In Crisis: Comfort and Hope in God

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: In Crisis: Comfort and Hope in God
Nats: Yesaya 40

“In Crisis: Comfort and Hope in God,” ini adalah seri ke tiga dari khotbah trilogy di tengah krisis pandemik, bicara mengenai respon yang paling penting dalam hidup kita: ketika segala sesuatu habis dan terhilang dan tidak ada lagi yang tersisa dalam hidup kita, apakah kita mencari dan mendapatkan pegangan yang sungguh dan kekuatan itu di dalam Tuhan semata-mata? Karena hanya penghiburan dan pengharapan dari Tuhan yang berbicara dengan sungguh kepada kita di dalam situasi dan konteks yang kita sedang alami.

Firman Tuhan di dalam Yesaya 40 datang kepada nabi Yesaya melalui penglihatan dari Allah untuk melihat satu peristiwa yang akan terjadi 100 tahun ke depan dari masa Yesaya hidup, ketika bangsa Israel sudah berada di pembuangan. Peristiwa pembuangan ke Babel adalah peristiwa yang paling berat dan paling gelap di dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Sebelumnya mereka punya identitas sebagai satu bangsa; mereka mempunyai kerajaan; mereka mempunyai negara; mereka mempunyai pendapatan; mereka mempunyai lahan, ladang dan tanah pusaka; mereka mempunyai pemasukan, mereka mempunya Bait Allah yang megah, yang boleh menjadi satu kebanggaan kepada bangsa-bangsa lain. Semua itu habis dan tidak ada yang tersisa pada waktu penyerangan dari kerajaan Babel. Bait Allah yang mereka banggakan itu hancur dan tinggal puing-puing belaka. Berkali-kali bangsa ini terus-menerus diperingatkan oleh firman Allah, diingatkan untuk setia kepada Allah, menjadikan Allah yang paling utama dalam hidup mereka, tetapi sama sekali firman itu tidak pernah mereka gubris dan hidup mereka tidak pernah mengalami pembaharuan. Yesaya melihat kemerosotan demi kemerosotan seperti itu adanya. Hingga Yesaya 39 berakhir dengan kalimat dari Hizkia kepada Yesaya, “Sungguh baik firman TUHAN yang engkau ucapkan itu!” Tetapi pikirnya: “Asal ada damai dan keamanan seumur hidupku!” (Yesaya 39:8). Inilah sikap dari seorang yang masa bodoh dan tidak peduli peringatan Allah, yang penting asal selama hidupnya segala sesuatu aman, lancar, nyaman. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi di depan.

Yesaya 40 menjadi firman Tuhan yang datang ketika segala sesuatu ini habis dan hilang adanya. Dan pada waktu firman ini datang, firman ini juga tidak mau didengar oleh mereka. Di tengah penderitaan yang besar dan kesulitan yang tiba seringkali kita menyaksikan suara daripada firman Tuhan tidak lagi menjadi kekuatan yang menghibur, tidak lagi menjadi firman yang memberikan keteguhan iman kepada kita, tetapi justru menjadi firman yang begitu berat, dan kita menjadi kecewa dan kemudian kita tidak mau mendengarkannya lagi. Yesaya 40 bicara mengenai hal itu. Di akhir dari Yesaya 40, bangsa Israel yang sudah berada di dalam pembuangan mengatakan, “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku” (Yesaya 40:27). Betapa besar dan beratnya penderitaan kami. Allah tidak lagi memperhatikan kami, Allah tidak lagi mendengar seruan kami. Apakah kami sudah dibuang oleh Tuhan? Mereka menjadi pahit, kecewa dan mempersalahkan Allah.

