Covid-19, Babilon dan Akhir Jaman

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Covid-19, Babilon dan Akhir Jaman
Nats: 1 Tesalonika 5:1-11, Wahyu 18:1-5

Tema pada hari ini: “Covid-19, Babilon dan Akhir Jaman,” biarlah boleh menjadi tema yang memberikan kekuatan dan perspektif yang benar bagi setiap kita sebagai anak-anak Tuhan pada waktu kesusahan dan kesulitan menimpa hidup kita. Di tengah bencana, malapetaka dan penderitaan yang tidak terduga datang tiba-tiba menimpa, tidak jarang kita bertanya mengapa peristiwa ini terjadi, apakah ini waktunya Tuhan datang? Bagaimana saya mengetahui akan hari-hari terakhir tiba dan waktunya Yesus Kristus datang lagi? Sudah siapkah saya menghadapi kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang ke dua kalinya? Berlalunya tahun, apakah kedatangan Yesus akan semakin mendekat? Absolutely yes! Tahun ini akan berlalu, tahun depan akan datang, entah berapa tahun lagi Tuhan Yesus Kristus akan datang. Tetapi yang pasti setiap tahun datang dan berlalu, dan bertambahnya usia kita, kita harus semakin sadar bahwa kedatangan Yesus semakin dekat adanya. Apa yang Alkitab ajarkan kepada kita mengenai hari kedatangan Tuhan Yesus Kristus? Dalam 1 Tesalonika 5:1-11 Paulus berkata Yesus akan datang kembali, jelas kedatanganNya akan segera tiba, dan jelas kedatanganNya itu seperti janji firman Tuhan hari Tuhan akan datang seperti pencuri tetapi itu tidak akan menakutkan kita karena kita dipanggil untuk senantiasa bersiap diri dan berjaga-jaga di hadapanNya, itu adalah panggilan Tuhan kepada setiap kita.

Bagi sebagian orang, kedatangan Yesus kali ke dua disebut sebagai hari kiamat; ada yang menyebutnya sebagai akhir jaman; the doomsday; hari dimana Tuhan menyatakan keadilanNya, itu adalah istilah-istilah yang lazim dikenal dan dimengerti sebagai hari penghukuman Allah yang final nyata di atas muka bumi ini. Hari ini saya ingin kita melihat dengan perspektif yang benar, sebab seringkali pada waktu orang Kristen berbicara mengenai kedatangan Yesus, kita dianggap sebagai orang yang picik menyebarkan ketakutan dan keresahan kepada orang. Kita dianggap sebagai orang yang aneh, yang menginginkan dunia ini hancur lebur, dsb. Sehingga pada waktu kita melihat orang-orang yang memberitakan Injil di tengah balai kota sambil membawa plakat: “Bertobatlah! Hari Tuhan akan segera datang. The doomsday is coming soon!” orang-orang mungkin menjadi resah dan tidak sedikit yang menertawakan karena mereka melihat seolah-olah orang Kristen adalah orang yang penuh dengan judgmental spirit.

Dari jaman ke jaman, topik mengenai akhir jaman selalu dikaitkan dengan figur AntiKristus, kepada angka 666, dsb. Sehingga ketika ada bencana tiba, ketika ada tokoh yang jahat, diktator dari satu pemerintahan atau negara yang begitu jahat kepada Kekristenan, atau ketika ada pengajar bidat dan ajaran sesat, kemudian orang Kristen mengatakan orang itu adalah AntiKristus bersimbol angka 666. Namun hari ini secara khusus kita melihat Wahyu 18:1-5 bicara mengenai apa yang akan terjadi sebelum kedatangan Yesus Kristus yang ke dua kalinya ditandai dengan penghukuman Allah kepada satu kota besar Babel atau Babilon. Sebelum Yesus datang, sebelum Anak Domba Allah itu menyatakan kemenanganNya di pasal 19, sebelum Ia mengadakan perjamuan yang terakhir bagi umat tebusanNya, sebelum terjadi langit dan bumi yang baru, ketika tidak ada lagi air mata, kematian, perkabungan, ratap tangis dan dukacita, ketika segala bangsa datang bersujud menyembah Tuhan, akan ada satu peperangan, satu penghakiman yang terakhir dan itu diberikan bukan kepada satu dua orang pribadi, tetapi kepada satu kota. Berarti ini bicara mengenai satu struktur, bicara mengenai kota besar bernama Babel.

