Love His Church [4]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Love His Church [4]
Tema: Jesus’ reigns in His Church
Nats: Kisah Rasul 12

Kisah Rasul 12 dibuka dengan kalimat ini, “Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah” (Kisah Rasul 12:1-5).

Sejak dari awal Gereja mulai ada, masih kecil, tidak punya kekuatan, kita saksikan serangan dan oposisi itu sudah datang bertubi-tubi dan tidak pernah berhenti, bahkan sampai kepada detik sekarang ini akan terus muncul orang-orang yang tidak senang kepada pekerjaan Tuhan. Kita melihat Saulus begitu benci dan marah kepada Gereja sebab sebagai rabi Yahudi dia merasa kepercayaannya kepada agama Yahudi dirongrong oleh kepercayaan dari sekelompok orang yang percaya Yesus adalah Mesias. Dan dia pikir, dengan berbekal surat kuasa dari pemimpin agama Yahudi dia bisa mengalahkan dan menghancurkan satu “sekte” yang kecil dan tidak berarti. Namun siapa yang sangka, Tuhan bisa merubah seorang yang penuh kebencian kepada Kekristenan seperti itu justru menjadi seorang yang bertobat dan hidup melayani Tuhan? Namun sampai kepada pertobatan Saulus, skala penganiayaan waktu itu tidak besar dan masih bersifat sporadik karena ini adalah penganiayaan yang dilakukan atas nama mahkamah agama orang Yahudi sendiri. Tetapi sampai kepada pasal 12 kali ini kekuatannya jauh lebih besar karena serangan dan oposisi datang dari kekuatan kuasa politik yang diwakili oleh seorang yang bernama raja Herodes, raja Israel yang diangkat oleh pemerintah Romawi sebagai raja boneka. Ada beberapa nama Herodes yang disebutkan Alkitab. Herodes yang ini adalah Herodes Agrippa I (41-44 AD) yang merupakan cucu dari raja Herodes Agung, yang memerintah Israel pada waktu Yesus lahir antara tahun 37 BC – 4 BC. Kemudian Injil Lukas 9:7-9 mencatat nama Herodes yang lain yang memenggal kepala Yohanes Pembaptis, itu adalah Herodes Antipas. Dari situ kita tahu peristiwa Kisah Rasul 12 itu terjadi kira-kira tahun 41 AD karena jelas sekali pada waktu Herodes Agrippa I menjadi raja atas orang Yahudi, dia ingin melakukan satu hal untuk mendapatkan popularitas secara politik untuk bisa memenangkan hati mereka maka dia “menjual agama.” Selama-lamanya kita akan menyaksikan itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin mendapatkan kedudukan tinggi dalam politik, untuk mendapatkan kekuatan dan kekuasaan, maka persoalan agama bisa menjadi makanan yang empuk dijual-belikan. Penganiayaan yang dilakukan secara politik dan agama tidak pernah berhenti bahkan bereskalasi makin meluas dan sistematis. Tuhan baru mengijinkan penganiayaan kepada Gereja berhenti ketika seorang kaisar Romawi menjadi Kristen yaitu kaisar Konstantin Agung di sekitar tahun 320 AD. Jadi sejak permulaan Gereja berdiri, sekitar 300 tahun lebih Gereja terus dianiaya. Pengejaran, penangkapan, pembunuhan orang-orang Kristen di gelanggang arena terus terjadi bahkan bereskalasi. Tetapi sejarah memperlihatkan penganiayaan 300 tahun lamanya tidak akan pernah bisa memusnahkan dan mengeliminasi Gereja dan anak-anak Tuhan dari muka bumi ini. Bapa Gereja Jerome atau Eusebius Hieronymus (347 – 420 AD), berkata, “Gereja Yesus Kristus didirikan oleh darahNya sendiri, tidak pernah didirikan di atas darah orang lain. Gereja Yesus Kristus bertahan di atas penderitaan sendiri, bukan bertahan karena menganiaya orang lain.” Itulah kalimat yang dipegang terus oleh anak-anak Tuhan pada waktu mereka mengalami kesulitan dan penganiayaan. Penganiayaan akan membuat Gereja Tuhan bertumbuh dan kaum martir adalah mahkotanya. Sekalipun Yakobus dibunuh, kita bisa saksikan Gereja Tuhan bertumbuh dan tidak ada rasa takut di dalam memberitakan Injil. Paulus dalam Filipi 1:12-14 memberi kesaksian yang sama, “Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.”

