God’s Forgiveness is Man’s Deepest Need

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: God’s Forgiveness is Man’s Deepest Need
Nats: Matius 9:1-8

Sudah lebih dari dua bulan kita mengalami pandemi covid-19, entah berapa lama lagi situasi dan kondisi seperti ini berlangsung. Pada waktu hal seperti ini terus berjalan dengan panjang dan lama, maka ada dua reaksi yang terjadi. Reaksi yang pertama yaitu orang sudah mulai putus asa, frustrasi, kecewa dan marah dan kita menyaksikan protes terjadi dimana-mana; orang ingin cepat-cepat keluar dari rumah. Reaksi yang ke dua orang merasa tidak berdaya di tengah kondisi yang tidak berubah dan ketidak-pastian. Di tengah ketidak-berdayaan ini kita berharap kalau bisa secepatnya pandemi ini cepat berlalu; di tengah ketidak-berdayaan ini kita berharap vaksin bisa ditemukan, itulah pengharapan kita. Namun pada hari ini ijinkan saya membawa kita melihat apa sesungguhnya yang menjadi kebutuhan kita yang lebih dalam di tengah hidup yang kita jalani ini. Saya percaya ini adalah momen dimana kita perlu memikirkan secara serius apakah dan kepada siapakah pengharapan kita yang hidup dan yang sejati itu. Kepada kita yang percaya, kita mengatakan Yesus Kristus adalah pengharapanku yang hidup adanya. Namun bagi orang yang lain, yang mungkin sudah pernah mendengarkan nama Yesus itu dari orang lain, saya rindu dan saya harapkan engkau memikirkan dan bertanya dengan lebih serius siapakah Yesus Kristus itu dan kenapa Ia menjadi pengharapan yang sejati yang kita butuhkan.

Injil Matius ditulis oleh Matius dengan sangat sistematis dan teliti untuk memperlihatkan siapa Yesus Kristus itu. Dari pasal 1 – 4 Matius mencatat silsilah Yesus, kelahiranNya, sampai awal pelayananNya. Bagian ini kemudian ditutup dengan satu kesimpulan, “Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepadaNya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan” (Matius 4:24-25). Lalu kemudian pasal 5 – 7 Injil Matius mencatat secara khusus mengenai keindahan daripada pengajaran Tuhan Yesus yang kita kenal dengan kumpulan “Khotbah di Bukit” dan di akhir dari bagian itu, Matius mengatakan, “Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Matius 7:28-29). Orang terkagum-kagum, orang bertanya-tanya, siapakah Dia karena Dia mengajar penuh dengan kuasa, pengajaranNya melebihi ahli-ahli Taurat mereka. Itu reaksi terhadap khotbah Yesus di bukit. Injil Matius kemudian mencatat bukan saja kepada pengajaran Yesus, maka beralihlah Matius di pasal 8 bicara mengenai apa yang Yesus kerjakan, yang pertama Yesus menyembuhkan orang sakit; yang ke dua, Yesus meneduhkan topan dan badai; yang ke tiga, Yesus mengusir Setan dan roh-roh jahat. Yesus mengontrol dan menguasai akan peristiwa di alam semesta, terhadap seluruh universe ini; Yesus juga berkuasa dan mengontrol roh-roh jahat dan kuasa kegelapan yang tidak akan pernah dan mungkin bekerja tanpa persetujuan dari kontrol Allah. Itu yang menjadi fakta dan kesaksian daripada Alkitab. Yesus juga yang berkuasa atas segala sakit-penyakit bahkan kematian yang melanda dan menimpa manusia. Dan menjadi kulminasi puncaknya di pasal 9 kepada reaksi orang mengenal siapa Yesus Kristus dari apa yang Ia lakukan dan kerjakan di bagian ini. “Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia” (Matius 9:8). Matius ingin memberitahukan kepada orang-orang yang membaca Injilnya, inilah Yesus Kristus yang mengajar dengan penuh kuasa. Pengajarannya, firmanNya, perkataanNya bukan saja berkuasa, tetapi apa yang Yesus katakan nyata secara harmonis dengan apa yang Yesus kerjakan dan lakukan di dalam hidupNya. PerbuatanNya, kelakuanNya, tindakanNya juga berkuasa dan berotoritas. Sehingga setelah Yesus meneduhkan badai dan topan, pertanyaan ini muncul, “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepadaNya?” (Matius 8:27). Namun sampai kepada Matius 9, ada hal yang lebih dalam yang ingin Matius sampaikan. Yesus bukan saja memiliki otoritas dan kuasa atas alam semesta, atas sakit-penyakit dan atas roh-roh jahat; terlebih lagi, Ia mempunyai kuasa untuk memberikan jawab kepada kebutuhan manusia yang paling dalam yaitu memulihkan relasi yang paling penting antara Allah dan manusia dan pengampunan atas dosa-dosa kita.

