It was Good for Me to be Afflicted

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: It was Good for Me to be Afflicted
Nats: Mazmur 119:67, 71, 75

“Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janjiMu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu. Aku tahu ya TUHAN bahwa hukum-hukumMu adil, dan bahwa Engkau telah menindas aku dalam kesetiaan” (Mazmur 119:67, 71, 75).

“Before I was afflicted I went astray, but now I obey Your word. It was good for me to be afflicted so that I may learn Your decrees. I know, o Lord, that Your laws are righteous and in faithfulness You have afllicted me” (Psalm 119:67, 71, 75, NLT).

It is good for me to be afflicted. Dapat berkata: adalah baik bagiku bahwa aku tertindas; adalah baik bagiku pada waktu aku ditekan oleh kesusahan, ini merupakan tanda dari kedewasaan rohani seseorang. Ayat-ayat dari Mazmur 119 ini saya pilih secara khusus pada hari ini boleh menjadi berita firman Tuhan bagi gereja kita sama-sama. Dua puluh satu tahun perjalanan pelayanan yang Tuhan sudah beri kepada kami dan kepada setiap kita sama-sama sebagai jemaat Tuhan bukan waktu yang singkat. Secara umur manusia itu adalah masa independen, masa seorang anak keluar dari rumah setelah selesai dari studi, masuk ke dalam dunia pekerjaan, masa dewasa di dalam hidup mereka. Dan saya mau demikian pula setiap jemaat setelah melewati 21 tahun pelayanan ini kita boleh keluar menjadi jemaat yang dewasa, menjadi jemaat yang kuat, menjadi jemaat yang bersatu. Terlebih lagi ulang tahun gereja kali ini adalah ulang tahun yang khusus karena kita berada di dalam kesusahan, tekanan, tindasan yang dialami oleh semua orang. Secara fisik ada yang mengalami sakit, ada yang mengalami kehilangan pekerjaan, ekonomi yang tidak menentu, virus yang masih ada di sekitar kita yang telah menjadi pandemi kepada seluruh dunia ini, maka bukankah firman Tuhan ini menjadi firman Tuhan yang indah dan penting bagi kita?

Kita tahu setiap peristiwa dan kesulitan yang kita alami ini bukan sesuatu hal yang kebetulan tetapi merupakan suatu pembentukan dari Tuhan untuk membuat setiap kita menjadi kuat dan bertumbuh dewasa di hadapan Tuhan. Saya percaya ini adalah masa Tuhan melakukan pruning pemangkasan yang penting dan perlu untuk menghasilkan buah yang lebih berkualitas dan lebih lebat di dalam kehidupan setiap individu maupun di dalam kehidupan bergereja. Inilah masa Tuhan untuk melakukan goncangan yang mengingatkan kita jika selama ini kita mungkin bersandar kepada kenyamanan hidup kita, kepada kenyamanan bentuk pelayanan yang biasa kita lakukan; jika selama ini kita terikat kepada satu sikap pelayanan gerejawi yang bersifat eksklusif kepada diri sendiri. Melalui peristiwa ini Allah ingin gereja tidak lagi menjadi sentral tempat ibadah dan worship kita tetapi rumah menjadi tempat dan sentral dimana Tuhan boleh hadir. Biar peristiwa ini membuat kita terserak bukan untuk menjadi kocar-kacir, tetapi menjadi kuat dan dewasa dan pekerjaan Tuhan tidak lagi dibatasi oleh program; pekerjaan Tuhan tidak lagi dibatasi oleh tembok daripada gedung gereja; tetapi pekerjaan Tuhan dikerjakan oleh setiap anak Tuhan. Kiranya setiap peristiwa dan kesulitan yang kita alami ini bukan membuat kita menjadi kecewa, menjadi marah, menjadi undur, melainkan kita bisa keluarkan kalimat yang sama seperti pemazmur ini: adalah baik bagi kita kalau kita mengalami kesusahan, kesulitan, tindasan seperti ini karena Tuhan mendewasakan setiap kita.