Herodes Agrippa ingin mendapatkan supporting politik menyenangkan hati orang-orang Yahudi maka dia membunuh salah satu rasul yaitu Yakobus. Herodes Agrippa kemudian menangkap Petrus, tujuannya jelas dia ingin melakukan pembunuhan juga terhadap Petrus sebagaimana yang sudah dia lakukan terhadap Yakobus tetapi kali ini dia ingin melakukannya dengan setting yang lebih kolosal, untuk mereplika kembali apa yang pernah dilakukan Pilatus kepada Yesus Kristus. Herodes tunggu beberapa hari karena ada hari raya orang Yahudi hari Roti tidak Beragi dan banyak orang Yahudi dari berbagai tempat berkumpul di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Sesudah itu rencananya Herodes akan menampilkan eksekusi terhadap Petrus di depan khalayak ramai.

Kisah Rasul 12 jelas sekali ditulis untuk mempelihatkan kini tibalah saatnya ketika Allah bertempur dengan Herodes, ketika kuasa politik yang menunggangi agama berhadapan dengan Allah. Di dalam bagian ini Alkitab hanya ingin memberitahukan kepada kita dengan jelas: jika engkau akan melawan Yesus, engkau pasti kalah. Jika engkau ingin menghancurkan pekerjaan Tuhan, engkau tidak akan bisa menang. Gereja Tuhan tidak sanggup dan tidak berdaya, tidak ada kekuatan yang bisa menopang, tidak ada supporting politik dari siapapun, tetapi kita harus senantiasa ingat Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup dan Allah yang tidak tinggal diam. Banyak hal kita menyaksikan realita dan fakta ketika terjadi penganiayaan dan pembantaian tidak ada habis-habisnya. Ada pendeta di sebuah gereja di Nigeria ketika sedang memimpin kebaktian, dibakar hidup-hidup bersama-sama jemaatnya. Banyak hamba-hamba Tuhan ditangkap dan dipenjarakan. Anak-anak gadis Kristen dalam perjalanan ke sekolah diculik, diperkosa dan dijadikan budak seks. Tangisan dan teriakan mereka tidak pernah sampai ke telinga PBB dan organisasi-organisasi sosial lainnya. Kita menyaksikan semua itu tidak ada ceritanya lagi. Bukan berarti kita tidak menghargai kebakaran hutan, bukan berarti kita tidak memikirkan animal welfare, dsb. Tetapi kalau orang bisa marah dan berteriak luar biasa ketika menyaksikan animal cruelty, dan ketika kebakaran hutan terjadi kita juga ikut sedih dan prihatin kepada kerusakan yang terjadi, siapa yang menangis, berseru dan berteriak atas kejahatan yang dilakukan atas nama agama menghancurkan hidup orang lain? Siapa yang berseru dan berteriak dan memberikan suara bagi bayi-bayi dalam kandungan yang tidak punya kekuatan untuk membela dan melindungi dirinya sendiri? Siapakah yang akan membela mereka jikalau tidak ada yang menyuarakan kejahatan ini? Apakah kita menyuarakan teriakan yang sama atas injustice yang dilakukan kepada mereka di atas muka bumi ini? Sedih luar biasa ketika proposal untuk mengaborsi bayi yang sudah fase late term dari kandungan yang sudah hampir melahirkan masih coba dilakukan dan disahkan oleh pemerintah, padahal ini jelas-jelas adalah satu kriminal kepada bayi dan kemanusiaan. Sebagai anak Tuhan kita harus berseru dan berteriak bagi mereka. Jikalau suara kita sudah tidak bisa didengar oleh Pemerintah, tidak bisa didengar oleh orang-orang yang memiliki kedudukan, kita percaya suara dan seruan kita didengar oleh Tuhan kita. Kisah Rasul 12 patut menjadi satu peristiwa sejarah yang memberikan kepada setiap kita dorongan yang besar sebagai anak-anak Tuhan, walaupun kita berada pada posisi yang insignificant, tidak berdaya, apa yang bisa kita lakukan di dalam situasi seperti ini? Kisah Rasul 12 mencatat dua hal yang bisa kita lakukan. Satu, yang dilakukan oleh Petrus, tidur. Satu lagi, diwakilkan dari anak-anak Tuhan pada malam hari itu bersama-sama berkumpul dan tekun berdoa. Tidak ada hal lain lagi yang bisa mereka kerjakan dan lakukan. Mari coba kita bayangkan kalau itu terjadi dalam sebuah gereja lokal umpamanya, gembala sidangnya dibunuh dan asisten pastornya atau ketua majelisnya ditangkap, bagaimana kira-kira kondisi dan keadaan jemaatnya dalam situasi seperti itu? Mungkin semua kuatir, takut, putus asa, bagaimana dengan masa depan dari gereja Tuhan? Tetapi kita harus ingat baik-baik, kita tidak bisa bersandar kepada manusia; kita tidak bersandar kepada keuangan dan kekuatan satu orang; kita bersandar kepada Tuhan kita yang hidup. Kita harus mempunyai sikap seperti itu. Di tengah situasi yang tidak menentu, tidak mengenakkan, takut, dsb, penganiayaan dan penderitaan tidak boleh melumpuhkan anak-anak Tuhan. Petrus tidur. Kadang-kadang pada waktu situasi begitu sulit, saat kita dalam keadaan terjepit dan menderita, tidak ada jalan keluar dan tidak ada cara lain, satu-satunya yang bisa kita lakukan: sudah, tidur saja. Tidur itu tanda hati kita tenang, tidak dipenuhi oleh kuatir, toh tidak bisa apa-apa. Petrus tidur. Yang kasihan adalah penjaga-penjaga di sebelahnya tidak bisa tidur seperti dia. Sebelum tidur dia berdoa, dia percaya kepada Tuhan, dia serahkan jiwanya kepada Tuhan. Tidak ada hal yang bisa dia lakukan dan kerjakan, bukan berarti dia kehilangan pengharapan. Mengapa gelisah dan gundah-gulana terhadap belenggu penjara atau sakit-penyakit yang menimpa dan terjadi kepada kita, toh kita punya Allah yang tidak pernah bersalah bekerja dalam hidupku. Apa yang engkau harus lakukan? Tidur, teduh, nyenyak di dalam Tuhan, mungkin ini yang engkau perlu dan harus lakukan. Sdr dan saya harus mengaku, tidak gampang untuk tidur. Otak kita akan terus berputar, kita akan coba terus cari jalan, dsb. Hari ini kita belajar aspek ini.

