In Crisis: Do You stand on a Solid Ground or Sand?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: In Crisis: Do You stand on a Solid Ground or Sand?
Nats: Matius 7:21-27, Roma 8:35-39

“In Crisis: Do You stand on a Solid Ground or Sand?” Dalam keadaan krisis, apakah engkau berdiri di atas fondasi yang teguh ataukah di atas pasir yang goyah? Ini adalah satu peringatan dan panggilan dari Tuhan Yesus Kristus kepada setiap orang yang mengaku orang percaya Tuhan, bahkan orang-orang yang juga melayani Dia dan menyebut nama Tuhan di dalam hidupnya untuk melihat dengan serius kesungguhan, ketaatan dan kekuatan iman kita. Dalam keadaan lancar, aman dan nyaman, kita tidak bisa melihat siapakah murid Kristus yang sejati itu; kita tidak bisa melihat apakah cinta, kasih dan pelayanan seseorang itu sungguh-sungguh murni dan tulus atau tidak. Sampai pada waktu ada topan dan badai yang terjadi di dalam kehidupan ini, barulah semua terbuka. Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu kamu sekalian pembuat kejahatan! Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya” (Matius 7:21-27). Kiranya firman Tuhan ini boleh menjadi kekuatan bagi kita dan menjadi pertanyaan yang serius bagi setiap kita. Di tengah topan dan badai dan angin keras yang melanda hidup kita, adakah fondasi hidup kita kokoh di atas batu karang itu? Bukan soal bangunan seperti apa yang engkau bangun di atasnya, tetapi fondasi apa yang engkau taruh di situ. Pada waktu keadaan lancar, tidak ada topan dan badai, banjir dan hujan lebat, serta gempa yang terjadi, secara eksternal dua bangunan saling bersisian kelihatan sama dan mirip, seolah tidak ada bedanya. Kadang-kadang kita bisa iri melihat rumah orang lain yang lebih megah, keluarga orang lain yang kelihatan begitu harmonis, karir orang lain yang kelihatan lebih sukses dan lebih berhasil, dan kita menginginkan memiliki hal-hal yang sama seperti itu. Persoalan yang paling penting justru apa yang tidak kelihatan dari luarnya, apakah mereka sungguh-sungguh murid Tuhan; apakah mereka sungguh-sungguh orang yang mengasihi, percaya dan taat dan menjalankan semua perkataan Kristus dan menjadikan Kristus sungguh-sungguh Tuhan dalam hidupnya. Itu baru bisa terlihat ketika badai, banjir dan angin melanda, rumah itu tetap tegak berdiri atau roboh dan hancur? Hari ini kita sama-sama sedang menghadapi krisis itu. Kesulitan dan bencana, wabah pandemik yang begitu besar melanda, tidak ada yang bisa immune dan terlepas dari hal-hal seperti itu. Bagaimana sikap kita di dalam hal seperti ini?

Yang pertama, Inilah momen kita introspeksi diri apakah sungguh-sungguh pengenalan kita akan Tuhan itu adalah satu pengenalan yang benar? Apakah pengertian iman kita adalah pengertian iman yang benar? Biar hari ini kita mengoreksi baik-baik adakah melalui setiap prahara kesulitan, tantangan, badai topan ini kita sungguh-sungguh mencari Tuhan dan kenal Tuhan itu dengan sungguh-sungguh dalam hidup kita dan menjadikan Dia betul-betul Tuhan yang kita sembah? Semua badai dan topan ini akan mengoreksi pemahaman iman yang tidak benar dan pengikutan Tuhan yang asal-asalan. Tidak semua yang menyebut Tuhan, Tuhan; tidak semua orang yang melayani dengan nama Tuhan, Tuhan mengenal orang seperti itu. Kalimat ini adalah kalimat yang penting dari Tuhan Yesus Kristus untuk mengingatkan kepada setiap orang yang berkata bahwa dia adalah orang yang percaya kepada Yesus namun orang itu tidak pernah menjadikan Yesus sebagai Tuhan di dalam hidupnya. Di dunia ini ada begitu banyak orang menyembah sesuatu semata-mata untuk keuntungan dan kepentingan diri sendiri. Satu kali kelak ketika kerugian terjadi, maka orang itu akan pergi dan meninggalkan apa yang dia percayai. Pada waktu Yesus selesai mengadakan mujizat memberi makan 5000 orang, Injil Yohanes pasal 6 mencatat berbondong-bondong orang mengikuti Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Engkau mencari Aku karena kepentingan dirimu sendiri. Yesus lalu mengatakan hal-hal yang keras untuk menegur dan mengingatkan manusia harus mencari hal-hal yang kekal, yang tetap ada untuk selama-lamanya, ikut Tuhan dengan indah dan serius. Di bagian lain Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24). Mendengar perkataan Yesus seperti itu, banyak orang-orang itu meninggalkan Yesus dan tidak lagi mengikut Dia. Yesus berkata kepada ke dua belas muridnya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Petrus menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah hidup yang kekal dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah” (Yohanes 6:60-69). Pengenalan yang sungguh akan Tuhan itu yang menjadi kekuatan bagi murid-murid sekalipun mungkin mereka terkejut dan kaget melihat begitu banyak orang pergi meninggalkan Yesus.

