Love His Church [5]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Love His Church [5]
Tema: Realita Pelayanan: Tuhan Utus, Tuhan Kuatkan
Nats: Kisah Rasul 13

Sejak awal Gereja berdiri, Tuhan Yesus memberi tugas ini, “Kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Rasul 1:8). Visi dan panggilan Tuhan begitu jelas: melalui kesaksian anak-anak Tuhan, Injil harus didengar dan dikabarkan kepada segala bangsa sampai ke ujung bumi. Namun realitanya betapa sulit mereka keluar dari ikatan kebudayaan tradisi orang Yahudi, yang hanya bergaul dengan orang Yahudi, yang hanya berbicara bahasa Yahudi, yang melakukan cara ibadah dengan cara Yahudi. Sekalipun Petrus mendapatkan penglihatan untuk melayani bangsa-bangsa bukan Yahudi, mereka masih berat dan enggan untuk melakukan pelayanan ini. Dari Kisah Rasul 8-10 kita melihat, ketika kemauan Tuhan enggan dijalankan oleh anak-anakNya, Tuhan perlu menggunakan cambuk penganiayaan untuk membuat mereka terpencar dan pergi ke mana-mana. Di antara mereka, sampailah di satu kota yang bernama Antiokhia, ini adalah kota yang berada di Syria sekarang. Kisah Rasul 11:19-21 mencatat dengan sangat teliti pergerakannya. “Sementara itu banyak saudara-saudara tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja. Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan tangan Tuhan menyertai mereka sehingga sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.” Puji Tuhan! Di sini kita melihat epicentre Allah menggoncangkan pekerjaanNya tidak berangkat dari Yerusalem tetapi berangkat dari kota Antiokhia. Kenapa bukan dari Yerusalem tetapi dari Antiokhia? Apakah visi Tuhan tidak jelas?

Gereja Antiokhia tidak terjadi begitu saja dan dalam waktu yang sekejap. Karena penganiayaan, tersebarlah mereka sampai ke Antiokhia lalu mereka tinggal di situ, tetap menjadi berkat dimana mereka berada. Maka terbentuklah jemaat orang-orang Yahudi yang percaya Yesus di kota ini, tetapi karena keterbatasan bahasa, mereka hanya bisa menjangkau orang-orang Yahudi saja, karena kesamaan budaya, karena pertemanan, dsb. Lalu beberapa orang melakukan sesuatu yang berbeda, mereka menginjili orang yang bukan Yahudi. Allah memberkati pekerjaan itu dan sejumlah besar orang bukan Yahudi sekarang datang berbondong-bondong berbakti di gereja Antiokhia. Maka gereja Antiokhia tercatat sebagai gereja pertama yang menjangkau orang yang tidak percaya dari kelompok orang bukan Yahudi, lalu terbentuklah orang-orang yang menjadi percaya dari orang-orang seperti ini. Dan di gereja Antiokhialah komunitas anak-anak Tuhan ini pertama kali disebut sebagai orang Kristen. Kenapa demikian? Jelas, komunitas ini tidak bisa lagi disebut sebagai orang Yahudi yang percaya Mesias karena di dalamnya ada orang dari Afrika, di dalamnya ada orang dari Yunani, di dalamnya ada orang dari Siprus, di dalamnya ada orang dari Kirene, di dalamnya ada orang dari jazirah Arab, di dalamnya ada orang yang datang dari Asia Kecil, dsb. Mereka adalah kelompok multi etnis dari berbagai bangsa yang tinggal di Antiokhia. Maka kepada kelompok yang percaya kepada Kristus ini, orang luar menyebut mereka orang Kristen.

