Pandemi Covid 19, Jaga Hati, Jaga Emosi

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Pandemi Covid 19, Jaga Hati, Jaga Emosi
Nats: Mazmur 131:1-3

“Nyanyian ziarah Daud: TUHAN, aku tidak tinggi hati dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya” (Mazmur 131:1-3).

Mazmur 131 adalah satu mazmur ziarah yang singkat dan pendek tetapi mempunyai makna yang begitu dalam untuk kita renungkan di dalam perjalanan di tengah-tengah pandemi covid-19 ini. Mazmur ini indah luar biasa karena ada satu lukisan yang dipakai begitu unik di sini. Pemazmur memakai lukisan kasih sayang Allah seperti seorang ibu yang sedang dalam proses menyapih, melepaskan anak itu dari air susu mamanya. Itulah saatnya anak itu berhenti dari kebergantungan minum air susu ibunya supaya dia bisa makan makanan solid. Itulah saatnya anak itu bertumbuh dari seorang bayi menjadi seorang anak. Supaya dari anak dia bisa menjadi remaja, dari remaja dia menjadi dewasa. Itulah proses maturity. Anak itu dari keadaan secured, selalu mendapatkan makanan saat dia lapar, dia menikmati kasih dan sayang dari mama, hangatnya dekapan mama, dia bisa tidur dengan kenyang, nyaman dan aman dalam dekapan itu. Tetapi hari itu sekalipun dekapan itu tetap sama, sayang mama kepada anak itu tetap sama; tiba-tiba dia tidak mendapatkan apa yang dia mau, dia dilepaskan dari susu mama. Ini satu perubahan yang tidak gampang; sesuatu hal yang mendadak terjadi. Kita sebagai orang yang sudah besar melihat itu mungkin sebagai hal yang sepele, tetapi kalau kita lihat itu dari kacamata anak kecil itu perubahan itu adalah sesuatu yang luar biasa berat dan sulit adanya. Kita yang memiliki anak bisa melihat pergumulan seorang bayi dalam proses ini tidak gampang. Bisa berhari-hari dan bermalam-malam tidak berhenti menangis bahkan meraung-raung meminta susu dari mamanya, teriakan tangisan dari anak itu bisa begitu panjang dan lama. Anak itu tidak sabar menjalani proses ini. Berbeda dengan jaman sekarang, jaman dulu tidak ada susu formula. Kalau jaman sekarang anak bayi bisa disapih sejak umur 6 bulan sampai umur kurang dari 1 tahun, jaman dulu paling tidak anak itu umur 2 – 3 tahun baru mulai disapih untuk lepas dari susu mamanya. Sebagai anak umur 2 – 3 tahun, apalagi kalau dia anak yang berpendirian kuat, untuk melepaskan dia dari air susu mama sulit luar biasa, satu perjuangan dan peperangan yang tidak gampang dan tidak mudah. Dia masih belum bisa mengerti kenapa mama menolak untuk memberikan apa yang dia butuhkan yaitu air susu yang selama ini mengisi kebutuhannya. Dia bingung dan tidak bisa memahami bahwa sikap mama itu bukanlah suatu rejection, suatu penghukuman, suatu kemarahan atau kebencian kepada dia. Anak itu menangis karena dia merasa tidak dicintai dan dikasihi oleh seorang yang selama ini begitu dekat, bahkan sangat dekat dan erat, sumber hidupnya. Sampai pada satu momen dia berhenti menangis, dia berhenti meraung dan meronta, dia berhenti marah dan sedih, dia berhenti dari kebingungan dan mencurigai kasih mama. Dia berbaring dan percaya bahwa kasih mama tetap sama dan tidak pernah berubah. Dia diam dan tenang berbaring di sisi mama, tidak lagi mempertanyakan dan meminta. Sama halnya dengan hidup spiritual kita menjadi dewasa di dalam Tuhan, itulah proses yang digambarkan pemazmur di sini. Apa yang kita belajar dari firman Tuhan ini dalam konteks hidup kita sekarang ini? Yang pertama, bagaimana kita memahami dan mengerti pendewasaan yang Allah sedang kerjakan di dalam hidup kita dan seperti seorang anak yang baru disapih bisa berbaring tenang di samping ibunya, kita juga dengan tenang dan tentram bisa membawa hidup kita trust dan percaya bahwa kasih Allah tidak pernah berubah kepada kita. “Like a weaned child who no longer cries for its mother’s milk. Yes, like a weaned child is my soul within You, o Lord.”

