In Crisis: Are You a Hero or a Loser?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: In Crisis: Are You a Hero or a Loser?
Nats: 2 Tawarikh 32:1-8

“In Crisis: Are You a Hero or a Loser?” Satu pikiran yang terus bergema dalam pikiran saya sepanjang minggu ini: Ketika krisis tiba, siapakah kita? Apakah kita menjadi ksatria iman atau justru menjadi pecundang rohani di tengah-tengah menghadapi krisis dan kesulitan di dalam hidup kita? Dan sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, apakah kita menghidupi secara maksimal apa yang kita imani itu? Kita bisa melihat ada orang-orang yang melarikan diri, ada orang-orang yang mencari kepentingan diri, ada orang yang mencari jalan aman, berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri bahkan sekalipun itu merugikan orang lain. Tetapi kita bisa melihat ada orang-orang yang berani mengambil keputusan berkorban dan melakukan segala usaha bagaimana mereka bisa mengatasi krisis itu. Secara pribadi, bagaimana kita bersikap dan berespon kepada firman Tuhan, kita menjalankannya, kita berani berkorban, kita bersedia hati untuk boleh menjadi orang-orang Kristen yang bertanggung jawab di dalam dunia ini bagi kemuliaan Tuhan dan bagi kesejahteraan banyak orang. Di situlah engkau menjadi seorang ksatria iman di dalam hidupmu.

Alkitab menyatakan krisis demi krisis tidak pernah lepas dalam sejarah perjalanan umat Allah yakni bangsa Israel. Kita bisa melihat sejarah hidup Yusuf, berbagai macam ketidak-adilan tidak pernah habis-habisnya dia alami dalam hidupnya. Kita tahu ada krisis yang sangat besar dialami orang Yahudi pada jaman Ester dan Mordekhai. Itu bukan satu bencana, itu bukan krisis kekeringan dan kelaparan; tetapi itu adalah ancaman genocide kematian secara massal kepada satu bangsa, satu ancaman yang mengerikan begitu nyata di depan mata. Tidak ada hal yang bisa mereka kerjakan dan lakukan, bahkan Ester pun merasa takut bagaimana bertindak di dalam hal seperti itu. Tetapi Mordekhai mengingatkan Ester, “Jangan kira karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu” (Ester 4:13-14). Ester sadar dia pun tidak bisa luput dari ancaman kematian itu. Maka dia ambil keputusan dan mengambil tindakan bagaimana bisa menyelamatkan begitu banyak orang dari ancaman genocide yang ada sekalipun nyawa menjadi taruhannya. Ada skala yang besar seseorang menjadi ksatria di dalam perjalanan hidupnya, tetapi ada juga skala-skala yang kecil. Ini bukan soal berapa besar yang dikerjakan dan dilakukan oleh seseorang, tetapi bagaimana orang itu bersikap dan berespon adanya. Kita tidak perlu tunggu sampai kita menjadi presiden, pemimpin dan gubernur baru kita bisa menyatakan tindakan sebagai seorang hero; kita tidak perlu tunggu untuk menjadi orang yang kaya dan hebat dan mempunyai pengaruh yang besar baru kita bisa bertindak heroic di dalam hidup kita. Kita bisa lakukan itu sekalipun hanya dalam kesempatan dan kapasitas yang kecil, yang mungkin tidak menjadi pengaruh yang besar untuk menyelamatkan satu bangsa yang besar.

