Love His Church [3]

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri: Love His Church [3]
Tema: Apa Artinya disebut Kristen?
Nats: Kisah Rasul 11

Kisah Rasul 11 adalah satu bagian yang sangat penting sekali memperlihatkan bagaimana Allah bekerja di tengah-tengah GerejaNya walaupun orang Kristen begitu kecil, begitu lemah, begitu banyak tantangan namun Tuhan mempunyai caranya sendiri di dalam pekerjaanNya dan itu mendatangkan encouragement yang luar biasa bagi setiap kita. Kisah Rasul 10 merupakan bagian yang penting ketika anak-anak Tuhan tidak melihat dengan berani akan visi Tuhan bagi Injil kepada orang-orang non Yahudi, Tuhan memakai cara tersendiri perlu datang melalui visi seorang malaikat baik kepada Kornelius maupun kepada Petrus. Peristiwa itu tidak berhenti sampai Kisah Rasul 10. Kita saksikan justru bagaimana respon Gereja terhadap peristiwa itu dan itu muncul dalam Kisah Rasul 11.

Dalam bagian yang pertama Kisah Rasul 11:1-18 Lukas membuka dalam tiga ayat pertama, “Rasul-rasul dan saudara-saudara seiman di Yudea mendengar bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah. Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan bersunat berselisih pendapat dengan dia. Kata mereka: Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka.” Ada reaksi negatif yang terjadi pada waktu berita pelayanan Petrus kepada Kornelius tiba di telinga orang-orang Kristen Yahudi di Yerusalem. Mereka menjadi marah, mereka gelisah dan bertanya-tanya, mereka mempersoalkan kenapa Petrus makan bersama dengan orang kafir, bahkan dia tinggal di rumah orang itu. Mereka bukan melihat bagaimana Tuhan bekerja dengan kuasaNya yang luar biasa, merubah satu jendral Romawi yang namanya Kornelius dan seisi rumahnya yang bukan orang Yahudi itu, yang kemudian terima dan percaya Tuhan. Tetapi berita yang sampai di telinga mereka adalah kenapa Petrus makan sama-sama orang itu? Kenapa Petrus tinggal di rumah orang itu? Menyedihkan, kadang-kadang mentalitas negatif seperti ini seringkali muncul dan masuk juga ke dalam pelayanan yang ada sampai hari ini.

Inilah sikap menghakimi judgmental attitude; belum mendengar penjelasan sudah marah dan kritik terhadap pekerjaan Tuhan. Baru kemudian setelah Petrus memberi penjelasan panjang lebar, reaksi mereka berubah menjadi tenang dan memuliakan Allah. Mereka mengatakan, “Sekarang kita tahu kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup” (Kisah Rasul 11:18). Kenapa harus seperti itu?