Pada waktu kita hanya bisa tinggal di rumah beberapa minggu ini, di tengah self-isolation, kita bekerja di rumah masing-masing, kita tahu situasi hidup yang ada di sekitar kita betapa tidak gampang dan tidak mudah. Banyak orang yang telah kehilangan pekerjaan; kita menyaksikan ada orang-orang yang kita kenal berjuang menghadapi virus corona; kita juga sedih karena menyaksikan dan mendengarkan kabar akan kematian dari teman-teman kita, sahabat dan orang yang kita kenal, karena mereka kalah di dalam perjuangan melawan virus ini. Kadang-kadang kita rindu dan ingin situasi ini boleh segera lalu dan pergi; kita ingin vaksin bisa didapatkan dan ditemukan dengan secepatnya, dan kita ingin segera lepas dari situasi ini. Ada orang yang mungkin dua tiga minggu di rumah bekerja sendiri dan kita sudah merasa bosan. Kita tidak sabar karena kita ingin segera kembali kepada kenyamanan kita yang sebelumnya. Kita ingin menjalani hidup seperti yang dulu biasa kita jalani. Kita mau kembali seperti itu. Maka kita bisa mengerti pada waktu nabi Yesaya memberikan firman Tuhan ini kepada umat Tuhan yang nantinya akan mengalami pembuangan di Babel bukan satu dua minggu, satu dua bulan, tetapi 70 tahun lamanya. Mereka akan menjalani penderitaan ini dalam satu jangka waktu yang panjang sampai beberapa generasi adanya, betapa tidak gampang dan tidak mudah. Keadaan yang seperti semula yang lalu dengan segala kenyamanannya, semua itu tidak ada lagi. Maka Yesaya menyampaikan bahwa apa yang mereka alami dalam pembuangan itu adalah tangan Tuhan yang mendisiplin karena Ia mengasihi mereka. Itulah penghiburan yang sejati. Sekalipun mereka kehilangan segala sesuatu, tetapi iman mereka dimurnikan dan persandaran mereka adalah Allah selama-lamanya.

Yang pertama, pegang penghiburan karena Dia mendisiplin kita di dalam kasihNya. Yesaya memulai pasal 40 dengan berkata, “Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya” (Yesaya 40:1-2). Ini adalah kalimat yang indah luar biasa. Pertama-tama, pegang penghiburan Allah, karena Ia mendisiplin oleh karena kasihNya kepada kita. Bangsa Israel sebelumnya dulu merasa aman dan nyaman dengan kondisi dan keadaan hidup mereka. Dan itu semua membuat mereka tidak melihat Allah sebagai satu-satunya yang mereka sembah dan bersandar penuh. Hati mereka bercabang, sikap penyembahan mereka pragmatis dan hanya mencari keuntungan diri. Itulah yang Yesaya tegur dari mereka, “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia? Patungkah? Tukang besi menuangnya, dan pandai emas melapisinya dengan emas, membuat rantai-rantai perak untuknya. Orang yang mendirikan arca, memilih kayu yang tidak lekas busuk, mencari tukang yang ahli untuk menegakkan patung yang tidak lekas goyang” (Yesaya 40:18-20). Yesaya memberikan teguran supaya hati umat Allah setia kepada Allah, tidak boleh ada tambahan sesembahan berhala atau memperlakukan Allah seperti patung berhala.

Pada waktu kita merefleksi apa yang dilakukan bangsa Israel dalam penyembahan dan hidup mereka di hadapan Allah, kita harus mengakui, kita tidak lebih baik daripada mereka. Kita pun hidup dengan mengejar kesuksesan dan semua kecukupan yang kita miliki membuat hidup kita nyaman dan bergantung kepada semua yang kita raih dan kita dapat. Di dalam kenyamanan seperti itu, kemudian kita berpikir mungkin kita perlu “menambah” Tuhan di dalamnya, kita giat beragama dan beramal. Setidak-tidaknya just in case jika ada sesuatu yang salah, masih ada Tuhan di situ. Tetapi Tuhan tidak mau ditempatkan sebagai ban serep dalam hidup kita. Maka pada waktu Tuhan kemudian menggoncangkan dan meruntuhkan semua tempat yang nyaman itu, Ia lakukan itu supaya kita tahu Tuhan bukan menjadi tambahan di dalam kenyamanan yang sudah kita miliki dan bersandar. Ia mau kita beriman dan bersandar dengan penuh kepadaNya. Ia tidak mau kita menjadi orang Kristen yang bercabang hati.

