Hidup di Masa Krisis: Salahkah Jika Aku Kuatir?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Hidup di Masa Krisis: Salahkah Jika Aku Kuatir?
Nats: Matius 6:25-34

Hidup di masa pandemi, hidup di masa krisis, salahkah jika aku kuatir? Ini menjadi tema perenungan kita pada hari ini. Dalam perikop Matius 6:25-34 Yesus perlu berulang kali berkata: ‘jangan kuatir, jangan kuatir’ karena Ia mengetahui kita seringkali diikat oleh perasaan kuatir sepanjang hidup kita. Mungkinkah kita bisa terlepas dari perasaan kuatir? Mungkinkah hidup kita bisa lepas dari perasaan cemas dan gelisah? Saya percaya firman Tuhan ini tidak meminta kita untuk menjadi orang yang masa bodoh, cuek dan tidak peduli akan hidupmu. Bahkan Tuhan meminta kita menjadi orang yang fokus, prihatin, attentive, penuh perhatian, menjadi orang yang concern, punya hati yang peka, penuh dengan simpati, memperhatikan apa yang diperlukan oleh orang lain. Kita bukan saja memenuhi kebutuhan diri dan kebutuhan keluarga, tetapi juga memperhatikan kebutuhan orang lain. Itulah panggilan Allah kepada orang Kristen. Namun seringkali akhirnya semua itu bercampur aduk sehingga kita mungkin merasa tidak sanggup lagi untuk bisa membedakan mana concern yang sehat dan mana kekuatiran yang tidak sehat itu, bukan?

Sejak virus corona muncul di Cina enam bulan yang lalu, sampai hari ini kita mengalami krisis hidup di tengah-tengah pandemi covid-19 ini. Krisis ini menimpa kepada semua orang; tidak lagi membedakan kaya atau miskin, tidak lagi membedakan negara maju atau negara terbelakang, tidak lagi membedakan yang memiliki medical system yang canggih atau yang terbelakang, tidak ada satu pun yang immune dari hal itu. Tidak lagi membedakan soal bangsa mana, orang mana yang lebih bersih dan lebih hygienic daripada yang lain; tidak lagi berbicara mengenai dia adalah pemimpin negara atau orang yang tinggal di tempat kumuh; tidak lagi bicara soal dia adalah boss yang besar ataukah sekedar karyawan biasa. Walaupun derajat efek daripada akibat virus ini mungkin berbeda-beda tetapi tidak ada satu orang pun yang tidak mengalami efek daripada krisis ini. Perubahan itu menimpa banyak hal dalam kehidupan orang, menimpa pekerjaan, menimpa semua aspek dalam hidup kita. Namun hari ini secara pribadi saya ingin mengajak kita bertanya kepada kerohanian kita masing-masing, kepada karakter kita, kepada attitude kita, kepada hati kita, apakah kita mengalami perubahan yang lebih positif ataukah kita mengalami perubahan lebih negatif? Apakah kita menjadi orang yang lebih sensitif kepada kesulitan diri, ataukah kita justru lebih peka melihat kesulitan orang lain juga? Apakah kita lebih mudah marah, lebih cepat panik, lebih paranoid; baru keluar rumah saja kita sudah takut dan gemetar. Di tengah jalan kita mendengarkan suara orang batuk, kita mungkin kaget. Ataukah hidup di dalam masa krisis ini sdr menjadi lebih kuat, lebih tabah, lebih sabar, lebih beriman, lebih bersandar kepada Tuhan? Apakah di masa krisis seperti ini kekuatiran sdr makin meluas dan makin besar, berangkat dari kita peduli, berangkat dari concern kita sedang mengalami sebuah krisis yang real, tetapi kemudian lambat laun di dalam kita menjalaninya dengan kekuatiran dan kecemasan mencekik hidup kita, menjadikan kita seorang yang penuh dengan paranoia terhadap apa yang ada di dalam hidup kita? Kita kuatir kita kena sakit, kita kuatir kita mungkin bisa juga menulari orang lain. Banyak hal kita tidak mempunyai intention dan maksud, tetapi apakah semua ini membuat kita penuh dengan ketakutan dan kekuatiran yang berkelebihan akan diri kita, sehingga kita tidak lagi percaya akan pemeliharaan Allah dan kita menjadi orang yang tidak melihat identitas kita dengan benar, di dalam Kristus kita telah ditebus, kita milik Tuhan selama-lamanya?