Yang kedua, respon yang sangat menyedihkan, ada orang karena kesulitan dan tantangan, mereka menjadi masa bodoh dan tidak mau tahu tentang Allah sama sekali. ‘Apakah Tuhan ada, atau tidak ada, aku tidak tahu dan aku juga tidak peduli. Toh persoalan hidupku tidak mengalami perubahan. Percaya Tuhan pun tidak merubah apa-apa; tidak percaya Tuhan, toh hidupku juga tidak membaik.’ Ada begitu banyak juga anak-anak Tuhan pada waktu dalam keadaan lancar, penuh dengan kenikmatan, sukses, lalu kemudian berpikir Tuhan itu baik dan indah kepadanya. Mencari keamanan, kenyamanan, percaya bahwa Tuhan akan jaga dan pelihara hidup kita dan mencukupkan kita, memberikan kebaikan kepada kita dan pengaturan yang indah dalam hidup kita, itu semua bukan hal yang salah dan kita juga tidak berkata bahwa Allah kita adalah Allah yang tidak melakukan hal itu dalam hidup kita. Tetapi kalau kita menganggap itu sebagai hak dan menjadikan itu sebagai sesuatu tuntutan kita kepada Tuhan, pada waktu terjadi perubahan yang mendadak di dalam hidup kita, kita bisa menjadi orang yang akan sedih, kecewa, bahkan apatis kepada Tuhan. Jangan menjadi orang Kristen yang apatis. Justru di tengah bencana, kesulitan seperti ini menjadi satu ujian yang penting apakah kita menyatakan pelayanan, kesungguhan iman kita itu bukan dilihat oleh orang, bukan performance di dalam gereja, bukan sesuatu kegiatan yang kita lakukan bersama-sama, tetapi menjadi satu kekuatan iman di tengah-tengah susah dan sulitnya pekerjaan kita, tidak menentunya kondisi ekonomi yang ada, dan ketika kita mendengarkan orang-orang yang kita kenal, yang kita kasihi dan tidak terlepas begitu banyak hamba-hamba Tuhan dan jemaat di gereja-gereja dimana orang berbakti banyak yang didiagnose kena virus corona. Kita jangan menjadi lemah iman; jangan menjadi kecewa dan kemudian menjadi pasif di dalam hidup; jangan menjadi malas berdoa dan malas membaca firman Tuhan karena kita berpikir, buat apa lagi? Toh semua itu tidak mendatangkan manfaat dan perubahan apa-apa di dalam hidupku? Justru inilah yang menjadi ujian yang penting bagi kita pada saat-saat seperti ini.

Yang ke tiga, belakangan ini kita melihat sikap yang terbalik, ada orang justru menyatakan iman yang sangat membabi-buta, akhirnya cenderung bukan beriman sungguh kepada Tuhan tetapi malah menjadi orang yang mencobai Tuhan. Beriman kepada Tuhan tidak berarti iman kita menjadi iman yang nekad dan sembarangan. Kita melihat ada orang Kristen tertentu menghina orang Kristen yang lain dan menganggap mereka tidak beriman kepada Tuhan karena di tengah situasi ini tidak berani berbakti bersama-sama. Orang-orang ini kemudian mengatakan iman yang kuat diukur dari keberanian kita untuk mengambil keputusan-keputusan yang ekstrim adanya. Mereka menabrak dan mengesampingkan bijaksana dan nalar pikiran yang Tuhan sudah berikan kepada kita di dalam mengambil keputusan dengan bijak. Kita mungkin ketawa ketika ada orang mengatakan bahwa minum air kencing sapi, atau makan telur rebus di tengah malam bisa meningkatkan immune system dan menangkal virus corona. Tetapi sedih ketika kita mendengar ada sebuah gereja di Amerika memanggil jemaatnya berbakti lalu memakai kain putih dan menyuruh mereka berjalan melewati kain itu sambil berkata bahwa Tuhan akan melindungi mereka dari virus corona ini. Seminggu kemudian seluruh jemaat termasuk pendetanya terkena penyakit corona. Sedih kita, ada pendeta yang memiliki pengikut yang banyak bilang dia tidak takut terkena virus corona lalu dia menyalami dan memeluk orang lain; ada pendeta lain bilang bahwa minyak urapan berkhasiat melindungi dari virus corona dan mengoleskan orang lain dengan minyak itu. Bagi saya itu adalah tindakan yang sangat tidak bijaksana. Saya tidak meragukan kepercayaan kepada Allah dan firman Allah, tetapi jangan sampai kita menyebut kita beriman kepada Allah tetapi sebetulnya kita ingin orang itu percaya kepada perkataan kita dengan membabi-buta dan kita merasa kita adalah seorang yang hebat dan penuh dengan iman yang besar. Penyakit menular seperti virus corona begitu menakutkan dan menguatirkan banyak orang, karena bisa jadi orang yang kelihatannya sehat yang ada di sekitar kita mungkin justru menjadi carrier pembawa dan penyebar virus corona kepada orang yang rentan dan sakit, maka itu menjadi penyakit yang fatal dan sanggup bisa merenggut nyawa orang itu. Dalam hal ini sikap kita sebagai orang Kristen menghadapi virus corona bukan karena kita takut kepadanya tetapi kita menjadi orang yang bersikap dengan bijaksana bagaimana supaya kita tidak mencelakakan dan memberikan penularan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, yang kita kenal dan kasihi.