Setiap bencana, setiap resesi, setiap kesulitan yang menimpa pada masyarakat dikarenakan pandemik ini, secara global tidak ada satu orang pun yang luput dan tidak mengalami efek dan akibat dari bencana ini. Hati kita sedih dan simpati kepada orang-orang yang mengalami secara langsung efek corona ini, yang berbaring di rumah sakit, bahkan banyak yang meninggal dunia. Dan betapa sedihnya pemakaman yang begitu sederhana diberikan kepada orang-orang yang meninggal ini. Ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan, ada orang yang berjuang sehari ke sehari karena tidak ada uang dan makanan bagi keluarganya. Kita tidak boleh berkata bahwa ketika bencana itu tiba kepada seseorang berarti orang itu kurang beriman kepada Tuhan. Dan jikalau kita terhindar dari bencana dan situasi ini berarti iman kita lebih disayang Tuhan daripada anak-anak Tuhan yang lain. Efek daripada bencana ini berbeda-beda kepada setiap orang. Dan kita tidak boleh bilang bahwa Tuhan tidak sayang kepada kita dan Tuhan lebih sayang kepada orang yang lain. Tetapi mari kita melihat bagaimana melalui peristiwa, bencana dan kesulitan ini yang terjadi dalam hidup kita.

Allah mendisiplin kita karena kasihNya kepada kita. Setiap kesulitan yang menimpa kita menjadi kesempatan bagi Allah untuk memberikan kekuatan, pemurnian dan cinta kita yang lebih dalam kepada Tuhan. Kita tidak boleh bilang bahwa Tuhan tidak sayang kepada kita dan Tuhan lebih sayang kepada orang yang lain. Tetapi mari kita melihat bagaimana peristiwa, bencana dan kesulitan ini yang terjadi dalam hidup kita bukan karena Tuhan ingin menghancurkan kita seperti seorang yang penuh dengan amarah ingin menghancurkan dan merusak. Allah kita lebih seperti ahli bedah yang mendatangkan kesembuhan dan kebaikan bagi setiap kita. Pemazmur mengatakan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mazmur 73:25-26). Di tengah-tengah penderitaan yang kita alami, tetaplah Allah satu-satunya yang menjadi pegangan yang tidak akan pernah mengecewakan kita.

Yang kedua, pegang pengharapan karena Ia pasti akan datang dan menjadikan segala sesuatu indah adanya. Yesaya berkata, “Ada suara yang berseru-seru: Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita. Setiap lembah harus ditutup, setiap gunung dan bukit diratakan. Tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi daratan. Maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama. Sungguh TUHAN sendiri yang mengatakannya” (Yesaya 40:3-5). Ayat ini adalah ayat Mesianik yang kemudian dipakai oleh Yohanes Pembaptis pada waktu orang bertanya tentang siapa dia. Yohanes Pembaptis berkata, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya” (Yohanes 1:19-23). Yesaya bukan saja memberikan penghiburan kepada umat Israel bahwa setelah masa pembuangan itu selesai mereka akan dibawa kembali ke tanah asal mereka, tetapi Yesaya juga memberikan suara pengharapan bahwa 700 tahun yang akan datang Allah akan mengirim seorang Mesias yaitu Yesus Kristus. Melalui kedatangan Yesus Kristus ke dalam dunia, melalui kematianNya di kayu salib dan kebangkitanNya, Allah menyelesaikan persoalan dosa dan kematian, persoalan yang menjadi momok yang sangat menakutkan itu.