Saya tidak menyepelekan virus ini sangat menular dan sangat berbahaya, namun bukanlah juga ada begitu banyak virus-virus lain yang sangat menular dan sangat berbahaya di sekitar kita? Kita mungkin tidak terpapar virus corona, tetapi kita bisa tiba-tiba saja ditimpa dengan penyakit yang lain. Di dalam pekerjaan kita tidak ada satu orang pun sebenarnya yang bisa mengatakan kita aman dan safe. Kita juga tidak bisa berkata bahwa pekerjaan yang kita bangun dan lakukan ini pasti akan sukses dan lancar selamanya. Kita harus bersiap hati jika secara mendadak mengalami kebangkrutan. Seaman-amannya kita menyetir mobil, kita tidak bisa menjamin tidak ada orang mabuk mengendarai mobil menabrak kita. Kita juga bisa lalai dan menabrak orang. Banyak hal ke depan kita tidak tahu dan kita tidak bisa kontrol. Kesusahan dan kesulitan itu seperti mengintip di depan pintu hidup kita. Panggilan saya hari ini, selain kita melihat ada hal-hal real menjadi kesulitan dan problema yang harus kita cari penyelesaiannya dan yang kita bawa dalam dia karena kita percaya Tuhan akan menolong kita di sini, namun kita harus memisahkannya dari kekuatiran yang Alkitab katakan itu tidak produktif dan tidak ada gunanya, itu adalah hal yang tidak boleh ada dalam hati kita. “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27). Jikalau perintah Tuhan Yesus begitu jelas dan gamblang kepada kita: janganlah kamu kuatir, maka mari kita evaluasi dan meneliti apa penyebab perasaan takut dan kuatir dalam hati kita. Kita perlu bertanya apakah kuatir atau concern itu real sebagai hal yang kita peduli dan kita perlu memikirkan dan mencari solusi atau tidak.

Maka pertama-tama kita perlu bertanya: apakah kekuatiranku berangkat dari hati yang tidak yakin dan tidak percaya akan pemeliharaan Tuhan? Perhatikan khotbah Yesus di Bukit ini. Sebelum bicara mengenai hal kekuatiran, Yesus menyatakan apa yang menjadi harta yang paling penting: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:19-21). Yesus ingin kita menata hati kita baik-baik, mengerti dan mengetahui akan harta di surga yang luar biasa berharga itu yang menjadi lebih penting dan lebih utama daripada harta di dunia ini yang bisa hilang, rusak dan habis. Yesus membawa hati kita untuk punya respon sikap hati yang benar akan hidup kita sebagai orang percaya, sebagai anak-anak dari Bapa kita yang di surga. Maka bagian perikop Matius 6:25-34 Yesus bicara mengenai kekuatiran. Yesus buka dengan kalimat ini, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” (Matius 6:25). Apa yang engkau makan, minum dan pakai, ini bicara mengenai kebutuhan fisikmu sehari-hari. Bukan Allah tidak peduli engkau membutuhkan semua itu. Tetapi jangan jadikan concern terhadap apa yang engkau butuhkan menjadi kekuatiran yang mencurigai kebaikan Allah. Maka Yesus kemudian berkata, “Pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?” (Matius 6:26-30). Lihatlah alam semesta ini, jikalau semua Allah dandan dan atur, jikalau semua dipelihara dengan rapi oleh sang Pencipta, terlebih lagi Ia, Bapamu yang di surga memelihara engkau, hai orang yang kurang percaya?