Bapa Gereja John Chrysostom di abad 4AD berkata, mazmur-mazmur yang ada di Alkitab kita bukan syair dan nyanyian belaka, tetapi itu adalah perjalanan iman yang real dari setiap anak Tuhan yang menghasilkan doa, pergumulan dan menuliskan mazmur-mazmur ini. Mazmur adalah kitab yang sangat penting untuk kita pelajari bagaimana kita bersikap dan berespon dengan benar kepada Tuhan, sehingga di tengah-tengah tantangan kesulitan seperti ini, kita memanjatkan doa yang benar berdasarkan apa yang kita lihat melalui mazmur-mazmur ini. Mazmur penuh dengan pujian; mazmur penuh dengan syukur. Mazmur penuh dengan ibadah melihat kebaikan dan cinta kasih Tuhan. Itulah mazmur-mazmur yang kita sebut sebagai mazmur pujian. Dalam mazmur-mazmur ini menyebutkan Allah menghujani dan menyirami kita dengan banyak sekali berkat. Mazmur yang berkata bahwa hidup orang-orang yang benar diberkati Allah “seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:3). Orang-orang yang benar akan dilindungi dan dijaga oleh Tuhan (Mazmur 61:7, 62:7, 64:10). Adakalanya di dalam perjalanan hidup kita, kita menyaksikan pengalaman dari pemazmur juga menjadi pengalaman yang real yang kita alami sama-sama. Kita mengalami proteksi Tuhan, perlindungan Tuhan, kasih setia Tuhan yang datang memelihara dan menyirami kita dengan berkatNya. Itu semua adalah pengalaman real dan pemazmur menceritakan kebaikan dan kasih karunia Tuhan seperti itu adanya. Tetapi kita juga akan menemukan mazmur-mazmur yang disebut sebagai mazmur-mazmur ratapan, mazmur keluhan, mazmur yang mencetuskan kesedihan dan air mata, mazmur yang menyatakan kepedihan atas penderitaan, kesulitan dan penindasan yang dialami. “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Itu adalah seruan di dalam Mazmur 22. “Lesu aku karena mengeluh, setiap malam aku menggenangi tempat tidurku dengan air mataku aku membanjiri ranjangku” (Mazmur 6:7). “Siang malam tanganMu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering seperti teriknya musim panas” (Mazmur 32:4). “KepadaMu ya TUHAN gunung batuku aku berseru, janganlah berdiam diri terhadap aku, sebab jika Engkau tetap membisu terhadap aku, aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur” (Mazmur 28:1). Itulah jeritan hati daripada lamentation psalms. Seperti murid-murid Yesus mengalami topan dan badai yang menerpa kapal mereka dan Yesus tertidur, mereka berseru kepadaNya, “Guru, tidakkah Engkau peduli kepada kami? Kami binasa!” (Markus 4:35-41).

Affliction, penindasan, tekanan terjadi bukan saja oleh karena banyaknya masalah dan kesulitan yang datang ke dalam hidup kita. Affliction menjadi begitu berat karena perasaan bahwa Tuhan tidak peduli, perasaan ditinggalkan oleh Allah. Waktu Yesus berdoa di taman Getsemani, Ia berseru, “Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan ini lalu daripadaKu.” Dan Lukas mencatat peluh Yesus seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Lukas 22:44). Ada afliction yang real yang akan Ia alami. Salib, cambukan, mahkota duri, murid-muridNya lari meninggalkan Dia seorang diri. Ia diperlakukan secara tidak adil di dalam pengadilan agama dan oleh Pilatus. Tetapi di atas semua itu, Yesus mengalami afflictioan yang lebih dalam berkaitan dengan relasiNya secara vertikal dengan Allah. Di atas salib itu Abba Bapa memalingkan wajahNya dan meninggalkan Yesus tersendiri. “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” itulah seruan yang paling pedih karena perlindungan dari Allah itu tidak Ia rasakan. AnugerahNya berhenti, kasihNya selesai. Hanya ada kekosongan yang menyakitkan. Seperti pada waktu Paulus berseru dan berdoa minta Tuhan mengangkat duri dari dagingnya, Tuhan menjawab, “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna” (2 Korintus 12:8-9). Selesai. Cukup sampai di situ. Kasih karunia Tuhan tidak lagi berlimpah. Itu seperti Ia adalah tuan yang pergi jauh dan tidak kembali-kembali dan hamba-hambanya terus menanti kapankah dia akan kembali. O Lord, how long? Berapa lama lagi ya Tuhan, Engkau datang melawat aku?
Ada dua sikap kita mengajukan pertanyaan kepada Tuhan, mengapa kami tertindas, mengapa kami mengalami kesusahan, mengapa Tuhan membiarkan kami mengalami penderitaan? Mengapa ada hal-hal yang begitu berat terjadi dalam hidupku? Sikap pertama, kita berkeluh-kesah; kita merasa Tuhan bertindak tidak adil kepada kita. Kita tersandung ketika melihat begitu banyak hal-hal yang buruk terjadi kepada orang-orang benar, kepada anak-anak Tuhan yang baik. Dan kita lebih tersandung lagi melihat begitu banyak hal-hal yang baik, sukses dan lancar terjadi kepada orang-orang jahat, orang-orang yang fasik, seperti yang dikatakan pemazmur dalam Mazmur 73. Tetapi kita bisa memilih sikap yang berbeda dalam menghadapinya, bukan dengan keluh kesah tetapi dengan nada berserah, kita surrender kepada Tuhan. Kita tidak bertanya, “Tuhan, mengapa ada kesusahan dan penindasan seperti ini tiba kepadaku?” Kita bertanya, “Tuhan, maukah Engkau bimbing aku untuk mengetahui apa maksud baikMu melalui hidupku yang tertindas ini?”