Dalam Alkitab ada empat bagian bicara mengenai Babel atau Babilon ini. Yang pertama dalam Kejadian 11 kisah mengenai Menara Babel. Menara Babel adalah satu tindakan dari manusia mengakumulasi, memusatkan diri, sentral usaha manusia untuk melawan Tuhan dengan berkata, “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kejadian 11:4). Lalu yang kedua, Babel mengacu kepada satu kerajaan yang real pernah ada dalam sejarah yaitu kerajaan Babel. Bangsa Israel ditaklukkan oleh kerajaan Babel yang bengis dan mengalami pembuangan selama 70 tahun di Babel. Kerajaan Babel datang menginvasi dan menghancurkan Bait Allah dan kemudian meluluh-lantakkan umat Israel pada waktu itu. Peristiwa itu dicatat dalam kitab Daniel, “Pada tahun ke tiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu” (Daniel 1:1). Lalu yang ke tiga, yang sangat unik sekali adalah pada waktu rasul Petrus menulis surat 1 Petrus dan dia memberikan salam dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon (1 Petrus 5:13). Para penafsir setuju Petrus memakai simbolisasi kata Babilon mengacu kepada kota Roma atau dalam konteks lebih luas bicara tentang kerajaan Romawi. Kerajaan Romawi adalah kerajaan yang menganiaya orang Kristen; kerajaan Romawi yang menjadi kerajaan yang besar yang boleh dikatakan sebagai penguasa dunia pada waktu itu dengan segala kekayaan dan kemegahannya. Tidak ada hal yang tidak dikontrol olehnya. Itu adalah lukisan yang dipakai oleh rasul Petrus bahwa mereka hidup di tengah-tengah tekanan satu empire yang bernama Babylon. Dan yang ke empat Yohanes menyebutkan di Wahyu 18 ini penghukuman Allah kepada satu kota besar bernama Babel. Sudah tentu kita tidak melihat ini sebagai satu kota saja, tetapi ini mewakilkan satu struktur, ini merupakan satu semangat, spirit, nafas, gerakan yang luar biasa besar. Babel yang disebut dalam Wahyu 18 ini tidak bicara mengenai satu kuasa yang secara spiritual yang mendatangkan pengajaran yang sesat dan tidak saja bicara mengenai kekuatan politik yang besar yang mengontrol; tetapi lebih daripada itu bicara mengenai kekayaannya, keserakahannya, kerakusannya. Dan di situ dikatakan kekayaannya menumpuk, ini menjadi bukan saja kekuatan politik, tetapi ini menjadi kekuatan ekonomi, tangan yang tidak kelihatan yang bagaikan gurita melebar ke segala arah, melibat dan menguasai bangsa-bangsa. Dialah “sang pelacur besar” the Great Prostitute, Babel yang disebut di Wahyu 17: 1-5, “Babel besar itu, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.” Sifat pertama mewakili kejahatan, kenajisan, hawa nafsu cabul, bicara mengenai lifestyle cara hidup amoralitas yang dilakukan oleh orang-orang bukan hanya oleh satu lapisan atau kelas sosial tertentu tetapi sudah menguasai keseluruhan manusia. “Aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus” (Wahyu 17:6). SIfat ke dua, Babel menjadi kuasa yang menganiaya, menyiksa dan membunuh anak-anak Tuhan; membanjiri dirinya sampai mabuk oleh darah orang-orang Kristen yang mati sebagai martir karena iman percayanya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sifat yang ke tiga, “Semua bangsa, raja-raja, pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimapahan dan kerakusannya” (Wahyu 18:3) bicara mengenai kekuatan ekonomi dan politik; bicara mengenai usaha manusia yang menyembah dan menjadikan dirinya sebagai pusat sentral dan kuasa materi yang digambarkan dengan segala harta dan kekayaan yang berlimpah bagaikan aliran anggur yang tidak ada henti-hentinya sifat kerakusan itu menjadi inti dasar daripada jiwa Babilon itu.
Maka ketika klimaks kejahatan Babel sudah penuh meluap, ketika kejahatannya naik sampai ke langit, ke tahta Allah yang maha tinggi, maka Allah datang menjatuhkan penghukuman dan penghakimanNya atas Babel itu, “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci. Karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya” (Wahyu 18:2-3). “Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya” (Wahyu 18:5). Kejahatan Babel digambarkan naik terus bertimbun-timbun sampai ke hadapan tahta Allah. Kita bisa melihat similaritasnya dengan Kejadian 11 mengenai menara Babel menggambarkan hal yang sama, Wahyu 18:5 bicara mengenai kejahatan Babel itu seperti demikian adanya dengan segala keserakahannya, kekuatan politiknya, kemampuan ekonominya, menjadikan semua orang dan segala bangsa takut dan menyembahnya. Babel menjadi satu kuasa yang menginjak, menekan dan mencekik sehingga orang-orang yang diinjaknya berteriak dan berseru “tolonglah saya, tolonglah saya!” dan injakannya makin membuat orang-orang itu tenggelam di dalam lumpur. Mereka berteriak memohonkan keadilan, kebenaran dan haknya diperhatikan tetapi itu tidak pernah terjadi. Maka Allah melihat dan menyaksikan semangat dan sikap hidup daripada Babylon empire itu dan pada hari yang Ia tetapkan, Allah menjatuhkan penghukuman atasnya. Allah intervensi, Allah campur tangan, dan Allah menyatakan keselamatanNya pada waktu suara keluhan teriakan atas penderitaan dan sakit dari umat manusia kedengaran sampai ke hadapan tahtaNya. Puji Tuhan! Penghukuman Allah kepada Babel adalah saat di mana Allah menyatakan keadilan dan penghukumanNya bukan sebagai God-destroyer, tetapi sebagai God-rescuer. Bukan sebagai Allah yang menghancurkan tetapi menjadi Allah yang menyelamatkan, Allah yang melepaskan, Allah yang membebaskan.