Kitab 2 Tawarikh 29-31 mencatat Hizkia naik tahta menjadi raja pada waktu situasi yang tidak gampang dan tidak mudah, namun sejak masa mudanya dia melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan Tuhan pimpin kehidupannya. Dia melakukan perbaikan kepada Bait Allah dan dia melakukan restorasi bagi kehidupan spiritual orang Israel. Ibadah menjadi indah, pelayanan di Bait Allah menjadi luar biasa, dan negeri dimana dia memerintah menjadi makmur adanya. Tetapi kemudian terjadilah dua krisis besar dalam hidupnya, yang menguji dan memperlihatkan bagaimana sesungguhnya iman Hizkia kepada Tuhan. Krisis yang pertama terjadi 14 tahun setelah dia memerintah Yehuda, ketika Sanherib, raja Asyur, beserta tentara-tentaranya mengepung kota Yerusalem (2 Tawarikh 32:1-8). Pengepungan berarti putuslah bahan makanan, dan mereka hanya bisa makan apa yang ada di dalam kota itu. Sampai berapa lama? Pasti cepat atau lambat mereka akan kehabisan bahan makanan. Air yang tersedia begitu terbatas adanya. Selain itu raja Sanherib memakai utusan-utusannya untuk melakukan tekanan intimidasi kepada rakyat, “Tidak ada allah dari bangsa atau kerajaan manapun yang dapat melepaskan bangsanya dari tanganku dan dari tangan nenek moyangku, lebih-lebih lagi Allahmu itu takkan dapat melepaskan kamu dari tanganku!” (2 Tawarikh 32:15). Mereka menghina dan menertawakan Tuhan Allah orang Israel. Situasi ini tidak main-main. Pengepungan itu nyata; pengepungan berjalan dalam waktu yang panjang; krisis itu tidak segera berlalu. Mereka harus menjalani dan melewatinya.

Bagaimana sikap Hizkia di tengah krisis itu? Bagian ini mencatat Hizkia menyatakan iman yang hidup, iman yang sejati kepada Tuhan. Dia berkata kepada bangsa Israel yang sedang dicekam panik, takut dan kuatir, “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya karena yang menyertai kita lebih banyak daripada yang menyertai dia. Yang menyertai dia adalah tangan manusia tetapi yang menyertai kita adalah TUHAN, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita” (2 Tawarikh 32:7-8). Itu adalah kalimat yang sungguh memberikan kekuatan kepada bangsa Israel pada waktu itu bahwa Tuhan pasti menolong dan memelihara mereka. Hizkia memperlihatkan imannya kepada Allah, yang kemudian dia jalani dengan maksimal menjadi iman yang berkorban bagi kepentingan banyak orang, iman yang memikirkan kesejahteraan banyak orang, iman yang mengabaikan akan keselamatan diri sendiri, iman yang menggeser pencaharian kenikmatan diri sendiri. Iman yang melihat ke depan, memikirkan apa yang terbaik yang di dalam kekuatannya yang bisa dia kerjakan bagi hormat kemuliaan nama Tuhan dan bagi kesejahteraan bangsanya. Itulah iman yang ditunjukkan oleh Hizkia pada waktu itu sebagai seorang pemimpin dan seorang ksatria di hadapan Tuhan. Seorang ksatria bukan bicara mengenai gelar jabatan, tetapi itu bicara mengenai sikap hidup iman orang itu, ekspresi daripada iman seseorang kepada Tuhan. Ketika pengepungan terjadi, 2 Raja-raja 19 mencatat Hizkia mengoyakkan pakaiannya dan memakai baju tanda berkabung, dia masuk ke Bait Allah bersembah sujud menyembah dan berseru kepada Tuhan. Ia berdoa memohon pertolongan dan kelepasan dari Tuhan (2 Raja-raja 19:14-19). Dalam 2 Tawarikh 32 berbicara mengenai aktifitas iman yang ditunjukkan oleh Hizkia. Setelah mendengar kota ini akan dikepung, ayat 2-3 memperlihatkan Hizkia kemudian mendapatkan nasehat dari penasehat-penasehat raja (ayat 3), dia kemudian mengumpulkan orang (ayat 4), dia berusaha keras memikirkan dan melakukan hal-hal yang perlu (ayat 5), dia kemudian berbicara menenangkan hati begitu banyak orang. Dia juga kemudian mengarahkan semua rakyat melihat kebesaran dan kekuatan Tuhan di tengah-tengah situasi itu (ayat 6).

