoyak, menyembuhkan kesusahan dan kesulitan yang ditimbulkan oleh keserakahan gap antara yang kaya dan miskin, persoalan warna kulit dan penghinaan kepada orang-orang lain. Mari kita berada di garis depan melakukan pelayanan kepada mereka yang menjadi korban mengalami sex-trafficking, berjuang melindungi anak-anak yang diperjual-belikan oleh karena keluarga mereka terlalu miskin. Itulah yang Yesus lakukan ketika Ia datang ke dalam dunia ini. Matius 9 memberikan kepada kita konklusi yang indah luar biasa terhadap apa yang Yesus Kristus lakukan dan kenapa Ia datang. Kalau sampai Anak Allah sendiri turun dari surga dan datang ke dalam dunia, maka kita tahu persoalan dan pergumulan manusia hanya bisa diselesaikan olehNya. Sebagaimana Yohanes Pembaptis berkata tentang Dia, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Hanya Yesuslah satu-satunya jawaban bagi dunia ini.

“Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Matius 9:35-36). Penyakit secara fisik, affliction secara spiritual, tidak henti-henti dan habis-habisnya dialami oleh umat manusia sepanjang jaman sampai hari ini. Yesus melihat mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala, dalam konotasi mereka adalah korban dari dosa dan kejahatan yang bercokol di balik topeng keagamaan pada waktu itu. Terjemahan NIV mengatakan “this people were harassed and helpless.” Mereka diperlakukan dengan tidak benar; mereka diperlakukan sebagai sapi perah, harassed and helpless. Kata ini menyatakan apa yang mereka terima, pengajaran yang mereka dapat bukan melegakan kehidupan rohani mereka; bukan membuat mereka makin dekat kepada Tuhan tetapi justru makin membuat mereka jauh dan berat hidupnya. There is no joy in the religion. Sehingga selain Yesus pergi berkeliling memberitakan Injil Kerajaan Allah, Ia melakukan restorasi healing process itu, bukan saja menyembuhkan sakit-penyakit secara fisik namun juga penderitaan spiritual manusia.

“Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa,” Yesus pergi, Yesus berjalan dari satu tempat ke tempat lain, Yesus memberikan contoh Ia pergi berkeliling melakukan misi. Teologi Misi itu sangat berkaitan erat dengan pemahaman kita akan doktrin Keselamatan dalam Kristus. Kenapa kita pergi; kenapa kita keluar dan memproklamirkan Yesus adalah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat, karena kita percaya tidak ada nama lain di atas muka bumi ini yang olehnya manusia diselamatkan, selain daripada nama Yesus Kristus. Hanya melalui Dialah jalan pendamaian bagi dosa-dosa kita. Dan doktrin Keselamatan itu harus berdasar kepada pemahaman akan doktrin Kristologi yang benar. Kenapa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan? Sebab Yesus Kristus itu adalah pribadi Anak Allah. Kalau Ia sampai datang inkarnasi memberitahukan kepada kita tidak ada cara lain dari apa yang manusia bisa lakukan di atas muka bumi ini yang bisa berkenan kepada Allah. Jikalau kita katakan bahwa ada kemungkinan kepada orang yang berbuat baik Allah memberikan keselamatan lalu kelak di dalam langit dan bumi baru mereka akan menjadi masyarakat dalam kerajaan Allah, seperti yang diajarkan orang tertentu, bagi saya konsep keselamatan seperti itu menjadi konsep keselamatan yang men-diminish keharusan Yesus datang sebagai Juruselamat. Bukan itu saja, di situ berarti kita tidak melihat dengan kerangka yang jelas kenapa hanya melalui Yesus keselamatan itu datang kepada manusia. Yesus bukan nabi, Yesus bukan guru, Ia bukan manusia saja. Itulah sebabnya bukan Musa atau Abraham yang menjadi juruselamat kita. Yesus adalah Allah 100%. Ia berhak untuk mewakili Allah, dan hanya Dialah yang sanggup bisa menyelesaikan segala hutang dosa kita yang bersalah kepada Allah. Ia memiliki standar kesucian kemuliaan Allah yang tidak mungkin bisa diganti dengan perbuatan baik apa pun dari kita yang berdosa ini. Tetapi Ia harus menjadi manusia 100% sebab Dialah yang menjadi pengantara dan pengganti bagi engkau dan saya. Melalui kematianNya Ia membayar hutang dosa kita kepada Allah. Itulah sebabnya teologi Misi kita didasarkan kepada hal ini.

Yesus Kristus telah naik ke surga, dan sebentar lagi Ia akan datang kembali. Ia akan datang dengan kuasaNya dan dengan kehadiranNya yang agung dan mulia, dan kedatanganNya akan sangat berbeda dengan kedatanganNya yang pertama. Namun misiNya tetap tinggal di atas muka bumi ini. Kesadaran bahwa hanya Yesus Kristus pengharapan yang hidup bagi persoalan dunia ini, karena Ia adalah Anak Domba Allah yang menyelamatkan kita dari dosa, berita itu penting dan perlu terus dikumandangkan karena itulah berita yang dibutuhkan oleh dunia ini. Itulah panggilan bagi orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus, yang telah mengerti anugerahNya, yang hidup mencontohi sifat dan karakter Yesus Kristus. Itulah artinya menjadi murid Kristus.