Apa yang terjadi selanjutnya? “Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia. Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasehati mereka supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan. Karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya sambil mengajar banyak orang.” Yang terjadi adalah gereja Yerusalem mendengar kabar tentang perkembangan ini lalu kemudian cari tahu, maka kemudian mereka mengutus Barnabas ke sana untuk melihat keadaan mereka. Betapa berbeda reaksi mereka pada waktu Petrus pulang selesai melayani Kornelius. Belum sampai di Yerusalem, belum dengar penjelasan Petrus, mereka sudah menegur dan marah kepada Petrus. Sesudah diberi penjelasan, baru mereka bersyukur dan puji Tuhan. Itu bedanya. Pada waktu Barnabas tiba di Antiokhia melihat kumpulan orang percaya ini, dia langsung mengucap syukur melihat kasih karunia Tuhan dan dia mendorong orang-orang ini tetap setia di dalam iman kepada Kristus. Bukan saja Barnabas melihat keindahan Tuhan di tengah-tengah mereka, Barnabas memikirkan bagaimana bisa melayani jemaat multi etnis ini dengan maksimal. Dia sadar dia ada keterbatasan dan tidak bisa melayani sendiri. Lalu bagaimana, siapa yang lebih baik, lebih tepat, lebih cocok untuk bisa menjangkau kaum intelektual orang non Yahudi yang punya style dan kebudayaan yang berbeda seperti ini, yang mungkin juga sudah pernah sekolah ke Roma, sekolah ke tempat-tempat lainnya, sedangkan dia ini adalah orang yang dari Yerusalem, dari Siprus, mungkin level dia tidak sampai, tidak cocok, tidak pas, seperti itu. Mata daripada Barnabas berbeda luar biasa. Dia bisa melihat jauh ke depan, melihat potensi dan posibilitas pelayanan gereja ini perlu dipimpin oleh seorang yang tepat, dan dia teringat kepada satu orang. Lalu dia ambil keputusan, dia travelling 300-400 km jauhnya sampai ke Tarsus untuk mencari orang itu, satu orang muda yang baik, yang sungguh-sungguh Tuhan sudah pernah kasih dia visi akan menjadi rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Sekarang dia tinggal di Tarsus. Banyak orang Kristen tidak mau terima dia karena takut pertobatannya mungkin tidak benar, ini mungkin petobat yang palsu. Maka Paulus harus kembali ke kotanya, membangun kepercayaan dan keyakinan orang melihat betul-betul pertobatannya bukan hal yang palsu. Tetapi sudah beberapa tahun, betapa susah membuat orang percaya kepada dia. Sampai Barnabas yang ingat kepada dia, lalu kemudian dia pergi cari Paulus. Setelah sampai di Tarsus, Barnabas mengajak Paulus datang ke Antiokhia untuk menggarap pekerjaan Tuhan melayani bangsa-bangsa lain. Kenapa? Karena Paulus orang yang cocok. Dia adalah warga negara Romawi, dia bisa travelling dengan bebas ke mana-mana, dia adalah seorang Farisi yang hebat sehingga bisa bersoal-jawab dengan orang yang mempertanyakan iman Kristen. Paulus fasih berbahasa Yunani, sudah biasa berkeliling ke berbagai tempat. Paulus setuju ikut Barnabas ke Antiokhia, dan melayani jemaat yang ada bersama-sama Barnabas satu tahun lamanya.

Kisah Rasul 13:1-3 memperlihatkan komuntas gereja Antiokhia yang multi etnis, “Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.” Ada nama lima orang muncul dengan urutan seperti ini. Dari sini kita bisa menduga Barnabas umurnya sedikit lebih tua dan dia tentu adalah senior pastornya. Kemudian Simeon yang disebut juga Niger, jelas sebutan ini memberitahukan kepada kita dia adalah seorang yang berkulit hitam yang datang dari Afrika. Lalu ada Lukius orang Kirene, Kirene ada di Lybia. Besar kemungkinan Lukius dari ras Arab. Lalu kemudian Menahem yang diasuh bersama-sama dengan raja Herodes. Ini adalah orang yang mempunyai jabatan dan status sosial yang tinggi. Mungkin dia adalah seorang yang pernah duduk di pemerintahan dan sekarang mengambil keputusan untuk fulltime di dalam pelayanan. Lalu yang terakhir, Saulus, yang paling muda dari antara mereka. Mereka dilihat kemampuannya, mereka diberkati oleh Tuhan menjadi leaders yang dipakai melayani gereja itu. Betapa indah gereja Antiokhia ini dan betapa rindu kita juga memiliki gereja seperti itu. Bukan karena kita rindu punya lima orang hebat seperti ini, tetapi kita tahu hati mereka begitu rindu melakukan apa yang menjadi kehendak dan keinginan Tuhan. Kita selalu harus punya hati seperti itu. Pelayanan Injil bukan didasari kepada talenta yang ada, resources yang ada, atau orang-orang yang hebat itu tetapi didasarkan kepada kerinduan kita ingin berlutut, kita ingin menyembah Tuhan dan menjadikan kehendak Tuhan tergenapi melalui gereja kita.

“Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. Maka berpuasalah dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas ke dua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi” (Kisah Rasul 13:2-3). Ketika jemaat ini sedang beribadah dan berpuasa, Kisah Rasul mencatat satu moment yang begitu khusus terjadi di tengah mereka. Alkitab tidak menjelaskan secara mendetail kenapa mereka melakukan hal itu, atau apakah itu adalah satu ibadah khusus mereka lakukan. Yang kita tahu, di tengah mereka beribadah, berpuasa dan berdoa, hal-hal yang patut dan seharusnya dilakukan di dalam setiap gereja Tuhan, terjadilah satu hal secara khusus. Itulah yang kita sebut sebagai “Antioch Moment.” Apa itu Antioch moment? Rev. John Piper memperkenalkan istilah ini sebagai satu peristiwa yang terjadi ketika pada pemimpin gereja di Antiokhia ini berkumpul, beribadah, berpuasa dan berdoa. Kita hanya bisa menduga, mereka berpuasa dan berdoa secara khusus meminta pimpinan Tuhan secara jelas bagi pelayanan mereka ke depan. Keputusan yang mereka ambil ke depan adalah keputusan yang crucial dan penting adanya.

Pada waktu mereka berdoa dan berpuasa, apa yang mereka lakukan itu bukan sekedar sebagai satu rutinitas ibadah kebaktian tiap minggu saja. Saya percaya doa itu dan puasa itu menjadi satu kerinduan yang ingin mereka katakan kerinduan mereka kehendak Tuhan kiranya terjadi di bumi ini dan biarlah Injil Yesus Kristus diberitakan sampai ke ujung bumi.

Rev. John Piper dalam acara ulang tahun Bethlehem Baptist Church menyampaikan khotbah berdasarkan nats Kisah Rasul 13:1-3 menyebutkan “Bethlehem Antioch Moments.” Ada beberapa Antioch moments yang dialami oleh gereja ini. Pertama, gereja ini didirikan sebagai gereja Baptis berbahasa Swedia, 140 tahun yang lalu. Baru saja berusia 4 tahun, gereja ini terbakar habis. Pertanyaannya, sanggupkah gereja ini bertahan bisa survive? Yang kedua, tahun 1890 gereja ini berjanji untuk memiliki seorang misionari, tetapi janji itu baru terpenuhi setelah 100 tahun kemudian mereka mengirim misionari ke Burma. Tahun 1930 gereja ini mengalami Antioch momen selanjutnya, yaitu merubah ibadah dalam bahasa Swedia menjadi bahasa Inggris. Keputusan itu adalah satu proses yang painful luar biasa. Tidak gampang dan tidak mudah, sekalipun nampaknya sepele, bahasa yang berubah. Banyak jemaat yang tidak mau perubahan ini. Selanjutnya, tahun 1960 daerah sekitar gereja dibongkar semua untuk pembangunan jalan toll, maka mereka harus ambil keputusan pindah lokasi atau tidak. Itu adalah situasi yang mereka hadapi. Tahun 1990 mereka melakukan perubahan konstitusi. Sudah berjalan sekian lama pendeta yang pimpin dengan deacons untuk menggantinya dengan board of elders. Kemudian tahun 2000 mereka harus ambil keputusan berkaitan dengan standpoint teologi mereka. Awalnya gereja ini mulai sebagai satu gereja yang bersifat congregational dan sedikit loose dalam aspek doktrinalnya, lalu kemudian bagaimana sekarang memilih hamba Tuhan, mendudukkan elders, dsb, perlukah mempertanyakan standpoint teologinya, itu adalah perubahan di dalam aspek posisi doktrinnya apakah menjadi Reformed atau tidak, itu adalah hal yang mereka alami. Dalam khotbahnya kemudian Rev. John Piper mengatakan, ke depannya ada tiga Antioch moments yang akan mereka hadapi. Yang pertama adalah sampai kapan dia akan menjadi lead pastor mereka. Yang ke dua adalah sekarang mereka ada 3 gereja cabang, apakah akan bersifat satu global deacons yang mengatur ke tiganya, ataukah lebih baik menjadi tiga gereja independent separate masing-masing? Hal yang sama terjadi dengan gereja Presbyterian di New York yang dipimpin oleh Rev. Tim Keller, bukan? Sekarang Rev. Tim Keller sudah berhenti dari jabatan sebagai senior pastor, lalu ada tiga cabang dengan masing-masing pendetanya, kemudian mereka ambil keputusan untuk masing-masing menjadi independent. Lalu yang terakhir, gereja mereka masih punya hutang $7 juta yang belum terbayar, bagaimana mereka menyelesaikan pembayarannya. Di sini kita melihat, 140 tahun usia gereja ini menghadapi perubahan Antioch moments seperti itu yang kita patut belajar daripadanya.