Biar firman Tuhan ini juga boleh menjadi pegangan pengharapan bagi setiap kita. Pada waktu orang bertanya kepada kita sebagai orang Kristen: apakah yang menjadi pengharapanmu? Kita tidak hanya bicara bahwa kita percaya kondisi ini akan menjadi lebih baik. Pengharapan kita tidak berhenti sampai di situ. Pengharapan bukan saja merupakan satu “wish” keinginan bahwa situasi dan keadaan akan menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Pada waktu orang bertanya kepada kita, kita akan berkata: Pengharapanku adalah di masa depan aku tahu, aku percaya Tuhanku Yesus Kristus akan datang kembali untuk ke dua kalinya, pada waktu itulah Ia akan menjadikan segala sesuatu indah. Segala air mata akan dihapuskan, sakit-penyakit dan penderitaan akan dihapuskan dan kematian tidak akan ada lagi. Itulah pengharapan yang aku miliki. Pengharapan kita bukan menjadi sebuah ilusi karena pengharapan kita didasarkan kepada fakta sejajarah atas apa yang sudah Tuhan kerjakan di masa yang lalu maka Ia akan menggenapkan di masa yang akan datang sesuai dengan firmanNya. Pegang harta yang indah yang tidak akan pernah hilang daripadamu sebab Ia adalah Allah yang berkuasa dan kita boleh pegang akan janji firmanNya.

Apa bukti dan dasar bahwa Tuhan akan menggenapkan pengharapan itu bagi kita? Yesaya melanjutkan dengan ayat 6-8, “Ada suara yang berkata: Berserulah! Jawabku: Apakah yang harus kuserukan? Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafasNya. Sesungguhnya bangsa itu seperti rumput. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” Pada bagian firman Tuhan ini Yesaya mengingatkan kita ini hanyalah debu, kita ini hanyalah rumput kering, yang sebentar ada, sebentar tidak ada. Bunga yang tumbuh mekar sebentar, lalu kemudian menjadi hilang dan tidak ada. Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita yang tidak bisa kita genggam, tidak bisa kita pegang dan tidak bisa kita kontrol. Semua itu mendatangkan satu sikap hati yang penuh kerendahan kepada setiap kita. Dan saya percaya di tengah-tengah ketidak-berdayaan, seruan yang kita sampaikan saat ini, di situlah kita tahu kita ini hanyalah manusia dari debu adanya. Jikalau apa yang hari ini kita miliki, apa yang kita genggam hari ini dan kita mempersandarkan kenyamanan kita kepada semua itu yang sebentar ada dan segera hilang dan lalu, biarlah pada hari ini melalui firman Tuhan kita diingatkan, yang tidak akan pernah hilang dan lalu adalah firman Allah yang kekal itu; janjiNya adalah setia dan pasti sebab Allah yang berjanji itu adalah Allah yang setia, Allah yang tidak akan pernah lupa akan janjiNya dan sekaligus Ia adalah Allah yang berkuasa, Allah yang sanggup mengerjakan dan melakukan melampaui keterbatasan waktu bagi kita. Pegang apa yang tidak akan pernah bisa hilang dari hidupmu. Itulah yang menjadi kekuatan bagi engkau dan saya. Biar hati kita teduh, jangan biarkan suara-suara lain yang berkata-kata selain daripada suara firman Tuhan pada hari ini. Sudahkah engkau memiliki janji Tuhan Allahmu itu? Sudahkah engkau memiliki kekekalan di dalam Yesus Kristus yang Ia telah berikan kepada kita? Sudahkah engkau pegang janji itu? Sehingga kita boleh berkata satu kali kelak aku akan bertemu dengan Rajaku di dalam kerajaanNya dan menerima segala warisan di dalam kekekalan menjadi harta milik kita yang kita dapatkan di dalam Kristus Tuhan yang mengasihi setiap kita. Itulah yang menjadi kekuatan bagi kita.

Terakhir, peganglah tongkat penggembalaanNya sebab Ia adalah Allah yang lemah lembut di dalam hidup kita. Kepada umat Tuhan yang merasa Tuhan telah mengabaikan mereka, yang merasa Tuhan tidak mendengar doa-doa mereka, yang merasa apakah mereka sudah dibuang oleh Tuhan selama-lamanya, Yesaya memberikan firman Tuhan kepada mereka dengan memberikan satu gambaran lukisan yang begitu indah luar biasa. “Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tanganNya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payahNya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperolehNya berjalan di hadapanNya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternakNya dan menghimpunkannya dengan tanganNya; anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk domba dituntunNya dengan hati-hati” (Yesaya 40:10-11). Our God is a good Shepherd. Kita tentu ingat lukisan indah Tuhan Yesus menggendong seekor anak domba di tengah-tengah sekumpulan domba-domba di belakangNya.