Ada bencana bisa datang dan berlalu dengan cepat sehingga kita bisa dilepaskan dengan segera dari bencana seperti itu. Tetapi adakalanya kesulitan dan bencana itu bisa terjadi dan menimpa cukup panjang dan lama. Di tengah-tengah fase seperti itu ada orang yang awalnya menghadapi dengan optimisme berjalan bersama Tuhan, namun setelah beberapa waktu berlalu mungkin kepercayaan iman itu berubah menjadi kekuatiran dan ketakutan. Sehingga kemudian kekuatiran dan ketakutan seperti itu membuatnya kemudian berpikir apa yang bisa dia kerjakan dan lakukan untuk mendapat jalan keluar lepas dan menyelamatkan diri sendiri. Apakah respon seperti itu yang keluar dari hati sdr? Ataukah justru di tengah-tengah keadaan dan situasi seperti ini sekalipun kita kuatir dan takut, itu tidak membuat kita lemah dan mundur tetapi justru membuat kita keluar dari ketakutan dan kita kemudian berpikir, berusaha keras semaksimal mungkin apa yang bisa kita kerjakan di dalam batasanku sebagai orang yang mengekspresikan imanku kepada Tuhan, mungkin dengan mendoakan orang lain, memikirkan apa yang akan aku kerjakan bagi orang lain. Pengorbanan apa yang bisa keluar dan lahir dari hidupku kepada kepentingan orang banyak, apa yang bisa keluar dari ekspresi hidup percayaku kepada Tuhan karena kita tahu semua itu pasti akan berlalu dan Tuhan memakai kita boleh menjadi alatNya di dalam hal seperti itu. Itulah attitude seorang ksatria; itulah attitude seorang hero.

Sedih jikalau kita mendengar respon gereja dan orang Kristen selalu lamban dan terlambat. Sementara sebuah yayasan keagamaan di Indonesia meresponi situasi dengan mengambil tindakan membeli jutaan rapid test bagi virus corona untuk bisa dibagikan secara gratis kepada orang-orang yang tidak mampu, malah gereja terus sibuk berdebat bahkan bisa saling menuduh dan menimbulkan perpecahan karena soal perlu tidak melakukan ibadah secara live streaming, ibadah online atau tidak, sibuk memperdebatkan ibadah dengan cara liturgi yang diperpanjang atau diperpendek, dsb. Kenapa kita berpikir sampai sebegitu? Apakah doa yang disampaikan oleh seorang pendeta atau romo tertentu dsb, ini pasti doa yang benar dan sah dilakukan dalam ibadah, lebih daripada doa seorang ibu yang mungkin hanya berdoa, “Tuhan, tolonglah hamba”? Doa adalah nafas iman setiap orang percaya. Membaca firman Tuhan, berdoa di hadapan Tuhan, ibadah, itu adalah hal-hal yang esensial. Seringkali kita salah paham dan gagal paham. Ibadah itu sendiri adalah hal yang essential. Yang tidak essential adalah tempat ibadahnya. Sehingga sekalipun kita melakukan ibadah live streaming, itu adalah hal yang tidak bersalah adanya. Ibadah live streaming sendiri tidaklah harus menjadi sesuatu keharusan. Di tengah-tengah situasi seperti ini ketika kita tidak bisa lagi keluar dari rumah, ketika bencana itu ada di depan pintu kita, karena virus tu terlalu ganas dan sangat menular adanya. Dan rumah adalah tempat yang paling aman bagi kita saat ini, sehingga ibadah keluarga menjadi ibadah yang Tuhan rindukan menjadi berkat yang luar biasa. Dan apakah itu menjadi ibadah yang kalah penting dan kualitas rohaninya dan perkenanannya berbeda dengan kualitas ibadah di dalam gedung gereja? Kalau kita masih memperdebatkan soal bagaimana bentuk ibadahnya, lalu kemudian akhirnya terjadilah perpecahan di antara pekerja di dalam gereja hanya karena bolak-balik bicara soal ini.

Hizkia mengambil keputusan mengumpulkan orang; Hizkia memikirkan dan melakukan dengan sekuat tenaga bagaimana menjamin kesejahteraan kota dimana rakyatnya tinggal. Makan minum mereka, sumber air mereka, dia memikirkan bagaimana supaya rakyatnya itu terhindar dari ancaman serangan dari pengepungan yang dilakukan oleh tentara-tentara Sanherib. Dia menguatkan iman dan hati umat Allah untuk percaya dan bersandar kepada Allah. Iman itu dinyatakan dengan sungguh-sungguh nyata berkorban bagi orang lain, menyatakan kemuliaan Allah bagi kesejahteraan orang lain.

