Salah Mengerti tentang Mujizat

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Salah Mengerti tentang Mujizat
Nats: Matius 9:27-34

Apakah saya percaya akan mujizat? Sudah tentu saya percaya akan mujizat. Terlebih lagi di saat-saat seperti ini di tengah kesusahan dan penderitaan akibat bencana virus yang terus berkepanjangan, sebagai anak-anak Tuhan kita berdoa dan berseru kepadaNya, kita minta kepada Tuhan berkarya dan menyatakan mujizatNya di tengah ketidak-berdayaan yang sedang kita alami saat ini. Dan kita percaya, Tuhan sanggup bekerja dan mujizatNya itu bisa terjadi adanya. Namun yang kita akan bicarakan hari ini bukan soal apakah kita percaya akan mujizat, tetapi apakah kita mengerti mujizat dengan benar. Jikalau pengertian kita tentang mujizat itu tidak dipahami dengan komprehensif dan tidak sesuai dengan apa yang disaksikan oleh Alkitab, justru akhirnya bukan menyatakan Allah itu besar dan sanggup melakukan mujizat tetapi akan menjadikan Allah itu sebagai olok-olok dan tertawaan bagi orang yang tidak percaya. Yang ke dua, jikalau kita mempunyai pemahaman yang keliru tentang mujizat, akhirnya dipakai oleh sebagian orang Kristen sebagai “pengetesan” kepada Tuhan, semacam perjudian iman. ‘Tuhan, nyatakan mujizatMu memberi kesembuhan bagi sakitku; Nyatakan mujizatMu melepaskan aku dari kesulitan finansial yang sedang aku hadapi, baru aku percaya sungguh kepadaMu.’ Kita sedih dan prihatin melihat banyak orang Kristen yang baru atau yang lemah iman akhirnya tersandung, tidak sedikit akhirnya menjadi sinis dan meninggalkan imannya sebab mereka telah menjadikan mujizat sebagai pengetesan kepada Tuhan. Ketika itu tidak terjadi, mereka menjadi kecewa, mereka tidak mau lagi datang ke gereja, tidak mau lagi berdoa, karena mereka merasa tidak ada gunanya ikut Tuhan, toh Tuhan tidak memberikan apa yang mereka minta. Yang ke tiga, yang seringkali terjadi pada waktu orang Kristen mau membahas bagaimana memahami mujizat dengan benar, akhirnya kita jatuh lagi kepada persoalan dan perdebatan yang tidak konstruktif. Kita menjadi orang Kristen yang berpikir secara picik dan naif, saling menyalahkan dan saling menyerang akan denominasi gereja satu sama lain. Maka panggilan dan kerinduan saya hari ini mari kita kembali kepada Alkitab dan memahami konsep mujizat itu dari firman Tuhan sehingga kita menjadi orang-orang Kristen yang dewasa, mengenal dan mengasihi Allah yang agung dan mulia itu dengan benar, dan pemahaman kita mengenai karya dan mujizat Allah dalam hidup kita membuat orang semakin ingin mengenal dan percaya kepada Tuhan yang kita sembah.
Matius menulis Injil dengan satu pengaturan yang sangat sistematis dan memiliki tujuan yang begitu penting menolong kita mengenal siapa Tuhan kita Yesus Kristus dengan penulisan yang sangat indah dan baik. Pasal 1-4 adalah introduksi dari Matius akan siapa Yesus, mulai dari kelahiranNya sampai kepada awal pelayananNya. Sesudah itu pasal 5-7 Matius menyusun pengajaran dan khotbah Yesus menjadi kumpulan khotbah di bukit. Matius mengakhiri bagian ini dengan respon dari orang-orang banyak, “Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Matius 7:28-29). Orang terkagum-kagum, orang bertanya-tanya, siapakah Dia karena Dia mengajar penuh dengan kuasa, pengajaranNya melebihi ahli-ahli Taurat yang selama ini mereka dengar.

