See! The Empty Tomb

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: See! The Empty Tomb
Nats: Lukas 16:14-15, 19-31

Ini adalah kebaktian Paskah yang pertama dalam sejarah hidup saya dan juga bagi hampir semua orang Kristen, dimana tidak ada umat Tuhan yang datang berbakti memenuhi gedung-gedung gereja pada Paskah kali ini. Satu ironi dan satu hal yang tragis dan menyedihkan hati, karena seharusnya Paskah adalah satu hari yang penting bagi kita, menjadi satu perayaan yang besar akan kebangkitan Yesus Kristus itu, tetapi kita tidak bisa datang berkumpul bersama di dalam gedung gereja. Hari Paskah tahun ini, gedung-gedung gereja kosong.

Tetapi bukankah Kekristenan juga berangkat dari kubur yang kosong itu? Kubur itu kosong sebab Yesus telah bangkit dan Tuhan yang kita sembah bukan Tuhan yang mati; Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang hidup adanya. Di tengah keputus-asaan, di tengah tidak ada pengharapan dan tidak ada masa depan; Kekristenan dimulai dari orang-orang dari Galilea yang menjadi murid-murid Yesus yang tidak datang dari status sosial yang tinggi dan dihormati, mereka tidak mempunyai keuangan dan koneksi dengan kekuasaan dan tidak menjadi orang yang berpengaruh di masyarakat pada waktu itu namun mereka telah menggoncangkan dunia ini sebab mereka melihat kubur Yesus yang kosong itu. Biar hal ini membuat kita senantiasa ingat kita tidak bersandar kepada kemegahan gedung gereja, kita tidak bersandar akan kuatnya keuangan, kehebatan berkhotbah, kefasihan dan banyaknya talenta dalam pekerjaan dan pelayanan Tuhan. Kita tidak mau bersandar kepada hal-hal seperti itu. Sekalipun pekerjaan dan pelayanan bagi Tuhan tidak akan pernah menjadi sama lagi seperti sebelumnya, hati kita tidak menjadi takut dan ciut, tetapi justru kita akan menyaksikan pekerjaan Tuhan dan berita akan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus itu tidak akan pernah ditahankan lagi dalam peristiwa bencana yang kita alami secara global ini karena Ia adalah Tuhan yang telah bangkit dan hidup adanya.

Itulah sebabnya mengapa pemimpin-pemimpin agama yang telah menyalibkan Yesus menjadi kacau dan kalang-kabut waktu mendengarkan berita bahwa kubur Yesus kosong. Jangan lupa, kubur itu telah dimaterai dan dijaga ketat oleh pasukan elite Romawi, sehingga secara perhitungan manusia tidak akan mungkin bisa dicuri adanya. Namun pada waktu mereka mendengar bahwa kubur itu sudah kosong adanya, maka pemimpin-pemimpin agama itu menyogok pasukan tentara Romawi itu untuk menyebarkan supaya mereka memberitahukan bahwa mayat Yesus dicuri oleh murid-muridNya (Matius 28:11-15). Satu skandal yang memalukan dan sekaligus juga menyatakan kebodohan dan kelemahan mereka. Masakah ada sekelompok orang-orang yang bukan dididik secara militer, yang tidak sanggup untuk berperang dan berkelahi, yang tidak memiliki kekuatan yang cukup besar dan hebat namun orang-orang Galilea ini bisa mengeluarkan Yesus dari kubur dan menyatakan kebodohan dan ketidak-hebatan pasukan Romawi ini, bukan? Kenapa pemimpin-pemimpin agama ini takut luar biasa mendengar kubur Yesus kosong? Sebab sebagai orang-orang yang belajar kitab suci Perjanjian Lama, mereka mereka mengerti dan mengetahui bahwa Allah tidak akan menyerahkan Dia kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang KudusNya tinggal di dalam hades, dalam kematian (Mazmur 16:10, band. Kisah Rasul 2:22-36). Tuhan tidak akan membiarkan Orang KudusNya, Orang yang diurapiNya tinggal dalam kematian. Ayat-ayat ini bergema dalam Perjanjian Lama yang mereka baca. Petrus dalam khotbahnya di hari Pentakosta berkata bahwa ayat ini berbicara tentang kebangkitan Mesias, bahwa Ia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati dan bahwa dagingNya tidak mengalami kebinasaan. Pada waktu Yesus dipaku di atas kayu salib, Ia dituduh sebagai kriminal, bahkan bagi orang Romawi Yesus adalah mesias yang palsu, yang ingin menjadi raja, yang ingin mendatangkan pemberontakan kepada pemerintahan Romawi. Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit, kubur itu adalah akhir dari kehidupanNya. Jikalau tidak ada kebangkitan, maka kematian Yesus statusnya tidak akan berubah: Dia adalah seorang penipu, Dia adalah seorang kriminal, Dia adalah seorang pengajar yang palsu. Puji Tuhan! Kebangkitan Yesus Kristus membuktikan bahwa Dia adalah Orang Benar, He is the Righteous One. Kebangkitan itu menjadi satu materai bahwa Allah di pihak Dia; Allah membenarkan Dia; apa yang Ia lakukan, apa yang Ia katakan, apa yang Ia kerjakan, semuanya terbukti benar dan diperkenan oleh Allah.