Biar firman Tuhan ini menjadi berkat bagi engkau dan saya pada hari ini. Pada waktu firman Tuhan ini datang, adakah di tengah-tengah situasi itu kita berespon seperti bangsa Israel, kita menjadi kecewa, kita bertanya: apakah Tuhan masih peduli kepadaku, apakah Tuhan masih pelihara aku, adakah seruan doaku didengar olehNya? Masih penuh perhatiankah Tuhan kepadaku? Kepada orang yang seperti itu, percayalah, Gembala kita yang agung mengetahui setiap pergumulan kita. Ia membawa kita ke padang rumput yang hijau dan air yang tenang, menyegarkan dan menguatkan kita. Pada waktu kita berjalan di dalam lembah kekelaman dan bayang-bayang maut, Ia beserta dan memimpin kita. Ada kalanya iman kita kepada Tuhan tidak stabil adanya, seolah seperti kita sedang berjalan di tengah bayang-bayang di tengah perjalanan. Pada waktu ada sinar cahaya, kita bisa melihat di situ ada Tuhan yang berjalan di depan; pada waktu kegelapan melingkupi sekeliling, kita tidak bisa melihat dimana Tuhan. Iman kita seringkali naik turun, pasang dan surut seperti ini. Kita tidak bisa bersandar kepada iman kita, kita harus bersandar hanya kepada Tuhan kita sendiri. Iman kita mengalami fluktuasi. Pada waktu keadaan terang, kita lihat ada Tuhan dan kita yakin Ia beserta kita. Kita bisa bilang, puji Tuhan, haleluya! Pada waktu kita berada di dalam lembah kekelaman yang begitu gelap dan kita tidak bisa melihat Dia, kita menjadi panik, kuatir dan takut, lalu kita mencari pegangan yang lain. Kita lupa Ia tetap ada di situ, hanya kita tidak lihat Dia. Gembala itu tidak pernah meninggalkan kita. Itulah sebabnya Ia berkata di dalam lembah kekelaman Ia berjalan bersama kita. Seperti pemazmur Daud berkata, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut sebab Engkau besertaku” (Mazmur 23:4). Entah berapa panjang perjalanan itu kita tidak pernah berdiam di dalam lembah kekelaman di situ. Kita akan berjalan di dalamnya, bukan karena kita sanggup dan mampu melewatinya, tetapi Gembala kita di depan itu tahu, melewati lembah kekelaman itu ke mana Ia sanggup dan bisa membawa kita. Kiranya Tuhan pimpin dan berkati engkau pada hari ini.

Maka panggilan saya hari ini, mari kita jalani momen ini sama-sama. Kalau sebelumnya engkau memiliki toko yang besar, dengan segala kenyamanan hidup yang ada, dan sekarang itu semua tidak ada lagi; kalau sebelumnya engkau memiliki bisnis yang besar dengan karyawan yang banyak, dan semua itu tidak ada lagi dan engkau harus mulai dari awal untuk membangun hidupmu; kalau sebelumnya engkau ada pelayanan dengan gedung gereja yang besar dan setelah bencana ini berlalu, engkau harus mulai lagi dari awal dan dari bawah, keep strong in the Lord. Setelah melewati badai ini kita keluar, percayalah, Tuhan akan beri kita kekuatan dan penghiburan. Kita bisa membangun bersama dengan Dia. Sekalipun tidak ada lagi Bait Allah yang megah, hanya ada Bait Allah yang sederhana, kemuliaan Allah tetap sama dan hadir di tengah-tengahnya. Biar itu menjadi berkat dan kekuatan yang sungguh bagi kita sekalian. Dan kita boleh berkata, Tuhan, Engkau melihat apa yang ada dalam hidup kami hari ini dan Engkau datang dengan firmanMu memberi kekuatan dan penghiburan kepada kami. Terpuji namaMu selama-lamanya.(kz)