Bagi saya ini teguran Yesus ini adalah evaluasi yang penting. Concern bisa berubah menjadi kuatir ketika saya tidak percaya kepada pemeliharaan Allah. Entah mana yang lebih dahulu: apakah karena saya kuatir maka akibatnya saya tidak percaya kepada pemeliharaan Allah; ataukah karena berangkat dari hati saya yang tidak percaya kepada pemeliharaan Allah menyebabkan saya menjadi terus-menerus kuatir akan hidup ini? Allah kita adalah satu pribadi, Ia bukan satu kuasa yang impersonal. Ia adalah satu pribadi yang kepadaNya kita bisa berbicara, yang bisa intervensi dan mencegah sesuatu karena Ia mempunyai hati, pikiran, perasaan dan kehendak. Yesus melakukan tanda-tanda ajaib dan mujizat menyembuhkan orang yang sakit dan dalam penderitaan, Ia melakukan segala sesuatu karena Ia adalah Allah yang berpribadi baik dan indah adanya. Itu sebab rasul Paulus berkata, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6). Bukan berarti segala persoalan itu tidak ada, bukannya kita tidak perlu apa-apa, tetapi kita dipanggil untuk berdoa kepada Allah, menyatakan segala keinginanmu kepadaNya. Kekuatiran kita muncul karena kita tidak yakin bahwa Allah yang baik itu memelihara kita.

Yang ke dua, “Jangan kuatir,” kata Tuhan Yesus, “Jangan kuatir atas apa pun dalam hidupmu,” bukan berarti firman Tuhan itu memperkecil persoalan hidup sdr, tetapi jangan menjadikan kekuatiranmu mengecilkan kebesaran Allah. Jangan kekuatiran itu bersarang dalam hati kita karena dia akan merongrong keyakinan kita dan memudarkan bahwa Allah itu besar dan agung, jauh melebihi kesulitan hidupmu. Ada kehilangan, ada kesedihan, ada air mata; bukan semua itu tidak ada. Tetapi hari ini saya mengajak sdr melihat ke belakang melihat perjalanan hidup sdr. Lihatlah bukan kepada hal-hal yang tidak baik yang terjadi, tetapi lihatlah setelah hal-hal yang tidak baik itu berapa besar tangan pemeliharaan Allah yang terjadi di situ. Jikalau sdr sudah melihat dan mengamininya sampai hari ini, bersyukurlah kepadaNya dan percayalah Ia tidak pernah berubah, dahulu sekarang dan selama-lamanya. Ia menjadi Allah yang memelihara hidupmu di hari-hari yang akan datang.

Dalam Filipi 4:8 Paulus berkata, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Paulus minta kita buang segala pikiran yang negatif yang berperang dan yang ingin memenuhi pikiran kita itu dengan hal-hal yang tidak benar. Jangan iri, jangan dengki dan jangan membandingkan kenapa krisis orang lebih sedikit daripada krisis saya. Yang sdr harus lihat adalah bagaimana memenuhi hatimu dengan segala kebaikan dan pemeliharaan Tuhan dalam hidup sdr. Luar biasa Paulus berkata demikian bukan karena hidupnya lancar, baik, hebat, terus-menerus tidak ada persoalan? Tidak. Paulus berkata, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan” (Filipi 4:11-12).

Sebagai anak-anak Tuhan, apakah engkau menemukan sekuritas dan keamanan hidupmu di dalam Tuhan, ataukah kekuatiranmu menyatakan bahwa sebenarnya engkau dipenuhi oleh perasaan insecure karena engkau menaruh identitas dirimu kepada hal-hal yang salah? Pada waktu Yesus berkata, “Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” (Matius 6:25) Yesus membawa kita untuk meletakkan perspektif yang tepat pada tempat yang tepat, mana yang penting dan mana yang lebih penting. Kita perlu mawas diri ketika hati kita dipenuhi dengan kekuatiran kepada apa yang saya makan minum dan pakai, kepada apa yang saya lakukan, apa jabatan saya, apa pekerjaan saya, bicara mengenai materi dan kesuksesan. Ketika kita melihat seseorang yang pekerjaannya bukan pekerjaan yang hebat, lalu kita menilai orang itu lebih rendah daripada orang yang memiliki pekerjaan yang lain. Pada waktu kita melihat baju seseorang kenakan, kita sudah menaruh identitas orang itu sebagai satu kelompok tertentu. Belum lagi kita bicara soal status sosial, kita bicara soal warna kulit, dsb. Seringkali semua aspek yang di luar itu mempengaruhi insekuritas kita mengenai siapa diri kita.

