Enduring the Storms of Life with God’s Grace

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Enduring the Storms of Life with God’s Grace
Nats: Kisah Rasul 27

Di hari-hari ini, kita bisa mendengar begitu banyak anak-anak Tuhan mengalami hal yang bertubi- tubi terjadi dalam hidupnya. Mungkin itu adalah orang yang kita kenal secara pribadi atau mungkin itu adalah engkau sendiri yang sedang mengalaminya. Ada sakit dan kematian yang secara mendadak terjadi dalam pandemi ini. Ada orang-orang yang kehilangan pekerjaan, toko-toko dan pabrik terpaksa tutup, perusahaan besar dan kecil bangkrut dan terlilit hutang. Kita mungkin bertanya, bagaimana bisa terjadi adversities yang terus-menerus datang bertubi-tubi kepada hidup seseorang yang begitu baik, seorang anak Tuhan yang mengasihi Tuhan seperti ini? Namun pertanyaan yang paling penting adakah kita bertumbuh di tengah segala adversities dan kesulitan yang terjadi di dalam hidup kita? Kita percaya Allah kita adalah Bapa yang baik, yang memberi segala sesuatu dalam hidup kita seturut dengan persetujuanNya yang bijak dan indah bagi kita. Kita percaya tidak ada hal yang datang dan terjadi dalam hidup kita tanpa terlebih dahulu berada di dalam persetujuan dari Tuhan, sehingga tidak ada hal yang mendadak, tidak ada hal yang menjadi nestapa dan tidak ada hal yang terjadi dengan tidak terduga dalam hidup kita. Semuanya itu di dalam kasih setia dan perencanaan Tuhan yang indah adanya.

Sejak awal menjadi anak Tuhan, Paulus tidak habis-habisnya menghadapi adversities dalam hidupnya, bahkan sebagai hamba Tuhan, tidak henti-hentinya bertubi-tubi setiap pergumulan, kesusahan dan penderitaan datang kepada dia. Apa yang dialami oleh rasul Paulus adalah pengalaman hidup yang dialami oleh anak-anak Tuhan yang lain walaupun kasus-kasus yang menimpa dan datang itu berbeda-beda. Begitu banyak perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidupnya secara tidak terduga terjadi bukan oleh sebab keputusan yang dia ambil sendiri dan bukan karena kesalahan dia, tetapi sesuatu yang datang dan timpa kepadanya yang tidak bisa dikontrol. Paulus menjadi seorang tawanan yang ditahan di Kaisarea dan dia harus dibawa berlayar menuju Roma. Kalau kita baca dari Kisah Rasul 21 sampai ke pasal 28 pasal terakhir, empat tahun kesusahan dan penderitaan ini dia jalani, dimulai dari penjara di Yerusalem, dipindahkan ke Kaisarea, dan sampai kepada destinasi terakhir di Roma. Kisah Rasul 21:15 mencatat peristiwa yang sederhana, Paulus tiba di Yerusalem dan bertemu dengan jemaat di sana sambil menceritakan apa yang Allah telah kerjakan di tengah pelayanannya kepada bangsa bangsa lain, kemudian dia pergi ke Bait Allah untuk menjalankan ibadah di sana. Tetapi pada saat dia berada di dalam Bait Allah itu, beberapa orang menyergap dan memukuli dia. Dan mulai dari situ pemenjaraan kepada dia terjadi, dan karena keamanan Paulus sendiri, perwira pasukan memindahkan dia ke Kaisarea. Dua tahun Paulus di Kaisarea, dia berkesempatan bersaksi kepada gubernur Feliks, Festus dan kepada raja Agripa. Mereka semua tidak menemukan kesalahan pada diri Paulus. Namun karena tekanan dari pemimpin-pemimpin agama mereka tetap menahan Paulus di penjara. “Orang itu tidak melakukan sesuatu yang setimpal dengan hukuman mati atau hukuman penjara. Bahkan orang itu sebenarnya sudah dapat dibebaskan sekiranya ia tidak naik banding kepada kaisar” (Kisah Rasul 26:31-32). Karena Paulus ingin naik banding kepada Kaisar, maka diputuskan untuk mengirim dia ke Roma sebagai seorang tawanan, tangan dan kakinya diborgol. Itulah konteks yang melatar-belakangi peristiwa kapal yang karam tema khotbah hari ini: Enduring the Storms of Life with God’s Grace.