Di tengah-tengah konteks kita mengalami pandemi covid-19 ini, kita menyadari begitu besar bahaya dari virus ini begitu agresif bisa menular kepada siapa saja, khususnya bagi orang-orang tua, sehingga beberapa minggu terakhir ini kita harus tinggal di rumah untuk supaya virus ini tidak cepat menyebar luas. Dalam bahasa sehari-hari yang kita dengar adalah “flattened the curve.” Flattened the curve mempunyai tujuan agar kita berusaha agar jumlah penderita virus ini tidak melonjak dan orang-orang yang sakit itu bisa ditangani dengan baik di rumah sakit. Tetapi tinggal di rumah tidak membuat virus itu lenyap dengan begitu saja, dia tetap ada di sekitar kita. Mari kita bayangkan, walaupun ilustrasi ini tidak sebanding dengan virus corona, sama seperti sdr dan saya bersama dengan keluarga pergi ke hutan, lalu kemudian tiba-tiba ada seekor harimau hendak menyerang kita dan kita lari bersembunyi di sebuah gua untuk menghindar dari kejaran harimau itu. Setelah beberapa waktu di gua itu, mulai kita bertanya-tanya, kapan kita bisa keluar dengan aman? Maka kita perlu menunggu harimau itu ditangkap, atau setidaknya harimau itu bosan menunggu kita keluar akhirnya pergi sendiri, atau kita berharap ada orang-orang yang berusaha merantai harimau itu sehingga dia tidak bisa berkeliaran lagi sehingga kita bisa keluar dari persembunyian kita. Tetapi kita tidak bisa membayangkan hal yang sama dengan virus ini karena virus ini tidak kelihatan. Namun setelah sebulan lamanya tinggal di dalam rumah kita bertanya-tanya kapan kita bisa ke luar. Kalau kita bertanya kepada ahli virus maka yang kita perlukan menghadapi pandemi covid-19 ini adalah vaksin. Selama vaksin itu belum ditemukan, sampai kapan kita harus menjaga jarak? Karena kita tahu virus ini bukan seperti harimau, bukan seperti api, atau seperti peperangan dimana kita bisa lari menghindar dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah sesuatu kondisi dan keadaan yang tidak bisa kita lihat di dalam hidup kita. Akhirnya perlu test, hari ini test hasilnya negatif, tetapi belum tentu menjamin kalau setelah itu kita akan tetap negatif. Sampai kapan harus test terus, karena yang kita takutkan adalah ada orang-orang yang asymptomatic kepada virus ini, yang tidak ada gejalanya. Itulah sebabnya hari ini kita sama-sama tinggal di rumah, kita sama-sama kerja dari rumah, agar virus itu tidak menyebar. Situasi ini tidak menjadi sesuatu yang nyaman. Tetapi memang ini bukan waktunya untuk mencari kenyamanan, ini bukan waktunya holiday. Kita menjadi orang yang bukan egois dan hanya memikirkan diri sendiri dan keamanan diri kita sendiri. Kita simpati karena kita tahu ada orang yang kondisinya lebih buruk daripada kita; ada orang yang perekonomiannya lebih kurang daripada kita. Flattened the curve juga membuat semua yang lain menjadi rata. Kita menyaksikan kondisi ekonomi menjadi hal yang begitu berat dalam beberapa minggu terakhir ini. Dan bukan saja usaha kecil, kita juga melihat dan menyaksikan perusahaan-perusahaan yang besar juga mengalami kesulitan dan tidak sedikit mengalami kebangkrutan dimana-mana. Ada kondisi ekonomi dan kondisi perekonomian yang kita tidak sendirian menanganinya. Bahkan sebagai komunitas gereja, atau komunitas yang lebih besar daripada itu, kita perlu gotong-royong. Tetapi kekuatan dan kemampuan kita tidaklah sanggup untuk mengerjakan hal itu. Kita bersyukur jikalau Pemerintah boleh memikirkan dan mengatur sebaik-baiknya. Kita bersyukur ada relief yang diberikan kepada kita. Namun bukan saja kondisi ekonomi yang kita pikirkan; kita bisa tolong, kita bisa bantu semampunya, kita menjadi orang yang berbagian meringankan beban orang lain walaupun kita juga mengalami dampak yang sama tetapi kita tidak boleh menjadi orang yang egois.