Sampai kemudian pasal 8-9 Matius mencatat bagian ini sangat unik, ada tiga kategori mujizat untuk menunjukkan Yesus berkuasa atas tiga wilayah ini: Ia berkuasa atas alam semesta, Ia berkuasa atas setan-setan, Ia berkuasa atas sakit dan kematian. Topan dan badai yang dahsyat itu langsung berhenti dan mereda ketika Yesus berseru, “Diam, tenanglah!” Murid-murid bertanya-tanya, “Siapakah gerangan orang ini sehingga angin dan danau pun taat kepadaNya?” (Matius 8:27). Kepada orang yang kerasukan setan, Yesus menyatakan kuasaNya atas mereka dan setan-setan itu sendiri justru yang menyatakan satu pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah dan mereka takluk kepada perintahNya (Matius 8:28-32). Yesus menyembuhkan berbagai sakit dan penderitaan, Yesus membangkitkan seorang anak kepala rumah ibadat dari kematian (Matius 9:18-26). Itulah tiga wilayah dari mujizat Tuhan Yesus. Dan kita perhatikan, tidak semua mujizat yang Yesus lakukan itu dicatat tetapi Matius memilih beberapa mujizat kesembuhan kepada orang yang sakit ini mewakili seluruh segment dan strata sosial waktu itu yang ditaruh oleh Matius untuk menyatakan tidak ada satu orang pun di antara kita yang tidak mengalami kesusahan, kesulitan yang sama, dan di tengah-tengah hal yang seperti itu kita butuh Tuhan intervensi dan campur tangan di tengah ketidak-berdayaan kita. Ada hati yang pilu dari keluarga-keluarga yang kehilangan orang yang mereka kasihi; ada sakit yang berat dialami oleh orang-orang yang kita kenal; ada banyak yang ditimpa kesusahan ekonomi, dari latar belakang keluarga yang sudah miskin dan di tengah pandemi seperti ini mungkin mendapat makan dari hari ke sehari merupakan pergumulan yang tidak gampang harus dilalui. Kita sedih, kita menangis dan kita ikut berdoa bagi orang-orang seperti ini dan kita mengharapkan intervensi campur tangan Tuhan melakukan mujizat terjadi kepada hidup mereka yang seperti itu.

Dari bagian ini saya mengajak kita melihat lima point yang penting bagaimana memahami dengan benar apa itu mujizat, apa prinsip, tujuan dan maksud mujizat yang Tuhan Yesus lakukan. Yang pertama, mujizat itu mempunyai tujuan mengarahkan dan menunjuk siapakah Yesus itu. Seperti yang dikatakan oleh Yohanes, “Memang masih banyak tanda lain lagi yang diperbuat oleh Yesus di depan mata murid-muridNya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya” (Yohanes 20:30-31). Jadi mujizat mempunyai satu tujuan untuk mengarahkan orang untuk percaya kepada Yesus, Mesias, Anak Allah yang berkuasa itu dan memimpin orang itu untuk mengalami keselamatan dengan beriman kepadaNya. Maka sampai di bagian ini Matius 9:27-30, sebelum Yesus melakukan kesembuhan karena melihat iman dari kedua orang buta yang datang kepadaNya, Yesus bertanya kepada mereka: “Percayakah kamu bahwa Aku dapat menyembuhkan engkau?” Ini menjadi pertanyaan yang penting. Sehingga hal yang pertama kita memahami mujizat: Mujizat bukan menjadi tujuan akhir, mujizat jangan dipandang sekedar sebagai satu tindakan Allah yang segera ingin mengangkat kekurangan, kesulitan, penderitaan dan sakit kita. Mujizat itu harus memimpin kita kepada Siapa yang melakukannya, itu yang menjadi penting. Apa gunanya orang itu mendapatkan mujizat, tetapi pengalaman mujizat itu tidak menghasilkan pengenalan yang benar mengenai siapa Yesus?

