O Death, Where is Your Victory?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: O Death, Where is Your Victory?
Nats: 1 Korintus 15:54-57

“Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Sengat maut adalah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Korintus 15:54-57).

Kapankah waktu yang tepat untuk membicarakan kematian? Saya percaya tidak ada waktu yang dianggap tepat untuk membicarakan topik yang sensitif ini. Kapan pun akan selalu dianggap salah pada waktu kita berbicara mengenai kematian. Waktu orang lagi sehat, lagi senang, lagi lancar dan sukses, lalu tiba-tiba kita bicara mengenai kematian, kita pasti akan merusak suasana. Masakah, di tengah-tengah orang lagi senang, lagi sukses, lagi bahagia dan sehat, kita malah bicara mengenai kematian? Pada waktu orang sedang sakit, lalu kemudian kita berbicara mengenai kematian, kita akan dipandang sebagai orang yang tidak sensitif, seolah-olah kita ingin orang sakit itu cepat-cepat mati. Bahkan lebih lagi, kita dianggap sebagai orang yang kurang beriman, yang kurang kuat di dalam berdoa. Bukankah yang seharusnya kita bicarakan adalah semoga orang itu cepat sembuh, kiranya mujizat kesembuhan terjadi kepadanya, dan bukannya membicarakan kematian? Dengan kata lain, tidak ada waktu yang dianggap tepat untuk membicarakannya.

Tidak heran hal yang sama terjadi pada waktu Yesus mulai membicarakan mengenai kematianNya, murid-murid juga bereaksi negatif. Alkitab mencatat ada tiga kali Yesus pada kesempatan bersama murid-muridNya berbicara mengenai kematianNya. Yang pertama dicatat dalam Matius 16:21-23, Yesus menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ke tiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiKu sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Kali yang ke dua di Galilea Yesus berkata, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ke tiga Ia akan dibangkitkan,” maka hati murid-muridNya itu pun sedih sekali (Matius 17:22-23). Pemberitahuan yang ke tiga, “Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil ke dua belas muridNya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ke tiga Ia akan dibangkitkan” (Matius 20:17-19). Tiga kali Yesus menyebutkan dan berbicara mengenai kematianNya, tiga kali kita melihat murid-murid berespon dengan respon yang sama: ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan kematian. Murid-murid menjadi distressed. Mereka tidak mengerti, tidak memahami apa arti kematian dengan benar. Mereka tidak mau membicarakannya. Mereka takut, kuatir, gelisah memikirkan kematian. Dan sekalipun itu adalah momen-momen di akhir, saat-saat yang semakin dekat sebelum Yesus ditangkap dan mati di atas kayu salib, murid-murid sama sekali tidak mau mendiskusikan hal ini dengan Dia. Murid-murid tidak menggubris ucapan Yesus Kristus.

Kapankah waktu yang tepat berbicara mengenai kematian? Beberapa waktu yang lalu seorang oma memanggil saya datang ke rumahnya, lalu dia membicarakan persiapan-persiapan apa saja yang sudah dia lalukan dan permintaan-permintaan dia untuk penguburan dsb. Beliau mengatakan justru perlu bicara mengenai hal ini sementara dia masih sehat dan masih bisa mengatur segala sesuatunya. Siapkah kita memikirkan mengenai hal ini? Saya harap sebagai orang Kristen kita siap berbicara bagaimana menyongsong akan kematian karena kita mengerti dan mengetahui makna dari kematian itu bagi kita. Kita bicara siap bukan saja mempersiapkan bagaimana bentuk upacara penguburan kita, bagaimana mempersiapkan lahan di mana kita akan dikubur dan bagaimana pengaturannya. Kita bukan saja bicara soal pembagian warisan kepada keluarga dan apa yang ada pada kita yang akan kita beri untuk mendukung pekerjaan dan pelayanan Tuhan, bukan itu saja kita bicara mengenai persiapan akan kematian kita. Seringkali orang Kristen kehilangan Christian worldview menghadapi penderitaan, kesulitan dan bencana. Pada waktu virus corona ini mulai menjalar, orang mulai panik dan ikut-ikut berebut membeli macam-macam barang, karena ketakutan mengenai virus ini. Bahkan agak menyedihkan dan memalukan, sampai-sampai ada yang meludahi dan memukul pekerja di supermarket, ada yang bertengkar dan saling menjambak berebut toilet papers, dsb.