Belakangan ini orang sering mengutip Mazmur 91, terutama ayat 7-8, “Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik.” Lalu ayat 10-11 “Malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikatNya akan diperintahkanNya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.” Ayat-ayat ini dipakai menjadi doa orang Kristen untuk bisa mengusir wabah penyakit menular virus corona di dalam hidup mereka. Bukan saya tidak percaya kepada firman bahwa Tuhan akan menjaga dan melindungi kita di dalam keselamatan kita, tetapi pada waktu kita mengutip ayat atau mengajar seperti ini adakah kita sungguh-sungguh memahami secara benar dan komprehensif akan apa yang Alkitab ajarkan kepada kita? Mengutip Mazmur 91:10-11 dan berkata bahwa Allah akan memerintahkan malaikat-malaikatNya untuk menjaga engkau sehingga engkau tidak akan mengalami segala bencana, sakit-penyakit, kesusahan dan kesulitan, bukankah ayat-ayat yang sama dipakai oleh Iblis pada waktu mencobai Yesus? Iblis berkata, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diriMu ke bawah, sebab ada tertulis mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikatNya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya supaya kakiMu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya, “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Matius 4:6-7). Yesus Kristus berkata apa yang dicatat dalam kitab Taurat Musa, kitab Mazmur dan kitab Nabi-nabi semuanya tergenapi di dalam diriNya (Lukas 24:44). Berarti pada waktu kita membaca Perjanjian Lama, apa yang dicatat semua di dalam kitab-kitab itu, kita harus melihat apa yang dikatakan di dalam Perjanjian Lama itu dilihat dari seluruh pengajaran Perjanjian Baru bagaimana penggenapannya di dalam Yesus Kristus. Demikian kita bertanggung jawab memberikan teologi dan pengertian yang benar dan sehat dalam memahami Alkitab bukan sekedar mengambil dan mencopot satu-dua ayat lalu menyusun teologi buatan sendiri. Kita jangan mencobai Tuhan Allah kita, demikian kata Tuhan Yesus Kristus.