Tidak gampang dan tidak mudah merubah perspektif dan pandangan yang sudah berurat-akar ratusan tahun. Petrus sendiri, sekalipun sudah melihat dengan mata kepalanya Yesus duduk makan bersama pemungut cukai dan orang-orang yang dianggap berdosa oleh ahli Taurat dan orang Farisi; Yesus yang bercakap-cakap dengan perempuan Samaria; Yesus membawa mereka menyeberang dari danau Galilea menuju Dekapolis, daerah dimana orang-orang kafir yang makan babi, Yesus tidak makan babi, tetapi babi-babi itu berkeliaran di jalan-jalan dan bagi orang Yahudi, tanahnya saja sudah haram. Tetapi Yesus pergi ke daerah itu untuk melayani seorang yang kerasukan setan. Sebenarnya dan seharusnya hal itu membuka mata mereka melihat Tuhan yang mereka sembah dan layani adalah Tuhan bagi segala bangsa. Tetapi kita melihat Petrus dengan latar belakang budaya yang sudah mendarah-daging, kita bisa saksikan betapa berat dan sulitnya untuk berubah. Di sinilah kita belajar, sebagai orang Kristen sekalipun kita mengerti anugerah dan kasih karunia Allah, kadang-kadang kita bisa mendahulukan kemauan kita, kepentingan kita, kalau tidak suka atau tidak sesuai yang kita mau itu seringkali di depan lebih daripada apa yang penting bagi kerajaan Allah. Hati kita mudah terganggu melihat cara-cara yang baru yang unconventional bagi kita yang mungkin sudah terbiasa dari kecil dalam kita ikut Tuhan, atau cara pelayanan kita, atau dalam bergereja, dengan tradisi yang sudah berakar kuat. Dan berapa sering semua itu menjadi limitasi yang menghambat perluasan kerajaan Tuhan. Kadang-kadang kita perlu untuk tidak terlalu cepat bereaksi. Mari berhenti sebentar, lihat dari berbagai perspektif, mendengar penjelasan dengan berbagai hal pertimbangan dari berbagai sisi, baru kemudian kita bersikap dan bereaksi. Dan jangan sampai kelemahan kita, budaya kita, kebiasaan kita, tradisi kita, lebih utama daripada prinsip Injil. Hal yang seperti ini bisa terjadi kapan saja, dimana saja. Petrus juga sebelumnya seperti itu ketika Tuhan memberikan dia penglihatan dengan menyuruh dia makan semua binatang yang dianggap haram oleh orang Yahudi. Petrus dengan tegas menolak perintah Tuhan itu bahkan sampai tiga kali. “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” Tuhan berkata kepada dia, “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh engkau nyatakan haram.” Setelah beberapa waktu Petrus pikir dan merenungkan, akhirnya dia mengerti bahwa Tuhan mau dia melayani bangsa kafir, baru dia klop melihatnya (Kisah Rasul 11:5-15). Dalam Kisah Rasul 10:28-29 Petrus bilang kepada Kornelius, kalian tentu tahu betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir. Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan ketika aku dipanggil lalu datang ke mari.” Kalau larangan dan tradisi itu begitu keras dan kuat, sampai kapan orang bukan Yahudi bisa mendengar Injil? Tetapi mengapa Tuhan memberikan kepercayaan itu kepada manusia yang telah ditebusNya? Mengapa Tuhan tidak utus ribuan malaikatNya untuk turun dari surga memberitakan Injil Yesus Kristus? Tuhan dengan tekun dan dengan sabar mempersiapkan anda untuk menjadi saksi Injil. Walaupun Tuhan tahu orang bisa keras kepala, bisa mempunyai kebiasaan membuat kita enggan, ada banyak kekurangan dan kelemahan kita yang terbatas, waktu dan proses yang begitu panjang bisa membuat kita patah semangat. Tetapi bagian ini memberikan kepada kita satu hal yang indah dan penting bagaimana Tuhan memberikan tanggung jawab dan kepercayaan itu kepada kita masing-masing. Ada cara-cara yang sangat unconventional, yang baru bagi kita, itu hanya kendaraan; itu bukan prinsip yang paling penting dan paling utama. Itu hanya instrumen, cara; jikalau itu tidak efektif, tidak sanggup menjawab kebutuhan jaman, atau ada cara dan instrumen yang baru bisa dipakai demi mencapai tujuan yang lebih penting, orang-orang yang belum terjangkau oleh Injil, yang belum pernah mendengar tentang Yesus Kristus akhirnya bisa dijangkau dan diselamatkan dengan cara seperti itu, mari kita coba melihat dan membuka mata kita berani untuk mengeksplorasi hal-hal seperti itu.

Thom Rainer dalam bukunya “Who moved My Pulpit?” menyebutkan seringkali orang Kristen terlalu nyaman dengan status quo kita dan kita tidak mau bergerak lagi dan pada waktu kita didorong untuk keluar, kita ogah-ogahan dan enggan untuk bergerak. Orang-orang seperti ini adalah orang Kristen yang tidak pernah berpindah dari attitude sikap hati yang selalu ingin dilayani dan tidak pernah ingin keluar melayani orang. Itu yang dia sebut sebagai “the unmovable Christian,” orang Kristen yang tidak mau bergerak. Orang seperti ini adalah orang yang selalu merasa diri punya entitlement.