Perjalanan gereja kita juga melewati berbagai macam hal yang tidak gampang dan tidak mudah di dalam pelayanan. Pada waktu kita merasa satu pelayanan itu sudah akan take off, sudah menjadi satu pelayanan yang baik, di tengah jalan kita mengalami kegoncangan. Kita juga pernah mengalami betapa tidak gampang dan tidak mudah di dalam perjalanan pelayanan kita, baik secara finansial kita bergumul bersama-sama, baik secara relationship dan juga kita tahu Tuhan juga mendesak kita untuk memikirkan pelayanan bagi next generation kita; banyak sekali hal-hal yang berubah yang harus terjadi dan kadang-kadang kita sudah begitu terikat kepada comfort zone, kita nyaman dengan hal-hal yang lama, kita suka dengan cara style pelayanan dan model pelayanan yang tertentu dan kita tidak suka dibawa kepada perubahan seperti itu. Pada waktu kita punya pilihan, pada waktu kita bisa bebas untuk menentukan sesuatu, kita lebih susah untuk rela menjalani sesuatu yang baru; kita susah dan sukar untuk mau memulai sesuatu yang baru. Sampai nanti tiba pada waktu tidak ada pilihan karena kita dibawa sama-sama oleh tangan Allah yang tidak kelihatan, di situ kita belajar harus melakukan sesuatu di luar daripada comfort zone kita. Hari ini kita melakukan pelayanan yang berbeda di masa pandemi corona ini, namun jangan kita menjadi takut di dalam pelayanan ini karena kita tahu esensi pelayanan gereja bukan the love of power, tetapi the power of love. Inilah model, inilah saatnya ibadah rumah menjadikan ayah dan ibu sebagai seorang imam; di situlah pelayanan yang kita lakukan tidak lagi bersandar kepada kekuatan tembok gereja dan kepada keberadaan satu orang. Inilah satu pelayanan dimana kita tidak lagi terikat kepada hal yang kita suka, yang biasa kita kerjakan dan lakukan. Dengan restriksi dan isolasi gereja bisa melakukan pelayanan dengan live streaming seperti begini dan orang Kristen dimana saja bisa akses ibadah dari youtube. Hal-hal seperti ini membuat kita belajar melihat bahwa gereja Tuhan itu miliknya Tuhan; umat Tuhan itu miliknya Tuhan. Dan kita bukan lagi melayani organisasi, kita bukan lagi melayani denominasi, bukan lagi melayani kekuatan kebesaran dari setiap kita. Inilah saatnya Injil Yesus Kristus harus menembus dan masuk kepada semua orang; inilah saatnya semua orang yang sedang berada dalam affliction di atas muka bumi ini mendengar dan mendapatkan pengharapan di dalam Yesus Kristus. Inilah momen bentuk pelayanan dan bentuk penginjilan dan bentuk daripada ibadah harus memikirkan hal yang sama sekali berbeda. Puji Tuhan! Di situ kita tidak melihat kesusahannya; di situ kita tidak melihat kegagalannya; di situ kita tidak melihat ketakutan kita terhadap hal ini, tetapi di situ kita melihat kebaikannya; di situ kita melihat kesempatannya. Itulah sebabnya kita bisa berkata adalah baik bagi kami, kalimat itu hanya bisa muncul ketika kita mendapatkan pelajaran yang luar biasa dari Tuhan.