Di dalam Perjanjian Lama, konsep Tuhan menjaga keselamatan kita dinyatakan dengan memakai contoh yang konkrit seperti kalimat: Ia akan memberkati, menjaga dan melindungi dari sakit-penyakit, menjauhkan kita dari tangan musuh, dsb tidak berarti orang-orang yang ikut Tuhan dalam Perjanjian Lama tidak mengalami penganiayaan, sakit dan penderitaan. Semua janji itu kelak menjadi nyata di dalam Perjanjian baru ketika Yesus Kristus datang ke dalam dunia. Dia adalah penggenapan dari keselamatan Allah itu, bahwa di dalam Dia, Ia akan mengalahkan maut, Ia akan mengalahkan Setan, Ia akan merestorasi dunia ini dari sakit, penderitaan dan bencana dan itu dinyatakan dengan berbagai mujizat Yesus menyembuhkan orang sakit, dinyatakan dengan pelayanan Yesus mengusir roh-roh jahat, dan puncaknya melalui kebangkitanNya dari kematian. Kelak nanti pada waktu Yesus datang kali yang ke dua, semua janji-janji itu menjadi lengkap dan final. Pada waktu Yesus datang kali ke dua tidak akan ada lagi air mata, tidak ada lagi penderitaan dan sakit-penyakit karena Ia sudah menang atas kematian, sakit dan penderitaan, dan Ia akan datang kembali menyelesaikan semuanya. Kita yang hidup di tengah-tengah hal yang sudah terjadi dan yang belum digenapi dengan lengkap dan sempurna [already and not yet], dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa, di sekitar kita penuh dengan segala wabah penyakit yang tidak bisa kita hindarkan yang kapan saja bisa datang menimpa kita. Kita mengeluh, kita menangis dan berseru kepada Tuhan di tengah sakit, bencana, kematian yang datang silih berganti. Tetapi seperti Paulus dalam Roma 8:35-39 berkata, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan atau kelaparan atau ketelanjangan atau bahaya atau pedang? Tetapi di dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa baik yang di atas maupun yang di bawah ataupun sesuatu mahluk lain tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Biar hati kita ditarik kembali kepada perspektif ini, sehingga kita tidak menjadi lemah dan kecewa. Justru dengan pemahaman ini maka kita dibangun di atas batu karang yang teguh yaitu iman kepada Yesus Kristus yang kita sembah, yang menyatakan firmanNya untuk kita taat dan menjalaninya. Kita jadikan Ia Allah yang kita sembah dengan sungguh dan merestorasi ibadah kita dengan sungguh kepadaNya. Sehingga apapun yang terjadi dalam hidup kita, Ia tetap yang kita puji dan sembah selama-lamanya. Respon yang kedua, mari kita menjadi orang Kristen yang tidak tertidur dan tidak menjadi lengah; mari kita selalu berjaga-jaga di dalam hidup kita karena satu kali kelak Ia akan datang dan mendapati kita siap menyambut kedatanganNya. Secara moral, secara tindakan kelakuan, kita menjadi orang Kristen yang berjaga-jaga dengan menyatakan hormat dan menaati firmanNya dalam hidup kita. Kita tidak menjadi orang Kristen yang masa bodoh dan hanya memikirkan diri sendiri. Kita mencintai dan menghargai dan memuliakan Allah dengan kata-kata kita yang membawa pengharapan dan berkat kekuatan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Dan respon yang ke tiga, seperti Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, kita berkata: Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga. Kita yang telah menerima keselamatanNya, maka kita mengerti bahwa shalom Tuhan yang akan merestorasi dunia ini adalah satu tindakan Allah yang bersifat progresif adanya. Kita dipanggil mendoakan kiranya kehendak Bapa yang ada di surga itu hadir dan nyata di atas muka bumi ini. Maka inilah yang menjadi fokus kita setiap hari, mari kita menjadi orang Kristen yang berjuang dengan sungguh menghadirkan shalom dari Injil Yesus Kristus nyata di atas muka bumi ini. Mari kita berjuang dengan sungguh bagaimana kita bisa menang dan mengalahkan setiap sakit-penyakit dan penderitaan yang ada di atas muka bumi ini di dalam porsi kita masing-masing. Maka di tengah wabah dan bencana ini, mari kita berjuang sama-sama untuk bisa berdoa dengan sungguh dan menyatakan tindakan yang baik mendukung tim medis yang berjuang mencari vaksin, kita berdoa bagi mereka. Kita menjadi orang Kristen yang berbagian bagaimana bisa meminimalkan kesulitan dan penderitaan yang menimpa bukan saja secara fisik dan kesehatan banyak orang, tetapi juga secara ekonomi dan kesulitan di dalam pekerjaan. Akan banyak orang yang mungkin kita kenal pribadi sedang menghadapi kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, membayar sewa rumah, dsb. Mari kita menjadi orang Kristen yang bersumbangsih memikirkan dan membantu dari apa yang kita bisa. Di situlah kita berbagian di dalam menaati firman Allah.

Biar kita sambut firman Tuhan ini sebagai anak-anak Tuhan yang merestorasi dan memulihkan relasi kita dengan sungguh kepada Tuhan; mengerti dan memahami Tuhan adalah Allah yang ajaib, luar biasa dan yang berdaulat, yang mengatur dan menggembalakan hidup kita. Yesus Kristus yang telah menang atas kematian, adalah Tuhan yang memimpin supaya kita tetap teguh di dalam Dia, apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita tetap pegang tangan Tuhan; kita tidak pernah undur dan kecewa tetapi kita dipulihkan dan makin mencintai mengasihi Tuhan. Mari kita menjadi orang Kristen yang berjaga-jaga, yang senantiasa hidup untuk memperjuangkan shalom Tuhan terjadi dalam dunia ini. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita dengan tugas pekerjaan baik yang kita kerjakan. Kita berdoa bagi anak-anak Tuhan, bagi orang-orang yang ada di sekitar kita, yang mengalami secara langsung akibat dari pandemik virus corona ini, bagi para dokter dan suster yang bekerja dengan luar biasa merawat di garis depan, Tuhan kiranya menjaga dan memelihara mereka. Biar semua yang terjadi membuat lutut kita bertelut kepada Tuhan dan hati kita berseru kepadaNya karena kita tahu kita tidak berdaya, kecil dan lemah. Kita membutuhkan Tuhan selalu. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.(kz)