Yang kedua, respon yang luar biasa bagi setiap anak Tuhan yaitu berdoa. Allah menjawab doa anak-anakNya. Jelas jawaban Tuhan di dalam kedaulatanNya, di dalam caraNya, di dalam waktuNya. Yang hari itu mereka doakan melewati hari demi hari. Kapan Tuhan bekerja menyatakan kuasaNya? Kita tidak tahu. Kita tidak memaksa Allah, tetapi kita juga tidak berhenti berdoa karena kita percaya Allah kita adalah Allah yang mendengarkan doa. Pada waktu situasi dan kondisi memburuk, kita bisa membeku kaku dan tidak tahu apa yang bisa kita kerjakan di depan, membuat kita kuatir bertemu dengan orang, dsb. Satu hal yang kita tidak boleh berhenti lakukan yaitu bertekun dalam doa kepada Tuhan. Doa harus menjadi nafas kehidupan bagi setiap anak Tuhan. Dua kali dalam bagian ini kita melihat bagaimana Alkitab memberitahukan kepada kita penekanan itu, jemaat tekun berdoa.
Tuhan kita adalah Tuhan yang berdaulat. Kadang-kadang kita tidak mengerti mengapa Tuhan melepaskan Petrus dari penjara dan ancaman kematian, tetapi Tuhan mengijinkan Yakobus mati martir. Dalam dua kasus itu, bukan berarti Tuhan tidak sayang kepada Yakobus; bukan berarti Tuhan kita tidak sanggup untuk melepaskan dia; tetapi ada hal-hal yang tidak bisa kita mengerti bagaimana Tuhan berkarya di dalamnya. Petrus kali ini dilepaskan secara ajaib dan mujizat dari tangan Herodes, tetapi pada waktu pemerintahan kaisar Nero, Petrus ditangkap dan akhirnya mati martir di Roma. Sehingga pada waktu sesuatu hal terjadi kepada kita tetap Tuhan dimuliakan dan ditinggikan dalam hidup kita, sekalipun kita mati atau kalau Tuhan memberikan kesempatan kita tetap hidup dan melepaskan kita dari hal itu. Kita jangan terus mendesak dan menganggap Tuhan memberkati dan mengasihi kita jikalau Tuhan melakukan satu cara seperti yang kita mau.