Matius 9 mencatat pada waktu Yesus kembali ke Kapernaum, orang-orang berbondong-bondong datang berkumpul untuk mendengarkan pengajaranNya. Lukas memberikan detail, “Beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkanNya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem” (Lukas 5:17). Dan Markus menggambarkan situasinya, “Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak” (Markus 2:2). Maka kita bisa mengerti pada waktu ada empat orang teman berusaha membawa seorang lumpuh untuk menjumpai Yesus, tidak ada kemungkinan mereka bisa masuk ke dalam rumah dimana Yesus berada, maka mereka melakukan satu hal yang tidak biasa: mereka membongkar atap rumah itu dan kemudian menurunkan orang lumpuh ini ke hadapan Yesus. Injil mencatat Yesus sangat terkesan dengan kebaikan, cinta dan dedikasi dari teman-teman dari orang lumpuh ini yang membawa dia kepada Yesus. Betapa beruntung mempunyai sahabat dan teman yang bukan saja mendampingi kita di saat-saat tersulit dan tersendiri; tetapi terlebih beruntung lagi memiliki sahabat dan teman yang membimbing kita berjumpa dengan Tuhan.

Kita tidak tahu berapa lama dan berapa panjang orang lumpuh ini sakit. Pada waktu dia mengalami penderitaan sakit lumpuh ini sudah tentu yang ada di dalam pikirannya adalah kapan dia bisa sembuh dari sakitnya. Kebutuhannya yang paling mendasar adalah sembuh secara fisik dari kelumpuhannya. Namun setelah berjalan dari tahun ke tahun, kelumpuhannya tetap ada, orang ini sekarang bukan saja membutuhkan kesembuhan; ada hal yang lebih dalam, dia juga mengalami pergumulan dalam aspek emosi dan sosial. Kelumpuhannya membuat dia bergantung kepada pertolongan orang. Di tengah pembaringannya dia mengalami loneliness dan rasa tidak berarti dan berharga. Namun ada kebutuhan yang jauh lebih dalam, pertanyaan yang terus muncul di hatinya adalah pertanyaan teologis: apa maksud dan rencana Tuhan mendatangkan sakit-penyakit kepada dia, apakah ada dosa yang tersembunyi, apakah ini hukuman Tuhan. Orang tuanya juga mungkin berpikir seperti demikian. Tidak heran pernah ada peristiwa dimana murid-murid juga berkata kepada Tuhan Yesus ketika melihat seorang yang buta sejak lahirnya, “Guru, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga dia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2). Ada kemarahan, ada kepahitan, rasa tidak terima, rasa Tuhan mengabaikan dia, rasa Tuhan tidak mengasihi dan memperhatikan dia. Saya percaya kebutuhannya yang terdalam adalah mendapatkan jawaban dari Tuhan di tengah kesusahan dan penderitaan seperti ini. Sehingga pada waktu orang lumpuh itu berada di depan Tuhan Yesus, Yesus tidak mengatakan, “Hai anak, bangun, angkatlah kasurmu. Engkau telah sembuh.” Yesus melihat dia dan berkata, “AnakKu, dosamu telah diampuni.” Sdr dan saya mungkin berpikir, mengapa Yesus berkata seperti itu? Bukankah yang dibutuhkan orang lumpuh ini adalah kesembuhan dari kelumpuhannya? Tetapi Yesus lebih tahu kebutuhan yang terdalam di dalam hati orang yang lumpuh ini datang kepadaNya. Betul, dia butuh untuk disembuhkan; betul, dia butuh untuk bisa menjadi manusia yang bebas berdikari dan menjadi orang yang bernilai, bisa bekerja dengan tangan sendiri dan tidak menjadi batu sandungan dan kesusahan secara sosial bagi orang waktu itu. Yesus tahu apa yang lebih menjadi kebutuhannya pada saat itu yaitu kebutuhan untuk mendapatkan belas kasihan, pemulihan dalam restorasi, bahwa sekalipun di dalam keadaan sakit dan lumpuhnya, Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih dan rahmat dan menyayanginya. Maka Tuhan mengatakan, “AnakKu, inilah kebutuhanmu yang paling dalam yaitu relasimu dipulihkan dan diperbaiki bersama dengan Tuhan; dosa-dosamu diampuni.” Puji Tuhan! Dia pulang ke rumahnya bukan saja mengalami pemulihan secara fisik, tetapi dia mengalami pemulihan rohani dan emosi secara total, dia tahu Tuhan mengasihi dan peduli kepadanya.