Lukas menceritakan perjalanan Paulus menuju ke Roma dalam Kisah Rasul 27 dimulai dengan kalimat ini, “Setelah diputuskan bahwa kami akan berlayar ke Italia, maka Paulus dan beberapa orang tahanan lain diserahkan kepada seorang perwira yang bernama Yulius dari pasukan Kaisar. Kami naik ke sebuah kapal dari Adramitium yang akan berangkat ke pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai Asia, lalu kami bertolak” (Kisah Rasul 27:1-2). Semua kelihatan lancar sampai di sini. Namun selanjutnya situasi menjadi bertolak-belakang, “Selama beberapa hari berlayar, kami hampir-hampir tidak maju dan dengan susah payah kami mendekati Knidus. Karena angin tetap tidak baik, kami menyusur pantai Kreta melewati tanjung Salmone. Sesudah kami dengan susah payah melewati tanjung itu, sampailah kami di sebuah tempat bernama Pelabuhan Indah, dekat kota Lasea” (Kisah Rasul 27:7-8). Dua kali Lukas mengatakan ‘dengan susah payah, dengan susah payah.’ Perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat berat menghadapi angin yang menghempas dari depan sehingga kapal itu tidak bisa berjalan maju dan angin itu tidak berhenti, terus-menerus datang bertubi-tubi. Bagaimana Paulus bersikap menghadapi hal itu?

Melalui Kisah Rasul 27 ini kita bisa lihat Paulus tidak hanya bersikap pasif menghadapi perlawanan angin itu; dia cari jalan, dia memberikan bijaksana pertimbangan kepada nahkoda kapal itu, dan kapal itu juga akhirnya harus berjalan sekalipun tidak bisa maju menghadapi angin. Sama seperti waktu kita jalan menghadang angin yang begitu kuat bertiup, kita tahu betapa susah dan berat berusaha berjalan maju selangkah demi selangkah, bahkan bisa jadi kita akan terpelanting ke belakang. Kapal itu tetap berusaha maju, tetapi tidak mengambil rute yang cepat, tidak mengambil jalan yang lancar, tetapi kapal itu harus berlayar zig-zag, kadang harus berputar mencari jalan yang tidak melawan angin dari depan. Perjalanan itu begitu lambat, satu hari hanya bisa maju beberapa mil saja, dan terkadang harus mundur sebentar supaya bisa mendapatkan satu celah lagi sehingga bisa berjalan lagi dengan susah payah dan begitu berat perjalanan itu.

Apa yang kita belajar dari sini? Tuhan beri kita hati dan bijaksana; kita jangan merasa kalah dan mengundurkan diri dan menyerah. Perlawanan angin itu mungkin susah dan keras, kita tidak sanggup bisa berhadapan langsung tetapi mari kita belajar bagaimana untuk mencari jalan, berani untuk sabar mundur sedikit. Mungkin perjalanan itu panjang, mungkin di situ kita mengalami susah dan sulit, tetapi kita mau hidup kita tidak dikalahkan oleh angin yang besar itu. Ada kemungkinan bukan saja kita kehilangan pekerjaan, usaha kita juga tidak mendapat pemasukan tahun ini, tetapi engkau mungkin juga perlu harus memikirkan akan orang-orang yang ada di bawah naunganmu, para karyawan yang bekerja di perusahaanmu yang bukan saja tidak ada pemasukan, bisa jadi akan ada korban dan juga sacrifice yang besar yang kita harus berikan. Itulah momen dimana kita tahu setiap perlawanan adversity yang datang ke dalam hidup ini akan menjadikan kita sebagai orang yang seperti apa. Tindakan yang kita ambil bukanlah tindakan yang bersifat egois untuk mencari kepentingan dan keselamatan diri kita sendiri; bukan satu sikap seperti itu.