Yang ke dua, bukan hanya jaga jarak saja yang perlu kita pikirkan, tetapi mari kita belajar juga menjaga hati dan menjaga emosi kita. Khususnya selama kita tinggal di rumah kita masing-masing, mari kita persiapkan hati dan emosi kita. Karena ada beberapa peristiwa dan berita yang menyedihkan sekali, kita mendengar berita bahwa angka perceraian akibat tinggal di rumah menjadi meningkat. Demikian juga angka tindakan kekerasan dan abuse antara suami isteri, dan kepada anak-anak, menjadi lebih besar. Ada kecemasan, ketakutan dan kekuatiran dan ada verbal dan physical abuse, kita sedih peristiwa itu terjadi. Sebagai anak-anak Tuhan, kita bukan saja tinggal di rumah agar kita tidak jatuh sakit, namun mari kita juga jadikan rumah kita tidak sakit. Kita menjaga hati kita, kita menjaga keluarga kita, kita jadikan rumah kita menjadi rumah yang sehat adanya. Kita tahu mungkin di rumah kita tidak bekerja tetapi pekerjaan itu tidak lagi menjadi sesuatu yang dapat kita sandari. Bisa jadi dua tiga bulan dari sekarang perusahaan dimana kita bekerja tidak lagi bisa membayar honorarium kita, pekerjaan itu tidak bisa kita dapatkan lagi. Mungkin kita terjaga di rumah dari virus dan penyakit, tetapi ada banyak hal yang terjadi akibat pandemi ini yang memberikan perubahan yang besar yang terjadi secara mendadak dalam hidup kita, perubahan-perubahan yang dalam banyak hal tidak bisa balik lagi seperti sebelumnya. Kapan kita bisa keluar rumah, kapan kita bisa ke gereja lagi, mungkin kita sudah rindu untuk bersama-sama berbakti, kita adalah mahluk sosial, kita ingin berbakti dan bisa kumpul-kumpul lagi. Tetapi pada waktu nanti kita keluar dari rumah dan masih belum ada vaksin dan virus itu masih berada di sekitar kita, kita juga akan melihat perubahan-perubahan yang besar dalam pelayanan. Entah kapan kita bisa bersama-sama lagi duduk dengan banyak orang dalam gereja. Fase-fase ini adalah fase-fase yang tidak gampang untuk kita jalani dan pada waktu perubahan-perubahan yang besar terjadi, jangan biarkan hal itu yang mempengaruhi kita tetapi bagaimana respon dan kondisi hati kita yang paling penting. Biar di tengah perubahan seperti itu hati kita juga dijaga oleh Tuhan; jangan ada hal yang negatif keluar, jangan menjadi seorang yang tidak sabaran sekalipun engkau jemu dan bosan. Kita persiapkan hidup kita berjalan di dalam perjalanan yang panjang menghadapi pandemi ini, ini bukan seperti pertandingan lari sprint, tetapi lebih seperti pertandingan lari maraton. Sekalipun kita tidak tahu berapa panjang perjalanan dan seperti apa perjalanan yang akan kita jalani, tetap respon dan sikap hati kita berjalan dengan iman. Biar hari ini melalui peristiwa ini bukan saja ini menjadi perkataan di mulut tetapi sungguh menjadi hal yang kita alami dalam hidup kita; kita jalan setiap bulan Tuhan berkati, pimpin sehari lepas sehari. “Mari kita beriman kepada Tuhan,” itu gampang dikhotbahkan, gampang dibicarakan, gampang kita katakan, tetapi pada waktu tiba saatnya Tuhan mengatakan proses itu real dan nyata untuk mendewasakan kita seperti anak yang disapih dari susu mamanya, betapa tidak mudah. Kita bisa marah, kecewa, bingung tidak mengerti, kita menjadi tidak sabar, kita mau cepat-cepat lewati semua prahara dan kesulitan ini. Kita mau teduh dan nyaman sambil minum air susu; tetapi pemazmur berkata biarlah aku tenang dan teduh seperti anak yang sedang dilepaskan dari susu mama, itu adalah satu kontras yang luar biasa.