Yang ke dua, kebangkitan Yesus Kristus menjadi bukti bahwa kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Kita sekalian yang hidup di atas muka bumi ini mengaku, entah panjang atau pendek perjalanan hidup ini akan berakhir kepada satu titik yaitu kematian. Namun apakah kematian menjadi akhir dari segala-galanya? Kebangkitan Yesus Kristus justru memberitahukan kepada kita jawabannya: tidak. Memang perjalanan hidup kita di dunia ini satu kali akan berakhir dalam kematian, tetapi kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Setelah kita mati, kita semua akan berhadapan dengan pengadilan Allah. Kebangkitan Yesus mengingatkan kepada kita bahwa satu kali kelak kita akan berhadapan dengan pengadilan Allah dan di situ setiap orang harus mempertanggung-jawabkan apa yang dilakukannya selama hidupnya di dunia. Paulus ingatkan, “Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:10).

Di atas muka bumi ini ada orang yang telah membunuh ribuan bahkan jutaan orang dan selama hidupnya dia bisa memiliki dan menikmati segala harta hasil rampasan dari orang-orang itu. Bahkan sampai pada titik terakhir hidupnya tidak ada pembalasan kepada semua kejahatannya dan orang mengenang dan mengelu-elukan dia sebagai pahlawan. Jikalau kematian menjadi akhir daripada segala-galanya, maka apa yang dia kerjakan dan lakukan di dunia ini tidak pernah mendapat pengadilan, dimanakah keadilan bagi korban kejahatannya? Di atas muka bumi ini, ada orang-orang yang dibunuh, ada orang-orang yang haknya, kesejahteraannya diambil dan direbut oleh orang dan sampai matinya tidak pernah dipulihkan kembali. Jikalau kematian menjadi akhir daripada segala-galanya, dimanakah keadilan bagi mereka? Di atas muka bumi ini, ada anak-anak Tuhan yang karena imannya mereka mengalami penganiayaan; dan karena memberitakan kebenaran, mereka justru ditangkap dan dipenjarakan bahkan dibunuh. Jikalau kematian menjadi akhir daripada segala-galanya, dimanakah keadilan bagi mereka? Yesus memberikan penghiburan bagi mereka, bukan berarti mereka akan terhindar dan lepas dari hal itu. Tetapi kalimat Tuhan Yesus adalah: “Hai engkau hamba-hambaKu yang menderita, engkau yang diperlakukan dengan tidak adil, engkau yang dibunuh karena memberitakan nama Yesus, engkau yang mengasihi orang tetapi engkau difitnah dan dibenci, engkau yang memberikan pertolongan dengan tanpa pamrih tetapi engkau tidak pernah mendapatkan pujian orang, masuklah hamba-hambaKu yang setia dan turutlah ke dalam kebahagiaan Tuanmu.” Kelak dalam kekekalan Allah akan memberi sukacita sebagai ganti bagi penderitaan kepadamu. Dan Tuhan Yesus mengingatkan, “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah kepada Allah yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Matius 10:28). Fear to the Lord! Takutlah kepada Tuhan! Manusia di dunia ini hanya sanggup membunuh tubuh kita, tetapi setelah itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi (Lukas 12:4). Kelak orang-orang jahat itu akan mengalami kematian yang jauh lebih menakutkan dan kematian itu tidak bisa dikalahkan dan ditolong oleh yang lain, kecuali diselamatkan oleh Yesus Kristus yang telah bangkit itu.