Yang ke dua, menarik di bagian ini ketika Paulus berada di atas kapal bersama-sama melewati badai itu, mereka menjadikan pulau-pulau yang kecil menjadi shelter tempat perlindungan sehingga kapal itu aman dari terpaan dari luar. Ini adalah satu sikap praktis yang perlu kita lakukan dalam kesulitan yang kita hadapi; kita harus mencari, mempunyai, dan menjadi orang yang mencari tempat perlindungan dan shelter yang ada. Isolasi diri di tengah pandemi bertujuan untuk supaya persebaran dari virus itu tidak meluas. Tetapi isolasi diri bukanlah menutup diri dari orang-orang lain. Banyak orang justru menutup diri; akhirnya semakin menutup diri, semakin rasa persoalan itu makin besar membuat dia putus harapan dan akhirnya merasa hidup ini tidak berarti dan berat bagi dia. Jangan menjauh dan menutup diri dari orang-orang yang mengasihimu; jangan tutup diri kepada keluarga-keluarga dan orang-orang yang dekat yang ada di sekitarmu. Tuhan sudah siapkan begitu banyak tempat naungan shelter bagi setiap kita dan Tuhan sendiri adalah shelter yang kepadaNya kita boleh datang berlindung. Mungkin persoalan yang ada dan beban berat yang engkau alami hari ini membuatmu jatuh tertelungkup, namun itulah saatnya kita datang kepada Shelter yang paling penting dengan lutut kita datang berdoa dan mengalami fellowship bersama dengan Tuhan karena fellowship itu adalah fellowship yang free bebas terbuka kapan saja engkau datang kepadaNya. Yesaya berkata, “Sebab Allah menjadi tempat pengungsian bagi orang lemah, tempat pengungsian bagi orang miskin dalam kesesakannya, perlindungan terhadap angin ribut, naungan terhadap panas terik” (Yesaya 25:4). Juga pemazmur berkata, “TUHAN adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan” (Mazmur 9:9, 14:6, 36:7, 94:22). Begitu indah ayat-ayat ini mengingatkan kita, God is our absolute shelter. Selain itu kita juga ingat, ada teman, ada sahabat, ada komunitas gereja yang boleh menjadi tempat perlindungan bagi kita. Jangan malu, jangan merasa mengasihani diri pada waktu engkau mendapatkan pertolongan dari orang lain, mengakui betapa susah dan beratnya beban yang sedang berada di bahumu dan engkau mungkin tidak bisa menolong banyak tetapi engkau mempunyai telinga yang bisa mendengarkan dan menjadi tempat naungan yang teduh bagi mereka. Jangan marah dan kecewa kalau kita harus zig-zag dan tidak bisa maju dengan segera berjalan menghadapi perlawanan angin yang besar.

Yang ke tiga, di bagian ini Paulus mengajar kita membangun persahabatan dengan permusuhan hidup. Paulus tidak menjadi pahit dan marah kepada situasinya. Paulus menyatakan keindahan karakter seorang anak Tuhan yang ramah, yang memperhatikan dan mengasihi di tengah-tengah tawanan-tawanan yang kasar dan bengis. Tawanan-tawanan itu adalah tawanan politik yang sangat berbahaya bagi pemerintah Romawi; tawanan-tawanan yang akan disiapkan untuk menjadi mangsa singa di arena gelanggang gladiator. Ssemua tawanan yang berada di kapal itu tahu bahwa destinasi ke Roma adalah destinasi terakhir dari hidup mereka dimana kematian akan datang kepada mereka. Di kapal itu ada seorang perwira yang bernama Yulius, seorang komandan dari pasukan kaisar. Paulus naik di kapal, diborgol bersama-sama dengan tawanan-tawanan lain, tetapi bagian ini mengajarkan kepada kita, di atas kapal dia tidak menyatakan jiwa seorang tawanan, dia menjadi seseorang yang justru menjadi berkat. Di atas kapal itu dia tidak menyatakan kemarahan, kekecewaan, kebencian, dan berpikir bagaimana meloloskan diri, tetapi justru di atas kapal Paulus akan menjadi seorang penyelamat sehingga tawanan-tawanan yang lain tidak melarikan diri dan tidak dibunuh oleh pasukan tentara. Ini yang Paulus lakukan. Sehingga bagian ini menceritakan ada beberapa hal yang unik luar biasa. Lukas mencatat, “Yulius memperlakukan Paulus dengan ramah dan memperbolehkannya mengunjungi sahabat-sahabatnya, supaya mereka melengkapkan keperluannya” (Kisah Rasul 27:3). Ketika sampai di sebuah kota, Yulius komandan itu memperlakukan Paulus dengan ramah. Yulius mengijinkan Paulus bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Sikap Paulus itu menarik perhatian dan respek dari perwira itu. Paulus bersahabat menyatakan sikap hati dan hidup bukan seperti serang tawanan yang kasar dan penuh kebencian sehingga itu membuat hati Yulius menjadi terkesan kepadanya. Borgol itu tidak menjadi musuhnya; orang yang memborgol dia juga tidak dia jadikan musuhnya.