Kiranya hari Jumat Agung ini ketika kita merenungkan makna kematian Yesus di atas kayu salib boleh memberikan kepada kita perspektif yang benar akan kematian. Mungkin banyak dari kita yang feel uneasy dan mengatakan ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan kematian. Namun cepat atau lambat, kematian akan datang ke dalam hidup kita. Dan pada waktu kita mengalami bentuk dan cara kematian oleh karena hal yang tragis, mereka yang meninggal secara mendadak, mereka yang tidak ditemukan jenazahnya karena kecelakaan pesawat yang dahsyat, kita tidak boleh berpikir bahwa kematian mereka adalah kematian yang tidak dignified; bahwa Tuhan tidak mengasihi dan memberkati orang seperti itu. Dengan cara bagaimana kita akan dijemput oleh kematian, itu di luar daripada kontrol kita. Kita mungkin bisa meninggal di dalam tidur, kita mungkin bisa meninggal karena kecelakaan mobil atau pesawat, atau kita mungkin bisa meninggal dunia melalui proses sakit yang panjang dan berat dengan rasa sakit yang begitu dahsyat dan tidak tertahankan sampai kita minta cepat-cepat segera meninggal saja. Dan justru saya rindu kita memiliki Christian worldview yang benar bagaimana sebagai anak-anak Tuhan kita menghadapinya, sehingga apa pun yang terjadi kepada kita, baik waktu hidup kita memuliakan Allah, atau waktu kita mati, kita juga memuliakan Allah (Filipi 1:20). Itu semua oleh karena kita mengerti apa pengajaran dari firman Tuhan mengenai penderitaan dan kematian yang kita alami dalam hidup kita masing-masing. Paulus berkata, “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Roma 14:8).
Kematian Yesus di atas kayu salib adalah satu kematian yang paling buruk dari yang pernah terjadi, yang pernah dialami dan yang bisa dialami umat manusia. Yesus mati tersendiri; murid-muridNya tidak ada di sekitar Dia. Kematian Yesus adalah satu kematian yang hina, satu kematian yang terkutuk. Kalau bukan Yusuf dari Arimatea datang meminta mayat Yesus kepada Pilatus maka jenasah Yesus itu akan dibuang bersama-sama mayat-mayat yang lain ke dalam lubang kuburan massal. Yang ke dua, Yesus meninggal dalam usia yang begitu muda. Yang ke tiga, Yesus meninggal dalam penderitaan yang sangat dahsyat luar biasa, mengalami penyiksaan, agony salib yang memang dirancang untuk memperlambat seseorang untuk segera mati supaya orang itu bisa mengalami dan merasakan kesakitan yang maksimal sebelum akhirnya mati. Seperti seorang yang sedang tenggelam oleh internal bleeding yang ada di tubuhnya, begitu susah untuk bernapas dan sakit yang tidak tertahankan pada segala sendi dan syarafnya. Yesus mengalami kematian seperti itu. Tetapi justru kematian Yesus di atas kayu salib adalah kematian yang harus membawa worldview yang benar bagaimana kita menghadapi kematian. Karena di atas kayu salib semua orang menghina Yesus Kristus, imam-imam yang ada di bawah mengejek Yesus, “Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diriMu. Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” (Matius 27:40). Tetapi di dalam kematianNya kita menyaksikan Yesus memuliakan Bapa di dalam segala hal yang Ia alami. Yesus menjalani proses itu dengan segala keindahan dan keagungan, bahkan Alkitab mencatat ada dua orang melihat proses kematian Yesus di atas kayu salib yaitu penjahat yang disalib di sebelah Yesus dan perwira Romawi yang mengeksekusi Yesus hari itu, mereka Yesus yang disalibkan ini bukan penjahat, bukan orang yang salah. Dari mulut bibirNya tidak keluar caci-maki; di tengah Ia mengalami kematian yang begitu menyakitkan, Ia menyatakan keagungan dan kemuliaan yang besar. “Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: Sungguh, orang ini adalah orang benar!” (Lukas 23:47). Dan penjahat di sebelahnya berkata, “Yesus, ingatlah akan aku jika Engkau datang sebagai Raja” (Lukas 23:42). Puji Tuhan!

Maka saya rindu, hal yang pertama, melalui peringatan kematian Yesus di atas kayu salib pada Jumat Agung ini kiranya kita juga boleh memiliki Christian worldview yang benar pada waktu kita melihat kematian, penderitaan dan kesulitan terjadi dalam hidup kita. Bagi saya, kita harus melihat dengan jelas dan dengan penuh sukacita walaupun penderitaan dan proses kematian itu adalah satu hal yang begitu menyedihkan dan begitu menyakitkan tetapi kita harus ingat: kematian itu sudah dikalahkan oleh Yesus Kristus. Hanya Dia satu-satunya pribadi di atas muka bumi ini yang boleh berkata: Sudah selesai! karena hanya Dialah satu-satunya manusia yang pernah hidup di atas muka bumi ini yang boleh menjadi pengharapan bagi kita, karena kematian tidak bisa menguasai Dia. Tidak ada orang di atas muka bumi ini yang hidup selama-lamanya kecuali Yesus Kristus yang telah bangkit dan menang atas kematian. Itulah sebabnya pada waktu Ia berkata: Sudah selesai! berarti kematianNya bukan akhir, kematianNya bukan suatu kekalahan. Kematian Yesus Kristus adalah kematian kemenangan. Sehingga kematian bagi anak-anak Tuhan bukanlah penghukuman dari Tuhan. Kematian bagi anak-anak Tuhan bukanlah akhir dari kehidupan dia. Kematian bagi anak-anak Tuhan adalah awal kita akan bertemu dan bersama dengan Tuhan kita. Mengapa kita menjadi gelisah, takut, kuatir dan menjadi panik?

