So This is Your Life [10]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: So This is Your Life [10]
Tema: Finish the Race
Nats: 2 Timotius 4:1-8

Hari ini kita akan menyelesaikan seri khotbah “So This is Your Life” dengan merenungkan satu bagian dari surat yang terakhir Paulus tulis dalam 2 Timotius 4:1-8. Di sini Paulus menyatakan isi hati dia dan memanggil Timotius dan setiap orang yang percaya bagaimana menyelesaikan akhir hidup kita, how to finish the race dari hidup kita masing-masing. Paulus membuka bagian ini dengan berkata, “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataanNya dan demi KerajaanNya” (2 Timotius 4:1). Dalam terjemahan NLT, “I solemnly urge you in the presence of God and Christ Jesus, who will someday judge the living and the dead when He appears to set up His kingdom.”

Dalam hidup kita ada start, ada finish. Banyak orang berpikir ketika kita lahir itu starting point hidup kita, dan ketika kita mati, itu menjadi garis finish kita. Tetapi bagi Paulus, kebangkitan Kristus adalah titik start bagaimana kita harus menjalankan hidup kita. “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu. Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka ‘marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati’ (1 Korintus 15:14, 32). Banyak orang yang tidak percaya Tuhan berprinsip seperti ini: mari kita makan dan minum karena besok kita akan mati. Waktu berjalan begitu cepat, hidup ini terlalu singkat dan akan segera berakhir maka nikmatilah setiap kesempatan yang datang ke dalam hidupmu; bersukacitalah dan bersenang-senanglah selagi ada waktu. Seringkali kita terjebak dengan perspektif ini, bukan? Tetapi sebagai orang percaya kita mengerti bahwa kebangkitan Kristus itu adalah starting point makna daripada hidup ini dan kita percaya bahwa suatu hari Ia akan datang membangun kerajaanNya di atas muka bumi ini, itulah yang menjadi perspektif bagaimana kita menjalani hidup di dunia ini.

Maka dua hal yang penting yang harus menjadi braket bagi kehidupan kita di dalam dunia ini. Yang pertama: satu kali kelak Yesus akan datang dan mendirikan kerajaanNya. Yang kedua: kalimat yang Paulus katakan di ayat 6 my time is near, saat kematianku sudah dekat. Ini dua perspektif penting. Yang satu adalah dari perspektif kekekalan: Yesus akan datang mendirikan kerajaanNya secara final di atas muka bumi ini. Lalu dari perspektif sementara, yang limit, yang terbatas, tidak bisa tidak satu kali kelak waktu kematian kita akan segera tiba. Kalau kita hanya melihat dari perspektif waktu kita hidup di dunia ini selesai dan kematian akan tiba, akhirnya kita akan terpatok pada melihat apa yang akan kita akan raih dan capai, berapa panjang kita akan hidup di dunia ini, kita rasa betapa indah dunia ini, betapa berbahagianya orang kalau bisa mencapai usia yang panjang. Sehingga kita akhirnya sedih dan kecewa atau merasa kasihan jika ada orang meninggal di dalam usia yang masih muda. Kita pikir sayang sekali, kalau saja lebih lama dia hidup di dunia ini mungkin banyak hal yang bisa dia raih. Pada waktu tragedi demi tragedi seperti ini terjadi, itu menggugah hati kita untuk juga melihat dan menilai bagaimana hidup kita. Kalimat Paulus ini kiranya menuntun hati kita melihat karena satu kali kelak Yesus akan datang kembali sebagai Raja dan akan membangun kerajaanNya, maka ada empat point yang boleh menata hidup kita sekarang bagaimana kita melihat hidup kita di dalam dunia ini.