Biar peristiwa dan pengalaman yang terjadi dengan orang lumpuh ini pada waktu berjumpa dengan Tuhan Yesus Kristus pada hari ini juga menjadi firman yang relevan, yang berbicara kepada setiap kita di dalam pergumulan dan kebutuhan masing-masing. Jikalau engkau hari ini sedang berada di tengah situasi seperti ini, kiranya firman Tuhan mengingatkan kita, kita mungkin berpikir kebutuhan kita yang paling utama adalah Tuhan memberi kesembuhan dan melepaskan kita dari bencana ini. Di tengah-tengah pandemi ini telah merontokkan spirit banyak orang, kita kecewa, kita marah dan kita berpikir ada sesuatu dalam diri kita sehingga Tuhan tidak sayang kepada kita? Kiranya firman Tuhan ini boleh berbicara kepada kita sekali lagi. Datang kembali kepada Tuhan karena Ia tidak pernah meninggalkan dan membuang kita. Pulihkan relasimu dengan Tuhan dan kenalilah Tuhan Yesus Kristus lebih dalam di tengah situasi seperti ini. Kita bukan mengenal Dia hanya karena Dia melakukan mujizat, hanya karena Dia menyingkirkan segala persoalan kita dan memberikan apa yang kita perlukan sekarang ini dan mencukupkan kita. Kita melihat kepada apa yang ada ini dan kita kenal Dia lebih dalam. Ia adalah Tuhan Juruselamat kita. Ia memiliki otoritas dan kuasa untuk mengampuni dosamu dan memulihkan relasimu bersama dengan Tuhan. Alami pemulihan rohani dan emosi secara total, dan tahu Tuhan mengasihi dan peduli kepadamu. Dan kiranya Tuhan menguatkan dan meneguhkan engkau, menyegarkan hatimu dengan janji firmanNya yang kuat dan teguh ini. Kita adalah orang-orang yang memiliki pengharapan yang sejati karena pengharapan kita didasarkan kepada pengharapan yang hidup di dalam Tuhan Yesus Kristus. Jangan takut, kuatir dan lumpuh di tengah-tengah situasi seperti ini.