Setelah Yakobus mati, Petrus kemudian ditangkap, bagaimana cara Tuhan melawan Herodes Agrippa ini? Cara yang pertama yang Tuhan lakukan adalah Tuhan melakukan mujizat melepaskan Petrus dari penjara. Secara perhitungan manusia sudah sangat mustahil bagi Petrus untuk lepas dari penjara karena penjagaan terhadap dia sedemikian ketat. Kisah Rasul 12:4-6 mengatakan ada dua orang penjaga yang menjaga di sisi kiri dan kanan dirantai bersama Petrus, dan ada dua penjaga lagi yang mengawal di depan pintu. Setiap enam jam empat penjaga melakukan rotasi sehingga dua puluh empat jam. Bahkan ketika malaikat Tuhan menyuruh dia bangun berdiri dan berjalan keluar dari selnya, Petrus sendiri berpikir dia sedang melihat suatu penglihatan. “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: Bangunlah segera! Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu, bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan” (Kisah Rasul 12:7-9). Petrus bisa keluar begitu saja dari penjara itu. “Dan setelah berpikir sebentar, pergilah ia ke rumah Maria, ibu Yohanes yang disebut juga Markus. Di situ banyak orang berkumpul dan berdoa” (Kisah Rasul 12:12). Ibu Yohanes Markus yang bernama Maria sudah menjadi pengikut Yesus sejak awal. Sangat besar kemungkinan ibu ini memiliki rumah yang cukup besar dan cukup kaya dari strata sosial menengah atas, sehingga rumahnya bisa dipakai oleh anak-anak Tuhan untuk berkumpul dan berdoa bersama. Kita mengenal orang yang bernama Petrus, Yohanes, dan yang lain-lain, tetapi kita tidak boleh melupakan dan mengabaikan bagaimana Tuhan bekerja dengan begitu banyak orang yang kita tidak pernah kenal dan tidak pernah tahu, mereka adalah orang-orang yang juga mengasihi Tuhan. Sekalipun Petrus ditangkap dan dipenjara, seorang ibu yang bernama Maria tidak kendor keberaniannya, membuka rumahnya untuk orang datang berdoa. Resikonya jelas besar, dia bisa ditangkap dan dipenjara juga. Tetapi kita menyaksikan pekerjaan Tuhan luar biasa seperti ini. “Pada keesokan harinya gemparlah prajurit-prajurit itu. Mereka bertanya-tanya apakah yang telah terjadi dengan Petrus. Herodes menyuruh mencari Petrus tetapi ia tidak ditemukan. Lalu Herodes menyuruh memeriksa pengawal-pengawal itu dan membunuh mereka. Kemudian ia berangkat dari Yudea ke Kaisarea dan tinggal di situ” (Kisah Rasul 12:18-19). Jelas waktu itu Petrus sudah bersembunyi. Anak-anak Tuhan juga perlu bijaksana, mereka menyembunyikan rasul Petrus. Yang kasihan adalah pengawal-pengawal itu yang harus menanggung kegeraman dan kemarahan Herodes.