Ada perbedaan antara ownership dan entitlement. Bedanya dimana? Ownership berarti anda memiliki sikap dan tanggung jawab mengasihi pekerjaan Tuhan. Kita yang sudah ditebus oleh Tuhan, kita semua Tuhan percayakan pelayanan itu. Kalau bukan kita yang pergi, kalau bukan kita yang mencintai gereja Tuhan, kalau bukan kita yang support pekerjaan Tuhan, siapa yang kita minta untuk melakukannya? Kita tidak mungkin minta orang luar, itu adalah sikap ownership kita. Tetapi entitlement adalah satu sikap yang merasa dirinya harus diperlakukan khusus karena kita rasa kita punya. Kebiasaan, kesukaan, itu akan menjadi prioritas di dalam diri kita. Hari ini, sudah waktunya kita belajar mengambil sikap untuk mulai berpikir sesadar-sadarnya kapan kita mulai harus berpindah sebagai orang Kristen dari sikap hati bukan lagi memikirkan untuk dilayani tetapi memikirkan bagaimana saya melayani. Lepaskan spirit ‘aku akan lakukan kalau itu aku senang, aku mau, itu kepentinganku, baru aku kerjakan; atau kalau suka.’ Lalu kita tuntut orang lain melayani kita kalau itu sesuai dengan yang aku mau dan yang aku suka. Thom Rainer mengatakan sikap hati seperti itu seringkali menjadi sikap yang ada di banyak berbagai gereja lokal, yang akhirnya membatasi pekerjaan dan visi yang Tuhan rindukan dan mau kita pelayanan. Jikalau ada yang sakit, tidak usah tunggu pengurus gereja atau hamba Tuhan untuk pergi membesuk, mari kita membesuk orang yang sakit itu. Sesudah sampai di situ, jangan tanya pendetanya sudah besuk apa belum? Jadilah sebagai orang Kristen yang ownership the ministry of God. Kita bukan entitled untuk dilayani but we own this ministry. Karena kita sudah ditebus dan dibayar dengan harga yang mahal, Tuhan percayakan the ministry of the Church bukan kepada malaikat tetapi kepada setiap orang yang telah ditebus olehNya. Sikap ownership itu penting luar biasa. Anak-anak kita, mari kita pikir dan rindukan mereka mempunyai sikap ownership kepada gereja mereka. Untuk membuat mereka melihat, kalau bukan mereka yang dipakai oleh Tuhan melayani, siapa yang kita minta dan tuntut untuk ambil bagian di dalam pelayanan? Kita harus memiliki hati yang seperti itu.

Bagian kedua dari Kisah Rasul 11:19-26 mencatat dua hal yang penting. Pertama, sekali pun gereja berawal di Yerusalem tetapi gereja Antiokhialah yang dicatat oleh Alkitab menjadi gereja yang mengirim dan mendukung pelayanan misi ke mana saja Tuhan mengutus mereka pergi. Apakah karena jemaat Yerusalem terlalu kaku dan ketat dengan tradisi keyahudian membuat setiap persoalan terus dibincangkan dan diributkan, akhirnya Tuhan perlu memindahkan sentral pelayanan tidak lagi di Yerusalem tetapi di Antiokhia? Ke dua, di Antiokhia inilah untuk pertama kalinya jemaat disebut Kristen. Sebelumnya mereka dikenal sebagai “pengikut jalan Tuhan,” sebagai “murid-murid Yesus, sebagai “pengikut kebenaran.” Apa yang menjadikan jemaat di Antiokhia ini disebut sebagai Kristen atau pengikut Kristus? Ini bagian yang luar biasa indah kita bisa belajar banyak hal.

Ketika orang-orang Kristen mulai terpencar sampai ke daerah Fenisia, Siprus dan Antiokhia yaitu di daerah Siria sekarang, Kisah Rasul 11:19 mengatakan sejauh ini mereka hanya bergaul dan memberitakan Injil kepada sesama orang Yahudi saja. Tetapi kemudian di antara mereka ada orang-orang Kristen yang berasal dari Siprus dan Kirene mulai bergaul dengan orang-orang bukan Yahudi dan memberitakan Injil bahwa Yesus adalah Tuhan. Kita bisa melihat aspek yang menarik di sini. Waktu jemaat mulai tersebar, mereka di-exposed kepada budaya, kebiasaan, adat-istiadat setempat dan bahasa yang berbeda dan di situ mereka harus belajar hidup menyesuaikan diri. Sementara orang-orang Kristen Yahudi ini masih mengisolasi diri dan hanya bergaul dengan sesama orang Yahudi saja, beberapa orang Kristen yang lain khususnya mereka yang berlatar-belakang budaya Helenistik yang lebih edukatif dan lebih luas pergaulannya melihat kesempatan yang terbuka bagi mereka untuk mengabarkan Injil Yesus Kristus kepada orang bukan Yahudi.