Banyak orang salah mengerti pada waktu kita bicara mengenai Allah yang akan menghakimi dan menghukum, seolah-olah Allah yang disembah orang Kristen adalah Allah yang jahat yang semena-mena, yang melakukan perbuatan dengan sewenang-wenang, dan Allah itu adalah Allah yang tidak senang dengan kemandirian manusia; Allah itu seolah-olah tidak senang dengan kemajuan manusia; Allah yang tidak senang dengan sukacita, kebahagiaan dan berkat yang dinikmati orang. Sehingga seringkali pada waktu menghadapi sakit-penyakit, bencana dan pandemi seperti ini ada orang-orang tertentu mengatakan: apakah Tuhan menghukum kita? Bukankah kita adalah orang baik-baik, kita bukan orang yang jahat, kita cinta Tuhan, kita melayani Tuhan dan kenapa kita mengalami hal seperti ini? Sehingga konsep penghukuman Allah seperti itu dipandang seolah-olah Allah menjadi Allah yang tidak senang melihat umat manusia memiliki kelancaran dan hidup dengan baik dan sukses. Orang seperti itu salah mengerti melihat penghakiman dan penghukuman Allah justru memperlihatkan Allah adalah Allah yang berkarya dan bertindak pada waktu Ia mendengarkan teriakan dan seruan, keluhan, rasa tidak berdaya orang yang datang mencariNya karena ada kaki yang kuat, besar dan jahat yang sedang menimpa dan menekan mereka. Allah datang menyatakan keselamatanNya dan pembebasanNya kepada mereka.