Cara yang kedua, walaupun Herodes Agrippa berhasil membunuh rasul Yakobus dan ingin menghancurkan pekerjaan Tuhan, Kisah Rasul 12 ditutup justru dengan Tuhan membunuh Herodes. “Herodes sangat marah terhadap orang Tirus dan Sidon. Atas persetujuan bersama mereka pergi menghadap dia. Mereka berhasil membujuk Blastus pegawai istana raja ke pihak mereka, lalu mereka memohonkan perdamaian karena negeri mereka beroleh bahan makanan dari wilayah raja. Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan lalu duduk di atas tahta dan berpidato kepada mereka. Dan rakyatnya bersorak membalasnya: “Ini suara allah dan bukan suara manusia!” Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing” (Kisah Rasul 12:20-23). Kisah akhir hidup Herodes ini terjadi di tahun 44 AD, kira-kira tiga tahun setelah peristiwa pembunuhan Yakobus. Yosepus penulis sejarah pada waktu itu menceritakan ini adalah peristiwa yang terjadi pada waktu rakyat memberikan penghormatan kepada kaisar Klaudius yang sudah menggantikan Caligula dengan melakukan satu parade besar-besaran, dan di situ Herodes menyampaikan satu pidato di situ. Yosepus mencatat Herodes Agrippa tiba-tiba mengalami sakit yang luar biasa di bagian dada dan perutnya dan selama lima hari dia berteriak-teriak kesakitan. Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan dia, apakah terjadi pembusukan di dalam organ-organ di tubuhnya sehingga pada waktu dia mati, perutnya pecah dan dari situ keluar cacing-cacing yang menjijikkan. Alkitab sederhana mencatat, Herodes ditampar malaikat Tuhan karena dia tidak memberi hormat kepada Allah. Ayat ini jelas ditujukan bukan saja kepada Herodes Agrippa, tetapi juga ditujukan sebagai peringatan kepada setiap orang, khususnya anak-anak Tuhan dalam setiap hal yang terjadi, baik yang sukses atau yang hebat, Tuhan dimuliakan senantiasa dalam hidup kita. Bukan kekuatan dan tangan kita yang menjadikan itu semuanya. Hanya Allah yang patut dipuji dan disembah selama-lamanya.

Sanggupkah Herodes Agrippa menghancurkan pekerjaan Tuhan? Tidak. Kisah Rasul 12 ditutup dengan kalimat “Maka firman Tuhan makin tersebar dan makin banya didengar orang” (Kisah Rasul 12:24). Ayat ini menjadi penutup dan konklusi yang indah dari Kisah Rasul 12. Umat Tuhan bertahan hampir 4 tahun lamanya di tengah penganiayaan dan penyiksaan yang dilakukan oleh Herodes Agrippa sampai dia mati. Kisah Rasul 12:25 menjadi penutup dan sekaligus menjadi pembukaan satu era pekerjaan misi di pasal 13. “Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem setelah mereka menyelesaikan tugas pelayanan mereka. Mereka membawa Yohanes yang disebut juga Markus.”

Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati setiap kita. Di dalam level personal kita mungkin bisa mengalami apa yang dialami oleh rasul Yakobus, atau apa yang dialami oleh rasul Petrus. Kita juga bisa menghadapi oposisi dari orang-orang tertentu dalam hidup kita masing-masing. Biarlah firman Tuhan ini boleh menjadi berkat dan kekuatan bagi setiap kita. Ada anak-anak Tuhan mengalami kesulitan di tengah-tengah ibadah mereka, itu tidak mematahkan dan memutuskan harapan mereka. Berbakti di satu tempat tertentu tidak ada ijin tidaklah menjadi akhir dari segala-galanya. Yang membuat gereja tetap bertahan adalah mereka tekun berdoa, mereka bisa berkumpul secara diam-diam, kekuatan yang terjadi karena penganiayaan justru menguatkan iman anak-anak Tuhan. Kesulitan dan penderitaan dan sakit yang engkau alami pun juga harus senantiasa menjadi sarana yang Tuhan pakai untuk firmanNya makin tersebar, Yesus Kristus semakin dimuliakan, dan banyak orang mendengar akan namaNya. Saat kita menghadapi berbagai macam tantangan yang silih berganti, kiranya Tuhan menolong dan memberi kita kekuatan untuk tidak pernah kecewa dan putus asa dan tidak pernah membuat cinta kita kepada Tuhan menjadi luntur dan membuat hati kita patah arang untuk berseru dan berdoa kepada Tuhan karena kita tahu Allah kita adalah Allah yang mendengarkan doa dan Allah yang hidup dan berkarya pada waktuNya.(kz)