Kita yang hidup di jaman ini menjumpai kultur dan sub-kultur yang banyak luar biasa. Dulu kulturnya adalah Yahudi dan non Yahudi. Sekarang bukan soal beda bangsa dan bahasa, tetapi lebih kompleks lagi. Beda suku, pendidikan, status sosial dan ekonomi, termasuk juga aspek umur sudah menjadi sub-kultur yang berbeda. Anak muda Afrika berbeda dengan anak muda Amerika. Anak muda Indonesia berbeda dengan anak muda Australia. Anak muda di desa berbeda dengan anak muda di perkotaan. Anak muda dengan status sosial tertentu berbeda dengan anak muda dengan status sosial yang lain. Bagi kita yang hidup di kota berhadapan dengan orang-orang yang memiliki pemikiran-pemikiran yang bernuansa kepada kepercayaan seperti Indonesia atau seperti Timur Tengah berdiskusi mengenai keilahian adalah hal yang gampang karena masing-masing mempunyai pikiran seperti itu, masuk ke dalam budaya Post-Christian era atau dengan orang Ateis, tidak gampang berdiskusi dengan mereka. Bukan hanya soal percaya Tuhan saja membuat alis mata terangkat hari-hari ini, mendengar engkau pergi ke gereja saja sudah membuat mereka tersenyum sinis kepadamu. Sehingga untuk menjangkau mereka kita perlu mulai kreatif berpikir cara yang baru, pendekatan yang baru, yang paling penting Injil Yesus Kristus didengar oleh mereka.

Dari beberapa anak Tuhan yang mulai menginjili orang Yunani ini, Kisah Rasul 11:21 mencatat satu hal yang indah, “Dan tangan Tuhan menyertai mereka sehingga sejumlah besar orang-orang bukan Yahudi menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.” Puji Tuhan! Mendengar bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah, maka jemaat Yerusalem kemudian mengutus Barnabas ke Antiokhia untuk melayani jemaat yang baru ini. Betapa kontras respon jemaat Yerusalem di sini dibandingkan dengan Kisah Rasul 11:1 ketika mereka mendengar hal yang sama. Ketika berita Petrus melayani Kornelius sampai ke Yerusalem, mereka bereaksi marah, mereka mengkritik dan berselisih paham dengan Petrus. Tetapi sekarang mereka telah mengerti memang itulah hatinya Tuhan, maka mereka mendukung ministry ini dengan mengutus Barnabas. Waktu Barnabas sampai di situ melihat
kasih karunia Alah, penuhlah dia dengan sukacita daripada Tuhan. Barnabas adalah seorang yang luar biasa. Kisah Rasul 11:24 mengatakan, “Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman.” Namanya sebenarnya adalah Yusuf, tetapi rasul-rasul menyebut dia dengan julukan yang unik: Barnabas yang artinya the son of encouragement, “anak penghiburan.” Dialah pribadi yang bersikap positif, suka mendorong orang dan memberi semangat. Dengan kehadiran Barnabas, sejumlah orang lagi dibawa kepada Tuhan (Kisah Rasul 11:24).

Sekalipun Kisah Rasul mencatat dengan kalimat-kalimat yang sederhana, kita tahu persoalannya tidak sesederhana itu. Kehadiran sejumlah besar orang-orang bukan Yahudi masuk ke dalam gereja, bagaimana? Tadinya jemaat melakukan ibadah dalam bahasa Aramik atau bahasa Yahudi, sekarang pakai bahasa Yunani. Sebelumnya makan roti yang kosher, sekarang harus berubah karena yang datang di gereja ini bukan lagi mayoritas orang Yahudi, ini bukan sekte atau sempalan ajaran Yudaisme, karena di dalamnya ada berbagai bangsa bukan Yahudi yang percaya Mesias. Dari Kisah Rasul 13:1 kita bisa melihat siapa-siapa saja yang ada di dalam jemaat Antiokhia, di antaranya selain Barnabas, orang Yahudi yang berasal dari Siprus, ada Simeon yang mungkin berkulit hitam atau orang Yahudi campuran dengan ras Afrika, ada Lukius yang orang Kirene di daerah Libia sekarang, dan ada Menahem, seorang keturunan bangsawan ningrat yang merupakan teman main raja Herodes. Kenapa mereka disebut Kristen? Karena identitasnya bukan lagi dibatasi oleh suku, ras, status sosial, warna kulit, orang apa saja sekarang sudah ada di dalam bilangan umat Tuhan yang menjadi identitas yang sama: we are the followers of Jesus Christ, hidup Yesus Kristus, hati Yesus, pelayanan Yesus, cinta Yesus ada dalam hati semua orang itu. Let’s call them Christians.