Kalau hari ini hatimu terus-menerus dipenuhi dengan seperti ini, ajukanlah pertanyaan yang penting: siapa aku? Pada waktu Yesus bicara kepada pendengarNya, Yesus menyebut “Bapamu yang di surga memelihara engkau.” Kalimat itu penting. Kita tahu relationship kita dengan Allah; kita panggil Dia Abba, kita panggil Dia Bapa, sebab kita memanggil Allah demikian di dalam Yesus Kristus. Kita sudah memiliki Yesus Kristus. Identitas kita berarti dan berharga. Aku milik Tuhan dan Ia ada di dalam aku. Aku adalah ciptaan baru di dalam Yesus Kristus. Kristus hidup di dalam aku, itulah identitas kita. Paulus mengingatkan kepada para penatua di Efesus, “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri” (Kisah Rasul 20:28). Kasihilah jemaat Tuhan sebab mereka telah ditebus dan dibayar dengan darah Kristus yang mahal, itulah identitas kita: karena aku milik Kristus.

Hari ini saya rindu berbicara dari hati ke hati kepada hamba-hamba Tuhan di mana saja berada, kepada para pemimpin dan mereka yang melayani Tuhan di tengah masa pandemi corona seperti ini, mungkin ada perasaan kuatir memenuhi hatimu. Setelah krisis mereda dan kita mulai membuka pintu gereja, apakah jemaat akan kembali seperti semula? Kemudian terjadi insekuritas bagaimana dengan kebutuhan gereja, kita takut dengan persembahan yang berkurang, kita takut jemaat hilang dan lari, sekalipun kita pakai youtube, pakai zoom dan live streaming, siapa yang mau mendengar khotbah kita? Mampukah kita mengalahkan satu gereja yang besar dengan kamera yang luar biasa canggih dengan sistem yang profesional, dengan pengkhotbah selebriti yang terkenal dan fasih berkata-kata? Karena kita takut jemaat kita lari dan pergi maka kita mencoba mencari pengkhotbah tamu yang hebat untuk live streaming gereja harus yang menarik dan yang ternama. Lalu kemudian kita menjadikan identitas pelayanan kita dengan jumlah angka sehingga akhirnya kita dipenuhi oleh rasa kuatir dan tidak secure di dalamnya.

Saya juga rindu berbicara dari hati ke hati kepada orang-orang Kristen di mana saja berada. Dengan kemajuan teknologi yang ada, gampang dan mudah kita mencari dan mengakses khotbah-khotbah yang baik dan bermutu bukan? Kita ingin mendengarkan khotbah dari pembicara yang lebih hebat, lebih ternama, dsb. Tetapi pada waktu engkau sakit dan berada dalam kesulitan, apakah pembicara itu kenal engkau dan berdoa bagimu? Hari ini saya rindu memanggil sdr, kasihilah hamba-hamba Tuhan dan gereja lokal dimana engkau berbakti. Kasihilah orang-orang yang melayani secara lokal di gereja sdr, yang selama ini in flesh berada di tengah-tengah kehidupan komunitas. Pada waktu engkau mengalami kesusahan dan kesulitan, gembalamu ada di sisimu dan mendoakanmu. Mungkin dalam masa seperti ini dia tidak bisa mendampingi tetapi dia adalah gembala yang Tuhan berikan bagimu.