Mazmur 119 mengajarkan ada dua hal yang kebaikan yang kita dapat di dalam affliction. Yang pertama dia katakan, “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janjiMu” (Mazmur 119:67). Before I was afflicted I went astray, but now I obey Your word. Sebelum mengalami tekanan, kesusahan, penindasan ini aku telah menyimpang, seperti sebuah roda ban yang tidak lagi berputar pada porosnya dengan benar, ada yang salah dengan hidupku dan aku tidak menyadari hal itu. Aku lupa diri, aku tidak menempatkan Tuhan sebagai pusat sentral hidupku. Di hari-hari terakhir Musa berbicara demikian kepada Israel, ketika engkau berada di padang gurun, kurus kecil, lemah dan miskin, Tuhan mengambil engkau, menyusui dan memberikan makanan nutrisi kepada Israel Yesyurun itu, demikian kata firman Tuhan. Lalu kemudian setelah dipelihara, dilimpahi dengan berkat, perlindungan dan anugerahNya, “menjadi gemuklah Yesyurun dan menendang ke belakang dan meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia” (Ulangan 32:10-15).

Kapal hidup kita mungkin telah lama jauh menyimpang dan lepas dari jangkar dan kita tidak pernah menyadarinya. Kita terlena dengan segala pencapaian diri, kita menjadi lupa diri, kita menganggap semua yang kita dapat itu karena kehebatan diri. Sampai kemudian kesulitan, penindasan dan tekanan membuat kita jatuh terpuruk sampai pada titik yang terendah, di situlah baru kita kembali mencari Tuhan dan menjadikan Dia satu-satunya pusat di dalam hati kita. Kita baru sadar semua kenyamanan yang ada selama ini bisa hilang dan lenyap begitu saja; namun kita menemukan yang permanen dan yang sejati, yang begitu bernilai dan berharganya di dalam Tuhan. Sebelumnya, situasi hidup yang nyaman, segala sesuatu yang kita punya telah memabukkan kita. Kita tidak sadar betapa rentannya hidup kita, jikalau Tuhan tidak menopang dan men-supplied semua, bernafas pun kita tidak bisa. Kita tidak boleh lupa akan hal itu. Sehingga di tengah affliction ini kita ingat kembali siapa kita; kita hanyalah debu tanah di hadapan Tuhan.