Yang pertama, hidup kita di dalam dunia ini harus dilihat dari perspektif kerajaan surgawi dengan segala nilai-nilai surgawinya akan diteguhkan di atas muka bumi ini ketika Yesus Kristus datang kembali dan mendirikan kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Dalam “Doa Bapa Kami,” dikatakan: Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga. Kita merindukan Tuhan akan menjadikan kerajaanNya dan kehendakNya terjadi di bumi ini. Kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia dan berita Injil keselamatan yang Ia berikan adalah usaha Allah menyatakan kasihNya untuk melepaskan manusia yang berjalan di dalam kegelapan dan pemberontakan kepada Allah untuk dipanggil dan dibawa kepada terangNya yang ajaib (1 Petrus 2:9). Itulah berita dari Alkitab kita. Ketika manusia memberontak dan ingin menjadi tuhan atas dirinya, di situlah kegelapan, kejahatan, dan dosa manusia lari dari hadapan Tuhan menjadi neraka di dalam kehidupan mereka. Ketika manusia hidup di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa ini, manusia menghadapi problem di mana-mana; problem sakit-penyakit dan kematian, problem kejahatan, ketidak-adilan, inilah yang mengikat kita. Dalam Roma 8:18-23 dikatakan seluruh mahluk dan anak-anak Allah, kita semua mengeluh dan berseru, kita merindukan Yesus akan datang kembali sebagai Hakim yang adil dan mendirikan kerajaanNya di atas muka bumi ini. Kita percaya ketika Yesus datang untuk ke dua kalinya, di situlah kuasa dan dominasi dosa berakhir. Di dalam langit dan bumi yang baru tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi dosa, tidak ada lagi air mata dan tangisan. Itulah pengharapan kita dan itulah yang menggerakkan kita untuk menyampaikan kabar Injil pengharapan akan Yesus Kristus kepada orang yang berdosa untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Tidak ada jalan lain bagi manusia untuk lepas dari problem kematian, dosa dan kegelapan. Maka kita berjuang untuk membawa mereka untuk bisa masuk ke dalam kerajaan Allah. Yang kedua, engkau dan saya yang telah percaya Tuhan Yesus Kristus dan menikmati warga kerajaan surgawi, kita dipanggil untuk mendatangkan kerajaan Allah di atas muka bumi ini dengan nilai-nilai kebenaran, keadilan, kesuciannya. Karena pada waktu Yesus datang kali pertama, bukankah Ia berkata: “sekarang kerajaan Allah sudah datang”? Berarti engkau dan saya setelah dipanggil oleh Tuhan, ditebus dan dimenangkan, kita menjadi anak-anak Tuhan yang mengerti perspektif ini, kita berjuang di dalam dunia ini melawan dosa dan kejahatan tidak melebar dan meluas di dalam kehidupan dimana Tuhan panggil kita.

Neraka di atas muka bumi ini banyak. Ada neraka dalam perbudakan seks, sex trafficking, child sex slave and child abuse. Neraka di atas muka bumi ini adalah ketidak-adilan dan environment disaster disebabkan karena kerakusan dan keserakahan dari manusia. Kita tidak mengelola dan memelihara bumi ini sebagaimana panggilan Allah. Sebaliknya kita merusak dan mengeksploitasi alam. Kita dipanggil untuk menjaga, memelihara, merawat dan mengembangkannya. Sebaliknya kita justru merusak alam karena ketamakan dan keserakahan. Kita dipanggil untuk melawan ketidak-adilan ekonomi dan environment disasters yang menghasilkan kelaparan, homeless; yang menghasilkan begitu banyak tragedi dan bencana. Neraka di atas muka bumi ini adalah akibat dari kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia dimana penyakit dan kejahatan merajalela di mana-mana. Yang bisa kita kerjakan bukan sekedar melakukan tindakan moralitas, melakukan hal yang baik, tetapi kita harus melakukan lebih daripada itu. Kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang masa bodoh dengan Injil dan kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang pasif untuk rindu dimana saja kita berada, kerajaan Allah harus hadir di dalam dunia ini melalui Injil dan dalam hidupku menghidupi Injil itu. Jikalau Tuhan memberi saya kekuatan kemampuan saya bisa menjadi orang yang melindungi anak-anak kecil yang karena kemiskinan yang begitu berat akhirnya dijual untuk menjadi budak seks. Kita tahu ada anak-anak Tuhan berjuang untuk membebaskan mereka dengan kekuatan dana yang begitu terbatas mendirikan sekolah yang kecil supaya anak-anak ini bisa mengecap pendidikan dan kesempatan hidup. Itulah artinya menghadirkan kerajaan Allah di bumi ini. Bukan sekedar duduk dengar khotbah, amin, haleluya, tetapi tidak berbuat apa-apa dan hidup sama seperti orang dunia yang lain. Kalau engkau punya kemampuan dan kekuatan, bukalah rumah sakit Kristen, bukalah klinik, bukalah sekolah Kristen. Jikalau engkau diberi Tuhan resources, lakukanlah sesuatu supaya kejahatan dan neraka daripada penyakit, dosa dan penderitaan berkurang dan bahkan tidak lagi mengikat orang. Jikalau kita tidak punya kemampuan, resources dan keuangan kita terbatas, paling tidak didik dan peliharalah baik-baik anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita supaya kerajaan Allah itu hadir di dalam dunia ini melalui hidup sdr dan saya. Mungkin kita hanya bisa mendukung satu atau dua misionari di dalam pekerjaan dan pelayanan karena kita tidak punya banyak, lakukan itu dengan setia. Kita tidak perlu merasa bersalah karena kita memang terbatas. Paulus sendiri akui itu ketika dia berkata, saat kematianku sudah dekat. Masing-masing kita terbatas, tetapi kita rindu berbagian dipakai Tuhan menghadirkan kerajaanNya di atas muka bumi ini.