Kita tidak bisa mencegah permusuhan besar terus-menerus dan bertubi-tubi datang kepada kita, tetapi pada waktu hal-hal itu datang memusuhi hidup kita, kita tidak memusuhinya tetapi justru kita membangun persahabatan dengan permusuhan hidup itu. Kita bisa bertahan, kuat dan sabar menghadapi semua itu. Kita minta Tuhan menguatkan dan memelihara ketika badai dan topan melanda hidup kita, dan biar kita boleh diangkat terbang tinggi di atas badai itu. Itu berarti kita menjadi seorang yang menang atas apa yang kita alami. Menjadi menang, tidak bisa tidak anda harus melakukan respon ini membangun persahabatan dengan permusuhan hidupmu.

Bukan itu saja. Hal yang ke empat, kita melihat betapa pentingnya komunitas sahabat, orang-orang yang begitu baik kepada kita. Dalam bagian ini dikatakan Aristarkhus menyertai Paulus (Kisah Rasul 27:2). Jelas sekali sangat besar kemungkinan Aristarkhus bukan seorang tawanan. Dia adalah sahabat Paulus yang memimpin jemaat di Tesalonika. Dalam surat Paulus kepada jemaat Kolose dan Filemon, Paulus berkata, “Salam kepada kamu dari Aristarkhus, temanku sepenjara, temanku sekerja untuk Kerajaan Allah, yang telah menjadi penghibur bagiku” (Kolose 4:10-11, Filemon 1:23). Selain menyebut Aristarkhus, dia juga menyebut Lukas menyertai Paulus dalam perjalanan itu sampai tiba di Roma. Tetapi pada waktu Lukas mencatat Paulus bersama dengan tawanan-tawanan yang lain lalu dibedakan dengan ‘Aristarkhus menyertainya’ lebih besar kemungkinan kita menyebut bahwa Aristarkhus dan Lukas dengan inisiatif sendiri menemani Paulus di atas kapal tawanan itu. Seorang sahabat dan teman sedang berada dalam kesusahan, ditangkap dan dipenjara selama dua tahun dan sekarang seorang diri sedang dibawa ke Roma, tidak tahu bagaimana kondisi dan keadaannya di situ, maka dua orang sahabatnya ambil keputusan untuk beserta dan bersama menemani dia. Penderitaan Paulus diambil oleh Aristarkhus menjadi penderitaan dia; borgol Paulus diterima oleh Aristarkhus menjadi borgol atas hidupnya, demikian juga oleh Lukas. Itulah keindahan kisah bagian ini. Sehingga Paulus dalam surat Kolose dan Filemon menyebut Lukas dan Aristarkhus dengan sebutan “my fellow prisoners.” Mereka orang bebas yang boleh menyampaikan doa dan memberi support secara finansial kepada Paulus. Tetapi hari itu mereka ambil keputusan untuk melepaskan kebebasan mereka dan menjadi tawanan bersama-sama dia. Paulus tidak bisa menuntut, Paulus tidak bisa memaksa, Paulus tidak bisa menyuruh Aristarkhus untuk melakukan hal itu. Tetapi betapa beruntung memiliki seorang sahabat di tengah penderitaan kesulitan meng-absorb penderitaan kita. Betapa pentingnya komunitas, sahabat dan fellowship seperti itu terjadi dalam hidup kita sebagai orang-orang Kristen. Pada waktu kesulitan dan penderitaan datang bertubi-tubi, secara natural kita bereaksi memprotek diri, menjaga dan memelihara diri dan kepentingan kita sendiri. Namun sebagai anak Tuhan, keindahan sikap kita justru bagaimana meng-absorb, menyerap, menerima juga kesulitan dan penderitaan orang lain menjadi kesulitan dan penderitaan kita. Di situlah kita membangun persahabatan dengan permusuhan hidup. Gereja, orang Kristen yang lain, anak-anak Tuhan yang lain, kita juga tidak terlepas dari persoalan dan pergumulan yang sama yang juga bisa datang kapan saja kepada kita. Tetapi kita bersyukur kita tidak menjadi orang yang menjalaninya tersendiri. Kita bersyukur ada fellowship, sahabat, dan teman yang ikut sama-sama dengan kita dan juga kita belajar menjadi komunitas yang penuh dengan hati yang bersahabat dan absorb others suffering dan kita menjadi “fellow sufferers” bersama-sama dengan orang-orang seperti ini. Di situlah situasi yang sulit bukan menjadi kekalahan kita tetapi justru menjadi kemenangan kita karena kita tidak pernah menjadikan dia musuh di dalam hidup kita.

