Love His Church [6]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Love His Church [6]
Tema: Ministry Realities: Expect the Unexpected
Nats: Kisah Rasul 13

Dalam seri eksposisi Kisah Para Rasul ini secara fokus kita akan melihat kepada realita dalam pelayanan, karena firman Tuhan memanggil kita untuk harus senantiasa bersiap hati untuk menyambut hal-hal yang tidak terduga terjadi di dalam hidup kita. “Expect the Unexpected,” kita menyaksikan itulah yang terjadi di dalam pelayanan yang dilakukan oleh gereja Tuhan di Antiokhia dan kepada Paulus dan Barnabas di dalam pelayanan misi mereka.

Seminar-seminar yang bertemakan bagaimana menjadi sukses, bagaimana menjadi orang yang berhasil, bagaimana boleh mengerjakan sesuatu dengan explosive menghasilkan result dengan cepat luar biasa tidak akan pernah kekurangan orang yang datang untuk mengikutinya. Bahkan tidak heran ada orang yang berani membayar mahal untuk bisa mengikuti seminar seperti ini, karena semua orang rindu dan ingin sukses. Juga tidak heran banyak majelis-majelis gereja dan hamba-hamba Tuhan juga tertarik untuk ikut seminar yang diadakan oleh gereja-gereja megachurch dan mendapatkan tips bagaimana supaya gereja dan pelayanan mereka bisa sukses dan berhasil. Menyaksikan gedung gereja yang megah, platform pelayanan yang begitu ‘wah’ orang-orang ini berpikir kalau sudah ikut seminarnya maka selesai seminar ini mereka juga akan mendapatkan jiwa-jiwa baru berlimpah datang berbakti seperti gereja yang mengadakan seminar itu. Apa kira-kira tips yang diberikan oleh seminar-seminar seperti itu? Pertama, sdr akan diberi resep untuk mendapatkan sukses adalah have a clear vision. Visi yang jelas, fokus yang jelas, apa yang mau engkau kerjakan dan lakukan. Yang ke dua, kumpulkan orang yang tepat, miliki tim yang solid, tim member yang efektif, dsb. Yang ke tiga, punya hati yang passionate, semangat dan kesungguhan. Kalau semua point itu kita taruh dalam konteks pelayanan, kita bersyukur luar biasa karena gereja Antiokhia memiliki itu semua.

Gerakan untuk pergi melakukan pelayanan ke luar itu bukan dari hati mereka saja tetapi mulai dari Roh Kudus sendiri yang berbicara, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka” (Kisah Rasul 13:2). Artinya kalau kita katakan itu adalah visi yang clear, apalagi jikalau ini sebagai bagian dari pelayanan, kita yakin ini adalah sesuatu yang Tuhan pasti akan berkati. Luar biasa gereja Antiokhia yang dicatat dalam Kisah Rasul 13 ini, yang mendukung pekerjaan misi ini dengan mereka berdoa, dan tentu dengan mencukupkan segala kebutuhan bagi perjalanan dengan menyediakan logistik dan biaya bagi perjalanan mereka. Lalu kemudian mereka membawa seorang anak muda yang bernama Yohanes Markus ikut serta. Yohanes Markus adalah keponakan Barnabas. Maka terbentuklah tim misi pelayanan dari orang-orang yang solid dan hebat. Itulah yang dicatat dalam Kisah Rasul 13:1-3