Yang ke dua, mujizat harus memimpin orang kepada iman yang menyelamatkan. Kita perhatikan Matius 8-9 mencatat kekaguman orang banyak memuji Yesus karena mujizat-mujizat yang dilakukanNya, namun belum tentu menghasilkan iman yang menyelamatkan. Karena melihat mujizat, pakai bahasa sekarang: orang-orang banyak menjadi followers Yesus, “likes”-nya banyak. Tetapi pada saat yang sama dengan mudah dan segera mereka juga menjadi “un-followers” Yesus. Mujizat menyebabkan orang-orang nge-fans sama Yesus, ikut sama-sama, tetapi mereka tidak pernah menjadi murid-murid Yesus Kristus yang sungguh dan sejati. Yang sangat ironis kota Kapernaum, tempat atau pusat pelayanan dimana Yesus melakukan banyak sekali mujizat di situ, sekalipun mereka menyaksikan berbagai macam mujizat tetapi mereka tidak pernah percaya dan menyembah Dia. Dalam Lukas 10:13-15 Yesus mengecam mereka yang telah menyaksikan dan menikmati kuasa dan mujizat Yesus dengan berlimpah tetapi hati mereka tetap menolak dan tidak percaya. Mereka telah menyia-nyiakan anugerah dan kesempatan yang ada untuk menyambut dan menerima Anak Allah itu dan menolak Yesus Tuhan dan Juruselamat bagi hidup mereka. Kelak penghukuman Allah kepada kota Kapernaum ini akan lebih berat daripada penghukuman kepada kota Sodom dan Gomora.

Yang ke tiga, Alkitab memperlihatkan sekalipun seseorang itu secara personal mengalami mujizat, belum tentu orang itu mengalami iman yang menyelamatkan. Bahkan ini pun bisa terjadi kepada orang yang terlibat langsung melakukan mujizat di dalam pelayanannya, sekalipun dia juga diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengusir setan dengan memakai nama Tuhan Yesus, sekalipun dia melakukan doa penyembuhan dengan memakai nama Tuhan Yesus, seperti Yudas Iskariot, salah satu murid Yesus yang diutus di Matius 10, tidak otomatis menjadikan orang itu memiliki iman yang menyelamatkan. Injil mencatat ada sepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus, namun hanya satu orang saja yang kembali, memuliakan Yesus dan menyembah Dia. Orang itu bukan saja menerima dan mengalami mujizat lalu pergi dengan senang, orang itu kembali karena dia tahu siapa yang melakukan mujizat itu yang menjadi objek iman dia. Yesus bertanya: Bukankah sepuluh orang yang Aku telah sembuhkan? Kenapa hanya satu orang yang kembali? Ke manakah yang sembilan orang lain? (Lukas 17:17). Mereka mengalami secara personal mujizat Allah terjadi atas hidup mereka namun mereka tidak kembali kepada sang Pemberi mujizat itu. Kenapa Tuhan melakukan mujizat seperti ini sekalipun kepada orang yang tidak bersyukur dan menyembah Dia? Karena Ia adalah Tuhan yang penuh dengan kasih dan rahmat. Ialah yang mengatur, Ialah sang pemilik, Ia menjadi Tuan atas alam semesta ini. Bukankah Yesus pernah berkata, “Bapamu yang di surga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:45). Bapa menyatakan berkatNya kepada semua orang karena Ia adalah Allah yang penuh dengan kasih dan rahmat adanya.

Yang ke empat, iman yang menyelamatkan bisa terjadi mendahului mujizat walaupun mujizat itu belum terjadi dan orang itu belum melihat mujizat itu. Dua orang buta ini berseru: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Jelas orang buta ini tidak bisa melihat, dia hanya bersandar kepada apa yang dia dengar dari kata orang lain mengenai Yesus. Tetapi sekalipun orang buta ini mengalami buta secara fisik, dia melihat secara rohani siapa Yesus itu. Sehingga kita menyaksikan iman yang menyelamatkan itu bisa mendahului orang itu menyaksikan terjadinya mujizat di dalam hidupnya. Bagaimana kita tahu orang buta itu mempunyai iman yang menyelamatkan? Karena dia menyebut Yesus dengan sebutan: Yesus, Anak Daud. Dalam konteks waktu itu jelas sekali sebutan Anak Daud merujuk kepada pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Tuhan, Juruselamat yang duduk di sebelah tahta Allah yang maha tinggi itu. Pada waktu Yesus bersoal-jawab dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang dicatat dalam Matius 22:41-46, Yesus tanyakan pertanyaan ini kepada mereka: “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia? Kata mereka kepadanya: Anak Daud. Katanya kepada mereka: Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya? Jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” Jadi penyebutan “Anak Daud” bukan sekedar menunjukkan Yesus adalah keturunan Daud. Kata Anak Daud adalah satu istilah teologis yang penting mempunyai pengertian Ia adalah Mesias, Tuan dari Daud, yang duduk di sebelah kanan tahta Allah yang maha tinggi. Orang buta ini mendengar akan Yesus, dan dia berseru: Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku. Ia mengenal yang melakukan semua mujizat ini adalah Anak Daud, maka dia memohon belas kasihanNya. Itulah saving faith.