Selanjutnya Matius memperlihatkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang ada di situ waktu mendengarkan kalimat Tuhan Yesus ini mendatangkan reaksi yang lain. Mereka marah dan tersandung melihat Yesus berkata seperti itu. Ia hanya manusia saja, bagaimana bisa Ia mengampuni dosa? Maka mereka ambil kesimpulan: Orang ini menghujat Allah. Mari kita melihat ini dari perspektif pemikiran orang Farisi dan ahli Taurat pada waktu itu. Sebab berdasarkan pengajaran dan pengaturan yang mereka dapat dari kitab Musa, proses pengampunan harus dilakukan dalam beberapa tahap. Yang pertama engkau harus membawa korban pengampunan dosa; yang ke dua, ada imam yang membawa doa bagi pengampunan dosa. Imam Besar masuk ke dalam ruang maha suci di Bait Allah untuk berdoa bagi dosa bangsa Israel satu kali setahun pada hari Pendamaian. Dan hari-hari yang lain, ada imam-imam yang melakukan hal itu di masing-masing rumah ibadah mereka. Maka pada waktu Yesus mengatakan dosamu sudah diampuni, berarti Yesus mendeklarasikan pengampunan dosa tidak lagi memerlukan proses itu. Sehingga dari perspektif orang Farisi, dari perspektif ahli Taurat melihat Yesus sebagai orang biasa dan melanggar semua ini, Yesus telah menghujat Allah.

Yesus tahu pikiran dari orang-orang ini, sehingga Yesus menegur mereka, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa.” Di sini Yesus tidak menyebut diriNya Anak Allah tetapi Yesus menyebut diriNya dengan sebutan “Anak Manusia.” Yang menyebut Yesus Anak Allah adalah roh-roh jahat yang diusir oleh Yesus [lihat: Matius 8:28-29] dan Yesus tidak mendeklarasikan ucapan dari Setan itu sebagai sesuatu yang Ia pakai untuk diriNya. Setan tahu Yesus adalah Anak Allah tetapi tidak mau menyembahNya. Yesus memakai sebutan Anak Manusia itu bagi diriNya untuk membuat ahli-ahli Taurat itu berpikir lebih dalam kepada kitab Daniel 7:13-14 saat Daniel melihat satu penglihatan mengenai “seorang seperti Anak Manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapanNya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya adalah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.” Daniel melihat seorang seperti Anak Manusia yang diberi Allah kuasa, kemuliaan, kekuatan dan orang dari segala bangsa menyembahnya. Ia bukan sekedar manusia biasa. Ia adalah Anak Allah. Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Ahli Taurat dan orang-orang Farisi gagal melihat Yesuslah Anak Manusia itu. Kiranya kita yang sudah mengaku percaya kepadanya, dengan mata iman kita, kita menyaksikan Anak Manusia itu ada di samping Allah Bapa dan duduk di tahtaNya karena Ia telah menang atas kematian dan maut dan di dalam tanganNya ada kekuatan, kuasa, hormat, kemuliaan sampai selama-lamanya dan kerajaanNya tidak akan berlalu. Dan bukan saja Ia berkuasa mengampuni dosa, kuasaNya itu dimateraikan pada saat Ia mengatakan kepada orang lumpuh itu, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan orang itu pun bangun lalu pulang.