Namun mulai dari Kisah Rasul 13:4 dan seterusnya, kita melihat hal-hal yang tidak terduga terjadi.
Pertama, pelayanan misi mereka tidak sukses. Kita bayangkan, mereka mulai perjalanan misi ini dengan semangat dan ekspektasi tinggi. Berangkat dari pelabuhan Seleukia, tidak terlalu jauh dari Antiokhia, kira-kira 20 km jaraknya, lalu menyeberanglah mereka ke pulau Siprus. Kota Siprus dipilih karena itu tempat asal dari Barnabas, maka Barnabas paling tidak menguasai dan mengetahui situasi dari pulau Siprus. Kota yang paling pertama mereka sampai di Salamis, kota yang ada di ujung timur. Di situ kemudian mereka mencari sinagoge, rumah ibadah orang Yahudi karena itu adalah meeting point yang paling cepat dan gampang, karena mereka orang asing di kota itu, maka wajar mereka tentu mencari tempat dimana orang-orang Yahudi berkumpul lalu mereka pergi ke situ bertemu dan bercakap-cakap dengan orang-orang Yahudi yang ada di situ. Pelayanan di Salamis hanya dicatat dengan kalimat yang singkat saja: Setiba di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi (Kisah Rasul 13:5). Tidak ada keterangan apa-apa lagi; hanya sampai di situ, selesai. Apakah ada jiwa-jiwa yang bertobat dan berbalik kepada Tuhan? Tidak jelas. Memang tidak ada respon negatif, tetapi tidak juga disebutkan akan respon positif dari orang-orang Yahudi di Salamis terhadap Injil yang mereka sampaikan. Boleh kita katakan kabar baik Injil itu jatuh ke telinga yang tuli. Bukankah mereka mulai dengan clear vision dari Roh Allah; mereka sudah berdoa dengan sungguh-sungguh; mereka punya tim yang luar biasa, tetapi mereka menghadapi realita pelayanan yang di luar perkiraan mereka. Hal-hal yang seperti ini kadang-kadang tidak kita sangka dan duga, bukan? Mari kita bayangkan dalam konteks sekarang ini, gereja sudah siapkan dana yang cukup, gereja sudah bentuk tim misi yang baik dengan orang-orang yang berdedikasi dan kualifikasi. Hati mereka, motivasi mereka sungguh, punya visi yang clear dan jelas, apa yang mau dikerjakan dan melihat ladang yang sangat baik, diberkati Tuhan, dsb.

Yang kedua, mereka pergi ke satu kota bernama Pafos. Dan di sini mereka menhadapi hal yang tak terduga yang ke dua: perlawanan yang brutal. Satu peperangan rohani yang luar biasa karena Injil berhadapan dengan kuasa kegelapan. Di kota itu ada seorang dukun, tukang sihir, nabi palsu yang bernama Baryesus atau Elimas, nama Yunaninya. Orang ini orang penting, penasehat spiritual bagi Sergius Paulus, gubernur pulau itu. “Akan tetapi Elimas, demikianlah namanya dalam bahasa Yunani, tukang sihir itu menghalang-halangi mereka dan berusaha membelokkan gubernur itu dari imannya” (Kisah Rasul 13:8). Sergius Paulus dicatat oleh Alkitab dengan keterangan tambahan yang unik “yang adalah orang cerdas.” He is an intelligent man. Tetapi ironisnya, sekalipun orang ini pintar dan cerdas secara intelektual, namun dalam hal spiritualitas gampang dan mudah sekali dia ditipu dan dibohongi oleh Elimas. Kadang kita juga bisa menghadapi melihat realita ini, bertemu dengan orang yang kita pikir bisa diajak berdiskusi, tetapi kita menjadi bingung dan kaget kenapa orang ini sudah punya pendidikan yang tinggi tetapi masih gampang dan mudah sekali untuk menerima hal-hal yang tidak masuk akal, yang tahayul dan dia terima begitu saja tanpa pernah memikirkan dengan cerdas dan nalar. Sekaligus bagian ini penting untuk mengingatkan kepada kita ketika kita pergi melakukan pelayanan, kita bisa bertemu dengan penolakan yang begitu besar dan keras karena ini adalah suatu peperangan rohani adanya. Kita harus berdebat, kita harus merebut pikiran orang yang sudah ditipu oleh ajaran yang salah; kita harus berhadapan dengan kuasa kegelapan yang pasti tidak akan senang dan terus berusaha membelokkan orang dari jalan yang lurus itu. Paulus menghadapi hal seperti itu bersama dengan Barnabas. Dalam hal seperti ini kita bisa saksikan pelayanan itu begitu berat, penuh dengan perdebatan, menghadapi tantangan kesulitan, dan yang terakhir kita bisa saksikan kuasa kegelapan juga bekerja dan berkarya di situ. Bisa jadi Elimas bisa melakukan sesuatu secara supranatural, sama seperti pada waktu Musa ingin membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, di hadapan daripada Firaun itu Musa mengubah tongkatnya menjadi ular tetapi ahli nujum orang Mesir juga bisa melakukan hal yang sama sehingga Firaun mengatakan apa bedanya? (Keluaran 7:10-13). Sampai kemudian Paulus perlu menyatakan sesuatu yang ajaib dan luar biasa yaitu Allah bekerja dengan mujizatNya mendatangkan perubahan yang drastis di dalam pelayanan itu. “Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia dan berkata: Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan. Engkau musuh segala kebenaran. Tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu? Sekarang lihatlah tangan Tuhan datang menimpa engkau dan engkau menjadi buta beberapa hari lamanya engkau tidak dapat melihat matahari! Dan seketika itu juga orang itu merasa diliputi oleh kabut dan gelap, dan sambil meraba-raba ia harus mencari orang untuk menuntun dia” (Kisah Rasul 13:9-11). Perdebatan berhenti. Pelayanan yang susah dan sukar seperti itu akhirnya menghasilkan buah juga. “Melihat apa yang terjadi itu, percayalah gubernur itu; ia takjub oleh ajaran Tuhan” (Kisah Rasul 13:12).