Tetapi pada saat yang sama kita menemukan satu respon yang ironis luar biasa dari orang-orang Farisi yang setelah melihat semua mujizat itu lalu mengejek dan ambil kesimpulan: Yesus melakukan mujizat mengusir setan dengan kuasa setan (Matius 9:34). Secara fisik mata orang-orang dari pihak agama ini tidak buta tetapi mata rohani mereka betapa buta adanya. Ada orang yang mata fisiknya buta tetapi melek secara rohani dan bisa mengenal Yesus adalah Tuhan; ada orang-orang yang beragama, ahli Taurat dan orang Farisi yang melek secara fisik tetapi tidak sanggup dan tidak bisa melihat secara rohani dalam kebutaan untuk melihat Yesus adalah Mesias yang dijanjikan itu, Anak Allah itu.
Yang ke lima, mujizat dilakukan bukan untuk tontonan. Di bagian ini ada dua kali Yesus dengan tegas melarang orang yang menerima, mengalami dan yang menyaksikan mujizat Yesus untuk memberitahukan orang lain (Matius 8:4, 9:30). Jelas peristiwa mujizat itu tidak dilakukan Yesus secara diam-diam di tempat tertutup, ada orang-orang lain yang juga melihat peristiwa mujizat itu dan tentu dengan demikian Yesus tidak mungkin bisa menutup mulutnya untuk menceritakan apa yang dia alami kepada orang-orang lain. Dan engkau juga tidak bisa menghalangi pada waktu orang yang tadinya buta sekarang melek dan bisa berjalan bebas, orang pasti akan bertanya, bukan? Kenapa Yesus melarang? Karena Yesus menolak melakukan mujizat sebagai show off; Yesus tidak pernah menjadikan mujizat sebagai performance. Yesus tidak mau menjadikan mujizat sebagai sesuatu untuk dipertontonkan di depan publik. Itulah sebabnya Yesus melarang orang itu menyebarkan berita mengenai kesembuhannya seolah-olah Yesus adalah “miracle worker” belaka. Ada dua kali Yesus diminta untuk melakukan mujizat sebagai show off. Pertama, pada waktu Iblis mencobai Dia untuk mengubah batu menjadi roti dan untuk naik ke atas bubungan Bait Allah dan melompat ke bawah. Iblis bilang: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diriMu ke bawah, sebab ada tertulis mengenai Engkau, Allah akan memerintahkan malaikat-malaikatNya dan mereka akan menatang Engkau supaya kakiMu jangan terantuk kepada batu” (Matius 4:3-6). Yang ke dua, di atas kayu salib Yesus menolak pada waktu para pemimpin agama berseru dan berteriak, “Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu maka kami akan percaya!” (Matius 27:39-43). Yesus menolak melakukan mujizat hanya untuk memuaskan keinginan mereka.
Iman yang benar adalah iman yang mengenal siapa Yesus. Ada banyak orang mengalami mujizat namun belum tentu secara personal dia mengalami perjumpaan dengan Anak Allah itu. Ada orang yang sudah berkali-kali mengalami mujizat dipampangkan di hadapannya tetap orang itu tidak sampai kepada pengenalan akan Tuhan kita Yesus Kristus. Yesus melakukan mujizat tetapi Yesus tidak menginginkan Ia dikenal hanyalah sebagai orang yang menjadi miracle worker saja. Lebih daripada itu, mujizat bukan untuk membuat Dia menjadi tontonan. Identitas Dia sebagai Allah yang mengontrol, mengatur dan berkuasa atas alam semesta itulah yang paling penting kita mengenal siapa Dia.