Yang ke tiga, kebangkitan Yesus Kristus mengingatkan kepada kita bahwa satu kali kelak akan ada satu “great reversal” pembalikan besar yang akan terjadi. Kisah yang dicatat Lukas 16:19-31 adalah satu kisah yang sangat penting sekali mendahului akan kebangkitan Yesus. Yesus menceritakan kisah ini sebagai satu peringatan akan apa yang akan terjadi pada waktu nanti seseorang bertemu dan berhadapan dengan Allah setelah kematiannya. Kisah ini Yesus sampaikan dalam konteks yang sangat jelas sekali, konteksnya adalah pada waktu Yesus mengajar dan berbicara akan hal-hal rohani di tengah-tengah orang-orang yang memiliki gelar, jabatan dan kedudukan sebagai rohaniawan yaitu orang-orang Farisi, pemimpin-pemimpin agama, Sanhedrin, orang-orang yang berjabatan penting di bait Allah, mereka yang menjadi guru dan pengajar di sinagoge-sinagoge di seluruh Israel. Jubah mereka adalah jubah yang mewah dan mahal terbuat dari kain ungu yang hanya bisa dibeli oleh orang-orang kaya. Mendengarkan firman yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, bukannya bertobat dan memeriksa diri, mereka bereaksi mencemooh dan mengejek Dia. Kepada mereka Yesus berkata, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah” (Lukas 16:14-15). Engkau menyatakan diri hebat, engkau kelihatan luar biasa di depan mata orang, engkau dikagumi oleh orang sebagai rohaniawan, tetapi Tuhan melihat hatimu, dan sangat menakutkan, Tuhan membenci kemunafikan hidup seperti itu. Kepada orang-orang yang membenarkan diri, yang kelihatan rohani, baik dan suci, di dunia ini orang bisa memuji dan mengagumi engkau tetapi satu kali kelak engkau akan tahu yang Allah lihat adalah hati yang tidak kelihatan, respon orang kepada Tuhan, dan akan ada satu pemutar-balikan yang besar yang akan terjadi. Betapa menakutkan pada waktu orang-orang itu berdiri di hadapan Allah dengan mengenakan jubah kebesaran dan kekayaan, dan Allah menolak mereka. Maka Yesus memberikan kisah ini untuk mengingatkan bahwa setelah kematian kelak semua orang akan berdiri di hadapan tahta Allah dan di situ akan terjadi satu great reversal. Dalam kisah ini ada seorang kaya yang hidup dalam kemewahan dan setiap hari berpesta-pora. Lalu kontras ada seorang pengemis yang hina dan miskin, yang temannya cuma anjing-anjing yang berkeliaran di sekelilingnya, yang tidak pernah dihargai oleh dunia ini. Pada waktu mereka berjumpa dengan Tuhan, terjadi pembalikan yang besar luar biasa. Di atas muka bumi ini jelas sekali orang kaya itu punya nama dan jelas orang-orang mengenal dia. Tetapi di surga tidak memberi nama kepada orang kaya ini, tetapi surga memberi nama kepada orang yang terhina dan nama orang itu adalah Lazarus, yang artinya “Allah adalah Penolongku.” Namun kisah ini bukan bicara soal kaya dan miskin yang menjadi status yang menyebabkan seseorang diterima atau ditolak Allah. Kita bisa melihat beberapa hal yang menjadi dasar yang diangkat dalam percakapan antara orang kaya ini dengan Abraham. Pertama, orang kaya ini mengenal siapa Abraham, berarti orang kaya ini adalah orang yang belajar akan kitab suci, orang yang punya akses untuk mengenal Tuhan melalui firmanNya. Tetapi dari sikap hidupnya nampak bahwa Tuhan dan firmanNya tidak pernah menjadi sesuatu yang penting bagi dia. Sekalipun dia mempunyai akses untuk mengenal Tuhan dan membaca firmanNya, dia tidak