Hal yang ke dua, jangan kita selalu mempunyai sikap pokoknya ‘aku harus sembuh, no matter what the cost’ pada waktu kita mengalami sakit terminal illness dalam hidup kita. Betul, kita harus menjaga kesehatan. Jangan karena ignorance dan kelalaian, akhirnya kita merusak kesehatan diri. Pada waktu Timotius sakit, Paulus memberi nasehat kepada dia, “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah” (1 Timotius 5:23). Paulus mengingatkan Timotius untuk minum obat. Kita juga tahu, ada tabib Lukas yang menyertai Paulus di dalam perjalanan misi dan selama Paulus dipenjara. Paulus juga menerima minyak untuk membasuh luka-lukanya pada waktu dia mengalami siksaan. Artinya ketika kita sakit, sudah tentu wajar kita mencari pengobatan dan juga berdoa kepada Tuhan. Itu adalah hal yang patut dan yang benar, yang harus kita kerjakan dan lakukan. Namun kita harus mengerti dan mengetahui pengobatan itu bukan untuk memperpanjang hidup kita selama-lamanya. Pengobatan itu bukan berarti membuat kita akan sehat selama-lamanya. Sehat dan terlepas dari sakit, itu bukanlah tujuan akhir dari hidup kita. Kita tidak akan selama-lamanya hidup dalam dunia ini. Itulah sebabnya pada waktu kita mengalami sakit dan berada dalam pembaringan menghadapi kematian, janganlah kita menjadi orang-orang yang menjadi kuatir, panik dan dengan segala cara dan segala hal kita ingin kerjakan dan lakukan supaya kita mendapatkan kesembuhan, kita tidak mau pikir aspek-aspek yang lain, pokoknya harus sembuh sekalipun harus mengeluarkan ongkos yang besar, bahkan sekalipun dengan mencangkok organ mengorbankan kesehatan orang lain, dsb. Tanpa sadar kita menjadi orang Kristen yang tidak menaruh dengan perspektif yang benar dan tepat bagaimana kita memahaminya. Seringkali pada waktu kita sakit, kita mengalami kesulitan, pada waktu kita berdoa kepada Tuhan, kita minta Tuhan kalau bisa segera dan dengan cepat untuk bisa melepaskan kita dari hal-hal seperti ini. Namun kita lupa belajar hal yang paling penting, yaitu perjalanan spiritual apa yang kita jalani di dalam situasi seperti ini. Itulah momen dimana kita berseru hanya Dialah Tuhan, tempat persandaran kita. Selama ini mungkin kita bersandar kepada kekuatan, kehebatan dan sukses diri kita sendiri. Namun setelah kita mendapatkan kekuatan dan pertolongan, dan tahu Tuhanlah tempat perteduhan dan sumber kekuatan kita, bisa jadi kita gampang lupa dan mudah mengabaikan pelajaran rohani yang penting ini.

Hal yang ke tiga, kita sudah di dalam Tuhan, apapun yang terjadi dalam hidup kita, di saat-saat seperti ini kita belajar hal yang paling penting. Virus ini sudah berjangkit hampir di seluruh dunia dan begitu melelahkan banyak orang, belum lagi efek yang dahsyat yang dihasilkannya. Namun Tuhan ingin kita melihat pandemik virus ini seperti satu pusaran kepada hidup kita sehingga kebutuhan spiritual kita, keselamatan kita, kepada siapa hidup kita bersandar, the importance of God dalam hidup kita, menjadi kebutuhan yang paling penting, yang harus naik di atas. Yang lain menjadi hal-hal yang tidak terlalu penting dalam hidup kita. Dan saya harap pada waktu kita diluputkan dari hal itu, dan pada waktu kita lepas dari bencana ini, kita tidak melupakan hal yang paling penting, no matter what, hidup kita ada di dalam Tuhan. Kematian kita ke depan adalah kematian akibat dosa, tetapi sekarang kematian itu bukan lagi sebagai penghukuman, karena Kristus sudah mati bagi dosa-dosa kita, dan Ia telah mengalahkan kematian. Itulah sebabnya seperti Paulus, kita boleh berseru dan seruan ini boleh menjadi seruan kemenangan menantang maut, “Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Kematian bagi orang Kristen berarti selesailah sudah proses pergumulan kita melawan dosa, itu adalah proses Tuhan menyucikan kita, dan proses kita tidak berdosa lagi, dan proses kita akan kembali dan bertemu dengan Tuhan. Kematian berarti pintu bertemu dengan Tuhan Yesus Kristus yang telah mati bagi kita dan kita akan dijadikan serupa dengan Dia.