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Karena akan datang waktunya orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Timotius 4:2-4).

Yang kedua, berkaitan dengan bagaimana sikap kita juga dalam mendengarkan firman Tuhan. Ada dua hal yang sangat penting muncul di sini; yang pertama adalah Paulus bicara soal kesetiaan di dalam mencintai dan mengasihi firman. Ini bukan bicara soal popularitas dan mencari banyak penggemar. Kalau kita baca terus surat ini ke belakang, kita akan menemukan hal yang sangat menyedihkan dalam hidup dan pelayanan Paulus, menurut ukuran kita, kita rasa dia tidak memiliki achievement yang tinggi. Saat berada di penjara semua orang meninggalkan dia. Banyak pendeta, hamba Tuhan dan orang-orang yang melayani Tuhan ditangkap dan dipenjara. Tetapi tidak banyak orang yang tahu siapa mereka. Kita gampang terkagum dengan pendeta-pendeta ternama, mereka yang bergelimang dengan sorotan sinar spotlight di atas mimbar, itu yang dilihat dan dikenal orang. Tidak akan habis-habis orang hanya mau dengar apa yang dia mau dengar, hanya suka kepada hal-hal yang menyenangkan telinganya; hal-hal yang tidak pernah mendatangkan kedewasaan dan pertumbuhan iman bagi mereka. Paulus ingatkan Timotius, bukan seperti itu yang menjadi panggilanmu. Engkau tidak perlu khotbahkan hal-hal yang hanya menjadi kesenangan orang, tetapi khotbahkanlah hal yang merubah dan mendewasakan orang. Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu Timotius, mulai dari sekarang fokuskan hidupmu memberitakan firman yang benar. Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya. Nyatakanlah apa yang salah, tegur dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran (2 Timotius 4:2). Tiga bagian terakhir bicara mengenai respon yang dinyatakan orang di dalam mendengarkan firman. Dengan segala kesabaran, nasehati mereka yang mau belajar mengaplikasikan firman. Yang kedua bicara mengenai tegur mereka yang sudah salah, perlu diperbaiki dan dikoreksi. Yang terakhir adalah bicara mengenai encourage yang sudah salah bangkitkan lagi hati dan semangatnya untuk bertumbuh dewasa di hadapan Tuhan.

“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (2 Timotius 4:5). Dalam terjemahan NLT dikatakan: But you should keep a clear mind in every situation. Don’t be afraid of suffering for the Lord. Work at telling others the Good news, and fully carry out the ministry God has given you. Kalimat ini indah luar biasa! Kenapa Paulus sampai mengeluarkan kalimat ini?