peduli dan tidak mau dengar. Itulah respon dan sikap hati orang itu terhadap firman Tuhan. Yang ke dua, kita bisa lihat mentalitas dan sikap arrogant dari orang kaya ini yang masih tetap ada walaupun sudah berada di alam maut dia tetap saja merasa dialah pusat dan sentral, dia yang patut dilayani sehingga dia bilang: suruhlah Lazarus datang memberi air kepadaku. Bukankah sebagai orang yang dalam kesulitan dan kebutuhan, sewajarnya dia meminta pertolongan dengan rendah hati. Tetapi itulah tragis hidup manusia. Problemnya adalah problem hatinya; dia hanya ingin menjadikan dirinya senantiasa menjadi pusat daripada hidupnya. Rev. Tim Keller berkata neraka itu adalah arah akhir dari hati dan jiwa seseorang [the trajectory of human heart] yang hanya berpusat kepada dirinya sendiri dan hanya berpusat kepada nafsu diri sendiri. Singkatnya, neraka itu adalah pilihan kebebasan seseorang untuk mau tinggal di luar dari anugerah Allah. Yang ke tiga, orang kaya ini menyuruh Abraham mengirim Lazarus untuk memperingatkan saudara-saudaranya yang masih hidup untuk tidak hidup seperti dia, Abraham berkata kepadanya: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi. Tetapi orang kaya ini bilang, itu tidak cukup. Untuk membuat mereka bertobat, perlu bukti yang lebih daripada itu. Tetapi Abraham berkata: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati (Lukas 16:27-31). Artinya, jikalau mereka tidak mau peduli dan mendengar pengajaran itu, maka sekalipun ada satu orang yang sudah bangkit dari kematian, masih tidak cukup menjadi bukti untuk membuat mereka bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Seperti filsuf Inggris abad 20, Bertrand Russel menulis buku “Why I am not a Christian,” mengatakan tidak ada cukup bukti dan alasan yang memuaskan dia untuk menerima Kekristenan itu. Maka sekalipun kubur Yesus kosong sebagai satu bukti kebangkitanNya yang begitu jelas dan nyata pun tetap tidak akan menjadi kekuatan yang besar untuk membuatnya bertobat dan percaya. Orang kaya ini bukan kurang bukti, bukan kurang peringatan, bukan tidak ada mujizat, bukan tidak ada kesaksian dari firman Allah dan bukti dari kebangkitan Yesus Kristus. Sekalipun Yesus bangkit, Yesus memberikan firman, ada suara nabi di dalam sepanjang sejarah, tetapi mereka tidak peduli dan tidak mau dengar. Dan jikalau mereka tidak mau peduli dan mendengar pengajaran itu, selama-lamanya mereka tidak akan peduli dan dengar baik-baik. Banyak orang tidak mau beragama, tidak mau ke gereja dan mereka orang-orang yang mencari kesuksesan, kenikmatan, kekayaan diri, mereka adalah orang-orang yang kemudian menganggap agama itu menjadi penghalang, maka mereka tidak mau beragama dan menghina orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Yang menjadi hal yang sangat ironis sekali adalah kenapa orang-orang Farisi yang menjadi pemimpin dan pengajar di dalam sinagoge, imam-imam yang sangat beragama dan religius justru dikatakan oleh Alkitab mereka adalah pecinta uang, hamba-hamba uang? Sekarang agama menjadi komoditas, sumber pendapatan; agama menjadi sumber keserakahan. Sambil beragama, sambil meraup kekayaan. Sambil beriman percaya Yesus, sambil sukses. Itu win-win solution. Di dalam jubah keagamaan mereka bisa menutupi keserakahan hati mereka dari mata orang, tetapi mereka tidak bisa menutupnya dari pandangan mata Tuhan.