Hal yang ke empat, biarlah melalui sakit, penderitaan dan menyongsong kematian, kita makin hari makin merindukan suatu hari kelak kita memiliki tubuh kebangkitan yang tidak akan mati, tidak akan sakit dan tidak akan binasa. Dan biarlah pengharapan akan kebangkitan itu meneduhkan hati setiap kita. Semua orang tahu satu hari kelak kita semua pasti akan meninggal. Di satu pihak, kematian adalah sesuatu yang natural, yang memang harus terjadi kepada semua mahluk. Tetapi pada saat yang sama, jikalau itu adalah hal yang natural yang harus terjadi dalam hidup semua orang, kenapa manusia takut, kenapa ada kekuatiran besar, kenapa kita tidak suka membicarakan mengenai kematian? Karena sesungguhnya dalam hati kita yang sedalam-dalamnya ada kekekalan yang bergejolak karena kematian itu bukanlah natural. Karena ketidak-taatan dan kita memberontak kepada firman Tuhan, kematian itu menjadi milik manusia. “Kematian menjalar kepada semua orang karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12). Jikalau ada keinginan kita untuk tidak mau dan kita takut dan kuatir mengenai kematian, jawaban yang meneduhkan dan memberikan kekuatan kepada kita yaitu kita datang kepada satu kematian yang sudah pernah mematikan kematian, itulah kematian Yesus Kristus yang Ia kerjakan di atas kayu salib. Itulah pengharapan yang diberikan oleh Injil; itulah kabar baik Injil.

Puji Tuhan, syukur kepada Allah karena kita bisa mengenal cinta kasihNya yang begitu besar dan dalam itu. Ia telah memberikan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, yang Ia kasihi itu, boleh menjadi Tuhan dan Juruselamat kita. Dan syukur kepada Yesus Kristus untuk kasihNya yang mulia. Ia yang di dalam kemuliaanNya tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai hal yang patut Ia pertahankan, namun Ia turun sebagai manusia, bahkan menjadi seorang hamba dan mati di atas kayu salib terhina demi untuk mengampuni dosa dan kesalahan kita. Dengan kematianNya di kayu salib, Ia telah mengangkat segala kutuk dosa dan kematian kita sehingga kita boleh mendapatkan keselamatan dan hidup kekal dalam Kristus selama-lamanya.

Biarlah firman Tuhan sungguh menjadi firman yang berbicara dan berkata-kata kepada kita di tengah segala ketakutan, kekuatiran akan bencana, dan sakit. Kepada mereka yang berada di rumah dan di rumah sakit, di tengah kekuatiran menghadapi virus yang ada di dunia saat ini, biarlah firman Tuhan memberikan kekuatan, keteduhan, ketenangan, damai sejahtera kepada setiap kita. Kepada engkau yang berada di dalam ketidak-berdayaan, jikalau selama ini engkau belum memiliki keputusan hidup untuk percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus, biarlah hari ini ketika engkau mengerti dengan jelas, engkau tahu sungguh engkau butuh Yesus Kristus, di tengah teriakan ketidak-berdayaanmu, ketakutan dan kekuatiranmu, Tuhan memberikan penghiburan dan kekuatan sehingga kita berseru: Aku percaya kepadaMu, Tuhan, dan aku percaya aku akan mendapatkan tempat bersama dengan Engkau; aku akan memiliki kebangkitan tubuh karena Engkau telah mengalahkan kematian bagiku. Hanya Dia yang telah mengalahkan kematian, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat. Dan setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan, mereka memperoleh anugerah dan keselamatan di dalam Kristus selama-lamanya.
Di dalam momen Jumat Agung, kita memperingati kematian Tuhan Yesus Kristus, kita memperingatinya dengan iman, kita memperingatinya dengan kesungguhan, kita memperingatinya dengan pengharapan, kita memperingatinya dengan teduh, karena kita tahu melalui kematian Yesus Kristus kita boleh melihat apa yang telah, sedang dan akan terjadi dalam hidup kita ada di dalam tangan pemeliharaanNya sehingga kita boleh berkata, baik dalam hidupku aku memuliakanMu, baik oleh matiku aku pun akan memuliakan namaMu selama-lamanya. Biar hari ini kita belajar dengan dalam dan dengan sungguh, dan kita bersyukur pada waktu kita akan berjumpa dengan Tuhan, biarlah kita menanti dengan indah hari itu dengan sukacita.(kz)