John Calvin pernah mengatakan Tuhan mempunyai assignment tugas bagi tiap-tiap orang untuk bisa kerjakan. Kita tidak perlu banding-bandingkan dengan orang, tidak perlu menghina dan tidak perlu iri kepada yang lain. Tuhan beri porsi kepada kita masing-masing. Apa yang Tuhan mau dalam hidupmu sekarang dan yang terbatas ini, kita mengerjakan dengan setia sampai tuntas. Kita menjadi alat Tuhan menghadirkan kerajaan Allah dan nilai-nilai kerajaan Allah dalam hidup kita. Keadilan Tuhan dan kasih Yesus muncul di dalam hidup kita. Di sini Paulus juga mengingatkan kita untuk menguasai diri dalam segala hal, kita senantiasa memiliki pikiran yang jernih, quietly silent, tenang, jangan cepat-cepat bereaksi panik. Kenapa? Karena justru banyak hal dan problem yang tidak perlu muncul ketika kita panik. Kita akan terlalu cepat mengatakan hal-hal yang tidak perlu ketika kita tidak quietly silent mendengar baik-baik lebih dahulu. Tidak semua kalimat yang ada di kepala kita harus keluar dari mulut kita. Engkau dan saya perlu pikir banyak sekali aspek dalam hidup ini, tetapi tidak semua harus kita ucapkan. Keluarkan kata-kata seperlunya. Yakobus berkata setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah (Yakobus 1:19).
Lambat untuk panik, lambat untuk mempersalahkan orang lain, lambat untuk menjatuhkan orang lain. Perlu sekali memiliki pikiran seperti itu. Seringkali kita terlalu banyak bicara tetapi tidak mau mendengar. Itu sebab Paulus ingatkan Timotius untuk jangan cepat-cepat bicara, silent, clear mind dalam segala situasi. Sebagai seorang anak Tuhan engkau juga harus tenang dan sabar setiap kali orang mengatakan apa mengenai orang lain, sdr tidak boleh terlalu cepat-cepat juga memberitahukan kepada orang lain. Tenang dan pikir baik-baik. Paulus pernah mengatakan kepada Timotius, “Janganlah engkau menerima tuduhan atas seorang penatua kecuali kalau didukung dua atau tiga orang saksi” (1 Timotius 5:19). Artinya kalau ada satu orang menyatakan satu objection kepada penatua dan elder yang lain, engkau tidak boleh cepat-cepat memihak ke sana atau ke sini. Dengar dari dua tiga saksi, baru kemudian hal itu dipikirkan. Kalau semua berita kita langsung bereaksi, apalagi di tengah kemajuan sosial media seperti sekarang, begitu banyak sekali hoax beredar, begitu banyak berita yang tidak perlu dibaca apalagi disebarkan, jangan. Tetapi silent tanpa kita duduk mendengarkan Tuhan juga tidak ada gunanya. Berdiam diri tidak berkata-kata, itu adalah sikap yang pasif. Kita dipanggil untuk tenang berdiam, bergumul bersama Tuhan. Setiap hari biar pikiran kita dipenuhi dengan firman Tuhan. Jangan biarkan hidup kita dipenuhi aktifitas dan kegiatan yang hectic dan rush, sehingga akhirnya firman Tuhan itu tidak pernah absorb dengan dalam di dalam hidup kita.