Tetapi pada fase ke dua di akhir daripada hidupnya Hizkia menghadapi satu krisis yang luar biasa, krisis yang menjadi pengujian bagi iman Hizkia. 2 Tawarikh 32:24-25 mencatat demikian, “Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit sehingga hampir mati. Ia berdoa kepada TUHAN dan TUHAN berfirman kepadanya dan memberikannya suatu tanda ajaib. Tetapi Hizkia tidak berterima kasih atas kebaikan yang ditunjukkan kepadanya karena ia menjadi angkuh, sehingga ia dan Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka.” Hizkia mengalami sakit yang sangat keras dan nabi Yesaya memberitahukan dia bahwa dia akan segera mati. Tuhan bilang, selesai sudah hidupmu di dunia ini. Hizkia menangis dengan sangat pilu, Hizkia berdoa kepada Tuhan dan Tuhan memberikan kesempatan hidup bagi dia lima belas tahun lagi (2 Raja-raja 20:1-11). Tetapi setelah kesembuhan itu, apa yang terjadi? Lima belas tahun terakhir hidupnya, kesempatan ke dua yang Tuhan berikan memperjanjang usianya, bukan membuat Hizkia menjadi rendah hati dan takut kepada Tuhan. Sebaliknya, Hizkia menjadi angkuh dan sombong. Dia jaya, dia hebat, dia melakukan begitu banyak hal sehingga kekayaannya begitu besar. Dalam kitab 2 Raja-raja 20:12-19 dituliskan setelah Hizkia sembuh, raja Babel mengirim utusan dan pemberian kepadanya. Sikap dan perhatian raja Babel membuat Hizkia besar kepala dan merasa dirinya penting. Dengan arrogant dia menunjukkan harta bendanya yang begitu banyak itu kepada utusan-utusan raja Babel, bukan saja harta yang ada di istana, tetapi juga semua perkakas yang ada di dalam Bait Allah. Maka datanglah nabi Yesaya bertanya kepada Hizkia: apa yang engkau perbuat ini? Hizkia menjawab, ini utusan-utusan dari negeri Babel datang untuk melihat keadaanku setelah sembuh dari sakit dan aku menunjukkan kepada mereka segala harta benda di istanaku dan juga yang ada di Bait Allah. Betapa bodohnya Hizkia! Namun dalam 2 Tawarikh 32:31 membukakan apa yang ada di balik peristiwa ini: “Ketika utusan-utusan raja Babel datang kepadanya untuk menanyakan tentang tanda ajaib yang telah terjadi di negeri, ketika itu Allah meninggalkan dia untuk mencobainya, supaya diketahui segala isi hatinya.” Tuhan Allah sengaja mundur untuk melihat bagaimana sikap hati Hizkia setelah disembuhkan oleh Allah, apakah dia sungguh takluk dan bersandar kepada Allah menyadari hidupnya dan segala yang dia miliki adalah dari Allah semata-mata. Maka nabi Yesaya memberikan satu nubuat yang akan tergenapi 100 tahun kemudian, “Dengarkanlah firman TUHAN! Sesungguhnya, suatu masa akan datang bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikian firman TUHAN. Dan dari keturunanmu yang akan kauperoleh, akan diambil orang untuk menjad sida-sida di istana raja Babel!” (2 Raja-raja 20:16-18). Seratus tahun dari sekarang kerajaan Yehuda akan menghadapi krisis yaitu Babel nantinya akan mengepung kota Yerusalem dan menjarah semua harta benda di istana dan segala perkakas yang ada di Bait Allah akan diangkut semuanya. Itu terjadi pada masa Daniel (Daniel1:1-2). Ketika nabi Yesaya memberitahukan hal-hal nubuatan ini, inilah sikap Hizkia menanggapinya, “Hizkia menjawab kepada Yesaya: “Sungguh baik firman TUHAN yang engkau ucapkan itu!” Tetapi pikirnya: “Asal ada damai dan keamanan seumur hidupku!” (2 Raja-raja 20:19). Inilah yang saya sebut the attitude of the loser, sikap hati daripada seorang pecundang adanya. Hizkia di awal dia bertindak sebagai hero, tetapi di belakang hari dalam segala kejayaannya dia menjadi lengah, sombong dan angkuh. Di situlah awal kejatuhan Hizkia. Ketika krisis akan datang dia bilang: masa bodoh, aku tidak peduli. Bagaimana nanti rakyatku sengsara, ditindas, mengalami kelaparan, dibuang ke negeri asing, aku tidak peduli! Yang penting selama aku hidup ada damai sejahtera dan ketenteraman.