Mudah kita melihat Babel itu sebagai satu perlawanan spiritual kepada Kekristenan, tetapi kadang-kadang kita tidak memiliki kepekaan melihat aspek dari Babilon, aspek dari AntiKristus itu sebagai satu kekuatan ekonomi dan politik. Contoh sederhana: pada waktu misionari masuk ke satu ladang misi, melayani suku-suku terbelakang dan menyampaikan Injil Kabar Baik untuk membawa mereka keluar dari kegelapan dan masuk kepada terang keselamatan, seringkali peperangan rohani hanya dilihat sebagai tindakan membawa orang itu lepas dari kuasa dukun, ilmu hitam dan membawa orang itu lepas dari ikatan roh-roh jahat, sehingga terjadilah pelepasan, dsb. Kadang-kadang kita menyaksikan tindakan melepaskan orang, membawa mereka kepada Tuhan sebagai satu perlawanan spiritual seperti itu. Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa penderitaan mereka, kesusahan mereka juga disebabkan karena pemerintahan yang korup dan kejahatan kemanusiaan yang besar yang sedang terjadi, dan keadilan dan kebenaran diabaikan. Babel seringkali dipandang dalam dunia modern ini sebagai satu tantangan Kekristenan hanya kepada worldview saja. Contoh sederhana, kita melihat tantangan kepada Kekristenan saat ini adalah Atheism yang menentang dan melawan Tuhan. Itu adalah peperangan kita secara apologetik kita harus berhadapan dengan Ateisme karena ini adalah tantangan yang semakin besar. Tetapi seringkali mungkin kita tidak peka dan tidak sadar bahwa keserakahan yang diwakilkan dari empire-empire yang besar itu dan gurita dari bisnis demi untuk keserakahan dan menguasai hayat hidup orang banyak dan segala kekayaan daripada dunia ini dengan tanpa pernah memikirkan kesejahteraan, kemanusiaan, kebenaran dan keadilan, itulah Babel yang seringkali kita tidak melihat akan hal itu. Kita tidak melihat, bahkan kita ikut senang bisa membeli barang merek yang terkenal yang dipakai dan dikenakan orang dengan harga yang murah, yang datang dari perbudakan yang jahat dan pembunuhan atas dasar politik dan ekonomi. Satu tempat dihidupi oleh orang-orang yang sederhana, lalu kemudian tiba-tiba kekerasan terjadi, orang-orang itu semakin dimiskinkan, mereka diusir dan harus pergi dari tanah itu karena mereka tidak tahu ada satu company yang besar yang secara jahat menyingkirkan orang-orang seperti itu karena di bawah daripada tanah itu ada emas yang banyak atau ada minyak yang berlimpah-limpah. Orang-orang yang seperti ini berseru dan berteriak kepada Tuhan.
Kita tidak boleh lupa bahwa Yesus mati di kayu salib bukan hanya karena aktor pelakunya adalah Yudas Iskariot yang menjual Yesus dengan harga 30 keping perak. Kita tahu ada evil spirit di belakang semua itu. Dan Setan bekerja menggunakan berbagai macam instrumen dan ada dua empire yang besar yang berselingkuh dan berkolaborasi yang menyebabkan Yesus mati di kayu salib yaitu spiritual empire yang diwakilkan oleh sistem Bait Allah yang korup dan physical empire yang diwakilkan oleh kekuatan politik dan ekonomi Romawi yang tidak ingin stabilitas dari politiknya terganggu tetap ingin menjadi absolute control. Sehingga kita memahami pada waktu keadilan dan penghakiman Allah datang, itulah keadilan dan penghakiman from God as a Saviour, Tuhan sebagai Juruselamat, Tuhan sebagai yang menolong, Tuhan yang memulihkan dan Tuhan yang mendengar orang-orang yang sedang berseru dan berteriak. Alkitab mengingatkan kita ada tahun Yobel, tahun ke 50 ketika Allah memerintahkan umatNya untuk melepaskan semua budak supaya mereka bisa memulai lagi hidup jangan lagi menjadi budak dan orang yang diperlakukan dengan tidak adil. Allah kita adalah Allah yang mendengarkan segala seruan dan teriakan atas jeritan ketidak-adilan yang dialami oleh anak-anak yatim piatu, janda dan kaum minoritas. Itulah Allah kita yang baik, benar dan yang adil itu. Ia akan segera datang dan Ia akan memulihkan dunia ini, Ia akan datang menyatakan keadilanNya, kebenaranNya, kesucianNya dan Ia akan tarik turun penghukuman kepada Babilon yang dengan segala kerakusannya, dengan segala kejayaannya, kemandiriannya yang menyingkirkan dan membuang Tuhan sebagai pemilik sah dari dunia ini.