Bencana pandemi virus corona yang melanda seluruh dunia hari-hari ini juga berdampak besar kepada pekerjaan dan ekonomi. Begitu banyak orang kehilangan pekerjaan dan tidak punya pemasukan, toko yang tadinya besar menjadi kecil; toko yang tadinya megah sekarang tutup dan entah kapan bisa buka lagi; satu perusahaan yang tadinya memiliki banyak karyawan, sekarang tidak punya uang untuk membayar gaji karyawannya; semua ini terjadi hanya dalam waktu satu bulan saja. Kita sedih, kita prihatin, kita juga mengalami hal yang sama. Namun sebagai anak-anak Tuhan,
bencana ini men-stirrup cawan kehidupan kita, menjadi satu wake up call dari Tuhan yang membawa kita berpikir ulang apa yang sesungguhnya harus menjadi hal yang paling penting dan paling berharga ketika materi, kesuksesan, kejayaan, kesehatan dan kenyamanan hidup semua tidak lagi kita miliki. Bersyukur kepada Tuhan, jauh lebih baik sekarang pada waktu kita masih hidup terjadi great reversal Tuhan menggoncang-balikkan hidupmu karena itu berarti Tuhan sayang kepadamu. Jauh lebih baik kita yang hari ini kaya tiba-tiba menjadi bangkrut; jauh lebih baik kita yang kuat dan sehat ini sekarang berada dalam sakit dan kelemahan; jauh lebih baik kita yang selama ini bangga dan sombong dengan segala kesuksesan dalam beberapa bulan saja semua itu hilang dan habis lenyap. Jauh lebih baik semua itu membawa kita kembali kepada Tuhan hari ini daripada great reversal itu baru terjadi sesudah kematian itu datang kepada kita karena sudah terlambat. Bagi engkau yang berada dalam keraguan, dalam keputus-asaan, ataupun dalam pencaharian akan Tuhan, biarlah firman Tuhan hari ini menjadi firman yang engkau repon dengan benar, hari ini engkau kembali kepada Tuhan sebelum waktumu menjadi terlambat. This is the time, inilah waktunya jikalau engkau mengalami begitu banyak hal yang menjadi satu peringatan dari Tuhan supaya engkau mencari dan memegang Tuhan selama-lamanya.

Dan kepada anak-anak Tuhan yang diterpa dan berada di tengah bencana seperti ini biarlah firman Tuhan ini menjadi kekuatan bagi engkau dan saya. Ada orang-orang yang kita kenal dan kita kasihi, keluarga kita yang terdekat mengalami penderitaan dan mengalami kematian karena terpapar oleh virus ini. Dan kematian yang datang dengan tiba-tiba dan mendadak membawa kedukaan yang besar dan tidak mempersiapkan hati keluarga yang ditinggalkan mengalami menghadapinya. Namun firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 4:13-18 ingatkan kita ketika orang-orang yang kita kasihi meninggal dunia, di tengah kita sedih dan berduka, kita tidak berduka seperti orang-orang yang tidak mempunyai pengharapan. Tuhan tidak melarang kita berduka, tetapi duka kita adalah duka di dalam pengharapan. Dan pada waktu kita berada dalam keadaan sakit dan di tengah duka seperti itu kebangkitan Kristus menjadi satu pengharapan bahwa satu kali kelak kita akan mengalami kebangkitan tubuh juga. Engkau yang dalam keadaan sakit yang panjang dan berat, engkau yang cacat dan dalam kelumpuhan dan kebutaan, engkau yang memiliki anak yang cacat mental, jangan menjadi tawar hati, sedih dan kecewa karena pengharapan dalam kebangkitan Kristus adalah pengharapan yang kita nantikan karena satu kali kelak Tuhan akan memberikan tubuh kemuliaan itu. Kita semua akan dibuat sama seperti Kristus, beautiful, indah, tidak ada lagi sakit-penyakit, tidak ada lagi kematian. Kiranya firman Tuhan ini memberikan kekuatan dan pengharapan kepada kita. Hal yang paling sulit bagi kita di tengah kedukaan adalah karena kita harus mengambil keputusan apakah kita membiarkan hidup kita terus dicengkeram oleh kesedihan karena kematian orang yang kita cintai, kita terus berlanjut di dalam kedukaan karena kita tidak mau membiarkan semua hal yang menyedihkan yang terjadi dalam hidup kita itu berlalu, ataukah kita mengambil keputusan untuk memakai energi dan kasih kita, waktu kita sekarang kepada orang-orang yang masih hidup, kepada keluarga yang kita cintai, dan kepada masa depan. Itulah arti daripada kebangkitan. Dan biarlah kebangkitan Kristus menjadi milik kita; kubur yang kosong menjadi kekuatan dan kepastian bagi setiap kita untuk menjalani hidup ini.(kz)