Matius menyusun penulisan Injilnya dengan pengaturan yang indah luar biasa. Pasal 1-4 dia memberikan introduksi akan siapa Yesus, kelahiranNya, persiapan pelayananNya melalui baptisan dan pencobaan yang Ia alami. Lalu pasal 5-7 Matius menyusun mengenai apa yang Yesus ajarkan. Pasal 8-9 bicara mengenai siapa Dia, apa yang Ia kerjakan menyatakan kuasaNya atas sakit-penyakit, atas alam dan roh-roh jahat. Dialah Tuhan atas tiga persoalan dan kesulitan yang tidak henti-hentinya datang kepada hidup manusia. Dan pasal 10 mulailah Yesus mempersiapkan murid-murid melakukan misi menyampaikan kabar baik Injil Kerajaan Allah ke segala tempat. “Yesus memanggil ke dua belas muridNya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan” (Matius 10:1). Yesus panggil murid-muridNya hidup bersama dengan Dia supaya mereka melihat apa yang Yesus kerjakan, mereka bergaul bersama Yesus, di situlah firman Allah itu tinggal berdiam bersama mereka. Itulah cara Yesus membentuk muridNya. Itulah konsep mentoring. Benyamin Franklin pernah berkata, “Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn.” Yesus bersama dengan murid-muridNya. Sehingga ketika Yesus naik ke surga, rupa dan karya Kristus tinggal di dalam hidup para muridNya. Maka sebelum murid-murid itu menjalankan visi dan misinya, mereka melihat apa yang ada di dalam diri Yesus Kristus.

Di sini ada dua hal penting muncul Yesus mengajarkan apa artinya pelayanan misi dan motif dari pelayanan misi Yesus, “Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan,” memakai satu kata yang luar biasa dalam “splagchnizomai.” Itu adalah kata yang menggambarkan perasaan yang begitu galau seperti isi perut tertumpah keluar, dalam terjemahan bahasa Inggris memakai kata Compassion, lebih daripada perasaan simpati. Compassion, itulah motif daripada misi orang Kristen. Karena kita sudah ditebus dengan harga yang mahal, kita dapatkan keselamatan itu dengan gratis, kita tahu Yesus adalah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat kita. Tidak ada lagi yang boleh menghalangi kita; tidak ada lagi perhitungan untung rugi di situ; tidak ada lagi hal kita rasa bahwa kita melakukan sesuatu lebih besar di situ bagi Tuhan.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Misi Yesus Kristus turun dari surga ke dalam dunia ini, naik ke atas kayu salib mati bagi engkau dan saya, semua itu digerakkan oleh hati yang compassion. Karena Allah kita adalah kasih, Yesus Kristus adalah kasih, membuat misi orang Kristen bukan saja menjangkau orang-orang yang baik kepada orang Kristen, kepada negara-negara yang terbuka menyambutnya. Kekristenan juga menjalankan misi membawa Injil Yesus Kristus bahkan kepada musuh-musuh yang menolak dan melawan Kekristenan. Bagi orang yang berkepercayaan lain, jikalau itu musuhnya maka dia berhak untuk membunuhnya. Yesus meminta kita melayani orang-orang seperti itu. Siapakah yang akan pergi dan melakukan misi Yesus Kristus kepada kasta yang paling hina dan paling rendah?

Ketika hukum karma dan sistem kasta yang berkata kalau engkau lahir dari kasta yang terendah dan bukan lahir dari kasta yang tertinggi, itu adalah nasib dan status yang tidak bisa engkau tolak. Siapakah yang akan pergi memberitakan kasih Yesus kepada mereka? Itulah misi dari Yesus Kristus. Mari kita menjadi orang Kristen, menjadi anak-anak Tuhan kita melakukan misi seperti ini. Dan sekalipun misi yang penuh dengan compassion dari anak-anak Tuhan adalah misi yang tidak dihargai oleh orang, sekalipun orang mungkin cepat melupakan, bahkan menerimanya take it for granted begitu saja tetapi itu tidak akan pernah memudarkan hati setiap kita. Jangan kita jangan putus asa, jangan kita lose heart, jangan menjadi kecewa dan mundur dalam menghadapi situasi seperti ini. Walaupun kita tahu ada begitu banyak organisasi-organisasi Kristen mengalami kesulitan finansial yang luar biasa berat saat ini, aktifitas kita di dalam pekerjaan dan pelayanan bagi Tuhan mungkin terhambat, kita tidak bisa menjumpai orang face-to-face memberitakan Injil kepada orang tetapi biar hati kita selalu ingat dan tahu dunia ini perlu satu pengharapan dan jawaban yang sanggup bisa menyelesaikannya yaitu Tuhan kita Yesus Kristus.