Hari ini mungkin semua usahamu habis, pekerjaanmu hilang, pemasukan tidak ada lagi dan banyak hutang-hutang jatuh tempo harus kita bayar. Di situ kita mulai marah, kita mulai tidak sabaran. Apalagi di era modern seperti ini dengan kemajuan teknologi, saya percaya, kita punya jiwa kesabaran kalah dan hilang dibandingkan dengan orang-orang jaman dulu. Kita mudah emosi, tidak sabar. Kita ingin semua cepat berlalu segera, dan pada waktu ada hal-hal yang tidak terduga terjadi, terkadang kita tidak jaga emosi kita. Jaga hati kita hari ini teduh dan tenang. Itu lawannya adalah impatient. Tidak sabar. Hari-hari ini ada banyak orang tidak sabar ingin pandemi covid-19 ini cepat lewat. Ada banyak pendeta juga tidak sabar, dia pikir dengan meniup dengan nama Tuhan virus corona itu pergi, biar cepat-cepat pergi dalam nama Yesus! Saya tidak meragukan dalam nama Yesus kuasa Allah bekerja. Saya tidak meragukan Allah sepenuhnya in control dalam segala sesuatu. Saya tidak meragukan kita berdoa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Ia dengar dan Ia punya kuasa mendatangkan mujizatNya. Cuma saya pertanyakan mengapa kita selalu diajarkan arti iman bersandar kepada Tuhan berarti segala sesuatu kesulitan dan problem langsung lenyap seketika begitu saja? Kenapa kita selalu diajarkan bahwa beriman itu berarti Tuhan jawab sekarang juga? Kenapa kita sudah melepaskan unsur beriman kepada Tuhan di dalam penantian, proses waktu, ketekunan dan ketabahan di dalamnya? Paulus berkata, “Kita bermegah di dalam kesengsaraan karena kita tahu kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Roma 5:3-4). Petrus dan Yakobus juga mengatakan hal yang sama (2 Petrus 1:5-6, Yakobus 1:2-3). Melihat ke depan dengan panjang sabar, dengan tekun, dengan tabah, tahan dengan sabar di situ. Dalam situasi seperti ini biarlah Allah mengerjakan bagiannya Allah di dalam memelihara, mengatur, mengontrol dan menyatakan kasihNya kepada engkau dan saya. Itu adalah bagian Allah. Namun biar kita di dalam peristiwa seperti ini kita mengerjakan bagian dari kita juga, yaitu kita sabar, kita tekun, kita bertahan melewati badai seperti ini. Bukan di dalam ketidak-pastian, bukan di dalam keputus-asaan, bukan di dalam impatient spirit, tetapi di dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan. “Sesungguhnya aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.” Proses ini adalah sebuah proses yang Tuhan pakai untuk kita bertumbuh dan belajar menjadi dewasa di dalamnya.

Situasi yang berubah ini bisa membuat hati kita dipenuhi dengan rasa marah, malu dan guilty. Kita mungkin merasa dipandang sebagai orang yang gagal. Tetapi mari kita berhenti dari perasaan-perasaan negatif itu. Ketimbang menjadi marah, malu, guilty, dan merasa gagal, berikanlah encouragement satu sama lain di dalam Tuhan. Itu bukan salah siapa-siapa. Itu bukan salah suamimu, itu bukan salah isterimu, itu bukan salah orang lain, itu bukan salah situasi ini. Kita percaya Allah akan melakukan sesuatu yang indah di tengah kita tidak mengerti kenapa Ia mengijinkan hal-hal ini terjadi. Saya tahu dan saya mengerti betapa ini tidak gampang dan tidak mudah sebab ketika ada anggota keluarga yang sakit, atau kita lupa melakukan sesuatu kemudian terjadi kegagalan, mudah sekali kita mempersalahkan orang lain. Kita mempersalahkan suami, isteri, anak sebagai penyebab hal-hal ini terjadi. Lalu hati kita mulai putus asa dan dipenuhi dengan penyesalan, dsb. Semua itu berangkat karena apa yang kita pikir dan kita cita-citakan, apa yang kita inginkan tidak tercapai. Tahun ini mungkin kita baru memulai usaha, kita memikirkan banyak hal, kita cari pekerjaan, kita pikirkan banyak variable, kita pikirkan resiko, kita pikirkan aspek-aspek yang lain semua pertimbangan, opportunities, timing, cost, dsb. Variable-variable