Yang ke dua, kita melihat semakin affliction ini terjadi, semakin justru kita mengenal siapa Allah Tuhan kita. Selama ini kita mungkin berelasi dengan Allah berdasarkan sarana yang Ia berikan kepada kita. Kita tahu Allah kita itu baik karena Ia memberkati; kita tahu Allah itu penuh kasih sebab Ia mencukupkan; kita tahu Allah itu setia karena ketika kita berdoa, Ia memberikan apa yang kita minta. Maka relationship kita dengan Tuhan bukan karena siapa Dia, tetapi karena apa yang Dia berikan, apa yang terjadi dalam hidupku. KebaikanNya dinilai berdasarkan baiknya situasiku; kenikmatan Tuhan dinilai dari seberapa nikmat yang aku dapati. Kita tidak memahami Dia sebagai siapa Dia, sifat dan karakter Allah itu dan bukan berdasarkan apa yang sedang kita dapatkan. Pemazmur berkata, “I know Lord that Your laws are righteous and that in faithfulness You have afflicted me.” Pada waktu kita mengalami kesusahan dan penindasan, seringkali kita berpikir Tuhan sedang menghukum dan melakukan injustice kepada kita; that in injustice You have afflicted me. Tetapi kalimat yang dikatakan pemazmur bukan seperti itu; in faithfulness You have afflicted me. Aku tahu siapa Dia, karakter Dia, Dia adalah Abba Bapaku selama-lamanya. He is a good good Father for me forever. In faithfulness berarti Ia adalah Tuhan Allah kita adalah Allah yang baik; Ia tidak akan pernah meninggalkan kita; Allah itu setia selama-lamanya. Tidak ada hal yang mungkin datang dan tiba kepada kita tanpa melalui tangan persetujuan daripada Bapa kita di surga. Hidup ini ada oleh karena anugerah Allah dalam hidupku. Hidup yang ada di dalam lumpur dosa, namun kemudian diangkat oleh Kristus, disucikan dan dibersihkan. Itu arti penebusan. Itulah arti anugerah Allah dalam hidup engkau dan saya. Ia tidak menyayangkan AnakNya sendiri, AnakNya yang Ia kasihi yaitu Yesus Kristus menderita dan mati bagi dosa-dosa kita menjadi Penebus dan Juruselamat yang membebaskan kita, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita? (Roma 8:32). Waktu kita melihat salib Yesus Kristus, di situ kita melihat Anak Allah itu menderita di atas kayu salib itu bagi aku. Jikalau Anak Allah saja tidak disayangkan oleh Bapa di surga untuk menderita bagi aku, dan Ia lakukan itu untuk menebus aku, maka aku tidak boleh claim bahwa aku berhak untuk menjalani hidup yang bebas dari affliction. Ketika Allah mengijinkan kesulitan dan penderitaan datang kepada kita, sebagai anak-anakNya kita percaya Allah di dalam kebaikan dan kesetiaanNya tidak akan memberi di luar kekuatan kita menanggungnya. Walaupun engkau dan saya mengalami affliction yang datang begitu saja, sebagai sesuatu bencana secara tiba-tiba datang kepada kita, tetapi bagi Tuhan itu bukan sebagai sesuatu yang random dan di luar pengetahuan dan perijinan Allah.

Dalam buku “Maturity” Sinclair Ferguson berkata, “There is no waste in the Christian life. Nothing Christ takes from us is ever a waste.” Tidak pernah ada sia-sia pada waktu Ia ambil itu dari hidup kita; itulah arti pada waktu Allah kita yang baik itu, yang kita kenal, sedang melakukan pruning memangkas sesuatu. Bagi kita, dahan itu dibuang dari kita, seolah-olah waste dibuang; tetapi bagi Tuhan pemangkasan itu justru mempunyai tujuan buah kita akan menjadi lebih baik, lebih besar, lebih indah, lebih matang, lebih berkualitas. Biarlah pada hari ini kita boleh berkata dengan hal yang sama: it is good for me to be afflicted. Selain kita akhirnya mengerti dan mengenal siapa kita, diri kita sebagai anak-anak Tuhan, kita juga semakin mengenal siapa Tuhan Bapa kita. Ia adalah Allah yang setia yang tidak pernah meninggalkan kita dan Allah yang tidak pernah membiarkan kita. Tidak sedetik Ia lalai di dalam hidup kita. Kita mengenal sifat kesetiaan Allah itu bukan berdasarkan apa yang kita lihat secara fenomena yang kelihatan di sekitar kita. Ia tahu memberikan apa yang baik bagimu. Affliction, kesusahan dan penindasan itu baik dan perlu, karena menghasilkan keindahan kepada hidup kita.

Biar kiranya hari ini kita tidak terus tinggal di dalam ketidak-dewasaan, kita tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, hanya berpusat kepada diri dan tidak menyadari bahwa semua yang kita terima itu adalah kasih karunia dan anugerah Tuhan yang besar dan baik dalam hidup kita. Dalam momen-momen seperti ini, di tengah kesulitan dan tekanan hidup, jangan kita menjadi marah, kecewa dan mempersalahkan Tuhan atau berkeluh-kesah, tetapi justru kita menjadi anak-anak Tuhan yang dewasa dan melihat wajah Tuhan Yesus Kristus nyata dan indah dalam hidup kita karena Tuhan membentuk setiap anak-anak Tuhan yang mau dan rela dibentuk olehNya. Kiranya hati kita melimpah dengan syukur sekalipun berada di tengah bencana pandemi ini entah berapa lama, hari demi hari Allah mempertumbuhkan kita makin serupa dengan Tuhan dan Ia mempergunakan berbagai macam cara, dengan ajaib dan dengan penuh kemisteriusan mendatangkan segala kebaikan bagi setiap kita.(kz)