Matius 9 diakhiri dengan respon dan reaksi orang banyak terkagum kepada Yesus. “Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa yang sedemikian itu kepada manusia.” Orang banyak terkagum akan kuasa Yesus namun belum tentu akhirnya mereka semua itu takluk dan menghargai dan mengenal Yesus sebagai Anak Allah, Tuhan mereka. Karena sekalipun di Kapernaum Yesus melakukan begitu banyak mujizat namun mereka tidak secara serius mau mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Sehingga kemudian Yesus mengecam dengan keras beberapa kota, termasuk Kapernaum ini, “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan menjadi lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!” (Lukas 10:13-15). Yesus mengecam mereka yang telah menyaksikan dan menikmati kuasa dan mujizat Yesus dengan berlimpah tetapi hati mereka tetap menolak dan tidak percaya. Mereka telah menyia-nyiakan anugerah dan kesempatan yang ada untuk menyambut dan menerima Anak Allah itu dan menolak Yesus Tuhan dan Juruselamat bagi hidup mereka. Hari ini ada banyak orang menerima anugerah dan kesempatan untuk mendengar nama Yesus. Dalam pelajaran agama di sekolah kita mungkin mengenal Yesus Kristus adalah pendiri agama Kristen. Pengajaran-pengajaranNya itu begitu baik. Ajaran moralNya itu tinggi. Tetapi apakah kita hanya mengenal Dia sebagai pendiri agama, mengenal Yesus sebagai salah satu nabi dan hanya manusia biasa saja? Pada hari ini biar kita secara dalam dan secara serius, akan membuat kita berpikir lebih dalam dan lebih serius apa yang menjadi kebutuhan kita yang terdalam. Sudah kenalkah kita lebih dalam siapa Yesus Kristus itu? Di tengah kesulitan dan pergumulan, kesusahan dan tantangan seperti ini kiranya membuat kita berpikir lebih dalam dan lebih serius apa yang menjadi kebutuhan kita yang terdalam. Sudah kenalkah kita siapa sesungguhnya Yesus Kristus itu? Injil memberikan kita kesaksian bahwa Yesus Kristus adalah pengharapan kita yang sejati. Ia telah bangkit dari antara orang mati, Ia bukan saja berkuasa atas maut dan kematian, Ia bukan saja berkuasa atas sakit-penyakit, badai dan topan, alam semesta ini, bahkan termasuk virus dan segala sesuatu yang terjadi dalam dunia ini berada dalam tangan dan kuasaNya, bahkan si Jahat sekalipun berada di dalam tangan kuasaNya. Hanya Dialah pengharapan satu-satunya yang dibutuhkan manusia. Dia adalah Tuhan dan Juruselamat yang dunia ini sungguh perlu dan butuhkan, dan engkau dan saya perlu dan butuhkan. Bagi engkau yang bertanya dan ingin mengenal siapa Yesus itu, mungkin selama ini engkau mengetahui Dia sebagai pendiri agama saja, sebagai seorang nabi dan manusia biasa, saya ingin berdoa bagimu. Biar hari ini engkau datang kepadaNya, engkau kenal Dia lebih dalam karena di tengah segala situasi dan tantangan pergumulan yang tidak pasti ini, engkau mengenal dan mengetahui hanya Dialah pengharapan yang sejati adanya. Saya tidak bisa menjanjikan bahwa Yesus akan menyembuhkan sakitmu; saya tidak bisa menjanjikan bahwa Yesus akan melepaskan kesusahan dan memulihkan sdr secara finansial. Tetapi saya yakin dan dapat menjanjikan bahwa pada waktu kita datang kepadaNya mengakui segala dosamu di hadapanNya, kalimatNya berkata dosamu sudah diampuni dan engkau mendapatkan pengampunan itu; engkau telah berpindah dari maut kepada hidup. Janji itu adalah janji yang teguh dan pasti, dan itu terjadi di dalam hidup sdr. Jadikan itu sebagai kebutuhanmu yang terdalam.

Pengharapan kita bukan untuk mendapatkan vaksin yang bisa menetralkan virus ini. Pengharapan kita adalah bukan supaya kita bisa kembali memiliki hidup yang normal dan berjalan dengan normal dan lancar lagi di dunia ini. Pengharapan kita kiranya kita mendengarkan kalimat dan suara Tuhan Yesus pada waktu kita berada dalam keadaan sakit, pada waktu kita berada dalam kesusahan, Ia mengatakan, hai anakKu dosamu telah diampuni. Relasimu dengan Tuhan dipulihkan. Kekekalan itu menjadi milik yang engkau perlukan lebih daripada kesembuhan yang sementara saja. Biarlah sukacita dan damai sejahtera kerajaan Allah boleh hadir dan berada di tengah-tengahmu pada saat ini. Hadirkanlah sukacita dan damai sejahtera kerajaan Allah di tengah-tengah hidupmu. Biarlah engkau menjadi orang yang membawa kesembuhan kepada orang-orang yang sakit; biarlah engkau menjadi orang yang memberikan pengharapan kepada mereka yang berada di tengah keputus-asaan. Biarlah engkau menjadi suara penghiburan kepada orang-orang yang berduka. Biarlah engkau menjadi seorang yang boleh memberi pengampunan di tengah-tengah orang bergumul atas segala kesusahan dan penderitaan hidupnya. Dan biarlah engkau boleh membawa damai sejahtera Injil pengampunan kepada orang-orang yang ada di sekitarmu.(kz)