Ini hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Seringkali kita kaget waktu kita ketemu dengan orang yang sudah lama kita kenal dan kita kaget kenapa dia terpengaruh dengan ajaran sesat, dengan bulat-bulat menerima satu pengajaran yang membuat dia menjadi ekstrim. Kadang-kadang orang bisa jatuh kepada pengajaran yang ekstrim mengenai soal akhir jaman, pengajaran yang ekstrim dan ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman dan hal-hal yang aneh-aneh mengenai doktrin Allah Tritunggal, mengenai Roh Kudus, dsb, lalu terjebak kepada pengajaran seperti itu. Atau kemudian ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman sensasi rohani yang akhirnya jatuh kepada ekstrim aturan-aturan atau tingkah laku yang aneh di dalam ibadahnya, tetapi tetap menyebut diri orang Kristen. Kita mengatakan, pakai pikiranmu secara logis, jadi orang Kristen yang cerdas, Kekristenan adalah pengajaran yang masuk akal, lihat apa yang Alkitab katakan.

Hal yang tidak terduga yang ke tiga yang terjadi. “Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem” (Kisah Rasul 13:13). Yohanes Markus meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem. Kenapa Yohanes Markus meninggalkan pelayanan ini? Apakah Yohanes Markus orang Kristen baru? Jawabannya: tidak. Yohanes Markus juga merupakan bagian dari murid-murid Yesus yang mula-mula. Jadi waktu Markus dibawa oleh Barnabas dalam perjalanan misi ini, dia bukanlah orang Kristen baru; dari awal sudah ikut Tuhan dan saya percaya Yohanes Markus punya hati yang sungguh mau melayani. Hatinya, prinsip pelayanannya, kehidupannya tidak lagi perlu kita ragukan, dia seorang Kristen yang baik dan sungguh-sungguh. Apa sebab Markus meninggalkan pelayanan misi ini? Kita hanya bisa menduga beberapa faktor. Faktor yang pertama sangat besar kemungkinan dia kaget luar biasa dan tidak siap melihat realita pelayanan seperti itu. Mungkin selama pelayanan di Yerusalem, dia melihat orang mendengar Injil dan percaya, ada orang yang bertumbuh. Sampai di Siprus, situasi sangat berbeda, orang tidak peduli kepada kabar Injil. Dia berhadapan dengan kuasa kegelapan yang sangat besar dan berbahaya. Ada yang mengatakan mungkin dia kangen homesick mau pulang ke Yerusalem, dan besar kemungkinan Yohanes Markus kaget karena pelayanan itu di luar daripada zona nyaman kehidupan dia selama ini yang hanya melayani orang Yahudi saja tetapi sekarang dia bertemu dengan orang bukan Yahudi; bertemu dengan kebudayaan yang berbeda; cara bepikir yang berbeda. Semua itu out of his comfort zone. Zona nyaman itu seringkali menjadi halangan yang luar biasa. Paulus akhirnya kecewa karena Paulus berpikir orang ini sudah dewasa, dia orang Kristen yang sungguh-sungguh, dia baik, tetapi dia tinggalkan pelayanan itu oleh karena berdasarkan suka tidak suka, kalau itu sesuai dengan kesukaannya, berangkat dengan kemauan diri, kalau dia rasa nyaman di situ maka dia akan kerjakan hal itu. Tetapi kalau dia merasa tidak nyaman, dia pergi dan tinggalkan begitu saja. Dalam situasi seprti itu, saya percaya kita bisa merasakan hati Paulus yang terluka atas keputusan Yohanes Markus itu sehingga pada waktu Barnabas meminta untuk bisa membawa Yohanes Markus ikut serta lagi dalam perjalanan misi mereka itu menjadi perdebatan yang keras dan menghasilkan pertengkaran yang tajam di antara mereka berdua. “Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam sehingga mereka berpisah” (Kisah Rasul 15:37-39). Itu adalah hal-hal yang kadang-kadang tidak terduga terjadi di dalam pelayanan. Saya percaya kita juga bisa menghadapi hal-hal yang sama, pada waktu kita dalam skala yang kecil, menjadi tim di dalam pelayanan tertentu, pada waktu kita mulai sama-sama, begitu indah. Kemudian kita menjadi terkejut dan kaget ketika tidak ada sukses terjadi. Kita pergi ke satu tempat untuk membuka ladang misi, pada awalnya kita menerima support dana yang luar biasa, atau ada pelayanan misi yang sdr support, lalu reportnya kembali tetapi tidak ada sukses, maka sdr ambil keputusan untuk berhenti dan tidak mendukung lagi pekerjaan dan pelayanan Tuhan seperti itu. Bisa jadi demikian, bukan?