Kisah Rasul 11:25 kemudian mengatakan, “Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia ia membawanya ke Antiokhia.” Sampai di sini Barnabas sadar, kehadiran dan pelayanan dia tidak cukup dan dia membutuhkan rekan kerja yang bisa melayani jemaat ini dengan lebih baik. Barnabas teringat kepada Saulus, seorang yang teologinya hebat, warganegara Romawi, pandai berbahasa Yunani, cerdas luar biasa, itulah Saulus atau Paulus. Maka Barnabas pergi mencari dia. Setelah tiga tahun pertobatannya, Paulus tinggal di Tarsus dan kemungkinan orang-orang Kristen Yahudi masih diliputi kecurigaan dan ketidak-percayaan bahwa orang ini sungguh-sungguh sudah bertobat. Dalam Kisah Rasul 9:26-30 kita bisa melihat sikap mereka seperti ini, “Setibanya di Yerusalem, Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya bahwa ia juga seorang murid. Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus. Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan. Ia juga berbicara dan bersoal-jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia. Akan tetapi setelah hal itu diketahui oleh saudara-saudara anggota jemaat, mereka membawa dia ke Kaisarea dan dari situ membantu dia ke Tarsus.” Sejak kembali ke Tarsus, tidak ada yang berani menerima dia sekalipun ada visi Tuhan waktu dia bertobat bahwa Tuhan akan memakai dia menjadi rasul bagi bangsa-bangsa. Dari waktu itu sudah kira-kira lewat enam tujuh tahun lamanya janji Tuhan masih belum terjadi. Saya percaya Paulus pasti sangat surprise hari itu Barnabas yang sudah traveling 400 km dari Antiokhia ke Tarsus menjumpai dia. Kira-kira Barnabas bilang kepada Paulus, saya tidak bisa berkhotbah dalam bahasa Yunani, saya tidak sanggup bisa menghadapi anak muda dengan pertanyaan-pertanyaan teologi seperti ini, harus berdebat dengan cara pikir orang Yunani scholar, saya tidak bisa. Maka Barnabas mengajak Paulus untuk melayani jemaat Antiokhia ini. Paulus melihat Tuhan buka kesempatan pelayanan di Antiokhia begitu banyak orang yang berbeda bangsa, bahasanya beda, budayanya beda, dsb. Mereka melayani di Antiokhia satu tahun lamanya.

Betapa indah kalau kita terapkan dalam hidup kita sekarang, mungkin Tuhan beri kesempatan gereja ini melihat pekerjaan Tuhan bagi orang yang sederhana, miskin, latar belakang yang berbeda, dsb. Respon kita yang pertama adalah kita mau melihat visi Tuhan. Kita ingin punya orang yang bisa menjangkau akan segment pelayanan ini, mari kita berdoa dan siapkan. Kita tidak boleh berhenti di dalam kenyamanan dan kebiasaan kita. Kalau kita tidak sanggup kerjakan, mari kita cari orang yang sanggup melakukannya. Tanam beban itu dalam hatinya, dan kalau ada di antara mereka yang mau sekolah teologi, mari kita support. Kita harus punya hati seperti itu. Itu yang kita harus belajar daripada bagian firman Tuhan ini. Biar kiranya hari ini hati kita digerakkan oleh firman Tuhan sehingga kita menjadi orang-orang Kristen yang mencintai pekerjaan Tuhan, mengasihi gereja Tuhan dan mencintai pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita.(kz)