Itulah sebabnya kita perlu penghukuman Allah yang adil karena hanya penghukuman Allah, pengadilan Allah yang adil inilah yang sanggup bisa menembus sampai akar yang paling dalam, sampai ke dalam hati manusia yang paling dalam. Kita manusia hanya bisa melihat dari permukaan. Itulah sebabnya kita jangan cepat-cepat kita memuji satu kedermawanan yang dilakukan oleh satu bangsa atau satu company. Bisa jadi kedermawanan yang dikerjakan dan dilakukan oleh mereka itu adalah hasil dari pencurian dan menjadikan itu sebagai mezbah persembahan di hadapan Allah. Kita mungkin kagum dengan sedekah dan pertolongan yang diberikan di tengah pandemi seperti ini di tengah banyak orang membutuhkan sedekah, banyak orang membutuhkan bansos, tetapi tidak berlaku benar, berlaku adil, berlaku moral di dalamnya. Dan jikalau spirit babylonia itu menjadi spirit yang menyingkirkan Tuhan, menjadi spirit yang menindas kemanusiaan dan melakukan penyiksaan dan pembunuhan kepada umat Allah, percayalah penghukuman dan penghakiman Allah yang adil itu turun dari atas karena Ia adalah Allah yang menjadi penyelamat.

Yesus pernah datang ke dunia dan Ia turun dari surga untuk melepaskan dan membebaskan dunia dari tangisan perbudakan dan kejahatan dosa yang menghimpit dan itu adalah peperangan Dia dengan kuasa dan ekonomi politik; itu adalah peperangan Dia dengan korupsi berdasarkan agama yang menghimpit dan mencelakakan manusia, dan menghalangi orang datang kepada Allah. Peperangan itu bukanlah peperangan yang gampang, itulah sebabnya mereka membunuh Yesus Kristus. Tetapi justru di atas kayu salib, kematian Kristus yang kemudian menjadi kematian yang mengingatkan dan menyadarkan kita, Ia telah menyelesaikan dan membayar lunas dosa-dosa kita. Karena sebetulnya kita tidak lebih baik daripada ahli Taurat, kita tidak lebih baik daripada imam besar pada waktu itu, kita tidak lebih baik daripada Pontius Pilatus. Jika kita ada kesempatan hadir pada waktu itu mungkin kita juga menjadi orang yang membunuh Yesus. Penebusan Allah adalah penebusan kepada orang yang menyadari, berseru dan berteriak kepada Tuhan: Tuhan, tolonglah kami yang tidak berdaya dan yang telah dihimpit oleh dosa, itulah arti keselamatan yang Tuhan Yesus berikan kepada kita.

Pada saat yang sama pada waktu Alkitab berkata: Berjaga-jagalah engkau sebab hari Tuhan akan datang seperti pencuri, bukan dalam arti kata kita tidak tidur, kita terus membaca Alkitab, kita berdoa menanti Tuhan datang. Berjaga-jaga berarti bersihlah hidup kita berjubah putih, Tuhan panggil kita untuk melakukan apa yang benar, to do the righteous thing, hal yang benar, hal yang sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan. Jangan biarkan semangat jiwa Babilonia berada di dalam hati setiap kita, di dalam pekerjaan kita, di dalam bisnis kita, di dalam company yang kita buat. Sebagai anak-anak Tuhan kita perlu hati-hati dan mawas diri, jangan pandang kesuksesan itu sebagai berkat dan anugerah Tuhan yang datang ke dalam hidupmu. Jikalau engkau dilimpahi dengan segala kekayaan itu tetapi pada saat yang sama itu datang dari kelaliman dan keserakahan dengan menindas dan menekan banyak orang, kejahatan hati kita yang meluap-luap dengan spirit daripada Babel didengar oleh Allah kita yang ada di atas. Kiranya firman Tuhan ini menegur dan mengingatkan kita, senantiasa menjaga hati kita. Berjaga-jagalah dan sadar, kita tidak hidup dalam kegelapan. Apapun yang kita kerjakan dan lakukan, biar itu terang-benderang memuliakan Tuhan. Selama ada waktu, itu adalah kesempatan bagi kita untuk memuliakan Dia. Selama Tuhan bersabar di dalam masa kesabaranNya sebelum Ia datang ke dua kali, inilah waktu kita memberitakan berita Injil keselamatan melalui hidup kita yang sungguh-sungguh menyatakan Tuhan itu yang paling utama, Ia adalah Raja hidup kita.(kz)