Panggilan Tuhan juga ditujukan kepada hamba-hambaNya, jangan kuatir, jangan takut. Kita tidak perlu takut karena kesuksesan pelayanan itu tidak bisa dilihat dari berapa banyak orang yang mendengar khotbah youtube-mu, apakah itu membuktikan mereka adalah jemaat kita dan kita merasa bangga karenanya? Tidak. Inilah momen kita tidak lagi melihat angka, jumlah, dsb. Sekarang kita bicara kepada satu kamera di depan kita. Pada waktu kita tidak lagi menaruh identitas kita kepada hal-hal yang di alam maya seperti itu, hati kita akan menjadi teduh dan secure, kita mengerti siapa diri kita dan kita mengerti umat Allah itu miliknya Allah, yang sedang berada di dalam masa krisis dan pandemi, yang dalam keadaan seperti ini sangat membutuhkan kekuatan dari firman Tuhan mengingatkan mereka Tuhan menjaga dan memelihara. Hari-hari ini begitu banyak anak Tuhan merasa tidak secure dalam kesusahan kesulitan pekerjaan, merasa tidak secure dengan penghasilan dan tabungan yang ada semakin menipis, pekerjaan menjadi tidak menentu. Mari kita bawa hati kita kembali kepada perspektif yang benar. Apakah kita menaruh identitas kita kepada berapa besar perusahaan dan berapa banyak uang yang kita simpan di bank? Pada waktu itu semua tidak ada lagi, bisakah kita mengatakan kepada Tuhan, baik dalam keadaan baik dan lancar, baik dalam sehat atau sakit, berkelimpahan atau berkekurangan, aku secure di dalamnya karena aku tahu apa artinya hidup yang puas.

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” demikian kata Ayub, ketika semua yang ada padanya hilang dan lenyap (Ayub 1:21). Kesehatan kita cepat atau lambat akan hilang; kita tidak bisa cegah itu. Pekerjaan kita di atas bumi ini akan selesai; entah itu dalam enam bulan, enam tahun, atau lebih dari itu. Uang tabungan sebanyak apapun tidak bisa kita bawa setelah kita meninggal dunia. Mengapa kita dipenuhi oleh kekuatiran terhadap semua ini? Sekali lagi, saya bukan mengecilkan dan menyepelekan kesusahan dan persoalan yang ada. Namun yang harus kita pikirkan pada hari ini jangan biarkan semua itu membuat kita kuatir sehingga kita mengecilkan kebesaran Tuhan di dalam hidup kita. Kita mengkerdilkan identitas kita hanya kepada hal-hal yang di luar itu, yang sebentar ada lalu akan segera hilang dan lenyap. Baju kita, uang kita, kesehatan kita, suatu hari semua itu akan habis dan lenyap.

Biarlah pada hari ini kita mengambil waktu untuk mengevaluasi diri selama kita hidup dalam masa pandemi ini, perubahan apa yang terjadi dalam hidup kita? Kalau pada hari ini engkau dan saya dipenuhi oleh ketakutan dan kekuatiran, biarlah firman Allah mengangkat semua itu dan memberikan penghiburan dan kekuatan baru kepada setiap kita. Mari kita evaluasi diri baik-baik, mungkinkah kekuatiran ini muncul karena aku tidak percaya akan pemeliharaanNya? Jikalau jawabannya: ya, mari kita datang kepada Tuhan, mengaku dan minta pengampunanNya Yang ke dua, kalau hati kita penuh dengan rasa takut, kuatir, kecewa, marah, tidak tenang dan penuh dengan gejolak emosi yang negatif, mari kita tanya kepada diri kita: apa yang menjadi insekuritas hatimu pada hari ini? Kesuksesan, kebesaran, kejayaan, nama besar, kenikmatan? Itu bukan tempat kita bersandar dan itu bukan identitas diri kita. Identitas kita ada di dalam Kristus, kita berarti dan berharga. Kiranya Tuhan pimpin hati setiap kita.(kz)