Inilah waktunya bagi gereja-gereja Tuhan, bagi badan-badan misi dan bagi siapa saja yang melayani dunia ini, mari kita menjadi orang Kristen yang demikian. Semakin besar tantangan dan kesulitan yang dialami oleh dunia ini, semakin compassion hati kita. Semakin mengalami harassment dan helpless orang-orang di tengah dunia ini, semakin compassion hati setiap kita. Itu lahir dari anak-anak Tuhan yang sudah diubah oleh Tuhan.

Sangat menyedihkan sekali jikalau kemudian ketidak-adilan, persoalan rasial dan kemudian abusive power yang ada di Amerika akhirnya terjadi riot dan penjarahan yang kemudian berujung kepada pembakaran kepada gereja dan vandalisme kepada patung-patung serta statue dari sejarah, dan sekarang menjalar kepada vandalisme terhadap patung-patung Yesus dan patung-patung yang lain di gereja. Sekalipun iman kita tidak akan terpengaruh oleh karena pengrusakan seperti ini, tetapi patut menjadi concern kita kenapa kemarahan massa terhadap persoalan ras itu kemudian berujung kepada persekusi terhadap Kekristenan? Di negara-negara lain kita juga menyaksikan ada orang-orang Kristen yang mengalami persekusi yang sangat dahsyat; persekusi penganiayaan yang dilakukan oleh karena atas dasar kepercayaan yang lain, atas dasar kebencian yang ada dalam keagamaan. Namun pada hari ini, di tengah tantangan, kesulitan yang kita alami, ini menjadi waktunya Tuhan untuk kita menyatakan misi Tuhan yang indah. Ada banyak orang yang harus kita jangkau di tengah-tengah keluarga kita, atau orang-orang yang kita kenal, yang hari ini mereka desperate, mereka di-harassed, mereka yang helpless. Walaupun kita juga mengalami kesusahan dan kesulitan yang sama, kita bersiap diri dan berkata kepada Yesus Kristus: Tuhan, aku mau enrol di dalam sekolah pemuridanMu. Jadikan aku muridMu yang sungguh sehingga dunia tahu Kristus itu terus hidup dan nyata di dalam dunia ini.

Yang ke dua, Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Matius 9:37-38). Di ayat ini kita lihat sarana Allah memulai misi ini ada dua: yang pertama Kristus berdoa; yang ke dua, minta orang. Prayer and People. Bukan organisasi, bukan uang, tetapi dua hal ini. Tuhan bisa saja memakai malaikat untuk membuat orang percaya, bahkan Yesus sendiri juga bisa melakukan dengan seketika dengan cara yang ajaib, tetapi Ia minta kita berdoa dan Ia memakai orang, Ia memakai engkau dan saya bagi kerajaanNya.

Di tengah pandemi seperti ini banyak aktifitas gereja berhenti. Sebagai retrospeksi, mungkin selama ini kita terlalu banyak aktifitas dan mungkin di tengah situasi seperti ini aktifitas satu-satunya yang Tuhan mau kita kerjakan dan lakukan adalah kita berdoa. Yesus minta kepada kita: berdoalah kepada Bapa yang empunya tuaian supaya Ia mengirim penuai di atas muka bumi ini. Ini adalah panggilan Tuhan kepada seluruh gerejaNya, kepada engkau dan saya. Mari kita berdoa supaya Bapa memanggil dan mengirim penuai bagi kerajaanNya. Waktu kita berdoa seperti ini, jangan berpikir bahwa engkau sedang berdoa menunggu Tuhan memunculkan orang lain, bahwa panggilan itu ditujukan kepada pribadi-pribadi tertentu. Tidak. Selalu bersiap hati dipanggil oleh Tuhan sebagai penuai, bukan dalam arti kata engkau menjadi misionaris, engkau menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Kalaupun panggilanNya secara spesifik dan khusus datang kepadamu, Ia mau engkau menjadi pekerjaNya dimana saja, sambut panggilan Tuhan itu dengan indah dan berkata: Tuhan, aku terima panggilanMu. Tetapi yang terutama dan terpenting adalah berdoa supaya setiap kita bersedia menjadi murid-murid Yesus Kristus yang siap dipakai menjadi penuai. Mari kita merenungkan dengan serius panggilan ini.

Di tengah kita merasa tidak kuat dan tidak berdaya, di tengah kesusahan dan kekuatiran yang kita alami, di saat kita juga menyaksikan ketidak-pastian, kekuatiran yang menghantui begitu banyak orang dan situasi yang ada di sekitar kita, mari kita tidak hanya ingin memikirkan dan menyelamatkan diri sendiri. Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati setiap kita, memberikan kita hati yang penuh dengan belas kasihan. Menjadikan kita murid-murid Kristus yang taat dan percaya bahwa Tuhan memberikan kekuatan kepada setiap kita supaya kita boleh menjadi pelaku firman Tuhan dan menjadi murid yang memberitakan Injil Yesus Kristus melalui apa yang dapat kita kerjakan dalam hidup kita. Karena hanya melalui Injil Yesus Kristus dunia ini dapat disembuhkan, dipulihkan dan direstorasi; itulah yang kita percaya dan itulah yang kita doakan pada hari ini.(kz)