Kisah Rasul 27:14-26 kemudian menceritakan keadaan mereka semakin memburuk dan selama 14 hari lamanya mereka tidak bisa membedakan siang dengan malam karena baik matahari maupun bintang-bintang tidak kelihatan di langit sementara angin badai yang dahsyat terus-menerus mengamuk di laut sehingga seisi kapal tidak bisa berbuat apa-apa dan kehilangan segala harapan untuk selamat dari badai itu. Betapa luar biasa! Di tengah situasi dimana perwira Yulius dan nakhoda kapal sendiri tidak tahu mesti bertindak bagaimana, justru Paulus menjadi seorang pemimpin yang mengatur, memberi kekuatan untuk mereka tabah dan bahkan memakai kesempatan itu untuk bersaksi tentang Allah yang dia sembah kepada semua orang yang ada di atas kapal itu (Kisah Rasul 27:21-36). Sehingga pada waktu kapal ini akhirnya karam dan tenggelam, Paulus tidak dilihat sebagai seorang tawanan karena Paulus tidak pernah menjadikan borgol dan kapal itu sebagai permusuhan atas hidupnya tetapi dia jadikan itu sebagai platform dari kasih Allah dan anugerah Allah dan menyampaikan Injil Kabar Baik itu. Dia bukan saja melindungi para tawanan, dia juga menjadi berkat bagi tentara-tentara yang ada di atas kapal. Itulah sikap seorang pemenang. Betapa indahnya jikalau kita boleh menyaksikan hati dan hidup anak-anak Tuhan yang menjadi pemenang-pemenang di sekitar kita. Menjadi pemenang di sini bukanlah berarti kita tidak mengalami apa yang dialami orang lain; menjadi pemenang adalah sekalipun situasi dan segala aspek bermusuhan dengan hidup kita, kita menjadikan permusuhan itu sahabat bagi hidupku.

Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Kiranya Tuhan pimpin hati dan hidup kita boleh belajar berespon dengan benar kepada setiap adversity yang tiba kepada kita. Sekalipun tidak henti-henti dan bertubi-tubi permusuhan hidup itu tiba dan datang kepadamu, saya berdoa kiranya engkau melihat sentralitas God’s redemption, kasih karunia Allah yang telah mengangkat dan menjadikan hidup kita yang sudah rusak dan hancur itu berharga di mataNya. Itulah yang menjadi starting point kita. Yang ke dua mari kita memandang salib Kristus, kita tahu cara Allah memberikan penebusan itu kepada kita adalah penebusan yang datang melalui penderitaan Yesus Kristus di atas kayu salib bagi engkau dan saya. Yang ke tiga, saat kita menghadapi perlawanan hidup, mari kita cari jalan sekalipun susah dan berat bagaimanapun, kita terus berusaha maju. Cari shelter yang indah; jangan berhenti berdoa dan membaca firman Tuhan. Kita menemukan kekuatan yang besar di dalam Tuhan, keteduhan dan kenyamanan bukan karena hidup kita berjalan dengan aman dan lancar, tetapi justru di tengah segala angin dan topan dan badai yang sedang kita alami ini, kita boleh mendapatkan keteduhan di dalam Tuhan semata-mata. Singkirkan setiap kata-kata yang negatif, setiap pikiran yang menakutkan dan menguatirkan. Isilah pikiran kita dengan suara daripada kebenaran firman Tuhan yang kuat dan kokoh, yang memberikan encouragement selama-lamanya kepada setiap kita. Ini bukan saatnya kita diam tinggal di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Justru inilah saatnya rumah itu menjadi shelter kita bersama-sama dengan Tuhan. Jangan isolasi diri, karena kita bukan superman. Jikalau kita ada kesulitan dan persoalan, jangan tutup diri kepada orang-orang yang dekat, keluarga dan sahabatmu. Yang terakhir, bangunlah persahabatan dengan permusuhan hidup itu. Di situlah kita belajar tidak pernah menjadikan semua yang terjadi ini menjadi musuh yang sedang menyerang kita, sehingga kita boleh menjadi seorang pemenang dan seorang yang keluar dari adversities itu dengan menyatakan kebesaran anugerah dan kuasa Allah begitu nyata bekerja di dalam hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Kiranya Tuhan berkati dan pimpin semua kita melalui firmanNya pada hari ini.(kz)