Yang ke tiga, Paulus bicara mengenai kematiannya yang sudah mendekat, “As for me, my life has already been poured out as an offering to God. The time of my death is near. I have fought the good fight, I have finished the race, and I have remained faithful.” Tiga kalimat ini penting, Paulus tidak bicara dia sudah memenangkan pertandingan, Paulus tidak bicara soal kerja keras dan hasil yang dia raih di dalam hidupnya. Ia bicara soal menyelesaikan pertandingan dan tinggal setia. Dia bicara soal hidup ni adalah satu persembahan kepada Tuhan dan bukan soal pencapaian. Sekalipun banyak hal yang kita kerjakan dan banyak hal yang akan kita lakukan, satu hal yang selalu harus kita ingat, semua itu bukan untuk pencapaian kita tetapi bagi hormat dan puji kemuliaan bagi nama Tuhan. Di situ firman Tuhan bukan bicara soal siapa yang menang dalam pertandingan itu; kita semua sama-sama lari dalam pertandingan kita masing-masing. Bagi Paulus biar masing-masing selesaikan pertandingan itu; bukan soal siapa lebih dulu sampai; bukan siapa yang menang. Setia sampai akhir, itu yang paling penting. Dengan demikian mari kita tidak perlu takut, kuatir, iri dan kecewa. Dan jangan kita berpikir kita sudah melakukan segala yang terbaik dan berjasa kepada Tuhan karena semuanya adalah kekuatan yang dari Tuhan. Masih ingat ketika Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus dan meminta untuk duduk di sebelah kanan dan kiriNya, Yesus mengatakan hal duduk di sebelah kanan atau kiri, Ia tidak berhak menentukannya. Itu akan diberikan Allah Bapa kepada orang-orang yang Ia mau beri (Matius 20:23). Sekalipun kita tidak punya keinginan untuk duduk di sebelah kanan atau kiri Yesus, engkau dan saya tetap dipanggil untuk bertanding dengan baik, bukan soal kalah atau menang; lari, selesaikan. Remain faithful, bukan soal achievement dalam hidupmu.

Yang terakhir, pegang janji Tuhan yang tidak pernah berdusta itu. Paulus berkata, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil pada hariNya, tetapi bukan hanya kepadaku melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya” (2 Timotius 4:8). Allah berjanji setelah semua selesai, Ia akan memberikan mahkota kebenaran, bukan saja bagi Paulus tetapi juga bagi mereka yang menantikan kedatanganNya. Paulus tidak bicara soal hirarki dia sebagai rasul di situ; Paulus berbicara ini adalah soal kasih karunia janji Tuhan bagi engkau dan saya. Hiduplah dengan bijaksana sebagai anak Tuhan di dalam waktu yang pendek dan singkat ini. Waktu yang pendek dan singkat jangan dilihat dan dinilai dari soal berapa panjang kita hidup di dunia ini, dan jangan dinilai dari berapa sukses, berapa achievement ataupun berapa gagalnya kita menurut pandangan kita, sebab bukan kitalah yang menjadi hakim atas hidup kita dan pada saat yang sama kita harus ingat kita juga bukan orang yang menghakimi hidup orang lain. Bisa jadi kita menghakimi hidup kita dengan terlalu tinggi sehingga kita rasa kita menjadi orang yang gagal dalam hidup ini. Atau kita menghakimi hidup kita terlalu rendah sehingga kita tidak mengoreksi hidup dengan benar dan tulus di hadapan Tuhan. Bisa jadi kita menghakimi orang terlalu tinggi sehingga kita merugikan dia dan kita sudah menghakimi hidup dia. Semua itu tidak menjadi penilaian yang penting dan menjadi penilaian yang terakhir. Penilaian dari Tuhan yang menjadi hakim atas hidup kita, itulah yang paling penting.

Kiranya Tuhan memberkati setiap kita di dalam hidup kita yang terbatas ini mari kita jalani, sekalipun kita tidak tahu berapa panjang atau pendeknya hidup yang akan kita lewati, kita tidak mau itu yang menjadi fokus pikiran kita di dalam hidup ini. Mari kita jaga hidup kami dengan baik, dengan sehat dan benar, dengan tulus, jujur, penuh dengan kasih, kemuliaan dan kesucian di hadapan Tuhan. Biar itu yang menjadi lebih penting. Kita bersyukur jika Tuhan ijinkan kita boleh melewati banyak hal dan memberikan kesempatan kepada kita di depan lebih panjang, biarlah kita bekerja menghadirkan kerajaan Allah yang benar dan yang kudus itu di dalam hidup kita pribadi lepas pribadi. Supaya pada waktu kita nanti berdiri di hadapan Tuhan sebagai Hakim yang adil dan mulia itu, kita boleh bersukacita karena Tuhan menyebut kita hamba-hamba yang setia adanya.(kz)