Kita belajar dalam diri satu orang yang namanya Hizkia satu hal penting di sini, tidak selamanya satu orang akan menjadi hero dan tidak selama-lamanya dia menjadi loser dalam segala waktu. Kiranya kita menjadi seorang yang senantiasa rela diperbaharui oleh Tuhan. Di tengah keadaan lancar kita tidak menjadi congkak dan bersandar kepada kekuatan kita sendiri. Kita tidak menjadi orang yang egois, yang hanya hidup bagi diri dan tidak pernah memikirkan orang-orang lain dalam hidup kita. Kita diingatkan selalu, tidak ada hal yang bisa kita pegang dan genggam erat-erat di dalam dunia ini selain Tuhan sendiri.

Krisis di depan tidak segera berhenti; mungkin bisa beberapa minggu, beberapa bulan, kita tidak tahu. Virus corona mungkin bisa tinggal dalam hidup kita yang bisa datang kapan saja. Krisis selanjutnya: tsunami kehilangan pekerjaan, tidak bisa bayar rent, dsb. Yang pertama akan kena adalah sdr yang berada dalam industri travel, hotel, cafe, wedding, toko bunga, toko kue, yang menjadi chef, yang menjadi kitchen-hand, yang menjadi waitress, dsb. Semua itu yang pertama-tama akan menghadapi imbas terhadap nafkah dan mata pencaharian mereka. Ini adalah hal-hal yang berat adanya. Saya rindu mari kita mulai pikirkan baik-baik, kalau bisa mari kita berani berkorban, kalau kita masih punya kelebihan, pakai itu menjadi kesempatan kerjakan dan lakukan apa yang kita bisa. Mungkin kita bisa memberikan pinjaman tanpa perlu ada bunga untuk satu dua bulan, sampai mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri mencari pekerjaan bagi hidup mereka. Jangan seperti Hizkia yang berkata selama saya ada makanan, saya aman, saya tidak kena, masa bodoh dengan yang lain. Itu bukan sikap seorang Kristen yang baik. Kalau gereja hanya terus pikirkan bagaimana dengan tata ibadah, live streaming atau tidak, orang akan hadir atau tinggal di rumah, dsb, kenapa kita hanya pikirkan hal-hal seperti itu? Kita kehilangan hati sebagai anak-anak Tuhan memikirkan pekerjaan Tuhan lebih indah.

Hari ini kehidupan dari raja Hizkia, di awal dia menjadi seorang hero, tetapi di belakang hari dia menjadi seorang yang hanya mementingkan diri sendiri. Tidak mau berkorban, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, kesejahteraan dan kenyamanan diri sendiri, dia tidak peduli dengan yang lain. Itu adalah a loser’s attitude. Menghadapi krisis di hari-hari ini, engkau dan saya dipanggil oleh Tuhan untuk bertanya apa yang bisa kita kerjakan dan lakukan di dalam komunitas kecil dimana kita berada? Saya rindu kita tidak hanya berkata-kata kita cinta Tuhan, iman kita kuat, kita tidak takut virus apapun, tetapi semua itu hanya menjadi slogan rohani yang kosong tetapi tidak menjadi pekerjaan iman yang hidup dan nyata yang bisa kita kerjakan bagi sejahtera hidup orang lain. Kiranya Tuhan menolong setiap kita. Inilah saatnya ketika kita berkata bahwa kita orang yang beriman, kita menguatkan dan menghibur orang lain. Kita yang percaya Allah kita adalah Allah yang in control, mari kita mau menghidupi iman kita yang membuat kita maksimal bekerja dengan indah, berkorban, berbagian, memikirkan di dalam kapasitas diri kita masing-masing apa yang bisa kita kerjakan. Kita berdoa ingat kepada anak-anak Tuhan yang ada di pembaringan dalam keadaan sakit, kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan kesembuhan kepada mereka. Kiranya Tuhan memberkati anak-anak Tuhan yang bekerja menjadi dokter, perawat, tenaga medis yang ada di front terdepan. Mereka melakukan pekerjaan yang baik, yang agung dan mulia ini, kiranya Tuhan jaga dan pelihara mereka. Biarlah di masa-masa krisis seperti ini kita memiliki sikap dan attitude sebagai seorang ksatria iman di dalam hidup kita dan nama Tuhan akan dipuji dan dimuliakan selama-lamanya.(kz)