Mari kita coba lihat jikalau ada the unexpected thing hal-hal yang tidak terduga terjadi, bagaimana sikap kita sama-sama? Jangan kaget, hal-hal seperti ini terjadi di dalam hidupmu, dalam hidup pelayanan kita, dan mungkin juga dalam pekerjaan, study, dsb. Expect the unexpected. Biar kiranya firman Tuhan ini memberikan encouragement kepada setiap kita kekuatan pada waktu hal-hal seperti ini terjadi, kita tetap dihibur dan dikuatkan untuk tetap mencintai mengasihi pekerjaan Tuhan. Saya harap di dalam masa-masa seperti ini , di tengah situasi-situasi yang mungkin memberikan spirit yang down kepada kita, ketakutan akan ketidak-pastian, akhirnya kita pun tidak memiliki kemauan ataupun ketika kita ingin melakukan sesuatu, kita takut apakah itu bisa berjalan atau berhasil, mungkin ini bisa sementara, sehingga kita bisa lewati. Tetapi mungkin itu juga bisa beberapa waktu yang cukup panjang, kita juga tidak bisa tahu. Hidup kita cepat sekali berubah, situasi sekitar kita begitu mudah mengalami perubahan yang drastis. Mari coba kita bayangkan jikalau dua bulan ke depan situasi seperti ini terus terjadi, pekerjaan akan menjadi semakin sulit, tidak gampang lagi didapat, begitu banyak orang kehilangan pekerjaan dan di lay off, kita akan masuk kepada resesi dan uncertainty seperti itu. Tetapi mari kita juga ingat sekali lagi, biar semua ini terjadi juga mungkin bisa mendatangkan kepekaan kepada orang bahwa ada hal yang lebih mereka butuhkan selain hal yang materi ini. Sebagai anak-anak Tuhan, dalam setiap hal yang terjadi kita senantiasa diingatkan bahwa tempat naungan persandaran yang teguh dan kokoh hanyalah di dalam Tuhan semata-mata.

Itulah sebabnya pada waktu Paulus pergi menawarkan kabar baik Injil, sekalipun dia menghadapi tantangan dan penolakan seperti ini, tidak ada sukses, berat dan susah luar biasa, dimana kekuatan yang dia dapatkan menjalani semua ini? Kisah Rasul 13:38 adalah satu ayat yang menjadi kekuatan yang luar biasa bagi Paulus. “Jadi ketahuilah, saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa.” Hari ini dunia begitu khawatir dengan berjangkitnya virus corona dan penyebarannya yang begitu agresif luar bisa. Namun sebenarnya virus yang paling berbahaya bukan virus corona; virus yang akan melanda kehidupan kita secara manusiawi itu adalah satu “virus” yang Alkitab katakan, “Sebab itu sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12). Dosa adalah virus yang menakutkan, yang menggerogoti hidup spiritual manusia dan mereka perlu dan butuh pengharapan kabar baik Injil Yesus Kristus bagi penyembuhan spiritual mereka.