Hari-hari ini kita menyaksikan orang-orang yang kita kasihi yang didiagnosa oleh kedokteran sudah tidak mungkin lagi disembuhkan, di tengah-tengah segala kalkulasi dan pertimbangan dari perencanaan manusia sudah tidak ada kemungkinan lagi, kita berdoa bagi kesembuhan, kita berdoa kiranya Tuhan mendatangkan mujizatNya, tidak ada hal yang mustahil ketika Tuhan bekerja dan menyatakan kekuatan dan kuasaNya. Saya juga menyaksikan dan mengalami bagaimana Allah bekerja dengan mujizat yang ajaib juga terjadi di tengah keluarga kami. Di situ kita mengucap syukur, kita mengakui dan menyatakan Tuhanlah sepenuhnya yang bekerja di dalamnya. Kita menceritakan mujizat Allah terjadi bukan untuk menyatakan iman kita lebih kuat daripada orang lain, doa kita lebih didengar Tuhan, dsb. Kita menyatakan itu hanya untuk menyatakan akan Allah yang menyatakan belas kasihannya kepada kita. Dan ada kalanya kita mengalami saat-saat sulit dalam hidup kita, sekalipun kita menaikkan doa-doa kita mengharapkan mujizat Allah namun itu tidak terjadi, kiranya semua itu tidak mendatangkan kekecewaan dan kesedihan dalam hati kita. Allah bisa bekerja dengan bermacam cara, Ia bisa melakukan mujizat dengan segera; Ia juga bisa tidak mengerjakan itu dalam hidup kita. Tetapi pada waktu kita memahami dengan benar, kita mengerti Allah bekerja melakukan segala sesuatu yang ajaib terjadi mempunyai tujuan yang paling penting membuat kita lebih dalam mengenal dan menyembah siapa Dia dan bukan berharap hanya kepada kelepasan yang cepat dan sementara dari kesulitan kita. Jikalau mujizat yang kita minta itu tidak terjadi, jangan menjadikan kita ragu dan sangsi akan kebaikan Allah dan percaya bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan hal yang indah dan baik di dalam waktu dan rencanaNya yang luar biasa.

Sedih dan prihatin kita, jikalau di tengah orang-orang yang sedang mengalami berbagai kesulitan, sakit dan penderitaan, justru akhirnya menjadi kecewa dan marah kepada Tuhan karena ada kesalahan pengertian tentang mujizat dan tentang siapa Allah. Kita juga sedih dan prihatin, menyaksikan orang-orang Kristen dan bahkan hamba-hamba Tuhan menjadikan kasih karunia Allah menjadi murah pada waktu kita menceritakan mujizat Allah sebagai kelepasan secara segera atas kesulitan masalah finansial di dalam hidup kita tanpa membuat Allah itu agung dan mulia. ‘Percaya Yesus, engkau pasti akan disembuhkan! Percaya Yesus, engkau akan mengalami kelepasan dari kesulitan keuangan! Percaya Yesus, engkau akan mengalami kesuksesan, kejayaan, dan kekayaan mengejarmu!’ Maka orang-orang Kristen yang lemah ini mencari siapa pendeta yang doanya paling manjur dan mujarab, pendeta spesialis pendoa kesembuhan, miracle worker yang bisa berdoa bagi dia, berharap dengan doa-doanya mereka mengalami kelepasan dan kelegaan itu tanpa mengerti bahwa bukan doa pendeta lebih manjur dari doa-doa orang biasa! Jangan jatuh kepada hal-hal seperti itu. Setiap anak Tuhan yang berdoa dan berseru kepada Tuhan, seperti yang ditulis dalam kitab Wahyu, dikatakan “the prayers of the saints” doa-doa orang kudus menjadi wangi dupa yang harum di hadapan Allah (Wahyu 8:3-4). Artinya semua doa orang percaya adalah doa yang sampai ke hadapan Allah. Dan pada waktu orang itu sembuh, dia juga berdoa, keluarganya berdoa, ada orang-orang lain di gereja juga berdoa. Jadi tidak boleh menjadikan kesembuhan itu membuat saya spesialis pendoa kesembuhan. Hari ini saya memanggil setiap kita, mari kita menundukkan diri dan menyerahkan hidup kita pada waktu kita menanti karya Allah terjadi dalam hidup kita. Kiranya kita semakin mengerti bagaimana meletakkan karya mujizat Allah di dalam hidup kita masing-masing. Kita berdoa kepadaNya karena Ialah sang Pembuat mujizat itu dan kita memohon pengenalan kita akan Allah menjadi lebih dalam dan namaNya menjadi agung dan mulia dalam hidup kita.(kz)