yang lain yang ada, fluktuasi dollar, fluktuasi rupiah, apa saja segala macam. Namun tidak ada orang yang pikirkan variable virus ini datang menyerang dengan tiba-tiba dan bertubi-tubi. Namun semua itu mengajar dan mengingatkan kepada kita agar kita jangan menaruh perlindungan kita kepada hal-hal itu. Tetapi kalimat pemazmur ini dibuka dengan doa ini: Lord, now I am not concerned with these things anymore. Kesuksesan, kejayaan, kenikmatan, itu tidak lagi menjadi yang terutama. Karena semua peristiwa ini mengajarkan kepada kita bukan hal-hal itu yang akan permanen kita pegang. Kita belajar percaya bahwa sekalipun Tuhan berhenti memberi apa yang kita minta bukan karena Tuhan tidak sayang, tetapi kita diajar oleh Tuhan melalui kehilangan ini kita belajar arti sesungguhnya dari rasa puas itu, rasa teduh itu, di dalam pengharapan kepada Tuhan. Paulus bisa berkata di dalam penjara: aku telah belajar mencukupkan diri dalam segaka keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam hal kenyang maupun dalam kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:11-13). Tuhan Yesus pernah berkata di tengah perutNya kosong dan lapar, “Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Pada saat-saat seperti ini biarlah setiap kata-kata firman Tuhan ini tidak lagi menjadi kata-kata yang kita dengar hanya berhenti di dalam wacana percakapan, diskusi dan debat teologi dan mulut kita dengan ringan mengamininya tetapi itu sekarang mengendap di dalam kenyataan dan realita hidup kita, dan kita struggle bertumbuh di situ. Kita sungguh membutuhkan kasih setia, anugerah dan perlindungan Tuhan; kita sungguh membutuhkan firman Tuhan yang menjadi pedoman bagi hidup kita. Kiranya firman Tuhan sungguh-sungguh termaterai di dalam pikiran dan hati kita, dan kita kunyah dengan sungguh-sungguh dan dalam di tengah kita sama-sama menangis. Sama seperti anak kecil yang disapih dari susu ibunya, tangisan itu bisa jalan panjang dan lama, sampai dia belajar bukan mama tidak sayang tetapi dia mau anak ini menjadi dewasa. Kita menangis sama-sama dengan begitu banyak orang, kita juga menangis dan minta kepada Tuhan di tengah segala ketidak-berdayaan seperti ini hanya Dia pertolongan kita. Inilah momen kita katakan kepada Tuhan: aku tidak sombong, aku tidak kejar hal-hal yang terlalu tinggi, aku tidak merasa lebih bijaksana daripada Tuhan. Inilah momen kita tunduk teduh kita datang kepada Tuhan. Banyak pertimbangan kita, banyak kehebatan kita, kalkulasi kita hari ini semua diratakan oleh Tuhan. Apa yang selama ini menjadi hal-hal yang mencengkeram hati kita, kenikmatan dan keindahan yang dicari oleh mata kita selama ini, hari ini biar semua itu tidak lagi mengikat kita. Kiranya Tuhan meneduhkan dan menenangkan hati kita sekarang, karena di dalam dekapan kasihNya kita tahu Tuhan mengasihi kita. Kalau selama ini kita nyaman dan menikmati segala berkatNya dengan limpah, saatnya Tuhan sekarang memberi kita makanan yang padat dan keras, kalau ini saatnya Tuhan sedang menyapih kita, perubahan yang mendadak dan kehilangan yang kita alami, biar di tengah semua proses ini kita menjaga hati dengan indah. Kita mau menjadikan rumah kita sehat dan indah, menjaga hati dan emosi setiap kita masing-masing sebagai suami dan isteri. Jikalau ada kata-kata keluar dari mulut yang saling menyakitkan, membawa kesedihan dan kemarahan dan kekecewaan; ada pertikaian, ada pertengkaran yang terjadi karena situasi seperti ini, biarlah hari ini kita boleh saling mengampuni dan memaafkan, dan kita boleh saling memberikan encouragement satu dengan yang lain di dalam Tuhan. Sehingga pada waktu kita berjalan keluar melewati semua ini kita menjadi orang yang dewasa di dalam Tuhan. Keinginan Tuhan dan kemuliaan Tuhan menjadi yang paling penting dalam hidup kita selama-lamanya.(kz)