Hal yang kedua, Antioch moment memperlihatkan momen pengabaran Injil bukan karena kemauan manusia, momen pengabaran Injil dan misi itu adalah kemauan hati Tuhan. Karena setelah mereka berdoa dan berpuasa Alkitab mencatat bersuaralah Roh Allah di dalam persekutuan mereka. “Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. Setelah mendengar perkataan Roh Kudus itu, mereka berdoa lebih sungguh lagi. Kenapa? Itu berarti mereka masuk kepada satu transisi yang sulit luar biasa. Mereka harus mengijinkan Barnabas tidak lagi menjadi senior pastor di tempat itu. Betapa sulit transisi dan hal-hal seperti itu bisa terjadi di berbagai gereja, bukan? Begitu ganti hamba Tuhan baru, rasa tidak enak, style khotbah dan pelayanan tidak cocok dsb, dengan gampang dan mudah jemaat mengatakan sorry, bye-bye, aku tidak cocok di sini. Kadang-kadang kita sedih melihat banyak orang tidak melihat pekerjaan Tuhan itu sebagai sesuatu hal yang besar dan penting bagi mereka. Ketika tidak sesuai dengan kesukaan dan selera mereka, ketika tidak memuaskan kemauan mereka, cabut saja. Tidak gampang menjalani Antioch moment. Tuhan yang panggil, Tuhan yang utus, tetapi perubahan harus terjadi di tengah hal-hal yang sudah biasa dikerjakan di gereja Antiokhia itu akan mengalami perubahan. Setelah mereka berpuasa dan berdoa sekali lagi, mereka kemudian melepaskan Barnabas dan Paulus pergi. Barnabas dan Paulus menjadi misionari yang pertama; Antiokhia menjadi epicentre perjalanan misi. Dan selanjutnya nanti Kisah Rasul mencatat pelayanan misi rasul Paulus yang ke dua dan ke tiga bisa terjadi karena ada gereja Antiokhia yang mengambil keputusan menjadikan Barnabas dan Paulus tidak menahan mereka terus menjadi pendeta lokal mereka atau melayani hanya bagi sekitar mereka saja. Mereka rela melepaskan Barnabas dan Saulus boleh menjadi pelayan bagi bangsa-bangsa yang lain. Itulah sebabnya bagian ini sangat penting luar biasa, kenapa perlu visi dari Tuhan terlebih dahulu kepada Petrus untuk bisa melihat pelayanan kepada Kornelius karena itu adalah terobosan yang tidak gampang bisa dilihat orang. Kenapa perlu suara Allah Roh Kudus berkata, Aku yang mengutus Barnabas dan Saulus, khususkan mereka. Setelah itu perlu ketaatan di dalam doa dan puasa, mereka melakukan perintah Tuhan itu. Sekarang, pertanyaan saya: perlukah kita mendengar lagi suara Tuhan secara khusus mengatakan seperti itu lagi? Jawabannya: tidak perlu, karena Antioch moment ini menjadi pattern dan pola ketika kita rindu melayani bagi bangsa-bangsa dan kita mau mengutus dan membantu pekerjaan Tuhan yang lain dan kita perlu mengingat dan mendukung pekerjaan misi yang lainnya, itu adalah hal yang Tuhan kehendaki. Dan Tuhan mau setiap gereja melakukan hal seperti ini. Apakah itu berarti kehilangan? Jawabannya: tidak. Dari lima orang gembala, dua pergi, masih ada tiga. Lebih berat dan lebih susah? Kita kehilangan? Tidak. Itu bicara soal expansion. Kalau kita terus mau mempertahankan sesuatu, hal itu bisa dipertahankan, tetapi pertanyaannya: sampai kapan? Maka bicara mengenai pergi, keluar, bukan menunggu bangsa-bangsa itu datang ke Antiokhia, tetapi ada orang yang pergi ke luar menghampiri mereka. Dan kita bisa menyaksikan pekerjaan Tuhan bisa sampai kepada kita hari ini karena ada yang Tuhan utus dan datang mengabarkan Injil itu kepada kita.