Pada waktu kita memberitakan Injil, mengabarkan kabar baik, bisa jadi penyampaian firman dan khotbah yang kita siapkan baik-baik bisa jatuh kepada telinga yang tidak mau mendengar, yang acuh tak acuh, atau bisa jatuh kepada penolakan yang luar biasa keras, dan kuasa kegelapan yang berusaha membelokkan Injil yang sejati. Kita juga mungkin bisa menghadapi tim kerja yang tidak bisa dan tidak ingin mendukung pekerjaan dan pelayanan Tuhan lagi. Jangan semua itu membuat kita akhirnya menjadi kecewa dan lupa bahwa Tuhan akan senantiasa menopang dan menguatkan orang-orang seperti ini. Dan saya harap kita juga tidak terjebak jatuh kepada fenomena yang sama. Pekerjaan Tuhan, mari kita dukung dan sustain dengan baik. Ladang misi yang ada, sekalipun hasil yang didapat terlalu sedikit, mari kita tetap mendukung pekerjaan Tuhan karena ada orang yang pergi dan dengan tetap semangat hati seperti ini menyampaikan kabar baik ini. Kepada engkau dan saya yang menyampaikan firman, kita bisa lemah hati sekalipun kita berkhotbah sebaik-baiknya, kita tidak melihat banyak orang yang percaya; sekalipun kita sudah melayani Allah, kita kadang-kadang bertanya apakah ada manfaatnya apa yang kita lakukan selama ini? Kadang-kadang kita yang sudah bertahun-tahun mengajar sekolah minggu, kita mungkin bertanya-tanya, adakah manfaatnya? Kita yang setiap hari membacakan Alkitab kepada anak-anak kita, kita mungkin bertanya-tanya, adakah manfaatnya? Kita mengirimkan ayat-ayat dan renungan lewat whattsapp kepada teman-teman kita, adakah manfaatnya? Sampai kita ingat kembali semua ini kita lakukan karena kita tahu itu semua bukan buat kita sendiri. Kita melakukannya karena kita tahu Injil perlu senantiasa dikabarkan, karena ini adalah Injil kabar baik yang memberitakan pengampunan kepada orang dari dosa-dosa mereka.

Hari ini berdoalah bagi orang-orang yang kita kenal, mereka yang melayani di ladang misi bertahun-tahun, mungkin mereka juga mempunyai ketakutan dan keraguan, dan orang mungkin juga sudah berhenti mendukung pekerjaan Tuhan seperti ini. Biar firman Tuhan ini menguatkan kita, karena kita tahu Injil ini adalah Injil yang menyelamatkan manusia. Kiranya di tengah situasi dan kondisi dimana kita berada saat ini, kita menjadi anak-anak Tuhan yang senantiasa dikuatkan, didorong dengan lebih berani oleh firman Tuhan, bersandar penuh kepada Tuhan dan menjadi orang Kristen yang sungguh menjadi berkat. Kita tahu kita tidak akan terlepas dari persoalan kemungkinan-kemungkinan akibat dari virus yang melanda di seluruh dunia ini. Mungkin efek kepada kesehatan, efek kepada pekerjaan, efek kepada penghasilan, efek kepada kondisi dan keadaan kita bersekolah. Biar kita belajar menyaksikan dan melihat di dalam suka dan duka; di tengah padang rumput yang hijau maupun saat berjalan dalam lembah kekelaman, Tuhan adalah Gembala dan kekuatan dan penghiburan kita yang sejati. Di tengah pelayanan kita mungkin menghadapi perjalanan yang lancar dan sukses, kita juga mungkin berhadapan dengan hal yang tidak lancar dan tidak sukses, tetapi api di dalam hati kita tidak boleh menjadi padam dan pudar karena kita tahu Injil adalah kekuatan kita. Karena kita telah ditebus dan telah dibayar lunas, kita sudah tahu kita telah dilepaskan dari belenggu dosa, kita tahu apa artinya dibayar lunas, kita tahu apa artinya dimerdekakan dari dosa. Itulah sebabnya mengapa kita memberitahukan dan mengajar dan terus mendukung pelayanan Injil sampai hidup kita di dunia ini selesai.(kz)