Hal yang ke tiga, kita jangan mempunyai jiwa yang bersifat “survival mode.” Survival mode adalah jiwa yang selalu bersifat bertahan. Tetapi mari kita mempunyai jiwa “breakthrough mode.” Apa yang kita pelajari dari firman Tuhan ini bagi kehidupan gereja-gereja yang ada dewasa ini dan juga bagi gereja lokal kita hari ini? Jikalau kita hanya ingin mempertahankan apa yang menjadi conveniency kita, maka kita akan masuk kepada survival mode. Pertanyaannya adalah: sampai kapan kita bisa menjangkau orang-orang dimana kita berada dengan bahasa yang ada di situ? Banyak orang seringkali tidak melihat akan hal itu. Bagaimana dengan anak-anak kita kelak? Mereka akan menjadi satu komunitas second generations yang masih bergaul dan bersentuhan dengan kultur Indonesia tetapi masih mempunyai kesempatan untuk bergaul dengan teman sekolah dan mempunyai kemampuan bisa bergaul dengan orang berbahasa Inggris dan tidak mempunyai keterbatasan dan hati yang minder. Kita rindu supaya kita bisa mempersiapkan hal ini baik-baik. Kalau suatu hari kita rasa kita perlu mencari seorang hamba Tuhan berbahasa Inggris yang penuh, masih kita siapkan keuangan kita. Sdr mau mencari seorang lulusan sekolah teologi yang fasih berbahasa Inggris, sanggupkah kita membayar penuh honorariumnya? Kita harus mulai memikirkan dan menyiapkan hal ini. Itulah yang saya maksud kita bukan berjalan dalam survival mode, tetapi expansion mode. Hati kita bulat berkata kita mau membangun dan mempersiapkan generasi muda bagi kerajaan Allah, itu yang harus kita pikirkan dan doakan sama-sama. Kita harus memiliki hati yang bukan untuk satu denominasi, bukan untuk satu kerajaan sendiri. Kalau bukan kita yang memikirkan dan mengerjakan pekerjaan Tuhan untuk membawa orang yang belum percaya datang kepada Tuhan, lalu siapa yang kerjakan? Siapa yang punya beban untuk gereja ini kalau bukan lahir dari anak-anak kita sendiri? Kalau ada orang dari luar datang ingin menjadi hamba Tuhan di sini, kalau dia lulusan sekolah teologi tentu kita tidak bisa meminta dia berkorban mulai dari bawah, bukan? Kalau kemudian ada gereja yang besar yang strukturnya baik, bisa memberikan honorarium dan fasilitas yang baik, mana yang akan dia pilih? Kalau ada dari anak kita sendiri yang berkata, saya siap. Lalu kemudian ambil keputusan untuk masuk sekolah teologi, mari kita dukung dengan moral dan material bagi dia. Hari ini biar kita belajar bagaimana menghadapi Antioch moments kita, sekalipun susah dan sulit, sekalipun bisa menggoncangkan, biar itu menjadi satu breakthrough kalau kita mau mendengar pimpinan Tuhan dan taat kepadaNya. We need to do more di dalam hidup pelayanan kita melayani jaman yang ada di depan. Kiranya Tuhan berkati setiap kita.(kz)